MAKALAH
“REVITALISASI DAN IMPLEMENTASI”
Kaidah tata bahasa dalam perkembangan kehidupan dikalangan para remaja. (Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia)
Disusun :
ALIF ABDUL JABBAR EVI LATIFATUS SIRRI
RISMA JULIANTI
Kelas : XI IPA II
MADRASAH ALIYAH NEGERI SUKAMANAH
Jl. Taman Makam Pahlawan KH. Zainal Musthafa Sukamanah Sukarapih Sukarame Tasikmalaya kode pos 46461
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmannirrohim
Ya Allah, beribu pujian hanya pantas untukmu, dzat yang maha pengasih lagi maha penyayang. Tak terhitung kiranya nikmat darimu, namun terkadang kami terpedaya akan ke alfaan dunia. Segala puji syukur kami ucapkan hanya untukmu ya Allah, dzat yang maha yang maha Rahman lagi maha Rahim. Atas keindahan desain engkaulah kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik tanpa hambatan yang berarti.
Wahai Rosulul Amin, Sayyidul Mursalin, semoga kasih sayang dan rahmat allah selalu tercurahkan kepada engkau tanpa akhir batas dan kefanaan fi makanil adzim.
Di dalam sejarah dunia pendidikan, perkembangan kaidah tata bahasa telah mencapai pada tahap penyempurnaan. Kesesuaian tata bahasa yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari–hari sangat berarti penting sejauh mana kesesuaian kaidah tata bahasa diterapkan menjadi unsur utama dalam pelafalan di kehidupan masyarakat.
Namun apabila kita melihat perkembangan pendidikan pada kaum remaja, khususnya mengenai kaidah tata bahasa, banyak mengalami penyimpangan-penyimpangan, baik yang kita sadari maupun yang luput dari perhatian kita. Penyimpangan terhadap kaidah tata bahasa di kalangan remaja sangat berpengaruh negative bagi dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat itu sendiri.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :
1. Ibu Eneng Sri, S.Pd. Selaku ibu pengajar pelajaran Bahasa Indonesia yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dorongan dan pikirannya untuk memberi bimbingan, pengarahan serta nasehat yang berguna kepada penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini.
2. Rekan-rekan pelajar yang telah membantu dengan memberikan berbagai tanggapan dalam penysunan makalah ini.
Namun, di dalam makalah ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan yang harus diperbaiki kembali. Oleh karena itu kami berharap kepada sahabat pembaca untuk menyampaikan kritik dan saran yang sifatnya konstruktif kepada kami.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk sahabat pembaca, dan semoga mampu meningkatkan kembali kecerdasan dalam berbahasa.
Sukamanah, Februari 2014
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi... BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah... 2
1.3 Pembatasan Masalah... 3
1.4 Metode Pengumpulan Data... 3
1.5 Manfaat dan Tujuan... 3
BAB II Pembahasan 1. Sejarah dan Perkembangan bahasa Indonesia... 4
1.1 Sejarah bahasa Indonesia... 4
1.2 Perkembangan bahasa Indonesia... 6
1.3 Sumber bahasa Indonesia... 9
1.4 Peresmian nama bahasa Indonesia... 9
1.5 Bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia... 10
1.6 Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan bahasa Indonesia... 11
1.7 Peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia... 13
1.8 Kedudukan dan pungsi bahasa Indonesia... 16
1.8.1 Kedudukan bahasa Indonesia... 15
1.8.2 Pungsi bahasa Indonesia... 15
1.9 Ragam bahasa Indonesia... 15
2. Pengertian Ejaan Yang Di Sempurnakan... 16
3. Pengertian dan arti penting REVITALISASI dan IMPLEMENTASI Dalam kaidah tata bahasa Indonesia... 17
3.1 Pengertian REVITALISASI... 17
3.3 Arti penting revitalisasi dan implementasi
kaidah tata bahasa Indonesia... 18 4. Perspektif para remaja mengenai kaidah tata bahasa Indonesia... 23 5. Ragam bahasa yang digunakan para remaja
dalam kehidupan sehari-hari... 25 5.1 Ragam bahasa Indonesia... 25 5.2 Variasi bahasa Indonesia... 26 6. Tujuan REVITALISASI dan IMPLEMENTASI kaidah
Tata bahasa Indonesia dalam kehidupan para remaja... 27 BAB III Penutup
BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi saat ini, arus teknologi semakin gencar-gencarnya memasuki ranah kehidupan masyarakat. Mengubah dan memindahposisikan berbagai bidang aspek kehidupan.
Masa remaja merupakan masa yang paling rentan dalam mengarungi berbagai perubahan kehidupan. Kebebasan dalam pergaulan tidak selalu memberikan dampak positif dalam pola kehidupan, namun terkadang pula berbagai dampak negatif datang menghantam, seakan-akan meleburkan berbagai aspek menjadi suatu kebiasaan.
