• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.3 Kualitas Pelayanan

2.1.3.3 Pengertian Kualitas Pelayanan

Kualitas Layanan (service quality) merupakan suatu elemen yang penting

dalam sebuah bisnis, Kualitas pelayanan yang baik akan meningkatkan nilai dari

produk atau jasa yang ditawarkan. Dalam pemasaran baik buruknya suatu layanan

akan berpengaruh terhadap kualitas produk atau jasa yang dihasilkan dan

dipersepsikan pelanggan. Sebuah bisnis dengan kualitas layanan yang tinggi maka

akan memenuhi kebutuhan pelanggan. Peningkatan kualitas layanan juga dapat

meningkatkan daya saing ekonomi. Kualitas layanan mendorong pelanggan untuk

komitmen kepada produk dan layanan suatu perusahaan sehingga berdampak

kepada peningkatan market share suatu produk. Kualitas layanan sangat krusial

dalam mempertahankan pelanggan dalam waktu yang lama. Perusahaan yang

memiliki layanan yang superior akan dapat memaksimalkan performa keuangan

perusahaan.

Dalam upaya memenuhi kepuasan pelanggan perusahaan harus sebisa

mungkin menciptakan keunggulan kualitas pelayanan (Service exellence).

Kepuasan pelanggan dapat dicapai dengan memahami dan meningkatkan proses

operasional, mengidentifikasi masalah-masalah dengan cepat dan sistematis,

membangun pengukuran kinerja layanan yang akurat dan dapat diandalkan serta

mengukur tingkat kepuasan pelanggan dan hasil kinerja lainnya.

Pelayanan adalah semua tindakan yang dilakukan oleh salah satu pihak yang

dapat diberikan kepada pihak lain yang tidak berwujud dan tidak menghasilkan

kepemilikan apapun. Kotler dan Keller (2014 dalam Tjiptono 2016:75).

Kualitas pelayanan (service quality) dapat diketahui dengan cara

terima/peroleh dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan/inginkan

terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan. Hubungan antara produsen

dan konsumen menjangkau jauh melebihi dari waktu pembelian ke pelayanan

purna jual, kekal abadi melampaui masa kepemilikan produk. Perusahaan

menganggap konsumen sebagai raja yang harus dilayani dengan baik, mengingat

dari konsumen tersebut akan memberikan keuntungan kepada perusahaan agar

dapat terus hidup.

Kualitas pelayanan jasa adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan

pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan

pelanggan. Tjiptono, (2016:77).

Kualitas pelayanan merupakan konsep yang terdiri dari lima dimensi, yaitu

tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empaty. Lima dimensi ini

sangat berperan dalam membentuk tingkat kepuasan pelanggan. Tjiptono,

(2016:77).

1. Dimensi tampilan fisik (tangible) yang diberikan perusahaan kepada

pelanggan seperti fasilitas fisik, perlengkapan, keramahan pegawai akan

mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. Semakin konsumen merasakan

nilai tangible yang diberikan perusahaan semakin meningkatkan kepuasan

pelanggan tersebut

2. Dimensi kehandalan (reliability) dari pelayanan yang diberikan oleh

perusahaan dalam bentuk kecepatan, keakuratan dan memuaskan akan

berdampak pata tingginya tingkat kepuasan mereka terhadap produk

3. Dimensi daya tanggap (responsiveness) para karyawan perusahaan dalam

melayani pelanggan. Ketika pelayanan yang baik yang diberikan oleh para

karyawan akan terbentuk hubungan kekeluargaan. Hal ini akan berdampak

pada kepuasan pelanggan terhadap perusahaan.

4. Dimensi jaminan (assurance) mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan

dan sifat dapat dipercaya karyawan terhadap konsumen. Nilai yang terhantar

akan memberikan kepuasan pelanggan

5. Dimensi empati (empathy) mencakup hubungan komunikasi, perhatian dan

pemahaman kebutuhan konsumen. Jika konsumen merasa bahwa para

karyawan perusahaan dapat memberikan empati kepada konsumen maka

mereka tidak lagi merasa ragu untuk tetap mengkonsumsi jasa yang diberikan.

