• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HUKUM PERSAINGAN INDONESIA

2. Pengertian Hukum Persaingan Usaha

Dalam konteks ini secara teoritis hukum persaingan usaha dapat dimaknai dengan dua bahasan kata, yakni hukum dan persaingan usaha. Upaya ini dimaksudkan agar dapat dibedakan antara hukum itu sendiri dengan persaingan usaha, agar dalam pembahasannya kemudian dapat dimengerti apa yang dimaksud hukum persaingan dalam berusaha.37

Pengertian hukum menurut Utrecht mengemukakan “Hukum adalah himpunan petunjuk-petunjuk hidup (perintah-perintah dan larangan) yang

35 Devi Meyliana, Hukum Persaingan Usaha “Studi Konsep Pembuktian Terhadap Perjanjian Penetapan Harga dalam Persaingan Usaha”, (Malang: Setara Press, 2013), hlm. 12

36 Andi Fahmi Lubis dkk, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks & Konteks, (Jakarta:

KPPU, 2009), hlm. 14

37 Suhasril dan Mohammad Taufik Makarao, Op. Cit, hlm. 36

30

mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, dan oleh karena itu seharusnya diataati oleh anggota masyarakat bersangkutan.38 Dengan pengertian ini, maka dipahami bahwa hukum merupakan himpunan dari petunjuk-petunjuk yang berisikan perintah dan larangan yang harus ditaati oleh anggota masyarakat. Dari pengertian hukum ini, dapat memberikan gambaran lebih mendalam tentang pengertian hukum persaingan usaha, yang mana berdasarkan pendapat para ahli, diantaranya:

Arie Siswanto mengemukakan bahwa hukum persaingan (competition law) merupakan instrument hukum yang menentukan tentang bagaimana persaingan itu harus dilakukan. Meskipun secara khusus menekankan pada aspek

“persaingan”, hukum persaingan juga menjadi perhatian dari hukum persaingan adalah mengatur persaingan sedemikian rupa, sehingga ia tidak menjadi sarana untuk mendapatkan monopoli.

Sedangkan dalam Kamus Lengkap Ekonomi yang ditulis oleh Christopher Pass dan Bryan Lowes, yang dimaksud dengan Competition Laws (hukum persaingan) adalah bagian dari perundang-undangan yang mengatur tentang monopoli, penggabungan dan pengambilalihan perjanjian perdagangan yang membatasi dan praktik anti persaingan.39

Berdasarkan definisi hukum persaingan usaha tersebut, penulis dapat memahami bahwa hukum persaingan usaha merupakan seperangkat aturan hukum yang mengatur mengenai segala aspek yang berkaitan dengan persaingan usaha, yang mencakup hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal yang dilarang

38 E. Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1983), hlm. 1

39 Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia, Op, Cit, hlm. 2

dilakukan oleh pelaku usaha. Selain itu, dalam hukum persaingan usaha bukan hanya mengatur mengenai interaksi antara pelaku usaha, namun terdapatnya ketentuan atau substansi yang diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 baik mengenai asas, tujuan, perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang, KPPU, serta pendekatan dalam hukum persaingan usaha, yang mana akan dibahas pada sub bab selanjutnya.

B. Substansi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Sebagaimana halnya peraturan perundang-undangan lainnya yang memiliki struktur untuk menjelaskan setiap bagian, maka Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 juga memiliki struktur sistematis untuk menunjukkan isinya. Sistematika dan isi dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah memuat 11 bab dan dituangkan dalam 53 Pasal serta 26 bagian.40 Struktur Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 mengatur mengenai ketentuan umum, perjanjian yang dilarang, perbuatan yang dilarang, posisi dominan, maupun mengenai Komisi Pengawas Persaingan Usaha, prosedur perkara, sanksi serta pengecualian.41

Ketentuan mengenai akuisisi atau pengambilalihan saham perusahaan secara lebih rinci terdapat dalam Bab V bagian keempat mengenai Penggabungan, atau Peleburan Badan Usaha, dan Pengambilalihan Saham yang terdapat pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999.

40 Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia, Op. Cit, hlm. 32

41 Ningrum Natasya Sirait, Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2011), hlm. 84

32

1. Asas dan Tujuan

Asas dan tujuan akan memberi refleksi bagi pengaturan dan norma-norma yang dikandung dalam aturan tersebut. Hal ini sejalan dengan amanat dan cita-cita Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Terkait dengan asas pada hukum persaingan usaha terdapat dalam Pasal 2 UU No. 5 Tahun 1999 yaitu bahwa:

“Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antar kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum” 42

Demokrasi ekonomi yang dimaksudkan merupakan penjabaran Pasal 33 UUD 1945 dan ruang lingkup pengertian demokrasi ekonomi yang dimaksud dahulu dapat ditemukan dalam penjelasan atas Pasal 33 UUD 1945.43

Sedangkan tujuan adalah suatu hal yang harus dicapai. Adapun tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingan-kepentingan manusia terhadap bahaya yang mengancam, juga mengatur hubungan diantara manusia agar tercipta ketertiban dan kestabilan. Sejalan dengan pengertian tujuan tersebut, maka adapun beberapa tujuan hukum persaingan yang hendak dicapai dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 sebagaimana diatur dalam Pasal 3, yaitu:

a. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesehjateraan rakyat.

b. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah dan pelaku usaha kecil.

c. Mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha, dan;

42 Indonesia, UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Pasal 2

43 Muhammad Aziz Badaruddin, Pengaturan Hukum Persaingan Usaha Terhadap Perjanjian Tertutup Pada Sinergi BUMN Studi Kasus Putusan KPPU No. 07/KPPU-I/2013, hlm.

23, Diakses dari web http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/44208 (pada tanggal 06 Oktober 2017)

d. Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.

Dari keempat tujuan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999, dapat disimpulkan bahwa terdapatnya dua prinsip, yaitu bidang ekonomi dan tujuan diluar ekonomi. Apabila tujuan ekonomi tercapai, yaitu meningkatkan ekonomi nasional, maka tujuan luar ekonomi juga akan tercapai yaitu meningkatkan kesehjateraan rakyat. Penulis memandang bahwa asas dan tujuan ini diterapkan dengan satu pencapaian dalam persaingan usaha yaitu untuk membuat suatu persaingan antar pelaku usaha bukan hanya untuk mementingkan pelaku usaha sendiri melainkan mementingkan kepentingan umum serta menghindari terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Oleh karena itu penerapan asas dan tujuan dalam UU No. 5 Tahun 1999 ini dilanjutkan dengan pembahasan perjanjian yang dilarang dan kegiatan yang dilarang dalam hukum persaingan usaha.

Dokumen terkait