• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Identitas

BAB IV: IDENTITAS NASIONAL

A. Pengertian Identitas

Kata identitas berasal dari bahasa inggris identity secara harfiah memiliki arti ciri-ciri, tanda-tanda atau jatidiri yang pada seseorang atau suatu yang membedakannya dengan kelompok yang lain. Dalam term antropologi, identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini, identitas tidak terbatas pada individu semata tetapi berlaku pada suatu kelompok.58 Ciri khas atau Jatidiri yang melekat pada setiap individu dan masyarakat, maka menjadi identitas bagi kelompok masyarakat tersebut.

Salah satu cara untuk memahami identitas suatu bangsa dengan cara membandingkan satu bangsa dengan bangsa lain dengan cara mencari sisi umum yang ada pada bangsa itu. Pendekatan demikian dapat menghindarkan dari sikap kabalisme, yaitu penekanan yang berlebihan pada keunikan eklusivitas yang esoterik, karena tidak ada suatu bangsa pun di dunia ini yang mutlak berbeda dengan bangsa lain. Demikian menurut Darmaputra yang dikutip oleh Endang Zaelani Sukaya, dkk (2002).59 Pendekatan tersebut digunakan untuk menemukan sisi perbedaan antara identitas bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Sementara kata nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama dan bahasa maupun nonfisik seperti keinginan, cita-cita, dan tujuan. himpunan kelompok ini yang kemudian disebut dengan identitas bangsa atau identitas

58 Dede Rosyada, dkk, Pendidikan Kewargaaan (Civic Educa•on): Demokrasi, Hak Asasi Manusia Dan Masyarakat Madani. Cet. II. (Jakarta: Prenada Media, 2005), h 23.

59 Endang Zaelani Sukaya, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Ed. III. (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2002), h 11.

nasional yang pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok (collective action) yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional.60 Sedangkan kata nasional sendiri tidak bisa dipisahkan dari kemunculan konsep nasionalisme, yaitu yang berhubungan paham atau wawasan kebangsaan Indonesia.

Seorang filosof Yunani Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon polititicon, memiliki arti manusia adalah makhluk yang berkelompok. Sebagai makhluk hidup yang berkelompok manusia tidak bisa hidup sendiri karena manusia kebutuhan manusia terdapat pada manusia lain.

Manusia mulai membentuk kelompok hidup melalui keluarga, yang merupakan lingkungan terkecil. Kemudian manusia membentuk kelompok lebih besar, seperti; suku, masyarakat, dan bangsa. Dalam hal ini, bangsalah bentuk dari persekutuan hidup manusia. Sementara negara merupakan organisasi yang dibentuk oleh bangsa yang memiliki cita-cita bersatu, hidup dalam daerah tertentu, dan mempunyai pemerintahan yang sama.61

Setiap bangsa memiliki ciri khas sendiri yang berbeda dengan bangsa lain. Ciri khas suatu bangsa merupakan identitas bangsa tersebut, dan identitas yang disepakat dan diterima oleh bangsa menjadi identitas nasional. Identitas nasional penting sebagai pengikat dan pemersatu untuk mencapai tujuan bangsa. Selanjutnya identitas menjadi pembeda antara suatu bangsa dengan bangsa yang lain.

Reza (2014), memberikan penjelasan tentang fungsi identitas nasional yaitu:

1) Identitas nasional merupakan jawaban dari pertanyaan mengenai identitas individu dalam ruang global melalui identifikasi dan kebangsaan.

60 Dede Rosyada, dkk, Pendidikan Kewargaan..., h 23.

61 Winarno, Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan Panduan Kuliah Di Perguruan Tinggi. Ed. III. Cet. III. (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h 1.

2) Identitas nasional menawarkan renewal dan penghargaan dengan menjadi bagian dari komunitas politik yang bersifat “super family”.

3) Identitas nasional merealisasikan perasaan yang “fratern” khususnya melalui penggunaan simbul-simbul identitas ataupun seremonial.62

Identitas nasional dapat disebutkan menjadi jatidiri dan indikator kebangsaan Indonesia.

1. Bangsa, identitas, cultural unity dan political unity

Sejalan dengan pengertian tersebut konsep menurut Badri Yatim dalam Winarno (2014) bangsa memiliki dua pengertian, yaitu:

1) Bangsa dalam arti sosiologis antropologi, adalah merupakan persekutuan hidup masyarakat yg berdiri sendiri yang masing-masing anggota persekutuan hidup tersebut merasa satu ras, bangsa, agama dan adat istiadat.

