ii
KONSTRUKSI HUKUM
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN:
(Membedah Undang-Undang 30 Tahun 2014)
iii Konstruksi Hukum Administrasi Pemerintahan
© Hak cipta dilindungi undang-undang
Penulis : Dr. Siti Kotijah, S.H., M.H. Editor : Dr. Siti Kotijah, S.H., M.H. Desain Cover : Linkmed
Layout : Linkmed
Diterbitkan (Cetakan 3) Tahun 2020 oleh: CV. MFA Publishing
Jl. Tri Dharma 866 Gendheng Banciro Gondokusuman Yk viii + 152 hlm; 14,5 x 20,5 cm
ISBN : 978-623-7271-04-8 Kotijah, Siti. 2019.
Konstruksi Hukum Administrasi Pemerintahan
Pencetak: Lingkar Media
Perum. Gunung Sempu RT. 06 Jl. Menur No. 187 Bantul, Yk Telp. /WA: 0857 1215 8655
Email: [email protected]
Dilarang keras memfotokopi atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa seizin tertulis dari penulis/penerbit Isi diluar pertanggung jawab percetakan.
iv
KATA PENGANTAR
Kehidupan itu bermakna, jika memberi sesuatu yang bermanfaat sesuai dengan keilmuan yang kita punyai. Tidak harus sempurna, tidak yang terbaik, yang penting niat ada dan dimulai. Itu yang menjadi motivasi lahirnya buku Konstruksi Hukum Administrasi Pemerintahan: Membedah UU NO.30 Tahun 2014.
UU No.30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, memberi dampak yang luar bisa, dalam penyelenggaraan pemerintahan pada saat ini, baik positif dan negatif bagi warga masyarakat dan badan/atau pejabat pemerintahan dalam melakukan putusan dan/atau tindakan.
Keberlakuan UU AP ini, seiring berjalannya muncul permasalahan-permasalahan pada penerapannya, manakala berkaitan dengan pengadilan. Ketidaksinkronan muatan UU AP dan UU PTUN dan undang-undang lain, memberi implikasi hukum dalam implementasi. Upaya hukum dan solusi dilakukan oleh MA untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Buku ini memberi pandangan baru terhadap administrasi pemerintahan yang selama ini berjalan, dengan standar yang jelas, akuntabel, dan transparan. Buku ini rangkaian dari buku sebelumnya, Pengantar Kekuasaan Diskresi Pemerintahan, yang lebih menekankan pada diskresinya pada UU AP. Saya menyadari buku ini masih jauh dari sempurna, menulis sekata, dua kata, selembar, dua lembar, dan seterusnya untuk membuat diri expert dan sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk memberi serta selalu diingat dengan coretan dalam bentuk buku ini. Kita tidak meninggalkan harta dan segalanya, namun buku itu akan abadi. Ilmu saya tanam, semoga apa yang saya tanam, tumbuh subur dan bermanfaat amin.
v Terima kasih kepada bapak dan ibu yang selalu memberi motivasi setiap hari penulis, buat suami tercinta, terimakasih atas waktu, share, motivasinya untuk saya terus berkarya, dan kritik atas buku ini. Hal paling indah atas perjalanan hidup yang kita jalani, dan menikmati atas kuasa Tuhan yang diberikan pada keluarga kita. Buat editor, penerbit yang membantu penyelesaian buku ini. Harapan ini semoga bermanfaat.
Samarinda, 5 April 2019
Penulis
vi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……….. iv DAFTAR ISI ……… vi BAB 1 PENDAHULUAN ……….. 1 1.1 Latar Belakang ……… 11.2 Filosofi Administrasi Pemerintahan ……… 3
1.3 Jaminan Perlindungan Hukum Kepada Warga Masyaraka 10 1.4 Transformasi Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik 11 BAB II HAK DAN KEWAJIBAN PEJABAT PEMERINTAHAN 18 2.1 Kedudukan Hukum Pejabat Pemerintahan ……… 18
2.2 Hak dan Kewajiban Pejabat Pemerintahan ……… 20
2.3 Instrumen penyelenggaraan pemerintahan ……….. 26
2.4 Wewenang dan Kewenangan Pemerintah………. 30
BAB III KEWENANGAN PENGGUNAAN DISKRESI PEJABAT PEMERINTAHAN ……….. 42
3.1 Definisi Kewenangan Penggunaan Diskresi ……….. 42
3.2 Kewenangan Penggunaan Diskresi Pejabat Pemerintahan 48 3.3 Batasan Kewenangan Penggunaan Diskresi ……….. 53
BAB IV PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN ……….. 62
4.1 Pengertian Dasar Penyelenggara Pemerintahan dan penyelenggara Negara ………... 62
4.2 Prosedur Administrasi Pemerintahan ……….. 75
4.3 Pelayanan Publik untuk warga masyarakat ………... 83
BAB V KEPUTUSAN PEMERINTAHAN ……… 86
5.1 Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara ………. 86
5.2. Dalil Fiktif Positif dan Fiktif Negatif……… 92
5.3. Ontvangs theory ………. 111
vii 5.5 Perkembangan kaidah hukum dalam pemeriksaan
perkara fiktif positif………. 122
BAB VI SANKSI ADMINISTATIF ………. 125
6.1 Penegakan Hukum Administrasi ……….. 125
6.2 Upaya Administrasi ………... 129 6.3.Sanksi administratif……… 131 DAFTAR PUSTAKA ……….…. 140 GLOSARIUM ……….. 143 INDEKS ……….… 147 BIODATA PENULIS ………..… 151
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
eformasi birokrasi, ditandai dengan terbitnya Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (UU AP), ini sebagai dasar dalam mewujudkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik dalam norma hukum. Tata kelola birokrasi ini, memberi norma yang jelas dalam menyelenggaraan pemerintahan bagi badan dan/ atau pejabat pemerintah.
Reformasi birokrasi untuk mewujudkan (9) Nawa Cita, yang diintegrasikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Mengenah Nasional (RPJMN) Tahun 2016-2019, dan ini diimpelentasikan dalam Intruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategi Nasional.1
Terbitnya UU AP menjadi instrumen dalam melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik, dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahaan oleh pejabat pemerintahan. UU AP ini, dinormakan dalam bentuk aturan hukum positif untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas penyelenggaraan pemerintahan dari administrasi negara/ pemerintahan.
Pengaturan ini menempatkan pejabat dalam melaksa- nakan wewenang dan kewenangan berdasarkan ketentuan
1 Pemerintah memerintahkan untuk melakukan perbaikan tata kelola, mengambil
diskresi, serta mendahulukan proses administrasi pemerintahan dalam mengatasi hambatan pada pelaksanaan proyek stategis nasional
2
peraturan perundang-undangan dan Asas-Asas Umum Peme- rintahan yang Baik (AUPB), sehingga memberikan perlindungan hukum baik bagi warga masyarakat maupun pejabat pemerintahan. Tujuan UU AP ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan memperbaiki tata cara pengambilan keputusan, dan mencegah tindak pidana korupsi bagi badan dan/atau pejabat pemerintah dalam penyelenggaraan peme- rintahan. Gagasan penataan birokrasi pemerintahaan dapat diselenggarakan dengan terbuka, akuntabel, efektif, dan efisien, dan menjunjung tinggi supremasi hukum. Ini menjadi terobosan yang sangat penting dalam konsepsi negara moderen, dimana UU AP ini berperan dan terjangkau dalam administasi pemerintahan yang semakin luas.
Pembentukan UU AP dapat dimaknai sebagai hukum materiilnya adminstrasi negara, sedang formilnya UU No.5 Tahun 1986 dirubah UU No.9 Tahun 2004 dirubah UU No.51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Pentingnya UU AP ini, mengingat tata kelola yang baik dalam pemerintahan kebutuhan bagi warga masyarakat. Pertama, tugas pemerintahan makin kompleks baik mengenai sifat pekerjannya, jenis tugasnya, maupun orang-orang yang melaksanakannya. Kedua, dalam penyelenggaran pemerin- tahan/negara dalam menjalankan tugas dan kewenangan belum memiliki standar yang sama, sehingga ada tumpang tindih kewenangan, konflik kepentingan dan perselisiahan. Ketiga, hubungan hukum antara administrasi negara dan warga masyarakat perlu diperjelas, hak, dan kewajiban dalam interaksinya. Keempat, tuntutan adanya pedoman untuk menetapkan standar layanan minimal dalam penyelenggaraan pemerintahan dan memberikan perlindungan bagi warga masyarakat. Kelima, kemajuan ilmu dan teknologi mem- pengaruhi cara berpikir dan cara padang dalam kinerja
3 administrasi negara. Keenam, tentunya untuk menciptakan kepastian hukum dalam pelaksanaan tugas para penyelenggara administasi pemerintahan. Selama ini, optimalisasi tatalaksana administrasi pemerintahan berdasarkan Surat Edaran No.261.1/ M.PAN/10./2004 tentang Pedoman Umum Tata Laksana Administrasi Pemerintahan.
