• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

C. Visi dan Misi PT. Pabrik Gula Takalar

1. Visi

Menjadi perusahaan agribisnis dan agroindustri yang kompetitif, mandiri, dan memberdayakan ekonomi rakyat.

2. Misi

Misi perusahaan adalah:

a. Menghasilkan produk utama perkebunan berupa gula dan minyak sawit, serta produk pendukung yang berdaya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional,

b. Mengelola bisnis dengan teknologi akrab lingkungan yang memberikan kontribusi nilai kepada produk dan mendorong pembangunan berwawasan lingkungan,

c. Melalui kepemimpinan, teamwork, inovasi, dan SDM yang kompeten, meningkatkan nilai secara terus-menerus kepada shareholder dan stakeholders,

General Manager

d. Menempatkan Sumber Daya Manusia sebagai pilar utama penciptaan nilai (value creation) yang mendorong perusahaan tumbuh dan berkembang bersama mitra strategis.

D. Stuktur organisasi PT. Pabrik Gula Takalar

Gambar 4.2

Keuangan Masinis Stasiun Gilingan

a. Tenaga Kerja Tetap : 378 orang b. Tenaga Kerja Tidak Tetap : 342 orang

c. Tenaga Musiman (giling) : 300 orang d. Tenaga tebang (giling) : +/- 3.000 orang

E. Mekanisme Kerja

Bagian ini akan diuraikan hubungan kerja organisasi, yaitu hubungan antara pimpinan dengan staf (bawahan), serta hubungan staf dengan staf itu sendiri.

Penjelasan yang lebih jelas tentang mekanisme kerja ini, maka akan diuraikan job secara sistematis sebagai berikut :

1. General Manager

Bertugas dalam memimpin pengelolaan perusahaan secara keseluruhan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Tugas General Manager:

a. Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan dibidang administrasi keuangan, kepegawaian dan kesekretariatan.

b. Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan pengadaan dan peralatan perlengkapan.

c. Merencanakan dan mengembangkan sumber-sumber pendapatan serta pembelanjaan dan kekayaan perusahaan.

d. Memimpin seluruh dewan atau komite eksekutif..

e. Memimpin rapat umum, dalam hal : untuk memastikan pelaksanaan tata-tertib, keadilan dan kesempatan bagi semua untuk berkontribusi secara tepat, menyesuaikan alokasi waktu peritem masalah, menentukan urutan agenda, mengarahkan diskusi kearah consensus, menjelaskan dan menyimpulkan tindakan dan kebijakan.

2. Manager Tanaman

Bertugas dalam memimpin dan mengkoordinasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan produksi dan penjualan komditi tanaman semusim.

Tugas Manager Tanaman :

a. Merumuskan kebijaksanaan dalam masalah areal, pembibitan, pengolahan tanah, penanaman, penebangan, dan pengangkutan tanaman tebu.

b. Memberikan bimbingan teknis dalam penanaman tebu kepada petani tebu.

c. Menyelenggarakan administrasi, arsip, dan statistik di bidangnya.

d. Mengadakan penelitian guna memecahkan masalah di bidangnya, dalam rangka penghematan biaya dan penyediaan bahan baku yang efektif dan efisien.

Manager Tanaman membawahi beberapa bagian, yaitui :

a. Kepala Sinder Tebu, yang bertugas membersihkan tanaman tebu untuk digiling, maupun untuk pembibitan periode yang akan datang.

b. Sinder Kebun Percontohan, yang bertugas menyelidiki jenis tanaman tebu yang baik, cocok digunakan, dan tahan terhadap hama.

c. Sinder Tebang Angkut, yang bertugas mempersiapkan penebangan dan pengangkutan tebu yang akan digiling di pabrik

3. Manager TUK ( Tata Usaha dan Keuangan )

Bertugas dalam memimpin dan mengkoordinasi keuangan perusahaan, serta bertanggung jawab melaksanakan kegiatan akuntansi perusahaan, dan bertugas dalam memimpin dan mengkoordinasi pendayagunaan dan pengembangan sumber daya manusia, dan peningkatan citra perusahaan.

