• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: KRISTINA ROHAYATI RATU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: KRISTINA ROHAYATI RATU"

Copied!
175
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA MINAT PROFESI GURU DAN SIKAP KEGURUAN DENGAN KESIAPAN MENGAJAR MAHASISWA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI, FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN, UNIVERSITAS

SANATA DHARMA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi

Oleh:

KRISTINA ROHAYATI RATU 141334064

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2018

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

Allah Tri Tunggal Mahakudus; Bapa, Yesus dan Roh Kudus, Malaikat Mikhael Untuk mama dan papa saya tercinta, Martina Naut dan Alm. Abraham Ratu Isak Kakak-kakak saya yaitu, Dode Ratu, Rm. Erik Ratu, Pr, Merlin Ratu, Anastasya Sumiyati, dan Carles Deon Yang Terkasih, Tarsi Kam Keponakan-keponakanku, Olivia Ratu, Evelin Ratu dan Archiera Ratu Sahabatku tersayang Desyanwari Endrianataly Teman seperjuanganku Yani Ngamal Almamaterku Tercinta: Universitas Sanata Dharma

(5)

v MOTTO

“Jika kamu meminta kepada-Ku dalam nama-Ku. Aku akan melakukannya!”

(Yohanes 14:14)

“Jadilah kuat seperti batu karang di laut, jadilah manusia untuk selalu tahan banting serta memberikan senyuman atas apa yang terjadi dalam hidup. Kuatlah

dalam menghadapi apapun.”

(By: Kristina Rohayati Ratu)

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA MINAT PROFESI GURU DAN SIKAP KEGURUAN DENGAN KESIAPAN MENGAJAR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI, FAKULTAS KEGURUAN

DAN ILMU PENDIDIKAN, UNIVERSITAS SANATA DHARMA

Kristina Rohayati Ratu Universitas Sanata Dharma

2018

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan minat profesi guru dengan kesiapan mengajar mahasiswa; (2) hubungan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa; (3) hubungan minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian ex-post facto dengan subjek penelitian mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Ekonomi dan BKK Pendidikan Akuntansi). Sampel penelitian mahasiswa angkatan 2014 yang berjumlah 101 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner/angket. Uji validitas instrumen dilakukan dengan menggunakan korelasi product moment dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha. Data dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi ganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan minat profesi guru dengan kesiapan mengajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014 yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,610; (2) terdapat hubungan yang positif dan signifikan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014 yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,591; (3) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014 yang ditunjukkan dengan nilai R sebesar 0,678, F hitung sebesar 41.716.

Kata Kunci: Minat Profesi Guru, Sikap Keguruan dan Kesiapan Mengajar

(9)

ix ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN TEACHER'S PROFESSIONAL INTEREST AND TEACHER'S ATTITUDE AND THE READINESS TO TEACH THE STUDENTS OF ECONOMICS EDUCATION, FACULTY OF

TEACHER TRAINING AND EDUCATION, SANATA DHARMA UNIVERSITY

Kristina Rohayati Ratu Sanata Dharma University

2018

This research aims to find out the relationship: (1) between teacher’s professional interest and the readiness to teach students; (2) between teacher's attitude and readiness to teach students; (3) teacher’s professional interest and teacher’s attitude to teach students. This research is an ex-post facto study. The research subjects are the students of economics education program (expertising in Accounting Education). The samples of this research were 101 students of 2014 batch. The data were collected by using questionnaires. The instrument validity test was done by applying product moment correlation and the reliability was performed by using cronbach's alpha. The data were analyzed by applying multiple correlation analysis.

The result of this research shows that: (1) there is a positive and significant correlation between the interest of the teacher’s professional interest and the readiness to teach the students of economics education program (expertising in Accounting Education) of 2014 batch which is shown by the correlation coefficient (r) of 0.610; (2) there is a positive and significant correlation between teacher's attitude and the readiness to teach the students of economics education program (expertising in Accounting Education) of 2014 batch which is shown by correlation coefficient (r) of 0,591; (3) there is a positive and significant correlation between teacher’s professional interest and teacher's attitude with the readiness to teach the students of economics education program (expertising in Accounting Education) of 2014 batch which is shown by R value 0,678 and F count equal to 41,716.

Keyword: teacher’s professional interest, teacher’s attitude and readiness to teach

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah Tri Tunggal yang Maha Kudus atas berkat yang melimpah kepada saya, sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi dengan judul: “HUBUNGAN ANTARA MINAT PROFESI GURU DAN SIKAP KEGURUAN DENGAN KESIAPAN MENGAJAR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI, FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN, UNIVERSITAS SANATA DHARMA”.

Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi.

Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini mendapat masukan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;

2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma;

3. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini;

4. Seluruh Bapak Ibu Dosen Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan dalam proses perkuliahan selama kurang lebih empat tahun selama saya belajar di USD.

5. Seluruh mahasiswa angkatan 2014 yang juga telah memberikan masukan dan berdinamika bersama selama proses diskusi dalam perkuliahan kurang lebih empat tahun ini;

6. Tenaga administrasi Program Studi Pendidikan Akuntansi yang telah membantu kelancaran proses belajar selama ini;

7. Untuk mama yang telah memberikan dukungan doa, semangat, motivasi, materil dan juga moral; untuk bapa, yang selalu setia membimbing dan

(11)

xi

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……….

iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS……….. viii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR GAMBAR ... xviiix

DAFTAR LAMPIRAN ... xxi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Identifikasi Masalah ... 6

Pembatasan Masalah ... 7

(13)

xiii

Rumusan Masalah ... 7

Tujuan Penelitian ... 8

Manfaat Penelitian ... 8

BAB II KAJIAN TEORI ... 10

A. Minat Menjadi Guru ... 10

1. Minat ... 10

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat ... 11

B. Profesi Guru ... 14

C. Sikap Keguruan ... 16

1. Pengertian Sikap ... 16

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap ... 17

3. Pengertian Keguruan ... 19

D. Kesiapan Mengajar ... 21

1. Pengertian kesiapan mengajar ... 21

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan mengajar ... 27

3. Indikator kesiapan mengajar ... 28

E. Kerangka Berpikir ... 33

1. Hubungan Antara Minat Profesi Guru dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD ... 33

(14)

xiv

2. Hubungan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa

dan Pendidikan Ekonomi FKIP USD ... 35

F. Hubungan Antara Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD ... 36

G. Pengajuan Hipotesis ... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Jenis Penelitian ... 40

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 40

C. Variabel Penelitian... 40

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 41

1. Minat Profesi Guru ... 41

2. Sikap Keguruan ... 41

3. Kesiapan Mengajar ... 41

E. Populasi dan Sampel Penelitian ... 42

1. Populasi Penelitian ... 42

2. Sampel Penelitian ... 42

3. Teknik Sampling ... 43

F. Teknik Pengumpulan Data ... 43

1. Angket/Kuisioner... 43

(15)