Pengaturan UU AP mengkonstruksi hal baru dalam tata kelola pemerintahan, seperti perubahan cara berpikir dari fiktif negatif menjadi fiktif positif, diskresi, AUPB, sumber kewenangan, jenis keputusan, dan sebagainya. Instrumen- instrumen penting di atas, menjadi proses pengambilan kebijakan, memberikan kepastian hukum terhadap badan dan/atau pejabat pemerintah dalam melakukan diskresi, menjamin dan melindungi hak warga masyarakat dalam setiap keputusan dan/atau tindakan yang dikeluarkan oleh pejabat pemerintah.
Buku ini memberi argumentasi dan pandangan serta konstruksi hukum terhadap lahirnya UU AP, dan hubungannya dengan undang-undang yang lain. Dengan tujuan pembaca paham secara komprehensif, baik secara filosofi, hukum, dan konsepsi yang diatur, serta perubahan paradigma yang diatur dalam UU AP.
Norma hukum dan komitmen dalam UU AP, ini untuk menyelenggarakan pemerintahan yang berdasarkan asas prinsip kedaulatan dan negara hukum. Alur pikir prinsip-prinsip di atas, menjadi dasar atas segala bentuk keputusan dan/atau tindakan administrasi pemerintahan.
1.2 Filosofi Administrasi Pemerintahan
Pada hakikatnya kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Negara Kesatuan
4
Republika Indonesia adalah negara hukum, dengan sistem penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan atas prinsip kedaulatan rakyat dan prinsip negara hukum.
Pada dasarnya, secara historis dan praktis konsep negara hukum ada dalam bentuk beberapa model.2 Menurut Stahl,
unsur negara hukum (rechsstaat) adalah:3
a. Perlindungan HAM;
b. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak; c. Pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan; d. Peradilan administrasi dalam perselisihan.
Sedangkan Dicey mengemukakan unsur-unsur rule of law
sebagai berikut:4
a.Supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of law), yaitu tidak adanya kekuasaan sewenang-wenang (absence of
arbitrary power), dalam arti, seorang hanya boleh dihukum
kalau melanggar hukum;
b.Kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (equality
before the law). Dalil ini berlaku baik untuk orang biasa
maupun untuk pejabat;
c.Terjaminya hak-hak manusia oleh undang-undang (di negara lain oleh undang-undang dasar) serta keputusan-keputusan pengadilan.
J.B.J.M. ten Berger mengemukakan prinsip negara hukum, dan untuk prinsip negara hukum antara lain:5
2Model negara hukum menurut Al quraan dan Sunnah atau nomokrasi islam, negara
hukum konsep kontinental yang dinamakan rechsstaat, negara hukum menurut konsep Anglo saxon (rule of law), konsep sosialis legality, dan konsep negara hukum pancasila, lihat Tahir Azhar, 1992, Negara Hukum, Jakarta: Bulan Bintang, hlm.63.
3 Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Bagi Rakyat Indonesia, Surabaya, Bina
Ilmu,hlm.76-82
4 Miriam Budiardjo, 1982, Dasar-Dasar Ilmu politik, Jakarta: Gramedia, hlm.57-58. 5 J.B.T.M. Ten Berge, 1996, Bestur Door De Overheid, W.E.J. Tjeenk Willink, Deventer, hlm
5 a. Asas legalitas. Pembatalan kebebasan warga negara (oleh pemerintah) harus ditemukan dasarnya dalam undang- undang yang merupakan peraturan umum. Undang-undang secara umum harus memberikan jaminan (terhadap warga negara) dari tindakan (pemerintah) yang sewenang-wenang, kolusi, dan berbagai jenis tindakan yang tidak benar. Pelaksanaan wewenang oleh organ pemerintahan harus ditemukan dasarnya pada undang-undang tertulis (undang- undang formal);
b. Perlindungan hak-hak asasi; c. Pemerintahan terikat pada hukum;
d. Monopoli paksaan pemerintahan untuk menjamin penegakan hukum. Hukum harus dapat ditegakkan ketika hukum itu dilanggar. Pemerintah harus menjamin, bahwa di tengah masyarakat terhadap instrumen yuridis penegakan hukum. Pemerintah dapat memaksa seseorang yang melanggar hukum publik secara prinsip merupakan tugas pemerintah; e. Pengawasan oleh hakim yang merdeka. Superioritas hukum
tidak dapat ditampilkan jika aturan-aturan hukum hanya dilaksanakan organ pemerintahan. Oleh karena itu, dalam setiap negara hukum diperlukan pengawasan oleh hakim yang merdeka.
Dalam negara hukum, hukum ditempatkan sebagai aturan main dalam penyelenggaraan kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan, sementara tujuan hukum antara lain “….menata masyarakat yang damai, adil, dan bermakna.
Dalam negara hukum, eksistensi hukum dijadikan sebagai instrumen dalam menata kehidupan kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan. Untuk itu pembentukan peraturan- peraturan oleh administrasi pemerintahan merupakan suatu ketentuan yang tidak dapat dihindari dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam suatu negara hukum yang moderen.
6
UU AP menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan, menjaga hubungan aparat pemerintahan dengan warga masyarakat, dan menciptakan tata birokrasi yang semakin baik, transparan, akuntabel, dan efesien. Dalam kerangka berpikir penulis, UU AP ini, seperti halnya dengan lahirnya UU Lingkungan Hidup. UU No 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup, dirubah menjadi UU No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan dirubah UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup. UU lingkungan ini, ditempatkan sebagai undang-undang payung, membawahi antara lain UU No.41 Tahun 2009 tentang Kehutanan, UU No.4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU No.39 Tahun 2009 tentang Perkebunan, dan lainnya yang berdampak secara lingkungan.
UU AP ini, dapat dikatakan sebagai undang-undang payung dalam penyelenggaraan pemerintahan yang sudah ada, misalnya UU No.5 Tahun 2004 tentang Apatur Sipil Negara, UU No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, UU No.37 Tahun 2008 tentang Ambudsman, UU No.28 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Pada prakteknya UU AP berhubungan dengan UU No.31 Tahun 1999 yang telah dirubah menjadi UU No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi serta Transaksi Elektronik, UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Intinya UU AP tidak hanya sebagai payung hukum bagi penyelenggaraan administrasi pemerintahan, namun juga sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan kepada warga masyarakat.
7 Dalam penyelenggaraan pemerintahan, UU AP meng- adopsi konsep awal dari Verwaltungsverfahresgesetz des Bundes
(UU Prosedur Administrasi Negara Federal Jerman).6 Essensi
penyelenggaraan negara tidak berdasarkan kekuasaan yang melekat pada kedudukan penyelenggaraan pemerintahan itu, semua bermuara pada hukum. Pada prakteknya kekuasaan negara terhadap warga masyarakat bukan tanpa persyaratan. Semua bermuara pada asas legalistasi atau aturan hukum.
Warga masyarakat tidak dapat diperlakukan sewenang- wenang sebagai obyek oleh badan dan/atau pejabat pemerin- tahan yang mempunyai kekuasaan. Setiap keputusan dan/atau tindakan pemerintahan terhadap warga masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik.
Untuk pengawasan terhadap semua keputusan dan/atau tindakan pemerintahan, merupakan pengujian terhadap pem- berlakuan kepada masyarakat untuk diperlakukan sesuai dengan aturan hukum. Prinsip perlindungan hukum yang efektif dapat dilakukan oleh lembaga negara dan pengadilan tata usaha negara yang bebas dan mandiri.
Sebagai penyelenggaraan negara, tujuan pemerintahan untuk mewujudkan tujuan negara dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945. Pada dasarnya tugas pemerintahan begitu luas, meliputi semua aspek kehidupan. Untuk itu lahir UU AP untuk memberi arah dan pedoman bagi badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam menjalankan tugas penyelenggaran pemerintahan.
