• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum

4.1.1. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan merupakan tujuan utama keberhasilan pembangunan, dan

hasil pertumbuhan ekonomi akan dapat pula dinikmati masyarakat sampai di

lapisan paling bawah, baik dengan sendirinya maupun dengan campur tangan

pemerintah.Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan

dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan

dalam masyarakat bertambah.Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat diukur

dengan melihat PDRB dan laju pertumbuhan atas dasar harga konstan.Produk

Domestik Bruto dikenal sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

PDRB merupakan indikator ekonomi makro suatu daerah, yang menggambarkan

ada atau tidaknya perkembangan perekonomian daerah.

Bagi suatu daerah provinsi, kabupaten/kota gambaran PDRB yang

mencerminkan adanya laju pertumbuhan ekonomi dapat dilihat pada data

sektor-sektor ekonomi yang meliputi pertanian, pertambangan dan penggalian,

industri pengolahan, listrik gas dan air bersih, bangunan, perdagangan hotel dan

restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan persewaan dan jasa perusahaan

54

dan jasa-jasa lainnya. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari data konsumsi

rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal bruto, perubahan

persediaan, ekspor dan impor. Sehingga dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1

Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera

Menurut Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000-2017

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2019

2000 -8.25 4.83 3.84 6.52 5.43 3.34 3.93 3.40 1.05 2.14

2001 1.19 3.72 3.63 4.25 5.87 2.39 4.03 3.61 5.56 2.07

2002 20.07 4.56 4.69 2.64 5.86 3.08 4.73 5.62 6.85 5.86

2003 5.52 4.81 5.26 3.08 5.00 3.68 5.37 5.76 11.80 4.18

2004 -9.63 5.74 5.47 2.93 5.38 4.63 5.38 5.07 3.20 6.47

2005 -13.45 5.48 5.73 5.41 5.57 4.84 5.82 3.76 3.25 6.57

2006 1.56 6.20 6.14 5.15 5.89 5.20 5.95 4.98 3.98 6.78

2007 -2.36 6.90 6.34 3.41 7.01 6.82 5.84 4.54 6.46 5.94

2008 -5.51 6.39 6.88 5.65 6.63 7.16 5.07 4.60 5.78 5.35

2009 -5.51 5.07 4.28 2.97 6.39 4.11 5.62 5.26 3.74 3.52

2010 2.74 6.42 5.94 4.21 7.35 5.63 6.10 5.88 5.99 7.19

2011 5.09 6.63 6.25 5.04 8.54 6.50 6.45 6.43 6.46 6.66

2012 5.20 6.22 6.35 3.55 7.44 6.01 6.61 6.48 5.72 8.21

2013 2.61 6.07 6.08 2.48 6.84 5.31 6.07 5.77 5.20 7.21

2014 1.55 5.23 5.88 2.71 7.36 4.79 5.48 5.08 4.67 6.60

2015 -0.73 5.10 5.52 0.22 4.20 4.42 5.13 5.13 4.08 6.01

2016 3.31 5.18 5.26 2.23 4.37 5.03 5.30 5.15 4.11 5.03

2017 4.19 5.12 5.29 2.71 4.64 5.51 4.99 5.17 4.51 2.01

Jambi

Dari data tabel 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi

di Sumatera mengalami fluktuasi di 10 Provinsi. Provinsi Aceh pertumbuhan

ekonomi terendah terjadi ditahun 2005 yaitu sebesar -13,45% dan yang tertinggi

ditahun 2002 sebesar 20,07%. Provinsi Sumatera Utara pertumbuhan ekonomi

terendah terjadi ditahun 2001 yaitu sebesar 3,72% dan yang tertinggi ditahun 2007