xv

2. Dokumentasi ... 43

G. Instrumen Penelitian ... 44

H. Teknik Pengujian Instrumen ... 47

1. Validitas ... 47

2. Reliabilitas ... 52

I. Teknik Analisis Data ... 53

1. Uji Pra Analisis ... 54

J. Uji Hipotesis ... 56

1. Uji Hipotesis Pertama dan Kedua ... 56

2. Hipotesis Ketiga ... 58

BAB IV GAMBARAN UMUM ... 60

A. Sejarah Program Studi Pendidikan Ekonomi ... 60

B. Visi dan Misi Program Studi Pendidikan Ekonomi ... 61

1. Visi... 61

2. Misi ... 62

C. Tujuan Program Studi Pendidikan Ekonomi ... 63

D. Struktur Organisasi Prodi Pendidikan Ekonomi ... 64

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 65

A. Deskripsi Data Penelitian... 65

1. Variabel Minat Profesi Guru ... 65

(16)

xvi

2. Variabel Sikap Keguruan ... 68

3. Kesiapan Mengajar ... 72

B. Hasil Uji Prasyarat Analisis... 75

1. Pengujian Normalitas ... 75

2. Uji Multikoliniearitas ... 77

3. Uji Heterokedastisitas ... 78

C. Pengujian Hipotesis ... 79

1. Uji Hipotesis Pertama ... 79

2. Uji Hipotesis Kedua... 81

3. Hipotesis Ketiga ... 83

D. Pembahasan ... 86

1. Hubungan Minat Profesi Guru dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014 ... 86

2. Hubungan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) angkatan 2014 ... 88

3. Hubungan Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi Dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD ... 91

(17)

xvii

BAB VI KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN ... 94

A. Kesimpulan ... 94

B. Keterbatasan ... 95

C. Saran ... 95

DAFTAR PUSTAKA ... 97

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jumlah Sampel Mahasiswa Pendidikan Akuntansi dan Pendidikan

Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2014 ... 42

Tabel 3.2 Skor Alternatif Jawaban ... 45

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Variabel Minat Profesi Guru ... 45

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen Variabel Sikap Keguruan ... 46

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen Variabel Kesiapan Mengajar Mahasiswa ... 46

Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Minat Profesi Guru ... 48

Tabel 3.7 Hasil Uji Ulang Validitas Minat Profesi Guru ... 49

Tabel 3.8 Hasil Uji Validitas Sikap Keguruan ... 50

Tabel 3.9 Hasil Uji Validitas Kesiapan Mengajar ... 50

Tabel 3.10 Hasil Uji Ulang Validitas Kesiapan Mengajar ... 51

Tabel 3. 11 Klasifikasi Koefisien Reliabilitas... 53

Tabel 3.12 Hasil Uji Reliabilitas ... 53

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Variabel Minat Profesi Guru ... 66

Tabel 4.2 Distribusi Kategorisasi Kencenderungan v. Minat Profesi Guru ... 67

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Variabel Sikap Keguruan ... 69

Tabel 4.4 Distribusi Kategorisasi Kencenderungan v. Sikap Keguruan ... 71

Tabel 4. 5 Distribusi Frekuensi Variabel Kesiapan Mengajar ... 73

Tabel 4.6 Distribusi Kategorisasi Kencenderungan var. Kesiapan Mengajar .. 74

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas ... 76

Tabel 4. 8 Hasil Uji Multikoliniearitas ... 77

(19)

xix

Tabel 4.9 Hasil Uji Hipotesis 1 ... 80

Tabel 4.10 Hasil Uji Hipotesis 2 ... 82

Tabel 4.11 Hasil Uji F ... 84

Tabel 4. 12 Model Summery ... 85

Tabel 4.13 Koefisien Korelasi V. Bebas X1 dan X2 dengan V. Terikat Y ... 85

(20)

xx

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Diagram Distribusi Frekuensi Variabel Minat Profesi Guru ... 66

Gambar 2. Pie Chart Minat Profesi Guru ... 68

Gambar 3. Diagram Distribusi Frekuensi Sikap Keguruan ... 70

Gambar 4. Pie Chart Sikap Keguruan ... 71

Gambar 5. Diagram Distribusi Frekuensi Kesiapan Mengajar ... 73

Gambar 6. Pie Chart Kesiapan Mengajar ... 75

Gambar 7. Plot Uji Heterokedastisitas ... 78

(21)

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuisioner Penelitian ... 100

Lampiran 2 Data Penelitian ... 107

Lampiran 3 Uji Validitas & Reliabilita ... 121

Lampiran 4 Distribusi Frekuensi & Distribusi Kategorisa ... 128

Lampiran 5 Uji Prasyarat Analisis ... 135

Lampiran 6 Uji Hipotesiskorelasi Product Moment Dan Korelasi Berganda ... 140

Lampiran 7 Daftar Tabel T, Tabel F ... 143

Lampiran 8 Daftar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (Bkk Pendidikan Ekonomi & Bkk Pendidikan Akuntansi) Angkatan 2014 ... 150

(22)

1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Dewasa ini kita melihat bahwa globalisasi sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi bahkan berpengaruh besar terhadap aspek kehidupan manusia. Untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut maka diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu dengan meningkatkan kualitas pendidikan sekarang ini. Adapun peningkatan ini dicapai dengan keterampilan yang cukup serta penguasaan kompetensi yang harus dipenuhi dan dimiliki oleh tenaga pendidik.

Pendidikan merupakan sebagai kebutuhan dasar manusia yang dalam kenyataan hidupnya menunjukan bahwa mereka membutuhkan proses belajar yang memungkinkan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan bimbingan dan atau latihan untuk mempersiapkan mereka hidup di tengah masyarakat nantinya. Arti secara teknisnya, pendidikan merupakan proses dimana peserta didik maupun masayarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan (sekolah-sekolah, perguruan tinggi, serta lembaga-lembaga lainnya) dengan secara sadar dan terencana mentransfer warisan budaya-budayanya yaitu, ilmu pengetahuan, nilai-nilai, norma- norma serta keterampilan-keterampilan di setiap generasi.

(23)

Seiring perkembangan zaman, tuntutan pendidikan dapat berjalan dengan baik, lebih teratur dan didasarkan atas pemikiran yang matang agar tercapainya peningkatan kualitas pendidikan yang baik. Dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan tersebut, salah satu kunci keberhasilannya dengan menciptakan dan mempersiapkan calon tenaga pendidik yang profesional yang bertanggung jawab melaksanakan pembelajaran dalam upaya pembentukan SDM yang berkualitas sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa di setiap guru atau calon tenaga pendidik mempunyai tanggung jawab besar untuk membawa peserta didiknya pada suatu kedewasaan atau suatu taraf kematangan tertentu sesuai dengan yang diharapkan. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 dikatakan bahwa “pendidik merupakan tenaga kependidikan yang melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil belajar serta melakukan bimbingan dan pelatihan”. Berdasarkan undang-undang tersebut pendidikan atau guru berfungsi sebagai pendidik, pembimbing, pelatih, pengembang, pengelola program dan tenaga yang bertanggung jawab. Tugas serta fungsi pendidik tersebut merupakan kompetensi serta kualitas yang harus dimiliki oleh setiap calon tenaga pendidik ataupun pendidik.

Pada dasarnya peningkatan kualitas seorang calon pendidik ataupun pendidik menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi dari diri pribadi. Dengan kata lain kualitas calon pendidik maupun pendidik terletak pada diri calon guru maupun pendidik tersebut. Untuk itu

(24)

diperlukan kesadaran akan kualitas menjadi guru yang profesional sesuai dengan tuntutan dalam diri calon pendidik maupun pendidik itu sendiri.

Perlunya kesadaran dalam diri senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan kemampuannya serta pengetahuannya guna meningkatkan kualitas kerja sebagai pengajar yang profesional.

