TELAAH PUSTAKA
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERAS
1. Pengertian Dividen
Ross (1977) mendefinisikan dividen sebagai suatu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan kepada para pemiliknya, baik dalam bentuk kas maupun saham. Gitman (2003) menyatakan bahwa dividen kas yang dibayarkan merupakan penilaian investor atas suatu saham. Dividen kas mencerminkan arus kas kepada pemegang saham dan menginformasikan kinerja perusahaan saat ini dan yang akan datang.
Dividen dianggap sebagai penghargaan atau imbalan yang diberikan kepada para pemegang saham atas laba yang diperoleh perusahaan sesuai dengan proporsi lembar saham yang dimilikinya.
Dividend payout ratio merupakan indikasi atas persentase jumlah pendapatan yang diperoleh yang didistribusikan kepada pemilik atau pemegang saham dalam bentuk kas (Gitman, 2003). Perusahaan menentukan pembayaran dividen kepada para pemegang saham setiap tahun, penentuan dividend payout ini berdasarkan besar kecilnya laba setelah pajak (Faisal, 2004).
Harapan dari para investor terhadap investasinya adalah memperoleh return sebesar-besarnya, dapat berupa capital gain ataupun dividen dengan risiko tertentu. Para investor yang tidak bersedia mengambil risiko tinggi akan memilih dividen daripada capital gain. Mereka akan lebih berorientasi kepada tingginya tingkat dividen saat ini yang dapat membantu mengurangi ketidakpastian. Karena dividen
diterima saat ini (pendapatan saat ini), sedangkan capital gain diterima di masa mendatang, sehingga ketidakpastian dividen menjadi lebih kecil dibandingkan dengan ketidakpastian capital gain (Suharli dan Oktorina, 2005).
Hal tersebut sesuai dengan the bird in the hand theory yang dinyatakan oleh Gallagher dan Andrew (2003). Teori ini menyatakan bahwa para pemegang saham lebih tertarik pada pembagian dividen daripada capital gains. Meskipun berharap memperoleh capital gains yang tinggi di masa depan, keuntungan tersebut tidak pasti dapat terealisasi. Investor lebih menyukai kepastian tentang return investasinya serta mengantisipasi risiko tentang ketidakpastian kebangkrutan perusahaan (Gordon, 1986 dalam Brigham, Gapenski, dan Daves, 1999). Dan investor institusional mungkin akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada saham dengan dividen yang tinggi dan mekanisme monitoring yang ketat, agar manajemen tidak melakukan investasi yang berlebihan pada proyek- proyek yang tidak bernilai. Dividen merupakan salah satu bentuk peningkatan wealth pemegang saham (Suharli dan Oktorina, 2005).
Dividen membuat pemegang saham mempunyai kepastian pendapatan dan mengurangi agency cost of equity karena tindakan
perquisites (misalnya biaya perjalanan dinas dan akomodasi kelas satu, mobil dinas mewah, dan lainnya atau dengan kata lain biaya yang dikeluarkan tidak untuk kepentingan perusahaan) yang dilakukan manajemen terhadap cash flow seiring dengan menurunnya biaya
monitoring karena pemegang saham yakin bahwa kebijakan manajemen akan menguntungkan dirinya (Crutchley dan Hansen, 1989).
Standar Akuntansi Keuangan No. 23 (2009:23.2) mendefinisikan dividen sebagai "Distribusi laba kepada pemegang investasi ekuitas sesuai dengan proporsi mereka dari jenis modal tertentu". Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa dividen adalah proporsi keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham dengan jumlah sebanding dengan jumlah lembar saham yang dimilikinya. Rasio dividen terhadap laba bersih dikenal dengan istilah dividend payout ratio. Bagi investor, dividen merupakan hasil yang diperoleh dari saham yang dimilikinya dan dividen didapatkan dari perusahaan sebagai distribusi yang dihasilkan di operasi perusahaan. Dividen merupakan aliran kas yang dibagikan kepada pemegang saham.
