KAJIAN PUSATAKA
B. Kualitas Mengajar Guru
1. Pengertian kualitas mengajar guru
Dalam Standar Nasional PP. RI. No. 19 Tahun 2005, Pasal 1 ayat 1, 2 dan 3. Mengenai penjaminan mutu dan tujuannya yang berbunyi:
“Setiap satuan pendidikan pada jalur formal maupun non formal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi dan melampaui standar nasional yang dilakukan secara bertahap, sistematis dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1983:179), kualitas adalah ukuran baik buruk, mutu, taraf, kadar atau derajat dari kecerdasan, kepandaian dan sebagainya. Menurut Nana Sudjana (1989:87), pengertian secara umum dapat diartikan suatu gambaran yang menjelaskan mengenai baik buruk hasil yang dicapai para siswa dalam proses pendidikan yang dilaksanakan.
13
Secara umum, kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat.
Menurut Mandaru dalam Ungin (2013:101) Kualitas seorang guru ditandai dengan tingkat kecerdasan, ketangkasan, dedikasi, dan loyalitas yang tinggi serta ikhlas dalam memajukan pendidikan mencerdaskan anak didik. Kualitas tenaga pengajar guru adalah bagian penting dalam proses belajar mengajar yang merupakan tujuan dari suatu organisasi pendidikan. Kualitas seorang guru terhadap mutu pendidikan yaitu kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru yang diberikan kepada anak didiknya yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas kelulusan, baik dalam kualitas pribadi, moral, pengetahuan, maupun kompetensi kerja. Guru harus berkualitas menurut standar tertentu. Bukti kualitas menurut standar tertentu yang menjamin seseorang dapat dikatakan sebagai guru profesional adalah selembar sertifikasi. Pemerolehan sertifikasi sebagai guru profesional harus melalui dan lulus uji kompetensi guru.
Kualitas tenaga pengajar guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Mengajar adalah suatu kegiatan agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat terjadi.
Mengajar merupakan aktivitas pendidik/guru yang mengakibatkan
anak didik untuk belajar, meliputi: memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan, dan dorongansehingga terjadi proses belajar.
Menurut Oemar Hamalik (2005:48), mengajar merupakan usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.
Sedangkan menurut Tyson dan Caroll yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2000:182) mengungkapkan bahwa
Mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbale balik antara siswa dengan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.
Dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah sebuah aktivitas dimana guru dan peserta didik memainkan peranan terdapat interaksi edukatif sehingga tercipta kondisi belajar yang baik dan dibantu dengan sistem lingkungan yang mendukung.
Pengertian guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua 1991, yang dikutip oleh Muhibbin Syah adalah “orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar”.Menurut Balnadi Sutadipura yang dikutip oleh Syafruddin Nurdin mengungkapakan bahwa guru adalah orang yang layak digugu dan ditiru.
Wina Sanjaya (2006:50) mengemukakan bahwa:
Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin bisa diaplikasikan.
15
Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.
14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan:
guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama memndidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melati, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Guru merupakan faktor yang sangat penting dalam pendidikan formal pada umumnya, karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan. Maka setiap guru harus memiliki perilaku, pengetahuan dan wawasan yang cukup dan selalu mengikuti perkembangan kemajuan teknologi untuk mengembangkan siswa dengan baik.Kemudian seorang guru juga harus berlaku adil terhadap semua peserta didiknya. Hal ini perna diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. An-Nahl (16): 90)
Dari berbagai pandangan di atas, penulis berpendapat bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah dan tidak gampang. Mengingat,
sesungguhnya guru itu adalah orang memiliki tingkat kedewasaan (maturity) dari segi umur dan pengalaman serta kaya akan pengetahuan, yang berusaha untuk mengabdikan diri mereka dengan sepenuh hati untuk menjadi tenaga kependidikan di lembaga sekolah (formal) pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) dan pendidikan menengah (SMA/MA). Lebih spesifik lagi, guru bertugas membimbing, mendidik, mengajar, serta mengarahkan peserta didiknya menuju kedewasaan (maturity) pada perkembangan jasmani dan rohaninya melalui nilai-nilai ilmu pengetahuan (knowledge), agar mampu berdiri sendiri dan menjadi pribadi yang mampu memenuhi tugasnya secara mandiri, baik secara individu maupun sosial.
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moril yang cukup berat.Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Apabila guru berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik maka akan tampak perubahan yang berarti pada diri siswa, seperti sikap positif dalam belajarnya dan prestasi belajar akan meningkat. Dan sebaliknya apabila dalam proses pendidikan tidak terjadi perubahan tingkah laku/pelaku peserta didik, gagallah pendidikan itu. Jadi, yang terpenting dalam pendidikan adalah bagaimana terjadinya perubahan perilaku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tahu sedikit menjadi tahu banyak.
17
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang defenisi kualitas mengajar yaitu keadaan atau ukuran baik buruk dari hasil kegiatan orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan tingkat keunggulan yang tinggi seperti memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani, dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan pendidikan nasional.