Universitas Sanata Dharma (USD) merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mampu melahirkan tenaga pendidik yang memenuhi 4 pilar kompetensi guru yang berkualitas. Mahasiswa calon pendidik, khususnya mahasiswa Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai calon tenaga pendidik harus mendapatkan pembekalan yang memadai untuk menguasai kompetensi tersebut. Untuk mencapai kompetensi tersebut, Pendidikan Ekonomi merumuskan visi: “Menjadi Program Studi Pendidikan Ekonomi Yang Unggul di Tingkat Nasional Dalam Menghasilkan Pendidik dan Tenaga Pendidikan Dalam Bidang Kehlian Khusus Pendidikan Ekonomi dan Bidang Khusus Akuntansi Yang Profesional, Cerdas, Kreatif, Inovatif, Transformatif dan Humanis”. Untuk mencapai kompetensi tersebut yaitu dengan meningkatkan kemampuan dasar mengajar (teaching learning), keterampilan mengelolah Proses Belajar Mengajar (PBM), serta pengelolaan kelas sebagai upaya untuk meningkatkan kesiapan mengajar mahasiswa sebagai calon pendidik atau guru, baik secara teori maupun praktik melalui matakuliah penunjang seperti matakuliah PPL yang dilaksanakan di laboratorium mikro dan PPL yang langsung diselenggarakan di sekolah.

(25)

Mengajar merupakan suatu tindakan yang secara sadar dan terencana yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat akan tetapi menanamkan jiwa sosial, keagamaan serta tanggung jawab kepada peserta didik. Berkaitan dengan hal tersebut, seorang guru ataupun pendidik merupakan sosok yang dibanggakan oleh masayarakat. Maka dari itu, peningkatan pembelajaran seorang guru ataupun calon guru dapat ditingkatkan dengan kesiapan dan kematangannya dalam kecakapan sebagai guru dan pengelolah PBM.

Adapun salah satu indikator keberhasilan mahasiswa Pendidikan Ekonomi dalam menguasai kecakapan dan kematangannya dalam mengembangkan kesiapan mengajar tersebut adalah dengan menumbuhkan minat profesinya sebagai guru. Minat mahasiswa untuk menjadi guru dapat timbul dengan adanya kesesuaian antara profesi guru dengan keadaan mahasiswa tersebut. Ia akan memberikan perhatian besar dan akan timbul ketertarikan minatnya untuk memahami dan mempelajari kompetensi guru.

Selain menumbuhkan minat profesi guru, kesiapan mengajar juga harus didukung oleh sikap keguruan. Sikap keguruan merupakan perilaku atau sikap mahasiswa calon guru yang mencerminkan kepribadian guru yang profesional (Narwati, 2014:4). Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan

(26)

profesi (UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 14). Guru sebagai pendidik yang profesional dituntut untuk selalu menjadi teladan bagi masyarakat disekelilingnya. Sikap profesional keguruan adalah sikap seorang guru dalam menjalankan pekerjaannya yang mencakup keahlian, kemahiran dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu. Setelah memahami terkait dengan sikap keguruan, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan dan mengaplikasikan sikap keguruan tersebut. Adapun pengembangan sikap keguruan, mahasiswa dapat mengembangkan dan mengaplikasikannya baik di lingkungan sekolah, lingkungan kampus ataupun dimasyarakat menuju kompetensi guru yang diharapkan. Hal tersebut merupakan proses terbentuknya kesiapan mahasiswa dalam melaksanakan PBM dan penerapan sikap keguruan sesuai dengan etika calon guru yang diharapkan.

Adapun upaya untuk mencetak guru profesional sesuai dengan yang diharapkan tidaklah mudah. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi kurang memahami pentingnya sikap keguruan dan cenderung kurang maksimal mengaplikasikan sikap keguruan dengan baik. Sementara itu peranan guru di tengah-tengah kemajuan zaman serta kurangnya sarana dan prasarana pendidikan baik yang dialami di negara maju maupun di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia sangatlah penting. Sangat diperlukan guru yang profesional dan bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan di era zaman sekarang

(27)

Sementara itu, mahasiswa Pendidikan Ekonomi masih kurang memahami dan mengetahui mengenai profesi guru. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya perhatian, minat dan kurangnya bertanggung jawab dalam dunia pendidikan. Hal tersebut berdampak pada ragunya masyarakat akan kinerja dan profesionalitas guru zaman sekarang, sehingga hal tersebut harus diperhatikan.

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi sebagai calon guru juga kurang siap mental saat melaksanakan Program Praktik Lapangan (PPL). Masalah tersebut menyebabkan mahasiswa Pendidikan Ekonomi kurang mengembangkan potensi diri dalam keterampilan mengajarnya sehingga kepercayaan dalam diri tidak muncul sehingga timbullah rasa malu dan juga minder baik pada saat PPL 1 maupun pada saat PPL 2.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin nmengetahui Hubungan antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Kurangnya pemahaman mahasiswa Pendidikan Ekonomi terhadap profesi guru.

2. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi belum mencerminkan sikap keguruan dengan baik.

(28)

3. Kesiapan mental mahasiswa Pendidikan Ekonomi saat melaksanakan PPL belum maksimal.

4. Kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi saat PPL masih lemah.

Pembatasan Masalah

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan mengajar sangat kompleks. Mengingat keterbatasan yang ada pada peneliti, maka penelitian ini akan mengkaji dua faktor utama yang diduga berpengaruh dominan terhadap terbentuknya kesiapan mengajar, yaitu minat profesi guru dan sikap keguruan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah ada hubungan antara minat profesi guru dengan kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD?

2. Apakah ada hubungan antara sikap keguruan dengan kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD?

3. Apakah ada hubungan antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD?

(29)

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. untuk mengetahui hubungan antara minat profesi guru dengan kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD.

2. untuk mengetahui hubungan antara sikap keguruan dengan kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD.

3. untuk mengetahui hubungan antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar dengan kesiapan mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD.

Manfaat Penelitian Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan, wawasan yang dapat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian sejenis pada masa yang akan datang dan bahan informasi bagi penelitian selanjutnya.

Secara Praktis

a. Bagi Universitas

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan bacaan penelitian di bidang pendidikan tentang hubungan antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar.

(30)

b. Bagi Mahasiswa Pendidikan Ekonomi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi mahasiswa, bahwa menumbuhkan minat profesi guru dan mengembangkan sikap keguruan merupakan hal yang mutlak dilakukan bagi seorang calon pendidik, khususnya mengembangkan potensi keterampilan mengajar sebagai upaya meningkatkan kesiapan mengajar.

c. Sebagai Peneliti

Penelitian ini digunakan sebagai wahana untuk latihan menulis secara ilmiah.

(31)

10 BAB II KAJIAN TEORI

A. Minat Menjadi Guru 1. Minat

Minat merupakan suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat mempunyai dampak yang besar atas sikap pada seseorang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari kata minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan.

Sumadi Suryabrata (1988 : 109) mengatakan “minat adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek”. Hal tersebut didukung oleh pendapat H.C. Witherington (Arikunto, 1983 : 100) yang menyatakan: bahwa minat adalah kesadaran seseorang terhadap suatu objek, suatu masalah atau situasi yang mengandung kaitan dengan dirinya. Hal tersebut menunjukan bahwa minat yang ada dalam diri seseorang mendorong orang tersebut untuk melakukan sesuatu yang diinginkan dan yang diharapkannya. Minat mengandung perhatian terhadap suatu objek.

