KAJIAN PUSTAKA
2.3 Uraian Teori
2.3.1 Pengertian Efektivitas Komunikasi Penyuluhan
Dalam komunikasi terutama komunikasi inovasi, efek atau perubahan diharapkan terjadi pada komunikan, bukan saja pada seseorang melainkan kepada banyak orang. Justru khalayak merupakan sasaran pesan komunikasi yang diharapkan efektivitasnya. Efek adalah unsur penting dalam keseluruhan proses komunikasi. Marhaeni (2009) menjelaskan bahwa efek bukan hanya sekedar umpan balik dan reaksi penerima terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator melainkan efek dalam komunikasi merupakan paduan sejumlah kekuatan yang bekerja dalam masyarakat dimana komunikator hanya dapat menguasai satu kekuatan saja yaitu pesan yang dilontarkan. Bentuk efek adalah terjadinya perubahan pendapat, sikap dan perilaku akibat dari pesan yang menyentuhnya
Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer mendefinisikan efektivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan. Efektivitas merupakan unsur pokok mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi. Seperti yang dikemukakan oleh Emerson dalam Handayaningrat (1994:16) yang menyebutkan bahwa “Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”. Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa efektivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai.
66
Komunikasi dapat diartikan sebagai proses interaksi antara komunikator dengan komunikan. Dalam kerangka penyuluhan, ilmu komunikasi jelas sangat diperlukan sebagai dasar dalam menyampaikan pesan yang akan disampaikan oleh penyuluh kepada sasaran (Setiana, 2005:16). Proses komunikasi dapat diartikan sebagai proses penggunaan pesan oleh dua orang atau lebih dimana semua pihak saling berganti peran baik sebagai pengirim atau penerima pesan hingga ada saling pemahaman atas pesan yang disampaikan. Merujuk kepada Uchjana dalam Setiana (2005) secara umum komunikasi dapat dilihat dari tiga segi yaitu : etimologis, terminologis dan paradigmatis.
Pengertian komunikasi secara etimologis yang artinya sama makna, jadi komunikasi berlangsung bila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai sesuatu yang dikomunikasikan. Secara terminologis berarti suatu proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain dan karena melibatkan orang dalam prosesnya. Secara paradigmatis, komunikasi mengandung tujuan tertentu, dapat dilakukan secara lisan dengan tatap muka atau melalui media. Komunikasi secara paradigmatis merupakan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik langsung maupun tidak langsung melalui media. Komunikasi penyuluhan termasuk dalam kelompok paradigmatis karena pada proses komunikasi dalam penyuluhan selalu dikaitkan dengan tujuan untuk mengubah sikap.
Penyuluhan bersumber dari kata suluh yang berarti “obor” artinya memberi penerangan dari keadaan gelap menjadi terang. Menurut Samsudin
dalam Mulyana (2007:11) mengatakan bahwa penyuluhan sebagai usaha pendidikan nonformal untuk mengajak orang mau melaksanakan ide-ide baru.
Titik berat penyuluhan pada definisi tersebut adalah sebagai proses pendidikan artinya disamping meningkatkan pengetahuanya proses pendidikan mengajarkan masyarakat lebih kritis dan mampu memahami fenomena yang berkembang dalam masyarakat, sehingga apabila masyarakat akan menerapkan suatu teknologi mereka akan mengetahui bagaimana sebaiknya sesuatu hal itu dilakukan.
Penyuluhan sebagai proses pendidikan tidak mengajarkan ketergantungan, tetapi justru harus mampu mengembangkan kemandirian.
Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan (Setiana:2005).
Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa, merujuk kepada van den Ban dan Hawkins (1999) bahwa penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar.