Hal ini akan membentuk kepuasan pelanggan.

2.1.4 Harga

Penting bagi seorang pengusaha untuk memperhatikan harga, karena dalam

persaingan usaha, harga yang ditawarkan oleh pesaing bisa lebih rendah dengan

kualitas yang sama atau bahkan dengan kualitas yang lebih baik. Harga

merupakan sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari

memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh

pembeli dan penjual melalui tawar-menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk

satu harga yang sama terhadap semua pembeli. Harga adalah salah satu faktor

yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam membeli produk disamping kualitas

produk, merek dan sebagainya, oleh sebab itu peritel hendaknya menetapkan

pendek dan jangka panjang. Sedangkan harga sangat menentukan atau

mempengaruhi permintaan pasar.

Harga adalah nilai yang disebutkan dalam mata uang (dolar=$) atau

modium moneter lainya sebagai alat tukar. Etzel (2008 dalam Sunyoto,

2014:130).

Harga merupakan suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau

barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi seorang

atau kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu. Oentoro, (2012 dalam

Sudaryono 2014:361).

Harga merupakan sejumlah uang yang dibebankan pada suatu produk

tertentu. Perusahaan menetapkan harga pada berbagai cara. Pada perusahaan kecil,

harga sering kali ditetapkan oleh manajemen puncak.

“Pada perusahaan-perusahaan besar penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer divisi atau manajer lini produk. Bahkan dalam perusahaan ini, manajemen pusat menyusun tujuan dan kebijakan dalam penetepan harga umum dan sering kali menyetujui harga yang diusulkan manajemen tingkat bawah” Kotler (2008 dalam Suntoyo, 2014:131).

Persaingan usaha yang semakin ketat sekarang ini dan semakin banyaknya

usaha usaha baru yang bergerak di bidang yang sama, menuntut perusahaan dapat

menentukan harga terhadap produk atau jasa yang mereka jual dengan tepat.

Persaingan harga sangat mempengaruhi bertahan atau tidaknya suatu perusahaan

menghadapi para pesaingnya. Harga merupakan sejumlah uang yang ditagihkan

atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan

untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau

jasa.

“Harga merupakan sesuatu yang diserahkan dalam pertukaran untuk mendapatkan suatu barang/jasa. Harga merupakan satuan moneter atau

ukuran lainnya yang ditukar agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa”. Tjiptono (1997 dalam Balia & Loindong, 2014).

Dalam memasarkan suatu barang atau jasa, setiap perusahaan harus

menetapkan harganya secara tepat. Harga merupakan satu-satunya unsur bauran

pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan,

sedangkan ketiga unsur lainnya (produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan

timbulnya biaya (pengeluaran). Di samping itu harga merupakan unsur bauran

pemasaran yang bersifat fleksibel, artinya dapat diubah dengan cepat sesuai

dengan kondisi ekonomi dan strategi dalam penjualan.

Harga merupakan nilai uang yang harus dibayarkan oleh pelanggan kepada

penjual atas barang atau jasa yang dibelinya. Dengan kata lain, harga adalah nilai

suatu barang yang ditentukan oleh penjual. Harga juga dapat diartikan sejumlah

uang yang dibebankan kepada konsumen untuk mendapatkan manfaat dari suatu

produk (barang/ jasa) yang dibeli dari penjual atau produsen. Penggunaan istilah

“harga” umumnya dipakai dalam kegiatan jual-beli suatu produk, baik itu barang maupun jasa. Harga jual ditentukan oleh penjual dan mengambil keuntungan dari

harga tersebut, sedangkan konsumen mendapatkan kebutuhannya dengan

membayar produk tersebut dengan harga yang ditentukan.

Kotler (1992 dalam Sunyoto 2014:131). Menyatakan bahwa untuk

menetapkan harga pada sebuah produk atau jasa perusahaan biasanya mengikuti

enam prosedur diantaranya :

1. Perusahaan dengan hati hati menyusun tujuan-tujuan pemasarannya, misalnya

mempertahankkan hidup, meningkatkan laba saat itu, ingin memenagkan

2. Perusahaan menentukan kurva permintaan yang memperlihatkan kemungkinan

jumlah produk yang akan terjual per periode, pada tingkat-tingkat alternatif.

