BAB II Pembahasan
3. Pengertian dan arti penting REVITALISASI dan IMPLEMENTASI
3.2 Pengertian IMPLEMENTASI
Pengertian Implementasi Menurut Para Ahli - Impelentasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaaan sudah dianggap fix. berikat ane akan sedikit info tentang pengertian implentasi menurut para ahli. semoga info tentang pengertian implementasi menurut para ahli bisa bermanfaat.
Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa.” Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas, tindakan, dan mekanisme suatu sistem.
3.3 Arti Penting Revitalisasi dan Implementasi Kaidah Tata Bahasa Indonesia
Sebagai bahasa resmi (negara), usia bahasa Indonesia sudah mencapai bilanganke-66 tahun. Bahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sudah berusia 83 tahun. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, dalam rentang usia tersebut idealnya sudah mampu mencapai tingkat maturasi atau “kematangan” dan“kesempurnaan” hidup, sebab sudah banyak merasakan liku-liku dan pahit getirnya perjalanan sejarah. Untuk menggetarkan gaung penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar pun pemerintah telah menempuh “politik kebahasaan” dengan menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. Pertanyaan bernada pesimis pun bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap fleksibel dan inklusif dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan dinamika? Masih setia dan banggakah para penuturnya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah-tengah perubahan dan dinamika itu?. Sementara itu, jika
kita melihat kenyataan di lapangan, secara jujur harus diakui, bahasa Indonesia belum difungsikan secara baik dan benar. Para penuturnya masih dihinggapi sikap inferior (rendah diri) sehingga merasa lebih modern, terhormat, dan 2 terpelajar jika dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulis, menyelipkan setumpuk istilah asing―padahal sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Agaknya pemahaman, penghayatan, dan penghargaan kita terhadap bahasa nasional dan negara sendiri belum tumbuh secara maksimal dan proporsional. Padahal, tak henti-hentinya pemerintah menganjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan, juga telah menunjukkan perhatian yang cukup besar dan serius dalam upaya menumbuhkembangkan bahasa Indonesia.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B), pemerintah telah meluncurkan beberapa kaidah kebahasaan baku agar dapat dijadikan sebagai acuan segenap lapisan masyarakat dalam berbahasa Indonesia, seperti Pedoman Umum Ejaan yangDisempurnakan (EYD), Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI), Tata Bahasa Indonesia Baku (TBIB), maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah itu tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak. Pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah: kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakannyata dari penuturnya.
Bahasa Indonesia memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagai alat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami infrormasi di segala aspek kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut, bahasa berfungsi sebagai media penyampaian
informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakanmedia tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesiayang baik dan benar. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah sub. materi dalam ketata bahasaan Indonesia, yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa secara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di sampaikan dan di fahami secara komprehensif dan terarah. Dalam praktiknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.
Revitalisasi dan implementasi kaidah tata bahasa Indonesia harus kita perhatikan, sebab bahan ajar yang ada dalam buku paket dinilai belum sepenuhnya mampu menarik minat dan gairah siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Jika langkah revitalisasi tersebut dapat terwujud, tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah bukan mustahil diraih. Anjuran pemerintah untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada seluruh masyarakat pun tidak akan bersifat sloganistis.
Bahkan, mungkin pada gilirannya nanti bahasa Indonesia benar-benar akan menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di era globalisasi, fleksibel dan inklusif, dan para penuturnya akan tetap bangga dan setia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif ditengah derap peradaban jaman. Sebab, jutaan generasi yang memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa nasional dan negaranya akan lahir dari sekolah.
Bahasa adalah salah satu produk budaya manusia. Sebagai sebuah produk budaya, bahasa dituntut untuk selalu dinamis sesuai dengan perkembangan kebudayaan yang ada pada masyarakat penuturnya. Dengan demikian, sebuah bahasa akan tetap adaptif terhadap kebutuhan komunikasi masyarakat pendukungnya. Selain mengemban fungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan sarana ekspresi dalam menuangkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep serta sarana transformasi atas nilai-nilai kebudayaan itu sendiri. Hampir semua komponen produk kebudayaan seperti yang dinyatakan Taylor dalam Ohoiwutun (2002: 77) bahwa pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat,serta kemampuan dan kebiasaan lainnya membutuhkan sebuah bahasa sebagai sarana transformasinya. Upaya pemeliharaan martabat, fungsi dan peran sebuah bahasa tidak terlepas dari kebijakan bahasa ( language policy).
