• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Dasar Penyelenggara Pemerintahan dan

Dalam dokumen KONSTRUKSI HUKUM ADMINISTRASI PEMERINTAHAN: (Halaman 70-83)

BAB IV PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI

4.1 Pengertian Dasar Penyelenggara Pemerintahan dan

alam penyelenggaraan administrasi pemerintahan, maka penyelenggaranya adalah badan dan/atau pejabat peme- rintahan. Berdasarkan pembagian kewenangan ada kewenangan yang didelegasikan dan dimandatkan. Sehingga badan dan/atau pejabat pemerintahan menunjuk Pelaksana Tugas (PT dan pelaksana harian (PL). Selain itu, ada pula istilah Penjabat (Pj) yang dikenal dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Dalam praktik pun istilah ini sering dipakai jika ada kekosongan sementara di jabatan tertentu seperti ketua KPK atau kapolri, atau pada jabatan struktural lainnya.

Sehubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan, maka hal ini berkaitan dengan ‘Pelaksana Tugas’, ‘Pelaksana Harian’, Dan ‘Pejabat’. istilah dan definisi frasa tadi diatur dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Istilah Plt dan Plh antara lain disebut dalam Pasal 34 ayat (2) UU AP, menyebutkan “Apabila pejabat pemerintahan sebagaimana di maksud pada ayat (1) berhalangan menjalankan tugasnya, maka atasan pejabat yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat pemerintahan yang memenuhi persyaratan untuk bertindak sebagai Pelaksana Harian atau Pelaksana Tugas”. UU AP tak memberikan penjelasan apa yang dimaksud ‘Pelaksana Harian’ dan ‘Pelaksana Tugas’.

63 Konstruksi yang dapat diberikan, dalam kewenangan mandat yang dilakukan badan dan/atau pejabat pemerintahan, ada 2 (dua) kategori pejabat yang memperoleh mandat, yaitu ditugaskan oleh badan dan/atau pemerintahan di atasnya, atau merupakan pelaksanaan tugas rutin. Tugas rutin adalah pelaksanaan tugas jabatan atas nama pemberi mandat yang bersifat pelaksanaan tugas jabatan dan tugas sehari-hari.

Pejabat yang melaksanakan tugas rutin tersebut terdiri dari Pelaksana Harian yang melaksanakan tugas rutin dari pejabat definitif yang berhalangan sementara; dan Pelaksana Tugas yang melaksanakan tugas rutin dari pejabat definitif yang berhalangan tetap. Untuk itu cara membedakan adalah masuk kategori berhalangan yang mana keadaan pejabat definitif berikut: cuti lebaran, menunaikan ibadah haji, kunjungan ke daerah, mengikuti sekolah pimpinan, atau dirawat di rumah sakit. Kalau merujuk pada Surat Kepala Badan Kepegawaian Negara No. K.26-3/V.5-10/99 tertanggal 18 Januari 2002, semua kategori tadi menjadi dasar untuk mengangkat Pelaksana Harian.

SK Kepala BKN ini, apabila ada pejabat yang tidak dapat melaksanakan tugas sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja, maka untuk tetap menjamin kelancaran pelaksanaan tugas, Atasan pejabat segera menunjuk Pelaksana Harian. SK Kepala BKN No. K.26-20/V.24.25/99 tertanggal 10 Desember 2001 tentang Tata Cara Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil sebagai Pelaksana Tugas.

Konteksnya adalah jika tidak ada pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat untuk diangkat dalam jabatan struktural. PP No. 100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural antara lain menyebutkan agar dapat diangkat dalam jabatan struktural serendah-rendahnya menduduki pangkat satu tingkat di bawah jenjang pangkat yang

64

ditentukan. Intinya apabila tidak ada di lingkungan instansi tersebut, maka boleh diangkat seorang Pelaksana Tugas demi kelancaran pelaksanaan tugas-tugas organisasi.

