BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Pembelajaran Matematika
3. Ruang lingkup Matematika
Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan sekolah dasar dan Madrasah Ibtidaiyah meliputi aspek-aspek sebagai berikut (http://www.sarjanaku.com/2011/06/pengertian-matematika.html diakses pada 16 februari 20017 08.53):
a. Bilangan yang mencakup bilangan dan angka, perhitungan dan perkiraan. b. Geometri yang mencakup bangun dua dimensi, tiga dimensi, transformasi dan simetri, lokasi dan susunan berkaitan dengan koordinat. c. Pengolahan data mencakup pengukuran berkaitan dengan perbandingan
kuantitas suatu obyek, penggunaan satuan ukuran dan pengukuran. 4. Karakteristik Umum Matematika
Ada beberapa karakteristik umum Matematika yang telah disepakati bersama, antara lain (Sumardyono, 2004: 30-46):
a. Memiliki objek kajian yang abstrak
Matematika memiliki objek kajian yang bersifat abstrak, walaupun tidak setiap yang abstrak adalah Matematika. Ada empat objek kajian Matematika, yaitu:
1) Fakta, adalah pemufakatan atau konvensi dalam Matematika yang biasa diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu.
2) Konsep, adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengkategorikan sekumpulan objek, apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan.
3) Operasi atau relasi, adalah pengerjaan hitung, pengertian aljabar, dan pengerjaan Matematika lainnya. Sementara relasi adalah hubungan antara dua atau lebih elemen.
4) Prinsip, adalah objek Matematika yang terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi. b. Bertumpu pada kesepakatan
Simbol-simbol dan istilah-istilah dalam Matematika merupakan kesepakatan atau konvensi yang penting. Dengan simbol dan istilah yang telah disepakati dalam Matematika, maka pembahasan selanjutnya akan menjadi mudah dilakukan dan dikomunikasikan.
c. Berpola pikir deduktif
Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus.
d. Konsisten dalam sistemnya
Dalam Matematika, terdapat berbagai macam sistem yang dibentuk dari beberapa aksioma dan memuat beberapa teorema. Ada sistem-sistem yang berkaitan, ada pula sistem-sistem yang dipandang lepas satu dengan lainnya. Di dalam masing-masing sistem berlaku konsistensi. Suatu teorema maupun definisi harus menggunakan istilah atau konsep yang
telah diterapkan. Konsistensi itu baik dalam makna maupun dalam hal nilai kebenarannya.
e. Memiliki simbol yang kosong arti
Simbol Matematika akan bermakna sesuatu bila kita mengaitkannya dengan konteks tertentu.
f. Memperhatikan semesta pembicaraan
Semesta pembicaraan bisa sempit bisa pula luas. Bila kita berbicara tentang geometris, maka simbolnya menunjukan suatu transformasi, bila kita berbicara tentang bilangan, simbol tersebut menunjukkan bilangan pula. Benar salahnya suatu penyelesaian soal juga ditentukan oleh semesta pembicaraan yang digunakan.
5. Langkah Pembelajaran Matematika
Menurut Subrinah dalam Sam’s (2010:29), Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada di dalamnya. Ini berarti bahwa belajar Matematika pada hakikatnya adalah belajar konsep, strukturnya, dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya. Ciri khas Matematika yang deduktif aksiomatis ini harus diketahui oleh guru sehinngga mereka dapat membelajarkan Matematika dengan tepat mulai dari konsep yang sederhana sampai yang kompleks (Sam’s, 2010:29).
Konsep-konsep pada kurikulum Matematika SD/MI dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu penanaman konsep dasar (penanaman konsep), pemahaman konsep, dan pembinaan keterampilan. Tujuan akhir
pembelajaran Matematika di SD/MI yaitu agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep Matematika dalam kehidupan seehari-hari. Akan tetapi, untuk menuju tahap keterampilan tersebut harus melalui langkah-langkah besar sesuai dengan kemampuan dan lingkungan siswa. Berikut ini adalah pemaparan pembelajaran yang ditekankan pada konsep- konsep Matematika (Heruman, 2010:3):
a. Penanaman konsep dasar (penanaman konsep), yaitu pembelajaran suatu konsep baru Matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. Kita dapat mengetahui konsep ini dari isi kurikulum yang dicirikan dengan kata “mengenal”. Pembelajaran penanaman kosep dasar merupakan jembatan yang harus dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan konsep baru Matematika yang abstrak.
b. Pemahaman konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari pemahaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep Matematika. Pemahaman konsep terdiri atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan dari penanaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya.
c. Pembinaan keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep. Pembelajaran pembinaan keterampilan
bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep Matematika. Seperti halnya pada pemahaman konsep, pembinaan keterampilan juga terjadi terdiri atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjuatan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pembinaan keterampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tapi masih merupakan lanjutan dari penanaman dan pemahan konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman dan pemahaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya.
