• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: LANDASAN TEORI 12

2.2 Kepemimpinan Transformasional

2.2.1 Pengertian Kepemimpinan

beragam atas kepemimpinan, selain melahirkan definisi kepemimpinan yang beragam juga melahirkan teori kepemimpinan yang beragam pula. Setiap pendekatan yang digunakan melahirkan berbagai macam teori kepemimpinan. Luthans (2006) mendefinisikan kepemimpinan sebagai sekelompok proses, kepribadian, pemenuhan, perilaku tertentu, persuasi, wewenang, pencapaian tujuan, interaksi, perbedaan peran, inisiasi struktur, dan kombinasi dari dua atau lebih dari hal-hal tersebut.

Khuntia dan Suar (2004) menyatakan bahwa semua teori mengenai kepemimpinan menekankan pada tiga gagasan yang dibangun baik secara bersama-sama maupun terpisah yaitu: (1) rasionalitas, perilaku, dan kepribadian pemimpin; (2) rasionalitas, perilaku, dan kepribadian pengikut; dan (3) faktor-faktor yang

4

berhubungan dengan pelaksanaan tugas, iklim organisasi, dan budaya.

Menurut Rivai dan Mulyadi (2012), kepemimpinan pada dasarnya: melibatkan orang lain, melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak merata antara pemimpin dan anggota kelompok, menggerakkan kemampuan dengan menggunakan berbagai bentuk kekuasaan untuk mempengaruhi tingkah laku bawahan, dan menyangkut nilai. Empat sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi yaitu: 1) kecerdasan; 2) kedewasaan; 3) motivasi diri dan dorongan berprestasi; 4) sikap dan hubungan kemanusiaan.

Fullan (2001) berpendapat bahwa semakin rumit sebuah perkumpulan atau organisasi, akan semakin dibutuhkan pemimpin yang mumpuni dalam mengarahkan organisasi karena pemimpin memegang peranan penting dalam suatu organisasi. Peran seorang pemimpin dalam suatu organisasi adalah sebagai penunjuk arah dan tujuan di masa depan (direct setter), agen perubahan (change agent), negosiator (spokeperson), dan sebagai pembina (coach). Sekolah, sebagai suatu lembaga pendidikan dan organisasi membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menjamin kelangsungan proses pendidikan untuk terus

5 berkembang menghadapi tantangan global. Oleh karena itu, pemimpin dalam dunia pendidikan memerlukan kemampuan seperti komunikator yang handal, mampu bekerja dalam tim, mampu memecahkan masalah yang ada, pembawa perubahan dan menjadi pemimpin transformasional (Balyer, 2012).

Studi tentang kepemimpinan dapat dilakukan melalui berbagai cara, tergantung dari metodologi yang dipilih oleh peneliti dan definisi kepemimpinan (Stewart, 2006). Robbins (1996) membagi teori mengenai kepemimpinan ke dalam empat kategori, yaitu

a. Teori Ciri Kepemimpinan (The Leadership

Characteristic theory)

Teori Ciri Kepemimpinan adalah teori yang mencari ciri kepribadian sosial, fisik, atau intelektual yang memperbedakan pemimpin dari bukan pemimpin. Dalam teori ini diidentifikasikan ciri-ciri yang dikaitkan secara konsisten dengan kepemimpinan yaitu enam ciri yang cenderung membedakan pemimpin dari bukan pemimpin adalah ambisi dan energi, hasrat untuk memimpin, kejujuran dan integritas (keutuhan), percaya diri, kecerdasan, dan pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan.

b. Teori Perilaku Kepemimpinan (Behavioral

6

Teori Perilaku Kepemimpinan adalah teori-teori yang mengemukakan bahwa perilaku spesifik membedakan pemimpin dari bukan pemimpin. Adapun teori-teori yang termasuk ke dalam Teori Perilaku Kepemimpinan adalah: a) Studi-studi Kepemimpinan Ohio State, b) Telaah Universitas Michigan, dan c) Kisi-kisi Manajerial Blake & Mouton dan Studi Skandinavia. c. Teori Kontingensi (Contingency Theory)