Masa remaja, terkadang merupakan masa yang begitu mudahnya terpengaruh berbagai dampak negatif, baik dalam pola tingkah laku, maupun hubungan sosial, dan terutama mengenai etiket dan bahasa pergaulan. Akhir-akhir ini, bahasa pergaulan yang diaplikasikan di kalangan para remaja terkadang sangat jauh menyimpang dari kaidah ketatabahasaan yang baik dan benar. Bahasa pergaulan seakan-seakan menjadi bahasa yang lumrah dalam hubungan komunikasi antar remaja. Yang lebih mengkhawatirkan lagi apabila bahasa gaul itu menjadi primadona di kalangan kehidupan para remaja.
sosial di dunia maya kini makin menyebar layaknya jamur. Friendster, Koprol, Tumblr, Plurk, Facebook, Twitter dan banyak lagi macamnya. Umumnya kalangan remajalah yang aktif menggunakan sarana jejaring sosial ini. Kini bahasa gaul yang kian santer digunakan para remaja dalam berkomunikasi. Hal ini ikut pula dapat merusak tatanan bahasa 7ocial7ia melenceng dari kaedah yang seharusnya. Namun bahasa gaul masih 7oci di tolerir karena masih dapat dibaca dengan jelas hanya mungkin yang tidak mengerti artinya pasti akan bertanya-tanya apa yang dimaksudkan dari kata tersebut. Penulisan dalam berkomunikasi ala remaja pun kini jadi sorotan. Penyingkatan kata yang diawali dari pengetikan saat mengirim SMS (Short Message Service) . Hal itu 7oci di maklumi karena namanya saja short maka character yang disediakan terbatas. Hingga akhirnya para remaja makin beraksi dengan penulisan besar kecil penyingkatan yang berlebihan sehingga sulit dibaca sampai pengubahan abjad menjadi huruf lain yang sulit dicerna.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang di bahas dalam makalah ini sebagai berikut : 1.2.1 Bagaimana perkembangan tata bahasa Indonesia sampai pada tahap
penyempurnaan ?
1.2.2 Bagaimana pengertian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) menurut para ahli ?
1.2.3 Bagaimana perspektif para remaja mengenai kaidah tata Bahasa Indonesia ?
1.2.4 Bagaimana ragam bahasa yang digunakan para remaja ketika mereka bergaul dalam kehidupan sehari-hari ?
1.2.5 Bagaimana arti penting REVITALISASI dan IMPLEMENTASI dalam kaidah tata Bahasa Indonesia ?
1.2.6 Mengapa REVITALISASI dan IMPLEMENTASI kaidah tata bahasa Indonesia penting diaplikasikan dalam kehidupan remaja ?
1.3 Pembatasan Masalah
Manusia merupakan makhluk yang tidak akan pernah terlepas dari kealfaan, kesalahan, dan keterbatasan. Keterbatasan kami dalam menyusun makalah ini tidak luput dari peran kami yang hanya sebagai makhluk sang maha kuasa. Oleh karena itu, di dalam penyusunan makalah ini kami membatasi hanya membahas seputar para remaja dalam menggunakan kaidah tata bahasa Indonesia dan bagaimana para remaja dalam merevitalisasi dan mengimplementasikan kaidah tata bahasa Indonesia dalam kehidupan remaja.
1.4 Metode Pengumpulan Data
baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, dan jelas.
2.5 Manfaat dan Tujuan Penelitian 2.5.1 Manfaat penelitian
1.5.1.1 Manfaat secara teoritis
Semoga dalam penyusunan makalah ini, sahabat pembaca mampu memahami bagaimana kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan mampu memahami ragam bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.
1.5.1.2 Manfaat secara praktis
Semoga para pembaca mampu memiliki paradigma baru dan mampu megaplikasikan kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.
2.5.2 Tujuan penelitian
1.5.2.1 Mengetahui perkembangan tata Bahasa Indonesia sampai pada tahap penyempurnaan.
1.5.2.2 Mengetahui pengertian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) menurut para ahli.
1.5.2.3 Mengetahui perspektif para remaja mengenai kaidah tata Bahasa Indonesia.
1.5.2.4 Mengetahui ragam bahasa yang digunakan para remaja ketika mereka bergaul dalam kehidupan sehari-hari.
1.5.2.5 Mengetahui arti penting REVITALISASI dan IMPLEMENTASI dalam kaidah tata Bahasa Indonesia. 1.5.2.6 Memahami REVITALISASI dan IMPLEMENTASI kaidah
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah dan Perkembangan Bahasa Indonesia 1.1 Sejarah Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.
Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.
Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36). Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga
hampir di seluruh Asia Tenggara.
berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa
Melayu Kuno.
Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa baku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antar suku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang
datang dari luar Nusantara.
Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.
makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928). Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.