Tugas Manager TUK ( Tata Usaha dan Keuangan ) :

a. Menyelenggarakan pembukuan dan membuat laporan secara periodik di bidang keuangan untuk keperluan manajemen.

b. Melaksanakan pengawasan di bidang finansial dan inventaris.

c. Menyusun rencana kerja, rencana anggaran dan belanja, serta perencanaan laba dalam rangka penyusunan rencana anggaran dan belanja pabrik.

Manager TUK ( Tata Usaha dan Keuangan ) membawahibeberapa bagian, yaitu:

a. Bagian Akuntansi Pembukuan, yang bertugas mencatat dan membukukan semua transaksi yang terjadi, membuat laporan bulanan, serta membuat manajemen keuangan.

b. Bagian Keuangan, yang bertugas menerima dan mengeluarkan uang yang dibutuhkan oleh pabrik dalam menjalankan aktivitasnya.

c. Bagian Sumber Daya Manusia, yang bertugas menerima dan menghentikan karyawan dengan persetujuan Administratur, serta melaksanakan kegiatan surat-menyurat.

d. Bagian Gudang, yang bertugas mencatat dan membukukan keluar masuknya gula hasil produksi pabrik.

4. Manager Instalasi

Bertugas dan memimpin para masinis dan mengkoordinasi di bidang instalasi dalam kegiatan perusahaan untuk meningkatkan pruduktivitas pabrik.

Tugas Manager Instalasi :

a. Melaksanakan rencana, prosedur, dan kebijaksanan di bidang instalasi secara efektif dan efisien dalam kegiatan operasional perusahaan.

b. Memimpin para masinis, karyawan bagian instalasi untuk tercapainya efektivitas biaya dan penyelenggaraan ketepatan pelaksanaan teknis di bidang instalasi.

c. Memberikan pendapat dan pertimbangan dalam menyelesaikan persoalan di bidang instalasi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas pabrik.

Manager Instalasi membawahi beberapa bagian, yaitu :

a. Masinis Stasiun Gilingan, yang bertugas mempersiapkan dan memperbaiki alat-alat dan mesin-mesin gilingan, sehingga pada saat musim giling tidak mengalami kerusakan.

b. Masinis Stasiun Ketelan, yang bertugas mempersiapkan dan memperbaiki alat-alat dan mesin-mesin ketelan.

c. Masinis Stasiun Listrik, memperbaiki alat-alat penerangan dan aliran listrik pada setiap bangunan milik pabrik sehingga dapat berfungsi dengan semestinya.

d. Masinis Pabrik Tengah, yang bertugas mempersiapkan dan memperbaiki alat-alat dan mesin-mesin yang terdapat dipabrik tengah, seperti mesin pemanas dan mesin pemurnian.

e. Masinis Pabrik Belakang, yang bertugas mempersiapkan dan memperbaiki alat-alat dan mesin-mesin yang terdapat dipabrik belakang, seperti mesin pemutar dan mesin pengering gula.

f. Masinis Bangunan, yang bertugas memperbaiki dan memelihara sarana bangunan yang dimiliki pabrik.

g. Kepala Besali, yang bertugas memperbaiki dan memelihara sarana pengangkutan yang dimiliki pabrik.

h. Kepala Remise, yang bertugas mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan sehingga dapat digunakan bila diperlukan.

5. Manager Pengolahan

Bertugas meningkatkan dan memantapkan mutu produk, menekantingkat kehilangan material mengandung gula selama proses di pabrik,dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Tugas Manager Pengolahan :

a. Memimpin para chemikerdan karyawan bagian pengolahan agar terselenggara efektivitas dan efisien pelaksanaan operasional.

b. Melaksanakan kegiatan teknis operasional, administrasi, dan finansial di bidang pengolahan guna menjamin kelancaran dan ketertiban proses produksi, sehingga diperoleh hasil yang memenuhi standar baik dalam kualitas maupun kuantitas.

c. Memberikan pendapat dan pertimbangan dalam menyelesaikan persoalan di bidang pengolahan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas pabrik.

