• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Organisasi Prodi Pendidikan Ekonomi

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: KRISTINA ROHAYATI RATU (Halaman 85-0)

BAB IV GAMBARAN UMUM

D. Struktur Organisasi Prodi Pendidikan Ekonomi

Ketua Program Studi Pendidkan Ekonomi

Kepala BKK Pendidkan Ekonomi

Wakil Ketua PS PE BKK Pendidkan Ekonomi

Kepala BKK Pendidkan Akuntansi

Wakil Ketua PS PE BKK Pendidkan Akuntansi

Kepala Lab. & PPL BKK Pendidkan Akuntansi Kepala Lab. & PPL

BKK Pendidkan Ekonomi

Sekretaris Administrasi Sekretaris Administrasi

Struktur Organisasi Program Studi Pendidikan Ekonomi

65 BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Penelitian

Data hasil penelitian terdiri dari dua variabel bebas, yaitu variabel Minat Profesi Guru (X1) dan Sikap Keguruan (X2) serta variabel terikat yaitu Kesiapan Mengajar (Y). Pada bagian ini akan digambarkan atau dideskripsikan data dari masing-masing variabel yang telah diolah dilihat dari nilai rata-rata (mean), median, modus dan standar deviasi. Selain itu juga disajikan tabel distribusi frekuensi dan diagram batang dari distribusi frekuensi dari masing-masing variabel. Berikut ini rincian hasil pengolahan data yang telah dilakukan.

1. Variabel Minat Profesi Guru

Data variabel Minat Profesi Guru di peroleh dari angket yang terdiri dari 17 item dengan jumlah responden 101 mahasiswa. Ada 5 altenatif jawaban dengan skor tertinggi 5 dan skor terendah 1. Berdasarkan data variabel Minat Profesi Guru, diperoleh skor tertinggi 73 dan skor terendah 28. Hasil analisis harga Mean (M) sebesar 52,66, Median (Me) sebesar 53,00, Modus (Mo) sebesar 51, dan Standar Deviasi (SD) sebesar 9,607.

Untuk menetukan jumlah kelas interval digunakan rumus yaitu jumlah kelas = 1 + 3,3 log n, dimana n adalah jumlah sampel atau responden. Dari perhitungan diketahui bahwa n=101; sehingga diperoleh

banyak kelas 1 + 3,3 log 101 = 7,61 dibulatkan menjadi 8 kelas interval.

Rentang data hitung dengan rumus nilai maksimal – nilai minimal, sehingga diperoleh rentang data sebesar 73 – 28 = 45, sedangkan panjang interval kelas (rentang)/K = (45)/8 = 5,625 dibulatkan menjadi 5,6.

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Variabel Minat Profesi Guru

Sumber: Data Primer diolah, 2018

Berdasarkan distribusi frekuensi variabel Minat Profesi Guru di atas dapat digambarkan diagram batang sebagai berikut:

Gambar 1. Diagram Distribusi Frekuensi Variabel Minat Profesi Guru

Gambar di atas menunjukan bahwa, frekuensi terbesar pada kelas 50,8 – 56,4 dengan masing-masing frekuensi 24 responden (23,8%).

Penentuan kecenderungan variabel, setelah nilai minimum (Xmin) dan nilai maksimum (Xmax) diketahui, maka selanjutnya mencari rata-rata ideal (Mi) dengan rumus (Mi) = ½ (Xmax + Xmin), mencari standar deviasi ideal (SDi) dengan rumus SDi = 1/6 (Xmax – Xmin). Berdasarkan penjelasan di atas, Mean ideal variabel Minat Profesi Guru 50,5. Standar deviasi ideal yaitu 7,5. Dari perhitungan di atas dapat di kategorikan dalam tiga kelas, sebagai berikut:

Baik = X ≥ M + SD

Cukup = M – SD ≤ X < M + SD Kurang = X < M – SD

Berdasarkan perhitungan tersebut dapat dibuat tabel distribusi kecenderungan sebagai berikut:

Tabel 4.2

Distribusi Kategorisasi Kencenderungan variabel Minat Profesi Guru

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Berdasarkan tabel di atas, dapat digambarkan pie chart seperti berikut:

Gambar 2. Pie Chart Minat Profesi Guru

Berdasarkan tabel dan Pie Chart di atas, frekuensi variabel Minat Profesi Guru pada kategori baik sebanyak 35 mahasiswa (34,7%), kategori cukup banyak sebanyak 46 mahasiswa (45,5%), dan kategori kurang sebanyak 20 mahasiswa (19,9%). Jadi dapat disimpulkan bahwa, kecenderungan variabel Minat Profesi guru berada pada kategori cukup.