Permintaan yang semakin tidak elastic, semakin tinggi pula harga yang bisa

ditetapkan perusahaan.

3. Perusahaan memperkirakan bagaimana biaya akan bervariasi pada tingkat

produksi yang berbeda beda.

4. Perusahaan mengamati harga-harga pesaing sebagai dasar untuk menetapkan

harga mereka sendiri.

5. Perusahaan memilih salah satu metode penetapan harga terdiri dari penetapan

harga biaya plus, analisis pulang pokok dan penetapan laba sasaran, penetapan

harga nilai yang diperoleh, penetapan harga yang sesuai dengan laju

perkembangan dan penetapan harga dalam sampul tertutup.

6. Perusahaan memilih harga final, menyatakan dalam psikologis yang paling

efektif dan mengeceknya untuk meyakinkan bahwa harga tersebut sesuai

dengan kebijakan penetapan harga perusahaan serta sesuai juga dengan

penyalur, grosir, wiraniaga perusahaan, pesaing, pemasok dan pemerintah.

Faktor harga menjadi sangat penting bagi pelanggan karena akan menjadi

pedoman untuk mengukur kesesuaian antara manfaat produk yang diterima

dengan pengorbanan yang telah diberikan baik berupa uang maupun pengorbanan

tertentu. Pelanggan juga akan menjadikan harga sebagai salah satu standar tingkat

kepuasan yang dirasakan.

Harga merupakan sejumlah uang yang dibebankan atas suatu barang atau

karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut. Kotler dan

Armstrong (2008 dalam Balia & Loindong, 2014).

Menurut Kotler dan Armstrong (2012 dalam Sularso & Suroso, 2015) ada

empat indikator yang mencirikan harga yaitu:

1. Keterjangkauan harga. Yaitu besaran harga yang ditetapkan produsen kepada

konsumen sesuai dengan kemampuan konsumen untuk membeli produk atau

jasa yang ditawarkan.

2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk. Yaitu aspek penetapan harga yang

dilakukan oleh penjual yang sesuai dengan kualitas prdouk yang dapat

diperoleh pelanggan.

3. Daya saing harga. Penawaran harga yang diberikan oleh penjual berbeda dan

bersaing dengan yang diberikan oleh produsen lain, pada satu jenis produk

yang sama.

4. Kesesuaian harga dengan manfaat. Yaitu aspek penetapan harga yang

dilakukan oleh penjual yang sesuai dengan manfaat yang dapat diperoleh

konsumen dari produk yang dibeli.

2.1.5 Fasilitas

Fasilitas merupakan bagian dari variabel pemasaran jasa yang memiliki

peranan cukup penting, karena jasa yang disampaikan kepada pelanggan tidak

jarang sangat memerlukan fasilitas pendukung dalam penyampaiannya. Fasilitas

merupakan sesuatu yang penting dalam usaha jasa, oleh karena itu fasilitas yang

ada yaitu kondisi fasilitas, desain interior dan eksterior serta kebersihan harus

konsumen secara langsung. Persepsi yang diperoleh dari interaksi pelanggan

dengan fasilitas jasa berpengaruh terhadap kualitas jasa tersebut dimata

pelanggan.

Fasilitas dapat didefinisikan sebagai sarana dan prasarana yang disertakan

perusahaan untuk diberikan kepada pelanggan. Biasanya fasilitas disertakan pada

produk yang ditawarkan oleh perusahaan kepada pelanggan mereka. Kasali (2002

dalam Oetama & Sari, 2017).

“Fasilitas dapat pula berupa segala sesuatu berwujud yang dapat memudahkan pelanggan memperoleh kepuasan. Karena suatu bentuk jasa tidak dapat dilihat, tidak bisa dicium dan tidak bisa diraba maka aspek wujud menjadi penting sebagai ukuran dari pelayanaan”. Tjiptono (2008 dalam Romatua & Nurlina, 2015).

