• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1. Pengertian Hasil Belajar

Sebelum membahas mengenai hasil belajar terlebih dahulu Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap, belajar dimulai sejaka manusia lahir sampai akhir hayat (Baharuddin dan Wahyuni, 2008: 1). Menurut Gagne dalam Dahar (2006:2), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar adalah suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan dengan maksud memperolah perubahan dalam dirinya, baik berupa pengetahuan, keterampilan atau sikap (Arikunto, 1993: 19).

Menurut Crow and Crow dalam Sriyanti (2009: 17), belajar adalah perbuatan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan dan berbagai sikap, termasuk penemuan baru dalam mengerjakan sesuatu, usaha memecahkan rintangan dan menyesuaikan dengan situasi baru.Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. Manusia banyak belajar sejak lahir dan bahkan ada yang berpendapat sebelum lahir (Trianto,

2009:16). Seseorang belajar pada dasarnya didorong oleh keinginannya untuk mengembangkan perilakunya yang efetif dan efisien dalam mencapai tujuan (Sam’s, 2010: 33). Dalam belajar mengandung tiga hal pokok, yaitu: (a) belajar mengakibatkan perubahan kemampuan atau perilaku, (b) perubahan kemampuan atau perilaku yang terjadi bersifat relatif menetap, (c) perilaku tersebut disebabkan karena hasil adanya latihan atau pengalaman dan bukan karena proses dari pertumbuhan atau kematangan ( Sam’s, 2010: 32).

Gagne dalam Suprijono (2010:10-11), membagi kegiatan belajar menjadi delapan yaitu:

a. Signal learning atau kegiatan belajar mengenal tanda. Tipe kegiatan belajar ini menekankan belajar sebagai usaha merespons tanda-tanda yang dimanipulasi dalam situasi pembelajran.

b. Stimulus-response learning atau kegiatan belajar tindak balas. Tipe ini berhubungan dengan perilaku peserta didik yang secara sadar melakukan respons tepat terhadap stimulus yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran.

c. Chaining learning atau kegiatan belajar melalui rangkaian. Tipe ini berkaitan dengan kegiatan peserta didik menyusun hubungan antara dua stimulus atau lebih dengan berbagai respons yang berkaitan dengan stimulus tersebut.

d. Verbal association atau kegaitan belajar melalui asosiasi lisan. Tipe ini berkaitan dengan upaya peserta didik menghubungkan respons dan stimulus yang disampaikan secara lisan.

e. Multiple discrimination learning atau kegiatan belajar dengan perbedaan berganda. Tipe ini berhubungan dengan kegiatan peserta didik membuat berbagai perbedaan respons yang digunakan terhadap stimulus yang beragam, namun berbagai respons dan stimulus itu saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya

f. Consept learning atau kegiatan belajar konsep. Tipe ini berkaitan dengan berbagai respons dalam waktu yang bersamaan terhadap sejumlah stimulus berupa konsep-konsep yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

g. Principle learning atau kegiatan belajar prinsip-prinsip. Tipe ini digunakan peserta didik menghubungkan beberapa prinsip yang digunakan merespons stimulus.

h. Problem solving learning atau kegiatan belajar pemecahan masalah. Hasil belajar Gagne dan Briggs mendefinisikan hasil belajar sebagai kempampuan yang diperoleh seseorang sesudah mengikuti proses belajar (Sam’s, 2010: 33). Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah mengalami proses pembelajaran dan dapat diukur melalui pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan sintesis, yang diraih siswa dan merupakan tingkat penguasaan menerima pengalaman kerja(Sam’s,

2010: 37). Merujuk pemikiran Gagne dalam Suprijono (2011:5), hasil belajar berupa:

a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.

b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Kemampuan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas. c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan

aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

d. Keterampilan motorik yaitu melakukan dan mengarahkan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisi dan eksternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya standar perilaku.

Menurut Bloom dalam Suprijono (2016:6), hasil belajar dapat mencakup beberapa kemampuan. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan kognitif, kemampuan afektif dan kemampuan psikomotorik. Di bawah ini beberapa domain dari ketiga kemampuan tersebut.

a. Domain Kognitif

1) Knowledge (Pengetahuan), mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip atau metode.

2) Comprehension (Pemahaman), kemampuan mencakup menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.

3) Application (Penerapan), mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.

4) Analysis (Menguraikan), mencakup kemampuan merinci sesuatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseuruhan dapat dipahami dengan baik.

5) Synthesis (Mengorganisasikan), mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.

6) Evaluation (Menilai), mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.

b. Domain Afektif

1) Receiving (Sikap Menerima), yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.

2) Responding (Memberikan Respon), yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. 3) Valuing (Nilai), yang menerima suatu nilai, menghargai, mengakui

dan menentukan sikap.

4) Organization (Organisasi), yang mencakup kemampuaan membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.

5) Characterization (Karakterisasi), yang mencakup kemampuan menghayati niali dan membentuknya menjadi pola kehidupan pribadi. c. Domain Psikomotorik

1) Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milahkan hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut. 2) Kesiapan, yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam

keadaan di mana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan. 3) Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan

sesuai contoh, atau gerakan peniruan.

4) Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakan- gerakan tanpa contoh.

5) Gerakan komplek, yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancar, efisien, dan tepat.

6) Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.

7) Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerak yang baru atas dasar prakarsa sendiri.

Dalam penelitian ini, yang akan menjadi ukuran hasil belajar adalah fokus terhadap kemampuan kognitif siswa. Untuk melihat hasil belajar siswa khususnya ranah kognitif ada banyak cara yang dapat digunakan, salah satunya adalah dengan menggunakan tes formatif setelah dilakukannya proses belajar- mengajar. Penilaian formatif ini digunakan untuk mengetahui sejauh-mana siswa telah menguasai tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai. Fungsi dari penilaian adalah untuk memberikan feed back (umpan balik) terhadap guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program remidial bagi siswa yang belum berhasil mencapai KKM. Suatu proses beljar mengajar dapat dikatakan brerhasil apabila hasil pembelajaran dapat memenuhi tujuan intstruksional dari bahan tersebut.

Indikator keberhasilan suatu proses belajar mengajar adalah hal- hal sebagai berikut (Djamarah & Zain, 2006: 105-106):

a. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu dan kelompok (indikator yang banyak digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan).

b. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran intruksional khusus telah dicapai oleh siswa, baik secara individu atau kelompok.

Menurut Depdikbud dalam Trianto (2009:241), berdasarkan ketentuan KTSP penentuan keberhasilan belajar di tentukan oleh masing- masing sekolah yang dikenal dengan istilah kriteria ketuntasan minimal (KKM), dengan berpedoman pada tiga pertimbangan yaitu: kemampuan setiap siswa berbeda-beda, fasilitas (sarana) setiap sekolah berbeda, dan daya dukung setiap sekolah juga berbeda. Siswa dikatakan berhasil dalam pembelajaran apabila (ketuntasan individu) jika perolehan nilai tes siswa ≥ 68, dan suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam kelas tersebut terdapat ≥ 85% siswa yang tuntas belajarnya.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa peningkatan hasil belajar adalah pencapaian hasil dari suatu proses yang terjadi karena adanya adanya usaha yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan guna mencapai tujuan pengajaran intruksional khusus baik secara individu maupun kelompok.

Dokumen terkait