• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Harta Bersama Dan Dasar Hukumnya

PERCERAIAN DAN AKIBAT HUKUMNYA

3) Pengertian Harta Bersama Dan Dasar Hukumnya

Dalam setiap perkawinan pada dasarnya diperlukan harta yang

menjadi dasar materil bagi kehidupan keluarga, harta tersebut

dinamakan harta perkawinan.41

Pengertian harta bersama menurut kamus besar bahasa Indonesia,

adalah :”kesatuan harta yang dikuasai dan dimiliki oleh suatu keluarga

selama perkawinan”.42

Menurut sayuti thalib, harta perkawinan suami isteri apabila

dilihat dari sudut asal usulnya dapat digolongkan menjadi tiga

golongan, yaitu :

1. Harta masing-masing suami isteri yang telah dimilikinya sebelum

mereka kawin baik berasal dari warisan, hibah, harta usaha mereka

sendiri-sendiri, atau yang dapat disebut harta bawaan.

2. Harta masing-masinsg suami isteri yang dimiliki sesudah mereka berada

dalam hubungan perkawinan, teapi diperoleh bukan dari usaha merka

41

Sayuti Thalib, op cit, h. 83

42

baik perorangan atau bersama-sama, tetapi merupakan hibah, wasiat

atau warisan untuk masing-masing.

3. Harta yang diperoleh sesudah mereka berada dalam hubungan

perkawinan atas usaha mereka berdua atau salah seorang, inilah yang

disebut harta bersama.

Di dalam al-Qur’an dan hadist tidak diatur tentang harta bersama

dalam perkawinan. Harta kekayaan isteri tetap menjadi milik istri atau

dikuasai penuh olehnya demikian pula sebaliknya, harta suami tetapi

menjadi milik suami dan dikuasai sepenuhnya. Dalam kitab-kitab

hukum fiqih pun tidak ada yang membicarakan. Seolah-olah masalah

harta bersama kosong atau fakum dalam hukum islam.

Sedangkan dalam kesadaran kehidupan sehari-hari masyarakat

di Indonesia sejak, dari dulu hukum adap mengenalnya dan diterapkan

terus menerus sebagai hukum yang hidup. Apakah kenyataan ini

dibuang dari kehidupan masyarakat? Tentu tidak mungkin, dari

pengamatan lembaga harta bersama lebih besar maslahatnya dari

mudharatnya. Atas adasar metodologi masalah mursalah43“urf” dan kaidah “al-adatu al-muhkamatu”, para ulama melakukan pendekatan

kompromistis kepada hukum adat selain pendekatan kompromistis.

Prof. ismuha dalam disetasinya44 telah mengembangkan pendapat pencaharian bersama suami isteri mestinya masuk dalam ru’bu

43

Abdul Wahab Khalaf, ILmu Ushul al-FIqh, (Jakarta : Maktabah AL-Dakwah Al-Islamiyah, 1990), h. 84

44

Ismuha, Pencaharian Bersama Suami Isteri, Ditinjau Dari Sudut Undang-Undang Perkawinan 1974 Dan Hukum Adapt. (Jakarta : Bulan Bintang, 1986). H. 282

muamalah tetapi ternyata secara khusus tidak dibicarakan, mungkin

hal-hal ini disebabkan karena pada umumnya pengarang dari

kitab-kitab tersebut adalah orang arab, sedangkan adat arab tidak mengenal

adanya adapt harta bersama, tetapi di sana ada dibicarakan mengenai

masalah perkongsian yang dalam bahasa arab disebut syirkah atau

syarikah.

Syirkah menurut bahasa adalah pencampuran harta dengan

harta lain sehingga tidak dapat dibedakan lagi satu dari yang lain45. Menurut istilah hukum islam adalah adanya hak dua orang atau lebih

terhadap sesuatu46. Adapun dasar hukumnya dalam syirkah adalah hadist qudsi yang diriwayatkan oleh abu daud dan hakim.