1.2 Perkembangan Bahasa Indonesia
Bahasa merupakan salah satu unsur identitas nasional. Bahasa dipahami sebagai sistem perlambangan yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan digunakan sebagai sarana berinteraksi manusia. Di Indonesia terdapat beragam bahasa daerah yang mewakili banyaknya suku-suku bangsa atau etnis.
melayu juga menjadi bahasa transaksi perdagangan internasional di kawasan kepulauan nusantara yang digunakan oleh berbagai suku bangsa Indonesia dengan para pedagang asing.
Telah dikemukakan pada beberapa kesempatan, mengapa bahasa melayu dipilih menjadi bahasa nasional bagi negara Indonesia yang merupakan suatu hal yang menggembirakan.
Dibandingkan dengan bahasa lain yang dapat dicalonkan menjadi bahasa nasional, yaitu bahasa jawa (yang menjadi bahasa ibu bagi sekitar setengah penduduk Indonesia), bahasa melayu merupakan bahasa yang kurang berarti. Di Indonesia, bahasa itu diperkirakan dipakai hanya oleh penduduk kepulauan Riau, Linggau dan penduduk pantai-pantai diseberang Sumatera. Namun justru karena pertimbangan itu jualah pemilihan bahasa jawa akan selalu dirasakan sebagai pengistimewaan yang berlebihan. Alasan kedua, mengapa bahasa melayu lebih berterima dari pada bahasa jawa, tidak hanya secara fonetis dan morfologis tetapi juga secara reksikal, seperti diketahui, bahasa jawa mempunyai beribu-ribu morfen leksikal dan
bahkan beberapa yang bersifat gramatikal.
Faktor yang paling penting adalah juga kenyataannya bahwa bahasa melayu mempunyai sejarah yang panjang sebagai ligua France.
Dari sumber-sumber China kuno dan kemudian juga dari sumber Persia dan Arab, kita ketahui bahwa kerajaan Sriwijaya di sumatera Timur paling tidak sejak abad ke -7 merupakan pusat internasional pembelajaran agama Budha serta sebuah negara yang maju yang perdagangannya didasarkan pada perdagangan antara Cina, India dan pulau-pulau di Asia Tenggara. Bahasa melayu mulai dipakai dikawasan Asia Tenggara sejak Abad ke-7. bukti-bukti yang menyatakan itu adalah dengan ditemukannya prasasti di kedukan bukit karangka tahun 683 M (palembang), talang tuwo berangka tahun 684 M (palembang), kota kapur berangka tahun 686 M (bukit barat), Karang Birahi berangka tahun 688 M (Jambi) prasasti-prasasti itu bertuliskan huruf pranagari berbahasa melayu kuno.
832 M dan dibogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa melayu kuno. Pada zaman Sriwijaya, bahasa melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan , yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa melayu dipakai sebagai bahasa perhubungan antar suku di Nusantara. Bahasa melayu dipakai sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar nusantara. Informasi dari seorang ahli sejara China I-Tsing yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen Loen (I-Tsing : 63-159), Kou Luen (I-Tsing : 183), K’ouen loven (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Ali Syahbana, 1971 : 0001089), Kun’lun (parnikel, 1977 : 91), K’un-lun (prentice 1978 : 19), yang berdampingan dengan sanskerta.
Yang dimaksud dengan Koen-Luen adalah bahasa perhubungan (lingua france) dikepulauan nusantara, yaitu bahasa melayu. Perkembangan dan pertumbuhan bahasa melayu tampak makin jelas dari, peninggalan-peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu tertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujah, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil-hasil sastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti syair Hamzah Fansuri, hikayat raja-raja Pasai, sejarah melayu, Tajussalatin dan Bustanussalatin. Bahasa melayu menyebar kepelosok nusantara bersama dengan menyebarnya agama islam diwilayah nusantara bahasa melayu mudah diterima oleh masyarakat nusantara sebagai bahasa perhubungan antara pulau, antara suku, antara pedagang, antar bangsa, dan antar kerajaan karena bahasa melayu tidak mengenal tutur.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur, sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.
Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi yang pada masa lalu digunakan oleh kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar. Pemerintah kolonial Belanda melihat kelenturan Melayu Pasar dapat mengancam keberadaan bahasa dan budaya. Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan bahasa Melayu Tinggi, diantaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah digunakan oleh banyak pedagang dalam berkomunikasi.
Dan secara garis besar sejarah perkembangan ejaan bahasa indonesia, sudah mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu :
A. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua puluhan. Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia.
B. Ejaan Suwandi
Setelah ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang menggantikan, yaitu ejaan Suwandi. Ejaan ini berlaku mulai tahun 1947 sampai tahun 1972.
C. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan imi mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini merupakan penyempurnaan yang pernah berlaku di Indonesia.
Republik Indonesia Nomor : 57/1972 tentang peresmian berlakunya “Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Dengan berlakunya EYD, maka ketertiban dan keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia diharapkan dapat terwujud dengan baik.
