JABARIYAH dan QODARIYAH
A. Pengertian khalaf
Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad ke-III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan yang dimiliki salaf. Karakteristik yang palimg menonjol dari khalaf adalah penakwilan terhadap sifat-sifat Tuhan yang serupa dengan makhluk pada pengertian yang sesuai dengan ketinggian dan kesuciannya.
Adapun ungkapan Ahlusunnah (sering disebut dengan sunni) dapat dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan kelompok syi’ah. Dalam pengertian ini, mu’tazilah sebagaimana juga asy’ariah masuk dalam barisan sunni. Adapun sunni dalam pengertian khusus adalah mazhab yang berada dalam barisan asy’ariah dan merupakan lawan mu’tazilah. Pengertian kedua inilah yang digunakan dalam pembahasan ini.
Selanjutnya, terma ahlussunnah banyak digunakan sesudah timbulnya aliran asy’ariah dan maturidiah, dua aliran yang menentang ajaran-ajaran mu’tazilah. Dalam hubungan ini, Harun Nasution dengan meminjam keterangan Tasy Kubra Zadah menjelaskan bahawa aliran
ahlussunanah muncul atas keberanian dan usaha Abu Hasanah
Al-asy’ari sekitar tahun 300 H.48 B. Tokoh Tokoh Khalaf
1. Al-ASY’ARI ( 875-935 M )
a. Riwayat Hidup Singkat Al-Asy’ari
Nama lengkap asy’ari adlah Abu Al-Hasan ‘ali bin isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin ‘Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi
48 Rozak,Abdul & Anwar,Rohisan. ( 2012 ). Ilmu kalam edisi revisi, Bandung: CV Pustaka Setia.hal.145-146
70 Musa Al-Asy’ari. Menurut beberapa riwayat, al-asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H/ 875M. Setelah berusia lebih dari 40 tuhun, ia hijrah ke kota baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H/935M.
Menurut Ibn ‘Asakir (w. 571 H), ayah al-asyari adalah seorang yang berpaham ahlussunnah dan ahli hadis. Dan ia wafat setalah al-asy’ari masih kecil. Sebelum wafat, ia sempat berwasiat kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As-saji agar memdidik al-asy’ary. Ibunya menikah lagi dengan seorang tokoh mu’tazilah yang bernama abu ‘Ali Al-Jubba’i ( w. 303 H/ 915 M ) ayah kandung abu hasyim jubba’i ( w. 321 H / 932 M ). Berkat didikan ayah tirinya, al-asy’ari kemudian menjadi tokoh mu’tazilah. Sebagaitokoh mu’tazilah, ia sering menggantikan al-jubba’i dalam perdebatan menentang lawan-lawan mu’tazilah dan banyak menulis buku yang membela alirannya .
Al-asy’ari menganut paham mu’tazilah hanya sampai 40 tahun. Setelah itu, secara tiba-tbia ia mengumumkan di hadapan jamaah masjid bashrah bahwa ia telah meninggalkan paham mu’tazilah dan akan menunjukkan keburukan-keburukannya. Menurut ibn ‘asakir, yang melatarbelakangi al-asy’arimmeninggalkan paham mu’tazilah adlah pengakuan al-asy’ari telah bermimpi bertemu dengan rasulullah SAW sebanyak 3 kali, yaitu pada malam ke 10, ke-20, dan ke- 30 bulan ramadhan. Dalam tiga kali mimpinya , rasulullah SAW memperingatkannya agar segera meninggalkan paham mu’tazilah dan segera membela paham yang telah diriwayatkan dari beliau.
b. Doktrin - Doktrin Teologi al-asy’ari 1. Tuhan dan sifat-sifatnya
Al-Asy’ari berpendapat bahwa allah memiliki sifat – sifat ( bertentangan dengan mu’tazilah) dan sifat-sifat itu, seperti mempunyai tanngan seperti mempunyai tangan dan kaki, tidak boleh diartikan secara harfiah, tetapi secara simbiolis ( berbeda dengan kelompok sifatiah ). Selanjutnya, Al-asy’ari berpendapat bahwa bahwa sifat-sifat allah unik
71 dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
2. Kebebasan Dalam Berkehendak
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan serta mengaktualisasikan perbuatannya.
