• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HAK MORAL DAN HAK EKONOMI DALAM HAK CIPTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II HAK MORAL DAN HAK EKONOMI DALAM HAK CIPTA"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

12

BAB II

HAK MORAL DAN HAK EKONOMI DALAM HAK CIPTA

A. Pengertian Hak Cipta

1. Hak Cipta sebagai bagian dari Hak Kekayaan Intelektual

Untuk menghargai dan melindungi hasil-hasil yang berasal dari pemikiran dan kreativitas manusia, maka terdapat Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Definisi dari Hak Kekayaan Intelektual itu sendiri adalah hak yang timbul atas hasil olah pikir otak manusia yang menghasilkan sesuatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Berdasarkan pemahaman atau definisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa Hak Kekayaan Intelektual itu sendiri merupakan hak yang bersifat privat (private rights) dimana seseorang memiliki kebebasan untuk mengajukan atau mendaftarkan karya intelektualnya atau tidak.1 Menurut Maria Alfons, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual memiliki peran yang penting untuk melindungi karya-karya intelektual yang dihasilkan Pencipta, baik bagi para pendesain atau investor yang dieksploitasi oleh pihak lain tanpa izin, sehingga dapat menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual.2 Hal tersebut sejalan dengan Article 27 (2) Human Rights Declaration yang mengedepankan hak- hak perseorangan untuk mendapatkan perlindungan secara moral dan juga keuntungaan dari Ciptaan-ciptaan yang telah dihasilkannya, yang menyatakan bahwa:

1 Dadan Samsudin, Hak Kekayaan Intelektual dan Manfaatnya bagi Lembaga LITBANG, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2016, h. 1.

2 Maria Alfons, Impelementasi Hak Kekayaan Intelektual dalam Perspektif Negara Hukum, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Depok, 2017, h. 305.

(2)

13

“Everyone has the right to the protection of the moral and material interests resulting from any scientific, literary or artistic production of which he is the author.”

Menurut Lembaga World Intellectual Property Organizations (WIPO), sebagaimana dimaksud dalam “Understanding Copyrights and Related Rights”, secara umum terdapat 2 (dua) alasan bagi negara-negara di dunia untuk mengatur masing-masing adanya Hukum Hak Kekayaan Intelektual, yaitu: (1) untuk memberikan legislasi atas hak yang dimiliki Pencipta dan Inovator dalam karya- karya mereka yang diimbangi dengan akses bagi kepentingan publik terhadap kreasi dan inovasi yang diciptakan; dan (2) membantu para Pencipta untuk mempublikasikan serta melakukan promosi terhadap karya-karya tersebut yang juga digunakan sebagai kontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial bagi negara- negara tersebut.3

Dan kebebasan yang diberikan oleh Hak Kekayaan Intelektual tersebut melahirkan suatu prinsip yang muncul sebagai suatu perlindungan bagi Pencipta, yang kemudian disebut dengan Hak Eksklusif. Hak Kekayaan Intelektual sebagai Hak Eksklusif memiliki pengertian bahwa hak tersebut bersifat khusus dan hanya dimiliki oleh orang yang terkait langsung dengan kekayaan intelektual yang dihasilkan, sehingga pemegang hak dapat mencegah orang atau pihak lain untuk membuat, menggunakan atau berbuat sesuatu tanpa izin.4 Hak Kekayaan Intelektuan sebagai Hak Eksklusif secara umum terbagi menjadi 2 (dua), yaitu: Hak Cipta (Copyrights) dan Hak Kekayaan Industri (Industrial Property Rights).

3 World Intellectual Property Organizations, Understanding Copyrights and Related Rights, WIPO, Switzerland, 2016, h. 3.

4 Sufiarina, Hak Prioritas dan Hak Eksklusif dalam Perlindungan HKI, Jurnal Hukum Vol. 3 No.2 Fakultas Hukum Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta, h. 270.

(3)

14 Lembaga WIPO menyatakan bahwa penggunaan istilah Hak Cipta sendiri seringkali dikaitkan dengan Author’s Right. Namun, Hak Cipta lebih mengarah kepada perlindungan terhadap ciptaan yang berupa sastra atau yang bersifat kesusastraan dan juga karya seni; dimana penggunaan Hak Cipta adalah untuk tindakan melakukan penggandaan suatu karya dengan izin dari Pencipta itu sendiri.

Sementara Author’s Right merupakan suatu hak yang khusus dimiliki oleh Pencipta dalam melakukan kegiatan terhadap Ciptaannya tersebut. Menurut Agus Sardjono, secara khusus pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia tidak didasarkan pada kepentingan yang ditimbulkan dari masyarakatnya sendiri, melainkan lebih banyak didasarkan pada kebutuhan untuk menyesuaikan diri terhadap kecenderungan perdagangan global.5 Dalam pelaksanaannya, Hak Cipta sebagai hak eksklusif yang merupakan bagian dari Hak Kekayaan Intelektual memiliki 2 (dua) kategori, yaitu: Hak Cipta dan juga Hak Terkait; sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

2. Politik Hukum Hak Cipta terkait Hak Moral dan Hak Ekonomi

Konsep perlindungan dan pengakuan Hak Cipta di Indonesia mengikuti filosofi berdasarkan teori hukum alam (natural law) yang kemudian Hak Cipta lahir dari adanya “natural rights” (hak alamiah), dan berdasarkan hal tersebut maka pengakuan dan perlindungannya secara otomatis setelah karya cipta selesai dibuat.6 Menurut Thomas Hobbes (Leviathan, 1660) , definisi atas “natural rights” meliputi penjelasan sebagai berikut:

5 Oksidelfa Yanto, Konvensi Bern dan Perlindungan Hak Cipta, Jurnal Surya Kencana Dua:

Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol. 6 No.1, 2016 h. 112.

6 Haryono & Agus Sutono, Pengakuan dan Perlindungan Hak Cipta Tinjauan Secara Filosofis dan Teoritis, Jurnal Ilmiah CIVIS Vol. VI No. 2 Juli, 2017, h. 55.

(4)

15

“The right of nature, which writers commonly call jus naturale, is the liberty each man hath to use his own power as he will himself for the preservation of his own nature; that is to say, of his own life; and consequently, of doing anything which, in his own judgement and reason, he shall conceive to be the aptest means thereunto”.7

Sementara itu, konsepsi dari hak alamiah atau “natural rights” menurut John Locke memiliki makna bahwa pada dasarnya manusia memiliki 2 (dua) hak yang ada sejak manusia lahir, dengan penjelasan sebagai berikut:

“Every man is born with a double right. First, a right of freedom to his person, which no other man has a power over, but the free disposal of it lies in himself. Secondly, a right before any other man to inherit, with his brethren, his father's goods.”8

Pengaturan yuridis mengenai Hak Cipta di Indonesia yang mencabut Auterswet 1912 Staatsblad Nomor 600 tahun 1912 adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, karena sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan cita- cita hukum nasional. Dalam konsiderans Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta merupakan upaya pemenuhan dalam rangka pembangunan di bidang hukum, dan untuk mendorong dan melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil kebudayaan di bidang karya ilmu, seni dan sastra serta mempercepat pertumbuhan kecerdasan kehidupan bangsa dalam Wahana Negara Republik Indonesia. Dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, disebutkan bahwa prinsip dalam pemberian

7 Katrin Atmadewi, Eksistensi Hak Individu dalam Bernegara (Kajian Filosofis Pemikiran Robert Nozick dalam Kehidupan Bernegara),Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, h. 14.

8 Mark Francis Hurtubise, Philosophy of Natural Rights According to John Locke, Loyola University Chicago, 1952, h. 58.

(5)

16 perlindungan hak cipta yang dianut dalam undang-undang tersebut adalah pemberian perlindungan kepada semua Ciptaan Warga Negara Indonesia dengan tidak memandang tempat di mana Ciptaan diumumkan untuk pertama kalinya. Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982, prinsip moral diterapkan dalam pengaturan fungsi dan sifat dari Hak Cipta, dimana hak cipta adalah hak khusus bagi Pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaan, maupun memberi izin bagi pihak lain untuk melakukan hal tersebut. Dijelaskan juga bahwa sifat dari masing-masing Ciptaan adalah pribadi dan manunggal dengan diri Pencipta, maka dari itu hak pribadi tidak dapat disita dari padanya. Namun, pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta masih dijumpai terjadinya pelanggaran, yang terutama merupakan pelanggaran dalam bentuk tindak pidana pembajakan terhadap Hak Cipta, yang telah berlangsung dari waktu ke waktu dengan semakin meluas dan sudah mencapai tingkat yang membahayakan dan merugikan kreativitas untuk mencipta.9 Sehingga pada tahun 1987 diundangkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.