6 Negara yang sudah menerapkan seperti UU AP, Spanyol dengan Azcarate sejak 1889,
Austria memiliki Allgemeines Verwaltungsverfahrensgetez (1921), Amerika Serikat,
Administrative Prosedure Act (1946), Italia, Administrative Code (1990), dan Belanda dengan
8
Secara filosofi UU AP menempatkan penyelenggara negara dan warga masyarakat pada posisi yang sama berdasarkan aturan hukum. Secara detail dapat dijabarkan sebagai berikut: 1.Kualitas penyelenggaraan negara, badan dan/atau pejabat
pemerintahan yang melekat wewenang dan kewenangan harus berdasarkan peraturan perundang-undangan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik;
2.Penyelesaian permasalahan penyelenggaraan pemerintahan baik pusat dan daerah, dalam rangka memberi jaminan perlindungan hukum bagi warga masyarakat dan pejabat pemerintah. Warga masyarakat tidak menjadi obyek, melainkan subyek yang aktif terlibat dalam penyelenggaraan pemerintahan
3.Pemerintah yang baik bagi pejabat pemerintah memberi landasan hukum dan pedoman dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan, terkait keputusan dan/atau tindakan pemerintahan memenuhi kebutuhan hukum masyarakat.
Konstruksinya Indonesia sebagai negara hukum yang berdasarkan UUD NRI Tahun 1945, memerlukan undang- undang yang dapat melaksanakan tugas pemerintahan sehari-hari. Alasan-alasan yang mendasari kebutuhan suatu aturan, yaitu untuk mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang ada, yang akan dirubah atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat. Sehubungan hal di atas, kebutuhan itu bagian yang tidak terpisah dari sistem yang menempatkan administrasi negara sebagai hak masyarakat, sebagaimana diatur dalam Pasal 14 The
Charter on Fundamental Rights on the European Union,7 yang
7 Pasal 14 EU Charter of Fundamental Rights mengatur tentang right to good
9 meliputi hak untuk memperoleh penanganan urusan-urusannya secara tidak memihak, adil, dan waktu yang wajar, untuk didengar sebelum tindakan individual apapun yang akan diterapkan pada dirinya, atau akses untuk memperoleh berkas milik pribadi dengan tetap memperhatikan kepentingannya yang sah atas kerahasian dan atas kerahasian profesional. Di sisi lain kewajiban pihak-pihak administrasi negara untuk memperoleh ganti rugi yang ditimbulkan oleh lembaga atau aparatur pemerintahan dalam menjalankan tugasnya.
Secara sosiologis, sebagai sebuah konstruksi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem penyelenggaraan pemerintahan merupakan faktor yang menentukan. Adanya birokrasi yang panjang dengan tidak mengindahkan prinsip- prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, dan masih adanya kasus KKN, hal-hal tersebut menyebabkan pelayanan menjadi tidak maksimal. Karenanya, dengan TAP No.XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bebas dari KKN, (UU No.28 Tahun 1999), diharapkan adanya penataan administrasi pemerintahan dengan melakukan peningkatan kapasitas dan profesionalitas aparatur negara.
Aspek yuridis dari UU AP ini terkait dalam mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan dirubah, atau yang akan dicabut guna untuk menjamin kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan.
impartially, fairly and within a reasonable time by the institutions and bodies of the Union; 2) the right inckudes; (a) the right of every person to be heard, before any individual measure which would affect him or her adversely is taken: b) the right of every person the have acces to his her file, which respecting the legitimate; c) the obligation of the administration to give reansons for its decisions: (3) every person has the right to have to community make good any damage caused, in accordance with the general principle common to the laws of the member states; (4) every person may write to the institutions of the union In one the languanges of the treaties and must nave an answer in the smae language.
10
1.3. Jaminan Perlindungan Hukum kepada Warga Masya- rakat
Perlindungan hukum dalam UU AP ini, dalam rangka memberikan jaminan perlindungan kepada setiap warga masyarakat, dalam bentuk pengajuan keberatan dan dan banding terhadap putusan dan/atau tindakan pemerintahan atau atasan pemerintahan yang bersangkutan yang merugikan. Warga masyarakat dapat mengajukan gugatan terhadap PTUN atas putusan dan/atau tindakan pejabat pemerintahan dan/atau atasan pejabat pemerintahan.
Perlindungan hukum juga diberikan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam menyelenggarakan administrasi pemerintahan, terkait keputusanan dan/atau tindakan yang diduga menyalahgunakan wewenang, dapat mengajukan permohonan kepada PTUN. Perlindungan lain bagi pejabat pemerintahan menjadi jelas paremeter, maksud, tujuan dan subtansi penggunaan diskresi keputusan dan/atau tindakan yang dilakukan, sehingga pejabat pemerintahan tidak perlu takut dikriminalisasi atas keputusan dan/atau tindakan yang baru atau invonasi yang dilakukan.
Pada dasarnya UU AP mengaktualisasikan secara khusus norma konstitusi hubungan antara negara dan warga masya- rakat. Instrumen penting dalam UU AP adalah negara hukum yang demokratis. Secara umum dimaknai, semua keputusan dan/atau tindakan yang dilaksankan badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan dapat diuji melalui pengadilan. Ini merupakan hakikat mendasar implementasi negara hukum sebagai konsep ideal dalam sistem ketatanegaraan kita. Penyelenggaraan kekuasaan negara harus berpihak kepada warganya dan bukan sebaliknya.
Lebih lanjut, jaminan perlindungan hukum pada warga negara menempatkan posisi warga masyarakat yang semula
11 sebagai obyek menjadi subyek dalam sebuah negara hukum. Konstruksi negara hukum sebagai bagian dari perwujudan kedaulatan rakyat, yaitu dengan menempatkan kedaulatan warga masyarakat dalam sebuah negara tidak dengan sendirinya, baik secara keseluruhan maupun sebagian sehingga dapat terwujud.
1.4 Transformasi Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik Pada dasarnya UU AP memberikan jaminan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan terhadap warga masyarakat agar tidak dilakukan sewenang-wenang. Warga masyarakat pada dasarnya tidak akan mudah menjadi obyek kekuasaan negara. Ini sebagai perwujudaan dari transformasi asas-asas umum pemerintahan yang baik yang dipraktekkan selama ini dalam penyelenggaraan pemerintahan, dan dikonkritkan dalam norma hukum yang mengikat.
Penggunaan AUPB sebagai norma dalam konstruksi UU AP, menjadi perdebatan bagi pakar hukum administrasi, dimana menurut Philipus Hadjon, apakah AUPB merupakan hukum tertulis? AUPB adalah norma pemerintahan dan hukum tidak tertulis. AUPB lahir dari praktek dan berbeda dengan asas-asas umum (algemene rechtsbeginsel), namun pemerintahan ini menurutnya sebagai meta norma yang berbeda dengan norma kelakukan dan norma hukum publik.8 Sebaliknya Paulus Effendi
Lotulung mengemukakan, “Asas-asas AUPB bukan menjadikan hukum normatif, tetapi menjiwai UU AP dan setiap pejabat administrasi pemerintahan harus mengacu pada AUPB.”9
Perdebatan konsep dasar asas-asas dalam AUPB, menurut mendapat penulis sepakat dengan pendapat Philipus Hadjon, di
8 Dalam Lokakarya RUU AP tata hubungna kewenangan antara pusat dan daerah di
Surabaya, 15 Juni 2005.
12
mana asas-asas AUPB masuk dalam meta norma yang tidak harus dinormakan. Konstruksinya jelas berbeda dengan asas- asas umum. Dengan dinormakan AUPB ini maka menjadi hukum tertulis.
Faktualnya AUPB merupakan norma yang digunakan pada pemerintahan, seperti norma sopan santun dalam lingkungan kita berkeluarga dan bermasyarakat. Pada kenyataannya, tentu parameternya sangat subyektif bagi pelaksanaan AUPB oleh pejabat pemerintahan, sehingga tidak memberi kepastian hukum.
Pendapat Paulus Effendi, AUPB bukan hukum normatif, fakta menjadi hukum tertulis, berkaitan dengan konteks menjiwai, yang berarti menyamakan AUPB dengan dasar bangsa Indonesia yang mempunyai sifat gotong-royong, musyawarah mufakat. Persoalannya, AUPB menjadi hukum tertulis dan menjadi dasar bagi badan dan/atau pejabat pemerintah dalam membuat keputusan dan/atau tindakan.