Perhatian tersebut muncul karena objeknya sesuai dengan dirinya.

Minat dapat diartikan pula sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas, atau situasi yang menjadi objek dari minat dengan disertai perasaan senang.

(32)

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa minat seseorang terhadap suatu objek, maka ia pun menggali informasi sesuai dengan objek yang diminati. Minat merupakan sesuatu yang mendorong yang mendasari setiap orang untuk lebih menyenangi dan memperhatikan suatu hal atau kegiatan yang mengarahkan ke objek tersebut yang disertai keinginan untuk mengetahui, mempelajari hal yang diinginkan tersebut.

Minat pada diri seseorang dapat muncul apabila objek tersebut sesuai dengan yang diinginkan. Keinginan serta bakat yang ada dalam diri seseorang itulah yang memunculkan dan menentukan besar kecilnya minat seseorang terhadap objek tersebut. Minat tidak dibawa sejak lahir melainkan diperoleh dikemudiannya. Minat terhadap sesuatu hal mempengaruhi belajar selanjutnya. Jadi pada dasarnya, minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dari sebelumnya dan menyokong untuk belajar selanjutnya. Secara garis besar, minat memiliki dua pengertian, Pertama, usaha dan kemauan untuk mempelajari (learning) dan mencari sesuatu. Kedua, merupakan dorongan pribadi seseorang dalam mencapai tujuan tertentu.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat

Faktor minat mempunyai peranan yang sangat penting, minat individu terhadap suatu objek, pekerjaan, orang, benda, dan persoalan yang berkenaan dengan dirinya timbul karena ada faktor yang mempengaruhinya pada objek yang diamati atau yang diminatinya.

Agus Sujanto (Suharyat, 2009) menjelaskan faktor-faktor yang dapat

(33)

mempengaruhi timbulnya minat terhadap sesuatu. Minat secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua.

a. Faktor Internal

Faktor-faktor yang tergolong dalam faktor internal, yaitu: a) motif merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan. b) Sikap, adalah kecenderungan dalam subjek untuk menerima, menolak suatu objek yang berharga baik atau tidak baik. c) Selanjutnya pengalaman, merupakan suatu proses pengenalan lingkungan fisik yang nyata baik dalam dirinya sendiri maupun di luar dirinya sendiri dengan menggunakan organ-organ indra. d) Tanggapan adalah banyaknya yang tinggal dalam ingatan setelah melakukan pengamatan. e) Dan yang terakhir, persepsi merupakan proses untuk mengingat atau mengidentifikasi sesuatu.

b. Faktor Eksternal

Lingkungan bisa juga mempengaruhi minat, karena lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap individu, baik itu lingkungan fisik yang berhubungan dengan benda konkrit maupun lingkungan fisik yang berhubungan dengan jiwa seseorang. Lingkungan itu sendiri terbagi atas dua bagian, yakni:

1) Lingkungan fisik, yaitu berupa alat misalnya keadaan tanah.

(34)

2) Lingkungan sosial, merupakan lingkungan masyarakat dimana di lingkungan ini adanya interaksi individu yang satu dengan yang lainnya.

c. Faktor emosional

Minat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan emosional. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan menimbulkan perasaan senang dan hal tersebut akan memperkuat minatnya pada aktivitas tersebut.

Crow and Crow (Surhayat, 2009), mengungkapkan ada tiga faktor yang menjadi timbulnya minat, antara lain.

a. Dorongan dari dalam individu

Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan membangkitkan minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu, melakukan penelitian dan lain-lain.

b. Motif sosial

Motif sosial ini dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan sesuatu aktivitas tertentu. Contohnya, minat untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan sesuai dengan minat atau bakat dari individu tersebut.

Dari deskripsi minat dan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya minat di atas, minat profesi guru merupakan motif yang mendorong mahasiswa untuk menyenangi, memperhatikan, dengan disertai keinginan yang kuat untuk mengetahui, mempelajari, dan

(35)

mempraktikan lebih lanjut serta mengarahkan pilihannya untuk menjadi guru.

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa minat profesi timbul karena adanya informasi yang berkaitan dengan profesi guru yang diikuti dengan perasaan yang senang dan adanya ketertarikan terhadap profesi guru. Selanjutnya ia akan memberikan perhatian, ketertarikan yang besar terhadap profesi guru tersebut.

B. Profesi Guru

Drajat dan Effendi (2014: 44) mengatakan bahwa profesi dapat diartikan sebagai suatu bidang pekerjaan yang ingin ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang didapat dari pendidikan akademis yang intensif.

Untuk mempertegas eksistensi guru, sebagaimana tertera pada UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (pasal 1; angka 1) disebut bahwa: ”Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama pendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan menngevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Profesi guru sungguh nikmat dirasa penuh dinamika dan tantangan kehidupan.

Pada perspektif ini akan dibentuk sikap profesionalisme seorang guru berjuang tanpa kenal lelah demi cerdasnya kehidupan generasi bangsa.

(36)

Ali Imran (1995: 196) menyatakan: “profesi guru adalah profesi yang saling bersentuhan dengan dunia pendidikan secara langsung. Oleh karena itu apa yang dilakukan oleh guru hendaknya sesuai dengan misi pendidikan”. Profesi guru merupakan pekerjaan dalam bidang pendidikan yang berkeahlian khusus melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan mengajar dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Menurut KBBI (2008: 1104), kata profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu.

Mucthar Lutfi (Drajat dan Effendi, 2014: 42) mengemukakan bahwa “seseorang dapat dikatakan memiliki profesi apabila memiliki kriteria berikut ini: pertama, profesi mengandung keahlian yang artinya suatu profesi itu mesti ditandai oleh suatu keahlian khusus untuk profesi itu. Kedua, profesi dipilih karena panggilan hidup dan dijalani sepenuh waktu. Ketiga, profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal, artinya profesi itu dijalani dengan aturan yang jelas. Keempat, profesi itu adalah untuk masyarakat bukan untuk diri sendiri. Kelima, profesi itu harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif, kecakapan dan kompetensi itu diperlukan untuk menyakinkan peran profesi itu. Keenam, pemegang profesi memiliki otonomi dalam menjalankan tugas profesinya. Ketujuh, profesi mempunyai kode etik profesi. Kedelapan, profesi harus mempunyai klien yang jelas, yaitu orang yang membutuhkan layanan”. Profesi dapat dikatakan sebagai suatu pekerjaan yang dengannya bertindak sesuai dengan kemampuan yang

(37)

dimiliki dan didorong dengan adanya motivasi dari dalam jiwa untuk memberikan yang terbaik atas pekerjaannya itu.

Berdasarkan pendapat dan pengertian tentang profesi di atas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang paham tentang profesi guru dan berminat menjadi guru, maka ia akan memberikan perhatian besar untuk memahami dan mempelajari serta mempraktikannya secara sungguh- sungguh mengenai profesi keguruannya, yaitu bekerja dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Selanjutnya mahasiswa tersebut, akan melakukan kegiatan untuk menumbuhkan serta meningkatkan kemampuan dasar mengajar menuju komptensi guru yang diharapkan.

