• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kedisiplinan Guru dalam Mengajar 1. Batasan Pengertian

Secara etimologi kedisiplinan diambil dari kata disiplin yang berarti ketaatan (kepatuhan) kepada tata tertib.1 Sedangkan menurut WJS. Poerwadarminto, bahwa disiplin adalah latihan batin dan watak dengan supaya segala perbuatannya selalu mentaati tata tertib (di sekolah dan sebagainya).2

Selain pengertian di atas istilah disiplin juga mengandung banyak arti G ood’s D ictionary o f Education menjelaskan “disiplin” sebagai

b e rik u t:

a. Proses atau hasil pengarahan atau pengendalian keinginan atau kepentingan demi suatu cita-cita atau untuk mencapai sesuatu tindakan yang lebih efektif.

b. Pencarian suatu cara bertindak terpilih dengan gigih, aktif, dan diarahkan sendiri sekalipun menghadapi rintangan.

c. Pengendalian perilaku dengan langsung dan otoriter melalui hukuman dan hadiah.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, him. 208

2 WJS. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1982, him. 254

14

d. Pengekangan dorongan, sering melalui cara-cara yang tak enak atau menyakitkan.3

Sedangkan yang dimaksud guru di sini adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) sebagai pengajar.4

Dari pengertian di atas yaitu tentang kedisiplinan guru, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kedisiplinan guru adalah ketaatan seorang guru melaksanakan tata tertib (kode etik) keguruan, baik yang berkaitan dengan tugas kepada atasan (pemerintah) maupun dengan tanggung jawabnya dalam mendidik, mengajar, membimbing serta mengarahkan siswanya baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Dalam dunia pendidikan, teijadinya interaksi guru dengan murid tidak pemah bisa dipisahkan. Salah satu tugas seorang guru diantaranya adalah mengajar. Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberikan kemungkinan bagi siswa untuk teijadinya proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.5

Prof. Nasution sendiri mengemukakan beberapa pokok tentang mengajar yaitu sebagai b erik u t:

a. Mengajar berarti membimbing aktivitas anak b. Mengajar berarti membimbing pengalaman anak

3 Oteng Sutrisna, Administrasi Pendidikan, Angkasa, Bandung, 1983, him. 97 4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit., him. 288

5 A Tabrani Rusyan, dkk., Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Remadja Karya, Bandung, 1989, him. 26

15

c. Mengajar berarti membantu anak berkembang dan menyesuaikan dengan lingkungan6

Sehingga dari definisi di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud kedisiplinan guru dalam mengajar adalah ketaatan seorang guru dalam melaksanakan tata tertib yang berkaitan dengan tugas seorang guru yaitu membimbing, mendidik, mengajar, dan mengarahkan siswanya di dalam proses belajar mengajar, karena dengan disiplin yang tinggi semua aktifitas akan berhasil dengan lancar, dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai.

Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa di dalam sekolah maupun di dalam belajar. Kedisiplinan tersebut mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar yaitu dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai atau karyawan dalam hal administrasi, kebersihan, keteraturan gedung, halaman dan lain-lain. Kedisiplinan kepala sekolah dalam mengelola staf beserta siswa siswanya dan kedisiplinan team BP dalam pelayanan kepada siswa.

Karena apabila seluruh staf sekolah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan disiplin membuat siswa menjadi disiplin pula dan yang lebih utama adalah kedisiplinan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa anak akan lebih tanggung jawab, giat dalam belajar dan akan selalu menghargai waktu. Namun apabila seluruh staf dan guru

6 Eddy Soewardi Kartawidjaja, Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar, Sinar Baru, Bandung, 1987, him. 11

16

sendiri tidak berdisiplin maka dapat dipastikan anak tidak akan disiplin pula.