1.3 Sumber Bahasa Indonesia
Sejarah tumbuh dan berkembangnya Bahasa Indonesia tidak lepas dari Bahasa Melayu. Dimana Bahasa melayu sejak dahulu telah digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan. Bahasa melayu tidak hanya digunakan di Kepulauan Nusantara, tetapi juga digunakan hampir diseluruh Asia Tenggara. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya Prasasti-prasasti kuno dari kerjaan di indonesia yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Melayu. Dan pasa saat itu Bahasa Melayu telah Berfungsi Sebagai :
1. Bahasa Kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan satra
2. Bahasa Perhubungan (Lingua Franca) antar suku di Indonesia
3. Bahasa Perdagangan baik bagi suku yang ada di indonesia mapupun pedagang yang berasal dari luar indonesia.
4. Bahasa resmi kerajaan.
Jadi jelashlah bahwa bahasa indonesia sumbernya adalah bahasa melayu.
1.4 Peresmian Nama Bahasa Indonesia
bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.
Secara Sosiologis kita bisa mengatakan bahwa Bahasa Indonesia resmi diakui pada Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Hal ini juga sesuai dengan butir ketiga ikrar sumpah pemuda yaitu “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Namun secara Yuridis Bahasa Indonesia diakui pada tanggal 18 Agustus 1945 atau setelah Kemerdekaan Indonesia.
1.5 Bahasa Melayu Diangkat Menjadi Bahasa Indonesia.
Penyebutan pertama istilah “Bahasa Melayu” sudah dilakukan pada masa sekitar 683-686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Sriwijaya, kerajaan maritim yang berjaya pada abad ke-7 sampai ke-12. Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuno di Jawa Tengah. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.
Berbagai batu bertulis (prasasti) yang ditemukan itu seperti:
1. Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, tahun 683. 2. Prasasti Talang Tuo di Palembang, tahun 684.
3. Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat, tahun 686.
4. Prasasti Karang Brahi antara Jambi dan Sungai Musi, tahun 688.
Yang kesemuanya beraksara Pallawa dan bahasanya bahasa Melayu Kuno memberi petunjuk bahwa bahasa Melayu dalam bentuk bahasa Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya.
1. Jawa Tengah: Prasasti Gandasuli, tahun 832, dan Prasasti Manjucrigrha. 2. Bogor: Prasasti Bogor, tahun 942.
Kedua prasasti di pulau Jawa itu memperkuat pula dugaan bahwa bahasa Melayu Kuno pada saat itu bukan saja dipakai di Sumatra, melainkan juga dipakai di Jawa.
Penelitian linguistik terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua dialek bahasa Melayu Kuno yang digunakan pada masa yang berdekatan.
Ada empat faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu :
1. Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan.
2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dielajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
3. Suku jawa, suku sunda dan suku suku yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
4. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
1.6 Peristiwa-Peristiwa Penting Yang Berkaitan Dengan Bahasa Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia dapat dirinci sebagai berikut :
1. Tahun 1801 disusunlah ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
3. Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kayo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad (dewan rakyat), seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.
4. Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi pengokohan bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan.
5. Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
6. Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tata bahasa Baru Bahasa Indonesia.
7. Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
8. Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
9. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik (ejaan soewandi) sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
11. Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
12. Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
13. Tanggal 28 Oktober – 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
14. Tanggal 21 – 26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
16. Tanggal 28 Oktober – 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
17. Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.
1.7 Peristiwa-peristiwa yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Indonesia
1. Budi Otomo.
Pada tahun 1908, Budi Utomo yang merupakan organisasi yang bersifat kenasionalan yang pertama berdiri dan tempat terhidupnya kaum terpelajar bangsa Indonesia, dengan sadar menuntut agar syarat-syarat untuk masuk ke sekolah Belanda diperingan,. Pada kesempatan permulaan abad ke-20, bangsa Indonesia asyik dimabuk tuntutan dan keinginan akan penguasaan bahasa Belanda sebab bahasa Belanda merupakan syarat utama untuk melanjutkan pelajaran menambang ilmu pengetahuan barat.
2. Sarikat Islam.
3. Balai Pustaka.
Dipimpin oleh Dr. G.A.J. Hazue pada tahu 1908 balai pustaku ini didirikan. Mulanya badan ini bernama Commissie Voor De Volkslectuur, pada tahun 1917 namanya berubah menjadi balai pustaka. Selain menerbitkan buku-buku, balai pustaka juga menerbitkan majalah.
Hasil yang diperoleh dengan didirikannya balai pustaka terhadap perkembangan bahasa melau menjadi bahasa Indonesia dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Meberikan kesempatan kepada pengarang-pengarang bangsa Indonesia untuk menulis cerita ciptanya dalam bahasa melayu.
2. Memberikan kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk membaca hasil ciptaan bangsanya sendiri dalam bahasa melayu.