C. Sikap Keguruan 1. Pengertian Sikap

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata sikap adalah perbuatan yang didasarkan pada pendirian. Menurut Nana Sudjana (2004: 64), “sikap merupakan suatu motivasi karena menunjukan ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang terhadap suatu objek.

Seseorang yang mempunyai sikap postif terhadap sesuatu akan menunjukan motivasi yang besar terhadap hal itu”.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan motivasi seseorang terhadap sesuatu yang diinginkan dengan cara tertentu. Sementara itu menurut Bimo Walgito (Muhson, 2006: 16) menyatakan bahwa :

(38)

Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi, artinya bahwa sikap terhadap suatu objek tertentu akan selalu diikuti perasaan tertentu yang dapat bersifat positif tetapi juga dapat bersifat negatif terhadap objek tersebut. Di samping itu, sikap juga mengandung motivasi, ini berarti bahwa sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap objek yang di hadapinya.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap

Sarlito Wirawan Sarwono (1976: 95) menyatakan ada dua faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap.

a. Faktor Intern yaitu faktor-faktor yang terdapat pada diri orang yang bersangkutan itu sendiri seperti selektivitas. Kita tidak dapat menangkap seluruh rangsang dari luar melalui persepsi kita. Oleh karena itu harus dipilih rangsang-rangsang mana yang harus diterimanya atau ditolaknya.

b. Faktor Ekstern yaitu faktor-faktor yang terdapat dari luar individu, seperti sikap objek yang dijadikan sasaran subjek; kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap; sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung sifat tersebut; dan situasi pada saat sifat dibentuk.

Menurut Elida Prayitno (1989: 99), menyatakan bahwa sikap terbentuk dari bermacam-macam cara.

(39)

a. Melalui pengalaman pribadi

Dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.

b. Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan sangat mempengaruhi atau berepangaruh besar terhadap terbentuknya sikap.

c. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain disekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap. Seseorang yang dianggap penting, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap sesuatu.

d. Media massa

Pengaruh media massa tidaklah sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil artinya.

e. Lembaga pendidikan dan agama

Lembaga pendidikan serta agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakan dasar pengertian dan konsep moral.

(40)

3. Pengertian Keguruan

Menurut perspektif UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 469) guru berarti orang yang pekerjaanya mengajar; sedangkan keguruan berarti perihal (menyangkut) pengajaran, pendidikan dan metode pengajaran.

Pengertian guru maupun keguruan menurut KBBI di atas, masih sangat umum sehingga perlu menambah definisi dari beberapa para ahli untuk menjelaskannya secara lebih spesifik.

Menurut Sembiring (2009: 34) guru adalah pendidik professional. Tugas utamanya mendidik, mengajar, mengevaluasi peserta didik pada pendidikan formal dijenjang anak usia dini, pendidik dasar, dan menengah. Selanjutnya, Drajat dan Effendi menjelaskan guru adalah sebuah profesi, sebagaimana profesi lainnya merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab dan kesetiaan.

Sikap terbentuk tidak terjadi dengan sendirinya dan sikap tidak dibawah sejak lahir. Akan tetapi sikap bertumbuh dan berkembang ke arah yang positif, demikian dengan sikap keguruan. Sikap keguruan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui proses belajar yang

(41)

sangat panjang. Adapun terbentuknya sikap keguruan dapat terjadi melalui pengalaman pribadi, dalam hal ini adalah belajar melalui mata kuliah seperti PPL 1 dan PPL 2.

Terkait dengan hal tersebut, maka adanya tuntutan keprofesionalan guru untuk mencapai kompetensi dasar yang baik maka guru-guru dituntut untuk memiliki keanekaragaman kecakapan yang bersifat psikologis, yang meliputi:

a) kompetensi kognitif mencakupi tujuan yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan dan kemampuan intelektual;

b) kompetensi afektif mencakup tujuan-tujuan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan sikap, nilai, perasaan dan minat;

c) kompetensi psikomotor mencakup tujuan-tujuan yang berhubungan dengan keterampilan dan kecakapan yang berhubungan langsung dengan tugas sebagai guru.

Berdasarkan teori serta uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang telah menempuh, memahami dan mengembangkan mata kuliah keguruan baik yang teori maupun praktik, dalam dirinya akan timbul motivasi untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap keguruan yang merupakan proses terbentuknya sikap keguruan baik dari mulai etika, gaya berbicara, serta tingkah laku atau perbuatannya di depan peserta didik dan masyarakat. Melalui sikap tersebut, diharapkan mahasiswa Pendidikan Ekonomi sebagai calon guru mempunyai pendirian

(42)

untuk bertindak dan berperilaku sebagaimana seorang guru yang profesional serta memberikan teladan yang baik.

D. Kesiapan Mengajar

Usaha peningkatan kualitas pendidikan dalam upaya membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, dapat dilakukan dengan menciptakan dan mempersiapkan guru-guru yang profesional. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi USD Yogyakarta sebagai calon guru telah melaksanakan tiga komponen utama matakuliah, yaitu Pengelolaan Kelas, micro teaching, dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Dengan demikian diharapkan mahasiswa sudah siap sebagai tenaga kependidikan calon guru yang menjunjung tinggi kode etik guru, memiliki kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan, khususnya dalam kegiatan mengajar.

1. Pengertian kesiapan mengajar

Kesiapan mengajar sangat dibutuhkan oleh seorang guru agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan lancar. Kesiapan mengajar kamus psikologi merupakan suatu tindakan perkembangan seseorang yang berawal dari kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan untuk mempraktikan hal tertentu.

a. Pengertian kesiapan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata siap adalah terampil dan profesional serta dapat langsung (tanpa pelatihan lagi) menjalankan pekerjaan. Dapat dikatakan bahwa siap yaitu dapat

(43)

langsung dipakai atau siap pakai. Dikatakan siap pakai karena seseorang telah memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. Nana Syaodih (2005:157) mengungkapkan bahwa kesiapan berupa kematangan untuk melakukan sesuatu dengan penguasaan pengetahuan atau kecakapan dan keahlian atau keterampilan yang mendasarinya.

Seseorang akan siap melakukan suatu perbuatan apabila dirinya baik fisik maupun psikis telah memiliki atau menguasai keterampilan yang mendasari perbuatan tersebut. Jika sudah menguasai keterampilan yang dibutuhkan, maka seseorang telah memiliki kesiapan untuk melakukan suatu perbuatan.

Menurut Slameto (2010: 113), “kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons/jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi”. Dalam hal ini yang dimaksud dengan kondisi seseorang atau individu adalah mencakup tiga aspek, yaitu aspek yang pertama meliputi kondisi fisik, mental, dan emosional. Aspek yang kedua meliputi kebutuhan, motivasi, dan tujuan serta yang ketiga yaitu keterampilan, pengetahuan lain yang telah dipelajari.

Kesediaan untuk memberi respons tersebut berhubungan dengan aspek kesiapan berupa kematangan. Diungkapkan juga bahwa,

“kematangan adalah proses yang menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan”.