Pada kenyataannya dewasa ini telah terjadi erosi sopan santun disiplin dalam melaksanakan proses pendidikan, baik yang dilakukan peserta didik maupun oleh guru itu sendiri, terjadinya erosi disiplin banyak dipengaruhi beberapa faktor, faktor tersebut ialah :

a. Masyarakat pada umumnya sudah berpandangan lebih maju untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi artinya tuntutan materi lebih banyak dan kebutuhan hidup lebih mendesak. Sehingga bagaimanapun caranya, jalannya banyak ditempuh untuk menutupi tuntutan hidup tersebut.

b. Pola dan sistem pendidikan yang sering berubah sehingga membingungkan siswa dan guru untuk melaksanakan proses pendidikan sehingga tidak berjalan secara semestinya.

c. Motivasi para guru dan siswa menurun dengan asumsi bahwa tanpa belajar baik, tanpa disiplin tinggi, tanpa mengikuti kegiatanpun mereka pasti lulus atau naik kelas.

d. Longgamya peraturan yang ada, terutama pada sekolah-sekolah di kota besar

e. Munculnya manusia atau sekelompok manusia yang ingin hidup bebas tanpa ikatan dan aturan.7

Cece Wijaya, A Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar M engajar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991, him. 17

17

Oleh karena itu seorang guru hendaklah dapat memegang dan memiliki disiplin yang tinggi agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik terutama dalam mengajar dan sekaligus menjadi suri tauladan bagi para siswanya, sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam surat A1 A zhabayat 218

Artinya : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (QS. A1 Azhab : 21)

Jadi menurut penulis untuk menjadi tenaga pendidik hams benar- benar menjadi suri tauladan artinya mempunyai kualitas keilmuan pendidikan dan keguruan yang memadai guna menunjang tugas profesinya, yang disertai dengan kepribadian yang benar-benar mantap di dalam membina kepribadian dan intelektual anak didik. Supaya menjadi anak yang berdisiplin dan bertanggung jawab.

2. Tanggung jaw ab dan kode etik gum

Sebagai seorang pendidik, mengajar bukan sebagai pekerjaan yang mudah akan tetapi mengajar mempakan pekerjaan yang sulit dan nimit yang masih membutuhkan persiapan-persiapan sebelumnya. Gum memiliki tanggung jaw ab yang besar dalam mendidik siswanya. Selain dituntut untuk mampu tampil sebagai pegawai pemerintah yang patuh berdisiplin dan taat terhadap kode etik gum, juga dituntut sebagai aktor

8 Departemen Agama Rl, Al Qur'an dan Terjemahan, Diponegoro, Bandung, 2004, him. 334

18

yang ideal di depan anak didiknya, baik saat menyampaikan materi pelajaran ataupun di luar jam pelajaran.

Mengingat mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jaw ab moral maka berhasil tidaknya pendidikan siswa secara formal terletak pada tanggung jawab guru dalam melaksanakan tugas mengajar. Oleh sebab itu seorang guru hendaknya memiliki sifat seperti yang telah dikatakan oleh Wens Tanlain bahwa guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat diantaranya adalah :

a. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan

b. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya)

c. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akbiat-akibat yang timbul (kata hati)

d. Menghargai orang lain termasuk anak didik e. Bijaksana dan hati-hati

f. Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.9

Secara moral guru mempunyai ikatan norma di dalam berinteraksi dengan murid, menyikapi hal ini guru harus mengedepankan harga diri dan tidak lengah dalam menjunjung tinggi keteladanan sebagaimana Allah berfirman dalam surat A1 Arrod ayat 37:

9 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan anak didik dalam Interaksi E dukatif Rineka Cipta, Jakarta, 2000, him. 36

19

Y \ < * y * * ® s * ) s y * i .

" j , * > i r v . i i u J j i

x / v ^

Artinya : "Dan Demikianlah, kam i Telah menurunkan A l Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu m engikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, M aka sekali-kali tidak ada pelindung dan pem elihara bagimu terhadap (siksa) A llah*10

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap manusia dituntut untuk mampu mematuhi berbagai ketentuan atau peraturan sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Begitu juga seorang guru di sekolah hendaklah memathui dan melaksanakan peraturan yang berlaku salah satunya adalah bagaimana cara berinteraksi yang baik terhadap murid itu sendiri. Dalam hal ini terdapat beberapa etika yang harus dijalankan dalam berinteraksi dengan murid diantaranya adalah :

a. Guru selaku pendidik hendaknya selalu menjadikan dirinya suri tauladan bagi anak didiknya

b. Dalam melaksanakan tugas guru harus memiliki jiw a kasih sayang dan adil serta menumbuhkannya dengan penuh rasa tanggung jawab.

