• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

B. Kesalehan Sosial

1. Pengertian Kesalehan Sosial dan Peningkatan

Istilah “Kesalehan Sosial” berasal dari dua kata yaitu “kesalehan” dan “sosial”. Sebelum mendapatkan awalan dan akhiran, kata “kesalehan” berasal dari kata dasar “saleh” atau “shaleh”.

Kata “shaleh” berasal dari bahasa Arab yaitu “shaluha” yang apabila diartikan merupakan kebalikan dari kata “fasad”.34 Apabila “fasad” dapat dikatakan sebagai “membuat kerusakan”, maka “sholuha” dapat diartikan sebagai “membuat kebaikan”.

34

Setelah ditambah dengan awalan “ke” dan akhiran “an”, kata “shaleh” berubah menjadi “kesalehan” yang diartikan sebagai kesungguhan hati dalam hal menunaikan agama atau dapat diartikan juga kebaikan hidup.35

Louis Ma’luf dalam kamus Munjid mengatakan bahwa setidaknya terdapat beberapa kemungkinan kondisi yang dapat menggunakan kata “shaleh” ditinjau dari segi bahasa, yaitu :

a) Telah baik keadaan

b) Aktifitas yang menjadikan baik (majas)

c) Membiasakan kebaikan (jika dihubungkan dengan perbuatan) d) Berbuat baik kepada objek

e) Kondisi yang menjadikan baik f) Mendamaikan (islah).36

Adapun kata “sosial” berasal dari kata Latin “socius” yang berarti kawan atau teman. Sosial dapat diartikan sebagai bentuk perkawanan atau pertemanan yang berada dalam skala besar yaitu masyarakat. Berarti sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau kemasyarakatan.37Yang lebih penting adalah bahwa kata sosial mengandung pemahaman adanya sifat berjiwa pertemanan, terbuka untuk

orang lain dan tidak bersifat individual atau egoistik atau tertutup terhadap

orang lain.

35

Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), h. 856

36

Ma’luf, Munjid, h. 432

37

Istilah “sosial” besar kaitannya dengan ilmu sosial yang dikenal dengan sosiologi.

Teori Sosiologi yang digunakan dalam skripsi ini adalah Teori Solidaritas Sosial yang dipaparkan oleh Durkheim dimana kegiatan-kegiatan yang dilakukan TQN di Ciomas secara langsung mengikat mereka dalam sebuah persaudaraan sufi yang dengan pertimbangan ekonomi berhasil memunculkan kesadaran kolektif (Collective Conscience) dalam perwujudan kegiatan-kegiatan perbaikan ekonomi bagi kalangan TQN. Kesadaran kolektif itulah yang kemudian menjadikan para ikhwan TQN membuat seperangkat kegiatan yang diatur oleh hokum-hukum yang bersifat represif dan menekan potensi individu. Ciri-ciri kegiatan seperti itu adalah cirri khas dari solidaritas mekanik.

Teori lain yang digunakan adalah teori tindakan social Weber dimana dengan solidaritas mekanik yang tadi terbentuk oleh kesadaran kolektif ikhwan mengharuskan mereka untuk melakukan tindakan nyata dengan membuat beberapa unit usaha secara musyawarah untuk mencapai suatu keputusan bersama. Tindakan social jenis ini menurut Weber tergolong dalam Tindakan Sosial tipe Rasionalitas Instrumental (Zweckrationalität) karena rasionalitas dalam penentuan jenis usaha, alat yang digunakan, tujuan yang ingin dicapai, hambatan-hambatan yang mungkin ada benar-benar dikedepankan sebagai penentuan untuk mencapai consensus.

Setelah digabungkan menjadi istilah Kesalehan Sosial, kata kesalehan dan sosial memiliki arti yang lebih luas. Beberapa ahli telah mencoba mendefinisikan arti dari Kesalehan Sosial ini antara lain :

a. Mustafa Bisri

“Kesalehan Sosial” adalah perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya; meskipun orang-orang ini tidak setekun kelompok kesalehan ritual dalam melakukan ibadat seperti sembayang dan sebagainya itu. Lebih mementingkan hablun minan naas.”38

b. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

“Kesalehan Sosial adalah suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, melainkan juga oleh cucuran keringat dalam praksis hidup keseharian kita. “39

c. Prof. Dr. HM. Djawad Dahlan

“Kesalehan Sosial adalah mutu atau kualitas kebaikan individu yang berpangkal pada berbagai istilah, seperti manusia kaffah, khalifah fil-ardli, muttaqin, shalihin, mu’minin, syakirin, dan muflihin.” 40

d. Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, MS.