(44)

Berdasarkan pengertian tersebut, tingkah laku/respons seseorang akan berubah sesuai dengan perkembangan dalam dirinya. Dalyono (2005:52) mengartikan “kesiapan adalah kemampuan yang cukup, baik fisik maupun mental, sementara kesiapan mental berarti memiliki minat dan motivasi yang cukup untuk melakukan kegiatan”. Menurut Oemar Hamalik (2011: 94),

“kematangan adalah tingkat atau keadaan yang harus dicapai dalam proses perkembangan perorangan sebelum ia dapat melakukan sebagaimana mestinya pada bermacam-macam tingkat pertumbuhan mental, fisik, sosial, dan emosional”. Kematangan seseorang diperoleh dari tingkat perkembangannya yang meliputi, pertumbuhan mental, fisik, sosial, dan emosionalnya. Jika sudah ada kematangan dalam diri seseorang, maka dapat dikatakan orang tersebut siap, dan kesiapannya ditunjukkan oleh (dapat dilihat dari) kecakapannya saat melakukan suatu kegiatan.

Berdasarkan pendapat menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kesiapan merupakan kondisi (fisik dan psikis) seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan cakap atau mahir, dan sikap seseorang yang berawal dari kedewasaan yang sudah siap secara fisik dan mental untuk mempraktikan hal tertentu sesuai dengan kebutuhan atau keahlian yang seseorang miliki.

(45)

b. Pengertian mengajar

Seseorang dikatakan memiliki kesiapan mengajar jika dapat melaksanakan kegiatan mengajar dengan cakap atau mahir.

Hasibuan dan Moedjiono (2012: 37) mengungkapkan bahwa secara tradisional mengajar masih dianggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan pengetahuan, sedangkan secara mutakhir mengajar merupakan suatu perbuatan yang kompleks. Berdasarkan pendapat di atas, perbuatan yang kompleks tersebut meliputi seluruh sistem proses belajar. Sistem tersebut adalah tujuan intruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, jenis kegiatan serta sarana dan prasarana belajar mengajar. Menurut Oemar Hamalik (2011: 47), “mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah”. Generasi penerus perlu dipersiapkan untuk menjadi dewasa agar pada waktunya dapat menggantikan generasi tua dengan mewariskan kebudayaan nenek moyang dan dikembangkan agar menjadi warga negara yang lebih sempurna.

Jamil Suprihatiningrum (2016: 60-61) mengatakan bahwa mengajar memiliki pengertian dari sudut yang berbeda yaitu secara kuantitatif, kualitatif dan isntruksional. Secara kuantitatif, mengajar berarti the transmission of knwolege yaitu, penularan/pemindahan pengetahuan. Secara kualitatif, mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yakni upaya

(46)

membantu memudahkan kegiatan belajar siswa. Sementara secara instruksional, mengajar berarti the efficient orchestration of teaching skilss, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien.

Berdasarkan pengertian ini dapat diketahui bahwa mengajar merupakan suatu kegiatan yang kompleks, tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan tetapi lebih luas lagi. Mengajar merupakan kegiatan guru menanamkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan norma yang diarahkan oleh nilai-nilai pendidikan, kebutuhan-kebutuhan individu peserta didik, kondisi lingkungan, dan keyakinan yang dimiliki oleh guru kepada peserta didik dengan menciptakan kondisi yang kondusif agar terjadi proses belajar mengajar yang aktif dan efektif.

Berdasarkan pengertian kesiapan dan mengajar yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa kesiapan mengajar merupakan kondisi (fisik dan psikis) seorang guru yang siap menciptakan proses belajar-mengajar yang aktif dan efektif.

Mahasiswa calon guru yang nantinya akan menjadi guru, pastinya akan melakukan kegiatan mengajar di kelas. Oleh karena itu mahasiswa harus siap dengan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Suharsimi Arikunto (1993: 302) mengungkapkan bahwa kesiapan mahasiswa calon guru tidak dapat diketahui begitu saja, melainkan perlu diukur dengan menggunakan indikator-indikator.

(47)

Indikator yang digunakan adalah kondisi dan kemampuan. Adapun kondisi yang dimaksud oleh Suharsimi Arikunto (1993: 292) adalah kondisi fisik dan kondisi psikis. Kondisi fisik yaitu ketahanan fisik yang prima (tidak sedang sakit) dan penampilan fisik yang menarik (rapi dan sopan) sedangkan kondisi psikis yaitu sikap afektif dan stabilitas emosional. Adapun kemampuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah melaksanakan PBM.

Terkait dengan kemampuan melaksanakan PBM, Hasibuan (2006), E. Mulyasa (2008), dan Marno & M. Idris (2014) mengungkapkan bahwa pada intinya pelaksanaan pembelajaran atau PBM mencakup tiga hal yaitu awal, proses dan sesudah PBM.

Diantara kemampuan melaksanakan PBM tersebut adalah merencanakan PBM, mempersiapkan PBM, mengelola PBM, dan melaksanakan evaluasi PBM. Berkaitan dengan hal ini, maka kesiapan mengajar sangat diperlukan agar proses belajar-mengajar dapat berjalan secara aktif dan efektif. Untuk mewujudkannya diperlukan kesiapan diri pada seorang guru.

Kesiapan sangatlah penting untuk menunjang sebuah profesi.

Dengan kesiapan mengajar yang dimiliki oleh mahasiswa calon guru, maka akan meminimalisir kesalahan yang terjadi saat menjalani profesi pada umumnya dan proses belajar mengajar pada khususnya.

(48)

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan mengajar

Seseorang perlu memiliki kesiapan akan segala sesuatu yang diperlukan dalam melaksanakan tugasnya, begitu pula dengan guru yang akan melaksanakan tugas mengajar. Kesiapan tidak timbul begitu saja. Kesiapan seseorang timbul berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut Slameto (2010) ada dua faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan mengajar.

a. Faktor intern

1) Faktor jasmaniah: faktor kesehatan, faktor cacat tubuh.

2) Faktor psikologi: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan.

3) Faktor kelelahan: kelelahan jasmani, kelelahan rohani.

b. Faktor ekstern

1) Faktor keluarga: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan.

2) Faktor sekolah : kurikulum, disiplin sekolah, alat pelajaran, standar pelajaran di atas ukuran, waktu sekolah, keadaan gedung.

3) Faktor masyarakat: kegiatan dalam masyarakat, media media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.

Menurut Suharsimi Arikunto (1993: 21), ada dua faktor yang mempengaruhi kesiapan mengajar yang terdiri dari faktor intern dan faktor eksternal.

(49)

a. Faktor intern

Faktor intern adalah faktor-faktor yang bersumber dari dalam diri manusia, diklasifikasikan menjadi faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis adalah usia, kematangan, kesehatan, dan kelelahan, sedangkan faktor psikologis adalah yang menyangkut tentang kerohanian seperti suasana hati, motivasi, dan minat.

b. Faktor ekstern

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang bersumber dari luar diri manusia, diklasifikasikan menjadi faktor manusia dan faktor non manusia. Faktor manusia merupakan individu lain yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung, seperti manusia di keluarga, di sekolah, dan di masyarakat, sedangkan faktor non manusia seperti alam, benda, hewan, lingkungan fisik.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat dua faktor yang mempengaruhi kesiapan seseorang yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern terdiri dari fisik dan psikis, dan faktor ekstern terdiri dari keluarga, pendidikan, masyarakat dan lingkungan.

