• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber: Tim UJDIH BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sumber: Tim UJDIH BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur 1"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS POKOK DAN FUNGSI TPKN/D SERTA

MAJELIS PERTIMBANGAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA/DAERAH DALAM PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH

BERDASARKAN PP NOMOR 38 TAHUN 2016

Sumber: https://goo.gl/YJBG2p

I. PENDAHULUAN

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (selanjutnya disebut UU No. 1 Tahun 20014) dalam BAB IX Pasal 59 – Pasal 63 memuat pengaturan mengenai penyelesaian kerugian negara/daerah. Ketentuan tersebut dibuat untuk menghindari terjadinya kerugian keuangan negara/daerah akibat tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang yang menimbulkan kerugian negara. Dengan penyelesaian kerugian negara/daerah diharapkan kerugian negara/daerah yang telah terjadi dapat dipulihkan.

Setiap kerugian negara/daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus diganti oleh pihak yang Merugikan/Pengampu/Yang Memperoleh Hak/Ahli Waris. Penggantian kerugian negara/daerah tersebut perlu segera dilakukan untuk memulihkan uang, surat berharga, dan barang yang berkurang. Dalam hal berkurangnya uang, surat berharga, dan barang tidak disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain, maka berkurangnya uang, surat berharga, dan barang tersebut dihapuskan dari pembukuan.

Dalam hal terjadi kerugian negara/daerah, Menteri/Pimpinan Lembaga/ Gubernur/ Bupati/ Walikota wajib segera melakukan Tuntutan Ganti Kerugian negara/ daerah setelah mengetahui terjadinya kerugian negara/daerah tersebut. Tuntutan Ganti Kerugian negara/daerah dilakukan oleh pejabat penyelesaian Kerugian Negara/Daerah yang selanjutnya menugaskan TPKN/TPKD untuk melakukan tuntutan ganti kerugian dimaksud.

(2)

Dalam rangka memberikan pedoman bagi Kementerian Negara/ Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah dan melaksanakan ketentuan Pasal 63 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara perlu ditetapkan Peraturan pemerintah tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/ Daerah terhadap pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain1), yang kemudian ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2016 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain (PP 38/2016) pada tanggal 12 Oktober 2016 dan diundangkan pada tanggal 13 Oktober 2016.

Seiring dengan semakin meningkatnya kompleksitas permasalahan hukum dalam penyelesaian kerugian negara, maka tulisan hukum ini dibuat untuk meningkatkan pemahaman atas implementasi PP 38/2016 terhadap peraturan perundang-undangan terkait penyelesaian ganti kerugian negara/daerah, khususnya terkait tugas pokok dan fungsi TPKN/D serta Majelis Pertimbangan Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah dalam penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2016.

II. PERMASALAHAN

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka permasalahan yang akan menjadi pokok pembahasan adalah:

Apakah tugas pokok dan fungsi TPKN/D serta Majelis Pertimbangan Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah dalam penyelesaian ganti kerugian negara/daerah berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2016?

III. PEMBAHASAN

A. Kerugian Negara/Daerah

Konsep kerugian semula hanya berada dalam ranah hukum perdata, yang kemudian diadopsi dalam hukum administrasi negara dengan ditetapkannya

Indonesian Comptabiliteiswet (ICW-UU Perbendaharaan) dalam Staatsblad Tahun

1925 Nomor 448 terakhir diubah dengan UU Nomor 9 Tahun 1968. Staatsblad tersebut telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku dengan diundangkannya UU 1/2004.

Kerugian negara dalam Hukum Administrasi Negara merupakan kondisi kerugian yang diderita oleh negara sebagai akibat dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh setiap orang, baik bendahara, pegawai negeri bukan bendahara,

(3)

pejabat negara, maupun pihak lain. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 35 ayat (1) sampai dengan (4) UU 17/2003 dan Pasal 59 ayat (2) dan (3) UU 1/2004 jo. Pasal 136 ayat (1) dan (2) PP 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, yang pada prinsipnya mengatur bahwa setiap pejabat negara, bendahara, maupun pegawai negeri bukan bendahara yang melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya baik langsung atau tidak langsung yang merugikan keuangan negara diwajibkan mengganti kerugian dimaksud.

Ketentuan mengenai tata cara tuntutan ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 63 ayat (2) UU 1/2004 khususnya terhadap pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2016 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain (PP 38/2016).