3. Menciptakan hubungan antara sastrawan dengan masyarakat sebab melalui karangannya sastrawan melukiskan hal-hal yang dialami oleh bangsanya dan hal-hal yang menjadi cita-cita bangsanya.
4. Balai pustaka juga memperkaya dan memperbaiki bahasa melayu sebab diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh karangan yang akan diterbitkan di balai pustaka ialah tulisan dalam bahasa melayu yang bersusun baik dan terpelihara.
5. Sumpah Pemuda.
Kongres pemuda yang paling dikenal ialah kongres pemuda yang diselenggarakan pada tahun 1928 di Jakarta. Pada hal sebelumnya, yaitu tahun 1926, telah pula diadakan kongres pemuda yang tepat penyelenggaraannya juga di Jakarta. Berlangsung kongres ini tidak semata-mata bermakna bagi perkembangan politik, melainkan juga bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.
Sumatrenan Bond. Tujuan utama diselenggarakannya kongres itu adalah untuk mempersatukan berbagai organisasi kepemudaan pada waktu itu.
Pada tahun itu organisasi-organisasi pemuda memutuskan bergabung dalam wadah yang lebih besar Indonesia muda. Pada tanggal 28 Oktober 1928 organisasi pemuda itu mengadakan kongres pemuda di Jakarta yang menghasilkan sebuah pernyataan bersejarah yang kemudian lebih dikenal sebagai sumpah pemuda. Pertanyaan bersatu itu dituangkan berupa ikrar atas tiga hal, Negara, bangsa, dan bahasa yang satu dalam ikrar sumpah pemuda. Peristiwa ini dianggap sebagai awal permulaan bahasa Indonesia yang sebenarnya, bahasa Indonesia sebagai media dan sebagai symbol kemerdekaan bangsa. Pada waktu itu memang terdapat beberapa pihak yang peradaban modern. Akan tetapi, tidak bisa dipumgkiri bahwa cita-cita itu sudah menjadi kenyataan, bahasa Indonesia tidak hanya menjadi media kesatuan, dan politik, melainkan juga menjadi bahasa sastra indonesia baru.
1.8 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia 1.8.1 Kedudukan Bahasa Indoensia
Bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan yang sangat penting yaitu :
1. Sebagai Bahasa Nasional.
Seperti yang tercantum dalam ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ini berarti bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Nasional yang kedudukannya berada diatas bahasa-bahasa daerah.
Tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 (Bab XV Pasal 36) mengenasi kedudukan bahasa Indonesia yang menyatakan bahawa bahasa negara ialah bahasa Indonesia.
1.8.2 Fungsi Bahasa Indonesia
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :
1. Lambang kebangsaan 2. Lambang identitas nasional
3. Alat penghubung antarwarga, antardaerah dan antarbudaya
4. Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa indonesia berfungsi sebagai :
1. Bahasa resmi kenegaraan
2. Bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan
1. Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
2. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
1.9 Ragam Bahasa Indonesia
Adanya bermacam-macam ragam bahasa terjadi karena fungsi, kedudukan serta lingkungan yang berbeda-beda. Ada beberapa ragam bahasa yaitu :
Perbedaan ragam lisan dan tulis yaitu :
1. Ragam lisan mengendaki adanya orang kedua, teman bicara sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan.
2. Dalam Ragam lisan unsur-unsur gramatikan seperti subjek, prediket dan objek tidak selalu dinyatakan, sedangkan ragam tulis harus dinyatakan.
3. Ragam lisan sangat terikan pada kondisi, situasi, ruang dan waktu sedangkan ragam tulis tidak.
4. Ragam lisan dipengaruhi oleh intonasi suara sedangkan ragam tulis dipengaruhi oleh tanda baca, huruf kapital dan huruf miring.
1. Ragam Baku dan Ragam Tidak Baku
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan da ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
1. Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya.
Ragam baku lisan bergantung kepada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapannya.
1. Ragam Sosial Dan Ragam Fungsional
Ragam sosial adalah ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat.
2 Pengertian Ejaan Yang Di Sempurnakan
Ejaan yang disempurnakan adalah ejaan bahasa indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.
Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luasdari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan caramenuliskan bahasa.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalulintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudimematuhi rambu-rambu yang ada, terciptalah lalu lintas yang tertib danteratur. Seperti itulah kira-kira bentuk hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.
3. Pengertian dan arti penting revitalisasi dan implementasi dalam kaidah tata bahasa Indonesia
3.1 Pengertian Revitalisasi
program kegiatan apapun. Atau lebih jelas revitalisasi itu adalah membangkitkan kembali vitalitas. Jadi, pengertian revitalisasi ini secara umum adalah usaha-usaha untuk menjadikan sesuatu itu menjadi penting dan perlu sekali.
3.2 Pengertian Implementasi
Pengertian Implementasi Menurut Para Ahli - Impelentasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaaan sudah dianggap fix. berikat ane akan sedikit info tentang pengertian implentasi menurut para ahli. semoga info tentang pengertian implementasi menurut para ahli bisa bermanfaat.
Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa.” Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas, tindakan, dan mekanisme suatu sistem.
3.3 Arti Penting Revitalisasi dan Implementasi Kaidah Tata Bahasa Indonesia
kita melihat kenyataan di lapangan, secara jujur harus diakui, bahasa Indonesia belum difungsikan secara baik dan benar. Para penuturnya masih dihinggapi sikap inferior (rendah diri) sehingga merasa lebih modern, terhormat, dan 2 terpelajar jika dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulis, menyelipkan setumpuk istilah asing―padahal sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Agaknya pemahaman, penghayatan, dan penghargaan kita terhadap bahasa nasional dan negara sendiri belum tumbuh secara maksimal dan proporsional. Padahal, tak henti-hentinya pemerintah menganjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan, juga telah menunjukkan perhatian yang cukup besar dan serius dalam upaya menumbuhkembangkan bahasa Indonesia.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B), pemerintah telah meluncurkan beberapa kaidah kebahasaan baku agar dapat dijadikan sebagai acuan segenap lapisan masyarakat dalam berbahasa Indonesia, seperti Pedoman Umum Ejaan yangDisempurnakan (EYD), Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI), Tata Bahasa Indonesia Baku (TBIB), maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah itu tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak. Pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah: kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakannyata dari penuturnya.
informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakanmedia tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesiayang baik dan benar. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah sub. materi dalam ketata bahasaan Indonesia, yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa secara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di sampaikan dan di fahami secara komprehensif dan terarah. Dalam praktiknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.
Revitalisasi dan implementasi kaidah tata bahasa Indonesia harus kita perhatikan, sebab bahan ajar yang ada dalam buku paket dinilai belum sepenuhnya mampu menarik minat dan gairah siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Jika langkah revitalisasi tersebut dapat terwujud, tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah bukan mustahil diraih. Anjuran pemerintah untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada seluruh masyarakat pun tidak akan bersifat sloganistis.
Bahkan, mungkin pada gilirannya nanti bahasa Indonesia benar-benar akan menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di era globalisasi, fleksibel dan inklusif, dan para penuturnya akan tetap bangga dan setia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif ditengah derap peradaban jaman. Sebab, jutaan generasi yang memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa nasional dan negaranya akan lahir dari sekolah.
Bahasa adalah salah satu produk budaya manusia. Sebagai sebuah produk budaya, bahasa dituntut untuk selalu dinamis sesuai dengan perkembangan kebudayaan yang ada pada masyarakat penuturnya. Dengan demikian, sebuah bahasa akan tetap adaptif terhadap kebutuhan komunikasi masyarakat pendukungnya. Selain mengemban fungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan sarana ekspresi dalam menuangkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep serta sarana transformasi atas nilai-nilai kebudayaan itu sendiri. Hampir semua komponen produk kebudayaan seperti yang dinyatakan Taylor dalam Ohoiwutun (2002: 77) bahwa pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat,serta kemampuan dan kebiasaan lainnya membutuhkan sebuah bahasa sebagai sarana transformasinya. Upaya pemeliharaan martabat, fungsi dan peran sebuah bahasa tidak terlepas dari kebijakan bahasa ( language policy).
awalnya bisa menimbulkan konflik dalammasyarakat. Namun, jika kemudian dapat saling menyesuaikan diri, konflik itu pun akanhilang.
mengembalikan kehidupan masyarakat Indonesia ke jalan yang telahditempuh para pendiri bangsa (founding fathers) yang berbasis moral agama, kita perlumengadakan perubahan budaya dan mengekalkan perubahan tersebut dalam sastra dan bahasa. Maka disinilah letak pentingnya revitalisasi bahasa Indonesia sebagai basistransformasi budaya bangsa. Karena berpalingnya kita dari pemikiran-pemikiran dasar parapendiri bangsa, pengalaman bangsa kita tercinta ini menjadi suram yang ditandai olehmerosotnya moral atau demoralisasi, runtuhnya kesadaran berbangsa, semaraknya paham Barat seperti relativisme moral, free values dan paham-paham Barat lainnyayangkurang begitu relevan. Tak lain dan tak bukan, apa yang dapat kita laksanakan dalam duniasastra dan bahasa adalah mengadakan perubahan (transformasi) besar-besaran.Hal tersebutdapat dilaksanakan dalam bentuk tulisan yang bersifat jurnal ilmiahatau majalahilmiah/budaya dan dikirim pada lembaga-lembaga yang bersangkutan.
4. Perspektif Para Remaja Mengenai Kaidah Tata Bahasa Indonesia
Disadari atau tidak bahasa adalah elemen penting dari sebuah tata kehidupan manusia yang komplek. Dengan bahasa orang akan mampu menyamakan persepsi mereka lewat komunikasi interpersonal maupun kelompok. Bahasa pulalah yang dapat menjadi alat efektif dalam komunikasi antar negara dan bangsa sebagai bagian konsekuensi dunia global. Untuk itu mempelajari tata bahasa yang baik dan benar merupakan suatu hal yang menjadi keharusan bagi setiap individu yang ingin mencapai keberhasilan.
yang logis karena Indonesia yang mempunyai berbagai bahasa daerah di setiap wilayah.