Pengaturan AUPB dalam UU AP menjadi transformasi yang jelas dalam praktek administrasi pemerintahan, bukan sebagai pedoman. Intinya badan dan/atau pejabat pemerintahan sudah menjadi suatu keharusan untuk mempertimbangkan dalam membuat keputusan dan/atau tindakan.
Pada prinsipnya pencantuman AUPB memberikan dasar bagi pejabat pemerintah dalam melaksanakan kewenangannya, terutama disaat tidak diatur, tidak jelas, dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Di sini tujuan hukum kemanfaatan menjadi dasar berpijak, sepanjang hal itu memberi kemanfaatan umum dan sesuai dengan AUPB, pejabat dapat menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan. Asas-asas umum pemerintahan yang baik terus berkem- bang sesuai perkembangan zaman dan dinamika masyarakat dalam suatu negara hukum. Untuk itu penormaan asas ke dalam
13 UU AP ini berpijak pada asas-asas yang berkembang dan telah menjadi dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan selama ini.
Pada perkembangannya penggunaan APUB diaplikasikan dalam ketentuan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Strategis Nasional, pada Pasal 29, yang menyebutkan, ”dalam hal peraturan perundang- undangan belum mengatur atau tidak jelas mengatur kewenangan untuk menyelesaian hambatan dan permasalahan dalam pelaksanaan proyek startegis nasional, menteri/kepala lembaga dan/atau gubernur, dan bupati/walikota untuk menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan yang diperlukan, dalam rangka melakukan keputusan dan/atau tindakan yang diperlukan dalam rangka penyelesaian hambatan dan permasalahan dimaksud sepanjang sesuai dengan AUPB.”
Ini berarti, penggunaan AUPB dalam administrasi pemerintahan dalam rangka untuk menjamin bahwa keputusan dan/atau tindakan badan dan/atau pejabat pemerintahan terhadap warga masyarakat tidak dapat dilakukan dengan semena-mena. Dengan pengaturan administrasi pemerintahan ini, warga masyarakat tidak akan mudah menjadi obyek kekuasaan negara. Selain itu, merupakan transformasi AUPB yang telah dipraktekkan selama berpuluh-puluh tahun dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dikonkritkan ke dalam norma hukum yang mengikat.
AUPB yang baik terus berkembang sesuai dengan perkembangan dan dinamika masyarakat dalam sebuah negara hukum. Hal ini mengingat penormaan asas ke dalam undang-undang berpijak pada asas-asas yang berkembang dan telah menjadi dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia selama ini. Intinya asas-asas lain selain AUPB yang sesuai dengan perkembangan nanti akan diterima, yang penting
14
tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Hakikatnya dengan memahami administrasi pemerintah- an, sebagai upaya membangun prinsip-prinsip pokok, pola pikir, sikap, perilaku, budaya, dan pola tindak administrasi yang demokratis, obyektif, dan profesional dalam rangka menciptakan keadilan dan kepastian hukum. Ini merupakan keseluruhan upaya untuk mengatur kembali keputusan dan/atau tindakan badan dan/atau pejabat pemerintahan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan AUPB.
AUPB sebagai prinsip yang digunakan sebagai acuan penggunaan wewenang bagi pejabat pemerintahan, dalam mengeluarkan keputusan dan/atau tindakan penyelenggaran pemerintahan, AUPB meliputi asas:
a) Kepastian hukum; adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan ketentuan peraturan, kepatutuan, keajegan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyeleng- garan pemerintahan.
b)Kemanfaatan; adalah manfaat yang harus diperhatikan secara seimbang antara: (1) kepentingan individu; (3) kepentingan warga masyarakat dan masyarakat asing; (4) kepentingan kelompok masyarakat yang satu dengan kepentingan kelompok masyarakat yang lain; (5) kepentingan pemerintah dengan warga masyarakat; (6) kepentingan generasi yang sekarang dan kepentingan generasi mendatang; (7) kepentingan manusia dan ekosistemnya; dan (8) kepentingan pria dan wanita.
c) Ketidakberpihakan; asas yang mewajibkan badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam menetapkan dan/atau mela- kukan keputusan dan/atau tindakan dengan mempertim-
15 bangkan kepentingan para pihak secara keseluruhan dan tidak diskriminatif.
d)Kecermatan; asas yang mengandung arti bahwa suatu keputusan dan/atau tindakan harus didasarkan pada informasi dan dokumen yang lengkap untuk mendukung legalitas penetapan dan/atau pelaksanaan keputusan dan/atau tindakan sehingga keputusan dan/atau tindakan yang bersangkutan dipersiapkan dengan cermat sebelum keputusan dan/atau tindakan tindakan tersebut ditetapkan dan/atau dilakukan.
e) Tidak menyalahgunakan kewenangan; asas yang mewajibkan setiap badan dan/atau pejabat pemerintahan tidak menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan yang lain dan tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut, tidak melampaui, tidak menyalagunakan, dan/atau tidak mencampuradukan kewenangan
f) Keterbukaan; adalah asas yang melayani masyarakat untuk mendapatkan akses dan memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.
g) Kepentingan umum; adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan dan kemanfaatan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, selektif, dan tidak diskriminatif.
h) Pelayanan yang baik; adalah asas pelayanan yang baik, asas
yang memberikan pelayanan yang tepat waktu, prosedur dan biaya yang jelas, sesuai dengan standar pelayanan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada prakteknya AUPB menjadi dasar dalam suatu keputusan dan/atau tindakan pemerintahan, namun apabila di luar AUPB di atas maka dapat ditetapkan sepanjang dasar
16
penilaian hakim yang tertuang dalam putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (PTUN).
Pada dasarnya pejabat administrasi pemerintahan dilarang menyalahgunakan kewenangan dalam menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan. Asas-asas umum lainnya di luar AUPB adalah asas umum pemerintahan yang baik yang bersumber dari putusan pengadilan negeri yang tidak dibanding, atau putusan pengadilan tinggi yang tidak dikasasi atau putusan Mahkamah Agung.
Hal ini sesuai dengan tujuan administrasi pemerintahan, yaitu melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan dan menerapkan AUPB. Badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam penyelenggaraan administasi pemerintahan berdasarkan AUPB, selain ketentuan peraturan perundang-undangan. Ini berarti setiap keputusan dan/atau tindakan wajib berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan AUPB
Secara umum hal itu melekat pada pejabat pemerintahan sebagai suatu kewajiban untuk penyelenggaraan administrasi pemerintahan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan dan AUPB. Pejabat pemerintahan memiliki kewajiban antara lain, mematuhi AUPB dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sehubungan dengan kata-kata kebijakan pemerintahan, ini menjadi kelemahan, dan tidak koheren terhadap muatan UU AP. Ini menunjukan ketidaksinkronan dengan sebutan kebijakan pemerintah, bahwa pejabat pemerintah yang menyelenggarakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan AUPB.
Kewenangan badan dan/atau pejabat pemerintahan yang menggunakan diskresi harus memenuhi salah satu syarat sesuai dengan AUPB. Salah satu penggunaan diskresi yang dilakukan badan dan/pejabat pemerintahan berupa putusan
17 dan/tindakan dikategorikan mencampuradukkan wewenang apabila salah satunya bertentangan AUPB.
Hal ini juga berhubungan dengan pejabat pemerintahan yang berwenang dapat menerbitkan izin, dispensasi, dan/atau konsesi dengan berpedoman pada AUPB dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam prakteknya keputusan dapat dilakukan perubahan apabila mencantumkan alasan obyektif dan memperhatikan AUPB. Sebaliknya, apabila dalam hal keputusan dibatalkan, harus ditetapkan keputusan yang baru dengan mencantumkan dasar hukum pembatalan dan memperhatikan AUPB.
Sehubungan dengan tenggang waktu 2 (dua) tahun sejak UU AP, dimana peraturan pemerintah yang dimaksudkan dalam undang-undang ini belum terbit, maka hakim atau pejabat pemerintahan yang berwenang dapat menjatuhkan putusan atau sanksi dengan berlakunya undang-undang ini. KTUN sebagaimana dimaksud dalam UU No.5 Tahun 1985 tentang PTUN telah dirubah UU No.9 Tahun 2004 dan UU No.51 Tahun 2009 harus dimaknai sebagai salah satu ketentuan perundang- undangan dan AUPB.