Pengertian tentang kerugian negara/daerah terdapat dalam Pasal 1 angka 1 PP 38/2016 yang menyatakan bahwa kerugian negara/daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kemudian Pasal 1 ayat 2 PP 38/2016 menyatakan bahwa Tuntutan Ganti Rugi adalah suatu proses tuntutan yang dilakukan terhadap pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain dengan tujuan untuk memulihkan kerugian negara/daerah. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 huruf j UU 1/2004, penyelesaian kerugian negara merupakan bagian dari kegiatan perbendaharaan, yang mencakup pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara, Prinsip-prinsip dasar kerugian negara diatur dalam Pasal 35 UU 17/2003, Pasal 59-67 UU 1/2004, Pasal 22-23 UU 15/2004, dan Pasal 10 UU 15/2006 dalam konteks penyelesaian untuk dilakukan penggantian oleh pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum yang telah mengakibatkan terjadinya kerugian, yang dimulai sejak laporan dari atasan langsung atau kepala kantor hingga ditetapkannya pembebanan penggantian kerugian negara/daerah.

Informasi mengenai terjadinya Kerugian Negara/Daerah berdasarkan Pasal 4 PP 16/2016, disebutkan dapat bersumber dari:

1. Hasil pengawasan yang dilaksanakan oleh atasan langsung; 2. Aparat pengawasan internal Pemerintah;

3. Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan; 4. Laporan tertulis yang bersangkutan;

5. Informasi tertulis dari masyarakat secara bertanggung jawab; 6. Perhitungan ex-officio; dan/atau

(4)

Sebagai tindak lanjut atas informasi tersebut, maka atasan langsung atau kepala satuan kerja dapat menunjuk Pegawai Aparatur Sipil Negara/Anggota Tentara Nasional Indonesia/Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia/Pejabat Lain untuk melakukan tugas verifikasi terhadap informasi tersebut.2)

Dalam hal hasil verifikasi terdapat indikasi kerugian negara/daerah maka dapat ditindaklanjuti dengan sebagai berikut:

1. untuk indikasi kerugian daerah yang terjadi di lingkungan Satuan Kerja Perangkat Daerah, Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah:

a. melaporkan kepada Gubernur, Bupati, atau Walikota; dan b. memberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan,

2. untuk indikasi kerugian negara yang terjadi di lingkungan satuan kerjanya, atasan kepala satuan/kepala satuan kerja:

a. melaporkan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga; dan b. memberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan,

3. untuk indikasi kerugian daerah yang dilakukan oleh Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah, maka Gubernur, Bupati, atau Walikota memberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan,

4. untuk indikasi kerugian negara yang dilakukan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara:

a. melaporkan kepada Presiden; dan

b. memberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan,

5. untuk indikasi kerugian negara/daerah yang dilakukan Menteri Keuangan/Pimpinan Lembaga Negara/Gubernur, Bupati, atau Walikota Presiden memberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan.

B. Pembentukan Tim Penyelesaian Kerugian Daerah (TPKD)

Atas kerugian negara/daerah yang terjadi, maka setelah tahap verifikasi selanjutnya adalah proses penyelesaian kerugian negara/daerah oleh Pejabat Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (PPKN/D).3) Berdasarkan Pasal 1 angka 9 PP

38/2016 yang dimaksud dengan PPKN/D adalah pejabat yang berwenang untuk menyelesaikan Kerugian Negara/Daerah.

Adapun dalam melaksanakan fungsi dan perannya, PPKN/D dapat pula dibantu dalam melaksanakan proses TGR. Untuk memudahkan dalam memahami

2 PP 38/2016, Pasal 5 ayat (1) dan (2). 3 PP 38/2016, Pasal 7.

(5)

peran, fungsi, maupun kewenangannya sesuai PP 38/2016, dapat dijelaskan dengan matriks sebagai berikut:

No Pihak Yang Merugikan

Pejabat Penyelesaian

Kerugian Negara/Daerah

(PPKN/D)

Pelaksanaan Dasar Hukum

1

Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga Menteri/Pimpinan Lembaga Kepala Satuan Kerja Pasal 8 ayat (1) huruf a Pasal 8 ayat (2) huruf a 2 Menteri/Pimpinan Lembaga Menteri Keuangan

selaku BUN

Pasal 8 ayat (1) huruf b

3

Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain di lingkungan Pemerintahan Daerah Gubernur, Bupati atau Walikota Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku BUD Pasal 8 ayat (1) huruf c Pasal 8 ayat (2) huruf b 4

Menteri Keuangan selaku BUN/Pimpinan Lembaga Negara/Gubernur, Bupati atau Walikota

Presiden Pasal 8 ayat (1) huruf d

5 Kepala Satuan Kerja Atasan Kepala

Satuan Kerja Pasal 8 ayat (3)

6

Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku BUD

Gubernur, Bupati

atau Walikota Pasal 8 ayat (4)

Berdasarkan pasal 8 ayat (2) PP 38/2016, kewenangan PPKN/D dilaksanakan oleh:

1. Kepala satuan kerja untuk kerugian negara yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga. 2. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah untuk kerugian daerah yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain di lingkungan Pemerintahan Daerah.