Namun, terdapat perkembangan yang berlangsung cepat di Indonesia, terutama dalam bidang perekonomian nasional dan juga internasional. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya pemberian perlindungan yang harus semakin efektif yang salah satunya terhadap Hak Cipta sebagai bagian dari Hak Kekayaan Intelektual. Hal tersebut harus dilakukan guna untuk perkembangan Hak Cipta khususnya di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra sebagai bagian dari

9 Hersaf Aldi, Perlindungan Karya Cipta Lagu terhadap Penyediaan Konten Lagu Gratis dalam Situs Internet Dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta jo. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Fakultas Hukum Universitas Pasundan, Bandung, 2016, h. 35.

(6)

17 pembangunan nasional. Maka dari itu terdapat perubahan yag dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang nomor 7 Tahun 1987. Perubahan tersebut juga dilakukan karena pada saat itu Negara Indonesia telah ikut serta dalam Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights, Including Trade Counterfeit Goods/ TRIPs, yang merupakan bagian dari Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia.10 Sejalan dengan Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997, pengaturan Hak Cipta di Indonesia harus menyesuaikan dengan persetujuan TRIPs, dengan tujuan untuk menghapuskan berbagai hambatan terutama untuk memberikan fasilitas yang mendukung upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan baik nasional maupun internasional. Hal itu dikarenakan persetujuan TRIPs memuat norma-norma dan standar perlindungan bagi karya intelektual manusia dan menempatkan perjanjian internasional di bidang Hak Kekayaan Intelektual sebagai dasarnya, dimana pelaksanaan penegakan hukum atas Hak Kekayaan Intelektual tersebut diatur secara ketat.

Pelaksanaan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1997 menimbulkan kesadaran bahwa masih diperlukan adanya hal-hal yang perlu disempurnakan untuk memberikan perlindungan bagi karya-karya intelektual di bidang Hak Kekayaan Intelektual, termasuk karya-karya yang berasal dari bidang seni dan kebudayaan.

Maka dari itu, Pemerintah mengganti Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002, yang juga menjabarkan secara eksplisit mengenai Hak Eksklusif itu sendiri. Dan dalam Undang-Undang Nomor 19

10 Ibid, h. 38.

(7)

18 Tahun 2002 tersebut, telah dituangkan secara eksplisit juga pelaksanaan prinsip moral dalam Hak Moral.

Seiring dengan perkembangan zaman dan era globalisasi, perkembangan ekonomi kreatif juga meliputi perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang juga mencakup program komputer. Sehingga, Pemerintah mengganti Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2002 dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta karena Pemerintah bersungguh-sungguh dalam melakukan upaya untuk melindungi hak ekonomi dan hak moral secara eksplisit bagi Pencipta dan Pemegang Hak Terkait sebagai unsur penting dalam pembangunan kreativitas nasional. Sehingga, pengaturan Hak Moral dan Hak Ekonomi secara eksplisit dalam Undang-Undang Hak Cipta merupakan upaya pengaturan terhadap Hak Cipta yang proposional dalam rangka mengoptimalkan prinsip moral dan prinsip ekonomi itu sendiri.

B. Pengertian Hak Moral 1. Prinsip dalam Hak Moral

Pada dasarnya, prinsip moral dan prinsip ekonomi dalam pengaturan Hak Cipta suatu negara juga bergantung pada prinsip dan dasar filosofis yang dianut pada masing-masing negara. Pada mulanya, diakui bahwa dasar teori dan perkembangan prinsip dari Hak Moral itu sendiri berawal dari Eropa Kontinental (Prancis dan Jerman).11 Pada saat yang bersamaan terdapat juga perkembangan atas kepentingan Pencipta yang bersangkutan dengan hak moral di Inggris, yaitu The Statute of Anne 1710. Namun, sebelum pada tahun 1710 terdapat beberapa prinsip

11 Hanan Mohamed Almawla, Moral Rights in The Conflict-of-Laws: Alternatives to the Copyright Qualifications, University of London, United Kingdom, 2012, h. 28.

(8)

19 atau norma yang mendasari adanya pengaturan hak cipta pada masa tersebut yang disebut juga sebagai suatu hak eksklusif (exclusive rights), yang meliputi: (1) Royal Privilege, merupakan hak khusus yang diberikan kepada Penerbit, Pencetak, dan juga Penulis untuk melakukan pencetakan serta penjualan dari berbagai karya yang telah diberikan; (2) Parliamentary Privilege, yang merupakan hak yang diberikan secara khusus dimana para Parlemen (badan legislatif pada masa itu) memegang kekuasaan penuh atas publikasi karya-karya atau segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan Parlemen (pidato, hasil perhitungan suara, dan lain-lain); dan (3) Stationer’s Copyright, yang merupakan hak yang diberikan khusus bagi Pencipta-pencipta yang telah melakukan pendaftaran atas karyanya khususnya karya tulis dan/atau buku, selama karya yang didaftarkan tersebut juga sedang tidak dilindungi oleh privilege lainnya.12 Kemudian, The Statute of Anne 1710 merupakan landasan atau dasar pengaturan Hak Cipta bagi negara Inggris dan juga Amerika, yang mengakui konsep “natural rights” yang dikemukakan oleh John Locke.13 Perlindungan yang diberikan oleh parlemen Inggris melalui The Statute of Anne pada dasarnya berfungsi untuk melindungi karya ciptaan dari tindakan perbanyakan tanpa izin.14 Pada awalnya Statute of Anne mengatur mengenai hak eksklusif atas karya Pencipta, dan kemudian terdapat beberapa aturan yang berkaitan karena khawatir akan adanya monopoli. Konsep “natural rights” sendiri memiliki makna bahwa manusia telah memliki hak-hak alamiah, yaitu hak-hak

12 H. Thomas Gomez – Arostegui, The Untold Story of the First Copyright Suit Under the Statute of Anne in 1710, Berkeley Technology Law Journal Vol.25:1247, California, 2010, h. 1251- 1253.

13 Hanan Mohamed, Op.cit, h. 28.

14 Retno Sari Widowati, Penerapan Prinsip ‘Fair Use’ dalam Hak Cipta Terkait dengan Kebijakan Perbanyakan Buku di Perpustakaan Perguruan Tinggi (Studi Perbandingan Hukum Berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 dan Australia), Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, 2015, h. 3.

(9)

20 yang dimiliki secara pribadi, seperti hak hidup, hak akan kebebasan dari kemerdekaan, hak milik, hak memiliki sesuatu, dan sebagainya.15 Menurut John Locke, secara alamiahnya konsep milik juga pasti berkaitan dan berhubungan langsung dengan kepemilikan juga. Manusia membentuk suatu masyarakat madani dengan masing-masing hak alamiah atau “natural rights” yang sudah mereka miliki, dan yang mereka ciptakan dalam masyarakat tersebut juga merupakan bagian dari “natural rights”. Sehingga, Negara tidak menciptakan kepemilikan masyarakat tersebut, melainkan Negara ada untuk melindungi kepemilikan yang tercipta di tengah masyarakat tersebut.16 Kepemilikan yang berlandaskan konsep hak individual lebih menekankan pada pentingnya diberikan perlindungan hukum kepada siapa yang menghasilkan suatu karya intelektual yang mempunyai nilai ekonomi dan dihasilkan karena proses yang panjang dengan pengorbanan tenaga, waktu, pikiran, dan biaya.17

Konsep “natural rights” tersebut kemudian juga diimplementasikan dalam Konvensi Bern pada tahun 1886. Secara garis besar, Konvensi Bern mengemukakan bahwa terdapat 3 (tiga) prinsip dasar yang meliputi perjanjian tersebut, yang terdiri dari:

a. National Treatment

Sebagaimana dimaksud dalam artikel Berne Convention Basics, prinsip ini memiliki pengertian bahwa karya-karya yang dihasilkan dan/atau

15 Haryono & Agus Sutono, Pengakuan dan Perlindungan Hak Cipta Tinjauan secara Filosofis dan Teoritis, Jurnal Ilmiah CIVIS Vol. VI No. 2 Juli 2017, h. 51.

