• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Hak Ekonomi 1. Prinsip Hak Ekonomi

Istilah dari hak ekonomi sendiri juga merupakan bagian dari Hak Cipta yang tidak dapat terpisahkan. Prinsip dari Hak Ekonomi itu sendiri memiliki ruang lingkup yang berbeda jika dibandingkan dengan prinsip dari Hak Moral, dikarenakan prinsip ekonomi dari hak cipta merupakan prinsip yang memberi kesempatan bagi Pencipta untuk mendapatkan imbalan berupa manfaat ekonomi

37 dari Ciptaan yang telah ia buat. Prinsip ekonomi pada dasarnya menginduk pada pemikiran utilitarian atas kemanfaatan ekonomi.39

Prinsip ekonomi dalam hak cipta sudah digagaskan sejak pada tahun 1557, dimana terdapat Stationer’s Company, sebuah perusahaan percetakan yang diberikan hak monopoli secara khusus untuk melakukan penerbitan dan/atau karya tulis di Inggris melalui Printing Licensing Act. Pada thun 1695, hak monopoli yang diatur dalam Licensing Act yang juga dimiliki oleh perusahaan tersebut kemudian dicabut. Atas pencabutan hak tersebut, terdapat kekhawatiran terhadap kompetisi-kompetisi dan/atau persaingan dari perusahaan percetakan lainnya,40 dan bahwa Perusahaan tersebut tidak memiliki keuntungan yang didapatkan dari kekuatan hukum atas hak-hak salinan buku dan/atau karya tulis. Dan kemudian perusahaan tersebut mengajukan petisi. Maka dari itu, dapat dilihat bahwa sebenarnya dalam sejarah tersebut Perusahaan yang dimaksud tidak mengedepankan kepentingan Pencipta, melainkan mengedepankan kepentingan ekonomi dari anggota Perusahaan yang terancam akibat pencabutan hak monopoli percetakan dan penerbitan tersebut.

Sebagaimana juga sejalan dengan prinsip moral, prinsip ekonomi dalam hak cipta juga berasal dari The Statute of Anne. Dalam regulasi tersebut, terdapat 3 (tiga) kategori yang meliputi: Karya/Ciptaan (Creation), Pendaftaran Ciptaan (Registration), dan Pelaksanaan Hak Cipta (Enforcement). Prinsip ekonomi dalam hak cipta di regulasi tersebut lebih terlihat dalam bagian Pendaftaran Ciptaan.

Karena ketika dilakukan pendaftaran atas Ciptaan, terdapat kesejahteraan ekonomi

39 Bambang Pratama, Op.cit, h. 335.

40 Agus Sardjono, Hak Cipta bukan Hanya ‘Copyright’, Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke-40 No. 2 April-Juni 2010, h. 254.

38 baik bagi Pencipta maupun bagi Perusahaan yang melakukan penerbitan dan/atau publikasi atas Ciptaan tersebut.

Selain itu, prinsip ekonomi juga kemudian diterapkan dalam perundang-undangan sejak berlakunya juga Auterswet 1912, khususnya dalam Article 12 yang menjabarkan tentang ketentuan-ketentuan mengenai Publikasi Ciptaan. Publikasi Ciptaan yang diatur dalam Auterswet 1912 tersebut meliputi:

(1) The making public of a reproduction of the whole or part of a work (Reproduksi dan publikasi atas keseluruhan Ciptaan);

(2) The distribution of the whole or part of a work or of a reproduction thereof, as long as the work has not appeared in print

(Distribusi atas keseluruhan atau sebagian Ciptaan atau hasil reproduksi atas Ciptaan yang belum dalam bentuk fisik);

(3) The rental or lending of the whole or part of an original work, works of architecture and works of applied art excepted, or of a reproduction thereof which has been put into circulation by or with the consent of the right owner

(Penyewaan atas seluruh atau sebagian Ciptaan orisinil; karya arsitektur dan seni terapannya, atau reproduksi atas Ciptaan yang telah dilakukan dengan atau oleh kesepakatan dari pemilik Hak);

(4) The recitation, playing, performance or presentation in public of the whole or part of a work or a reproduction thereof

(Publikasi dalam bentuk pembacaan, pemutaran, penampilan atau presentasi atas seluruh atau sebagian Ciptaan, atau reproduksi atas publikasi Ciptaan yang dimaksud);

39 (5) The broadcasting of a work incorporated in a radio or television

programme

(Penyiaran atas ciptaan yang telah tergabung dalam program radio atau televisi).