2. Variabel Sikap Keguruan

Dari variabel Sikap Keguruan diperoleh melalui angket yang terdiri dari 10 butir pernyataan dan jumlah responden 101 mahasiswa. Ada 5 alternatif jawaban dimana skor tertinggi 5 dan skor terendah 1.

Berdasarkan data variabel Sikap Keguruan, diperoleh skor tertinggi sebesar 50 dan skor terendah sebesar 31. Hasil analisis harga Mean (M)

35

46 20

Minat Profesi Guru

Baik Cukup Kurang

sebesar 44,80, Median (Me) sebesar 45,00, Modus (Mo) sebesar 50, dan Standar Deviasi (SD) sebesar 4,414.

Untuk menentukan jumlah kelas interval digunakan rumus yaitu jumlah kelas = 1 + 3,3 log n, dimana n adalah jumlah sampel atau responden. Dari perhitungan diketahui bahwa n=101; sehingga diperoleh banyak kelas 1 + 3,3 log 101 = 7,61 dibulatkan menjadi 8 kelas interval.

Rentang data hitung dengan rumus nilai maksimal – nilai minimal, sehingga diperoleh rentang data sebesar 50 – 31 = 19, sedangkan panjang interval kelas (rentang)/K = (19)/8 = 2,375 dibulatkan menjadi 2,3.

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Variabel Sikap Keguruan No. Interval Frekuensi F%

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Berdasarkan distribusi frekuensi variabel Sikap Keguruan di atas dapat digambarkan diagram batang sebagai berikut:

Gambar 3. Diagram Distribusi Frekuensi Sikap Keguruan

Berdasarkan tabel dan diagram di atas, frekuensi variabel Sikap Keguruan terletak pada interval 47,8 - 50,1 sebanyak 32 mahasiswa (31,7%).

Penentuan kecenderungan variabel, setelah nilai minimum (Xmin) dan nilai maksimum (Xmax) diketahui, maka selanjutnya mencari rata-rata ideal (Mi) dengan rumus (Mi) = ½ (Xmax + Xmin), mencari standar deviasi ideal (SDi) dengan rumus SDi = 1/6 (Xmax – Xmin). Berdasarkan penjelasan di atas, Mean ideal variabel Sikap Keguruan 40,5. Standar deviasi ideal yaitu 3,16. Dari perhitungan di atas dapat di kategorikan dalam tiga kelas, sebagai berikut:

Baik = X ≥ M + SD

Cukup = M – SD ≤ X < M + SD Kurang = X < M – SD

0 10 20 30 40

Frekuensi Sikap Keguruan

Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat dibuat tabel distribusi kecenderungan, adapun distribusi kecenderungan variabel Sikap Keguruan sebagai berikut:

Tabel 4.4

Distribusi Kategorisasi Kencenderungan variabel Sikap Keguruan

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Berdasarkan tabel di atas, dapat digambarkan pie chart seperti berikut:

Gambar 4. Pie Chart Sikap Keguruan

Berdasarkan tabel dan Pie Chart di atas, frekuensi variabel Sikap Keguruan pada kategori baik sebanyak 64 mahasiswa (65,4%), kategori

64 31

6

Sikap Keguruan

Baik Cukup Kurang

cukup banyak sebanyak 31 mahasiswa (30,7%), dan kategori kurang sebanyak 5 mahasiswa (5,9%). Jadi dapat disimpulkan bahwa kecenderungan variabel Minat Profesi guru berada pada kategori baik.

3. Kesiapan Mengajar

Data variabel Kesiapan Mengajar diperoleh melalui angket yang terdiri dari 20 butir pernyataan dengan jumlah responden 101 mahasiswa.

Dari variabel Kesiapan Mengajar diperoleh melalui angket yang terdiri dari 20 butir pernyataan dan jumlah responden 101 mahasiswa. Ada 5 alternatif jawaban dimana skor tertinggi 5 dan skor terendah 1.

Berdasarkan data variabel Kesiapan Mengajar, diperoleh skor tertinggi sebesar 65 dan skor terendah sebesar 39. Hasil analisis harga Mean (M) sebesar 54,82, Median (Me) sebesar 55,00, Modus (Mo) sebesar 49, dan Standar Deviasi (SD) sebesar 5,920.