Teori Kontingensi merupakan pendekatan kepemimpinan yang mendorong pemimpin memahami perilakunya sendiri. Teori ini mengatakan bahwa keefektifan sebuah kepemimpinan adalah fungsi dari berbagai aspek situasi kepemimpinan (Ivancevich, Konopaske, Matteson, 2007). Adapun lima teori yang termasuk ke dalam teori kontingensi adalah: a) Model kontingensi Fiedler (Fiedler Contingency Model), b) Teori Situasional Hersey dan Blanchard, c) Teori Pertukaran Pemimpin-Anggota, d) Teori Jalur-Tujuan Robert House (House’s Path Goal Theory), dan d) Teori Model Partisipasi-Pemimpin Vroom dan Yetton.

d. Teori Neo-Karismatik (Neocharismatic Theories) Merupakan teori kepemimpinan yang menekankan simbolisme, daya tarik emosional, dan komitmen pengikut yang luar biasa. Teori-teori yang termasuk ke dalam teori ini adalah: a) Teori Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership), b)

7 Teori Kepemimpinan Transformasional (Transformasional Leadership Theory), c) Teori Kepemimpinan Transaksional (Transactional Leadership Theory) dan d) Teori Kepemimpinan Visioner (Visionary Leadership)

Berdasarkan teori Robbins yang ada tentang kepemimpinan, dapat dilihat bahwa kepemimpinan transformasional termasuk ke dalam teori neo-karismatik. Kepemimpinan yang termasuk dalam teori karismatik ini lebih berpusat pada kharisma yang ada di dalam diri seorang pemimpin untuk membawa perubahan dalam organisasi yang dipimpinnya (Robbins, 1996). Kebanyakan teori terbaru dari kepemimpinan ini amat terpengaruh oleh James McGregor Burns (1978) yang membedakan antara kepemimpinan yang melakukan transformasi dengan kepemimpinan transaksional (Yukl, 2010). Salah satu bentuk kepemimpinan yang diyakini dapat mengimbangi pola pikir dan refleksi paradigma baru dalam arus globalisasi dirumuskan sebagai kepemimpinan transformasional (Balyer, 2012).

Northouse (2001) mendefinisikan secara singkat tentang kepemimpinan transformasional sebagai “the

ability to get people to want to change, improve, and be led. It involves assessing associates' motives, satisfying their needs, and valuing them.” Singkatnya,

8

kepemimpinan transformasional melibatkan peran emosional dari seorang pemimpin ke pengikutnya dalam perubahan yang lebih baik. Awalnya, kepemimpinan transformasional pertama kali digagas oleh J. V. Downtown pada tahun 1973, akan tetapi teori kepemimpinan tranformasional mencuat ke permukaan publik melalui James McGregor Burns pada tahun 1978 lewat bukunya yang berjudul Leadership yang kemudian membawa teori tersebut ke dalam ranah organisasi (Northouse, 2001).

Dalam bukunya tersebut, Burns menyatakan kepemimpinan transformasional sebagai “leaders and

followers help each other to advance to a higher level of

morale and motivation.” Pernyataan ini mengandung arti bahwa pemimpin dan pengikut bersama-sama saling menolong untuk mencapai tingkatan moral dan motivasi yang lebih tinggi guna mencapai tujuan bersama.

Burns (dalam Poulson dkk 2001) mengutarakan bahwa pada dasarnya kepemimpinan atau leadership dalam suatu organisasi secara alamiah dapat dikategorikan kedalam dua bagian, yaitu transformasional dan transaksional. Perbedaan mendasar antara keduanya adalah kepemimpinan transaksional tradisional mencakup hubungan pertukaran antara pemimpin dan pengikut, sedangkan

9 kepemimpinan transformasional lebih mendasarkan pada pergeseran nilai dan kepercayaan pemimpin, serta kebutuhan pengikutnya (Burns, 1978).

Burns (1978) mengatakan bahwa “the

transformational leader looks for potential motives in followers, seeks to satisfy higher needs, and engages the

full person of the follower”. Hal ini berarti bahwa pemimpin transformasional menyerukan nilai nilai moral ke pengikut dalam upayanya untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang masalah etis dan untuk memobilisasi energi dan sumber daya mereka untuk mereformasi institusi (Givens, 2008).