لﺎﻗ هﺮﯾﺮھ ﻦﺑا ﻦﻋ

:

ﷲا ﻰﻠﺻ ﷲا لﻮﺳر لﺎﻗ

مﻼﺳو ﮫﯿﻠﻋ

:

ﻰﻟﺎﻌﺗ ﷲا لﺎﻗ

:

ﻲﻧا ﺔﻛﺮﺸﻟا ﻰﻓ ﺚﻟﺎﺛﺎﻧا

ﺎﻤﮭﻨﯿﺗ ﻦﻣ ﺖﺣﺮﺧ نﺎﺧاذﺄﻓ ﮫﺣ ﺎﺻ ﺎﻤھ ﺪﺣا ﻦﺨﯾ ﻢﻟﺎﻣ

)

هاور

ﻢﻛﺎﺤﻟا و دواد ﻮﺑا

(

Artinya :

Dari abu hurairah ra berkata : rasulullah SAW bersabda : Allah SWT befirman :”aku anggota ketiga dari dua orang yang beryarikah selama keduanya tidak berkhianat. Apabila seorang anggota syirkah itu mengkhianati temannya, maka aku akan keluar dari syirkah itu (RIwayat abu daud, dan disahihkan oleh hakim)47

Dari hadist qudsi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa

perkongsian pada umumnya menurut hukum silam bukan hanya

45

Abdul Rahman Al-Jaziri, KItab FIqh ‘ala Mazhab al-Arab’an,(Beirut : Dar al-Fikr, 1991), jilid 4 h, 61

46

Ismuha, op. cit. h. 283

47

Abu Bakar Ahmad bin Husein bin Ali al-Baihaqi, Sunnah Qubra, (Beirut : Darul FIqr, np), juz VI, h. 78

sekedar boleh melainkan lebih dari itu disukai selama dalam

perkongsian itu tidak ada tipu muslihat.

Adapun macam-macam syirkah menurut para ualama imam

mazhab ada lima macam antara lain :

1. Syirkah Inan (Perkongsian Terbatas)

yaitu perkongsian antar dua orang atau lebih yang

masing-masing mempunyai modal dan sama-sama bekerja menjalankan usaha

perkongsian dengan keuntungan dibagi sesuai dengan perjanjian

waktu perkongsian dibentuk juga adanya saling tanggung jawab

antara merka. Mengenai macam syirkah ini para ulama 4 mazhab

sependapat tantang bolehnya.

2. Syirkah Mufwwadlah (Perkongsian tak terbatas)

yaitu keuntungan dengan banyaknya modal dan

masing-masing anggota perkongsian memberikan hak penuh kepada anggota

perkongsian untuk bertindak dalam rangka menjalankan perkongsian

seperti membeli atau menjual barang-barang, hukum syirkah ini boleh

menurut mazhab hanafi. Maliki, dan hambali tetapi tidak boleh

menurut mazhab safi’i. hanya beda antara tiga mazhab yang

memboleh itu yaitu menurut mazhab hanafi disyaratkan bahwa modal

para peserta perkongsian harus sama banyak sedangkan mazhab

maliki dan mazhab hambali tidak mensyaratkan.48 3. Syirkah Abdan (perkongsian tenaga)

48

yaitu beberapa orang tukang atau pekerja berkongsi melakukan

perjaan dengan keuntungan dibagi menurut perjanjian. Hukum syirkah

ini boleh menurut mazhab hanafi, maliki dan hambali. Tetapi tidak

boleh menurut mazhab safi’i. menurut mazhab maliki mensyaratkan

supaya perkerjaan yang mereka lakukan harus sejenis dan setempat

sedangkan dengan mazhab hanafi dan hambali tidak mensyaratkan itu.

4. Syirkah Wujuh (perkongsian kepercayaan)

yaitu perkongsian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih

tanpa modal melainkan mendapat kepercayaan orang untuk membeli

barang-barang apa saja dengan cara kredit, kemudian menjual lagi

dengan mendapat keuntungan dan keuntungan itu dibagi menurut

pernjanjian waktu perkongsian itu dibentuk. Disepakati bolehnya

kecuali mazhab safi’i

5. Syirkah Mudaharabah (perkongsian orang yang memiliki modal dan

yang tidak)