Fasilitas yang disediakan perusahaan jasa haruslah berada pada fungsi

yang maksimal, dimana dalam hal ini adalah untuk mrmrnuhi kepuasan

pelanggan. Segala fasilitas yang disediakan diharapkan mampu memenuhi semua

kebutuhan pelanggan yang akan pengguna jasa tersebut.

Fasilitas merupakan sarana prasarana yang penting dalam usaha

meningkatkan kepuasan seperti member kemudahan, memenuhi kebutuhan dan

kenyamanan bagi pengguna jasa. Apabila fasilitas yang disediakan sesuai dengan

kebutuhan, maka nasabah akan merasa puas. Perusahaan yang memberikan

suasana menyenangkan dengan desain fasilitas yang menarik akan mempengaruhi

kepuasan pelanggan pengguna jasa tersebut.

Fasilitas merupakan penampilan, kemampuan sarana prasarana, dan keadaan

lingkungan sekitarnya dalam menunjukkan eksistensinya kepada eksternal yang

meliputi fasilitas fisik (gedung), perlengkapan dan peralatan Lupioadi, (2008 et al.

“Fasilitas adalah penyediaan perlengkapan-perlengkapan fisik untuk memberikan kemudahan kepada para tamu dalam melaksanakan aktivitas-aktivitasnya atau kegiatan-kegiatannya, sehingga kebutuhan-kebutuhan tamu dapat terpenuhi”. Sulastiyono, (2015 dalam Sirait, 2017).

Pelanggan yang mencari kenyamanan selama proses menunggu pelaksanaan

layanan jasa akan lebih merasa nyaman apabila fasilitas yang digunakan oleh

pelanggan dibuat senyaman mungkin. Selain itu, perusahaan yang memberikan

suasana menyenangkan dengan desain fasilitas yang menarik akan mempengaruhi

konsumen dalam mendapatkan kepuasan.

Fasilitas adalah penyediaan perlengkapan fisik yang memberikan

kemudahan kepada konsumen untuk melakukan aktivitasnya sehingga kebutuhan

konsumen dapat terpenuhi. Sumayang (2003 dalam Sirait 2017).

Sumayang (2003 dalam Sirait, 2017) menjelaskan beberapa hal yang perlu

diperhatikan dalam penyediaan fasilitas antara lain:

1. Kelengkapan, kebersihan, dan kerapian fasilitas yang ditawarkan.

Keadaan fasilitas perusahaan yang dilengkapi oleh atribut yang menyertainya

dan didukung dengan kebersihan dan kerapian saat konsumen menggunakan

fasilitas tersebut.

2. Kondisi dan fungsi fasilitas yang akan ditawarkan.

Fasilitas yang ditawarkan dipastikan masih berfungsi dengan baik dan tidak

mengalami kerusakan.

3. Kemudahan menggunakan fasilitas yang ditawarkan.

Fasilitas yang ditawarkan kepada konsumen adalah fasilitas yang sudah familier bagi konsumen sehingga konsumen dapat menggunakannya dengan mudah.

Menurut Tjiptono (2016:94) ada beberapa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan desain fasilitas meliputi :

1. Sifat dan tujuan organisasi jasa.

Sifat suatu jasa seringkali menentukan berbagai ketentuan desainnya. Desain

fasilitas yang baik dapat memberikan beberapa manfaat, di antaranya

perusahaan mudah dikenali dan desain eksterior bisa pula menjadi cirri khas

atau petunjuk mengenai karakter jasa di dalamnya.

2. Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang/tempat.

Setiap perusahaan jasa yang memerlukan lokasi fisik untuk mendirikan

fasilitas jasanya perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti

kemampuan finansial, ketersediaan tanah, peraturan pemerintah berkenaan

dengan kepemilikan tanah dan pembebasan tanah, dan lain lain. Dewasa ini

ketersediaan tanah (apalagi di lokasi-lokasi strategis) dan kalaupun ada,

harganya sangat mahal. Oleh sebab itu, setiap perusahaan perlu memanfaatkan

tanah dan ruang yang tersedia seefisien mungkin. Kecenderungan yang ada

adalah perusahaan membuat bangunan bertingkat (ekspansi vertikal).