sebesar 6,90%. Provinsi Sumatera Barat pertumbuhan ekonomi terendah terjadi

ditahun 2001 yaitu sebesar 3,63% dan yang tertinggi ditahun 2008 yaitu sebesar

6,88%. Provinsi Riau pertumbuhan ekonomi terendah terjadi ditahun 2015 sebesar

0,22% dan yang tertinggi ditahun 2000 sebesar 6,52%. Provinsi Jambi

pertumbuhan ekonomi terendah terjadi ditahun 2015 sebesar 4,20% dan yang

tertinggi ditahun 2011 sebesar 8,54%. Provinsi Sumatera Selatan pertumbuhan

ekonomi terendah terjadi ditahun 2001 sebesar 2,39% dan yang tertinggi ditahun

2008 sebesar 7,16%. Provinsi Bengkulu pertumbuhan ekonomi terendah terjadi

ditahun 2000 sebesar 3,93% dan yang tertinggi ditahun 2012 sebesar 6,61%.

Provinsi Lampung pertumbuhan ekonomi terendah terjadi ditahun 2000 sebesar

3,40% dan yang tertinggi ditahun 2012 sebesar 6,48%. Provinsi Kepulauan

Bangka Belitung pertumbuhan ekonomi terendah terjadi ditahun 2000 sebesar

1,05% dan yang tertinggi ditahun 2003 sebesar 11,80%. Kemudian Provinsi

Kepulauan Riau pertumbuhan ekonomi terendah terjadi ditahun 2017 sebesar

2,01% dan yang tertinggi ditahun 2012 sebesar 8,21%.

4.1.2 Infrastruktur Ekonomi

Pada bagian ini akan dijelaskan dengan rinci terkait dengan pembangunan

infrastruktur Ekonomi yang dilakukan oleh setiap Pemerintah Provinsi yang ada

di Pulau Sumatera. Penjelasan terkait dengan data infrastruktur ekonomi ini hanya

menggunakan data tahun 2017. Penggunaan data tahun 2017 tersebut mengingat

bahwa kecenderungan pertumbuhan infrastruktur ekonomi 3 tahun terakhir tidak

berbeda dengan tahun 2017, kemudian data pada tahun 2017 dapat

menggambarkan kondisi pertumbuhan infrastruktur ekonomi yang ada saat ini.

4.1.2.1 Infrastruktur Jalan

Menurut Undang-Undang No.13 Tahun 1980, jalan adalah suatu prasarana

perhubungan darat dalam bentuk apapun meliputi bagian jalan termasuk bangunan

pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu-lintas. Sehingga

dapat dilihat dari grafik dibawah ini:

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2019

Gambar 4.1

Infrastruktur Jalan Provinsi di Sumatera Tahun 2017

Gambar 4.1 menjelaskan tentang pertumbuhan infrastruktur jalan pada

setiap provinsi yang ada di Sumatera. Diketahui bahwa pertumbuhan infrastruktur

jalan yang paling tinggi berada pada Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar

91,05%. Kemudian pertumbuhan infrastruktur jalan tertinggi yang berikutnya

dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jambiyaitu sebesar 57,19%.Pertumbuhan

Infrastruktur Jalan urutan ketiga tertinggi adalah pada Provinsi Kepulauan Riau

yaitu sebesar 55,01%. Urutan keempat pertumbuhan infrastruktur jalan adalah

pada Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 47,98%. Sumatera Barat merupakan

provinsi urutan kelima yang memiliki tingkat pertumbuhan infrasktruktur jalan di

pulau Sumatera yaitu sebesar 43,54%.Kemudian urutan keenam provinsi yang

memiliki pertumbuhan Infrastruktur Jalan tertinggi adalah Provinsi Kepulauan

100 2030 4050 6070 8090 100

Bangka Belitung. Urutan ketujuh adalah Provinsi Riau sebagai Provinsi yang

melakukan pertumbuhan Infrastruktur Jalan di Sumatera yaitu sebesar 38,09%.

Lampung adalah provinsi dengan pertumbuhan Infrastruktur Jalan kedelapan

dengan jumlah pertumbuhan adalah sebesar 27,68%.Selanjutnya Provinsi

Bengkulu memiliki pertumbuhan Infrastruktur Jalan sebesar 24,23% yang

merupakan urutan kesembilan sebagai provinsi yang memiliki pertumbuhan di

pulau Sumatera. Kemudian Aceh memiliki pertumbuhan Infrastruktur Jalan

sebesar 20,76% yang merupakan Provinsi yang memiliki pertumbuhan terendah di

pulau Sumatera.