Untuk menetukan jumlah kelas interval digunakan rumus yaitu jumlah kelas = 1 + 3,3 log n, dimana n adalah jumlah sampel atau responden. Dari perhitungan diketahui bahwa n=101; sehingga diperoleh banyak kelas 1 + 3,3 log 101 = 7,61 dibulatkan menjadi 8 kelas interval.

Rentang data hitung dengan rumus nilai maksimal – nilai minimal, sehingga diperoleh rentang data sebesar 65 – 39 = 26, sedangkan panjang interval kelas (rentang)/K = (26)/8 = 3,25.

Tabel 4. 5

Distribusi Frekuensi Variabel Kesiapan Mengajar

No. Interval Frekuensi F%

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Berdasarkan distribusi frekuensi variabel Kesiapan Mengajar di atas dapat digambarkan diagram batang sebagai berikut:

Gambar 5. Diagram Distribusi Frekuensi Kesiapan Mengajar

Berdasarkan tabel dan diagram di atas, frekuensi variabel Kesiapan Mengajar terbanyak terletak pada interval 48,78-52,03 sebanyak 26

0 10 20 30

Frekuensi Kesiapan Mengajar

mahasiswa (25,7%) sedangkan kurang terletak pada interval 39 - 42,25 dan 42,26 - 45,51 masing-masing 1 mahasiswa (1,0%).

Penentuan kecenderungan variabel, setelah nilai minimum (Xmin) dan nilai maksimum (Xmax) diketahui, maka selanjutnya mencari rata-rata ideal (Mi) dengan rumus (Mi) = ½ (Xmax + Xmin), mencari standar deviasi ideal (SDi) dengan rumus SDi = 1/6 (Xmax – Xmin). Berdasarkan penjelasan di atas, Mean ideal variabel Kesiapan Mengajar 52. Standar deviasi ideal yaitu 4,33. Dari perhitungan di atas dapat di kategorikan dalam tiga kelas, sebagai berikut:

Baik = X ≥ M + SD

Cukup = M – SD ≤ X < M + SD Kurang = X < M – SD

Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat dibuat tabel distribusi kecenderungan, adapun distribusi kecenderungan variabel Kesiapan Mengajar sebagai berikut:

Tabel 4.6

Distribusi Kategorisasi Kencenderungan variabel Kesiapan Mengajar

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Berdasarkan tabel di atas, dapat digambarkan pie chart seperti berikut:

Gambar 6. Pie Chart Kesiapan Mengajar

Berdasarkan data yang terkumpul seperti di atas, frekuensi variabel Kesiapan Mengajar baik sebanyak 43 mahasiswa (42,6%), kategori cukup sebanyak 51 mahasiswa (50,5%), dan kategori kurang sebanyak 7 mahasiswa (6,9%). Jadi dapat disimpulkan bahwa kecenderungan variabel Kesiapan Mengajar berada pada kategori cukup .

B. Hasil Uji Prasyarat Analisis 1. Pengujian Normalitas

Tujuan pengujian normalitas ini yaitu untuk mengetahui apakah variabel bebas dengan variabel terikat berditribusi normal atau tidak.

43 51

7

Kesiapan Mengajar

Baik Cukup Kurang

Kriteria pengujian normalitas yaitu jika nilai signifikansi di atas 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dinyatakan berditribusi normal.

Hasil uji normalitas pada variabel Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar mahasiswa adalah sebagai berikut:

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Analisis didasarkan pada nilai probabilitas (Sig.) yang dibandingkan dengan taraf signifikan 0,05. Dari tabel di atas diperoleh hasil bahwa untuk uji normalitas dengan menggunakan Kolomogrov-Smirnov adalah sebagai berikut: karena probabilitas sign 0,200 > 0,05

maka Ho ditolak maka variabel Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar dikatakan berditribusi normal.