16 Santosh Kumar & Mrityunjaya Kumar, Natural Rights Theory of Copyright Protection, AD VALOREM Vol. 3 Issue I January-March, 2016, h. 85.

17 Tri Setiady, Harmonisasi Prinsip-Prinsip ‘TRIPs Agreement’ dalam Hak Kekayaan Intelektual dengan Kepentingan Nasional, Fiat Justisia Jurnal Ilmu Hukum Volume 8 No.4, Oktober-Desember, Fakultas Hukum Universtias Wiralodra, 2014, h. 609.

(10)

21 diciptakan akan mendapatkan perlakuan yang sama, baik Penciptanya memiliki kewarganegaraan pada negara yang bersangkutan maupun memiliki kewarganegaraan asing, sesuai dengan aturan yang berlaku, yang disepakati oleh Negara-negara yang ikut serta dalam Perjanjian tersebut. Kemudian, prinsip tersebut adalah prinsip yang didasarkan pada hak-hak alamiah dan mazhab hukum alam pada abad pertengahan, yang menyebutkan bahwa hak cipta bukan pemberian oleh pihak lain, tetapi merupakan hak yang telah melekat secara alamiah pada setiap individu.

b. Automatic Protection

Prinsip ini memberikan mandat langsung oleh Konvensi Bern kepada negara-negara yang ikut serta dalam Perjanjian, bahwa Negara dilarang untuk meminta kepada para Pencipta untuk memberikan syarat tertentu untuk mendapatkan Hak Cipta yang dimaksud. Dengan kata lain, para Pencipta akan secara langsung atau secara otomatis mendapatkan Hak Cipta atas Ciptaannya setelah karyanya atau Ciptaannya tersebut dibuat atau dipublikasikan.

c. Independence Protection

Perlindungan Hak Cipta secara internasional memiliki kedudukan tersendiri, terlepas dari bagaimana Negara-negara pengikut serta Perjanjian mengatur perlindungan Hak Cipta di masing-masing Negara.

Dengan kata lain, suatu perlindungan hukum diberikan tanpa harus

(11)

22 bergantung kepada pengaturan perlindungan hukum negara asal pencipta.18

Berdasarkan ketiga prinsip di atas, terdapat penerapan prinsip-prinsip tersebut ke dalam prinsip moral yang diakui dalam Konvensi Bern. Pada perubahan tahun 1928 yang diadakan di Roma, terdapat kesepakatan dalam hal prinsip moral yang terdiri dari: the right of attribution; the right of integrity; the right of divulgation; and the right to withdraw from circulation.19 Namun dalam perubahan tersebut, pada akhirnya hanya attribution rights (atau dikenal juga sebagai right of paternity) dan right of integrity yang kemudian diadopsi dalam Konvensi Bern sampai sekarang yang dikarenakan terdapat bantahan darii negara-negara penganut Common Law terhadap 2 (dua) hak yang lainnya. Sehingga, pada saat ini dalam Article 6bis Berne Convention menyatakan bahwa:

“Moral rights: 1. To claim authorship; to object to certain modifications and other derogatory actions; 2. After the author’s death;

3. Means of redress”.

Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works yang telah diterima di Bern, Swiss, pada tanggal 9 September 1886 juga telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997, sebagaimana dimaksud dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014. Dari penjelasan tersebut maka dapat dilihat bahwa pada dasarnya Hak Moral merupakan hak yang digunakan Pencipta untuk menuntut adanya kepengarangan atas

18 Oksidelfa Yanto, Op.Cit., h. 119.

19 Jonas Brown-Pedersen, “The Inadequacy of UK Moral Rights Protection: A Comparative Study on the Waivability of Rights and Recontextualisation of Works in Copyright and Droit D’auteurs Systems”, LSE Research Online, 2018, h. 119.

(12)

23 Ciptaannya, baik atas modifikasi maupun tindakan yang dapat merugikan Pencipta;

baik setelah Pencipta meninggal dunia; dan kompensasi atas Ciptaannya tersebut.

Setelah Konvensi Bern, terdapat tanggapan dari beberapa negara (khususnya negara bagian Amerika) yang tidak tergabung dalam Konvensi tersebut, namun masih ingin mempertahankan pengaturan hak cipta yang diatur secara internasional. Pada tahun 1952, disepakati Universal Copyright Convention di Jenewa, yang sebenarnya tidak menghasilkan norma dan/atau hukum baru, melainkan hasil kesepakatan dari norma-norma masing-masing negara terkait hak cipta.20 Sejalan dengan Konvensi Bern, Konvensi Hak Cipta Internasional tersebut juga menerapkan prinsip terkait dengan hak eksklusif yang diatur dalam Article V, yang menyatakan bahwa:

“Copyright shall include the exclusive right of the author to make, publish, and authorize the making and publication of translations of works protected under this Convention.”

Pada sistem perlindungan Hak Cipta yang dianut oleh negara Prancis, terdapat istilah French le droit Moral atau droit Moral. Istilah droit Moral itu sendiri berkembang dikarenakan pada Revolusi Prancis (1789), memberikan penghargaan atas karya seseorang berawal dari relasi dan hubungan sosial, yang kemudian diakui dalam perundang-undangan negara Prancis pada tahun 1880.

Droit de divulgation atau right of publication dikenal oleh negara Perancis sebagai prinsip yang paling pertama diakui sebagai droit moral pada tahun 1828 dalam perkara Widow Vergne C. Creditors of Mr. Vergne. Kemudian, right of integrity pertama kali dikenal oleh negara Perancis pada tahun 1845 dalam perkara Marquam

20 Joseph S. Dubin, The Universal Copyright Convention, California Law Review, 1954, h.

89.

(13)

24 C. Lehuby; dan right of paternity pertama kali dikenal dalam perkara Masson de Puitneuf C. Musard.21 Karena hal tersebut, Prancis dikenal sebagai salah satu negara yang mengusung atau menciptakan inovasi atas adanya prinsip moral yang diterapkan secara komperehensif dalam jurisprudensi sebagai perlindungan hukum atas karya cipta seni dan sastra.22 berisikan hak-hak sebagai berikut:

a. Droit de divulgation (Right of Disclosure or Publication);

b. Droit a la paternite (Right of Paternity);

c. Droit de retrait/ou de repentir (Right to withdraw the work from Publication or to Modify after it has been made public)23; dan

d. Droit au respect de l’oeuvre/droit a l’integrite (Right to Claim Respect for the Integrity of the Work).

Berdasarkan prinsip moral yang diterapkan oleh negara Perancis sebagaimana dimaksud di atas, maka dapat diketahui bahwa pada mulanya terdapat doktrin mengenai prinsip moral yang terdiri dari: Right of Disclosure of Publication, Right of Paternity, Right to Withdraw the Work from Publication or to Modify After It Has Been Made Public, dan Right to Claim Respect for the Integrity of the Work.

Selain itu, Undang-Undang Hak Cipta pada tahun 1982 juga menerapkan prinsip-prinsip yang berdasarkan pada sistem hak cipta negara Belanda, yaitu Auterswet 1912. Dalam Article 4 Auterswet 1912, dijelaskan mengenai penulisan nama Pencipta pada Ciptaan, dimana apabila terdapat nama yang tercantum pada suatu Ciptaan, maka pembuat Ciptaan tersebut dapat dinyatakan sebagai Pencipta

21 Ibid, h. 447

22 Calvin D. Peeler, From the Providence of Kings to Copyrighted Things (and French Moral Rights)¸ Indiana International & Comparative Law – University Robert H. McKinney School of Law, Indiana, 1992, h. 423.

23 Ibid, h. 427.

(14)

25 dan/atau apabila tidak ada nama pada Ciptaan, maka barangsiapa yang melakukan publikasi atas Ciptaan tersebut akan dinyatakan sebagai Pencipta. Dalam rumusan Auterswet 1912 tersebut dinyatakan bahwa: “In the absence of proof to the contrary it shall be presumed that the maker is the person whose name is indicated as maker in or on the work, or, where there is no such indication, the person who was made known as maker when the work was made public by whoever made it public”.24 Maka berdasarkan hal tersebut, seorang Pencipta akan diakui kedudukannya apabila nama dari Pencipta tersebut dituliskan dalam Ciptaannya dan ketentuan tersebut dapat dikategorikan sebagai Right of Paternity.