Manager Pengolahan membawahi beberapa bagian, yaitu :

a. Chemiker, yang bertugas memberikan dan menetapkan kadar gula dalam setiap kemasan tebu yang akan digiling.

b. Processing, yang bertugas menetapkan kecepatan giling dan mengawasi proses produksi agar berjalan sebagaimana mestinya.

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Hasil Analisis Keuangan PT. Pabrik Gula Takalar Ditinjau Dari Aspek Profitabilitas

Dalam menganalisis tingkat profitabilitas suatu perusahaan, maka kita menggunakan rasio profitabilitas. Rasio ini merupakan alat ukur untuk me-ngetahui sampai sejauh mana perusahaan tersebut menggunakan dana atau modalnya atau mengarahkan dananya secara efisien. Untuk lebih jelasnya, maka kita menggunakan rumus seperti yang dijelaskan pada bab dahulu sebagai berikut, yaitu :

1. Gross Profit Marginrasio ini merupakan perbandingan antara penjualan netto ( penjualan bersih ) dikurangi dengan harga pokok penjualan dengan tingkantan penjualan, dan dibandingkan dengan penjualan netto (penjualan bersih). rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan.

Gross Profit Margin 2012 =

x 100

=1,21 %

Gross Profit Margin 2013 =

x 100

= -5,48 %

Tabel 5.1 Gross Profit Margin Tahun Laba kotor Penjualan

bersih

Gross profit margin

Dalam persen (%) 2012 942.523.737 77.408.170.695 0,0121 1,21 % 2013 -11.765.962.365 214.674150185 -0,0548 -5,48 %

Gambar 5.1Gross Profit Margin

Rasio ini menujukkan perbandingan pendapatan / kerugian, berdasarkan rumus diatas diperoleh hasil sebagai berikut :

Laba bersih terhadap penjualan tahun 2012 sebesar 1,21 % dinilai baik karena perusahaan sudah mendapatkan keuntungan. Hal ini disebabkan karena peningkatan laba.

Laba bersih terhadap penjualan tahun 2013 sebesar -5,48 % dinilai sangat buruk karena perusahaan mengalami kerugian, perusahaan mengalami

penurunan pendapatan sebesar -4,27 %. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga pokok penjualan.

2. Net Profit Margin merupakan perbandingan keuntungan netto sesudah pajak (laba bersih ) dengan penjualan bersih ( penjualan bersih ), suatau faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan perusahaan untuk mengelolah usahanya agar dapat menghasilkan laba yang maksimal, sedangkan laba itu sangat dipengaruhi oleh sejauhmana perusahaan mencapai tingkat volume penjualan dengan biaya yang sewajarnya, karena tingkat efisiensi dalam perusahaan akan menyebabkan semakin tinggi pula pencapaian net profit margin perusahaan.

Berikut penjelasan dari perhitungan Net Profit Margin :

Tabel 5.2 Net Profit Margin

Tahun Laba bersih Penjualan bersih Net profit margin

Dalam persen (%) 2012 -25.733.626.001 77.408.170.695 -0,3324 -33,24 % 2013 -45.757.087.010 214.674.150.185 -0,2131 -21,31 %

Gambar 5.2 Net Profit Margin

Rasio ini menujukkan perbandingan pendapatan / kerugian, berdasarkan rumus diatas diperoleh hasil sebagai berikut :

Laba bersih terhadap penjualan tahun 2012 sebesar -33,24 % dinilai sangat buruk karena perusahaan mengalami kerugian. Hal ini disebabkan penurunan laba bersih.