2. Uji Multikoliniearitas

Uji multikoliniearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Uji Multikoliniearitas dilakukan dengan uji regresi, dengan patokan nilai VIF (variance inflation factor) dan koefisien korelasi antarvariabel bebas. Uji multikoliniearitas dilakukan sebagai syarat digunakannya analisis regresi ganda. Hasil uji multikolinearitas adalah sebagai berikut:

Tabel 4. 8

Hasil Uji Multikoliniearitas

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Berdasarkan hasil uji multikoliniearitas pada tabel di atas dengan menggunakan program komputer SPSS versi 24,0 menunjukan bahwa nilai Tolerance Minat Profesi Guru (X1) dan Sikap Keguruan (X2) yaitu 0,675 lebih besar dari 0,10 (0,675 >0,10), sementara nilai VIF Minat Profesi Guru (X1) dan Sikap Keguruan (X2) yakni 1.482 lebih kecil dari 10

(1.482<10). Dengan demikian, tidak terjadi multikoliniearitas antar variabel bebas, maka uji regresi ganda dapat dilakukan.

3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Prasyarat yang harus dipenuhi dalam penelitian ini yaitu tidak adanya gejala heterokedastisitas. Hasil uji heterokedastisitas adalah sebagai berikut:

Gambar 7. Plot Uji Heterokedastisitas

Berdasarkan hasil grafik plot di atas, tidak ada pola tertentu serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak ada gejala heterokedastisitas.

C. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment dari Pearson untuk hipotesis pertama dan kedua. Sedangkan untuk hipotesis yang ketiga digunakan teknik analisis korelasi ganda dengan dua variabel bebas.

Penjelasan tentang hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Uji Hipotesis Pertama

Hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

Ho : “Tidak terdapat hubungan yang positif antara minat profesi guru dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.”

Ha : “Ada hubungan yang positif antara minat profesi guru dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.”

Hasil pengujian hipotesis pertama tampak pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.9 Hasil Uji Hipotesis 1

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Hasil analisis menunjukan bahwa koefisien korelasi product moment (rx1y) antara Minat Profesi Guru (X1) dengan Kesiapan Mengajar (Y) sebesar 0,610. Hal tersebut dikonsultasikan dengan rtabel pada taraf signifikansi 5% untuk menguji signifikansi koefisien korelasinya. Harga koefisien rtabel dengan taraf signifikansi 5% dan N=101 sebesar 0,194.

Hasil ini menujukan bahwa rhitung lebih besar dari harga rtabel sehingga hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, yang artinya terdapat hubungan yang positif antara minat profesi guru dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD angkatan 2014.

Hasil yang diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,610, karena bernilai positif maka dapat dinyatakan bahwa variabel Minat Profesi Guru memiliki hubungan yang positif dengan Kesiapan Mengajar yang artinya

bahwa semakin besar Minat Profesi Guru semakin baik pula tingkat Kesiapan Mengajar. Hasil uji ini menunjukan bahwa kuatnya hubungan antara Minat Profesi Guru dengan Kesiapan Mengajar mahasiswa sebesar 0,610. Hal ini berarti korelasi Minat Profesi Guru (X1) dengan Kesiapan Mengajar (Y) adalah mempunyai hubungan yang moderat, yang artinya hubungan antara kedua variabel ini tidak besar ataupun juga tidak terlalu kecil.

2. Uji Hipotesis Kedua

Hipotesis kedua dalam penelitian ini yaitu:

Ho : “Tidak terdapat hubungan yang positif antara sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.”

Ha : “Ada hubungan yang positif antara sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.”

Hasil pengujian hipotesis pertama tampak pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.10 Hasil Uji Hipotesis 2

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Hasil analisis menunjukan bahwa koefisien korelasi product moment (rx1y) Sikap Keguruan (X2) dengan Kesiapan Mengajar (Y) sebesar 0,591. Hasil tersebut dikonsultasikan dengan rtabel pada taraf signifikansi 5% untuk menguji signifikansi koefisien korelasinya. Harga koefisien rtabel dengan taraf signifikansi 5% dan N=101 sebesar 0,194.

Hasil ini menujukan bahwa rhitung lebih besar dari harga rtabel sehingga hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, yang artinya terdapat kesimpulan yaitu hubungan yang positif antara Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD angkatan 2014.

Hasil yang diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,591, karena bernilai positif maka dapat dinyatakan bahwa variabel Sikap Keguruan memiliki hubungan yang positif dengan Kesiapan Mengajar yang artinya

bahwa semakin baik Sikap Keguruan, maka semakin baik pula tingkat Kesiapan Mengajar. Hasil uji ini menunjukan bahwa bahwa kuatnya hubungan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar mahasiswa sebesar 0,591. Hal ini berarti korelasi Sikap Keguruan (X2) dengan Kesiapan Mengajar (Y) adalah mempunyai hubungan yang moderat.