3. Indikator kesiapan mengajar

Menjadi seorang guru tidaklah pekerjaan yang mudah, sehingga dibutuhkan keterampilan yang memang harus dimiliki bagi mahasiswa sebagai calon guru. Seorang calon guru yang akan mengajar di dalam kelas haruslah memiliki kesiapan dasar mengajar yang baik. Menurut Buku

(50)

Pedoman Program Studi Pendidikan Ekonomi USD, kesiapan mengajar memiliki 4 keterampilan.

a. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran

Tujuan membuka pelajaran adalah untuk menciptakan atmosfir yang dapat menimbulkan motivasi siswa terhadap topik yang akan dipelajari. Tujuan menutup adalah meninjau kembali sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran dan memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang hal-hal yang telah dipelajari.

b. Keterampilan menjelaskan dan memvariasi stimulus

Kegiatan menjelaskan dan memberikan stimulus yang bervariasi dalam pembelajaran menjadi bagian penting dalam membantu pemahaman siswa selama pembelajaran untuk mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan kurikulum.

c. Keterampilan bertanya dan memberi penguatan

Kegiatan bertanya dalam pembelajaran bertujuan agar siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikirnya, keterlibatan di dalam kelas dan memperoleh lebih banyak pengetahuan.

d. Kemampuan mengajar secara terintegrasi

Keterampilan-keterampilan dasar mengajar yang telah dilatihkan kepada mahasiswa secara terpisah ditindak lanjuti dengan upaya menggabungkan berbagai keterampilan dasar mengajar tersebut dalam satu kesatuan proses mengajar.

(51)

Mempersiapkan dan menciptakan guru-guru yang profesional, memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk melaksanakan pembelajaran dalam upaya pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di bidang pembangunan. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa setiap guru atau pendidik mempunyai tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan emosi tertentu.

Wina Sanjaya (2006:33-47) mengemukakan bahwa terdapat lima keterampilan dasar mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan (reinforcement), keterampilan variasi stimulus, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, serta keterampilan mengelola kelas.

Seorang guru dalam menjalankan profesinya harus mampu menjalankan empat pilar pendidikan, yaitu learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan sesuatu), learning to be (belajar menjadi sesuatu), dan learning to live together (belajar hidup bersama). Dengan terlaksananya empat pilar tersebut maka pendidikan dan dalam menjalankan proses pendidikan yang ada di Indonesia dapat menjadi kokoh karena guru tidak hanya memberikan pemahaman materi pelajaran semata, tetapi juga menanamkan nilai- nilai penting yang dapat menjadi bekal bagi siswa agar dapat diterima dengan baik dimasyarakat.

Dari penelitian di atas, peneliti memiliki indikator dari kesiapan mengajar sebagai berikut.

(52)

1) Kesiapan merencanakan dan mempersiapakan Proses Belajar Mengajar (PBM)

Kesiapan merencanakan dan mempersiapkan PBM ini merupakan sikap yang ditunjukan mahasiswa untuk merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran ketika kelak menjadi seorang guru.

Kesiapan mahasiswa dalam merencanakan dan mempersiapkan PBM dapat dilihat dari kesiapan dalam mengenal kemampuan peserta didik agar pengelolaan pembelajaran, tepat, memilih metode mengajar yang tepat dan bervariasi, serta mengembangkan silabus dan RPP yang digunakan ketika akan melakukan pembelajaran di dalam kelas.

2) Kesiapan mengelola Proses Belajar Mengajar (PBM)

Kesiapan mengelolah PBM merupakan hal penting bagi seorang calon pendidik. Dalam mengelolah proses pembelajaran seorang guru tidak hanya menyampaikan materi semata, tetapi juga harus memperhatikan hal-hal pendukung lainnya. Kesiapan seorang mahasiswa calon guru dalam mengelolah PBM dapat dilihat dari kesiapan dalam memahami karakteristik peserta didik dan kesesuaian pembelajaran dengan RPP yang telah dibuat sebelumnya.

3) Kesiapan melaksanakan evaluasi

Evaluasi dalam pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif melalui tes saja, tetapi juga evaluasi mengenai aspek efektif psikomotorik. Kesiapan melaksanakan evaluasi bagi seorang mahasiswa

(53)

calon guru dapat dilihat dari kesiapan dalam me-review kembali materi yang telah disampaikan kepada peserta didik, mengadakan ulangan harian setiap KD, melakukan remedial, dan mengevaluasi metode pembelajaran yang telah diterapakan.

4) Kesiapan melaksanakan empat pilar pendidikan

Terdapat tempat pilar dalam pendidikan, yaitu learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan sesuatu), learning to be (belajar menjadi sesuatu), dan learning to live together (belajar hidup bersama). Kesiapan mahasiswa calon guru dalam melaksanakan empat pilar pendidikan ini dapat terlihat dari kesiapan untuk selalu meng-update pengetahuan yang dimiliki karena seorang guru adalah sumber belajar bagi peserta didiknya (learning to know), melatih peserta didik untuk memecahkan masalah (learning to do), membantu peserta didik dalam mengaktualisasi dirinya (learning to be), serta mengarahkan peserta didik agar mampu bekerja sama dalam masyarakat (learning to live together).

Pilar-pilar pendidikan tersebut dirancang dengan baik dan dengan tujuan yang sangat baik pula. Dengan mengaplikasikan pilar-pilar tersebut, diharapkan pendidikan yang berlangsung di seluruh dunia termasuk Indonesia dapat menjadi lebih baik. Persoalan pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama, dan mencari alternatif pemecahannya.

(54)

E. Kerangka Berpikir

1. Hubungan Antara Minat Profesi Guru dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD

Minat Profesi guru merupakan suatu faktor yang paham tentang profesi guru dan berminat menjadi guru, selanjutnya ia akan memberikan perhatian besarnya untuk memahami, mempelajari dan mempraktikannya secara sungguh-sungguh mengenai profesi keguruannya. Minat pada profesi guru mendorong mahasiswa calon guru untuk memahami lebih lanjut, mendorong, mempelajari serta mengembangkan lebih lanjut untuk menjadi guru. Mahasiswa yang mempunyai minat profesi sebagai guru tentu akan berusaha untuk mendapatkan informasi mengenai keterampilan menjadi guru yang profesional dan disertai dengan motivasi untuk meningkatkan keterampilan tersebut.

Kesiapan mengajar merupakan kesiapan sikap seseorang pada suatu taraf kedewasaan yang sudah siap secara fisik dan juga mental untuk mempraktikan hal tertentu sesuai dengan kebutuhan serta keahlian yang dimilikinya. Peningkatan pembelajaran seorang guru ataupun calon guru dapat ditingkatkan dengan kesiapan dan kematangannya dalam kecakapan sebagai guru serta mengelolah PBM.

Kompetensi merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap calon guru yang harus dikembangkan. Adapun salah satu penunjang untuk membentuk mahasiswa kependidikan dalam kesiapan mengajarnya yaitu dengan adanya pengajaran mikro yang diadakan di

(55)

laboratorium mikro kampus dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Kesiapan mengajar mahasiswa dapat dilihat dari kemampuan mahasiswa untuk memahami dan melaksanakan tugas-tugas guru serta pemahaman kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Kegiatan pengajaran mikro dan PPL melatih mahasiswa untuk mampu atau siap menciptakan proses belajar-mengajar yang aktif dan efektif serta harus siap menjadi guru. Kesiapan mengajar sangatlah penting untuk menunjang profesi. Kesiapan mengajar tidak timbul begitu saja.

Kesiapan mengajar timbul berdasarkan beberapa faktor, salah satunya minat. Minat merupakan faktor motivasi dari dalam (intern) yang mempengaruhi kemauan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan.