c. Guru wajib menjunjung tinggi harga diri setiap murid.

d. Guru seyogyanya tidak memberikan pelajaran tambahan kepada murid dengan memungut biaya.11

10 Departemen Agama RI, op.cit, him. 202

" Soekarto Indrafachrudi, Mengantar Bagaimana Memimpin Sekolah yang Baik, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1993, him. 47

Sehingga guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam rangka membina jiw a dan watak anak didik. Dengan demikian tanggung jaw ab guru adalah untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila, cakap, berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Sebagai pendidik yang memiliki tanggung jaw ab yang besar seorang guru juga harus melaksanakan serentetan kode etik guru di dalam melaksanakan tugasnya. Istilah “kode etik” terdiri dari dua kata yakni “kode dan etik” kata etik berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti

watak, adab atau cara hidup. Sedangkan kode artinya nilai. Sehingga kode etik dapat diartikan tata susila keguruan.12 Rostiyah NK mengatakan bahwa etik adalah cara berbuat yang menjadi adat karena persetujuan dari kelompok manusia, etik biasanya dipakai untuk mengkaji nilai-nilai atau kode.13

Berikut ini akan dikemukakan beberapa kode etik guru Indonesia yang terdiri dari beberapa item, antara lain :

a. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila

b. Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik

20

12 Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., him. 49

13 Roestiyah NK., Masalah-masalah llm u Keguruan, Bina Aksara, Jakarta, 1986, him. 176

21

c. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan

d. Guru menciptakan hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat ang lebih luas untuk kepentingan pendidikan

e. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya

f. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan. g. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina, dan

meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdian.

h. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.14

Guru sebagai tenaga profesional perlu memahami dan melaksanakan kode etik guru serta menjadikannya pedoman di dalam melaksanakan tugasnya dengan penuh kasih sayang dan mengedepankan keteladanan. Karena di dalam kode etik keguruan memuat ketentuan- ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru itu sendiri. Apabila guru telah melakukan perbuatan asusila atau amoral berarti guru telah melanggar kode etik keguruan.

22

Dalam kenyataannya tidak sedikit guru yang melakukan pelanggaran administrator maupun pelanggaran moral. Clarence A Weber mengatakan ada beberapa pelanggaran yang sering dilakukan seorang guru diantaranya adalah

a. Guru bekerja lebih keras mengejar keuntungan materi seperti jabatan, gaji yang tinggi dan cuti sakit daripada mutu pekeijaan mereka sebagai guru

b. Guru lebih menaruh perhatian kepada perolehan gelar sarjana supaya mendapat gaji yang lebih tinggi daripada menjadi guru yang lebih baik. r c. Guru suka membicarakan guru lain mempercakapkan kekurangan

mereka

d. Guru lebih memperhatikan mata pelajaran daripada mengajar anak- anak

e. Guru tidak setia pada jabatan, mereka menghalang-halangi orang lain untuk memangkunya.15

Setidaknya pelanggaran-pelanggaran di atas tidak akan teijadi jika seorang guru menghayati profesi keguruan dan selalu berpedoman pada kode etik guru dan selalu mengingat sumpahnya di depan umum saat ( diangkat menjadi pegawai pemerintah.

3. Prinsip-prinsip dalam Mengajar

Mengajar bukan tugas yang ringan bagi seorang guru. Mengingat tugas yang berat, maka seorang individu harus memiliki prinsip. Dalam

23

hal ini terdapat beberapa macam prinsip mengajar, namun di sini penulis hanya menguraikan lima prinsip saja diantaranya adalah :

a. Perhatian

Dalam mengajar seorang guru haras dapat membangkitkan perhatian anak terhadap pelajaran yang telah diberikan. Perhatian ini dapat teijadi secara langsung maupun tidak secara langsung. Dikatakan secara langsung karena pada anak sudah ada kesadaran akan tujuan dan kegunaan maka pelajaran yang telah diperoleh. Sedangkan perhatian yang tidak secara langsung akan muneul bila dirangsang oleh guru yaitu dengan penyajian pelajaran yang menarik, serta menggunakan media yang merangsang anak berpikir. Bila perhatian kepada pelajaran itu ada maka pelajaran yang diterimanya akan dihayati sehingga mengakibatkan anak dapat membandingkan, membedakan dan menyimpulkan dari pengetahuan yang telah diterimanya.