3. Fleksibilitas.

Fleksibilitas desain sangatlah dibutuhkan apabila volume permintaan sering

berfluktuasi dan juga spesifikasi cepat berkembang. Sehingga resiko keuangan

relative besar. Kedua kondisi ini membuat fasilitas jasa harus disesuaikan

secara mudah dan memperhitungkan pada kemungkinan perkembangan

dimasa mendatang.

Fasilitas jasa yang tertata secara rapi, menarik dan estetis akan dapat

meningkatkan sikap estetis pelanggan terhadap suatu jasa. Selain itu, sikap

karyawan terhadap pekerjaan dan motivasi kerjanya dapat meningkat. Aspek

aspek yang perlu ditata meliputi beberapa aspek, misalnya tinggi langit langit

bangunan, lokasi jendela dan pintu, betuk pintu yang beraneka ragam, dan

dekor interior.

5. Masyarakat dan lingkungan sekitar.

Mayarakat (terutama pemerhati masalah sosial dan lingkungan hidup) dan

lingkungan disekitar fasilitas jasa memainkan peranan penting dan

berpengaruh besar terhadap perusahaan. Apabila perusahaan tidak

mempertimbangkan faktor ini maka kelangsungan hidup perusahaan bisa

terancam.

6. Biaya konstruksi dan operasi.

Kedua jenis biaya ini dipengaruhi desain fasilitas. Biaya kontruksi dipengaruhi

oleh jumlah dan jenis bahan bangunan yang digunakan. Biaya operasi

dipengaruhi oleh kebutuhan ruanga, yang berkaitan dengan perubahan suhu.

Masih banyak penyedia jasa yang tidak menyadari bahwa tata letak fasilitas

jasa berpengaruh signifikan terhadap mood dan respon pelanggan. Sayangnya,

belum ada aturan baku dan universal mengenai merancang tata letak fasilitas.

Kendati demikian, perusahaan jasa perlu memahami respon pelanggan terhadap

berbagai aspek tata letak fasilitas. setidaknya ada enam faktor yang harus

dipertimbangkan dalam menentukan tata letak fasilitas. Mudie & Pirrie (2006 et

al. 2016:96).

Aspek aspek seperti proporsi, simetri, tekstur, dan warna perlu diintegrasikan

dan dirancang secara cermat untuk menstimulasi respon intelektual dan respon

emosional dari para pemakai atau orang yang melihatnya.

2. Perencanaan ruangan

Faktor ini menyangkut perancangan interior dan arsitektur, seperti penempatan

perabotan dan perlengkapan dalam ruangan, desain aliran sirkulasi, dan

lain-lain.

3. Perlengkapan/Perabotan

Perlengkapan/perabotan memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai sarana

pelindung barang-barang berharga berukuran kecil, sebagai barang pajangan,

sebagai tanda penyambutan bagi pelanggan, dan sesuatu yang menunjukan

status sebagai pemilik atau pengguna.

4. Tata Cahaya

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain tata cahaya adalah

cahaya di siang hari, warna, jenis dan sifat aktivitas yang dilakukan didalam

ruangan, persepsi penyedia jasa akan tugasnya, tingkat ketajaman

pengelihatan, dan suasana yang diinginkan (tenang, damai, gembira, segar dll).

5. Warna

Banyak orang yang meyakini bahwa warna memiliki bahasanya sendiri, di

mana warna dapat menstimulasi perasaan dan emosi secara spesifik.

6. Pesan-pesan yang disampaikan secara grafis

Aspek penting yang saling terkait dalam faktor ini adalah penampilan visual,

penempatan, pemilihan bentuk fisik, pemilihan warna dan pencahayaan, dan

maksud tertentu (misalnya, petunjuk arah/tempat, keterangan/informasi, dan

sebagainya).

Dokumen terkait