Menurut William Strauss (1955), pada saat itu tidak banyak yang melakukan pembahasan terhadap moral rights dalam hukum yang berlaku di Amerika Serikat. Dan berdasarkan hukum yang berlaku di Amerika Serikat maka doktrin dari hak moral sendiri banyak yang dilaksanakan berdasarkan putusan- putusan Pengadilan di Amerika Serikat yang paling tidak menguntungkan bagi para Pencipta.25 Dan dalam hal tersebut, Strauss mengemukakan bahwa terdapat 7 (tujuh) hak moral yang dimiliki Pencipta, yang terdiri dari: (1) The paternity right;

(2) The right to integrity of the work; (3) The right to create a work; (4) The right to publish or not to publish; (5) The right to withdraw the work from publication;

(6) The right to prevent excessive criticism; dan (7) The right to relief from any other violation of the author’s personal rights.

24 Mireille van Eechoud, A Century of Dutch Copyright Law: Copyright Act – Auteurswet Unofficial Translation, Jerman, 2012, h. 505.

25 William Strauss, dapat dilihat dalam putusan Granz v. Harris et al, 198 F.2d 585 (2d Cir.

1952), De Bekker v. Stokes 168 App. Div. 452, Pushman v. New York Graphic Society 287 N.Y. 302 (1942).

(15)

26 Berdasarkan pendapat dari Strauss tersebut, 7 (tujuh) prinsip moral right kemudian dapat dilebur menjadi 4 (empat) prinsip moral secara garis besarnya.

Prinsip the right to create a work dan the right to publish or not to publish dapat dikategorikan sebagai prinsip right of publication. Kemudian, the right to prevent excessive criticism dan the right to relief from any other violation of the author’s personal rights dapat dikategorikan sebagai the right to integrity of the work atau dengan kata lain right of integrity. Sehingga, dapat diketahui bahwa secara garis besar terdapat 4 (empat) moral rights yang meliputi the paternity right, the right to integrity of the work (right to integrity), the right of publication, dan right to withdraw the work from publication.

Sesuai dengan penjelasan di paragraf sebelumnya, menurut Otto Hasibuan, terdapat 3 (Tiga) basis atau prinsip dari Hak Moral itu sendiri, yaitu: Right of Paternity, Right of Publication, dan Right of Integrity; dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Right of Paternity, merupakan hak bagi Pencipta untuk menuntut pencantuman namanya dalam ciptaan;

b. Right of Publication, merupakan hak bagi Pencipta untuk memutuskan apakah dan dimanakah karyanya akan dipublikasikan droit de divulgation;26 Dalam prinsip ini, Pencipta memiliki hak untuk menentukan apakah dan di manakah karyanya dan/atau Ciptaannya akan dipublikasikan,27 yang dikarenakan pengakuan atas Ciptaan atas publikasi yang telah dilakukan

26 Hulman Panjaitan & Wetmen Sinaga, Performing Right: Hak Cipta atas Musik & Lagu Serta Aspek Hukumnya, IND HILL CO, Jakarta, 2011, h. 75.

27 Ibid.

(16)

27 oleh Pencipta juga akan memiliki dampak yang nyata terhadap nama atau reputasi dari Pencipta itu sendiri.

c. Rights of Integrity, merupakan hak untuk melindungi reputasinya dengan menjaga martabat dan keutuhan ciptaannya.28

Selain ketiga doktrin mengenai hak moral yang sudah disebutkan di atas, Henry Soelistyo dan Bambang Pratama juga menambahkan 1 (satu) prinsip dari hak moral lagi, 29 yaitu Right to Withdraw atau Hak untuk menarik ciptaan dari peredaran. Hak ini dimiliki oleh Pencipta, 30 dan apabila Pencipta pada akhirnya memilih untuk menarik peredaran Ciptaannya tersebut, maka Ciptaan tersebut pun otomatis tidak bisa diterbitkan berdasarkan Lisensi Wajib yang berkaitan dengan Ciptaan tersebut.31

Konsepsi hak moral yang telah diuraikan sebelumnya juga terlihat pada kasus Gilliam v. American Broadcasting Company pada tahun 1976. Pada kasus tersebut terdapat pihak Penggugat yaitu Monthy Phyton yang merupakan kelompok Komedian asal Inggris, yang telah menulis dan turut menampilkan beberapa naskah (script) untuk perusahaan penyiaran televisi yaitu British Broadcasting Company (selanjutnya disebut BBC). Kontrak yang disepakati oleh Monthy Phyton dengan BBC adalah bahwa BBC dapat melakukan adanya perubahan-perubahan terhadap naskah yang diberikan oleh Monthy Phyton, dengan beberapa ketentuan dan pembatasan yang telah disepakati. Kemudian, BBC memberikan izin kepada Time-

28 Henry Soelistyo, Plagiarisme: Pelanggaran Hak Cipta dan Etika, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2011, h. 51-52.

29 Henry Soelistyo, Hak Cipta tanpa Hak Moral, Op.Cit., h. 112.

30 Bambang Pratama, Op.cit. h. 336.

31 Ruth L. Okediji, Copyright Law in an Age of Limitations and Exceptions, Cambridge University Press, New York, h. 15.

(17)

28 Life (sebuah perusahaan direct marketing dalam pemasaran buku, musik, dan video) untuk mendistribusikan rekaman pada program-program Monty Phyton di Amerika Serikat. Selain itu, Time-Life juga memiliki izin untuk melakukan penyuntingan serta pemotongan pada rekaman program, dengan syarat sebagai berikut: “for insertion of commercials, applicable censorship or governmental . . . rules and regulations, and National Association of Broadcasters and time segment requirements.”32 Perizinan yang dimiliki oleh Time-Life juga diserahkan kepada ABC terkait dengan beberapa program untuk dilakukan penyuntingan sesuai dengan kebijakan yang dimiliki oleh ABC. Pada 3 Oktober 1975, ABC melakukan penyiaran atas program Monty Phyton, dengan memotong dan/atau menghapus 24 (dua puluh empat) menit materi orisinil dari program. Monty Phyton baru menyadari hal tersebut pada akhir November, dan meminta kepada ABC untuk tidak menyiarkan kembali program tersebut pada jadwal yang sudah ditentukan untuk penyiaran kedua yaitu pada 26 Desember 1975. Namun, pihak ABC menolak atas permintaan yang diajukan secara mendadak tersebut. Dalam putusan perkara tersebut, Pengadilan memiliki pertimbangan bahwa klaim atas pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh Monty Phyton memiliki dasar hukum common law system, terutama pada naskah yang belum dipublikasikan dan naskah tersebut juga bersifat derivatif menyangkut dengan hak yang dimiliki oleh Penggungat.

Kemudian, Pengadilan juga mempertimbangkan pelanggaran yang dilakukan oleh pihak ABC adalah mutilasi atas Ciptaan Penggugat, yang juga melanggar Pasal 43(a) Lanham Trademark Act. Maka dari itu, Monty Phyton memenangkan kasus

32 Comments on The Monty Phyton Litigation – of Moral Right and the Lanham Act, University of Pennsylvania Law Review Vol. 125, 1977 (sebagaimana telah dikirimkan kepada “The 1977 Nathan Burkham Memorial Competition”), h. 612.

(18)

29 ini atas pelanggaran hak cipta, dan juga pelanggaran atas Lanham Trademark Act.

Hakim Gurfein juga memiliki pendapat bahwa penyiaran yang penyuntingannya tidak disetujui oleh Monty Phyton dapat menerapkan ketentuan dalam Lanham Trademark Act dalam hal kegiatan hak cipta. Berdasarkan opini Pengadilan yang terkait dengan Lanham Trademark Act¸ dapat diketahui bahwa kasus ini mengedepankan hak moral sebagai bagian dari hak cipta. Hal tersebut dikarenakan Lanham Trademark Act merupakan regulasi yang menguntungkan bagi para penulis dan seniman, sebagai alternatif dalam menghadapi karya-karya Ciptaan mereka yang diubah oleh pihak-pihak yang sebenarnya sudah mendapat perizinan dan lisensi atas Ciptaan mereka.33 Sehingga, kasus tersebut tidak hanya mengedepankan prinsip droit moral, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan integritas Pencipta dalam suatu Ciptaan yang diimplementasikan dalam Lanham Trademark Act yang mengedepankan prinsip paternity dalam droit moral.