3. Akal dan Wahyu dan Kriteria baik dan buruk
Meskipun al-asy’ari dan orang-orang mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, tetapi berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-asy’ari mengutamakan wahyu, sementara mu’tazilah mengutamakan akal.
Dalam menentukan baik burukpun terjadi perbedaan pendapat diantara mereka. Al-asy’ari berpebdapat bahwa baik dan buruk hatus berdasarkan wahyu , sedangkan mu’tazilah mendasarkannya pada akal.
4. Qadimnya Al-Quran
Al-asy’ari mengatakan bahwa walupun al-quran terdiri atas kata-kata , huruf, dan bunyi , hal itu tidak melekat pada esensi Allah dan tidak qadim. Nasution mengatakan al-quran bagi al-asy’ari tidak diciptakan sebab apabila diciptakan, sesuai dengan ayat :
“ sesungguhnya firman kami terhadap sesuatu apabila kami menghendaknya, kami hanya mengatakan kepadanya, ‘jadilah’ maka jadilah sesuatu itu “
5. Melihat Allah
Al-asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat , tetapi tidak dapat di gambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi ketika Allah
yang menyebabkan dapat dilihat atau ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihatnya.
6. Keadilan
Allah itu adil.
72 Al-asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang dianut mu’tazilah. Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufur , predikat bagi seseorang harus satu di antaranya. Jika tidk mukmin, ia kafir. Oleh karena itu , Al-asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.49
c. Tokoh-tokoh Asy’ariyah
Salah satu kelebihan dari aliran Asy’ariyah ialah karena aliran ini mempunyai beberapa tokoh yang populer. Tokoh-tokoh tersebut antara lain :
a. Al-Baqillani ( wafat 403 H ) b. Ibnu Faauk ( wafat 406 H )
c. Ibnu Ishak Al-Isfaraini ( wafat 418 H ) d. Abdul Qahir Al-Baghdadi ( wafat 429 H ) e. Iman Al-Haramain Al-juwaini ( wafat 478 H ).50 2. Al-MATURIDI
a. Riwayat singkat al-maturidi
Abu manshur Al-Maturidi dilahirkan di Maturid, sebuah kota kecil di daerah Samarkand, wilayah Trmsoxiana di Asia Tengah, daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 hijriyah. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M. Gurunya dalam bidang fikih dan teologi bernama Nasir bin Yahya Balakhi. Ia wafat pada tahun 268 H. Al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-mutawakil yang memerintah tahun 232-274/847-861 M.
Karir pendidikan Al-Maturidi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih. Ini dilakukan untuk memperkuat pengetahuan dalam menghadapi faham-faham teologi yang banyak
49 Rozak,Abdul & Anwar,Rohisan. ( 2012 ). Ilmu kalam edisi revisi, Bandung: CV Pustaka Setia.hal.146-150
73 berkembang pada masyarakat islam, yang dipandangnya tidak sesuai dengan kaidah yang benar menurut akal dan syara. Pemikiran-pemikirannya banyak di tuangkan dalam bentuk karya tulis, diantaranya
ialah Kitab Tauhid,Ta’wil Al-Quran, Makhaz Asy-Syara’i, Al-jadl, Ushul Fi Ushul Ad-Din, Maqalat fi Al-Ahkam Radd Aw’il Al-Abidillah li Aka’bi, Radd Al- Ushul Al-Khamisah li Abu muhammad Al- Bahilli, Radd Al-Imamah li Al-Ba’ad Ar-Rawafiq, dan Kitab Radd ‘ala Al-Qaramah. Selain itu, ada
pula karangan-karangan yang diduga ditulis Al-Maturidi, yaitu Risalah fi
Al-Aqaid dan Syarh Fiqh Al-Akbar.