Dalam rangka penyelesaian Kerugian Negara/Daerah, PPKN/D kemudian membentuk TPKN/TPKD.4) Tim Penyelesaian Kerugian Daerah yang selanjutnya

disingkat TPKD adalah tim yang bertugas memproses penyelesaian kerugian daerah.5) Tugas dan wewenang TPKN/TPKD dalam pemeriksaan kerugian negara/daerah adalah sebagai berikut:6)

4 PP 38/2016, Pasal 9.

(6)

1. Menyusun kronologis terjadinya Kerugian Negara/Daerah;

2. Mengumpulkan bukti pendukung terjadinya Kerugian Negara/Daerah; 3. Menghitung jumlah Kerugian Negara/Daerah;

4. Menginventarisasi harta kekayaan milik Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain yang dapat dijadikan sebagai jaminan penyelesaian Kerugian Negara/Daerah; dan

5. Melaporkan hasil pemeriksaan kepada pejabat yang membentuknya.

TPKN/TPKD setelah melakukan pemeriksaan kerugian negara/daerah kemudian melaporkan hasil pemeriksaannnya tersebut kepada PPKN/D.7) Laporan hasil pemeriksaan TPKN/TPKD menyatakan bahwa:8)

1. Kekurangan uang, surat berharga, dan/atau barang disebabkan perbuatan melanggar hukum atau lalai Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain; atau

2. Kekurangan uang, surat berharga, dan/atau barang bukan disebabkan perbuatan melanggar hukum atau lalai Pegwai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain. dengan menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kerugian negara/daerah, jumlah kerugian negara/daerah, jumlah kekurangan uang/ surat berharga/ barang.9)

PPKN/D atau pejabat yang diberikan kewenangan kemudian menyampaikan pendapat atas laporan hasil pemeriksaan yang disampaikan oleh TPKN/TPKD yaitu menyetujui atau tidak menyetujui atas laporan hasil pemeriksaan tersebut. Dalam hal PPKN/D atau pejabat yang diberi kewenangan tidak menyetujui atas laporan hasil pemeriksaan, maka segera menugaskan TPKN/TPKD untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap materi yang tidak disetujui.10) Namun apabila PPKN/D atau pejabat yang diberi kewenangan menyetujui laporan hasil pemeriksaan, maka PPKN/D segera menugaskan TPKN/TPKD untuk melakukan penuntutan penggantian kerugian negara/daerah kepada pihak yang merugikan.11)

C. Majelis Pertimbangan Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah

Majelis Pertimbangan Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (Selanjutnya disebut Majelis) adalah para pejabat/pegawai yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Presiden/Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur, Bupati atau Walikota untuk menyampaikan pertimbangan dan pendapat penyelesaian Kerugian Negara/Daerah,

6 PP 38/2016, Pasal 10 ayat (2). 7 PP 38/2016, Pasal 13 ayat (6). 8 PP 38/2016, Pasal 14 ayat (1). 9 PP 38/2016, Pasal 14 ayat (2) dan (3). 10 PP 38/2016, Pasal 15.

(7)

dibentuk oleh PPKN/D, adapun jumlah anggota Majelis terdiri dari 3 (tiga) orang atau 5 (lima) orang anggota, yang terdiri dari:12)

1. Majelis yang dibentuk oleh Menteri/Pimpinan Lembaga terdiri dari: a. Pejabat/pegawai pada sekretariat jenderal/kesekretariatan badan lain; b. Pejabat/pegawai pada inspektorat jenderal/satuan pengawasan internal; dan c. Pejabat/pegawai lain yang diperlukan sesuai dengan keahliannya.

2. Anggota Majelis yang dibentuk oleh Gubernur, Bupati, atau Walikota, terdiri dari:

a. Pejabat/pegawai pada sekretariat daerah provinsi/kabupaten/kota; b. Pejabat/pegawai pada inspektorat provinsi/kabupaten/kota; dan c. Pejabat/pegawai lain yang diperlukan sesuai dengan keahliannya.