“Kesalehan Sosial adalah aktualisasi atau perwujudan iman dalam praksis kehidupan sosial.” 41

e. Dr. KH Miftah Faridl

38

Mustafa Bisri, “Menimbang Arti Kesalehan Sosial,” artikel diakses tanggal 28 Februari 2007 dari http://www.kesalehansosial.blogspot.com/

39

Muhammad Sobary, “Kesalehan Sosial, Kesalehan Ritual,” artikel diakses tanggal 28 Februari 2001 dari http://www.kesalehansosial.blogspot.com/

40

Djawad Dahlan, dkk., Kumpulan Makalah Nilai dan Aplikasi Kesalehan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat (T.tp: Pemerintah Provinsi Jawa Barat, 2005), h. 2

41 ibid

“Kesalehan Sosial adalah perwujudan sifat masyarakat bertaqwa yang merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan, sikap, serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak.”42

Keberadaan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah diharapkan menjadikan Kesalehan Sosial mengalami “peningkatan”. Kata “peningkatan” berasal dari kata dasar “tingkat” dan mendapatkan awalan “pe” dan akhiran “an”. Kata “peningkatan” dapat diartikan dalam beberapa kondisi yaitu :

a) Menginjak, menaiki atau memanjat

b) Naik dalam berbagai hal seperti meninggi, membumbung, dan menaik c) Beralih kepada peristiwa atau masa

d) Menjadi bertambah banyak.43

Peningkatan Kesalehan Sosial adalah penambahan kualitas maupun kuantitas kesalehan seseorang secara sosial melalui interaksi terencana maupun insidental yang akan menimbulkan dampak sosial bagi subjek pelaksana kegiatan Kesalehan Sosial maupun objek kegiatan Kesalehan Sosial.

Kesalehan Sosial mendapatkan tempat yang sangat diperhitungkan dalam aktifitas umat Islam, khususnya di Jawa Barat. Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan hampir tidak pernah terlewatkan untuk menyampaikan pentingnya menumbuhkan sikap "Kesalehan Sosial" yang merupakan salah satu esensi atas makna visi pembangunan Jawa Barat yaitu, "Jawa Barat dengan iman dan taqwa

42 ibid 43

sebagai provinsi termaju di Indonesia dan mitra terdepan ibu kota negara tahun 2010".

“Konsep-konsep ‘Kesalehan Sosial’ Jawa Barat diharapkan tidak hanya berhenti pada tataran konsep dan tuntutan konstitusional seperti yang termaktub dalam Perda No. 1/2002 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah (Propeda) mengenai visi Jawa Barat,”44 tapi langsung disosialisasikan dan implementasikan dalam kerja nyata. Hal itulah yang kemudian mendorong Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat melakukan banyak seminar dan lokakarya yang melibatkan ormas-ormas Islam Jawa Barat sebagai ujung tombak realisasi konsep Kesalehan Sosial, salah satunya yang diikuti oleh penulis berupa “Sosialisasi dan Implementasi Kesalehan Sosial di Jawa Barat Tahun 2005” yang dilaksanakan di Cianjur.

Salah satu bentuk perwujudan konsep ini adalah dengan membuat akselerasi 5 (lima) agenda utama Jawa Barat yaitu :

a) Peningkatan kualitas dan produktifitas Sumber Daya Manusia Jawa Barat

b) Pengembangan struktur perekonomian daerah yang tangguh c) Pemantapan kinerja pemerintah daerah

d) Peningkatan implementasi pembangunan berkelanjutan

44

Nu’man Abdul Hakim, “Menggali Visi Kesalehan Sosial Gubernur Jabar,” artikel diakses tanggal 28 Februari 2007 dari http://www.pikiran-rakyat.com/

e) Peningkatan kualitas kehidupan sosial yang berdasar agama dan budaya daerah.45

Program Kesalehan Sosial Jawa Barat dapat dilihat dari akselerasi agenda utama yang kelima.

Dokumen terkait