Sekarang ini penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sesuai dengan EYD semakin berkurang. Orang khususnya para remaja lebih gemar belajar bahasa asing seperti inggris, perancis, jepang ataupun bahasa asing lain. Tidak ubahnya di dunia pendidikan yang harusnya menjadi wadah untuk siswa mengenal dan mempejari bahasa indonesia, sekarang ini lebih menekankan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar mata pelajaran. Terutama sekolah-sekolah yang berlebel standar internasional. Alasannya, bahasa inggris lebih diutamakan karena menjadi bahasa internasional yang akan sangat menunjang bagi mobilitas komunikasi di era global. Pengaruh bahasa asing terutama inggris juga terlihat dengan banyaknya istilah-istilah yang banyak digunakan. Misalnya kata- kata workshop, download, upload, misunderstanding, live report,
ataupun newsupdate lebih sering kita dengar dari pada kita mendengar sanggar kerja, unduh, unggah, salah pengertian, laporan langsung, dan berita terkini dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan para remaja merasa mereka akan di anggap dianggap lebih pandai dan intelek jika mampu menggunakan istilah asing dalam pecakapan, pidato, ataupun tulisan-tulisannya. Padahal tidak demikian, orang tersebut justru kurang pandai dalam mencari persamaan istilah asing tersebut dengan istilah dalam bahasa indonesia yang sesuai.
iklan yang mengunakan bahasa indonesia secara baik. Mungkin saja mereka takut produknya tidak laku dipasaran jika tidak mengikuti trend.
Padahal jika kita menelisik sedikit ke negara Australia, kita akan mengetahui bahwa disana bahasa indonesia merupakan bahasa yang wajib di pelajari di beberapa sekolah terutama di kalangan siswa SD, jadi jangan kaget ketika kita bertemu dengan anak SD di sana kemudian disapa “Apa kabar?”. Di negara kangguru tersebut bahasa indonesia juga merupakan bahasa populer ke empat setelah inggris, cina, dan jepang. Jadi bahasa indonesia bukan bahasa yang kuno atau membosankan untuk dipelajari. Untuk itu sudah sewajarnya kita sebagai warga Indonesia khususnya para remaja untuk ikut berpartisipasi aktif dalam perbaikan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD. Jangan sampai bahasa yang telah dikumandangkan sebagai bahasa persatuan dan bagian dari identitas bangsa terhapus oleh bahasa gaul dan istilah-istilah asing yang semakin hari semakin marak digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Peran pemerintah juga lewat lembaga-lembaga resminya juga sangat diperlukan dalam hal ini.
5. Ragam Bahasa yang Digunakan Para Remaja Dalam Kehidupan Sehari-hari
5.1 Ragam Bahasa Indonesia
Adanya bermacam-macam ragam bahasa terjadi karena fungsi, kedudukan serta lingkungan yang berbeda-beda. Ada beberapa ragam bahasa yaitu :
Ragam Lisan dan Ragam Tulis
Perbedaan ragam lisan dan tulis yaitu :
7. Dalam Ragam lisan unsur-unsur gramatikan seperti subjek, prediket dan objek tidak selalu dinyatakan, sedangkan ragam tulis harus dinyatakan.
8. Ragam lisan sangat terikan pada kondisi, situasi, ruang dan waktu sedangkan ragam tulis tidak.
9. Ragam lisan dipengaruhi oleh intonasi suara sedangkan ragam tulis dipengaruhi oleh tanda baca, huruf kapital dan huruf miring.
1. Ragam Baku dan Ragam Tidak Baku
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannyasebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan da ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
2. Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku-buku-buku ilmiah lainnya.
Ragam baku lisan bergantung kepada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapannya.
3. Ragam Sosial Dan Ragam Fungsional
Ragam sosial adalah ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat.
Ragam fungsional adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja atau kegiatan tertentu lainnya.
Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Variasi bahasa ada beberapa macam yaitu :
1. Variasi bahasa dari segi penutur
Yaitu variasi bahasa yang muncul dari setiap orang baik individu maupun sosial.
1. Variasi bahasa dari segi pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau funsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain.
1. Variasi bahasa dari segi keformalan
Variasi bahasa dari segi keformalan ada beberapa macam yaitu :
2. Variasi Baku (frozen)
Adalah variasi bahasa yang paling formal yang digunakan pada situasi hikmat seperti upacara kenegaraan dan khotbah.
3. Variasi Resmi (formal)
4. Variasi Usaha (konsultatif)
Adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa. Seperti pembicaraan di sekolah dan rapat.