Dalam penyelesaian kerugian negara/daerah Majelis mempunyai tugas memeriksa dan memberikan pertimbangan kepada PPKN/D atas:13)

1. penyelesaian atas kekurangan uang, surat berharga, dan/atau barang bukan disebabkan perbuatan melanggar hukum atau lalai Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain;

2. penggantian kerugian negara/daerah setelah pihak yang merugikan/pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris dinyatakan wanprestasi; dan

3. penyelesaian kerugian negara/daerah yang telah diterbitkan SKP2KS.14)

Lebih lanjut dalam rangka pelaksanaan tugasnya, Majelis Pertimbangan Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah melakukan sidang15), yang kemudian menetapkan putusan berupa pernyataan kerugian negara/daerah dalam hal ini menyetujui/tidak menyetujui laporan hasil pemeriksaan kembali TPKN/TPKD.

Dalam melaksanakan sidang penyelesaian kerugian negara/daerah, Majelis melakukan hal sebagai berikut:

1. memeriksa dan mewawancarai pihak yang Merugikan/ Pengampu/Yang Memperoleh Hak/Ahli Waris dan/atau pihak yang mengetahui terjadinya Kerugian Negara/ Daerah;

2. meminta keterangan/pendapat dari narasumber yang memiliki keahlian tertentu; 3. memeriksa bukti yang disampaikan; dan/atau

4. ha1 lain yang diperiukan untuk penyelesaian Kerugian Negara/ Daerah.

12 PP 38/2016, Pasal 24. 13 PP 38/2016, Pasal 25.

14 Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian Sementara yang selanjutnya disebut SKP2KS

adalah surat yang dibuat oleh Presiden/Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur, Bupati atau Walikota/Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah/Kepala Satuan Kerja/Atasan Kepala Satuan Kerja dalam hal SKTJM tidak mungkin diperoleh.

(8)

IV. PENUTUP

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan:

1. UU No. 1 Tahun 20014 mengamanatkan Pemerintah untuk mengatur mengenai Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah. Amanat tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2016 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain pada tanggal 12 Oktober 2016;

2. Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah adalah Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah atas uang, surat berharga, dan/atau barang milik negara/daerah yang berada dalam penguasaan dan digunakan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan oleh Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain (pejabat negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara, tidak termasuk bendahara dan Pegawai Negeri Bukan Bendahara;

3. Atas kerugian negara/daerah yang terjadi, maka dilakukan proses penyelesaian kerugian negara/daerah PPKN/D sebagai pejabat yang berwenang untuk menyelesaikan Kerugian Negara/Daerah;

4. Majelis Pertimbangan Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah melakukan sidang dalam rangka memeriksa dan memberikan pertimbangan atas penyelesaian kerugian negara/daerah, berupa pernyataan kerugian negara/daerah dalam hal ini menyetujui/tidak menyetujui laporan hasil pemeriksaan kembali TPKN/TPKD.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Perundang-undangan:

• Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

• Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan;

• Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

• Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2016 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain;

Disclaimer:

“Seluruh informasi yang disediakan dalam Tulisan Hukum adalah bersifat umum dan

disediakan untuk tujuan pemberian informasi hukum semata dan bukan merupakan pendapat instansi”.

Referensi

Dokumen terkait

Panduan Penilaian Lembar Deskripsi Diri dosen memberikan rambu-rambu penilaian kualitas untuk setiap kegiatan yang dilakukan dosen berkenaan dengan kompetensi

Sebagai bagian dari sistem keuangan nasional, diperlukan eksplorasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi sistem keuangan syariah di Indonesia, khususnya yang

4.6 Melalui kegiatan bermain ular tangga, anak mampu 3 kali menghubungkan jumlah mata dadu dengan angka pada papan ular tangga dengan benar.. 3.11 Melalui kegiatan membuat

(4) Tuntutan Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula terhadap uang dan/atau barang bukan milik daerah yang berada dalam penguasaan Pegawai

Hasil dan Analisa Pembentukan 3D Model Objek Pengolahan foto menjai 3D Model dilakukan beberapa tahapan seperti, reseksi spasial secara otomatis dan secara manual,

Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden mempunyai sikap negatif tentang mitos seputar perilaku dalam kehamilan yaitu sebanyak 13 orang

mampu melahirkan dengan kondisi rileks, bekerjasama dengan tubuhnya dan bayinya, dia percaya bahwa masing – masing dapat melakukan tugasnya, dan proses persalinannya

Selain pemberian pelatihan, petugas juga perlu diberikannya sosialisasi dan diikutkannya seminar terkait klasifikasi dan kodefikasi diagnosis DM yang diikuti oleh