Kale dan Noe (1990) dalam Faisal (2004) menyatakan bahwa dividen merupakan sinyal stabilitas aliran kas di masa mendatang. Semakin tinggi resiko yang dihadapi perusahaan, maka semakin besar adanya aliran kas yang dibutuhkan perusahaan, yang menyebabkan pembayaran dividen menjadi rendah. Dividen juga memiliki nilai informasi atau sinyal yang kredibel, bahkan dividen dinilai lebih tinggi pada perusahaan yang memiliki asimetri informasi yang tinggi (Abukari, Jog and McConomy, 2000). Sumber pendanaan yang tepat akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan sehingga perusahaan akan dapat memberikan dividen kepada pemilik saham dan akan menarik minat investor baru (Gumantri dan Puspitasari, 2005).
Perusahaan yang membayar dividen secara ekstrim cenderung enggan untuk mengurangi atau mengeliminasi dividennya, karena memiliki kepercayaan bahwa tindakan tersebut akan dipandang negatif oleh pasar sekuritas. Oleh karena itu, perusahaan yang telah membayar dividen tunai akan melakukan upaya-upaya untuk dapat melanjutkan pembayaran tersebut di masa depan (Kieso, Weygandt dan Warfield, 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh Denis dan Osobov (2007) menunjukkan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Penelitian ini mengambil sampel perusahaan yang berasal dari enam negara maju, yang terdiri dari USA, Inggris, Kanada, Jerman, Perancis, dan Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan besar memiliki kecenderungan untuk memberikan dividen yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang berskala kecil. Denis dan Osobov (2007) berargumen bahwa ukuran perusahaan ini konsisten dengan teori siklus hidup dari kebijakan dividen (life cycle-based theory of dividend policy).
Berdasarkan teori tersebut, semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin matang perusahaan tersebut. Perusahaan yang berada dalam tahap awal pertumbuhan cenderung akan mengalokasikan labanya ke dalam perusahaan sendiri. Hal tersebut dilakukan guna menunjang pertumbuhan perusahaan. Sedangkan perusahaan yang telah memasuki tahap kematangan cenderung memilih membayarkan dividen daripada menginvestasikan labanya kembali.
Pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan dividen menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen (Denis dan Osobov, 2007). Hal ini juga dibuktikan oleh Suharli dan Oktorina (2005) semakin tinggi profitabilitas investee maka semakin besar tingkat pengembalian investasi berupa pendapatan dividen. Itu artinya perusahaan yang memperoleh laba yang tinggi akan membayar dividen dalam jumlah yang lebih besar, sedangkan perusahaan yang memperoleh laba yang rendah akan membayar dividen yang lebih kecil.
Pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadap kebijakan dividen menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen (Denis dan Osobov, 2007), yang berarti apabila perusahaan mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi maka cenderung akan menginvestasikan kembali ke dalam perusahaan. Semakin tinggi tingkat pertumbuhannya, maka semakin tinggi dana yang diinvestasikan, dengan demikian perusahaan akan menggunakan laba yang diperoleh untuk membiayai investasinya daripada membagikan dividen.
Suharli dan Oktorina (2005) juga menyatakan semakin besar likuiditas investee maka semakin besar tingkat pengembalian investasi berupa pendapatan dividen. Dan semakin tinggi leverage investee maka semakin rendah tingkat pengembalian investasi berupa pendapatan dividen. Di sisi lain, Banerjee, Gatchev, dan Spindt (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi stock market liquidity maka akan berpengaruh pada semakin rendahnya kecenderungan perusahaan untuk membayar dividen.
Pada umumnya pembagian dividen didasarkan pada akumulasi laba yaitu laba ditahan atau pada beberapa pos modal lainnya seperti tambahan modal disetor. Harapan umum dari setiap pemegang saham yang menerima pembagian dividen adalah perusahaan mampu menjalankan aktivitas bisnisnya dengan sukses dan akan memberikan bagian dari laba yang diperoleh perusahaan kepada mereka, para pemegang saham (Kieso, Weygandt dan Warfield, 2006).