Teori kepemimpinan transformasional dari Burns ini kemudian memberikan inspirasi dan kerangka kerja konseptual yang fundamental bagi Bernard M. Bass (1985). Bass yang mengusung aliran teori neo-karismatik (teori kepemimpinan yang menekankan simbolisme, daya tarik emosional, dan komitmen pengikut yang luar biasa) merekonseptualisasikan dan mengembangkan teori kepemimpinan transformasional milik Burns ke dalam konteks penelitian empiris yang berdasarkan pada kepemimpinan transformasional.

Kepemimpinan transformasional menurut Bass (1985) adalah interaksi antara pemimpin dan pengikut yang ditandai oleh pengaruh pemimpin untuk mengubah perilaku pengikut menjadi sesorang yang

10

merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu. Ia mengatakan bahwa pemimpin adalah “one who

motivates us to do more than we originally expected to do”. Pemimpin transformasional, digambarkan sebagai

gaya kepemimpinan yang dapat membangkitkan atau memotivasi karyawan, sehingga dapat berkembang dan mencapai kinerja pada tingkat yang tinggi, melebihi dari apa yang mereka perkirakan sebelumnya. Motivasi yang dimaksud dalam pendapat Bass ini dapat dicapai dengan menaikkan tingkat kewaspadaan tentang pentingnya akan hasil dan cara untuk meraihnya.

Bass (dalam Bass & Avolio, 2004) mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai berikut:

“The process of influencing in which leaders change their associates’ awareness of what is important, and move them to see themselves and the opportunities and challenges of their environment in a new way. Transformational leaders are proactive: they seek to optimize individual, group, and organizational development and innovation, not just achieve performance “at expectations”. They convince associates to strive for higher levels of potential as well as higher levels of moral and ethical standards.”

Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai sebuah perilaku yang bersifat proaktif, meningkatkan perhatian atas kepentingan bersama kepada para pengikut, dan membantu para pengikut mencapai tujuan pada tingkatan yang paling tinggi (Bass, dalam Antonakis et al, 2003). Dengan begitu,

11 kepemimpinan transformasional lebih menekankan pada perubahan yang dilakukan oleh pemimpin terhadap kepercayaan, nilai, dan perilaku para pengikut sehingga konsisten dengan visi organisasi (Khuntia & Suar, 2004). Pemimpin memberikan pengaruhnya dengan melibatkan pengikutnya untuk berpartisipasi dalam penentuan tujuan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan memberikan umpan balik melalui pelatihan, pengarahan, konsultasi, bimbingan, dan pemantauan atas tugas yang diberikan. Pemimpinan transformasional adalah pemimpin yang mendorong para pengikutnya untuk merubah motif, kepercayaaan, nilai, dan kemampuan sehingga minat dan tujuan pribadi dari para pengikut dapat selaras dengan visi dan tujuan organisasi (Bass, dalam Goodwin et al., 2001).

Bass (dalam Judge dan Picollo, 2004) melihat bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya berfokus pada pemimpin, tetapi juga memperhatikan hubungan yang ada antara pemimpin dan pengikut dan bersama-sama saling meningkatkan dan mengembangkan moralitas dan motivasinya.

Bass (1985) mendefinisikan kepemimpinan transformasional didasarkan pada pengaruh dan hubungan pemimpin dengan pengikut atau bawahan. Para pengikut merasa percaya, mengagumi, loyal dan

12

menghormati pemimpin, serta memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi untuk berprestasi dan berkinerja yang lebih tinggi.

Menurut Bass (dalam Robbins & Judge, 2008), pemimpin transformasional adalah pemimpin yang menginspirasi para pengikutnya untuk mengesampingkan kepentingan pribadi mereka demi kebaikan organisasi dan mereka mampu memiliki pengaruh yang luar biasa pada diri para pengikutnya. Mereka menaruh perhatian terhadap kebutuhan pengembangan diri para pengikutnya, mengubah kesadaran para pengikut atas isu-isu yang ada dengan cara membantu orang lain memandang masalah lama dengan cara yang baru, serta mampu menyenangkan hati dan menginspirasi para pengikutnya untuk bekerja keras guna mencapai tujuan-tujuan bersama (Bass dalam Rafferty & Griffin, 2004).

Luthans (2006) menyimpulkan bahwa pemimpin transformasional yang efektif memiliki tujuh karakter sebagai berikut: 1) mengidentifikasikan dirinya sebagai alat perubahan; 2) pemberani; 3) mempercayai orang lain; 4) motor penggerak nilai; 5) pembelajar sepanjang masa; 6) memiliki kemampuan menghadapi kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian; 7) visioner.

