• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Desa Wisata

DESA WISATA

7.2 Pengertian Desa Wisata

Menurut Nuryati (1993) dalam Soemarno (2010:1) menjelaskan bahwa desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasillitas pendukung yang disajikan dalam sutu srtuktur kehiupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Desa wisata (rural tourism) merupakan pariwisata yang terdiri dari keseluruhan pengalaman pedesaan, atraksi alam, tradisi, unsur-unsur yang unik yang secara keseluruhan dapat menarik minat wisatawan (Joshi, 2012).

Desa wisata merupakan suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press). Desa Wisata (rural tourism) merupakan pariwisata yang terdiri dari keseluruhan pengalaman pedesaan, atraksi alam, tradisi, unsur - unsur yang unik yang secara keseluruhan dapat menarik minat wisatawan (Joshi, 2012).

Keberadaan desa wisata dalam perjalanan pembangunan pariwisata di Tanah Air sudah sedemikian penting. Desa wisata sudah mampu mewarnai variasi destinasi yang lebih dinamis dalam suatu kawasan pariwisata,

187 DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anindya Putri R. (2017). Pendekatan Community Based Tourism dalam Membina Hubungan Komunitas di Kawasan Kota Tua Jakarta. Jurnal Visi Komunikasi. Vol 16, No.01. 111-130.

Aynalem, Sintayehu Aseres. (2015). “Potentialities of Community Participation in Community-based Ecotourism Development: Perspective of Sustainable Local Development a Case of Choke Mountain, Northern Ethiopia”. Research Article. Tourism and Development, Madawalabu University. Badan Pusat Statistik. 2017. Kecamatan Wonogiri Dalam Angka 2017. Wonogiri. Bagus, I Gusti. (2012). Metodologi Penelitian : Pariwisata dan perhotelan.

Yogyakarta. Penerbit Andi

Bintarto, R. (1991). Metode Analisa Geografi. Jakarta. LP3ES.

BPS. (2017). Kabupaten Karanganyar dalam Angka 2017. Karanganyar : BPS. BPS. (2017). Kecamatan Ngargoyoso dalam Angka 2017. Karanganyar : BPS. BPS. (2018). Kecamatan Ngargoyoso dalam Angka 2018. Karanganyar : BPS. Cooper, C., Fletcher, J., Gilbert,. D.G and Wanhill, S. (2005). Tourism : Principle

and Practive. Third Edition. Prentice Hall.

Dale, Edgar. 1969. Audio Visual Methods in Teaching. New York: Holt, Rinehart and Winston Inc. The Dryden Press.

Damanik, J dan Weber H. (2006). Perencanaan Ekowisata Dari Teori Ke Aplikasi. Yogjakarta: PUSPAR UGM dan Penerbit Andi

Dangi Tek B. and Tazim Jamal. 2016. An Integrated Approach to “Sustainable Community-Based Tourism. Sustainability, 8: 475; doi:10.3390/ su8050475

Demartoto, dkk. (2014). Habitus Pengembangan Pariwisata Konsep dan Aplikasi. Surakarta: UPT UNS Press.

Demartoto, Argyo.(2013). Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat. Edisi II. Surakarta. UNS Press.

Departemen Kehutanan. (2007). Kumpulan Peraturan dan Pedoman Pariwisata Alam (penilaian-pengembangan objek dan daya tarik wisata alam). Jakarta: Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata. (2009). Prinsip dan

Kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat. Jakarta. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia.

188 Erico, Albertus Jerry K N. (2019). Analisis Potensi dan Arah Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar Tahun 2019. Skripsi. FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Fandeli, Chafid dan Muhamad Nurdin. (2005). Pengembangan Ekowisata Bersbasis Konservasi di Taman Nasional. Yogyakarta. Fakultas Kehutanan. Universitas Gajah Mada.

Garrod, Brian. (2001). Local Partisipation in the Planning and Management of Ecotourism : A Revised Model Approach. (Bristol : University of the West of England).

Haywood, K. (1988). Responsible and responsive tourism planning in the Community. Tourism Management. Vol. 2. No.9. 105-118.

Hiwaski, L. (2006). Community-Based tourism : a pathway to sustainability for japan’s protected areas. Society and Natural Resources, No.19. Vol.8. 675-692.

Indonesian Ecotourism Network (INDECON). (2008). Rancangan Standarisasi Pengembangan Community Based Ecotourism (CBT). Makalah konservasi wisata hasil kerjasama ECEAT (European Centre for Ecotourism and Agricultural Tourism) dengan INDECON. Bali.