3. Hipotesis Ketiga

Adapun hipotesis ketiga dalam penelitian adalah:

Ho : “Tidak terdapat hubungan yang positif antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.”

Ha : “Ada hubungan yang positif antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.”

Hasil uji hipotesis ketiga tampak pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.11 Hasil Uji F

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Untuk menguji signifikansi dilakukan uji signifikansi dengan menggunakan uji F. Pengujian Signifikansi Korelasi Ganda dengan Uji F.

Pengujian signifikansi ini digunakan untuk mengetahui korelasi antara Minat Profesi Guru (X1) dan Sikap Keguruan (X2) dengan Kesiapan Mengajar (Y). Hipotesis yang di uji adalah ada hubungan yang positif antara Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan secara bersama-sama dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD angkatan 2014. Selanjutnya untuk menguji hipotesis ketiga ini dilakukan teknik analisis korelasi ganda.

Tabel 4. 12 Model Summery

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Untuk keberartian nilai koefisien korelasi ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 4.13

Koefisien Korelasi Variabel Bebas X1 dan X2 dengan Variabel Terikat Y

Sumber: Data Primer Diolah 2018

Untuk menguji hipotesis yang ketiga ini dilakukan dengan teknik analisis korelasi ganda. Hasil analisis menunjukan nilai R sebesar 0,678, dan RSquare sebesar 0,460 yang dinyatakan 46% variabel bebas mempengaruhi variabel terikat.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai F sebesar 41.716. Jika dibandingkan dengan Ftabel 3,94 dengan taraf signifikansi 5%, maka nilai Fhitung > Ftabel sehingga hipotesis ketiga diterima. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yang positif antara antara Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan secara bersama-sama dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD angkatan 2014.

D. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan yang positif antara Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014. Berdasarkan data penelitian yang dianalisis, maka dilakukan pembahasan tentang hasil penelitian sebagai berikut.

1. Hubungan Minat Profesi Guru dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara Minat Profesi Guru dengan Kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014 yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,610, koefisien determinasi juga menunjukan bahwa variabel

Minat Profesi Guru di jelaskan oleh variabel Kesiapan Mengajar yaitu r2 sebesar 37,21%.

Minat profesi guru merupakan salah satu faktor pendorong mahasiswa calon guru menjadi seorang guru untuk dapat menyenangi, memperhatikan serta mempelajari lebih lanjut tentang profesi atau hal yang mengarahkan pilihannya untuk menjadi guru. Mahasiswa yang mempunyai minat terhadap profesi sebagai guru tentu akan berusaha untuk mendapatkan informasi, menggali lebih banyak tentang informasi tentang keguruan, meningkatkan keterampilan serta kompetensi profesi guru dan adanya dorongan untuk meningkatkan keterampilan tersebut. Minat menurut bahasa (Etimologi) yang dikutip dari Surhayat (2009), mengemukakan bahwa “minat usaha dan kemauan untuk mencari dan memepalajari sesuatu”. Dalam hal ini sesuatu yang dimaksud yaitu minat terhadap profesi sebagai guru

Kesiapan mengajar merupakan kesiapan sikap seseorang pada suatu taraf kedewasaan yang sudah siap secara fisik dan juga mental untuk mempraktikkan hal tertentu sesuai dengan kebutuhan serta keahlian yang dimilikinya. Dengan mempunyai minat terhadap profesi guru, maka tentu mahasiswa akan melakukan kegiatan untuk menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesiapan untuk mengajarnya, meningkatkan dasar kemampuan mengajarnya menuju kompetensi guru yang diharapkan.

Hasil penelitian ini didukung oleh peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Elysabeth Frativi Broto Tarwanto (2013) yang menemukan

ada hubungan yang positif Kesiapan Mental dengan Motivasi Belajar Siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Yunnita Ayuni (2013) juga menemukan terdapat hubungan postif dan signifikan antara Minat Profesi Guru dengan Kesiapan Mengajar Pendidikan Administrasi Perkantoran Angkatan 2008 FIS UNY. Penelitian yang dilakukan oleh Alifia Liza Nawarti (2014) menemukan terdapat pengaruh positif antara Minat Profesi Guru terhadap Kesiapan Mengajar Pendidikan Administrasi Perkantoran Angkatan 2010 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Lilis Setyowati (2015) yang menemukan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi kepribadian profesi guru terhadap Kesiapan Mengajar Mahasiswa Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran Angkatan 2011 FE UNY. Penelitian yang dilakukan oleh Istiana Dewi Kurniasari (2016) menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan Minat Menjadi Guru terhadap Kesiapan Mengajar.