Di samping itu ada banyak ketentuan peraturan perundang- undangan yang membuat AUPB di luar undang-undang. Misalnya UU Ombudsman, UU Pemda, UU ASN, UU Pelayanan Publik, UU KKN. Asas-asas hukum yang melekat tidak sertai dengan indikator yang jelas, sehingga parameternya hanya bersifat subyektif. Sementara UU AP ini memberi parameter yang jelas untuk dijadikan acuan bagi pejabat pemerintahan untuk memberi kepastian hukum. [ ]
18
BAB II
HAK DAN KEWAJIBAN PEJABAT PEMERINTAHAN
2.1 Kedudukan Hukum Pejabat Pemerintahan
ndonesia sebagai negara hukum diatur dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945, setiap tindakan pemerintah harus berlandaskan hukum. Pembagian hukum publik dan hukum privat menempatkan kedudukan pemerintah menjadi berbeda berdasarkan segi fungsi dan kewenangan. Pemerintah melak- sanakan aktivitas dalam bidang hukum publik dan juga hukum privat (keperdataan). Dalam pergaulan hukum, keterlibatan pemerintah sebagai badan/atau pejabat pemerintahan tunduk pada hukum publik. Di sisi lain sebagai wakil dari badan hukum tunduk pada hukum privat.
Dalam perspektif hukum publik menempatkan negara sebagai organisasi jabatan. Pemerintah dalam melakukan tindakan memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu primer (pelayanan) dan sekunder (pemberdayaan), sebagai penyelenggara pem- bangunan dan melakukan program pemberdayaan.10 Dalam
hukum publik dan hukum privat, pemerintah memiliki kedudukan yang berbeda, tentunya fungsinya juga berbeda. Dalam hukum publik, pemerintah melekat hak dan kewajiban dengan wewenang dan kewenangan untuk melakukan putusan dan/atau tindakan hukum. Sedangkan dalam hukum privat kedudukan pemerintah sama seperti orang atau perorangan. Ini
10 Ridwan, Ibid, hlm.71.
19 menempatkan pemerintah sama secara keperdataan dalam sengketa keperdataan dalam peradilan umum.
Dalam penyelenggaraan administrasi, melekat hak dan kewajiban bagi badan dan/atau pejabat pemerintahan. Penyelenggaraan administrasi pemerintahan ini berdasarkan: a) asas legalistas, 11 yaitu penyelenggaraan administrasi peme-
rintahan yang mengedepankan dasar hukum dari sebuah keputusan dan/atau tindakan yang dibuat oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan; b) perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), yaitu penyelenggaraan administrasi pemerintahan, dimana badan dan/atau pejabat pemerintahan tidak boleh melanggar hak-hak dasar warga masyarakat sebagaimana dijamin dalam UUD NRI Tahun 1945; dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB). Penggunaan asas hukum dinormakan seperti di atas masih menimbulkan pro dan kontra seperti dijelaskan sebelumnya.
Konstruksi hukum yang dibangun asas hukum ialah prinsip-prinsip yang dianggap dasar atau fundamental hukum. Di mana dalam asas hukum terkandung nilai-nilai yang menjadi titik tolak bagi pembentukan dan interpretasi undang-undang. Asas hukum itu tidak dapat diabstraksikan lagi karena asas adalah norma dasar yang paling umum. Sebaliknya UU AP ini, asas-asas menjadi titik tolak berpikir dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan.
Subyek hukum dari Hukum Administrasi Negara adalah badan dan/atau pejabat pemerintahan, yang melekat hak dan
11 Ini dalam hukum pidana, Pasal 1 KUHP, asas legalitas, yaitu tiada suatu perbutan yang
dapat dipidana selain berdasarkan ketentuan perundang-undangan pidana yang mendahuluinya (nulla delictum nulla poena sine praevie legi poenali). asas legalitas ini dapat dimaknai, bahwa ttidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. Kemudian dalam menentukan adanya suatu perbuatan hukum pidak tidak boleh berlaku surut, dan aturan hukum pidana tidak berlaku surut, lihat Andi Hamzah, 1994,Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Cipta: hlm.40.
20
kewajiban pejabat pemerintahan; dalam perspektip hukum publik, negara adalah organisasi jabatan. Jabatan adalah suatu lingkungan pekerjaan tetap yang diadakan dan dilakukan guna kepentingan negara.12
Menurut Indroharto, ukuran untuk dapat disebut badan atau pejabat Tata Usaha Negara (TUN) merupakan fungsi yang dilaksanakan, bukan nama sehari-hari, bukan kedudukan strukturalnya dalam salah satu lingkungan kekuasaan dalam negara. Lebih lanjut Indroharto mengelompokkan organ pemerintahan atau TUN di antaranya:13
a. Instansi-instasi resmi pemerintahan yang berada di bawah presiden sebagai kepala eksekutif;
b. Instasi-instasi dalam lingkungan negara di luar lingkungan kekuasaan eksekutif yang berdasarkan peraturan perundang- undangan melaksanakan urusan pemerintahan;
c. Badan-badan hukum perdata yang didirikan oleh pemerintah yang dimaksud untuk melaksankan tugas-tugas peme- rintahan;
d. Instansi-instansi yang merupakan kerjasama antara pihak pemerintahan dengan pihak swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan;
e. Lembaga-lembaga hukum swasta yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan sistem perizinan melaksanakan tugas pemerintahan.
2.2. Hak dan Kewajiban Pejabat Pemerintahan
Pejabat pemerintahan melekat hak dan kewajiban dalam menyelenggarakan adminstrasi pemerintahan. Hak pejabat pemerintahan antara lain:
12 Utrechr, 1988, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Surabaya, Pustaka
Tinta Mas, hlm200
13 Indroharto, 1993, Usaha Memahami Undang-undang Tentang Peradilan Tata Usaha
21 a)Memiliki hak menggunakan kewenangan dalam mengambil keputusan dan/atau tindakan. Setiap pejabat pemerintahan dapat menggunakan dan mengambil keputusan dan/atau tindakan dalam penyelenggaraan administrasi. Ini berupa: (1) Melaksanakan kewenangan yang dimiliki berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan AUPB. Maksudnya setiap pejabat pemerintahan yang melekat wewenang dan kewenangan dalam membuat keputusan dan/atau tindakan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ini harus sesuai dengan hirarki yang diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU No.12 Tahun 2011 tentang Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan. Selain itu harus sesuai dengan AUPB, ini berarti dalam menggunakan kewenangannya asas-asas ini harus menjadi jiwa dalam setiap keputusan dan/atau tindakan yang harus ditaati dan dipatuhi.
(2) Menyelenggarakan aktivitas pemerintahan berdasarkan kewenangan yang dimiliki. Pejabat pemerintahan atas segala aktivitas dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan berdasarkan kewenangan yang dimiliki. Dalam prakteknya pejabat pemerintahan harus melihat itu, kewenangan yang diberikan jenis apa (atribusi, delegasi, atau mandat), dan pertanggungjawabannya. (3) Menetapkan keputusan berbentuk tertulis atau
elektronis dan/atau menetapkan tindakan. Setiap pejabat pemerintahan berhak membuat, dan menetapkan keputusan dan/atau tindakan yang terkait penyeleng- garaan pemerintahan, baik berbentuk tertulis, dan elektronis (medos).
(4) Menerbitkan atau tidak menerbitkan, mengubah, meng- ganti, mencabut, menunda, dan/atau membatalkan keputusan dan/atau tindakan. Pejabat pemerintahan
22
dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan, atau permohonan warga negara untuk suatu izin, konsesi, dan dispensasi, mempunyai hak untuk dapat, atau tidak menerbitkan, mengubah, mengganti, mencabut, menunda, dan/atau membatalkan keputusan dan/atau kewajiban. (5) Menggunakan diskresi sesuai dengan tujuannya. Pejabat
pemerintahan dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat menggunakan diskresi sesuai dengan tujuan, maksud, dan aturannya dalam membuat keputusan dan/atau tindakan.
(6) Mendelegasikan dan memberikan mandat kepada pejabat pemerintahan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pejabat pemerintahan dalam menjalankan penyelenggaraan administrasi pemerintahan, berdasarkan kewenangan yang dipunyai dan dapat mendelegasikan dan memberikan mandat kepada pejabat pemerintahan lainnya.
(7) Menunjuk pelaksana harian atau pelaksana tugas untuk melaksanakan tugas apabila pejabat definitif berhalang- an. Pejabat pemerintahan dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan dapat menunjuk pelaksana harian atau pelaksana tugas untuk melaksanakan tugas apabila pejabat itu berhalangan atau dinas luar, sakit, dan cuti.