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang serbamulti: multibahasa, multiagama dan multietnis dengan menggunakan satu bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah merekatkan semua kalangan dan menerima semuaperbedaan kebahasaan dan kebudayaan daerah sebagai kekayaan kebudayaan nasional. Jaminan negara terhadap bahasa seperti telah terjabarkan dalam Undang-UndangDasarNegara Republik Indonesiatahun 1945, Pasal 32 Ayat (1) dan (2), yang mendudukkan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara. Dengan status demikian, nasionalisasi bahasa Indonesia semakin kukuh sebagai lambang jatidiri bangsa. Krauss (1992) dalam Mahsun (2004) mengelompokkan bahasa ke dalam tigakelompok berdasarkan gejala umum yang terjadi pada bahasa-bahasa di dunia, seperti jumlah penutur, prestise sosiokultural, dan dukungan pemerintahterhadap pemakaiannya, yakni: a). kelompok bahasa yang tidak lagi dikuasai dan digunakan oleh anak-anak dari penutur suatu bahasa; b). kelompok bahasa yang dalam satu/dua generasi tidak lagi dikuasai dan dipelajari oleh keturunan penutur suatu bahasa). kelompok bahasa yang termasuk kategori aman yang masing-masing disebut moribund.
Padahal di lain pihak, bahasa daerah memegang peran penting bagi perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia. Upaya untuk mentransformasi budaya (baca:bahasa) daerah ke dalam kosa katabahasa nasional diharapkan sebagai langkah nyata pemeliharaan bahasa-bahasa daerah, disamping itu dari sanalah kita berpijak bahwa keberagaman tercipta sebagai kekayaan bukan sebaliknya. Salah satu keputusan yang bersifat politis yang dihasilkan Seminar Politik Bahasa tahun 2000 adalah ditentukannya fungsi bahasa daerah sebagai: lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah, alat perhubungan di dalam keluarga danmasyarakat daerah, sarana pendukungbudaya daerah dan bahasa Indonesia, pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia. Selain itu, dalam hubungannyadengan revitalisasi bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai: pendukung bahasa nasional, bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain, dan sumber kebahasaan untuk memperkaya bahasa Indonesia, serta dalam keadaan tertentu dapatberfungsi sebagai pelengkap bahasa Indonesia di dalam penyelenggaraan pemerintahan pada tingkat daerah (Alwi dan Dendy Soegono (2000) dalam Mahsun (2004)).Sebagaimana yang kita ketahui segala sesuatu yang ada dalam masyarakatditentukan oleh kebudayaan masyarakat itu sendiri. Baik buruknya perilaku atau sikapmasyarakat juga bergantung pada kebudayaannya. Setiap masyarakat mempunyaikebudayaan yang secara kontinu ditaati dan diajarkan dari generasi ke generasi berikutnya.Secara sadar atau tidak sadar, secara terstruktur maupun tidak terstruktur,masyarakatmelalui anggota-anggotanya akan mengajarkan kebudayaannya. Proses mengajarkan inilahyang disebut sebagai transformasi budaya atau pewarisan kebudayaan.Dalam proses belajar kebudayaannya, manusia tentunya tidak begitu sajamenerima apa adanya.Ia akan selalu menggunakan daya nalarnya untuk memahami,menyelami, memilih, dan melaksanakan apa yang menurut pandangannya baik. Bisa sajayang ia lakukan sedikit berbeda atau berbeda sama sekali dengan yang diajarkan olehkebudayaan atau masyarakatnya. Perbedaan ini
awalnya bisa menimbulkan konflik dalammasyarakat. Namun, jika kemudian dapat saling menyesuaikan diri, konflik itu pun akanhilang.