Sejalan dengan prinsip moral dalam kasus Gilliam v. American Broadcasting Company, prinsip moral yang berkaitan dengan pelanggaran hak cipta terhadap Pencipta juga dapat ditemukan dalam kasus Snow vs. The Eaton Centre Ltd. Pada tahun 1979, Michael Snow seorang seniman Kanada dipekerjakan untuk membuat instalasi seni pada The Eaton Centre yang berupa 60 (enam puluh) instalasi terpisah dengan bentuk Angsa Kanada (Canadian Geese). Pada tahun 1982, The Eaton Centre berniat untuk melakukan dekorasi Natal dengan menambahkan pita-pita merah pada instalasi Angsa-Angsa Kanada yang dimiliki oleh Snow tersebut. Dan atas perbuatan tersebut, Snow merasa bahwa reputasinya

33 ibid, h. 614.

(19)

30 sebagai seniman juga terancam sehingga mengajukan gugatan dengan dasar Section 12 (7) of the Copyright Act 1970, yang berbunyi:

“Independently of the author’s copyright, and even after assignment, either wholly or partially, of the said copyright, the author has the right to claim authorship of the work, as well as the right to restrain any distortion, mutilation or other modification of the work that would be prejudicial to his honour or reputation.”

Dan keputusan yang diberikan oleh Weekly Court pada 3 Desember 1982 adalah meminta kepada The Eaton Center untuk melepaskan pita-pita merah dari instalasi seni yang dimiliki Snow secepatnya pada 6 Desember 1982.34

Prinsip moral juga dapat ditemukan dalam regulasi hak kekayaan intelektual pada negara Spanyol, yang mengambil dasar pada Article 20(1) The Spanish Constitution of 1978 yang mengakui dan melindungi hak-hak atas sastra, seni, karya ilmiah, dan produksi berbasis teknologi serta karya cipta.35 Keempat prinsip dari Hak Moral juga diterapkan dalam Hak Moral pada negara Spanyol, khususnya dalam Article 14 – Content and characteristics of Moral Rights, yang menyatakan:

1. The right to decide whether his work is to be disclosed, and if so in what form.

2. The right to determine whether such disclosure should be effected in his name, under a pseudonym or sign or anonymously.

3. The right to demand recognition of his authorship of the work.

4. The right to demand respect for the integrity of the work and to object to any distortion, modification or alteration of it or any act in relation to it that is liable to prejudice his legitimate interests or threaten his reputation.

5. The right to alter the work subject to respect for the acquired rights of third parties and the protection requirements of goods of cultural interest.

34 Sophie Eastwood (Juli 2015) - Snow v. The Eaton Centre Ltd. (1982) 70 C.P.R.(2d) 105, Centre for Intellectual Property and Information Law, https://www.cipil.law.cam.ac.uk/virtual- museum/snow-v-eaton-centre-ltd-1982-70-cpr-2d-105

35 European Parliamentary Research Service (EPRS), Op.Cit., h. 131. Dapat dilihat terjemahan resmi pada Official State Gazette website (Agencia Estatal Boletín Oficial del Estado) at: https://www.boe.es/legislacion/documentos/ConstitucionINGLES.pdf

(20)

31 6. The right to withdraw the work from circulation for reasons of

changed intellectual or moral convictions, after indemnification of the holders of exploitation rights for damages and prejudice.

If the author later decides to resume exploitation of his work, he shall give preference, when offering the corresponding rights, to the previous holder thereof, and shall offer terms reasonably similar to the original terms.

Selain itu, prinsip moral sendiri juga dapat dilihat penerapannya dalam Hak Moral yang diatur di negara Jerman yaitu pada“Urheberpersönlichkeitsrecht” dari Copyright Act 1965, yang menyatakan:

Section 12 - Right of publication

(1) The author has the right to determine whether and how his work shall be published.

(2) The author reserves the right to communicate or describe the content of his work to the public as long as neither the work nor the essential content or a description of the work has been published with his consent.

Section 13 - Recognition of authorship

The author has the right to be identified as the author of the work. He may determine whether the work shall bear a designation of authorship and which designation is to be used.

Section 14 - Distortion of the work

The author has the right to prohibit the distortion or any other derogatory treatment of his work which is capable of prejudicing his legitimate intellectual or personal interests in the work.

Berdasarkan doktrin-doktrin yang telah dikemukakan di paragraf-paragraf sebelumnya, dapat diketahui bahwa terdapat berbagai jenis prinsip moral dalam perlindungan hak cipta yang antara lain terdiri dari: The paternity right; The right to integrity of the work; The right to create a work; The right to publish or not to publish; The right to withdraw the work from publication; The right to prevent excessive criticism; dan The right to relief from any other violation of the author’s personal rights. Namun, dari berbagai jenis prinsip moral tersebut terdapat prinsip- prinsip yang memiliki prinsip perlindungan yang sama sehingga pada akhirnya

(21)

32 hanya terdapat 4 (empat) dasar prinsip moral dalam perlindungan hak cipta, yang meliputi:

a. Right of Paternity (atau dikenal juga sebagai attribution rights), merupakan sebuah hak yang diberikan kepada seseorang untuk diakui sebagai Pencipta dengan menuliskan nama dan/atau identitas dalam Ciptaannya. Prinsip moral ini sudah dikenal sejak adanya Konvensi Bern pada tahun 1928 dengan istilah right of attribution. Selain itu, prinsip yang diterapkan dalam right of paternity sudah dikenal dalam yurisprudensi negara Perancis sejak tahun 1845. Right of Paternity secara eksplisit juga diatur di Auterswet 1912 yang merupakan dasar dari pengaturan Hak Cipta di Indonesia.

b. Rights of Integrity, merupakan hak yang dimiliki oleh Pencipta untuk tetap menjaga reputasinya dari adanya tindakan dan/atau kegiatan perubahan atas Ciptaan tanpa izin dari Pencipta. Hak ini sudah dikenal dan diakui sebagai salah satu dari prinsip moral dalam Hak Cipta dana yurisprudensi negara Perancis. Sebagai bagian dari sejarah prinsip moral dalam hak cipta, prinsip tersebut dikenal dalam yurisprudensi negara Amerika Serikat dengan istilah the right to prevent excessive criticism dan the right to relief from any other violation of the author’s personal rights. Pada dasarnya right of integrity adalah sebuah hak bagi Pencipta untuk mempertahankan integritasnya dalam Ciptaannya dan dari segala pelanggaran yang dapat merusak identitas sebagai Pencipta. Sehingga, penulis menggabungkan istilah the right to prevent excessive criticism dan the right to relief from any other violation of the author’s personal

(22)

33 rights sebagai right of integrity karena pada dasarnya memiliki pengertian yang sama sebagai bentuk perlindungan bagi Pencipta. Dalam Article 25 Auterswet 1912, dijelaskan bahwa setelah Ciptaannya telah beredar, Pencipta tetap memiliki hak untuk mempertahankan Ciptaannya dari segala distorsi, mutilasi, dan segala bentuk perusakan terhadap Ciptaannya yang dapat mengancam identitas serta reputasinya sebagai Pencipta. Hal tersebut dikarenakan Ciptaan yang dibuat oleh Pencipta memiliki citra dari diri Pencipta.

c. Rights to Publication (atau dalam droit moral juga dikenal sebagai right to disclosure) merupakan hak yang dimiliki oleh Pencipta untuk menentukan apakah Ciptaannya akan dipublikasikan, serta dimana dan bagaimana Ciptaannya tersebut dipublikasikan. Seperti yang sudah dikemukakan dalam paragraf sebelumnya, right of publication merupakan salah satu prinsip moral yang dikenal lebih awal khususnya oleh negara Perancis sebagai salah satu pelopor adanya prinsip moral dalam hak cipta. Selain itu, di negara Amerika Serikat juga terdapat the right to create a work dan the right to publish or not to publish. Namun, penulis menggabungkan kedua hak tersebut menjadi hanya right of publication, dikarenakan hak dari right of publication pada intinya adalah bahwa Pencipta memiliki hak untuk membuat suatu Ciptaan yang pada akhirnya Pencipta sendiri yang menentukan untuk melakukan Publikasi atas Ciptaan tersebut serta bagaimana publikasi atas Ciptaan tersebut. Selain itu, right of publication memiliki rasionalisasi bahwa hanya Pencipta yang memiliki hak untuk menentukan bagaimana

(23)

34 Ciptaannya selesai, serta bahwa pengakuan atas Ciptaan setelah dilakukan publikasi juga berdampak pada reputasi seorang Pencipta.36 d. Rights to Withdraw, yang merupakan hak yang dimiliki oleh Pencipta

untuk menarik kembali Ciptaannya dari peredaran dengan alasan apapun dari Pencipta. Prinsip tersebut sudah diakui dalam yurisprudensi negara Perancis dan juga Amerika Serikat dengan pengertian bahwa right to withdraw dipahami sebagai hak bagi Pencipta untuk dapat menarik kembali Ciptaannya maupun melakukan modifikasi bagi Ciptaan setelah dipublikasikan.