Dalam bidang fiqh, Al-Maturidi mengikuti mazhab Hanafi, dan ia sendiri banyak mendalami soal-soal teologi islam dan menganut aliran
Fuqaha dan Muhadditsin, seperti yang dilakukan Al-Asy’ari. Sungguhpun demikian pendapat-pendapatnya tidak terkait dengan aliran tersebut.
Meskipun metode yang dipakai Maturidi berbeda dengan Al-Asy’ari, namun hasil pemikirannya banyakn yang sama.
b. Doktrin – Dokrin Teologi Al-Maturidi 1. Akal dan Wahyu
Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan Kewajiban mengetahui Tuhan dapat di ketahui dengan akal. Kemampuan akal dalam mengetahui kedua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaan-Nya. Kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut, tentunya Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau mengunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang diperintahkan ayat-ayat tersebut.
Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu:
74 a. Akal dengan sendirinya mengetahui kebaikan sesuatu itu
b. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu, c. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali
dengan petunjuk ajaran wahyu. 2. Perbuatan manusia
menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaan-Nya. Khusus mengenai perbuatan manusia, kebijakan dan keadilan kehendak Tuhan harus mengharuskan manusia memiliki kemampuan berbuat ( ikhtiar ) agar kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan. Dalam hal ini , Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia. Tuhan menciptakan daya ( kasb ) dalam diri manusia dan manusia bebas memakainya. Daya-daya tersebut di ciptakan bersamaan dengan perbuatan manusia. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara qudrat Tuhan yang menciptakan perbuatan manusia dan ikhtiar yang ada pada manusia.
3. Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan
Penyataan ini menurut Al-Maturidi bukan berarti bahwa Tuhan berbuat dan berkehendak dengan sewenang-wenang serta sekehendak-Nya semata. Hal ini qudrat Tuhan tidak sewenang-wenang ( Absolut ), tetapi perbuatan dan kehendaknya itu untuk berlangsung dan sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya sendiri.
4. Sifat Tuhan
Al-Maturidi berpendapat bahwa sifat itu tidak dikatakan sebagai esnsi-Nya dan buka pula lain dari esensi-Nya.
5. Melihat Tuhan 6. Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam (baca: sabda ) yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi ( sabda yang sebenarnya atau makna abstrak ). Kalam nafsi adalah sifat
75
qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan
suara adalah berharu ( hadis ). 7. Pengutusan Rasul
Pandangan Al-Maturidi ini tidak jauh berbeda dengan pandangan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalh kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya.
8. Pelaku dosa besar ( Murtakib Al-Kabir )
Al-Maturidi bependapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya.51
c. Perbedaan yang tegas antara Al-asy’ari dan Al-Maturidi antara lain: 1). Menurut Asy;ariyah, mengetahui adanya Allah merupakan
kewajiban syara’, sedangkan menurut Maturidiyah merupakan kewajiban akal.
2). Menurut golongan Al-Asy’ariyah, sesuatu perbuatan tidak mempunyai sifat baik dan buruk. Baik dan buruk tidak lain karena diperintahkan atau dilarang syara’. Menurut Maturudiyah, pada tiap-tiap perbuatan itu sendiri ada sifat baik dan buruk. Dengan demikian aliran Maturidiyah lebih mendekati aliran mu’tazilah.52
Diskusi dengan (Dr. Sumarto : 2017)
Al asyi’ari 1. Takwil sifat-sifat Allah
Al maturidi 2. Manusia berkehendak
Dan kebebasan memilih
51 Rozak,Abdul & Anwar,Rohisan. ( 2001 ). Ilmu kalam untuk UIN,STAIN,PTAIS. Bandung: CV pustaka Setia.hal.124-130
52 Bintang,Mario Arjuna ( 2008 ). Akidah Akhlak. Jakarta: CV Tiga Serangkai.hal.39
khalaf
76