Mearns, K. (2003). Community-based tourism : the key to empowering the Sankuyo Community in Botswana. Africa Insight. No.33. V.2. 29-32.

Murphy, Peter E. (1988). Community Driven Tourism Planning Planning. Tourism Management. 9 (2).

Nugroho, Iwan. (2011). Ekowisata Dan Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Nurhodayati, Sri E. (2011). Penerapan Prinsip Community Based Tourism (CBT) dalam Pengembangan Pariwisata di Kota Batu Jawa Timur. Jurnal Jejaring Administrasi Publik. No 1. 36-46

Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri No. 9 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wonogiri Tahun 2011 – 2031

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Tahun 2014 Tentang Tata Cara Penetapan Rayon di Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata

189 Alam dan Taman Buru dalam Rangka Pengenalan Penerimaan Negara Bukan Pajak di Bidang Pariwisata Alam.

Pitana, I Gede dan Ketut Surya Diarta. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.

R. Denman (2001). Guidelines for community-based ecotourism development. Report, (July), 1-24.

Rangkuti, Fandeli. (2006). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RIPP) Kabupaten Karanganyar Tahun 2016-2026

Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Karanganyar Tahun 2013-2032. Rocharungsat, P. (2008). Community-based tourism in Asia. In G. Moscardo (Ed.)

Building Community capacity for tourism development, pp. 60-74 (UK : CABI).

Ruiz Ballesteros. (2011). Social-ecological resilience and community-based tourism An approach from agua Blanca, Ecuador. Tourism Management. No.32.655-666

Sharpley, Richard. (1994). Tourism, Tourist and Society. England. British Library Cataloging in Publication Data.

Situmorang, D. B. M., dan I. R. Mirzanti, 2012. Social Entrepreneurship to Develop Ecotourism. Procedia Economics and Finance, 4: 398-405.

Suansari, Potjana. (2003). Community Based Tourism Handbook. Thailand : REST Project.

Sugiyono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sunaryo, Bambang. (2013). Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Gava Media.

Timothy, & Hudson. (1999). “participatory planning a view of tourism in Indonesia”. Annuals Review of Tourism Research, XXVI (2).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor No. 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Jakarta: Sekretariat Negara.

190 Usmu, Ermika Jannah. (2018). Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Wisata Waduk Gajah Mungkur Kabupaten Wonogiri. Thesis. Program Pacasarjana Pendidikan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakata.

Yaman, Amat Ramsa & A. Mohd. (2004) “Community-based Ecotourism: New Proposition for Sustainable Development and Environment Conservation in Malaysia,” dalam Journal of Applied Sciences IV (4):583589.

Yoeti, Oka A. (2016). Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Edisi III. Jakarta. Balai Pustaka.

Wood, M. E. 2002. Ecotourism: Principles, Practices and Policies for

Sustainbility. UNEP.

http://www.unepie.org/tourism/library/ecotourism.htm.

World Tourism Organization. (2004). Indicators of Sustainable Development for Tourism Destination. A Guidebook.

WWF. 2001. Guidelines for Community-Based Ecotourism Development. WWF International, Switzerland

Zeppel, H. (2006). Indigenous Ecotourism Sustainable Development and Management. Edisi III. Australia. CABI North American Office.

Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya. Optimalisasi manfaat pembangunan kepariwisataan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang berdomisili disekitar destinasi pariwisata sebagaimana tercermin dalam salah satu prinsip pembangunan kepariwisataan yang berlanjut. Dalam pembangunan kepariwisataan dikenal strategi perencanaan pengembangan kepariwisataan yang berorientasi pada pemberdayaan kepariwisataan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan peran dan partisipasi masyarakat setempat sebagai subjek pembangunan.Pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism) dikembangkan berdasarkan prinsip keseimbangan dan keselarasan antara kepentingan berbagai stakeholders pembangunan pariwisata termasuk pemerintah, swasta dan masyarakat. Pariwisata berbasis masyarakat sebagai strategi untuk meningkatkan ketahanan sistem sosial-ekologis yang akan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, sedangkan ekowisata berbasis masyarakat merupakan bentuk ekowisata yang menekankan pembangunan masyarakat lokal, memungkinkan penduduk setempat untuk menjadi kendali dan terlibat dalam pembangunan dan manajemen, serta manfaat kembali kepada masyarakat Secara ideal, prinsip pembangunan community based tourism menekankan pada pembangunan pariwisata “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”.

Dokumen terkait