b. Appersepsi

Setelah menguraikan tentang prinsip yang pertama yaitu perhatian maka prinsip yang kedua yaitu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Hal ini akan lebih melancarkan jalannya guru dalam mengajar.

c. Korelasi

Hasil dari kegiatan belajar mengajar akan sukses apabila di dalam mengajar guru selalu memperhatikan dan memikirkan hubungan

24

diantara setiap mata pelajaran karena semua ilmu pengetahuan itu saling berkaitan. Jadi dalam mengajar guru haras selalu memperhatikan apakah yang diajarkan guru berkorelasi atau tidak, dapat diterima akal, dapat dimengerti, yang bertujuan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan baik guru maupun siswa itu sendiri.

d. Individualisasi

Setiap siswa satu dengan yang lain pastmya memiliki bermacam-macam perbedaan seperti perbedaan inteligensi, minat,

26

1) Langkah persiapan

Persiapan yang dimaksud di sini adalah menjelaskan kepada siswa tentang tujuan pelajaran dan pokok masalah yang akan dibahas dalam pelajaran tersebut.

2) Langkah penyajian

Tahap ini guru menyajikan bahan yang berkenaan dengan pokok-pokok masalah.

3) Langkah generalisasi

Adanya unsur yang sama maupun berlainan dihimpun untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan mengenai pokok- pokok masalah.

4) Langkah Aplikasi penggunaan

Pada langkah ini kesimpulan atau konklusi yang diperoleh digunakan dalam berbagai situasi sehingga nyata makna kesimpulan itu.19 20

b. Metode Tanya Jawab

Yang dimaksud dengan metode tanya jawab adalah penyampaian materi pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau cara penyajian pelajaran dalam bentuk tanya yang hams dijawab terutama dari gum kepada murid.

19 Armai Arief, Pengantar llmu dan M etodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, him. 137

28

d. Metode demontrasi dan eksperimen23

Metode demontrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperhatikan kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat kue dan lain sebagainya.

Sedangkan eksperimen dipakai dalam pengajaran dimana guru dan murid bersama melakukan sesuatu, misalnya murid bersama guru mengadakan eksperimen menyelenggarakan sholat Jum ’at, sholat jenazah dan sebagainya.

e. Metode resitasi24

Metode ini biasa disebut metode pekeijaan rumah karena siswa diberi tugas khusus di luar jam pelajaran. Penekanan metode ini terletak pada jam pelajaran berlangsung dimana siswa disuruh untuk me near i informasi atau fakta-fakta yang berupa data-data yang diperoleh dari laboratorium, perpustakaan, pusat sumber belajar dan sebagainya.

f. Metode kerja kelompok25

Metode keija kelompok adalah kelompok dari kumpulan beberapa individu yang di dalamnya terdapat beberapa hubungan

23 M. Basyiruddin Usman, M etodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, him. 43

24 Ib id , him. 47

29

timbal balik antara individu serta saling percaya mempercayai diantara anggota kelompoknya.

Dalam menggunakan metode ini, seorang guru mempunyai peran di dalam membimbing siswanya, diantara peranan guru dalam penggunaan metode keija kelompok adalah :

1) Manager

Guru berperan membantu para siswa yaitu dengan mengorganisasi diri, tempat duduk, serta bahan yang diperlukan. 2) Observer

Guru bertugas mengamati dinamika kelompok yang teijadi sehingga ia dapat mengarahkan serta membantu siswa, yaitu dengan memberikan balikan kepada kelompok tentang kepemimpinan, interaksi, tujuan, perasaan, serta norma-norma yang teijadi dalam kelompok.

3) Advisor

Guru juga memberi saran-saran tentang menyelesaikan tugas bila diperlukan tetapi pemberian saran bukan berarti guru yang menyelesaikan tugas buat peserta. Guru hanya memberikan saran melalui pertanyaan-pertanyaan bukan memberikan informasi secara langsung.

30

4) Evaluator

Peran yang terakhir adalah menilai peserta kelompok dalam proses pelaksanaan tugas. Guru menilai harus secara kelompok bukan secara individu.

Dokumen terkait