Berdasarkan definisi tersebut Setiana (2005) mengatakan bahwa komunikasi penyuluhan adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik langsung maupun tidak langsung melalui media. Sedangkan efektivitas komunikasi penyuluhan merupakan proses keberhasilan pelaksanaan penyuluhan yang dapat diukur dari seberapa jauh telah terjadi perubahan perilaku
68
yang mengarah kepada tindakan, pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang (Setiana,2005:45). Untuk mengetahui lebih mengenai unsur-unsur yang sangat berperan dalam tercapainya efektivitas suatu penyuluhan sehingga tujuan penyuluhan dapat tercapai secara optimal, maka ada faktor pendukung keberhasilan tersebut, diantaranya (Setiana, 2005:48-56) :
1. Metode Penyuluhan : metode atau cara yang digunakan bersifat mendidik, membimbing dan mengajak untuk mencapai tujuan. Dalam metode penyuluhan terdapat 3 (tiga) pendekatan yaitu pendekatan perorangan (personal approach method), metode ini penyuluh melakukan hubungan atau pendekatan secara langsung dengan sasaran, biasanya dilakukan secara dialog langsung, surat menyurat atau melalui telepon. Pendekatan kelompok (group approach) metode ini dilakukan terhadap sekelompok orang untuk diajak dan dibimbing serta diarahkan secara berkelompok seperti berdiskusi, demonstrasi, pidato, ceramah. Pendekatan masal/umum (mass approach method) metode ini dilakukan melalui perantara, dipandang dari segi penyampaian informasi memang metode ini baik akan tetapi untuk keberhasilanya kurang efektif pada dasarnya hanya dapat menimbulkan tahap kesadaran dan minat, dalam metode ini penyuluh menggunakan media seperti radio, televisi, slide, brosur, leaflet, bookleat, poster untuk mencapai tujuanya (Kartasapoetra, 1994:56)
Dalam kegiatan penyuluhan untuk mencapai keberhasilan dalam proses adopsi, penyuluh perlu mendengarkan, memperlihatkan dan melakukan praktek terhadap materi yang disuluhnya. Oleh karena itu
berdasarkan mekanisme penyampaian pesan dan saluran komunikasi yang digunakan, menurut Kartasapoetra (1994), ada 2 (dua) metode penyampaian pesan melalui penyuluhan yang meliputi :
a) Mekanisme penyampaian, secara : (1). Lisan
(2). Tulisan (3). Terproyeksi
b) Saluran komunikasi, secara : (1). Langsung
(2). Tidak langsung
Berdasarkan saluran komunikasinya, Metode penyuluhan yang dilakukan secara langsung artinya petugas penyuluhan langsung bertatap muka dengan sasaran.
Metode ini terdiri dari :
a) Metode penyuluhan melalui indera penglihatan : Metode yang dilaksanakandengan jalan memperhatikan. Pesan yang diterima melalui indra penglihatan seperti slide sheet, Poster, brosur/leaflet, surat kabar, baliho, pameran, spanduk. Metode yang digunakan dengan media cetak b) Metode penyuluhan melalui metode yang dilakukan berdasarkan
pesan-pesan yang disampaikan hanya dapat didengar dan diterima melalui indera pendengaran seperti ceramah dan pidato. Ceramah dilakukan dengan menggunakan metode diskusi (two way communication) sedangkan pidato dengan metode kampanye (one way communication).
c) Metode yang disampaikan, diterima oleh sasaran melalui beberapa macam indra secara kombinasi, contohnya tayangan pemutaran Film.
Metode seperti ini menggunakan media audio visual.
70
2. Media Penyuluhan adalah alat bantu penyuluhan yang berfungsi sebagai perantara yang dapat dipercaya menghubungkan antara penyuluh dengan sasaran sehingga pesan atau informasi akan lebih jelas dan nyata. Dengan demikian komunikator maupun komunikan harus mengetahui saluran-saluran yang tepat bagi hubunganya tersebut, karena saluran-saluran yang tepat dapat menjamin lancarnya hubungan dalam arti pesan (gagasan, ide, pendapat, fakta dan perasaan) komunikator akan sampai diterima dengan baik.
Menurut Kartasapoetra (1994), menyebutkan bahwa pada dasarnya media penyuluhan itu dibagi menjadi 2 (dua),yaitu :
a) Media Hidup adalah orang-orang tertentu yang telah menerapkan materi penyuluhan atau pengetahuanya sehingga dapat membantu memperlancar hubungan antara komunikator dengan komunikan.
b) Media Mati adalah sarana tertentu yang digunakan untuk memperantarai hubungan antara komunikator dengan komunikan.
Media mati terdiri dari :
(1). Media Cetak diantaranya :
Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan melalui lembar yang dilipat (Notoatmodjo,1993).
Brosur adalah Bahan cetakan yang terdiri dari beberapa halaman yang dijilid sehingga menyerupai buku (Kusrianto, 2007).
Booklet adalah media termasuk dalam kategori media lini
bawah (below the line media). Sesuai sifat yang melekat pada media lini bawah, pesan yang ditulis pada media tersebut berpedoman pada beberapa kriteria yaitu: menggunakan kalimat pendek, sederhana, singkat, ringkas, menggunakan huruf besar dan tebal. Selain itu penggunaan huruf tidak kurang dari 10 pt, dikemas menarik dan kata yang digunakan ekonomis (Sulaiman,1998)
Poster adalah salah satu media promosi yang biasanya
berupa kertas besar berukuran A3 atau ukuran A2 yang berisi tulisan atau gambar informasi untuk umum tentang sesuatu hal yang disajikan secara menarik dengan huruf-huruf besar (Mustafa, 1996 : 80).
(2) Media Elektronik
Media Visual seperti slide sheet.
Media Audio Visual seperti Rekaman film (video), Televisi
Menurut Notoatmodjo (2003), berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan, media dibagi menjadi 3, yaitu
a) Media cetak seperti booklet, leaflet, flyer, flip chart, rubrik/tulisan-tulisan poster, foto.
b) Media elektronik, seperti televisi, radio ,video compact disc, slide, film strip.
72
c) Media papan (bill board), yang mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan umum.
3. Materi Penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan berisi informasi-informasi atau pesan. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud. Lasswell dalam Mulyana (2007:63) menyebutkan bahwa pesan mempunyai tiga komponen yaitu makna (gagasan, ide dan nilai), simbol yang digunakan (bahasa atau kata-kata) dan bentuk pesan (verbal dan nonverbal). Materi dalam penyuluhan harus sesuai dengan kebutuhan sasaran terutama dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh sasaran penyuluhan.
Menurut Milikan dan Hoopgood dalam Kartasapoetra (1994), menyebutkan bahwa materi yang disuguhkan dalam penyuluhan harus memperoleh tanggapan dari mereka yang disuluh, sehingga harus memiliki sifat sebagai berikut :
a) Profitable (menguntungkan) : setelah peserta yang disuluh mendapatkan materi secara nyata benar-benar merasakan keuntungan yang didapat b) Complementary (melengkapi) : materi penyuluhan harus dapat melengkapi
kegiatan yang sifatnya seimbang dengan keadaan yang sekarang.
c) Simplicity (sederhana dan memudahkan) : materi penyuluhan hendaknya cukup sederhana sehingga mudah dilaksanakan oleh peserta yang disuluh.
d) Compatibility ( Sesuai dan tidak bertentangan) : materi penyuluhan harus
e) Availability (perimbangan materi dengan pemilikan ilmu) : sehubungan dengan materi yang disuluhkan maka dalam hal ini penyuluh harus benar-benar menguasai latar belakang ilmunya.
4.Waktu dan Tempat Penyuluhan. Dalam pelaksanaan penyuluhan pengaturan ketepatan waktu dan tempat harus sesuai dengan situasi dan kondisi sasaran penyuluhan. Kapan dan dimana dilaksanakan penyuluhan harus terkesan tidak mengganggu dan merugikan sasaran. Oleh karena itu untuk mencapai keberhasilan, penyuluh dapat berkoordinasi untuk menyepakati waktu dan tempat dilaksanakanya penyuluhan.
Untuk melakukan pendekatan tersebut perlu diketahui waktunya yang tepat, sebab pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara sembarang maka salah salah penyuluh akan mendapat penerimaan yang kurang baik (hasilnya penyuluhan tidak efektif). Mengetahui waktu yang tepat akan mudah bagi seorang penyuluh untuk melancarkan metode-metode penyuluhanya dengan tepat.
Menurut Kartasapoetra (1994), seorang penyuluh harus mengetahui :
a) Kapan penyuluhan dilakukan, jika dilaksanakan di sekolah sebaiknya tidak berdekatan dengan waktu ujian, jika masuk sekolah pada pagi hari baiknya di jam pertama atau jika masuk sekolah siang hari juga demikian, karena di jam pertama merupakan waktu yang paling efektif menerima materi.
b) Ketepatan waktu pelaksanaan penyuluhan haruslah sudah terjadwal tidak boleh mengecewakan yang disuluh karena sangat mempengaruhi pelaksanaan penyuluhan itu sendiri.
74
c) Ketepatan waktu penyampaian materi oleh penyuluh harus digunakan secara efektif dan seefisien mungkin.
d) Lokasi adalah letak keberadaan pelaksanaan penyuluhan dilaksanakan, sebaiknya lokasi berada di tempat yang sama dan nyaman seperti ruang kelas,aula sekolah atau aula umum.