Laba bersih terhadap penjualan tahun 2013 sebesar -21,31 % dinilai kurang baik meskipun perusahaan masihmengalami kerugian, perusahaan mengalami penurunan kerugian sebesar -11,93 %. Hal ini disebabkan kenaikan penjualan bersih.

3. Return on asset (ROA ) adalah perbandingan antara laba kotor dengan keseluruhan modal yang dimiliki perusahaan. Rasio ini menggambarkan perputaran asset diukur dari volume penjualan.

-35.00%

-30.00%

-25.00%

-20.00%

-15.00%

-10.00%

-5.00%

0.00%

2012 2013

Net Profit Margin

Net Profit Margin

Semakin besar rasio ini semakin baik, hal ini berarti bahwa modal sendiri dapat lebih cepat berputar meraih keuntungan.

Tabel 5.3 Return On Asset

Tahun Laba kotor Total asset ROA Dalam persen (%) 2012 942.523.737 175.067.310.000 0,0053 0,53%

2013 -11.7659.962365 199.671.582.000 -0,5892 -58,92 %

Gambar 5.3 Return On Asset

-7.00%

Rasio ini menujukkan perbandingan pendapatan / kerugian, berdasarkan rumus diatas diperoleh hasil sebagai berikut :

ROA tahun 2012 mengalami keuntungan yang besarnya 0,53 %. Hal ini disebabkan oleh kenaikan laba bersih, dan modal yang mencukupi.

ROA tahun 2013 mengalami kerugian yang besarnya -58,91 %. Dinilai sangatburuk. Hal ini disebabkan oleh harga pokok penjualan yang terlalu tinggi dan penurunan laba bersih.

4. Return on equity ( ROE ) adalah rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan.

Return on equity 2012 =

x 100

= -31,64 %

Return on equity 2013 =

x 100

= -46,91 %

Tabel 5.4 Return On Equity

Tahun Laba bersih Modal sendiri ROE Dalam persen (%) 2012 -25.733.626.001 81.311.310.000 -0,3164 -31,64 % 2013 -45.757.087.010 97.536.879.000 -0,4691 -46,91 %

Gambar 5.4 Return On Equity

Rasio ini menujukkan perbandingan pendapatan / kerugian, berdasarkan rumus diatas diperoleh hasil sebagai berikut :

ROE tahun 2012 mengalami kerugian yang besarnya -31,64 %. Hal ini disebabkan oleh harga pokok penjualan yang terlalu tinggi, penurunan laba bersih, dan modal yang kurang.

ROE tahun 2013 yang besarnya -46,91 %. Dinilai sangat buruk karena mengalami kenaikan kerugian sebesar -15,27 %. Hal ini disebabkan Hal ini disebabkan oleh harga pokok penjualan yang terlalu tinggi dan penurunan laba bersih.

-50.00%

-45.00%

-40.00%

-35.00%

-30.00%

-25.00%

-20.00%

-15.00%

-10.00%

-5.00%

0.00%

2012 2013

Return On Equity

Return On Equity

B. Analisis Keuangan PT. Pabrik Gula Takalar Ditinjau Dari Aspek Solvabilitas

Untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan dalam pemenuhan kewajiban finansial, jika seandainya perusahaan tersebut pada suatu saat dilikwiditaskan, maka dapat dihitung dengan cara menggunakan berbagai macam ratio.

Semakin tinggi ratio ini maka pendanaan dengan utang semakin banyak, maka semakin sulit bagi perusahaan untuk memperoleh pinjaman karena dikhawatirkan perusahaan tidak mampu untuk menutupi utangnya dengan modal yang dimilikinya. Sebaliknya semakin rendah ratio ini maka semakin kecil pula perusahaan dibiayai oleh utang. Standar pengukuran untuk menilai baik tidaknya ratio perusahaan digunakan ratio rata-rata industri.