6. Problematika pembelajaran Matematika
Dalam proses pendidikan Matematika di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah, pembelajaran kurang memperhatikan karakteristik usia anak, yang terkait dengan perkembangan psikologis siswa. Menurut
Susanto (2013:184), anak dalam kelompok usia sekolah dasar (6-12 tahun) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual atau kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan menganggap tahun yang akan datang masih jauh, yang mereka pedulikan adalah sekarang (kongkrit). Padahal dalam pembelajaran Matematika penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak yang harus diajarkan kepada siswa sekolah dasar. Jika hal ini dibiarkan terus maka pembelajaran Matematika dapat menjadi pelajaran yang membosankan bagi siswa, sehingga secara langsung maupun tidak langsung
akan berdampak pada tujuan pendidikan dan hasil belajar siswa yang diharapkan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif yaitu dengan menggunakan metode, strategi dan media yang sesuai dengan materi yang dipelajari disekolah dasar dan memperhatikan karakteristik siswa. Sehingga tujuan dari pembelajaran Matematika dan hasil belajar siswa dapat tercapai secara maksimal.
7. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika Kelas III
Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Matematika kelas III SD/MI semester II materi bangun datar (Depdiknas, 2007).
Tabel 2.1 SK dan KD pelajaran Matematika kelas III SD/MI materi bangun datar sederhana
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 4. Memahami unsur dan
sifat-sifat bangun datar sederhana
4.1 Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya
4.2 Mengidentikasi berbagai jenis dan besar sudut
C. Bangun Datar dan Sifatnya 1. Pengertian Bangun Datar
Bangun datar merupakan sebuah bangun berupa bidang datar yang dibatasi oleh beberapa ruas garis. Jumlah dan model ruas garis yang
Gambar 2.1 Persegi Panjang
membatasi bangun tersebut menentukan nama dan bentuk bangun datar tersebut. Misalnya: bidang yang dibatasi oleh 3 ruas garis, disebut bangun segitiga, bidang yang dibatasi oleh 4 ruas garis, disebut bangun segiempat, bidang yang dibatasi oleh 5 ruas garis, disebut bangun segilima. Jumlah ruas garis serta model yang dimiliki oleh sebuah bangun merupakan salah satu sifat bangun datar tersebut. Jadi, sifat suatu bangun datar ditentukan oleh jumlah ruas garis, model garis, besar sudut, dan lain-lain.
2. Sifat- sifat bangun datar sederhana a. Sifat-sifat Persegi Panjang
1) Sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar. 2) Sisi-sisi persegi panjang saling tegak lurus 3) Mempunyai 4 sudut siku-siku 90⁰.
4) Mempunyai 2 diagonal yang sama panjang 5) Mempunyai 2 simetri lipat.
6) Mempunyai 2 simetri putar b. Sifat-sifat Persegi
1) Mempunyai 4 sudut siku-siku 90⁰.
2) Mempunyai 2 diagonal yang sama panjang. 3) Mempunyai 4 simetri lipat.
4) Mempunyai 4 simetri putar. c. Sifat-sifat Segitiga
1) Sifat-sifat Segitiga Sama Kaki
a) Memiliki 3 ruas garis: AB - AC dan BC
b) Dua ruas garis kaki sama panjang, AC dan BC. c) Memiliki dua macam ukuran alas dan tinggi. d) Memiliki tiga buah sudut lancip.
e) Semua sudutnya sama besar. 2) Sifat-sifat Segitiga Sama Sisi
a) Memiliki 3 ruas garis: AB - AC dan BC b) Ketiga (semua) ruas garis sama panjang. c) Memiliki dua macam ukuran alas dan tinggi. d) Memiliki tiga buah sudut sama besar (60o).