Berdasarkan hal tersebut, maka prinsip moral yang diterapkan dalam Undang-Undang Hak Cipta memiliki 4 (empat) prinsip yang terdiri dari Right of Paternity, Right of Integrity, Right of Publication, dan Right to Withdraw yang kemudian dijadikan sebagai dasar penelitian Hak Moral dalam Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia.

2. Hak Moral dalam Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia

Sebagaimana dimaksud dalam sub bab sebelumnya, dapat diketahui bahwa Hak Moral merupakan hak yang melekat secara abadi pada diri Pencipta, yang artinya meski jangka waktu perlindungannya telah jauh terlewati, pengakuan dan penghargaan kepada diri Pencipta tetap harus dilakukan. Dan dalam upaya pengakuan dan penghargaan tersebut, Undang-Undang Hak Cipta memberikan

36 Sofie G. Syed, “The Right to Destroy Under Droit D’Auteur: A Theoretical Moral Right Or A Tool Of Art Speech?”, Chicago-Kent Journal of Intellectual Property Volume 15 Issue 2 Article 8, 2016, h. 513.

(24)

35 perlindungan Hak Moral kepada Pencipta sebagaimana dimaksud Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.37

Dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, diuraikan bahwa Hak Moral merupakan hak eksklusif yang melekat dalam pada diri Pencipta secara abadi, yang terdiri dari:

a. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian Ciptaannya untuk umum;

b. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;

c. mengubah Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;

d. mengubah judul dan anak judul Ciptaan;

e. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, mutilasi Ciptaan, modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

Hak Moral sebagaimana dimaksud di atas tidak dapat dialihkan selama Pencipta masih hidup, namun pelaksanaan haknya dapat dialihkan dengan wasiat atau sebab lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan setelah Pencipta meninggal dunia.38 Dalam melindungi Hak Moral itu sendiri, Undang- Undang menyataan bahwaPencipta dapat memiliki hak yang pada normanya dilarang untuk dihilangkan, diubah, atau dirusak, yang diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Hak Cipta, yang meliputi:

a. Informasi manajemen Hak Cipta.

37 Henry Soelistyo, Hak Cipta tanpa Hak Moral, Op.Cit., h. 17.

38 Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014.

(25)

36 Merupakan informasi yang meliputi informasi tentang metode atau sistem yang dapat mengidentifikasi originalitas substanti Ciptaan dan Penciptanya, serta kode informasi dan kode akses.

b. Informasi elektronik Hak Cipta.

Merupakan informasi yang meliputi informasi tentang suatu Ciptaan, nama Pencipta, Pencipta sebagai pemegang Hak Cipta, masa dan kondisi penggunaan Ciptaan, nomor, dan kode informasi.

Hak Moral yang dimiliki oleh Pencipta yang diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta, tidak memiliki batasan waktu yang diberikan oleh Undang-Undang.

Ciptaan yang dilindungi dengan Hak Moral yang tidak dibatasi oleh waktu tetap harus mencantumkan nama Pencipta, dan/atau menggunakan nama alias atau samaran. Kemudian, selama Hak Cipta yang dimaksud masih berlangsung, maka Pencipta juga mendapatkan perlindungan Hak Moral berupa hak untuk mengubah Ciptaan sesuai dengan kepatutan masyarakat, dan mengubah judul Ciptaan serta anak judul dari Ciptaan.

C. Pengertian Hak Ekonomi 1. Prinsip Hak Ekonomi

Istilah dari hak ekonomi sendiri juga merupakan bagian dari Hak Cipta yang tidak dapat terpisahkan. Prinsip dari Hak Ekonomi itu sendiri memiliki ruang lingkup yang berbeda jika dibandingkan dengan prinsip dari Hak Moral, dikarenakan prinsip ekonomi dari hak cipta merupakan prinsip yang memberi kesempatan bagi Pencipta untuk mendapatkan imbalan berupa manfaat ekonomi

(26)

37 dari Ciptaan yang telah ia buat. Prinsip ekonomi pada dasarnya menginduk pada pemikiran utilitarian atas kemanfaatan ekonomi.39

Prinsip ekonomi dalam hak cipta sudah digagaskan sejak pada tahun 1557, dimana terdapat Stationer’s Company, sebuah perusahaan percetakan yang diberikan hak monopoli secara khusus untuk melakukan penerbitan dan/atau karya tulis di Inggris melalui Printing Licensing Act. Pada thun 1695, hak monopoli yang diatur dalam Licensing Act yang juga dimiliki oleh perusahaan tersebut kemudian dicabut. Atas pencabutan hak tersebut, terdapat kekhawatiran terhadap kompetisi- kompetisi dan/atau persaingan dari perusahaan percetakan lainnya,40 dan bahwa Perusahaan tersebut tidak memiliki keuntungan yang didapatkan dari kekuatan hukum atas hak-hak salinan buku dan/atau karya tulis. Dan kemudian perusahaan tersebut mengajukan petisi. Maka dari itu, dapat dilihat bahwa sebenarnya dalam sejarah tersebut Perusahaan yang dimaksud tidak mengedepankan kepentingan Pencipta, melainkan mengedepankan kepentingan ekonomi dari anggota Perusahaan yang terancam akibat pencabutan hak monopoli percetakan dan penerbitan tersebut.

Sebagaimana juga sejalan dengan prinsip moral, prinsip ekonomi dalam hak cipta juga berasal dari The Statute of Anne. Dalam regulasi tersebut, terdapat 3 (tiga) kategori yang meliputi: Karya/Ciptaan (Creation), Pendaftaran Ciptaan (Registration), dan Pelaksanaan Hak Cipta (Enforcement). Prinsip ekonomi dalam hak cipta di regulasi tersebut lebih terlihat dalam bagian Pendaftaran Ciptaan.

Karena ketika dilakukan pendaftaran atas Ciptaan, terdapat kesejahteraan ekonomi

39 Bambang Pratama, Op.cit, h. 335.

40 Agus Sardjono, Hak Cipta bukan Hanya ‘Copyright’, Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke-40 No. 2 April-Juni 2010, h. 254.

(27)

38 baik bagi Pencipta maupun bagi Perusahaan yang melakukan penerbitan dan/atau publikasi atas Ciptaan tersebut.

Selain itu, prinsip ekonomi juga kemudian diterapkan dalam perundang- undangan sejak berlakunya juga Auterswet 1912, khususnya dalam Article 12 yang menjabarkan tentang ketentuan-ketentuan mengenai Publikasi Ciptaan. Publikasi Ciptaan yang diatur dalam Auterswet 1912 tersebut meliputi:

(1) The making public of a reproduction of the whole or part of a work (Reproduksi dan publikasi atas keseluruhan Ciptaan);

(2) The distribution of the whole or part of a work or of a reproduction thereof, as long as the work has not appeared in print

(Distribusi atas keseluruhan atau sebagian Ciptaan atau hasil reproduksi atas Ciptaan yang belum dalam bentuk fisik);

(3) The rental or lending of the whole or part of an original work, works of architecture and works of applied art excepted, or of a reproduction thereof which has been put into circulation by or with the consent of the right owner

(Penyewaan atas seluruh atau sebagian Ciptaan orisinil; karya arsitektur dan seni terapannya, atau reproduksi atas Ciptaan yang telah dilakukan dengan atau oleh kesepakatan dari pemilik Hak);

(4) The recitation, playing, performance or presentation in public of the whole or part of a work or a reproduction thereof

(Publikasi dalam bentuk pembacaan, pemutaran, penampilan atau presentasi atas seluruh atau sebagian Ciptaan, atau reproduksi atas publikasi Ciptaan yang dimaksud);

(28)

39 (5) The broadcasting of a work incorporated in a radio or television

programme

(Penyiaran atas ciptaan yang telah tergabung dalam program radio atau televisi).