Ratio ratio yang dimaksud khusus untuk menghitung solvabilitas suatu perusahaan yakni sebagai berikut :

1. Total debt to total assetadalahrasio ini menunjukkan sejauh aset yang dimiliki perusahaan dibiayai oleh utang.

Total debt to total assets 2012 =

x 100

= 53,55 %

Total debt to total assets 2013 =

x 100

= 51,15 %

Tabel 5.5 Total Debt To Total Assets

Tahun Total hutang Total aktiva Total debt to total asset

Dalam persen (%) 2012 93.756.080.000 175.067.310.000 0,5355 53,55 % 2013 199.671.582.000 0,5115 51,15%

Gambar 5.5 Total Debt To Total Assets

Dari analisis diatas dapat dilihat bahwa Total Debt To Total Asset perusahaan lebih besar dibiayai oleh asset sendiri dibandingkan oleh hutang dan selalu meningkat dari tahun ketahunnya. Hal ini dapat menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dala keadaan solvabelkarena jumlah asset yang dimiliki perusahaan dapat menutupi semua utang-utangnya apabila suatu waktu perusahaan diliquidir / dibubarkan.

Total Debt To Total Assets

Total Debt To Total Assets

2. Total debt to total equity adalah rasio ini digunakan untuk menilai utang dengan equitas perusahaan, atau dengan kata lain setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang.

Total debt to total equity2012 =

x 100

= 115,30 %

Total debt to total equity2013 =

x 100

= 104,71 %

Tabel 5.6 Total Debt To Total Equity

Tahun Total hutang Jumlah modal Total debt to total equity

Dalam persen (%) 2012 93.756.080.000 81.311.230.000 1,1530 115,30%

2013 97.536.879.000 1,0471 104,71%

Gambar 5.6 Total Debt To Total Equity

Dari analisis diatas dapat dilihat bahwa Total Debt To Total Equity, perusahaan memiliki modal yang lebih kecil yang dijadikan jaminan hutang, hal ini dapat menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dalam keadaan insolvabel, karena jumlah equity/modal yang dimiliki perusahaan tidak dapat menutupi semua utang-utangnya apabila suatu waktu perusahaan diliquidir/dibubarkan.

98.00%

100.00%

102.00%

104.00%

106.00%

108.00%

110.00%

112.00%

114.00%

116.00%

118.00%

2012 2013

Total Debt To Total Equity

Total Debt To Total Equity

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dibandingkan dengan penjualan dilihat rasiogross profit margin, pada tahun 2012 dinilai baik karena perusahaan sudah mendapatkan keuntungan sebesar 1,21 %. Penjualan tahun 2013 sebesar -5,48 % dinilai sangat buruk karena perusahaan mengalami kerugian, perusahaan mengalami penurunan pendapatan sebesar -4,27 %.

2. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih / laba bersih dibandingkan dengan penjualan dilihat rasio net profit margin, pada tahun 2012 dinilai sangat buruk karena mengalami kerugian sebesar -33,24 %, pada tahun 2013 kembali mengalami kerugian sebesar -21,31 % dinilai kurang baik meskipun perusahaan masih mengalami kerugian, tapi perusahaan mengalami penurunan kerugian sebesar -11,93 %

3. Kemampuan perusahaan dalam mengukur kemampuan dari asset (aktiva) untuk menghasilkan keuntungan. Semakin besar rasio ini semakin baik, hal ini berarti bahwa modal sendiri dapat lebih cepat berputar meraih keuntungan. ROA tahun 2012 mengalami keuntungan yang besarnya 0,53%. ROA tahun 2013 mengalami

kerugian yang besarnya -58,92 %. Dinilai sangat buruk karena mengalami penurunan pendapatan sebesar -58,39

4. Kemampuan perusahaan dalam mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen .ROE tahun 2012 dinilai buruk karena mengalami kerugian yang besarnya -31,64 %.

ROE tahun 2013 yang besarnya -46,91 %. Dinilai sangat buruk karena mengalami kenaikan kerugian sebesar -15,27 %.

5. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang dengan menggunakan aktiva dilihat dari rasio Total Debt To Total Asset,pada tahun 2012 dan 2013perusahaan lebih besar dibiayai oleh asset sendiri dibandingkan oleh hutang dan selalu meningkat dari tahun ketahunnya. Hal ini dapat menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dalam keadaan solvabel karena jumlah asset yang dimiliki perusahaan dapat menutupi semua utang-utangnya apabila suatu waktu perusahaan diliquidir / dibubarkan.

6. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang dengan menggunakan modal dilihat dari rasio Total Debt To Total Equity,pada tahun 2012 dan 2013perusahaan memiliki modal yang lebih kecil yang dijadikan jaminan hutang, hal ini dapat menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dalam keadaan

insolvabel, karena jumlah equity / modal yang dimiliki perusahaan tidak dapat menutupi semua utang-utangnya apabila suatu waktu perusahaan diliquidir / dibubarkan.

B. Saran

1. Untuk PT. Pabrik Gula Takalar dapat meningkatkan efisiensi usahanya, dengan cara mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang berpengaruh terhadap perusahaan, misalnya dengan cara memperbaiki sarana dan fasilitas, atau memperbaiki peralatan-peralatan yang sudah rusak, sehingga dapat menekan biaya tanpa perlu membeli yang baru lagi. Selain itu perusahaanjuga mulai mempertimbangkan untuk meninjau kembali biaya non usahanya.

2. Agar posisi keuangan perusahaan dapat meningkat dan keuntungan perusahaan dapat tercapai, perusahaan perlu menambah modal sendiri yang dapat digunakan untuk kegiatan perusahaan.

3. Untuk mengantisipasi penurunan keuntungan perusahaan harus meningkatkan volume penjualan.

4. Namun rendahnya perputaran totalaktiva memberikan kesimpulan bahwa investasi pada aktiva terlalu tinggi atau aktiva kurang produktif, maka perusahaan harus mengurangi penanaman dana pada aktiva secara berlebihan sehingga perusahaan bisa terhindar dari pendanaan utang yang terlalu tinggi dan akan membayar beban bunga yang lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Bambang, Analisa Kinerja Keuangan (Jakarta : Tpwt, 2002 )

Djarwanto, Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan, ( Yogyakarta : Edisi Pertama, 2001)

Husnan, Suad, Pembelanjaan Perusahaan : Dasar-Dasar Manajemen Keuangan ( Yogyakarta Liberty, 2002 )

Ilyas, Baharuddin, Arif Tiro, Metodologi Penelitian Untuk Ilmu Sosial Dan Ekonomi, ( Makassar : Catatan Pertama, Andira Publisher, 2002 ) Martono, dan D. Agus Harjito, Manajemen Keuangan, ( Yogyakarta : Edisi

Pertama Catatan Ketiga, Ekonesia, 2001)

Rahardjo, Budi, Akuntansi Dan Keuangan, ( Yogyakarta : Andi Offset, 2001 ) Riyanto, bambang. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan ( Yogyakarta :

Edisi Keempat, cet. Vii, 2001)

Riyanto, Bambang , Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, ( Yogyakarta : Yayasan Penerbit Universitas Gajah Mada Edisi Kedua, 2004)

Sawir, Agnes, Analisis Kinerja Keuangan Dan Perencanaan Keuangan Perusahaan (Jakarta : PT. Gramedia pustaka utama, 2005)

Sutrisno, Manajemen Keuangan : Teori Konsep Dan Aplikasi, ( Yogyakarta :Edisi Pertama, Catatan Ketiga, Ekonesia, 2003)

PT. PABRIK GULA TAKALAR Tbk

LAPORAN KOMPILASI BIAYA PENDAPATAN GULA TAHUN 2012-2013 (Dalam rupiah) 2. Harga Pokok Penjualan