Selain adanya ‘Pelaksana Harian’ dan ‘Pelaksana Tugas’, perundang-undangan Indonesia mengenal ‘Penjabat’. Secara leksikal, Penjabat adalah pemegang jabatan orang lain untuk sementara (KKBI; 2015:554), menyebutkan Plh atau Plt. Sedang ‘Penjabat’ merujuk ketentuan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang telah direvisi kedua melalui UU Nomor 9 Tahun 2015. Pasal 86 ayat (2) UU Pemda menyebutkan “Apabila gubernur diberhentikan sementara dan tidak ada wakil gubernur, presiden menetapkan ‘Penjabat’ gubernur atas usul menteri”.

Di dalam UU AP ada disebut penyelenggaraan negara dan penyelenggaraan pemerintahan. Untuk membedakan, menurut konsep C.F. Strong39 mengartikan pemerintah dalam arti luas sebagai organisasi negara yang utuh dengan segala alat kelengkapan negara yang memiliki fungsi legislatif, eksekutif dan yudikatif. Dengan kata lain, negara dengan seluruh alat kelengkapannya merupakan pengertian pemerintahan dalam arti yang luas. Sedang pengertian pemerintahan dalam arti yang sempit, hanya mengacu pada satu fungsi saja, yakni fungsi eksekutif.

Hal ini dapat dikemukakan, dari pengertian pejabat negara akan merujuk pada pengertian pemerintahan dalam arti yang luas. Sedang pengertian pejabat pemerintahan mengacu pada pengertian pemerintahan dalam arti yang sempit, atau pejabat yang berada pada lingkungan pemerintahan saja, yakni cabang kekuasaan eksekutif.40 sehubungan dengan penyelenggaraan

39 .F. Strong, 1963, Modern Political Constitution, London, Sidgwick and Jackson, hlm.20.

40 Perdebatan yang berkembang terkait posisi presiden itu diposisikan sebagai pejabat negara atau pejabat pemerintahan.

65 negara dan penyelenggaraan pemerintahan, merujuk pada fungsi dari lembaga-lembaga negara. Menurut Bagir Manan mengkategorikan 3 (tiga) jenis lembaga negara yang dilihat berdasarkan fungsinya, yakni:41

1. Lembaga Negara yang menjalankan fungsi negara secara langsung atau bertindak untuk dan atas nama negara, seperti Lembaga Kepresidenan, DPR, dan Lembaga Kekuasaan Kehakiman. Lembaga-lembaga yang menjalankan fungsi ini disebut alat kelengkapan.

2. Lembaga Negara yang menjalankan fungsi administrasi negara dan tidak bertindak untuk dan atas nama negara. Artinya, lembaga ini hanya menjalankan tugas administratif yang tidak bersifat ketatanegaraan. Lembaga yang menjalankan fungsi ini disebut sebagai lembaga administratif. 3. Lembaga Negara penunjang atau badan penunjang yang berfungsi untuk menunjang fungsi alat kelengkapan negara. Lembaga ini disebut sebagai auxiliary organ/agency.

Berdasarkan kategorisasi tersebut, pejabat negara adalah pejabat yang lingkungan kerjanya berada pada lembaga negara yang merupakan alat kelengkapan negara beserta derivatifnya berupa lembaga negara pendukung. Sebagai contoh pejabat negara adalah anggota DPR, presiden, dan hakim.

Pejabat-pejabat tersebut menjalankan fungsinya untuk dan atas nama negara. Pajabat pemerintahan adalah pejabat yang lingkungan kerjanya berada pada lembaga yang menjalankan fungsi administratif belaka atau lazim disebut sebagai pejabat administrasi negara seperti menteri-menteri sebagai pembantu presiden, beserta aparatur pemerintahan lainnya di lingkungan eksekutif.

41 Bagir Manan, 2004,Teori dan Politik Konstitusi, Yogyakarta, FH-UII Press, 2004, hlm. 65.

66

Khusus untuk kedudukan presiden, dalam sistem pemerintahan presidensil, presiden memiliki kedudukan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Dalam kedudukannya sebagai kepala negara, fungsi-fungsi presiden sebagai alat kelengkapan negara diatur dalam UUD NRI Tahun 1945.