4.1.2.2 Infrastruktur Listrik

Infrastruktur Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang vital bagi

perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Berikut ini adalah kondisi

infrastruktur listrik yang ada di setiap provinsi di Pulau Sumatera.

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2019

Gambar 4.2

Infrastruktur Listrik di Sumatera Tahun 2017

0 20 40 60 80

Gambar 4.2 menjelaskan tentang pertumbuhan Infrastruktur Listrik pada setiap provinsi yang ada di Sumatera. Diketahui bahwa pertumbuhan infInfrastruktur Listrik yang paling tinggi berada pada Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebesar 67,29%. Kemudian pertumbuhan Infrastruktur Listrik tertinggi yang berikutnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Riau yaitu sebesar 51,45%.

Pertumbuhan Infrastruktur Listrik urutan ketiga tertinggi adalah pada Provinsi Sumatera Barat yaitu sebesar 49,99%. Urutan keempat pertumbuhan Infrastruktur Listrik adalah pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sebesar 47,37%.

Jambi merupakan provinsi urutan kelima yang memiliki tingkat pertumbuhan Infrastruktur Listrik di pulau Sumatera yaitu sebesar 43,91%. Kemudian urutan keenam provinsi yang memiliki pertumbuhan Infrastruktur Listrik tertinggi adalah Provinsi Sumatera yaitu sebesar 43,89%. Urutan ketujuh adalah Provinsi Bengkulu sebagai Provinsi yang melakukan pertumbuhan Infrastruktur Listrik di Sumatera yaitu sebesar 42,47%. Provinsi Sumatera Selatan adalah provinsi dengan pertumbuhan Infrastruktur Listrik kedelapan dengan jumlah pertumbuhan adalah sebesar 40,19%.Selanjutnya Provinsi Aceh memiliki pertumbuhan Infrastruktur Listrik sebesar 37,28% yang merupakan urutan kesembilan sebagai provinsi yang memiliki pertumbuhan di pulau Sumatera. Kemudian Provinsi Lampung memiliki pertumbuhan Infrastruktur Listrik sebesar 35,91% yang merupakan Provinsi yang memiliki pertumbuhan terendah di pulau Sumatera.

4.1.2.3 Infrastruktur Komunikasi

Berikut ini adalah kondisi infrastruktur Komunikasi yang ada disetiap provinsi di Pulau Sumatera.

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2019

Gambar 4.3

Infrastruktur Komunikasi di Sumatera Tahun 2017

Gambar 4.3 menjelaskan tentang pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi pada setiap provinsi yang ada di Sumatera. Diketahui bahwa pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi yang paling tinggi berada pada Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebesar 67,39%. Kemudian pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi tertinggi yang berikutnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Riau yaitu sebesar 51,23%.

Pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi urutan ketiga tertinggi adalah pada Provinsi Sumatera Barat yaitu sebesar 49,95%. Urutan keempat pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi adalah pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sebesar 47,81%. Jambi merupakan provinsi urutan kelima yang memiliki tingkat pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi di pulau Sumatera yaitu sebesar

0 10 20 30 40 50 60 70 80

45,99%.Kemudian urutan keenam provinsi yang memiliki pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 43,09%. Urutan ketujuh adalah Provinsi Bengkulu sebagai Provinsi yang melakukan pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi di Sumatera yaitu sebesar 43,07%. Provinsi Sumatera Utara adalah provinsi dengan pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi kedelapan dengan jumlah pertumbuhan adalah sebesar 42,35%. Selanjutnya Provinsi Aceh memiliki pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi sebesar 37,24% yang merupakan urutan kesembilan sebagai provinsi yang memiliki pertumbuhan di pulau Sumatera. Kemudian Provinsi Lampung memiliki pertumbuhan Infrastruktur Komunikasi sebesar 35,75% yang merupakan Provinsi yang memiliki pertumbuhan terendah di pulau Sumatera.