Dalam TRIPs Agreement, terdapat prinsip-prinsip yang menyangkut pada Hak Cipta yang menyatakan bahwa para para pihak yang akan melakukan tindakan- tindakan yang menyangkut penampilan, dan bentuk tertentu penyebarluasan Ciptaan harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Pencipta sebagai pemilik dari hak eksklusif. Hal tersebut secara khusus dituangkan secara eksplisit dalam Article 14 TRIPs Agreement yang berisikan “Protection of Performers, Producers of Phonograms (Sound Recordings), and Broadcasting Organizations”.

Kemudian, Lembaga WIPO menyatakan bahwa terdapat 2 (dua) teori yang melandasari prinsip ekonomi dalam perkembangan hak cipta. Yang pertama, terdapat asumsi bahwa para pihak yang memiliki pemikiran kreatif sebagai Pencipta memang memiliki motivasi atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Kedua, terdapat asumsi bahwa semakin tinggi perlindungan dari Hak Cipta maka akan semakin tinggi juga kekuasaan monopoli yang dimiliki oleh Pencipta dalam pemasaran, dan akan menimbulkan peningkatan terhadap konsumen atau penikmat Ciptaan yang akan selalu membeli Ciptaan.41 WIPO juga menjabarkan bahwa pada umumnya negara-negara dalam hukum Hak Cipta mengatur bahwa terdapat tindakan beserta pencegahan terhadap pelanggaran atas

41 Richard Watt, “An Empirical Analysis of the Economics of Copyright: How Valid are the Results of Studies in Developed Countries for Developing Countries?”, The Economics of Intellectual Property,, 2016, h. 67.

(29)

40 Ciptaan yang termasuk dalam hak-hak ekonomi yang dimiliki oleh Pencipta dan/atau Pemegang Hak Terkait, yang meliputi:42

a. Reproduction of the work in various forms, such as printed publications or sound recordings;

b. Distribution of copies of the work;

c. Public performance of the work;

d. Broadcasting or other communication of the work to the public;

e. Translation of the work into other languages; and

f. Adaptation of the work, such as turning a novel into a screenplay.

Berdasarkan penjabaran sebagaimana dimaksud dalam Auterswet 1912 di atas, maka dapat dilihat bahwa dasar prinsip ekonomi dalam Hak Cipta selalu memiliki keterkaitan dengan publikasi secara komersial. Dan berdasarkan penjabaran dari paragraf sebelumnya mengenai prinsip ekonomi dalam Hak Cipta itu sendiri, dapat dilihat bahwa norma dari prinsip ekonomi itu sendiri terdiri dari:

(1) Reproduction Right; (2) Adaptation Right; (3) Distribution Right; (4) Public Performance Right; dan (5) Broadcasting Right. Sebagaimana dikutip oleh Otto Hasibuan, Stewart mengemukakan bahwa terdapat rangkuman dari berbagai konvensi yang mengerucutkan 6 (enam) macam hak sebagai dasar hak ekonomi Pencipta, yang terdiri dari:43

(1) Reproduction Right;

Pada dasarnya, hak ini memberi izin untuk mereproduksi atau mengkopi atau menggandakan jumlah Ciptaan dengan berbagai cara.

(2) Adaptation Right;

42 World Intellectual Property Organizations, Op.cit., h. 10.

43 Hulman Panjaitan & Wetmen Sinaga, op.cit, h. 79-80.

(30)

41 Merupakan hak untuk memberi izin bagi yang ingin melakukan adaptasi, aransemen, atau perbuatan lain untuk mengubah bentuk sebuah karya.

(3) Distribution Right;

Hak memberi izin untuk mendistribusikan atau menyebarluaskan hasil penggandaan suatu karya kepada publik.

(4) Public Performance Right;

Hak untuk memberi izin untuk menampilkan suatu karya kepada publik.

(5) Broadcasting Right;

Hak memberi izin untuk menyiarkan suatu karya dengan pentransmisian tanpa kabel.

(6) Cablecasting Right.

Hak memberi izin untuk menyiarkan suatu karya dengan kabel.

Selain hak-hak yang disebutkan di atas yang dimiliki oleh Pencipta, terdapat juga hak-hak ekonomi yang dimiliki oleh Pemilik Hak Terkait. Secara internasional , hak-hak ekonomi yang dimiliki oleh pemilik Hak Terkait dapat dikategorikan secara garis besar yang terkandung dalam Neighbouring Rights, yang terdiri dari:

(1) The rights of performing artists in their performances (hak bagi penampil Ciptaan); (2) The rights producers of phonograms in their phonograms (hak fonogram yang dimiliki oleh Produser); dan (3) The rights of broadcasting organizations in their radio and television broadcasts (hak menyiarkan yang dimiliki organisasi penyiaran terkait radio dan televisi).44

44 Monika Suhayati, Perlindungan Hukum terhadap Hak Ekonomi Pemilik Hak Terkait dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, 2014, h. 211.

(31)

42 Selain prinsip-prinsip ekonomi di atas, hak ekonomi yang terkandung dalam Undang-Undang Hak Cipta pada umumnya juga menganut prinsip atau doktrin fair use, yang digunakan sebagai akses publik yang dikembangkan dalam rezim Common Law System.45 Menurut Henry Soelistyo yang mengacu dengan Common Law System:

“salah satu bentuk doktrin fair use adalah penggunaan dan perbanyakan karya cipta untuk tujuan Pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta dengan syarat sumbernya harus disebutkan secara lengkap.”46

Penjelasan atas prinsip fair use dapat dilihat pada kasus Harper & Row v. Nation Enterprises, 471 U.S. 539 (1985). Pada kasus tersebut, Mantan Presiden Amerika Serikat Gerald Ford menuliskan sebuah memoar yang berjudul “A Time To Heal”

yang juga menceritakan bagaimana Ford memberikan pengampunan pada Richard Nixon. Ford memberikan lisensi atas publikasi memoar tersebut pada Harper &

Row yang juga akan dipublikasikan pada majalah Time. Namun, majalah The Nation kemudian melakukan publikasi atas memoar tersebut tanpa seizin dari Ford, Harper & Row, dan bahkan Time. Sehingga Harper & Row mengajukan gugatan atas pelanggaran Hak Cipta. Dalam perkara tersebut, The Nation memiliki argument bahwa Gerald Ford adalah sebuah figur publik dimana ketika ia melakukan pengampunan atas Nixon juga sudah menjadi kepentingan publik sehingga publikasi tersebut dapat dikategorikan sebagai fair use. Namun, Pengadilan memutuskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat dijustifikasi sebagai fair use, dikarenakan prinsip tersebut tidak ditujukan semata-mata atas unsur figur publik. Kemudian, Pengadilan juga menyatakan bahwa kasus tersebut

45 Henry Soelistyo, Hak Cipta tanpa Hak Moral, Op.Cit., h. 87.

46 Ibid. h. 87.

(32)

43 menyebabkan adanya dampak yang nyata pada Ford dimana pengutipan atas memoar untuk artikel The Nation tersebut berpotensi untuk mengikis pemasaran atas memoar Gerald Ford sendiri.47 Sehingga, dapat diketahui bahwa prinsip fair use hanya dapat digunakan apabila juga memenuhi unsur dimana tindakan tersebut tidak merugikan dari pemilik Ciptaan.