2.1 Persediaan Awal 36.721.392.100 75.575.358.527 2.2 Harga Pokok Produksi

Pimpinan & tata usaha 8.822.599.965 15.753.487.020

Tanaman 39.768.013.305 49.808.884.010

Tebang & angkut tebu 22.637.048.210 33.497.389.752 Pabrik & pengolahan 37.896.096.416 45.856.665.030 Penyusutan aktiva

Jumlah HPProduksi 115.319.611.385 155.097.313.887 2.3 Persediaan Akhir 75.575.358.527 4.232.559.864 Harga Pokok Penjualan

(2)

76.465.646.958 226.440.112.550 Laba Kotor 942.523.737 (11.765.962.365) 3. Biaya Administrasi &

Umum

3.1 Biaya kantor Direksi 12.408.032.810 15.296.006.025 3.2 Penyusutan Akt. Ktr.

Dir

133.844.680 169.955.035 3.3 Biaya Bunga 14.134.272.248 18.525.164.065 Jumlah Biaya (3) 26.676.149.738 33.991.125.125

4. Laba Rugi Usaha Gula (25.733.626.001) (45.757.087.010.)

PT. PABRIK GULA TAKALAR Tbk NERACA

TAHUN 2012-2013 (Dalam rupiah)

Keterangan 2012 2013

PASSIVA Hutang Lancar

Hutang dagang 23.427.745.000 24.535.016.000

Hutang pajak 1.846.641.000 6.661.072.000

Persekot dari

Hutang jangka panjang 67.684.287.000 69.808.101.000 Jumlah Tidak Lancar

Modal 51.333.337.000 51.333.337.000

Tambahan modal 18.031.244.000 20.234.137.000

Saldo laba tidak dibagikan

11.946.649.000 25.969.405.000

Jumlah 81.311.230.000 97.536.879.000

Jumlah hutang dan modal

175.067.310.000 199.671582.000

PT. PABRIK GULA TAKALAR Tbk NERACA

TAHUN 2012-2013 (Dalam rupiah)

Keterangan 2012 2013

AKTIVA

Aktiva awal tahun 129.974.350.000 175.067.310.000 Aktiva Lancar

Kas di Bank 8.363.916.000 30.764.316.550

Investasi jangka panjang 9.672.653.100 16.610.000.000

Piutang usaha 10.963.315.000 11.625.097.000

Persediaan 3.089.922.000 2.977.711.000

Perlengkapan 845.548.000 864.094.000

Jumlah 32.935.354.100 62.841.218.550

Aktiva Tetap

Tanah 6.261.880.900 11.929.687.000

Kantor dan bangunan 168.273.237.000 168.273.000

Akumulasi penyusutan bangunan

(50.481.971.100) (58.895.632.950)

Mesin & alat 17.353.512.000 17.353.512.000

Akumulasi penyusutan mesin

(3.470.702.400) (5.206.053.600)

Kendaraan 8.114.205.000 8.114.205.000

Akumulasi penyusutan kendaraan

(4.057.102.500) (4.868.523.000)

Spare part mesin 138.897.000 129.932.000

Jumlah 142.131.955.900 136.830.363.450

TOTAL AKTIVA 175.067.310.000 199.671.582.000

RIWAYAT HIDUP

Subhan Arrezqy. Dilahirkan di Palu pada tanggal 15 Desember 1992, dari pasangan Ayahanda Sukri DG Nuhung., SE, dan Ibunda Muliati.M., SP.d. Penulis masuk TK PEPABRI Pannyangkalang pada tahun 1996 dan tamat tahun 1998, pada tahun yang sama masuk SDN Pannyangkalang dan tamat pada tahun 2004, pada tahun yang sama masuk SMP Negeri 1 Bajeng dan tamat pada tahun 2007, pada tahun yang sama masuk MA Padang Lampe dan tamat pada tahun 2010, dan pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan pada program Strata 1 (S1) Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhamamadiyah Makassar dan selesai pada tahun 2014.