2) Bangsa dalam arti politik, adalah suatu masyarakat dalam suatu daerah yg sama dan mereka tunduk pada kedaulatan negaranya sebagai suatu kesatuan tertinggi keluar dan ke dalam. Jadi mereka diikat oleh kekuasaan politik.

Ungkapan hampir sama tentang pengertian bangsa juga diberikan oleh tokoh lain. Hal ini sebagaimana pengertian bangsa yang diberikan oleh Jacobsen dan lipman yang dikutip oleh Soegito dalam Winarno (2014), bangsa memiliki dua pengertian, yaitu: 1) Bangsa adalah suatu cultural unity. Cultural unity terjadi karena

suatu masyarakat sebagai persekutuan hidup itu merasa satu satuan dalam ras, bahasa, religi, sejarah, dan adat istiadat. 2) Bangsa dalam arti politik (kenegaraan), adalah Political Unity.

Masing-masing anggota warga negara dalam political unity mungkin berbeda corak dalam lapangan kehidupannya, adat

62 Reza Noormansyah, Signifikan Iden•tas Nasional Dalam Globalisasi: Studi Kasus Olahraga Otomo•f. Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 3, No. 2. Agustus 2014, h 781.

istiadat dan kebudayaannya, tetapi mereka menjadi satu bangsa, menurut pengertian politik menjadi penduduk (warga negara) yang berdiam di suatu daerah yang sama, dengan pemerintahan yang sama, dan tunduk pada kedaulatan negara sebagai kekuasaan tertinggi.63

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dianalisis bahwa identitas tersebut terbentuk atau muncul dalam suatu kelompok masyarakat atas dasar memiliki atau diikat oleh kesamaan, seperti; agama, ras, persepsi sejarah bangsa, bahasa dan adat istiadat (Cultural Unity). Bangsa dalam hal politik uniti terbentuk karena atas dasar otoritas politik (kekuasan negara), masyarakat atau bangsa yang menetap pada suatu negara diikat oleh otoritas negara.

Cultural unity bisa disebutkan sebagai suatu etnis, ras atau

bangsa yang hidup dalam suatu daerah atau negara. Cultural unity bukan sebuah negara namun hanya kelompok atau etnis masyarakat yang hidup dalam suatu negara, misalnya negara Indonesia terdapat suku Aceh, Padang, Jawa, dan lain. Dalam satu suku kecil pun terdapat dapat suku-suku kecil lagi, misalnya Aceh. Aceh terdapat banyak atnis-etnis kecil lagi, ada alas atau gayo dan lain-lain, yang memiliki budaya yang berbeda dengan daerah-daerah lain yang ada di Aceh.

Politycal unity, kelompok atau etnis masyarakat yang menetap dalam suatu wilayah yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, namun mereka menjadi suatu bangsa dalam pengertian politik. Bangsa atau disebut pula dengan anggota political unity menetap pada suatu daerah yang sama, pemerintahan yang sama, dan tunduk pada pemerintahan tertinggi. Misalnya bangsa Indonesia, bangsa Arab, bangsa Thailand, Bangsa Cina, dan lain-lain.

2. Proses pembentukan negara

Bagaimana proses terjadi atau pembentukan suatu negara, secara umum terdapat dua proses. Hal sebagaimana dijelaskan oleh Ramlam Subakti dalam Winarno (2014), yaitu:

1) Model ortodoks yaitu bermula adanya suatu bangsa terlebih dahulu, kemudian bangsa tersebut membentuk negara sendiri. Contoh: bangsa yahudi, berupaya mendirikan negara Israel. Setelah bangsa dan negara terbentuk maka rezim politik (penguasa) dirumuskan berdasarkan konstitusi negara selanjutnya dikembangkan melalui partai politik.

2) Model mutakhir, yaitu berawal dari adanya negara terlebih dahulu yang terbentuk melalui proses tersendiri, sedangkan penduduk negara merupakan sekumpulan suku bangsa dan ras. Contoh: muncul negara Amerika Serikat pada tahun 1776.64

Pembentukan negara menurut model ortodoks lebih mudah karena dan tidak memakan waktu lama karena hanya membentuk struktur pemerintah dan bukan membentuk identitas kultural baru. Sementara proses pembentukan negara model mutakhir lebih lama karena harus mendapat kesepakatan kelompok masyarakat tentang untuk membentuk identitas kultural baru.

Dokumen terkait