Dalam TRIPs Agreement, terdapat prinsip-prinsip yang menyangkut pada Hak Cipta yang menyatakan bahwa para para pihak yang akan melakukan tindakan-tindakan yang menyangkut penampilan, dan bentuk tertentu penyebarluasan Ciptaan harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Pencipta sebagai pemilik dari hak eksklusif. Hal tersebut secara khusus dituangkan secara eksplisit dalam Article 14 TRIPs Agreement yang berisikan “Protection of Performers, Producers of Phonograms (Sound Recordings), and Broadcasting Organizations”.

Kemudian, Lembaga WIPO menyatakan bahwa terdapat 2 (dua) teori yang melandasari prinsip ekonomi dalam perkembangan hak cipta. Yang pertama, terdapat asumsi bahwa para pihak yang memiliki pemikiran kreatif sebagai Pencipta memang memiliki motivasi atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Kedua, terdapat asumsi bahwa semakin tinggi perlindungan dari Hak Cipta maka akan semakin tinggi juga kekuasaan monopoli yang dimiliki oleh Pencipta dalam pemasaran, dan akan menimbulkan peningkatan terhadap konsumen atau penikmat Ciptaan yang akan selalu membeli Ciptaan.41 WIPO juga menjabarkan bahwa pada umumnya negara-negara dalam hukum Hak Cipta mengatur bahwa terdapat tindakan beserta pencegahan terhadap pelanggaran atas

41 Richard Watt, “An Empirical Analysis of the Economics of Copyright: How Valid are the Results of Studies in Developed Countries for Developing Countries?”, The Economics of Intellectual Property,, 2016, h. 67.

40 Ciptaan yang termasuk dalam hak-hak ekonomi yang dimiliki oleh Pencipta dan/atau Pemegang Hak Terkait, yang meliputi:42

a. Reproduction of the work in various forms, such as printed publications or sound recordings;

b. Distribution of copies of the work;

c. Public performance of the work;

d. Broadcasting or other communication of the work to the public;

e. Translation of the work into other languages; and

f. Adaptation of the work, such as turning a novel into a screenplay.

Berdasarkan penjabaran sebagaimana dimaksud dalam Auterswet 1912 di atas, maka dapat dilihat bahwa dasar prinsip ekonomi dalam Hak Cipta selalu memiliki keterkaitan dengan publikasi secara komersial. Dan berdasarkan penjabaran dari paragraf sebelumnya mengenai prinsip ekonomi dalam Hak Cipta itu sendiri, dapat dilihat bahwa norma dari prinsip ekonomi itu sendiri terdiri dari:

(1) Reproduction Right; (2) Adaptation Right; (3) Distribution Right; (4) Public Performance Right; dan (5) Broadcasting Right. Sebagaimana dikutip oleh Otto Hasibuan, Stewart mengemukakan bahwa terdapat rangkuman dari berbagai konvensi yang mengerucutkan 6 (enam) macam hak sebagai dasar hak ekonomi Pencipta, yang terdiri dari:43

(1) Reproduction Right;

Pada dasarnya, hak ini memberi izin untuk mereproduksi atau mengkopi atau menggandakan jumlah Ciptaan dengan berbagai cara.

(2) Adaptation Right;

42 World Intellectual Property Organizations, Op.cit., h. 10.

43 Hulman Panjaitan & Wetmen Sinaga, op.cit, h. 79-80.

41 Merupakan hak untuk memberi izin bagi yang ingin melakukan adaptasi, aransemen, atau perbuatan lain untuk mengubah bentuk sebuah karya.

(3) Distribution Right;

Hak memberi izin untuk mendistribusikan atau menyebarluaskan hasil penggandaan suatu karya kepada publik.

