BAB II TINJAUAN TEORETIS
C. Pengertian Jurnalisme Sastra
Gay Talase (1970) mengatakan: Meski seperti fiksi, jurnalisme ini bukanlah fiksi. Pengaruh fiksi memang sangat kental dalam laporan jurnalis yang dijalankan di sela-sela teks fakta.
Menurut Atmakusumah yang mengutip Tom wolf, mengatakan: sebuah bacaan yang amat langsung, dengan realitas yang terasa kongkret, serta melibatkan emosi dan mutu penulisnya.”
Menurut Mark Kramer:
“Istilah jurnalisme sastra yang kemudian menyebar dari new journalism
yang diperkenalkan oleh Tom Wolfe, berkembang pada pertengahan tahun 1960-an y1960-ang penuh pemberontak1960-an. Jurnalisme sastra lalu memasuki berbagai wilayah penulisan, misalnya penulisan traveling, memoar, esai-esai historis dan etnografis, dan sejumlah fiksi, bahkan semifiksi ambigu yang berasal dari peristiwa-peristiwa nyata.” (Kurnia, 2002:9-18).
Tom Wolfe membuat empat karakteristik jurnalisme baru yang membedakannya dengan jurnalisme konvensional, diantaranya: Pemakaian konstruksi adegan per adegan, pencatatan dialog secara utuh, dan pemakaian sudut pandang orang ketiga.
38
Catatan yang rinci tentang gerak tubuh, kebiasaan, dan pelbagai simbol kehidupan orang-orang yang muncul dalam peristiwa.
Jurnalistik sastra itu sendiri mengikuti terminologi Kolumnis Mahbub Djunaidi. Kisahnya di mulai Amerika Serikat, yaitu pada dekade 1960 lahir dan kemudian tumbuh apa yang disebut jurnalisme baru (new journalisme). Pada dasarnya, penganut aliran jurnalisme baru menolak berbagai paham dan kinerja yang sudah lama dikembangkan jurnalisme lama yang konvensional. Fadler seorang komunikolog membagi jurnalisme baru dalam empat pengertian, di antaranya:
a. Advocacy Journalism
Advocacy Journalismi atau jurnalisme advokasi adalah kegiatan jurnalistik yang berupaya menyuntikkan opini kedalam berita. Tiap reportase, tanpa menginkari fakta, diarahkan untuk membentuk opini publik. Rangkian opini yang terbentuk dan hendak diapungkan didapat dari kerja para jurnalis ketika memroses liputan fakta demi fakta secara intens dan sungguh-sunggh. Jadi, kesimpulan opini mereka memiliki korelasi erat dengan ralitas fakta peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
b. Alternative Journalism
Alternative Journalism atau jurnalisme alternatif merupakan kegiatan jurnalistik yang menyangkut publikasi internal dan bersifat lebih personal. Jurnal-jurnal alternatif memunculkan tulisan-tulisan yang hendak membasmi korupsi, dengan tampilan yang lain dari “anjing menyalak”, dan melebihi media underground konvensional dalam performa kritikan dan liputannya. Tujuan mereka adalah menggerakkan minat dan sikap dan prilaku. Tampilan profesional,
spesifikasi bidang pemberitaan, dan target umum pembaca digarap sebaik-baiknya oleh jurnalisme alternatif.
c. Precision Journalism
Precision Journalism atau jurnalisme presisi adalah kegiatan jurnalistik yang menekankan ketepatan (presisi) informasi dengan memakai pendekatan ilmu sosial dalam proses kerjanya. Perkembangan jurnalisme presisi difokuskan pada kerja pencarian data. Kerja jurnalistik dibatasi dengan ukuran ketepatan informasi yang empirik. Hasil kerja liputan para jurnalisnya harus memiliki kredibilitas akademis ketika diinterpretasi oleh masyarakat dengan menggunakan kegiatan penelitian yang terencana dan sistematis.