13 Kepemimpinan transformasional dipercaya dapat menghasilkan keuntungan baik bagi pemimpin dan pengikutnya; pemimpin menjadi seorang agen perubahan dan para pengikutnya berkembang menjadi seorang pemimpin (Bass dan Burns dalam Poulson dkk, 2011). Hal ini dikarenakan para pemimpin transformasional membantu para pengikutnya untuk tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan mereka, sedangkan pemimpin memberikan motivasi bagi pengikutnya.

Secara teoritis, konsep dari kepemimpinan transformasional ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya sekumpulan perilaku atau sifat dari seorang pemimpin, tetapi juga merupakan proses dimana individu bergabung menjadi satu kesatuan dalam organisasi secara utuh (Bass dalam Chin, 2007). Kepemimpinan transformasional adalah proses untuk membentuk dan menaikkan tujuan dan kemampuan untuk mencapai perkembangan signifikan melalui kepentingan bersama dan tindakan kooperatif (Bass, 1990).

Bass (dalam Hughes dkk., 2012) mengemukakan bahwa pemimpin transformasional memiliki visi, keahlian retorika, dan pengelolaan kesan yang baik dan menggunakannya untuk mengembangkan ikatan emosional yang kuat dengan pengikutnya. Pemimpin

14

transformasional diyakini lebih berhasil dalam mendorong perubahan organisasi karena tergugahnya emosi pengikut serta kesediaan mereka untuk bekerja mewujudkan visi sang pemimpin. Model kepemimpinan transformasional dianggap efektif dalam situasi kepemimpinan atau budaya apa pun termasuk dalam dunia pendidikan (Bass, 1990). Kepemimpinan transformasional cocok diterapkan pada lingkungan sekolah yang dinamis dan memiliki tenaga guru yang merupakan tenaga profesional, berpendidikan, dan memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi.

Bass (dalam Chew & Chan, 2008) mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional secara positif diasosiasikan dalam konteks sekolah karena iklim kerja yang inovatif dan merangsang para pengikut untuk melakukan lebih dari yang diharapkan dalam hal kinerja dan produktivitas kerja. Hal ini dikarenakan kepemimpinan transformasional memiliki tiga fungsi dasar yang berguna bagi sekolah (Bass dalam Castanheira & Costa, 2011) yaitu; a) pemimpin transformasional mampu melayani kebutuhan para pengikutnya, menguatkan, dan menginspirasi untuk mencapai tujuan sekolah; b) memimpin secara karismatik, menetapkan tujuan, memberikan kepercayaan diri dan kebanggaan dalam bekerja; c) memberikan rangsangan intelektual kepada pengikut

15 sehingga mereka tidak merasa minder terhadap posisi pemimpin. Dengan fungsi-fungsi tersebut, sekolah akan menjadi satu kesatuan kerja yang utuh karena sekolah didasari atas unit yang kolektif.

Kruger, Witziers, dan Sleegers (2007) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh yang positif terhadap pendidikan di sekolah. Leithwood & Jantzi (2005) memberikan tujuh dimensi tentang mengapa kepemimpinan transformasional dapat berhasil saat diaplikasikan dalam konteks sekolah; a) membangun visi dan mendirikan tujuan sekolah, b) menyediakan rangsangan intelektual/ intellectual stimulation, c) menyediakan dukungan individual, d) memberikan model akan best practices dan nilai-nilai organisasional, e) mengatur standar ekspektasi akademik yang tinggi, f) menciptakan budaya sekolah yang produktif, dan g) mengembangkan partisipasi dalam pengambilan keputusan.

Kepala sekolah transformasional harus mampu memberikan wawasan, membangkitkan kebanggaan, serta menumbuhkan sikap hormat dan kepercayaan dari bawahannya (Leithwood dkk, 2004). Kepala sekolah yang menerapkan kepemimpinan transformasional harus memiliki kepercayaan bahwa pengikutnya (pendidik dan tenaga pendidik) memiliki kelimpahan dalam gagasan dan pengetahuan yang

16

dapat berguna bagi tujuan sekolah (Owens, 1998). Oleh karena alasan tersebut, menurut Molenaar et.al. (2010)

Dokumen terkait