Prinsip ekonomi dalam Hak Cipta juga diakui di berbagai negara, yang salah satunya dapat ditemui juga pada negara Spanyol yang menerapkan prinsip ekonomi dalam Article 17 – 23 Copyright Act dengan pengaturan sebagai berikut:48

Article 17 - Exclusive Rights of Exploitation and Forms of Exploitation Article 18 – Reproduction

Article 19 – Distribution

Article 20 – Communication to Public Article 21 – Transformation

Article 22 – Selection of Complete Works Article 23 – Independence of Rights

Selain negara Spanyol, prinsip ekonomi juga dilaksanakan pada regulasi hak cipta yang dimiliki oleh negara Perancis yang dikenal dengan “droits patrimoniaux”, dengan ketentuan sebagai berikut:49

“1. Article L 122-1 IPC:

[The] right of exploitation belonging to the author shall comprise the right of performance and the right of reproduction.

1. Article L 123-1 IPC:

The author shall enjoy, during his lifetime, the exclusive right to exploit his work in any form whatsoever and to derive monetary profit therefrom…

2. Article L 122-2 IPC:

Performance shall consist in the communication of the work to the public by any process whatsoever, particularly:…

47 Chris Skelton, “Harper & Row v. Nation Enterprises, 471 U.S. 539 (1985)

“https://supreme.justia.com/cases/federal/us/471/539/, dikunjungi pada tanggal 28 Januari 2020 pukul 23.47.

48 The Government of Spain, “Real Decreto Legislativo 1/1996, de 12 de abril, por el que se aprueba el texto refundido de la Ley de Propiedad Intelectual, regularizando, aclarando y armonizando las disposiciones legales vigentes sobre la materia”

https://www.boe.es/buscar/act.php?id=BOE-A-1996-8930, dikunjungi pada tanggal 28 Januari 2020 pukul 23.52.

49 European Parliamentary Research Service (EPRS), Op.Cit., h. 174-175.

(33)

44 3. Article L 122-3 IPC:

Reproduction shall consist in the physical fixation of a work by any process permitting it to be communicated to the public in an indirect way…”

Berdasarkan penjelasan dan doktrin dari prinsip ekonomi dalam Hak Cipta yang telah disebutkan di atas, maka dapat diketahui bahwa terdapat berbagai prinsip ekonomi dalam Hak Cipta yang meliputi: Reproduction Right, Adaptation Right, Distribution Right, Public Performance Right, Broadcasting Right, Cablecasting Right, serta Translation Right. Namun, dari berbagai prinsip tersebut dapat dikemukakan beberapa hak yang dapat dikategorikan sebagai hak ekonomi dalam Hak Cipta, yang terdiri dari:

a. Reproduction Right, merupakan hak bagi Pencipta untuk mendapatkan hak ekonominya atas reproduksi dan juga publikasi atas Ciptaannya tersebut. Menurut WIPO, reproduction right adalah salah satu hak yang paling mendasar dalam Hak Cipta khususnya dalam hal hak ekonomi.

Selain itu, reproduction right juga sudah diakui dalam Auterswet 1912 dengan istilah the making public of a reproduction of the whole or part of a work. Contoh dari kegiatan reproduction right adalah kegiatan penggadaan atau fotokopi sebuah buku yang dilakukan oleh sebuah perusahaan penerbit dan menggunakan gambar kartun dalam sebuah desain baju, dengan izin dari pemegang hak cipta tersebut.50

b. Adaptation Right, merupakan hak bagi Pencipta untuk mendapatkan hak ekonominya atas tindakan adaptasi dari Ciptaannya yang dilakukan oleh Lembaga dan/atau pihak lain sesuai izin dari Pencipta. Dalam beberapa

50 Intellectual Property Center, https://theipcenter.com/2008/10/copyright-reproduction- rights/, diakses pada 21 Februari 2020, pukul 16.14.

(34)

45 pengaturan hak ekonomi, terdapat juga yang dinamakan translation right. Menurut pengaturan hak cipta di Amerika Serikat, translation atau tindakan penerjemahan adalah sebuah karya derivatif dimana hanya Pencipta yang dapat melakukan hal tersebut.51 Menurut WIPO, adaptation right adalah sebuah hak dimana Pencipta dapat melakukan adaptasi atas Ciptaannya dalam bentuk karya lain, dan translation right adalah hak bagi Pencipta untuk menciptakan suatu karya dalam bahasa lainnya. Namun, Penulis menggabungkan translation right sebagai bagian dari adaptation right dikarenakan keduanya merupakan sama- sama bentuk karya derivatif (derivative work) yang dilindungi oleh Hak Cipta. Selain itu, pengertian dari adaptation right juga mengikuti perkembangan teknologi dimana teknologi digital juga turut andil perubahan format pada suatu Ciptaan, yang salah satunya adalah translation atau terjemahan.52 Contoh dari kegiatan adaptasi yang dimaksud dalam hal ini adalah sebuah perusahaan produksi film ingin memproduksi sebuah film yang diangkat dari sebuah buku, dan dalam hal tersebut maka perusahaan produksi film yang bersangkutan harus menerima persetujuan dari Penulis dan/atau Pencipta dari buku tersebut.53

c. Distribution Right, merupakan hak ekonomi yang diterima oleh Pencipta atas distribusi dan peredaran Ciptaannya oleh pihak lain sesuai

51 Lihat pada Undang-Undang Hak Cipta di Amerika Serikat, Copyright Law of the United States and Related Laws Contained in Title 17 of the United States Code, https://www.copyright.gov/title17/ diakses pada 4 Februari 2020 pukul 21.16, h. 3.

52 World Intellectual Property Organizations, Op.cit., h. 13.

53 U.S. Legal, Adaptation Right Law and Legal Definition, https://definitions.uslegal.com/a/adaptation-right/ diakses pada 21 Februari 2020, pukul 16.48.

(35)

46 izin dari Pencipta. Menurut WIPO, distribution right berlaku apabila Ciptaan yang dimaksud sudah dilakukan penggandaan atau transfer atau penjualan. Sehingga, distribution right meskipun dianggap sebagai bagian dari reproduction right, terdapat perbedaan dimana distribution right memiliki penekanan yang spesifik pada Ciptaan yang sudah memiliki salinan sementara reproduction right memiliki penekanan penggandaan atas Ciptaan yang asli.54 Contoh dari kegiatan distribution right adalah pada saat sebuah buku telah dibeli dari toko buku, maka Pencipta tidak memiliki hak atas distribusi selanjutnya yang dilakukan oleh pembeli dari jual-beli pertama tersebut.55 Berkaitan dengan distribution right, salah satu kegiatan dari hak tersebut adalah peredaran buku yang merupakan karya dari Pencipta, yang diedarkan dari Penerbit kepada penjualan di toko-toko buku.

d. Public Performance Right, merupakan hak ekonomi yang diterima oleh Pencipta dari pertunjukan atas Ciptaannya yang dilakukan secara publik sesuai izin dari Pencipta. Hak tersebut sudah diatur sejak Auterswet 1912 dengan istilah the recitation, playing, performance or presentation in public of the whole or part of a work or a reproduction thereof. WIPO menjelaskan bahwa public performance right dapat diberikan bagi pihak yang telah mendapatkan izin dari Pencipta, tidak hanya untuk menampilkan Ciptaannya di tempat umum atau di kalangan publik, tapi

54 International Bureau of WIPO, Basic Notions of Copyright and Related Rights, https://www.wipo.int/export/sites/www/copyright/en/activities/pdf/basic_notions.pdf diakses pada tanggal 4 Februari 2020 pukul 22:02.

55 Rights Granted Under Copyright Law, https://www.bitlaw.com/copyright/scope.html, diakses pada tanggal 21 Februari 2020, pukul 16.28.

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisis capaian IKK, pada tahun 2020 BP PAUD dan Dikmas Provinsi Sulawesi Barat menetapkan target kinerja pemetaan mutu dengan indikator persentase

Melihat kembali konteks pemilihan kepala daerah yang terdapat dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 yang menyatakan: “Gubernur, Bupati dan Walikota masing- masing

Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas pelaksanaan program kegiatan sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Way Kanan

Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak simplisia kering bawang putih (Allium sativum. L.) sebagai antibakteri yang dapat menghambat tumbuhnya bakteri Bacillus

Untuk menjawab sub masalah nomor empat yaitu bagaimana keterampilan siswa dalam melakukan eksperimen dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di kelas V Sekolah

 besar &olekul yang lebih ke'il dari ukuran pori dapat masuk ke dalam partikel &olekul yang lebih ke'il dari ukuran pori dapat masuk ke dalam partikel dan karenanya

Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan proposal skripsi