Proses transformasi budaya dapat dilakukan melalui ucapan, sikap, atau perilaku yang sudah terpola. Dengan kata lain, transformasi kebudayaan dilakukan melalui prosesbelajar yang selanjutnya bisa berupa sosialisasi dan enkulturasi.Selanjutnya, setelah anak beranjak besar atau remaja, ia akan belajar dari temanseusianya. Ia mulai mengenal nilai-nilai, norma-norma, atau budaya yang mungkinberbeda dengan yang ada dalam lingkungan keluarganya. Setelah dewasa, ia akan semakinluas mengembangkan potensinya seiring dengan perkembangan kepribadiannya.Sosialisasi adalah suatu proses ketika seseorang mempelajari cara hidupmasyarakat untuk mengembangkan potensi dirinya. Proses sosialisasi diawali darikeluarga. Seorang anak yang baru lahir akan diajarkan berbagai kemampuan danpengetahuan dasar yang ditentukan dengan kebiasaan atau kebudayaan tempat keluargatersebut tinggal.Ia akan dikenalkan status dan peran sosial orang-orang di sekelilingnya, sepertipanggilan ayah, ibu, kakak, atau paman dan bibi. Ia juga akan dikenalkan nilai dan normasosial yang ada di lingkungan keluarga dan sekitarnya.Enkulturasi adalah prosesseseorangmempelajari dan menyesuaikan diri, baik pemikiran maupun sikapnya terhadap adatistiadat, sistem sosial, nilai, norma, dan aturan yang hidup atau berlaku dalam budayanya.Proses ini juga sebenarnya sering diartikan sebagai sosialisasi kebudayaan,terutama dalam kaitannya dengan pewarisan kebudayaan atau transformasi budaya.Sosialisasi merupakan pengenalan seseorang terhadap lingkungan sosial ataumasyarakatnya, sedangkan enkulturasi merupakan proses pengenalan seseorang denganbudaya atau kebudayaan yang berlaku dalam masyarakatnya.Perbedaan ini sebenarnya untuk kepentingan penelaahan ilmu pengetahuan karenasebenarnya antara sosialisasi dan enkulturasi yang dipelajari adalah sesuatu yang sama dan merupakan suatu yang menyatu atau integral. Jadi, apa yang diwariskan atau diajarkandalam sosialisasi merupakan sesuatu yang diajarkan pula dalam enkulturasi.Untuk
mengembalikan kehidupan masyarakat Indonesia ke jalan yang telahditempuh para pendiri bangsa (founding fathers) yang berbasis moral agama, kita perlumengadakan perubahan budaya dan mengekalkan perubahan tersebut dalam sastra dan bahasa. Maka disinilah letak pentingnya revitalisasi bahasa Indonesia sebagai basistransformasi budaya bangsa. Karena berpalingnya kita dari pemikiran-pemikiran dasar parapendiri bangsa, pengalaman bangsa kita tercinta ini menjadi suram yang ditandai olehmerosotnya moral atau demoralisasi, runtuhnya kesadaran berbangsa, semaraknya paham Barat seperti relativisme moral, free values dan paham-paham Barat lainnyayangkurang begitu relevan. Tak lain dan tak bukan, apa yang dapat kita laksanakan dalam duniasastra dan bahasa adalah mengadakan perubahan (transformasi) besar-besaran.Hal tersebutdapat dilaksanakan dalam bentuk tulisan yang bersifat jurnal ilmiahatau majalahilmiah/budaya dan dikirim pada lembaga-lembaga yang bersangkutan.
4. Perspektif Para Remaja Mengenai Kaidah Tata Bahasa Indonesia
Disadari atau tidak bahasa adalah elemen penting dari sebuah tata kehidupan manusia yang komplek. Dengan bahasa orang akan mampu menyamakan persepsi mereka lewat komunikasi interpersonal maupun kelompok. Bahasa pulalah yang dapat menjadi alat efektif dalam komunikasi antar negara dan bangsa sebagai bagian konsekuensi dunia global. Untuk itu mempelajari tata bahasa yang baik dan benar merupakan suatu hal yang menjadi keharusan bagi setiap individu yang ingin mencapai keberhasilan.