2. Hubungan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara Sikap Keguruan dengan Kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014 yang ditunjukkan dengan yang koefisien korelasi (r) sebesar 0,591, koefisien determinasi juga menunjukan bahwa variabel

Sikap Keguruan di jelaskan oleh variabel Kesiapan Mengajar yaitu r2 yaitu sebesar 34,92%

Kesiapan mengajar harus juga didukung dengan sikap keguruan.

Sikap keguruan merupakan perilaku yang mencerminkan kepribadian seseorang yang berkaitan dengan etika, perilaku sopan santun serta gaya berbicara, baik di depan para siswa maupun di masayarakat. Sikap yang baik mencerminkan guru yang profesional. Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan dan mengembangkan sikap keguruan yang terbentuk atas dasar kesadaran serta tuntutan yang harus dipenuhi sebagai calon guru.

Adapun pengaplikasian dan pengembangan sikap keguruan mahaiswa dapat dilakukan baik di lingkungan kampus ataupun di sekolah dan juga di masyarakat, bahwa kita adalah mahasiswa calon guru menuju kompetensi calon guru yang diharapkan. Ini merupakan proses terbentuknya kesiapan mahasiswa dalam melaksanakan PBM dan penerapan etika calon guru yang diharapkan.

Pembentukan sikap keguruan melalui proses yang sangat panjang antara lain melalui matakuliah teori maupun praktik seperti PPL 1 dan PPL 2. Dalam matakuliah tersebut, mahasiswa dibekali berbagai ilmu keguruan sebagai dasar yang disertai seperangkat latihan keterampilan mengajar untuk diterapkan saat PBM di sekolah dan mahasiswa juga belajar mengaplikasikan sikap keguruannya yang disertai dorongan untuk mengembangkannya baik di lingkungan kampus maupun di sekolah dan di tengah masyarakat. Hal ini tentu saja sangat berhubungan dengan kesiapan

mengajar mahasiswa dalam menghadapi situasi kelas pada saat mengajar menuju guru yang profesional. Berdasarkan hal tersebut, diduga ada hubungan antara sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa.

Hasil penelitian ini didukung oleh peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Elysabeth Frativi Broto Tarwanto (2013) yang menemukan bahwa terdapat hubungan kesiapan materi dengan motivasi belajar siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Yunnita Ayuni (2013) juga menemukan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran Angkatan 2008 FIS UNY. Penelitian yang dilakukan oleh Alifia Liza Nawarti (2014) menunjukan terdapat pengaruh positif antara Sikap Keguruan terhadap Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran Angkatan 2010 FE UNY. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Lilis Setyowati (2015) yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Keterampilan Mengajar Terhadap Kesiapan Mengajar Mahasiswa Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran Angkatan 2011 FE UNY. Penelitian yang dilakukan oleh Istiana Dewi Kurniasari (2016) menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Terhadap Kesiapan Mengajar Mahasiswa.

3. Hubungan Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi Dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD

Ketika dilakukan analisis bersama-sama antara kedua variabel bebas dengan satu variabel terikatnya maka diperoleh hubungan yang positif antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa dengan nilai R sebesar 0,678. Berdasarkan hasil analisis korelasi ganda yang dilakukan dalam penelitian ini diperoleh koefisien determinasi yang menunjukkan bahwa kesiapan mengajar mahasiswa dapat dijelaskan oleh kombinasi dari variabel yaitu Rsquare sebesar 46%.

Menurut Slameto (2010: 113), “kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons/jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi”. Siap untuk melakukan pekerjaan yang di dalam dirinya sudah siap secara matang dan dewasa untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan mengajar disini berarti suatu kondisi dalam keadaan apapun sudah bisa atau mampu secara mental yang siap digunakan. Mahasiswa calon guru harus mampu memenuhi fungsinya

Menurut Slameto (2010: 113), “kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons/jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi”. Siap untuk melakukan pekerjaan yang di dalam dirinya sudah siap secara matang dan dewasa untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan mengajar disini berarti suatu kondisi dalam keadaan apapun sudah bisa atau mampu secara mental yang siap digunakan. Mahasiswa calon guru harus mampu memenuhi fungsinya

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: KRISTINA ROHAYATI RATU (Halaman 85-0)

Dokumen terkait