d. Literacy Journalism
Literacy Journalism atau jurnalisme sastra, membahas pamakaian gaya penulisan fiksi untuk kepentingan dramatisasi pelaporan dan membuat artikel menjadi memikat. Teknik pelaporan dipenuhi dengan gaya penyajian fiksi yang memberikan detail-detail potret subjek, yang secara sengaja diserahkan kepada pembaca untuk dipikirkan, digambarkan, dan ditarik kesimpulannya. Pembaca disuruhi mengimajikan tampakan fakta-fakta yang telah dirancang jurnalis dalam urutan adegan, percakapan, dan amatan suasana.39
Jurnalisme Sastra merupakan sebuah metode penulisan dalam jurnalistik di samping metode penulisan yang sudah ada. Jurnalisme Sastra satu berada di ranah fakta. Satu lagi di ranah fiksi dan menjadi sebuah konsep yang kontrakdiktif: fiksi atau fakta. Ia seratus persen jurnalisme. Hanya saja ditulis dengan gaya sastra. Ia
39
juga seratus persen fakta, bukan fiksi. Pada teknik penulisan dalam jurnalistik lama, umpamanya, dikenal beberapa jenis artikel seperti berita lurus dan karangan khas. Berita lurus, sebagai contoh, terdiri atas beberapa elemen 5W+1H. Elemen yang dianggap terpenting menjadi teras.
Elemen-elemen selanjutnya memberikan penjelasan tambahan atas teras. Informasi tambahan semakin lama semakin tidak penting atau semakin bisa dibuang. Struktur penulisan semacam ini memungkinkan editor menyesuaikan teks berita dengan keterbatasan ruang secara gampang. Jika ruang tak mampu menampung teks berita secara penuh, bagian terbawah dipotong, atau dihapus lantaran kurang penting dibanding bagian di atasnya.
Menurut Andreas Harsono ketua Yayasan Pantau memaparkan pengertian Jurnalisme Sastra, yaitu:
“Jurnalisme adalah segala upaya menyampaikan informasi untuk menyampaikan kebenaran atau faktual kepadaya khalayak luas. Namun ada beberapa bagian penting dalam struktur penulisan jurnalistik di media cetak, seperti piramida terbalik atau disebut juga Straight news, yang kedua yaitu feature
yang penulisannya dibuat dengan satu sudut pandang yang berbeda (one angles) dan tetap fokus pada struktur penulisannya dan yang ketiga yaitu narasi yang di buat dari dua sudut pandang yang berbeda-beda (multiple angles) dan tetap fokus pada struktur penulisannya. Salah satu penggunaan gaya penulisan yang digunakan dalam jurnalistik sastrawi yaitu menggunakan gaya narasi atau di sebut juga narative reporting.”40
Jurnalisme Sastra merupakan salah satu dari tiga nama buat genre atau gerakan tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Tom Wolf, wartawan-cum-novelis, pada 1960-an memperkenalkan genre ini dengan nama “new journalism” (jurnalisme baru). Genre ini kemudian dikenal dengan nama literary journalism atau
40
Hasil wawancara langsung dengan Andreas Harsono, pada tanggal 14 April 2009, pukul 11:00 wib, di apartemen Permata Senayan Jakarta Selatan.
narrative reporting. Suratkabar-suratkabar Amerika banyak memakai elemennya ketika kecepatan televisi dan dotcom memaksa mereka tampil dengan laporan-laporan yang analitis dan mendalam. Suratkabar tak mungkin bersaing cepat dengan televisi
Roy Peter Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute, Florida, mengembangkan pedoman standar menjadi pendekatan baru yang naratif 5W 1H adalah singkatan dari who (siapa), what (apa), where (dimana), whene (kapan),
why (mengapa), dan how (bagaimana). Pada narasi, menurut Clark dalam sebuah esei Nieman Report, who berubah menjadi karakter, what menjadi plot atau alur,
where menjadi setting, when menjadi kronologi, why menjadi motif, how menjadi narasi. 41
Ada juga yang bilang genre ini adalah jawaban media cetak terhadap serbuan televisi, radio, dan internet. Suratkabar bisa berkembang bila menyajikan berita yang dalam dan analitis.
Dari beberapa pengertian tentang Jurnalisme Sastra yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis menyimpulkan bahawa narasi atau Jurnalisme Sastra merupakan karya jurnalistik sastra yang dibuat dalam gaya penulisan fiksi, naratif, dan imajinatif yang memiliki nilai sastra yang tinggi dan berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan sehingga pembaca tertarik untuk masuk mendalami sebuah karya sastra jurnalistik tersebut.
41