Dalam kedudukannya sebagai kepala negara inilah presi- den dikategorikan sebagai pejabat negara. Namun, kedudukan presiden sebagai kepala pemerintahan, berarti bahwa presiden adalah penyelenggara kekuasaan eksekutif, baik penyelenggara yang bersifat umum maupun khusus. Berdasarkan fungsinya sebagai penyelenggara pemerintahan inilah presiden juga dapat dikategorikan sebagai pejabat pemerintahan.

Selain itu, mengenai pemerintahan daerah harus hati-hati mencermati terkait penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan. Dalam pemerintahan daerah, pejabat pemerin- tahan terdiri dari pejabat pemerintah/pejabat administrasi negara, dan anggota DPRD. Hal ini dikarenakan DPRD bukanlah badan legislatif.

Pendapat ini merujuk pada ajaran Montesquieu bahwa badan legislatif adalah badan yang membentuk undang-undang dalam arti formil (wet in formele zin), sedangkan Peraturan Daerah (perda) sebagai produk hukum DPRD, meskipun termasuk peraturan perundang-undangan (wet in materiele zin) bukanlah undang-undang.42

Pasal 122 UU ASN dinyatakan bahwa kepala daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dikategorikan sebagai pejabat negara. Penggolongan kepala daerah sebagai pejabat negara tidaklah tepat, mengingat kedudukan lembaga tersebut bukan sebagai alat kelengkapan negara dan tidak memiliki

42 Ibid.

67 fungsi kenegaraan (bertindak untuk dan atas nama negara). Pada dasarnya pemerintahan daerah hanyalah satuan desen- tralisasi yang hanya memiliki fungsi administratif.

Meskipun begitu, Bagir Manan43 mengemukakan satuan desentralisasi merupakan sendi kenegaraan. Selain itu, peng- aturan mengenai pejabat negara pada UU ASN merupakan pengaturan yang berlebihan, mengingat pengaturan mengenai pejabat negara seharusnya tunduk pada UUD NRI 1945 dan undang-undang yang mengatur mengenai kekuasaan lembaga Negara.

Lebih lanjut menurut Bagir Manan, jabatan adalah ling- kungan kerja tetap yang bersifat abstrak dengan fungsi tertentu, yang secara keseluruhan mencerminkan kerja organisasi. Sifat abstrak dari sebuah jabatan, mengharuskan adanya pejabat yang diberikan wewenang dan tanggung jawab agar jabatan dapat menjadi konkrit dan fungsi-fungsinya dapat dijalankan.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka organisasi meru- pakan sebuah kumpulan dari jabatan-jabatan yang memerlukan pejabat sebagai konkretisasi jabatan. Untuk pengertian jabatan dan pejabat sebagaimana yang dikemukakan oleh Bagir Manan tergambar dalam UU ASN. UU ASN, menempatkan Pegawai Aparatur Sipil Negara terdiri dari 2 (dua) jenis, yakni pegawai yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). ini diatur dalam Pasal 6 UU ASN sebagai berikut: “Pegawai ASN terdiri atas: a) PNS; dan b) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK).” UU ASN, mengggolongkan jenis-jenis pejabat, diantaranya adalah pejabat administrasi, pejabat pimpinan tinggi, pejabat fungsional, dan pejabat pembina kepegawaian.

43 Bagir Manan, 2009, Menegakan Hukum Suatu pencarian, Jakarta, Asosiasi Advokat Indonesia, hlm, 46.

68

Untuk jabatan administrasi, UU ASN memberikan 3 (tiga) macam sub jabatan, yakni jabatan administrator, jabatan penga- was, dan jabatan pelaksana. Pejabat dalam jabatan pelaksana bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan. Artinya untuk pegawai ASN pada tingkat pelaksana pun dikategorikan sebagai pejabat, yakni pejabat pelaksana. Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa seluruh pegawai ASN, baik yang berstatus sebagai PNS maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) merupakan pejabat pemerintahan atau pejabat publik, bukan pejabat negara. PPPK ini bukanlah pengganti pegawai honorer.

Dalam penyelenggaran administrasi pemerintahan, kepu- tusan dan/atau tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan yang berwenang bersifat mengikat. dan tetap berlaku, hingga akhir atau dicabutnya keputusan atau dihentikannya tindakan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan yang berwenang.

Pada dasarnya pencabutan atau penghentian tindakan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan yang berwenang wajib dilakukan oleh: Badan dan/atau pejabat pemerintahan yang mengeluarkan keputusan dan/atau tindakan; atau atasan badan dan/atau atasan pejabat yang mengeluarkan keputusan dan/atau tindakan apabila pada tahap penyelesaian upaya administrasi.

Subyek hukum penyelenggaraan administrasi pemerin- tahan adalah badan dan/atau pejabat pemerintahan yang berwenang menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/ atau tindakan yang terdiri atas:

a) Badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam wilayah hukum tempat penyelenggaraan pemerintahan terjadi; atau

69 b) Badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam wilayah hukum tempat seorang individu atau sebuah organisasi berbadan hukum melakukan aktivitasnya.

Sehubungan dengan pejabat pemerintahan berhalangan menjalankan tugasnya, maka atasan pejabat yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat pemerintahan yang memenuhi persyaratan untuk bertindak sebagai Pelaksana Harian atau Pelaksana Tugas.

Pelaksana Harian atau Pelaksana Tugas ini, melaksanakan tugas serta menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan rutin yang menjadi wewenang jabatannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Keputusan dan/atau tindakan rutin adalah kegiatan atau hal yang menjadi tugas pokoknya. Penyelenggaraan pemerintahan yang melibatkan kewenangan lintas badan dan/atau pejabat pemerintahan dilaksanakan melalui kerjasama antar badan dan/atau pejabat pemerintahan yang terlibat, kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Pada dasarnya badan dan/atau pejabat pemerintahan dapat memberikan bantuan kedinasan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang meminta dengan syarat:

a) keputusan dan/atau tindakan tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan yang meminta bantuan;

b) Penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan karena kurangnya tenaga dan fasilitas yang dimiliki oleh badan/atau pejabat pemerintahan;

c) Sehubungan dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerin- tahan, badan dan/atau pejabat pemerintahan tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melaksanakan sendiri;

70

d) Apabila untuk menetapkan keputusan dan melakukan kegiatan pelayanan publik, badan dan/atau pejabat pemerintahan membutuhkan surat keterangan dan berbagai dokumen yang diperlukan dari badan dan/atau pejabat pemerintahan lainnya dan/atau;

e) Jika penyelenggaraan pemerintahan hanya dapat dilaksana- kan dengan biaya, peralatan, dan fasilitas yang besar dan tidak mampu ditanggung sendiri oleh badan dan/atau pajabat pemerintahan tersebut.

Dalam hal pelaksanaan bantuan kedinasan menimbulkan biaya, maka beban yang ditimbulkan ditetapkan bersama secara wajar. Ini maksudnya adalah biaya yang ditimbulkan sesuai kebutuhan riil dan kemampuan penerima bantuan kedinasan, dimana oleh penerima dan pemberi bantuan dan tidak menimbulkan pembiayaan ganda.

Di sisi lain badan dan/atau pejabat pemerintahan dapat menolak memberikan bantuan kedinasan apabila:

a. Mempengaruhi kinerja badan dan/atau pejabat pemerin- tahan pemberi bantuan;

b. Surat keterangan dan dokumen yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

c. Ketentuan peratuan perundang-undangan tidak memper- bolehkan pemberian bantuan.

Pada dasarnya badan dan/atau pejabat pemerintahan yang menolak untuk memberikan bantuan kedinasan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan harus memberikan alasan penolakan secara tertulis.

Penolakan bantuan kedinasan hanya dimungkinkan apabila pemberian bantuan tersebut akan sangat mengganggu pelaksanaan tugas badan dan/atau pejabat pemerintahan yang diminta bantuan, misalnya: pelaksanaan bantuan kedinasan yang diminta dikhawatirkan akan melebihi anggaran yang

71 dimiliki, keterbatasan sumber daya manusia, mengganggu pencapaian tujuan, dan kinerja badan dan/atau pejabat pemerintahan.

Untuk tanggung jawab terhadap keputusan dan/atau tindakan dalam bantuan kedinasan dibebankan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang membutuhkan bantuan kedinasan, kecuali ditentukan lzin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau kesepakatan tertulis kedua belah pihak. Sehubungan dengan kewenangan penyeleng- garaan pemerintahan oleh badan dan/pejabat pemerintahan dalam mengambil keputusan berbentuk elektronis. Prosedur di atas, berpedoman pada ketentuan peraturan perundang- undangan yang mengatur tentang informasi dan transaksi elektronis. Hal ini mengingat perkembangan sistem hukum nasional terkait dengan pengembangan e-government, khusus- nya UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Informasi Publik, UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, dan UU Nomor 43 tentang Kearsipan. Untuk hukum acaranya muatan dalam UU AP dengan peraturan ini Perma No.3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan secara Elektronik.

Perma ini sebagai moderasi penyelenggaraan peradilan yang merupakan reformasi di bidang hukum acara yang memanfaatkan teknologi informasi. Hal ini sangat revelan dengan kondisi geografis Indonesai sebagai negara kepulauan yang sulit terjangkau dengan waktu yang cepat. Perma ini memberikan kemudahan bagi siapapun untuk mengajukan tuntutan hak, baik gugatan maupun permohonan tanpa harus datang langsung ke pengadilan. Berlakunya Perma Nomor 3 Tahun 2018 ini memberi manfaat bagi warga masyarakat antara lain:

72

a. Dapat mempercepat waktu proses perkara; b. Dapat mengurangi biaya proses perkara;

c. Dapat memberikan pembelajaran bagi aparatur pengadilan dan masyarakat untuk merubah mindset dan culturset-nya; d. Dapat meningkat kualitas pelayanan kepada masyarakat; e. Dapat meningkatkan integritas pembinaan dan pengawasan

kepada aparatur pengadilan; dan

f. Dapat mempersempit dan meniadakan kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku dan pelanggaan kode etik serta pedoman perilaku seluruh aparatur pengadilan.

Pada saat MA dalam layanan administrasi, secara elektronik dapat digunakan oleh advokat maupun perorangan yang terdaftar, berdasarkan laman e-Court Mahkamah Agung RI dan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 122/KMA/ SK/VII/2018 tentang Pedoman Tata Kelola Pengguna Terdaftar Sistem Informasi Pengadilan.

Keputusan berbentuk elektronis wajib dibuat atau disam- paikan apabila keputusan tidak disampaikan secara tertulis. Untuk proses pengamanan pengiriman keputusan, dokumen asli akan dikirimkan apabila dibutuhkan penegasan mengenai penanggung jawab dari pejabat pemerintahan yang menyimpan dokumen asli. Jika terdapat permasalahan teknis dalam pengiriman dan penerimaan dokumen secara elektronis baik dari pihak badan dan/atau pejabat pemerintahan atau warga masyarakat, maka kedua pihak saling memberitahukan secepatnya.

Keputusan berbentuk elektronis berkekuatan hukum sama dengan keputusan yang tertulis dan berlaku sejak diterimanya keputusan tersebut oleh pihak yang bersangkutan. Jika keputusan dalam bentuk tertulis tidak disampaikan, maka yang berlaku adalah keputusan dalam bentuk elektronis. Pada

73 perkembangan ini merujuk juga pada Perma Nomor 3 Tahun 2018.