Di Indonesia bahasa merupakan salah satu dari sekian banyak identitas nasional. Hal ini tak di ragukan lagi karena jelas tertulis dalam peristiwa penting sumpah pemuda yang di bacakan untuk pertama kali pada tanggal 28 oktober 1928. Penggalan teks sumpah pemuda ini “kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” jelas mengungkapkan bagaiamana bahasa Indonesia merupakan elemen penting dari pencapaian kesatuan Indonesia. Merupakan sesuatu
yang logis karena Indonesia yang mempunyai berbagai bahasa daerah di setiap wilayah.
Sekarang ini penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sesuai dengan EYD semakin berkurang. Orang khususnya para remaja lebih gemar belajar bahasa asing seperti inggris, perancis, jepang ataupun bahasa asing lain. Tidak ubahnya di dunia pendidikan yang harusnya menjadi wadah untuk siswa mengenal dan mempejari bahasa indonesia, sekarang ini lebih menekankan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar mata pelajaran. Terutama sekolah-sekolah yang berlebel standar internasional. Alasannya, bahasa inggris lebih diutamakan karena menjadi bahasa internasional yang akan sangat menunjang bagi mobilitas komunikasi di era global. Pengaruh bahasa asing terutama inggris juga terlihat dengan banyaknya istilah-istilah yang banyak digunakan. Misalnya kata- kata workshop, download, upload, misunderstanding, live report,
ataupun newsupdate lebih sering kita dengar dari pada kita mendengar sanggar kerja, unduh, unggah, salah pengertian, laporan langsung, dan berita terkini dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan para remaja merasa mereka akan di anggap dianggap lebih pandai dan intelek jika mampu menggunakan istilah asing dalam pecakapan, pidato, ataupun tulisan-tulisannya. Padahal tidak demikian, orang tersebut justru kurang pandai dalam mencari persamaan istilah asing tersebut dengan istilah dalam bahasa indonesia yang sesuai.
Dalam praktiknya, bahasa indonesia memang digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Akan tetapi pengunaannya jauh dari aturan yang ada (EYD). Terutama di kalangan anak remaja yang kini lebih mengenal bahasa “gaul” yang dianggap lebih mempresentasikan maksud dan tujuan yang diinginkan. Kata-kata seperti “galau, ciusmiapah, penting buat loe, teyus gue harus bilang woow gitu”, merupakan sebagian kecil dari istilah-istilah yang dikatakan lagi ngetrend dan gaul yang di gunakan dalam percakapan sehari-hari kalangan remaja. Iklan- iklan ditelevisi pun terseret ke dalam penggunaan bahasa gaul ini. Jarang sekali menjumpai
iklan yang mengunakan bahasa indonesia secara baik. Mungkin saja mereka takut produknya tidak laku dipasaran jika tidak mengikuti trend.
Padahal jika kita menelisik sedikit ke negara Australia, kita akan mengetahui bahwa disana bahasa indonesia merupakan bahasa yang wajib di pelajari di beberapa sekolah terutama di kalangan siswa SD, jadi jangan kaget ketika kita bertemu dengan anak SD di sana kemudian disapa “Apa kabar?”. Di negara kangguru tersebut bahasa indonesia juga merupakan bahasa populer ke empat setelah inggris, cina, dan jepang. Jadi bahasa indonesia bukan bahasa yang kuno atau membosankan untuk dipelajari. Untuk itu sudah sewajarnya kita sebagai warga Indonesia khususnya para remaja untuk ikut berpartisipasi aktif dalam perbaikan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD. Jangan sampai bahasa yang telah dikumandangkan sebagai bahasa persatuan dan bagian dari identitas bangsa terhapus oleh bahasa gaul dan istilah-istilah asing yang semakin hari semakin marak digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Peran pemerintah juga lewat lembaga-lembaga resminya juga sangat diperlukan dalam hal ini.
5. Ragam Bahasa yang Digunakan Para Remaja Dalam Kehidupan Sehari-hari
5.1 Ragam Bahasa Indonesia
Adanya bermacam-macam ragam bahasa terjadi karena fungsi, kedudukan serta lingkungan yang berbeda-beda. Ada beberapa ragam bahasa yaitu :
Ragam Lisan dan Ragam Tulis
Perbedaan ragam lisan dan tulis yaitu :
6. Ragam lisan mengendaki adanya orang kedua, teman bicara sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan.
7. Dalam Ragam lisan unsur-unsur gramatikan seperti subjek, prediket dan objek tidak selalu dinyatakan, sedangkan ragam tulis harus dinyatakan. 8. Ragam lisan sangat terikan pada kondisi, situasi, ruang dan waktu
sedangkan ragam tulis tidak.