5. Variasi santai (casual)
Adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi. Seperti perbincangan dalam keluarga atau perbincangan dengan teman.
6. Variasi akrab (intimate)
Adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab.
7. Variasi bahasa dari segi sarana
Adalah variasi bahasa yang dapat dilihat dari sarana atau jalur yang digunakan. Seperti telepon, telegraf dan radio.
6. Tujuan Revitalisasi dan Implementasi Kaidah Tata Bahasa Indonesia Dalam Kehidupan Para Remaja
dipakai anak muda kebanyakan, maka cepat atau lambat bahasa Indonesia akan tergeser keberadaannya.
Jelas sekali dalam hal ini bahwa penggunaan bahasa yang tidak baik akan membawa dampak buruk terhadap keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang memiliki fungsi sebagai pemersatu dari keberagaman budaya bangsa ini.
Untuk membedakan gaya bahasa yang baik dan gaya bahasa yang buruk, Gorys Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa memaparkan tiga unsur dalam gaya bahasa yang baik. Ketiga unsur tersebut adalah: kejujuran, sopan-santun, dan menarik.
Kejujuran : gaya bahasa mengikuti aturan-aturan atau kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa,
Sopan-santun : gaya bahasa memberikan penghargaan atau menghormati orang lain yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat ini diwujudkan melalui gaya bahasa yang menggunakan ungkapan-ungkapan jelas dan singkat,
Menarik : Penggunaan gaya bahasa yang variatif akan menghindari monotomi dalam nada, struktur, dan diksi. Selain itu, gaya bahasa yang menarik juga memiliki kosakata yang luas serta mengandung tenaga untuk menciptakan rasa gembira dan nikmat.
Namun di sisi lain semua itu mempermudah cara kita berkomunikasi dan dalam pemahaman pesan yang ingin disampaikan oleh masyarakat yang ingin menyampaikan pesan kepada penerima pesan.
Bahasa gaul sebagai bahasa anak muda merupakan keanekaragaman budaya negara kita Indonesia dibidang bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa gaul yang secukupnya dan digunakan tepat sesuai dengan porsinya. Bahasa gaul sangat berperan dalam pembentukan bahasa yang digunakan kalangan remaja karena penggunaannya yang bersifat santai dan fleksibel. Tapi alangkah baiknya jika kita dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga eksistensi dari bahasa Indonesia tetap terjaga.
Bahasa Indonesia dalah bahasa persatuan yang dulu dikukuhkan oleh kalangan muda dalam sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928, jadi sebagai masyarakat Indonesia yang peduli dan ,menghormati sumpah pemuda kita harus menjaga bahasa kita yaitu bahasa Indonesia. Apabila kita sudah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar maka secara tidak langsung orang yang berada di sekitar kita akan tertular.
BAB III
PENUTUP
1. SIMPULAN
Dari hasil pembahasan mengenai Revitalisasi dan implementasi kaidah tata bahasa Indonesia, penulis membuat kesimpulan yang bisa di jabarkan
menjadi beberapa poin sebagai berikut.
populer dan dijadikan bahasa sehari-hari. Para generasi muda menyalahgunakan kemampuan kreatifitasnya kearah yang negatif yakni merubah-rubah kosakata bahasa Indonesia menjadi sukar dibaca dan dimengerti oleh kaum awam. Perhatian para remaja akan pentingnya menggunakan bahasa indonesia sesuai dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan sangat kecil sehingga saat dibutuhkan penggunaan bahasa indonesia yang formal mengalami kesulitan.
Arti penting revitalisasi dan implementasi kaidah tata bahasa Indonesia sehingga mampu menerapkan kaidah tata bahasa yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.
2. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis mencoba memberikan saran-saran sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk memajukan perhatian remaja akan pentingnya berbahasa yang baik dan
benar antara lain :
1. Memberikan penyuluhan dengan konsep menarik tidak terkesan monoton akan penjelasann mengenai penggunaan bahasa indonesia sesuai EYD paling tidak menggunakan bahasa yang lazim serta mudah dibaca. 2. Peringatan di dunia maya akan larangan menggunakan berbahasa ‘alay’ agar para pengguna bahasa tidak lazim tersebut dapat segera sadar dan memperbaiki cara penulisan kalimat yang mereka gunakan menjadi baik dan benar.
DAFTARPUSTAKA
Soewandi. 1975. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta : Balai Pustaka.
http://superboyz.wordpress.com/2010/09/29/perbandingan-bahasa-alay-dengan-bahasa- indonesia/ (3 Januari 2011)
http://www.suaramedia.com/berita-nasional/31502-qbahasa-alayq-dinilai-merusak-bahasa-indonesia.html (3 Januari 2011)
http://jatim.vivanews.com/news/read/189958-bahasa--alay--cemari-bahasa-indonesia (3 Januari 2011)
Pordarwaminta, W.J.S. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka