• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Pengertian Infrastruktur

2.2.5. Pengertian Infrastruktur Pendidikan

Infrastruktur pada dasarnya bukan menjadi sesuatu hal yang paling penting

dalam pendidikan karena tanpa infrastruktur seperti gedung, meja, kursi, papan

tulis, laboratorium, dan sebagainya, pendidikan masih bisa berlangsung. Artinya

dalam konteks komponen pendidikan infrastruktur hanya bertindak sebagai

pelengkap, penyokong atau pendukung dari proses pendidikan itu sendiri. Dengan

demikian maju mundurnya suatu pendidikan tidak semata-mata disebabkan oleh

infratruktur yang lengkap, akan tetapi lengkap atau tidaknya infrastruktur di

lembaga pendidikan mempengaruhi terhadap kemajuan pendidikan di lembaga

tersebut. Tercatat dalam pedoman akreditasi lembaga pendidikan baik itu lembaga

pendidikan tingkat menengah ataupun tingkat tinggi, salah satu aspek yang dinilai

dalam pengakreditasian lembaga tersebut adalah kelengkapan infrastrukturnya

seperti gedung, kelengkapan inventaris, laboratorium, dan lainnya. Berkaitan

dengan itu dapat kita pahami bahwa untuk memajukan pendidikan di Indonesia,

infrastrukturnya harus disempurnakan. Hal ini juga telah sama-sama dibuktikan

bahwa sebagian besar sekolah yang telah tergolong sekolah maju memiliki

infrastruktur yang baik.

Infrastruktur yang tergolong baik bukan dinilai dari segi tampilan atau

morfologi dari infrastruktur yang dimiliki akan tetapi dinilai dari jenis

infrastruktur yang menyokong terhadap keilmuan siswa seperti laboratorium,

lapangan, perpustakaan, ruang kelas yang nyaman, media belajar dan masih

banyak lagi. Secara fungsional, infrastrukur memberikan support kepada siswa

untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengembangkan pengetahuan mereka.

Dengan dilengkapinya infrastruktur belajar maka siswa akan lebih leluasa dalam

mendapatkan pengalaman belajar dan akan berujung pada pengetahuan yang

dimiliki.

Sebagai suatu faktor pendukung yang memiliki pengaruh penting terhadap

perkembangan pendidikan, infrastruktur harus diperhatikan agar pendidikan dapat

berkembang dengan baik. Infrastruktur pendidikan yang baik akan menumbuhkan

semangat yang baik bagi pelaksana pendidikannya. Pelaksanaan pendidikan yang

optimal melalui proses yang maksimal disertai dengan fasilitas yang memadai

akan menghasilkan lulusan yang terbaik sehingga untuk mewujudkan pendidikan

Indonesia yang lebih baik dimulai dari langkah kecil yaitu pemerhatian terhadap

infrastruktur lembaga pendidikan. Statistik telah membuktikan bahwa lembaga

pendidikan yang maju pasti memiliki infrastruktur yang bagus dan dengan

dukungan infrastruktur tersebut siswanya mampu berprestasi sampai ketingkat

internasional.

2.2.6 Infrastruktur Perdagangan

Insfrastruktur merupakan salah satu kunci kesuksesan jangka panjang dari sebuah Negara. Infrastruktur perdagangan yaitu sarana untuk melaksanakan jual

beli antara konsumen dan produsen baik dalam maupun luar negeri. Artinya

dalam konteks komponen infrastruktur hanya bertindak sebagai pelengkap,

penyokong atau pendukung dari proses perdagangan itu sendiri.

2.3 Klasifikasi Infrastruktur

Hansen (1965) membedakan infrastruktur dalam dua jenis berdasarkan

langsung atau tidak dampaknya terhadap pembangunan ekonomi, yaitu

infrastruktur ekonomi dan infrastruktur sosial. Infrastruktur ekonomi secara

langsung mendukung kegiatan produksi, misalnya: jalan, bandara, pelabuhan,

jaringan limbah, jaringan pipa air bersih, jaringan listrik dan irigasi.

Infrastruktur sosial dibangun untuk kenyamanan sosial dan dibangun dalam

rangka mendukung produktivitas ekonomi, seperti: sekolah, rumah sakit, gedung

olahraga dan lain-lain (Torrisi, 2009).

Sejalan dengan klasifikasi infrastruktur menurut Hansen, The World

Bank dalam bukunya ―The World Bank Report 1994‖ mengklasifikasikan

infrastruktur menjadi tiga jenis,yaitu:

1. Infrastruktur ekonomi, merupakan aset fisik yang diperlukan untuk

menunjang aktivitas ekonomi baik dalam produksi maupun konsumsi

final, meliputi public utilities (tenaga, telekomunikasi, air minum,

sanitasi dan gas), public work (jalan, bendungan, kanal, saluran irigasi dan

drainase) serta sektor transportasi (jalan, rel kereta api, angkutan

pelabuhan, lapangan terbang dan sebagainya).

2. Infrastruktur sosial, merupakan aset yang mendukung kesehatan dan

keahlian masyarakat, meliputi pendidikan (sekolah dan perpustakaan),

kesehatan (rumah sakit dan pusat kesehatan), perumahan dan rekreasi

(taman, museum dan lain-lain).

3. Infrastruktur administrasi/institusi, meliputi penegakan hukum, kontrol

administrasi dan koordinasi serta kebudayaan.

Aschauer (1989), membedakan infrastruktur berdasarkan peranannya

dalam pembentukan modal untuk pertumbuhan ekonomi suatu negara, yaitu

infrastruktur inti dan non-inti. Infrastruktur inti adalah jalan, bandara, transportasi

umum, jaringan listrik dan gas, jaringan pipa air bersih. Sedangkan Biehl

(1991) membedakan infrastruktur menjadi dua jenis yaitu infrastruktur yang

bersifat jaringan dan infrastruktur nucleus. Infrastruktur jaringan merujuk

pada jalan, rel kereta api, saluran air, jaringan komunikasi, jaringan air dan

jaringan listrik. Sedangkan infrastruktur nucleus merujuk pada sekolah rumah

sakit dan museum. Pembedaan ini didasarkan pada tingkat ketidakbergerakan

(immobility), ketidakterpisahan (indivisibility), ketidak saling berhubungan

(not-interchangeability) dan fitur multimanfaat (Torrisi, 2009).

Kwik Kian Gie (2002), membedakan infrastruktur ekonomi dengan

Infrastruktur pemukiman. Pengertian infrastruktur ekonomi adalah infrastruktur

yang terdiri dari infrastruktur fisik dan jasa layanan yang diperoleh darinya untuk

memperbaiki produktivitas ekonomi dan kualitas hidup seperti transportasi,

telekomunikasi, kelistrikan, dan irigasi. Sedangkan infrastruktur permukiman

adalah infrastruktur yang terdiri dari infrastruktur fisik dan layanan yang

diperoleh darinya untuk memenuhi 34 kebutuhan dasar manusia dan

meningkatkan kualitas hidup seperti air bersih dan perumahan.

2.4 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian yang sebelumnya telah dilakukan terkait

dengan penelitian ini, diantaranya seperti yang tampak pada Tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1

Alat analisis metode analisis uji beda yaitu uji Simple Paired Test (data

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa Pemekaran Kabupaten Humbang Hasundutan berdampak positif terhadap pembangunan Infrastruktur Kesehatan yaitu Puskesmas, Infrastruktur Pendidikan yaitu SD, SMP, SMA dan SMK, infrastruktur Air Bersih dan infrastruktur listrik yang disalurkan oleh

berdistribusi normal)dan uji Wilcoxon Signed Rank Test (data berdistribusi tidak normal)

PLN. Namun, Infrastruktur Pustu dan Panjang jalan berdampak negatif pada pembangunan infrastruktur

alat analisis asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas, serta dilakukan uji statistik yang meliputi pengujian secara parsial (uji t), memiliki satu variabel yang memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu air.

Sementara dua variabel lainnya, yaitu jalan dan telepon tidak memiliki pengaruh yang signifikan, tetapi memiliki pengaruh

positif terhadap

pertumbuhan ekonomi Kota Sibolga, sedangkan satu variabel lagi yaitu listrik tidak memiliki pengaruh yang signifikan dan negative terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Sibolga.

3 Roynaldi Ginting regresi linier dengan metode Ordinary Least Square (OLS)

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa variabel-variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan sebesar 99%

dimana jika Pengeluaran pemerintah sektor infrastruktur di naikkan 1%

maka akan mengakibatkan naiknya PDRB sebesar 0,18%, jika investasi swasta untuk sektor infrastruktur di

naikkan 1% maka perbedaan PDRB sebesar 0,68% setelah adanya otonomi daerah.

4 Sabar Rudin Zai dan Infrastruktur di Labuhan Batu

alat analisis deskriptif dan analisis uji beda t-test

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa disimpulkan bahwa rata-rata sebelum pemekaran 2003-2008 di labuhanbatu aspek sosial (tenaga kerja, jumlah sekolah dan jumlah pusat kesehatan), aspek ekonomi (jumlah industri besar dan sedang), aspek infrastruktur (jumlah panjang jalan, dan jumlah daya terpasang listrik) lebih besar dibandingkan dengan setelah pemekaran 2009-2014 di Labuhanbatu Selatan.

Berbeda hal dengan aspek ekonomi (PDRB perkapita berdasarkan harga berlaku) memiliki rata-rata sebelum pemekaran lebih rendah dari pada setelah pemekaran.

Sedangkan dengan

menggunakan alat analisis uji t-test disimpulkan bahwa ada perbedaan secara signifikan sebelum pemekaran (2003-2008) di Labuhanbatu pada aspek sosial (tenaga kerja, jumlah sekolah, jumlah pusat

kesehatan), aspek ekonomi

(PDRB perkapita

berdasarkan harga berlaku, jumlah indsutri besar dan sedang), infrastruktur (panjang jalan dan jumlah daya terpasang listrik) dengan setelah pemekaran (2009-2014) di Labuhanbatu

Selatan. Dengan

membandingkan tahun yang sama yaitu tahun 2009-2014, terjadi perbedaan yang positif. Dimana, terjadinya keberhasilan pemekaran dibandingkan sebelum pemekaran yaitu pada aspek ekonomi (PDRB perkapita berdasarkan harga berlaku dan jumlah industri besar dan sedang). Jika dibandingkan dengan Labuhanbatu 2009-2014, Labuhanbatu Selatan masih lebih tinggi. Sedangkan yang memeberikan dampak negatif yaitu pada aspek sosial (tenaga kerja, jumlah sekolah dan jumlah pusat kesehatan) dan infrastruktur (panjang jalan menurut

kondisi dan jumlah daya terpasang listrik). Karena pembentukan daerah otonom baru tidak membuat labuhanbatu selatan sama atau lebih tinggi dari regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS)

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa yang Infrastruktur jalan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Bandarlampung infrastruktur energi listrik dan air bersih berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan

ekonomi di Kota

Bandarlampung,infrastruktur memiliki pengaruh terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi secara berurutan adalah infrastruktur energi listrik, infrastruktur air bersih memiliki pengaruh terbesar kedua dan terakhir adalah infrastruktur panjang jalan yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi

2.5 Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka berpikir menggambarkan pengaruh antara variabel bebas

terhadap variabel terikat yaitu pengaruh infrastruktur ekonomi dan sosial

terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera.

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran Teoritis

Berdasarkan kerangka pemikiran teoritis diatas dapat dijelaskan bahwa

Infrastruktur ekonomi terdiri dari empat komponen yaitu jalan,listrik,dan

komunikasi. Infrastruktur sosial yaitu kesehatan, pendidikan,

perdagangan.Sehingga komponen tersebut memiliki pengaruh terhadap

pertumbuhan ekonomi. Karena komponen tersebut memiliki produktivitas yang

tinggi dan memberikan peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan

ekonomi.

Pertumbuhan Ekonomi Infrastruktur

Ekonomi 1. Jalan 2. Listrik 3. Komunikasi

Infrastruktur Sosial 1. Kesehatan 2. Pendidikan 3. Perdagangan

2.6 Hipotesis

Untuk memberikan arah dalam penelitian ini maka diberikan hipotesis.

Hipotesis yang dimaksud adalah suatu pernyataan yang bersifat sementara tentang

adanya suatu hubungan tertentu antara variabel-variabel yang digunakan. Sifat

sementara pada hipotesis ini berarti bahwa hipotesis dapat diubah, diganti dengan

hipotesis lain yang lebih tepat. Hal ini dimungkinkan karena hipotesis yang

diperoleh tergantung pada masalah yang diteliti dan konsep yang

digunakan.Dalam penelitian ini hipotesis yang telah dirumuskan adalah sebagai

berikut :

1. Infrastruktur Jalan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di

Sumatera.

2. Infrastruktur Listrik berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di

Sumatera.

3. Infrastruktur Komunikasi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan

ekonomi di Sumatera.

4. Infrastruktur Kesehatan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan

ekonomi di Sumatera.

5. Infrastruktur Pendidikan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan

ekonomi di Sumatera.

6. Infrastruktur Perdagangan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan

ekonomi di Sumatera

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian berbentuk deskriptif kuantitatif

yang mana penelitian yang bertujuan menjelaskan fenomena yang ada dengan

menggunakan angka–angka.

3.2 Defenisi Operasional

Untuk menyamakan pemahaman tentang variabel–variabel yang

digunakan, Maka penulis mamberikan batasan defenisi operasional, Sebagai

berikut:

1. Pertumbuhan Ekonomi adalah kenaikan pada tingkat ekonomi terhadap

harga konstan dalam satuan persentase (%) pada provinsi yang ada di

seluruh provinsi sumatera yang didapat dari Publikasi Badan Pusat

Statistik Indonesia pada tahun 2000-2017.

2. Infrastruktur Jalan adalah rasio perbandingan antara panjang jalan dengan

kondisi jalan baik dengan satuan persentase pada seluruh provinsi yang

ada dipulau sumatera yang didapat dari Publikasi Badan Pusat Statistik

Indonesia pada tahun 2000-2017.

42

3. Infrastruktur Listrik adalah rasio perbandingan elektrovikasi tenaga listrik

dengan jumlah penduduk dengan satuan persentase pada seluruh provinsi

yang ada dipulau sumatera yang didapat dari Publikasi Badan Pusat

Statistik Indonesia pada tahun 2000-2017.

4. Infrastruktur Komunikasi adalah rasio perbandingan pemetrasi internet

dengan jumlah penduduk dengan satuan persentase pada seluruh provinsi

yang ada dipulau sumatera yang didapat dari Publikasi Badan Pusat

Statistik Indonesia pada tahun 2000-2017.

5. Infrastruktur Kesehatan adalah rasio perbandingan banyaknya jumlah

fasilitas kesehatan (unit) seperti rumah sakit umum dan rumah sakit swasta

dengan jumlah penduduk dengan satuan persentase pada seluruh provinsi

yang ada dipulau sumatera yang didapat dari Publikasi Badan Pusat

Statistik Indonesia pada tahun 2000-2017.

6. Infrastruktur Pendidikan adalah rasio perbandingan banyaknya jumlah

sekolah mulai dari SD hingga SMA dengan jumlah penduduk dengan

satuan persentase pada seluruh provinsi yang ada dipulau sumatera yang

didapat dari Publikasi Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2000 –

2017.

7. Infrastruktur Perdagangan adalah rasio perbandingan jumlah pasar dengan

jumlah penduduk dengan satuan persentase pada seluruh provinsi yang ada

dipulau sumaterayang didapat dari Publikasi Badan Pusat Statistik

Indonesia pada tahun 2000 – 2017.

3.3 Batasan Operasional

Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

Pengaruh Infrastruktur Ekonomi dan sosial terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Provinsi Sumatera. Dimana Infrastruktur terdiri dari Jalan, Listrik, dan

Komunikasi. Sedangkan Infrastruktur Sosial terdiri dari Kesehatan, Pendidikan,

dan Perdagangan.

3.4 Jenis data dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam

bentuk data panel yaitu penggabungan dari data silang tempat (cross section)

dandata deret waktu (time series) dari tahun 2000-2017. Data sekunder merupakan

data yang diperoleh lewat pihak lain seperti lembaga pengumpulan data yaitu

kantor Badan Pusat Statistik (BPS), dalam hal ini data tidak langsung diperoleh

peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data

dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia (Astrid dkk,1998). Teknik

pengambilan data dalam penelitian ini dalam kurun waktu 18 tahun yakni dari

tahun 2000–2017. Sedangkan sumber data yang diperoleh dari publikasi Badan

Pusat Statistik (BPS).

3.5 Pengujian Kualitas Data

Data penelitian ini penting untuk diuji kualitasnya, oleh sebab itu pada

pengujian ini akan dilakukan pengujian kualitas data sebagai berikut:

3.5.1. Pengujian Normalitas

Uji normalitas adalah sebuah uji yang dilakukan dengan tujuan menilai

sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, apakah sebaran data

tersebut terdistribusi normal atau disnormal. Uji normalitas berguna untuk

menentukan data yang telah dikumpulkan terdistribusi normal.

Uji normalitas dilakukan dengan melakukan Jarque Bera Test (JB-Test)

dimana probability dari JB-Test dibandingkan dengan alpha 0,05. Jika nilai

probabilityJB-Testlebih kecil dari 0,05 (JB Test< 0,05), maka data terdistribusi

secara tidak normal dan sebaliknya.

3.5.2. Pengujian Stasioneritas

Suatu data dikatakan tidak stasioner bila nilai rata-rata dan variannya

bervariasi sepanjang waktu atau dengan kata lain data dikatakan stasioner bila

data bergerak stabil dan konvergen sekitar nilai rata-ratanya tanpa mengalami

fluktuasi pergerakan trend positif maupun negatif. Penggunaan data – data yang

tidak stasioner ke dalam persamaan regresi akan menghasilkan sebuah regresi

palsu. Dalam menganalisis stasioneritas data dengan menggunakan grafis tidaklah

mudah. Maka dibutuhkan pengujian formal yaitu fungsi autokorelasi

(autocorrelation function) dan uji akar unit (unit root test).

Pengujian stasioneritas menggunakan metode yang dikembangkan oleh

Dikey-Fuller. Nilai probabilitas uji akar unit dibandingkan dengan nilai alpha

(0,05). Apabila nilai probabilitas uji akar unit < 0,05 berarti data sudah stasioner,

dan sebaliknya pula.

3.6. Model Persamaan Data Panel

Penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel, yaitu

penggabungan cross section dan time series. Data cross section adalah data

observasi pada beberapa subjek penelitian dalam satu waktu, misalnya dalam satu

tahun. Sedangkan Data time series adalah data observasi pada satu subjek

penelitian diamati dalam satu periode waktu, misalnya selama sembilan tahun.

Dalam data panel, observasi dilakukan pada beberapa subjek dianalisis dari waktu

ke waktu. Persamaan model dengan menggunakan data cross section ditunjukkan

oleh:

Yi = β0+ β1Xii ; i=1, 2…, N

Di mana ―N‖ merupakan jumlah data cross setion. Sedangkan persamaan

model dengan time series dapat dapat ditulis sebagai berikut :

Yi = β0+ β1Xit ; i=1, 2…, T

Di mana ―T‖ merupakan jumlah data time series. Sehingga persamaan

data panel yang merupakan gabungan dari data cross section dan time series dapat

ditulis sebagai berikut :

Yi = β0+ β1Xitit

i = 1, 2, ..., N ; t = 1, 2, ...., T

Dalam model tersebut, Y merupakan variabel terikat sedangkan X

merupakan variabel bebas. N menunjukkan banyaknya observasi sedangkan T

menunjukkan banyaknya waktu yang dianalisis. Sehingga variabel-variabel dalam

penelitian ini diaplikasikan dalam sebuah model sebagai berikut:

Yi = β0+ β1Xit+ β2Xit+ β3Xit+ β4Xit+ β5Xit+ β6Xit+ εit

Keterangan :

Y : Infrastruktur Ekonomi dan Sosial β1Xit : Jalan

β2Xit : Listrik

β3Xit : Telekomunikasi

β4Xit : Kesehatan

β5Xit : Pendidikan

β6Xit : Perdagangan

ɛ : error term

―i‖ menunjukkan subjek ke-i, sedangkan ―t‖ menunjukkan tahun ke-t.

Beberapa kelebihan data panel menurut Gujarati :

1. Teknik estimasi data panel dapat mengatasi heterogenitas dalam setiap unit

secara eksplisit dengan memberikan variabel spesifik subjek.

2. Penggabungan observasi time series dan cross section memberikan lebih

banyak informasi, lebih banyak variasi, sedikit kolinearitas antar

variabel,lebih banyak degree of freedom dan lebih efisien.

3. Dengan mempelajari observasi cross section berulang-ulang, data

panelsangat cocok untuk mempelajari dinamika perubahan.

4. Data panel paling baik untuk mendeteksi dan mengukur dampak yang

secarasederhana tidak bisa dilihat pada data time series murni atau cross

section murni.

Dalam regresi data panel terdapat empat model yang dapat digunakan.

Model tersebut antara lain: model OLS pooled, model fixed effects least square

dummy variabel (LSDV), model fixed effects within-group dan model random

effect (Gujarati: 2013). Pemilihan model yang akan dipakai, diseleksi dengan uji

spesifikasi model. Terdapat dua uji spesifikasi yaitu efek tetap (fixed effects) atau

efek random (random effect).

3.7. Metode Analisis Data

Dalam pengolahan data panel akan dilakukan tahapan – tahapan menurut

urutan metode analisis data panel sebagai berikut:

3.7.1. Model Estimasi Analisis Data Panel

3.7.1.1. Fixed Effects Model (FEM)

Adaya variabel-variabel yang tidak semuanya masuk dalam persamaan

model memungkin adanya intercept yang tidak konstan. Atau dengan kata lain,

Intercept ini mungkin berubah untuk setiap individu dan waktu. Pemikiran ini

menjadi dasar pemikiran pembentukan model tersebut.Keunggulan dari Fixed

Effects Model (FEM) dapat membedakan efek individu dan efek waktu. dan Fixed

Effects model ini tidak perlu mengasumsikan bahwa komponen error tidak

berkorelasi dengan variabel bebas.

3.7.1.2. Rendom Effects Model (REM)

Bila pada model efek tetap perbedaan antara individu dan waktu

dicerminkan lewat intercept, maka pada model efek random perbedaan tersebut

diakomodasi lewat error. Teknik ini juga memperhitungkan bahwa error mungkin

berkorelasi sepanjang time series dan cross section. Terdapat kelebihan dari

menggunakan model Random Effect yaitu mampu menghilangkan

heteroskedastisitas (ECM) atau teknik Generalized Least Square (GLS). Metode

Rendom effects model (REM) mempunyai parameter yang lebih sedikit, sehingga

model yang dibentuk akan memilki derajat kebebasan (degree of freedom) yang

lebih banyak dibandingkan model dengan metode Fixed effects model (FEM)

(Nachrowi, 2006:311).

3.7.2. Uji Pemilihan Model Estimasi

3.7.2.1. Uji Chow (Chow Test)

Uji chow digunakan untuk menentukan model yang terbaik antara Fixed

Effect Model dengan Common Effect Model untuk digunakan dalam estimasi data

panel. Dengan hipotesis sebagai berikut:

H0 : Common Effect Model (CEM)

Ha : Fixed Effect Model (FEM)

Kriteria pengambilan keputusannya adalah H0 ditolak, jika nilai

probabilitasnya lebih kecil dari 0.05 (p<0,05), artinya Fixed Effect Model (FEM)

dipilih untuk menganalisis data. Sebaliknya H0 diterima, jika nilai probabilitasnya

lebih besar dari 0.05 (p>0,05), artinya Common Effect Model (CEM) dipilih untuk

menganalisis data.

3.7.2.2. Uji Hausman (Hausman Test)

Uji Hausman digunakna untuk menentukan model yang terbaik antara

Fixed Effect Model (FEM) denganRandom Effect Model (REM) untuk digunaka

dalam estimasi data panel. Hipotesisnya adalah sebagai berikut:

H0 : Random Effect Model (REM)

Ha : Fixed Effect Model (FEM)

Kriteria pengambilan keputusannya adalah H0 ditolak, jika nilai

probabilitasnya lebih kecil dari 0.05 (p<0,05), artinya Fixed Effect Model (FEM)

dipilih untuk menganalisis data. Sebaliknya H0 diterima, jika nilai probabilitasnya

lebih besar dari 0.05 (p>0,05), artinya Random Effect Model (REM) dipilih untuk

menganalisis data.

3.7.3. Pengujian Hipostesis

3.7.3.1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar

kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen (Lubis dkk,

2007). Nilai R-square dikatakan baik jika diatas 0,5 karena nilai R-square berkisar

antara 0 sampai 1. Apabila nilai R-square semakin mendekati satu maka semakin

baik model regresi, artinya kemampuan variabel independen (Jumlah Penduduk

yang bekerja, IPM) hampir semua memberikan informsi yang dibutuhkan untuk

memprediksi variabel dependen (Pertumbuhan Ekonomi). Namun sebaliknya,

apabila koefisien determinasi semakin mendekati nol, maka semakin kecil pula

pengaruh semua variabel indevenden terhadap nilai variabel dependen.

3.7.3.2. Uji Signifikan Simultan (Uji F)

Uji signifikan simultan (Uji F) digunakan untuk mengetahui besarnya

pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen

(Lubis dkk,2007). Hasil pengaruh tersebut dilihat berdasarkan nilai p-value ( Sig)

yaitu :

1. Jika nilai Sig. F-stat > 0,05 , maka H0 diterima

2. Jika nilai Sig. F-stat ˂ 0,05 , maka H0 ditolak

Selain itu uji signifikan simultan (Uji F) juga dapat dilihat melalui

ketentuan berikut ini :

1. Jika nilai Fhitung > nilai Ftabel , maka H0 diterima

2. Jika nilai Fhitung < nilai Ftabel , maka H0 ditolak

3.7.3.3. Uji Signifikan Parameter Individual ( Uji t )

Uji t bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing

variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen. Hasil

Uji signifikan parameter individu (Uji t) dapat dilihat melalui nilai signifikan,

yaitu :

1. Jika nilai Sig. t-stat > 0,05 , maka H0 diterima

2. Jika nilai Sig. t-stat ˂ 0,05 , maka H0 ditolak

Selain itu uji signifikan parameter individual (Uji t) juga dapat dilihat

melalui ketentuan berikut ini:

1. Jika nilai thitung > nilai ttabel , maka H0 diterima

2. Jika nilai thitung < nilai ttabel , maka H0 ditolak

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

4.1.1 Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan merupakan tujuan utama keberhasilan pembangunan, dan

hasil pertumbuhan ekonomi akan dapat pula dinikmati masyarakat sampai di

lapisan paling bawah, baik dengan sendirinya maupun dengan campur tangan

pemerintah.Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan

dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan

dalam masyarakat bertambah.Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat diukur

dengan melihat PDRB dan laju pertumbuhan atas dasar harga konstan.Produk

Domestik Bruto dikenal sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

PDRB merupakan indikator ekonomi makro suatu daerah, yang menggambarkan

ada atau tidaknya perkembangan perekonomian daerah.

Bagi suatu daerah provinsi, kabupaten/kota gambaran PDRB yang

mencerminkan adanya laju pertumbuhan ekonomi dapat dilihat pada data

sektor-sektor ekonomi yang meliputi pertanian, pertambangan dan penggalian,

industri pengolahan, listrik gas dan air bersih, bangunan, perdagangan hotel dan

restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan persewaan dan jasa perusahaan

54

dan jasa-jasa lainnya. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari data konsumsi

rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal bruto, perubahan

rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal bruto, perubahan

Dokumen terkait