Gambar 2.3 Segitiga Sama Kaki
3) Sifat-sifat Segitiga Siku-siku
a)Memiliki 3 ruas garis: AB - AC dan BC b)Memiliki garis tegak lurus pada alas (tinggi) c)Memiliki ukuran, alas, dan tinggi.
d)Memiliki dua buah sudut lancip
e)Memiliki satu buah sudut siku-siku (90o) 4) Sifat-sifat Lingkaran
a) Terdiri dari hanya satu sisi.
b) Simetri putar dan simetri lipatnya tak terhingga. c) Tidak mempunyai titik sudut.
5) Sifat-sifat Jajar Genjang
Gambar 2.5 Segitiga Siku-siku
Gambar 2.6 lingkaran
Gambar 2.9 Belah Ketupat
a) Memiliki empat sisi dan empat titik sudut
b) Memiliki dua pasang sisi yang sejajar dan sama panjang c) Memiliki dua buah sudut tumpul dan dua buah sudut lancip d) Sudut yang berhadapan sama besar
e) Diagonal yang dimiliki tidak sama panjang f) Tidak memiliki simetri lipat
g) Memiliki simetri putar tingkat dua 6) Sifat-sifat Trapesium
a) Memiliki empat sisi dan empat titik sudut b) Sudut-sudut diantara sisi sejajar besarnya 180° c) Mempunyai 1 simetri lipat
d) Memiliki sepasang sisi yang sejajar tetapi tidak sama panjang
7) Sifat-sifat Belah Ketupat
a) Mempunyai 2 simetri lipat. b) Mempunyai 2 simeteri putar. c) Mempunyai 4 titik sudut.
d) Sudut yang berhadapan besarnya sama. e) Sisinya tidak tegak lurus.
f) Mempunyai 2 diagonal yang berbeda panjangnya.
D. Strategi Numbered Head Together
1. Pengertian Strategi Numbered Head Together
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa strategi berarti rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Dalam kegiatan belajar mengajar, strategi merupakan proses penentuan rencana yang berfokus pada tujuan disertai penyusunan suatu cara agar tujuan tersebut dapat dicapai (Khanifatul, 2013:15).
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Djamarah & Zain, 2006:5).
Michael Pressley dalam Trianto (2009:140), menyatakan bahwa strategi belajar adalah operator-operator kognitif meliputi dan terdiri dari proses-proses yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikann suatu tugas (belajar). Strategi-strategi tersebut merupakan strategi yang digunakan siswa untuk memecahkan masalah belajar tertentu. Sedangkan Sulistyono mendefinisikan strategi belajar sebagai tindakan khusus yang dilakukan oleh seseorang untuk mempermudah, mempercepat, lebih menikmati, lebih mudah memahami secara langsung, lebih efefktif, dan lebih mudah ditransfer ke dalam situasi yang baru.
mencapai materi, dan bagaimana bentuk evaluasi yang tepat guna meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dalam mengembangkan strategi pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan beberapa hal yang memungkinkan terciptanya pembelajaran efektif. Beberapa hal yang dimaksud sebagaimana dikatakan Dick & Carey dalam Khanifatul (2013:16), terdapat lima komponen strategi pembelajaran, yaitu (a) kegiatan pembelajaran pendahuluan, (b) penyampaian informasi, (c) partisipasi siswa, (d) tes, (e) kegiatan lanjutan.
Numbered Head Together atau penomoran berpikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap sumber struktur kelas tradisional, dan melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran (Hamdayama, 2002:176). Tujuan dari Numbered Head Together adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berbagi gagasan dan memepertimbangkan jawaban mana yang paling tepat (Huda, 2014:203).
Penerapan strategi Numbered Head Together dalam pembelajaran dilakukan dengan cara memberikan kesempatan pada siswa untuk berdiskusi dan bertukar pemahaman terhadap persoalan yang diberikan. Jawaban dari soal yang telah didiskusikan bersama akan disampaikan oleh siswa yang mendapatkan nomor sesuai dengan soal di depan kelas secara bergantian dengan anggota kelompok lain. Pada saat pemebentukan
kelompok guru harus memeperhatikan kemampuan siswa, hal itu dapat dilakukan dengan memebuat kelompok dengan tingkatan rangking seperti langkah ular tangga. Dengan cara tersebut akan membuat kelompok yang seimbang satu sama lain. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan langkah ular tangga dengan menggunakan tabel sebagai berikut;
Tabel 2.2 Langkah pembuatan kelompok
Kelompok 1 2 3 4 5 RANGKING 1 2 3 4 5 10 9 8 7 6 11 12 13 14 15 20 19 18 17 16 21 22 23 24 25
2. Manfaat Strategi Numbered Head Together
Ada beberapa manfaat pada strategi pembelajaran Numbered Head Together terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Ibrahim dalam Hamdayama (2014: 177), antara lain adalah :
a. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi b. Memperbaiki kehadiran
c. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar d. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
e. Konflik antara pribadi berkurang f. Pemahaman yang lebih mendalam
g. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi h. Hasil belajar lebih tinggi
i. Motivasi lebih besar
3. Kelemahan dan Kelebihan Strategi Numbered Head Together
Jumanta (2014:56) mennjelaskan tentang kelebihan menggunakan strategi Numbered Head Together adalah sebagai berikut:
a. Melatih siswa utuk dapat bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain.
b. Melatih siswa untuk bisa menjadi tutor sebaya. c. Memupuk rasa kebersamaan.
d. Membuat siswa menjadi terbiasa dengan perbedaan.
Lebih lanjut Jumanta (2014:56-57) menjelaskan tentang kelemahan dalam menggunakan strategi Numbered Head Together adalah sebagai berikut:
a. Siswa yang sudah terbiasa dengan cara konvensional akan sedikit kuwalahan.
b. Guru harus bisa memfasilitasi siswa. c. Tidak semua siswa mendapat giliran.
4. Langkah- Langkah Strategi Numbered Head Together
Huda (2014:203-204) mengemukakan bahwa langkah-langkah penerapan strategi Numbered Head Together dilakukan dengan cara sebagai berikut Siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor sesuai dengan jumlah
a. Guru memberikan tugas/pertanyaan pada masing-masing kelompok untuk mengerjakan.
b. Setiap kelompok mulai berdiskusi untuk menemukan jawaban yang paling tepat dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut.
c. Guru memanggil salah satu nomor secara acak.
d. Siswa dengan nomor yang dipanggil mempresentasikan jawaban dari hasil diskusi kelompok mereka
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Deskripsi Kondisi
1. Perolehan Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran Matematika
Pada tahap ini peneliti menggunakan nilai ulangan harian mata pelajaran Matematika untuk mengetahui kemampuan awal siswa kelas III MI Nafiatul Huda Demakan Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2016/2017. Berikut ini hasil nilai ulangan harian sebelum menggunakan strategi Numbered Head Together.
Tabel 3.1 Nilai Ulangan Harian (Pra Siklus)
No Nama Nilai Ketuntasan
1. Abid Ridwanillah 60 Tidak Tuntas
2. Anas Syaiful G. 70 Tuntas
3. Andi Idam Syafi’i 50 Tidak Tuntas 4. Andrian Hasyim 60 Tidak Tuntas
5. Anisa Aristanti 70 Tuntas
6. Cuhibul Hakiki 30 Tidak Tuntas
7. Dinawati 80 Tuntas
8. Fina Lestari 40 Tidak Tuntas
9. Hani 50 Tidak Tuntas
12. Lisna 50 Tidak tuntas
13. Mu’arifah 70 Tuntas
14. Mufasishin 60 Tidak tuntas
15. Muhammad Amar R. 80 Tuntas
16. Rahayu Slamet 50 Tidak tuntas
17. Tabah Slamet 60 Tidak Tuntas
18. Trianai 50 Tidak Tuntas
19. Yusuf 50 Tidak Tuntas
20. Yana Zulianti 60 Tidak Tuntas 21. Yunanto Andi 40 Tidak Tuntas
22. Zahra Harika 80 Tuntas
23. Zaenudin Bahari 50 Tidak Tuntas
24 Zendy Kusuma 40 Tidak Tuntas
25 Zidan Rifky 40 Tidak Tuntas
Rata- rata 54,8
Keterangan :
Tuntas : 6 orang Tidak Tuntas : 19 orang 2. Data keadaan siswa
Siswa kelas III MI Nafiatul Huda Demakan Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2016/2017 berjumlah 25 orang yaitu terdiri dari 12 laki- laki dan 13 perempuan. Data keadaan siswa kelas III MI
Nafiatul Huda Demakan Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2016/2017 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2 Data Keadaan Siswa
No Nama Jenis KelaminL/P
1. Abid Ridwanillah L 2. Anas Syaiful G. L 3. Andi L 4. Andrian Hasyim L 5. Anisa Aristanti P 6. Cuhibul Hakiki L 7. Dinawati P 8. Fina Lestari P 9. Hani P 10. I’in Ariani P 11. Lailatul Maghfiroh P 12. Lisna P 13. Mu’arifah P 14. Mufasishin L 15. Muhammad Amar R. L 16. Rahayu Slamet P 17. Tabah Slamet L 18. Trianai P
19. Yusuf L 20. Yana Zulianti P 21. Yunanto Andi L 22. Zahra Harika P 23. Zaenudin Bahari L 24 Zendy Kusuma P 25 Zidan Rifky L Keterangan: Laki- laki : 12 Perempuan : 13 3. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada mata pelajaran Matematika materi bangun datar. Penelitian ini menggunakan Strategi Numbered Head Together yang dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Waktu penelitian adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2017. b. Kegiatan siklus II dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2017. B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Dalam tahap perencanaan tindakan kegiatan yang dilaksanakan peneliti adalah sebagai berikut:
a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran Matematika yang memuat serangkaian kegiatan belajar mengajar
menggunakan strategi Numbered Head Together. Adapun materi yang dibahas adalah bangun datar sederhana.
b. Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung seperti media pembelajaran (LKS) dan reward untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran menggunakan strategi Numbered Head Together.
c. Menyiapkan materi ajar tentang bangun datar sederhana.
d. Menyiapkan lembar pengamatan untuk mengetahui keterampilan guru dalam proses pembelajaran menggunakan strategi Numbered Head Together.
e. Menyiapkan instrumen untuk menggali data hasil belajar siswa berupa lembar tes evaluasi.
f. Peneliti berkoordinasi dengan guru selaku kolaborator untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan strategi Numbered Head Together.
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya.
b. Guru mengawali pembelajaran dengan salam dan berdoa. c. Guru menanyakan kabar dan mengabsen siswa.
d. Guru memberikan motivasi sebelum masuk ke dalam materi pembelajaran.
e. Guru mengajukan pertanyaan yang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
f. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
g. Guru menjelaskan tentang materi bangun datar sederhana dan sifat- sifatnya.
h. Guru mendemonstrasikan langkah kegiatan Numbered Head Together. i. Guru membagi para siswa menjadi 5 kelompok yang beranggotakan 5
orang siswa. Guru membagikan topi bernomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan memberikan nama kelompok yang berbeda.
j. Guru membagikan LKS kelompok kepada masing-masing kelompok. k. Siswa diminta untuk mendiskusikan soal-soal yang telah dibagikan tiap-
tiap kelompok dan menentukan jawaban yang paling tepat.
l. Guru menyebutkan nomor secara acak dan siswa dengan nomor tersebut mengacungkan jari.
m.Guru memanggil beberapa siswa untuk menyampaikan jawaban sesuai dengan nomor yang dimiliki.
n. Guru mengulang kegiatan tersebut sampai 5 soal terjawab oleh semua kelompok.
o. Siswa diminta mengubah tempat duduk seperti semula.
p. Guru memberikan reward kepada kelompok yang aktif dalam pembelajaran.
q. Sebagai bahan evaluasi guru memberikan soal dan siswa diminta mengerjakannya.
r. Setelah siswa mengerjakan soal evaluasi guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
s. Guru menutup pembelajaran dengan berdoa dan salam. 3. Pengamatan dan Observasi
Selama proses pembelajaran, peneliti secara langsung melakukan pengamatan untuk mengetahui keterampilan guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan strategi Numbered Head Together dalam meningkatkan hasil belajar. Aspek-aspek yang diamati sebagai berikut:
a. Lembar Observasi Kinerja Guru
Tabel 3.3 Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus I
No. Aspek yang diamati Skor
A B C D Kemampuan guru membuka pelajaran
1. Memeriksa kesiapan siswa √
2. Memberikan motivasi awal √
3. Memberikan apersepsi (kaitannya dengan materi)
√
4. Menyampaikan tujuan pembelajaran √ 5. Memberikan acuan bahan pelajaran yang
akan dipelajari
√
Sikap guru dalam proses pembelajaran
6. Kejelasan artikulasi suara √
8. Antusiasme dalam penampilan √ 9. Menarik perhatian siswa dalam kegiatan
belajar menggunakan strategi Numbered Head Together
√
10. Memberikan perhatian yang sama pada setiap kelompok
√
Penguasaan bahan belajar
11. Bahan belajar disajikan sesuai dengan langkah-langkah yang dibuat dalam RPP
√
12. Kejelasan dalam menjelaskan materi ajar √ 13. Mampu memberikan variasi dalam
menyampaikan bahan ajar melalui strategi Numbered Head Together
√
Kegiatan belajar mengajar
14. Penyajian bahan pelajaran sesuai dengan tujuan atau indikator yang telah ditetapkan
√
15. Mendemonstrasikan langkah-langkah kegiatan belajar melalui Numbered Head Together
√
16. Ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu √ 17. Memfasilatasi siswa selama proses kegiatan
belajar melalui Numbered Head Together
√
18. Penilaian relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan
√
19. Penilaian yang diberikan sesuai dengan RPP √ Kemampuan menutup kegiatan pembelajaran
20. Meninjau kembali materi yang telah diberikan
√
21. Memberikan kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan
√
22. Memberikan kesimpulan kegiatan pembelajaran
√
Tindak lanjut / Follow up
23. Memberikan tugas kepada siswa √ 24. Menginformasikan materi/bahan ajar yang
akan dipelajari berikutnya
√
25. Memberikan motivasi untuk selalu terus belajar √ Jumlah 5 6 1 8 1 0 Total 84 Kategori Baik
Keterangan: Skor Nilai A = 4 (sangat baik) B = 3 (baik) C = 2 (cukup) D = 1 (kurang) Rentang Kategori : Nilai 76 - 100 ( Baik ) Nilai 51 - 75 ( Sedang ) Nilai 25 - 50 (kurang )
b. Nilai Evaluasi Siklus I
Tabel 3.4 Nilai Evaluasi Siklus I
No Nama Nilai Ketuntasan
1. Abid Ridwanillah 80 Tuntas
2. Anas Syaiful G. 80 Tuntas
3. Andi Idam Syafi’i 60 Tidak Tuntas 4. Andrian Hasyim 40 Tidak Tuntas
5. Anisa Aristanti 80 Tuntas
6. Cuhibul Hakiki 80 Tuntas
7. Dinawati 80 Tuntas
8. Fina Lestari 60 Tidak Tuntas
9. Hani 80 Tuntas
10. I’in Ariani 60 Tidak Tuntas 11. Lailatul Maghfiroh 80 Tuntas
12. Lisna 80 Tuntas
13. Mu’arifah 100 Tuntas
15. Muhammad Amar R. 80 Tuntas
16. Rahayu Slamet 80 Tuntas
17. Tabah Slamet 40 Tidak Tuntas
18. Trianai 80 Tuntas
19. Yusuf 80 Tuntas
20. Yana Zulianti 60 Tidak Tuntas 21. Yunanto Andi 60 Tidak Tuntas
22. Zahra Harika 80 Tuntas
23. Zaenudin Bahari 80 Tuntas
24 Zendy Kusuma 80 Tuntas
25 Zidan Rifky 80 Tuntas
Rata- rata 72,8
Keterangan :
Tuntas : 17 siswa Tidak Tuntas : 8 siswa 4. Refleksi
Kegiatan ini bertujuan untuk menilai seluruh kegiatan pembelajaran menggunakan strategi Numbered Head Together. Pada siklus I menunjukkan bahwa, terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa. Siswa terlihat antusias dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan melalui strategi Numbered Head Together. Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan pusat pembelajaran berada pada siswa.
mengajukan pendapatnya dalam menyelesaikan soal dan saling menghargai pendapat teman dalam kelompoknya.
Selama pengamatan berlangsung masih ditemukan masalah- masalah, yaitu dalam pembentukan kelompok yang satu kelompoknya terdapat 5 orang siswa dirasakan masih terlalu banyak, hal itu menyebabkan sebagian siswa yang tidak maksimal dalam berdiskusi kelompok menyelesaikan soal tetapi sibuk mengobrol dengan teman yang lain. Dengan adanya masalah- masalah tersebut, maka peneliti akan melakukan tindakan pada siklus II