Mahasiswa yang memiliki niat terhadap profesi guru akan berusaha untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan memanfaat pengajaran mikro serta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Setelah mendapatkan informasi terkait dengan keterampilan menjadi guru yang profesional yang disertai dengan dorongan motivasi untuk meningkatkan keterampilan tersebut, ia dapat meningkatkan kemampuan serta keterampilannya yang ia peroleh untuk kesiapan mengajarnya. Dengan demikian, diduga ada hubungan antara minat profesi guru mahasiswa Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USD dengan kesiapan mengajar.

(56)

2. Hubungan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa dan Pendidikan Ekonomi FKIP USD

Sikap keguruan ialah sikap mahasiswa yang mengarah serta mencerminkan kompetensi pribadi dan sosialnya. Pembentukan sikap keguruan tersebut melalui proses yang sangat panjang, dengan menempuh mata kuliah baik teori maupun praktik, contohnya seperti PPL 1 dan PPL 2. Dalam PPL 1 dibekali dengan cara mengajar serta cara penggunaan bahasa yang formal, sedangkan dalam PPL 2 diterapkan secara langsung di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta. Mahasiswa yang mengambil keguruan, mampu memahami sikap keguruan, dan mampu mengembangkannya dan mengaplikasikan sikap keguruan tersebut. Adapun pengembangan dan pengaplikasian sikap keguruan tersebut dapat diterapkan di lingkungan kampus sebagai mahasiswa keguruan maupun di lingkungan sekolah sebagai tempat praktik mengajar menuju kompetensi guru keguruan yang diharapkan.

Kesiapan mengajar merupakan kesiapan sikap seseorang pada suatu taraf kedewasaan yang sudah siap secara fisik dan juga mental untuk mempraktikan hal tertentu sesuai dengan kebutuhan serta keahlian yang dimilikinya. Peningkatan pembelajaran seorang guru ataupun calon guru dapat ditingkatkan dengan kesiapan dan kematangannya dalam kecakapan sebagai guru serta mengelolah PBM.

Sikap keguruan sangat diperlukan dalam kesiapan mengajar guru ataupun calon guru dalam proses belajar mengajar di sekolah. Hal

(57)

tersebut merupakan proses terbentuknya kesiapan mengajar mahasiswa untuk melaksanakan PBM dan penerapan sikap keguruan sesuai etika calon guru sebagaimana yang diharapkan.

Sejalan dengan hal tersebut, mahasiswa memperoleh pengetahuan serta pemahaman sebagaimana yang sudah dipelajari dan diterapkan langsung di dalam proses pembelajaran di sekolah. Sikap keguruan sangat berpengaruh terhadap kesiapan mengajar mahasiswa dalam menghadapi keadaan kelas yang situasional sebagai guru yang professional. Berdasarkan hal di atas, maka diduga ada hubungan antara sikap keguruan mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD dengan kesiapan mengajar.

F. Hubungan Antara Minat Profesi Guru dan Sikap Keguruan dengan Kesiapan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD

Minat Profesi guru merupakan suatu faktor yang paham tentang profesi guru dan berminat menjadi guru, selanjutnya ia akan memberikan perhatian besarnya untuk memahami, mempelajari dan mempraktikkannya secara sungguh-sungguh mengenai profesi keguruannya. Mahasiswa yang memiliki minat profesi guru, tentu akan memunculkan motivasi untuk mendapatkan apa yang diminatinya tersebut, sehingga timbullah kemauan untuk menekunkan serta mencari tahu yang berkaitan dengan apa diminatinya untuk melakukan

(58)

kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan minat yang dimilikinya menuju pada pembentukan sikap keguruannya.

Sikap keguruan ialah sikap mahasiswa yang mengarah serta mencerminkan kompetensi pribadi dan sosialnya. Sikap keguruan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui proses belajar yang sangat panjang. Sikap keguruan dapat terjadi karena pengalaman yang berulang-ulang atau juga pengalaman pribadi. Dalam hal ini yaitu belajar melalui mata kuliah seperti pengajaran mikro dan Pengalaman Lapangan (PPL). Sikap keguruan sangat berpengaruh terhadap kesiapan mengajar mahasiswa dalam menghadapi keadaan kelas yang situasional sebagai guru yang profesional.

Kesiapan mengajar merupakan kesiapan sikap seseorang pada suatu taraf kedewasaan yang sudah siap secara fisik dan juga mental untuk mempraktikan hal tertentu sesuai dengan kebutuhan serta keahlian yang dimilikinya. Peningkatan pembelajaran seorang guru ataupun calon guru dapat ditingkatkan dengan kesiapan dan kematangannya dalam kecakapan sebagai guru serta mengelolah PBM.

Dalam proses pengembangan dan pengaplikasian sikap keguruan tersebut, mahasiswa dibekali ilmu mengenai keguruan sebagai dasar pengembangan keterampilan mengajarnya dan seperangkat latihan untuk membentuk sikap keguruan dan keterampilan untuk mengajar. Hal tersebut tentu saja mendukung kesiapan mengajar mahasiswa untuk mengelolah proses pembalajaran

(59)

di sekolah. Dari uraian di atas, maka diduga ada hubungan antara minat profesi guru dan sikap keguruan dengan kesiapan mengajar.

Hubungan antar variabel di atas, dapat digambarkan sebagai berikut:

X1 : Minat Profesi Guru, X2 :Sikap Keguruan Y : Kesiapan Mengajar

G. Pengajuan Hipotesis

Berdasarkan pada kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas, maka diajukan hipotesis.

H1 : Ada hubungan yang positif antara minat profesi guru dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.”

H2 : Ada hubungan yang positif antara sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi (BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.

H3 : Ada hubungan yang positif antara sikap keguruan dengan kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi X1

X2

Y

(60)

(BKK Pendidikan Akuntansi dan BKK Pendidikan Ekonomi) FKIP USD.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem penjaminan mutu Insitusi dan Program Studi berjalan dengan baik. Penerapan standar dan prosedur mutu melalui tahapan prosedur kerja sesuai dengan standar yang telah

Tradisi bapenteh yang dilakukan oleh masyarakat Hiang merupakan representasi pola bagi (pattern of) sebagai wujud dari tindakan yang dilakukan ketika hendak

Berbagai jenis desain dan motif produk souvenir kreatif olahan limbah kelapa yang dihasilkan oleh petani pengrajin di Baturaden dan Purbalingga Wetan telah disesuaikan dengan

Melakukan identifikasi endoparasit pada rodent (helmint dan Protozoa) Salah satu kegiatan yang telah dilakukan di Instalasi parsitologi adalah pemeriksaan Endoparasit

soal pretest, selanjutnya melaksanakan pembelajaran dengan membagi kelompok siswa terdiri dari 4-5 siswa per kelompok; merancang alat pengumpul data yang berupa tes

Leuwimunding Kabupaten Majalengka yang ditandai dengan PBU 038 di perbatasan antara Desa Cipanas Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon dengan Desa Leuwikujang Kecamatan

Langkah awal pengelolaan gizi buruk adalah mengatasi kegawatan yang ditimbulkannya, dilanjutkan dengan "frekuen feeding" (pemberian makan yang sering, pemantauan

Fungsi kemandirian pada lansia mengandung pengertian yaitu kemampuan yang dimiliki oleh lansia untuk tidak tergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitasnya, semuanya