4.1.3 Infrastruktur Sosial

Pada bagian ini akan dijelaskan dengan rinci terkait dengan pembangunan Infrastruktur Sosial yang dilakukan oleh setiap Pemerintah Provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Penjelasan terkait dengan data Infrastruktur Sosial ini hanya menggunakan data tahun 2017. Penggunaan data tahun 2017 tersebut mengingat bahwa kecenderungan pertumbuhan Infrastruktur Sosial 3 tahun terakhir tidak berbeda dengan tahun 2017, kemudian data pada tahun 2017 dapat menggambarkan kondisi pertumbuhan Infrastruktur Sosial yang ada saat ini.

4.1.3.1 Infrastruktur Kesehatan

Berikut ini adalah kondisi infrastruktur Kesehatan yang ada disetiap provinsi di Pulau Sumatera

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2019

Gambar 4.4

Infrastruktur Kesehatan di Sumatera Tahun 2017

Gambar 4.4 menjelaskan tentang pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan pada setiap provinsi yang ada di Sumatera. Diketahui bahwa pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan yang paling tinggi berada pada Provinsi Sumatera Barat yaitu sebesar 2,45%. Kemudian pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan tertinggi yang berikutnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebesar 1,99%.

Pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan urutan ketiga tertinggi adalah pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sebesar 1,98%. Urutan keempat pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan adalah pada Provinsi Aceh yaitu sebesar 1,79%. Sumatera Utara merupakan provinsi urutan kelima yang memiliki tingkat pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan di pulau Sumatera yaitu sebesar 1,78%.Kemudian urutan

0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00

keenam provinsi yang memiliki pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan tertinggi adalah Provinsi Lampung yaitu sebesar 1,76%. Urutan ketujuh adalah Provinsi Bengkulu sebagai Provinsi yang melakukan pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan di Sumatera yaitu sebesar 1,64%. Provinsi Sumatera Selatan adalah provinsi dengan pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan kedelapan dengan jumlah pertumbuhan adalah sebesar 1,62%.Selanjutnya Provinsi Riau memiliki pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan sebesar 1,46% yang merupakan urutan kesembilan sebagai provinsi yang memiliki pertumbuhan di pulau Sumatera.

Kemudian Provinsi Jambi memiliki pertumbuhan Infrastruktur Kesehatan sebesar 1,35% yang merupakan Provinsi yang memiliki pertumbuhan terendah di pulau Sumatera.

4.1.3.2 Infrastruktur Pendidikan

Berikut ini adalah kondisi Infrastruktur Pendidikan yang ada disetiap provinsi di Pulau Sumatera

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2019

Gambar 4.5

Infrastruktur Pendidikan di Sumatera Tahun 2017

0,00

Gambar 4.5 menjelaskan tentang pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan pada setiap provinsi yang ada di Sumatera. Diketahui bahwa pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan yang paling tinggi berada pada Provinsi Riau yaitu sebesar 6,67%. Kemudian pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan tertinggi yang berikutnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 5,98%. Pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan urutan ketiga tertinggi adalah pada Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 2,99%. Urutan keempat pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan adalah pada Provinsi Aceh yaitu sebesar 2,89%.

Lampung merupakan provinsi urutan kelima yang memiliki tingkat pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan di pulau Sumatera yaitu sebesar 2,57.Kemudian urutan keenam provinsi yang memiliki pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan tertinggi adalah Provinsi Jambi dan Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebesar 1,89%. Urutan ketujuh adalah Provinsi Sumatera Barat sebagai Provinsi yang melakukan pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan di Sumatera yaitu sebesar 1,79%. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah provinsi dengan pertumbuhan Infrastruktur Infrastruktur Pendidikan kesembilan dengan jumlah pertumbuhan adalah sebesar 0,79%.Selanjutnya Provinsi Bengkulu memiliki pertumbuhan Infrastruktur Pendidikan yang terendah yaitu sebesar 0,78%.