9. Ragam lisan dipengaruhi oleh intonasi suara sedangkan ragam tulis dipengaruhi oleh tanda baca, huruf kapital dan huruf miring.
1. Ragam Baku dan Ragam Tidak Baku
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannyasebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan da ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
2. Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku-buku-buku ilmiah lainnya.
Ragam baku lisan bergantung kepada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapannya.
3. Ragam Sosial Dan Ragam Fungsional
Ragam sosial adalah ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat.
Ragam fungsional adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja atau kegiatan tertentu lainnya.
Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Variasi bahasa ada beberapa macam yaitu :
1. Variasi bahasa dari segi penutur
Yaitu variasi bahasa yang muncul dari setiap orang baik individu maupun sosial.
1. Variasi bahasa dari segi pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau funsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain.
1. Variasi bahasa dari segi keformalan
Variasi bahasa dari segi keformalan ada beberapa macam yaitu : 2. Variasi Baku (frozen)
Adalah variasi bahasa yang paling formal yang digunakan pada situasi hikmat seperti upacara kenegaraan dan khotbah.
3. Variasi Resmi (formal)
Adalah Variasi bahasa yag digunakan pada kegiatan resmi atau formal seperti surat dinas dan pidato kenegaraan.
4. Variasi Usaha (konsultatif)
Adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa. Seperti pembicaraan di sekolah dan rapat.
5. Variasi santai (casual)
Adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi. Seperti perbincangan dalam keluarga atau perbincangan dengan teman. 6. Variasi akrab (intimate)
Adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab.
7. Variasi bahasa dari segi sarana
Adalah variasi bahasa yang dapat dilihat dari sarana atau jalur yang digunakan. Seperti telepon, telegraf dan radio.
6. Tujuan Revitalisasi dan Implementasi Kaidah Tata Bahasa Indonesia Dalam Kehidupan Para Remaja
Tentunya, bahasa gaul yang telah kita ketahui bersama sangat kuat pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat remaja dalam hal bertutur kata. Bahasa gaul dapat timbul dimana saja, Bahasa yang digunakan oleh anak muda pada umumnya ini muncul dari kreativitas mengolah kata baku dalam bahasa Indonesia menjadi kata yang tidak baku dan cenderung tidak lazim. Bahasa gaul kita dapati dimana saja, karena bahasa gaul dapat timbul di iklan televisi, lirik lagu remaja, novel remaja dan banyak lagi. Inilah kenyataan bahwa tumbuhnya bahasa gaul ditengah keberadaan bahasa Indonesia tidak dapat dihindari, ini karena pengaruh perkembangan teknologi yang terus berkembang dan karena bahasa gaul
dipakai anak muda kebanyakan, maka cepat atau lambat bahasa Indonesia akan tergeser keberadaannya.
Jelas sekali dalam hal ini bahwa penggunaan bahasa yang tidak baik akan membawa dampak buruk terhadap keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang memiliki fungsi sebagai pemersatu dari keberagaman budaya bangsa ini.
Untuk membedakan gaya bahasa yang baik dan gaya bahasa yang buruk, Gorys Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa memaparkan tiga unsur dalam gaya bahasa yang baik. Ketiga unsur tersebut adalah: kejujuran, sopan-santun, dan menarik.
Kejujuran : gaya bahasa mengikuti aturan-aturan atau kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa,
Sopan-santun : gaya bahasa memberikan penghargaan atau menghormati orang lain yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat ini diwujudkan melalui gaya bahasa yang menggunakan ungkapan-ungkapan jelas dan singkat,
Menarik : Penggunaan gaya bahasa yang variatif akan menghindari monotomi dalam nada, struktur, dan diksi. Selain itu, gaya bahasa yang menarik juga memiliki kosakata yang luas serta mengandung tenaga untuk menciptakan rasa gembira dan nikmat.