(4) Public Performance Right;

Hak untuk memberi izin untuk menampilkan suatu karya kepada publik.

(5) Broadcasting Right;

Hak memberi izin untuk menyiarkan suatu karya dengan pentransmisian tanpa kabel.

(6) Cablecasting Right.

Hak memberi izin untuk menyiarkan suatu karya dengan kabel.

Selain hak-hak yang disebutkan di atas yang dimiliki oleh Pencipta, terdapat juga hak-hak ekonomi yang dimiliki oleh Pemilik Hak Terkait. Secara internasional , hak-hak ekonomi yang dimiliki oleh pemilik Hak Terkait dapat dikategorikan secara garis besar yang terkandung dalam Neighbouring Rights, yang terdiri dari:

(1) The rights of performing artists in their performances (hak bagi penampil Ciptaan); (2) The rights producers of phonograms in their phonograms (hak fonogram yang dimiliki oleh Produser); dan (3) The rights of broadcasting organizations in their radio and television broadcasts (hak menyiarkan yang dimiliki organisasi penyiaran terkait radio dan televisi).44

44 Monika Suhayati, Perlindungan Hukum terhadap Hak Ekonomi Pemilik Hak Terkait dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, 2014, h. 211.

42 Selain prinsip-prinsip ekonomi di atas, hak ekonomi yang terkandung dalam Undang-Undang Hak Cipta pada umumnya juga menganut prinsip atau doktrin fair use, yang digunakan sebagai akses publik yang dikembangkan dalam rezim Common Law System.45 Menurut Henry Soelistyo yang mengacu dengan Common Law System:

“salah satu bentuk doktrin fair use adalah penggunaan dan perbanyakan karya cipta untuk tujuan Pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta dengan syarat sumbernya harus disebutkan secara lengkap.”46

Penjelasan atas prinsip fair use dapat dilihat pada kasus Harper & Row v. Nation Enterprises, 471 U.S. 539 (1985). Pada kasus tersebut, Mantan Presiden Amerika Serikat Gerald Ford menuliskan sebuah memoar yang berjudul “A Time To Heal”

yang juga menceritakan bagaimana Ford memberikan pengampunan pada Richard Nixon. Ford memberikan lisensi atas publikasi memoar tersebut pada Harper &

Row yang juga akan dipublikasikan pada majalah Time. Namun, majalah The Nation kemudian melakukan publikasi atas memoar tersebut tanpa seizin dari Ford, Harper & Row, dan bahkan Time. Sehingga Harper & Row mengajukan gugatan atas pelanggaran Hak Cipta. Dalam perkara tersebut, The Nation memiliki argument bahwa Gerald Ford adalah sebuah figur publik dimana ketika ia melakukan pengampunan atas Nixon juga sudah menjadi kepentingan publik sehingga publikasi tersebut dapat dikategorikan sebagai fair use. Namun, Pengadilan memutuskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat dijustifikasi sebagai fair use, dikarenakan prinsip tersebut tidak ditujukan semata-mata atas unsur figur publik. Kemudian, Pengadilan juga menyatakan bahwa kasus tersebut

45 Henry Soelistyo, Hak Cipta tanpa Hak Moral, Op.Cit., h. 87.

46 Ibid. h. 87.

43 menyebabkan adanya dampak yang nyata pada Ford dimana pengutipan atas memoar untuk artikel The Nation tersebut berpotensi untuk mengikis pemasaran atas memoar Gerald Ford sendiri.47 Sehingga, dapat diketahui bahwa prinsip fair use hanya dapat digunakan apabila juga memenuhi unsur dimana tindakan tersebut tidak merugikan dari pemilik Ciptaan.

Prinsip ekonomi dalam Hak Cipta juga diakui di berbagai negara, yang salah satunya dapat ditemui juga pada negara Spanyol yang menerapkan prinsip ekonomi dalam Article 17 – 23 Copyright Act dengan pengaturan sebagai berikut:48

Article 17 - Exclusive Rights of Exploitation and Forms of Exploitation

Dokumen terkait