4.1.3.3 Infrastruktur Perdagangan

Berikut ini adalah kondisi Infrastruktur Perdagangan yang ada disetiap provinsi di pulau Sumatera.

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2019 Gambar 4.6

Infrastruktur Perdagangan di Sumatera Tahun 2017

Gambar 4.6 menjelaskan tentang pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan pada setiap provinsi yang ada di Sumatera. Diketahui bahwa pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan yang paling tinggi berada pada Provinsi Riau yaitu sebesar 5,79%. Kemudian pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan tertinggi yang berikutnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 5,07%.Pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan urutan ketiga tertinggi adalah pada Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 2,98%. Urutan keempat pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan adalah pada Provinsi Lampung yaitu sebesar 2,46%.

Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi urutan kelima yang memiliki tingkat pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan di pulau Sumatera yaitu sebesar 1,97%.Kemudian urutan keenam provinsi yang memiliki pertumbuhan

0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00

Infrastruktur Perdagangan tertinggi adalah Provinsi Sumatera Barat yaitu sebesar 1,78%. Urutan ketujuh adalah Provinsi Jambi sebagai Provinsi yang melakukan pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan di Sumatera yaitu sebesar 1,67%.

Provinsi Aceh adalah provinsi dengan pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan kedelapan dengan jumlah pertumbuhan adalah sebesar 1,36%.Selanjutnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan sebesar 0,69% yang merupakan urutan kesembilan sebagai provinsi yang memiliki pertumbuhan di pulau Sumatera. Kemudian Provinsi Bengku memiliki pertumbuhan Infrastruktur Perdagangan sebesar 0,67% yang merupakan Provinsi yang memiliki pertumbuhan terendah di pulau Sumatera.

4.2 Analisis dan Pembahasan Penelitian 4.2.1. Pengujian Normalitas

Uji Normalitas adalah sebuah uji yang dilakukan dengan tujuan menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, apakah sebaran data tersebut terdistribusi normal atau disnormal. Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan terdistribusi normal. Berikut adalah hasil pengujian normalitas data menggunakan Jarquae Bera test.

0

Uji normalitas dilakukan dengan melakukan Jarque Bera Test (JB-test) dimana probability dari JB-test dibandingkan dengan α = 5%. Apabila nilai probabilitas JB-test lebih kecil dari 0,05 maka diputuskan bahwa data terdistribusi tidak normal, dan sebaliknya pula. Berdasarkan pengujian yang dilakukan diketahui nilai probabilitas JB-test sebesar 0,295. Probabilitas JB-Test > 0,05 pada signifikansi 5% sehingga menunjukkan data sudah terdistribusi normal.

4.2.2. Pengujian Stationeritas

Suatu data dikatakan tidak stasioner bila nilai rata-rata dan variannya bervariasi sepanjang waktu atau dengan kata lain data dikatakan stasioner bila data bergerak stabil dan konvergen sekitar nilai rata-ratanya tanpa mengalami fluktuasi peregrakan trend positif maupun negatif. Penggunaan data-data yang tidak stasioner kedalam persamaan regresi akan menghasilkan sebuah regresi palsu.

Pengujian stasioneritas menggunakan metode yang dikembangkan oleh Dikey-Fuller. Dari pengujian stasioneritas secara berkelompok, data yang diuji stasioner pada tingkat 1st Difference. Dari tabel dibawah ini dapat diketahui bahwa seluruh variabel stasioner pada tingkat 1st difference. Probabilitas uji akar unit dibandingkan dengan α dengan signifikansi 5%. Apabila probabilitas uji akar unit

< 0,05 berarti data sudah stasioner.

Berdasarkan pengujian akar unit yang dilakukan, probabilitas uji < 0,05 sehingga data sudah stasioner. Berikut hasil pengujian akar unit yang dilakukan untu mengetahui stasioneritas data pada penelitian ini:

Tabel 4.2:

Pengujian Stasioneritas

Method Statistic Prob**

ADF - Fisher Chi-square 53.8762 0,000

ADF - Choi Z-stat -5.7550 0,000

Sumber: Data diolah

Dokumen terkait