(8) Menerbitkan izin, dispensasi, dan/atau konsesi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pejabat pemerintahan dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan dapat menerbitkan izin, dispensasi, dan konsesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (9) Memperoleh perlindungan hukum dan jaminan keaman-
an dalam menjalankan tugasnya. Pejabat pemerintahan dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan
23 mendapat perlindungan hukum terhadap apa yang dilakukan dalam membuat keputusan dan/atau tindakan. (10)Memperoleh bantuan hukum dalam melaksanakan tugasnya. Pejabat pemerintahan dalam menyelenggara- kan adminsitrasi pemerintahan mendapat bantuan hukum dalam melaksanakan tugasnya apabila terkena masalah.
(11)Menyelesaikan sengketa kewenangan di lingkungan atau wilayah kewenangannya. Pejabat pemerintahan dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan memberi solosi dalam penyelesaian sengketa di lingkungan kerja atau tempatnya.
(12)Menyelesaikan upaya administrasi yang diajukan masyarakat atas keputusan dan/atau tindakan yang dibuatnya. Pejabat pemerintahan dalam penyelenggara- an administrasi pemerintahan menyelesaikan keberatan atas keputusan dan/atau tindakan yang diterima tidak sesuai warga masyarakat.
(13)Menjatuhkan sanksi administrasi kepada bawahan yang melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam undang-undang. Pejabat pemerintahan dalam penyeleng- garaan pemerintahan memberikan sanksi administasi kepada bawahan yang melanggar.
Sesuai UU AP ini, hak pejabat pemerintahan dalam membuat keputusan berbentuk tertulis atau elektronis dan/atau dalam menetapkan. Ini dapat dikemukakan bahwa ada perluasan pengertian keputusan dan/atau tindakan, dengan diakuinya keputusan elektronis, yaitu keputusan yang dibuat atau disampaikan dengan menggunakan atau memanfaatkan media elektronik. Hal ini berimplikasi terhadap ketentuan dalam UU PTUN, yang hanya mengenal keputusan tertulis saja.
24
b) Pejabat pemerintahan berkewajiban dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan berdasarkan ketentuan perun- dang-undangan, kebijakan pemerintahan; dan AUPB. c) Selain hak, pejabat pemerintahan memiliki kewajiban antara
lain:
(1)Membuat keputusan dan/atau tindakan sesuai dengan kewenangan;
(2)Mematuhi AUPB dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
(3)Mematuhi persyaratan dan prosedur;
(4)Mematuhi undang-undang dalam menggunakan diskresi; (5)Memberikan bantuan kedinasan kepada badan dan/atau
pejabat pemerintahan yang meminta bantuan untuk melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan tertentu; (6) Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat
untuk didengar pendapatnya sebelum membuat keputusan dan/atau tidakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; terkait dengan ini, warga masyarakat yang didengar pendapatnya adalah setiap pihak yang terbebani atas keputusan dan/atau tindakan administrasi pemerintahan. Mekanisme untuk memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk didengar pendapatnya dapat dilakukan melalui tetap muka, sosialisasi, musyawarah, dan bentuk kegiatan lainnya yang bersifat individu dan/atau perwakilan.
(7)Memberitahukan kepada warga masyarakat berkaitan dengan keputusan dan/atau tindakan yang menimbulkan kerugian paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak keputusan dan/atau tindakan ditetapkan dan/atau dilakukan;
25 (8) Menyusun standar operasional prosedur pembuatan
keputusan dan/atau tindakan;
(9) Pemeriksa dan meneliti dokumen administrasi peme- rintahan, serta membuka akses dokumen administrasi pemerintahan kepada warga masyarakat, kecuali ditentukan lain;
(10) Menerbitkan keputusan terhadap permohonan warga masyarakat, sesuai dengan hal-hal yang diputuskan dalam keberatan/banding;
(11) Melaksanakan keputusan dan/atau tindakan yang sah dan keputusan yang telah dinyatakan tidak sah atau dibatalkan oleh pengadilan, pejabat yang bersangkutan, atau atasan pejabat;
(12) Mematuhi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Setiap pejabat pemerintahan dalam membuat putusan dan/atau tindakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Konstruksi hukum dari Hukum Administasi Negara (HAN) di atas adalah asas praduga rechmatig atau lazim disebut
presumption iustae cause, yang berarti setiap tindakan
pejabat pemerintahan selalu dianggap benar, sampai ada pembatalan. Asas legalitas (wetmatig van het
bestuur) diatur dalam UU PTUN, yang menyebutkan
keputusan tata usaha negara dapat digugat karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain hak dan kewajiban badan dan/pejabat pemerintah- an, ada fungsi pemerintah dalam administrasi pemerintah yang terdiri:
a) Fungsi pelayanan, ini terkait dengan pelayanan publik dan pelayanan sipil.
26
b) Fungsi pengaturan, dalam hal pemerintah, melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c) Pembangunan, ini terkait pembangunan infrastruktur dan pembangunan mental sumber daya manusia;
d) Pemberdayaan, ini mendukung untuk mengelola sumber daya secara maksismal; dan
e) Perlindungan, ini kaitan upaya untuk memberi perlindungan pada warga masyarakat baik preventif (pencegahan), dan represif.
Fungsi pemerintahan dilaksanakan badan dan/atau pejabat pemerintahan di lingkungan pemerintah maupun penyelenggaraan negara lainnya. Di sini ada atasan pejabat dan bantuan kedinasan.
Dalam UU AP, juga ada istilah warga masyarakat yang diartikan sebagai seorang atau badan hukum perdata yang terkait dengan keputusan dan/atau tindakan. Konstruksi hukumnya, warga masyarakat yang didengar pendapatnya adalah setiap pihak yang terbebani atas keputusan dan/atau tindakan pemerintahan. Mekanisme untuk memberikan pendapatnya dapat dilakukan melalui tatap muka, sosialisasi, musyawarah, dan bentuk lainnya yang bersifat individu dan/atau perwakilan.
2.3. Instrumen Penyelenggaraan Pemerintahan
UU AP memberi pedoman dan dasar hukum dalam penyelenggaraan negara, pada tataran ini tidak hanya sebagai payung hukum bagi penyelenggaraan pemerintahan, tetapi juga sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan kepada warga masyarakat. Sehingga dapat mewujudkan pemerintahan yang baik bagi semua badan dan/atau pejabat pemerintahan di pusat dan daerah.
27 Kualitas penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam menggunakan wewenang dan kewenangannya harus mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan dan asas-asas pemerintahan yang baik. Dengan kualitas pelayanan yang baik, permasalahan- permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan memberi solusi dalam perlindungan hukum bagi warga masyarakat dan pejabat pemerintahan.
Dalam pengaturan administasi pemerintahan mencakup hak dan kewajiban pejabat pemerintahan. Kewenangan peme- rintahan, diskresi, penyelenggaraan pemerintahan. Prosedur administrasi pemerintahan, keputusan pemerintahan, upaya administratif, pembinaan, dan pengembangan administrasi pemerintahan, serta sanksi administrasi.
Konsep dasar administrasi pemerintahan adalah “tata laksana pengambil keputusan dan/atau tindakan oleh badan dan/atau pejabat pemerintah (cara keputusan/tindakan pejabat)”. Tujuan administrasi pemerintahan yaitu:
1)Menciptakan tertib penyelenggaraan administrasi peme- rintahan. Maksudnya dengan pengaturan yang jelas, dengan pedoman dan dasar hukum untuk melaksanakan sesuai aturan hukum, sehingga terwujud tertib penyelenggaraan administrasi pemerintahan;
2)Menciptakan kepastian hukum. Dengan UU AP ini, jelas melaksanakan aturan dalam penyelenggaraan pemerintahan sehingga pelayanan maksimal;
3)Mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang. Pe- ngaturan yang jelas dan dasar hukum yang jelas, dapat meminimal badan dan/atau pejabat pemerintahan melakukan penyalahgunaan wewenang;
4)Menjamin akuntabilitas badan dan/atau pejabat pemerin- tahan. Dengan aturan ini jelas kualitas pelayanan dalam
28
penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan badan dan/atau pejabat pemerintahan;
5)Memberikan perlindungan hukum kepada warga masyarakat dan aparatur pemerintahan. Pengaturan ini memberi perlindungan hukum bagai semua pihak baik preventif atau pencegahan maupun represif untuk melakukan keberatan dan/atau banding terhadap keputusan dan/atau tindakan pejabat atau atasan pemerintahan dalam membuat keputusan dan/atau tindakan.
6)Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan dan menerapkan asas-asas umum pemerintahan yang baik. Dengan adanya penormaan akan memberi kepastian hukum sebagai dasar dan pedoman dalam melakukan suatu perbuatan hukum dalam membuat keputusan dan/tindakan oleh badan/atau pejabat pemerintahan; dan
7)Memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada warga masyarakat. Pelayanan yang baik meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan kepada masyarakat dalam mewujudkan pemerintahan yang baik.
Sehubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan, secara umum UU AP meliputi aktivitas:
a)Badan dan/atau pejabat pemerintahan yang menyelengga- rakan fungsi pemerintahan dalam lingkup lembaga eksekutif. Ruang lingkup UU AP seperti presiden, kementerian, dan lingkungan yang terkait dengan eksekutif, baik pusat dan daerah;
b)Badan dan/atau pejabat pemerintahan yang menyelengga- rakan fungsi pemerintahan dalam lingkup lembaga yudikatif. Ruang lingkup UU AP seperti badan-badan pengadilan, baik Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi yudisial;
29 c)Badan dan/atau pejabat pemerintahan yang menyelengga- rakan fungsi pemerintahan dalam lingkup lembaga legislatif. Ruang lingkup ini meliputi: dewan perwakilan rakyat baik pusat dan daerah propinsi/kabupaten/ dan kota;
d)Badan dan/atau pejabat pemerintahan lainnya yang menye- lenggarakan fungsi pemerintahan yang disebutkan dalam UUD NRI Tahun 1945 dan/atau undang-undang. Ini meliputi kejaksaan, kepolisian, TNI, dan badan-badan independ lainya (KPK, KPU, Komisi Penyiaran).
Pada dasarnya hak dan kewajiban pejabat pemerintahan dalam UU AP, dirinci secara detail mengenai hak dan wewenang apa yang melekat pada pejabat pemerintahan. Ini berhubungan dengan proses pembuatan keputusan dan/atau tindakan admnistrasi pemerintahan yang sesuai dengan kewenangannya.
Pada prakteknya badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak tahu persis apa yang menjadi hak kewajibanya. Di sisi lain ada warga masyarakat yang berinteraksi dengan badan dan/atau pejabat pemerintahan terkait putusan dan/atau tindakan, wajib memberikan kesempatan untuk didengar pendapat, saran dan kritik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Konstruksi hak dan kewajiban pejabat pemerintahan, yaitu melekat kewenangan dalam mengambil putusan dan/atau tindakan. Bentuk putusan dan/atau tindakan pejabat pemerintah ini adalah tertulis maupun elektronis. Keputusan elektronis adalah keputusan yang dibuat atau disampaikan dengan mempergunakan atau memanfaatkan media elektronik. Hal ini tidak koheren dengan kontruksi dalam UU PTUN, yang menyebutkan Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan dan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan perundang-
30
undangan yang berlaku, yang bersifat konkrit, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum. Ketidaksinkronan ini pada prakteknya akan bermasalah dalam UU PTUN dalam mengadili keputusan elektronis.
UU AP pada dasarnya merupakan upaya membangun prinsip-prinsip pokok, pola pikir, sikap, perilaku, budaya, dan pola tindak administratif yang demokratif, obyektif, dan profesional dalam rangka menciptakan keadilan dan kepastian hukum. Ini mengatur kembali putusan dan/atau tindakan badan dan/atau pejabat pemerintahan berdasarkan ketentuan perundang-undangan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik. Perubahan baru dalam undang-undang ini diatur surat elektronis, berarti mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Di sisi lain warga masyarakat lebih mudah dan tergantung dengan media sosial (medsos), sehingga kemudahan secara teknologi ini sudah diatur dalam ketentuan. Warga masyarakat lebih mudah, cepat dalam melakukan interaksi terkait penyelenggaraan administrasi pemerintahan dengan medsos. 2. 4. Wewenang dan Kewenangan Pemerintah
Wewenang adalah hak yang dimiliki badan dan/atau pejabat pemerintah/penyelenggara negara lainnya berupa keputusan. Keputusan administrasi pemerintahan atau Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) atau keputusan negara adalah ketetapan tertulis yang dikeluarkan badan/pejabat pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintah.
Keputusan itu bisa dalam bentuk tertulis dan bentuk elektronis, yaitu keputusan yang dibuat dan disampaikan menggunakan atau memanfaatkan media, di sini ada legalisasi. Keputusan elektronis dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, supaya memudahkan dalam pelayanan
31 publik antara pemerintah dengan warga masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Keputusan yang dibuat pejabat pemerintahan ini, berupa izin adalah keputusan pejabat pemerintahan yang berwenang sebagai wujud persetujuan atas permohonan warga masyarakat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Keputusan lainnya yakni konsesi, yaitu keputusan pejabat pemerintahan yang berwenang sebagai wujud persetujuan dari kesepakatan badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam pengelolaan fasilitas umum dan/atau Sumber Daya Alam (SDA) dan pengelolaan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan
Terakhir jenis putusan pejabat pemerintahan adalah dispensasi yang merupkan keputusan pejabat pemerintahan yang berwenang sebagai wujud persetujuan atas permohonan warga masyarakat yang merupakan pengecualian terhadap suatu larangan atau perintah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Ini perkecualian atas suatu persetujuan permohonan warga masyarakat.
Konstruksi UU AP, setiap pejabat pemerintahan dalam membuat keputusan dan/atau tindakan harus dilandasi wewenang yang sah. Kewenangan yang sah ini diperoleh melalui kewenangan atribusi, delegasi, dan mandat. Hal ini merujukkan secara umum bahwa wewenang merupakan kekuasaan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik. Wewenang dapat berupa;14
a. Hak untuk menjalankan suatu urusan pemerintahan (dalam arti sempit);
b. Hak untuk dapat secara nyata mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh instansi pemerintah lainnya.
14 Safri Nugra dkk, 2007, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, (Depok Centrer for
32
Di sisi lain, sifat wewenang pemerintahan adalah:
a) Terikat pada suatu masa tertentu. Sifat ini ditemukan pada peraturan perundang-undangan. Intinya berlakunya suatu wewenang sudah ditentukan lama/atau batas waktu yang sudah menjadi dasar. Apabila kewenangan melebihi waktu yang ditentukan maka kebijakan yang dibuat tidak sah; b)Ada batas tertentu. Maksudnya batas wilayah kewenangan
atau cakupan materi kewenangannya. Misalnya Bupati Kabupaten Kutai Kertanegara maka kewenangan hanya sebatas wilayah Kabupaten tersebut;
c) Pelaksanaan wewenang pemerintahan terikat hukum tertulis, tidak tertulis (hukum adat), AUPB.
Keputusan dan/atau tindakan harus ditetapkan dan/atau dilakukan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan yang berwenang, dalam hal ini menggunakan wewenang wajib berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Intinya setiap keputusan yang dibuat oleh pejabat peme- rintahan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan yang menjadi dasar kewenangan. Maksudnya dasar kewenangan ini, terkait dengan dasar hukum dalam peng- angkatan atau penetapan pejabat yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dalam menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan. Ini menjadi dasar hukum baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dalam menjalankan tugas pokoknya.
Sehubungan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan ini, wajib menunjukkan dalam menetapkan/melaku- kan keputusan dan/atau tindakan. Apabila ketiadaan atau tidakjelasan peraturan perundang-undangan dalam menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan, tidak meng- halangi badan dan/atau pejabat pemerintahan yang berwenang untuk menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau
33 tindakan sepanjang memberi kemanfaatan umum dan sesuai dengan AUPB.
Hal ini dalam pertimbangan kemanfaatan umum atas 1 (satu) keputusan dan/atau tindakan tidak boleh melanggar norma-norma agama, sosial, dan kesusilaan. Kemanfaatan umum harus memberikan dampak pada peningkatan kese- jahteraan dan kepentingan warga masyarakat. Kepentingan warga masyarakat tidak boleh dijadikan obyek bagi pejabat pemerintahan. Untuk wewenang dan kewenangan pejabat harus jelas. Pada kondisi faktual wewenang dan kewenangan banyak yang belum bisa membedakan.
UU AP dengan jelas memberikan batasan terhadap wewe- nang dan kewenangan pejabat pemerintahan. Kewenangan adalah kekuasaan badan dan/atau pejabat pemerintah dan penyelenggara negara lainnya untuk bertindak dalam ranah hukum publik. Unsur kewenangan adalah kekuasaan, bertindak, dan lingkup hukum publik. Ini pada prakteknya menimbulkan sengketa kewenangan dan konflik kepentingan bagi pejabat.
Sengketa kewenangan ini dicontohkan ada dua (2) bentuk, yaitu kewenangan pejabat pemerintahan atau tumpang tindih atau tidak jelasnya pejabat pemerintahan yang berwenang menangani suatu urusan pemerintahan. Dan kewenanangan mengenai izin yang masuk dalam zona merah (Migas), yang berbatasan dengan izin usaha pertambangan batubara dalam 1 (satu) konsesi yang dikeluarkan gubernur.
Sengketa kewenganan terkait konflik kepentingan adalah kondisi pajabat pemerintah yang kepentingan pribadi untuk menguntungkan diri sendiri dan/atau orang lain dalam peng- gunaan wewenang, sehingga dapat mempengaruhi netralitas dan kaulitas keputusan dan/atau tindakan yang dibuat dan/atau dilakukannya. Contoh Izin Usaha Pertambangan Batubara, yang
34
diberikan berdasarkan kepentingan anak pejabat/pengusaha terkenal/pejabat kalangan militer dan sebagai.
Dalam perkembangannya saat ini telah terjadi perdagang- an pengaruh partai politik dalam penetapan jabatan seseorang di pemerintahan. Konflik kepentingan pribadi, golongan atau partai menjadi sengketa kewenangan yang mendasari terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT). Perdagangan pengaruh dilatar- belakangi pertemanan, satu parpol politik yang menduduki jabatan pemerintahan, balas budi dan sebagainya, sehingga bisa ikut mempengaruhi sebuah keputusan dan/atau tindakan pemerintahan yang dilakukan. Untuk itu dalam pengangkatan seseorang atas suatu jabatan harus dilakukan dengan standar yang jelas tanpa ditentukan kewenangan pejabat. Misalnya, pemilihan rektor atau pemilihan pejabat kanwil di daerah.
Kewenangan pejabat pemerintah dibagi menjadi: 1) kewenangan atribusi yaitu pemberian kewenangan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan oleh UUD NRI Tahun 1945. Pada kewenangan atribusi badan dan/atau pejabat pemerintahan memperoleh wewenang apabila:
a) Diatur dalam UUD NRI Tahun 1945 dan/atau undang- undang;
b)Merupakan wewenang baru atau sebelumnya; dan
c) Atribusi diberikan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan.
Terkait dengan tanggung jawab kewenangan berada pada badan/atau pejabat pemerintahan yang bersangkutan. Intinya kewenangan atribusi tidak bisa didelegasikan kecuali diatur dalam UUD NRI Tahun 1945 dan/atau undang-undang. 2) Kewenangan delegasi adalah pelimpahan kewenangan dari badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih tinggi kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih rendah dengan tanggung jawab dan tanggung gugat beralih sepenuhnya
35 kepada penerima delegasi. Pada intinya pendelegasian kewenangan ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, cara pemberiannya delegasi apabila: a)Diberikan oleh badan/atau pejabat pemerintahan kepada
badan dan/atau pejabat pemerintahan;
b)Ditetapkan dalam peraturan pemerintah, peraturan presiden dan/atau peraturan daerah; dan
c)Wewenang itu merupakan pelimpahan atau sebelumnya yang telah ada.
Pada dasarnya kewenangan yang didelegasikan kepada badan/atau pejabat pemerintahan tidak dapat didelegasikan lebih lanjut, kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam kontruksi ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan ini. Badan dan/atau pejabat pemerintahan yang memperoleh wewenang melalui delegasi dapat mensub delegasikan tindakan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan lain dengan ketentuan sebagai berikut:
a)Dituangkan dalam bentuk peraturan sebelum wewenang dilaksanakan;
b)Dilakukan dalam lingkungan pemerintahan itu sendiri; dan c)Paling banyak diberikan kepada badan dan/atau pejabat
pemerintahan 1 (satu) tingkat di bawahnya.
Wewenang delegasi ini, badan dan/atau pejabat pemerintahan yang memberikan delegasi dapat menggunakan sendiri wewenang yang diberikan melalui delegasi, kecuali ditentukan lain dalam peraturan uu. Dalam praktenya apabila pelaksanaan wewenang berdasarkan penyelenggaraan peme- rintahan, badan dan/atau pejabat pemerintahan yang memberikan pendelegasian kewenangan dapat menarik kembali wewenang yang didelegasikan. Terkait dengan tanggung jawab kewenangan delegasi ini, berada pada penerima delegasi.
36
Kewenangan mandat adalah pelimpahan kewenangan dari badan dan/atau badan pemerintahan yang lebih tinggi kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih rendah dengan tanggung jawab dan tanggung gugat tetap berada pada pemberi mandat. Kontruksi UU AP ini, penerima wewenang mandat dapat dilakukan keputusan dan/atau tindakan sepanjang keputusan dan/atau tindakan itu tidak bersifat strategis, dan putusan dan/atau tindakan itu bersifat stategis yang tidak berdampak pada perubahan status hukum pada aspek organisasi, kepegawaian, dan alokasi anggaran.15
Kewenangan mandat diperoleh dari kewenangan atributif dan delegatif. Kewenangan mandat, dalam hal ini badan dan/atau pejabat pemerintahan memperoleh mandat apabila: a)Ditugaskan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan di
atasnya; dan
b)Merupakan pelaksanaan tugas rutin.
Yang dimaksud pelaksanaan tugas rutin, dalam hal ini pelaksanaan tugas jabatan atas nama pemberi mandat yang bersifat pelaksanaan tugas jabatan dan tugas sehari-hari. Pelaksanaan tugas rutin ini oleh pejabat pemerintahan terdiri atas:
a)Pelaksanan harian yang melaksanakan tugas rutin dari pejabat definitif yang berhalangan sementara;
b)Pelaksana tugas yang melaksanakan tugas rutin dari pejabat definitif yang berhalangan tetap.
Pada intinya badan dan/atau pejabat pemerintahan dapat memberikan mandat kepada badan dan/atau pejabat peme- rintahan lain yang menjadi bawahannya, kecuali ditentukan lain dalam ketentuan perundangan dan pejabat pemerintahan yang
15 Dalam teori manjemen, faktor yang menentukan perubahan status hukum, terkait
dengan fungsi organizing, human capital.staffing, dan budgeting. Ketiga aspek ini membuat roda organisasi pemerintahan yang berjalan.
37 menerima mandat harus menyebutkan atas nama badan dan/atau pejabat pemerintahan yang memberikan mandat. Ini misalnya wewenang mandat dilaksanakan dengan menyebut atas nama (a.n), untuk beliu (u.b), melaksanakan mandat (m.m), dan melaksanakan tugas (m.t).
Di sisi lain badan dan/atau pejabat pemerintahan yang memberikan mandat dapat menggunakan sendiri wewenang yang telah diberikan melalui mandat, kecuali ditentukan lain dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Pada waktu pelaksanaan wewenang berdasarkan mandat menimbulkan ketidakefektifan penyelenggaraan pemerintahan, badan dan/ atau pejabat pemerintahan yang memberikan mandat dapat menarik kembali wewenang yang dimandatkan.
Implikasi pemberian kewenangan mandat, badan dan/ atau pejabat pemerintahan yang memperoleh wewenang melalui mandat tidak berwenang mengambil keputusan dan/ atau tindakan yang bersifat strategis adalah keputusan dan/atau tindakan yang memiliki dampak besar seperti penetapan perubahan secara strategis dan rencana kerja pemerintah. Hal ini berdampak pada perubahan status hukum pada aspek organisasi, maksudnya menetapkan perubahan struktur organisasi. Untuk kepegawaian, dalam hal ini perubahan status hukum kepegawaian adalah melakukan pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian pegawai, dan perubahan alokasi anggaran, hal ini perubahan alokasi anggaran yang sudah ditetapkan alokasinya, serta badan dan/atau pejabat pemerintahan yang memperoleh wewenang melalui mandat tanggung jawab kewenangan tetap pada pemberi mandat.
Sehubungan dengan kewenangan, ada hal yang perlu dipahami oleh seorang pejabat pemeritahan dalam penye- lenggaraan pemerintahan. Pembatasan kewenangan dalam UU AP ini dalam rangka membatasi gerak pejabat, agar tidak