Adapun norma-norma yang tertuang dalam Perma 3 Tahun 2018 adalah sebagai berikut:

1) Domisi elektronik adalah domisili para pihak berupa alamat surat elektronik dan/atau nomor telepon seluler yang telah terverifikasi;

2) Pengguna terdaftar adalah setiap orang yang memenuhi syarat sebagai pengguna sistem informasi pengadilan dengan hak dan kewajiban yang diatur oleh MA;

3) Administasi perkara secara elektronik adalah serangkaian proses penerimaan gugatan/permohonan, jawaban, replik, duplik, dan kesimpulan, pengelolaan, penyampaian, dan penyimpangan dokumen perkara perdata/agama/tata usaha negara dengan menggunakan sistem elektronik yang berlaku di masing-masing lingkungan pengadilan;

4) Pengaturan administrasi perkara secara elektronik dalam peraturan ini berlaku untuk jenis perkara perdata, perdata agama, tata usaha militer, dan tata usaha negara;

5) Layanan administrasi perkara secara elektronik dapat digunakan oleh advokat maupun perorangan yang terdaftar; 6) Calon pengguna terdaftar melakukan pendaftaraan melalui

sistem informasi pengadilan;

7) Pembayaran biaya perkara ditujukan ke rekening pengadilan pada bank melalui saluran pembayaran elektronik yang tersedia;

8) Selain sebagaimana diatur dalam hukum acara, panggilan menghadiri persidangan terhadap para pihak berperkara dapat disampaikan secara elektronik;

9) panggilan yang disampaikan secara elektronik merupakan panggilan yang sah dan patut, sepanjang panggilan tersebut

74

terkirim ke domisi elektronik dalam tenggang waktu yang ditentukan undang-undang;

10) Pengadilan menerbitkan saluran putusan/penetapan secara elektronik;

11) Salinan putusan/penetapan pengadilan yang diterbitkan secara elektronik dikirim kepada para pihak paling lambat 14 (empat belas) sejak putusan/penetapan diucapkan; 12) Khusus dalam perkara kepailitan/PKPU salinan putusan/

penetapan pengadilan dikirim kepada para pihak paling lambat 7 (tujuh) hari sejak putusan/penetapan diucapkan; dan

13) Pengadilan yang telah sapenuhnya mengimplentasikan pencatatan dan register perkara secara elektronik dalam sistem informasi pengadilan tidak perlu mencatatkan informasi meregister perkara secara manual.

Dalam hak terdapat perbedaan antara keputusan bentuk elektronis dan keputusan dalam bentuk tertulis, yang berlaku adalah keputusan dalam bentuk tertulis. Keputusan yang mengakibatkan pembebanan keuangan negara wajib dibuat dalam bentuk tertulis.

Dalam perkembangannya, beberapa instansi pemerintah telah memberikan layanan administrasi secara elektronik dan salah satunya Sistem Adminstrasi Badan Hukum (SABH) yang diselenggarakan oleh Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia (KUMHAM). Sistem secara elektronik ini, semakin lengkap dengan pengakuan MA terhadap dokumen elektronik pada sistem pengadilan dengan SEMA Nomor 14 Tahun 2010 tentang Dokumen Elektronik sebagai Kelengkapan Permohonan Kasasi dan Peninjuan Kembali, dirubah menjadi SEMA Nomor 1 Tahun 2014.

75 Namun berdasar Pasal 23 ayat (3) Keputusan Direktur Jendral Badan Peradilan Umum Nomor 271/DJU/SK/PS01/ 4/2018, bahwa salinan putusan/penetapan tidak dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah. Implikasi peradilan umum khususnya tetap wajib mengeluarkan putusan/ penetapan dalam bentuk cetak yang dapat digunakan sebagai alat bukti.

Dalam dokumen KONSTRUKSI HUKUM ADMINISTRASI PEMERINTAHAN: (Halaman 70-83)