yaitu perkongsian yang diadakan antara orang yang

mempunyai modal dengan orang yang tidak mempunyai modal,

dengan cara orang yang mempunyai modal untuk berusaha

menyerahkan modalnya kepada orang yang tidak mempunyai modal

untuk berusaha dan berdagang. Disepakati tentang bolehnya syirkah

ini mazhab malikiyah dan hambaliyah, karena terdapat syirkah dalam

menggolongkan ke dalam syirkah karena pekerjaan ini tidak

dinamakan syirkah.49

Setelah dikemukakan definisi macam-macam dan hukum

syirkah menurut para ulama empa mazhab, maka manakah dari sekian

banyak macam syirkah yang mendekati dan sama dengan pengertian

harta bersama suami isteri ? dalam menanggapi persoalan ini tentunya

semua orang mempunyai jawaban yang sama, misalnya ismuha

berpendapat bahwa pencaharian bersama suami isteri lebih dekat

kepada pengertian wyirkah abdan dan syirkah mufwwadlah.50

Kesimpulan yang diambil ismuha adalah berdasarkan alasan

pada umumnya suami isteri dalam masyarakat Indonesia sama-sama

bekerja membanting tulang, berusaha untuk mendapatkan nafkah

hidup sehari-hari dan sekedar harta simpanan masa tua mereka, kalau

keadaan memungkinkan juga untuk sedikit peninggalan anak-anak

merka sesudah meninggal dunia. Oleh karena itu maka pencaharian

bersama suami isteri dikatakan sebagai syirkah abdan (perkonsian

tenaga) lebih jauh lagi ismuha menyimpulkan bahwa pencaharian

bersama suami isteri dikatakan sebagai syirkah mufawwadlah karena

memang perkongsian suami isteri tidak terbata, apa saja yang mereka

hasilkan selama masa perkawinan mereka termasuk harta bersama,

49

Ibid, h. 295

50

kecuali yang mereka terima sebagai warisan atau sebagai pemberian

khusu LIMA salah seorang di antara mereka berdua.51

Untuk lebih memahami apa yang dimaksu dengan harta

bersama dalam perkawinan, merujuk pada ketentuan pasal 35

undang-undang no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan berdasar pasal tersebut,

hukum mengenal dua jenis harta bersama dalam perkawinan yaitu :

a. harta yang diperoleh selama perkawinan, menjadi

“harta bersama”

b. harta bawaan masing-masing hadiah atau warisan yang

disebut dengan harta pribadi yang sepenuhnya berada

di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para

pihak tidak menentukan lain.

Dari penegasan singkat mengenai jensi harta perkawinan, kita

mengenal dua jenis harta yang saling terpisah dan berdiri sendiri

dalam suatu perkawinan. Ini berarti terbentuknya harta bersama

dalamd perkawinan ialah sejak saat tanggal terjadinya perkawinan

sampai ikatan perkawinan bubar. Kalau begitu harta pa saja yang

diperoleh terhitung sejak saat dilangsungkan akad nikah sampai saat

perkawinan putus, maka seluruh harta tersebut dengan sendirinya

menurut hukum menjadi harta bersama.

Namun apabila ikatan perkawinan putus baik meningal salah satu

pihak atau karena perceraian, maka harta bersama ini dibagi dua antara

suami isteri, al ini berdasarkan konsep syirkah juga kaidah fiqih yaitu :52

51

راﺮﺿﻻورﺮﺿﻻ

Artinya :

Tidak ada kemudharatan dan tidak boleh memudharatkan53 Juga firman Allah SWT :

















bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan,. (Q.S AN-Nisa : 32)

Dan kaidah fiqh dan al-qur’an tersebut mengisyaratkan bahwa

penyelesaian harta bersama harus diselesaikan secara adil dalam

pembagian antara suami isteri, dalam praktik sehari-hari bila terjadi

perceraian di antara suami isteri biasanya harta bersama dibagi dua

dengan pembagian yang sama rata.54

Landasan inilah yang dijadikan pedoman hukum tertulis

(dalam hal ini KHI) sebagaimana termaktub dalam pasal 96 ayat 1

yaitu :”apabila terjadi cerai matai maka separuh harta bersama

menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama”.

Juga pasal 97 KHI yaitu : “janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak

seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian

perkawinan”.

Dokumen terkait