• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Perilaku Konsumen

2.5.1. Pengertian Kualitas Produk

Kualitas produk atau mutu produk sering diartikan sebagai komposisi

teknis dari suatu produk, Kotler (1997: 49) mutu adalah keseluruhan ciri serta sifat

dari produk atau layanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk

memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau kebutuhan tersirat. Ada hubungan

kuat antara mutu, layanan dengan kepuasan konsumen dan profitabilitas. Semakin

tinggi tingkat mutu menyebabkan semakin tingginya kepuasan konsumen, mutu

produk merupakan hal yang perlu mendapat perhatian utama dari perusahaan atau

produsen mengingat suatu produk berkaitan erat dengan masalah kepuasaan

mencapai posisi produk. Mutu menyatakan tingkat kemampuan fungsinya yang

diharapkan.

Berdasarkan kedua pengertian diatas, maka kualitas produk tidak hanya

ditentukan oleh spesifikasi yang tampak pada produk tersebut, melainkan

ditentukan oleh persepsi konsumen. Jadi kualitas produk tidak hanya berdasarkan

dari sudut pandang produsen saja, tetapi juga dari sudut pandang konsumen sebab

suatu produk dikatakan berkualitas menurut konsumen apabila memenuhi dan

memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen, seperti pengertian kualitas

produk menurut Keegan dan Moriaty Duncan ( 1993,p 352 ) yaitu :"From

producer's perspective, the degree to which finished prduct meet specifications, from customer's perspective, the degree to which product match needs and wants including price

Dimensi daripada kualitas produk diuraikan oleh Tjiptono (1997:25) yaitu

sebagai berikut:

1. Performance yaitu kualitas produk yang menggambarkan keadaan yang

sebenarnya atau pelayanan yang diberikan oleh suatu produk dengan Cara

benar.

2. Feature yaitu kemampuan atau keistimewaan yang dimiliki oleh suatu

produk.

3. Reliabiilty and durability yaitu kehandalan suatu produk dan tahan lama

produk tersebut sehingga tidak perlu terlalu sering melakukan perbaikan.

4. Estetika yaitu penampilan, corak, daya tarik yang menjadi aspek penting

5. Perceived yaitu kesan konsumen terhadap suatu produk terhadap kelebihan

– kelebihan yang dimilikinya menyangkut citra dan reputasi produk.

Harapan Konsumen diyakini mempunyai peranan yang besar dalam

menentukan kualitas produk dan kepuasan konsumennya. Pada dasarnya ada

hubungan yang erat antara penentuan kualitas dan kepuasan konsumen.

2.5.1.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk

Ada tiga faktor yang menentukan tingkatan kualitas produk menurut

Sofyan Assauri (1993:269), antara lain:

1. Fungsi Produk

Dalam menghasilkan produknya, perusahaan harus memperhatikan fungsi apa

yang akan dipenuhi oleh produk tersebut, karena fungsi ini akan

mempengaruhi kepuasan konsumen. Fungsi produk akan tercermin pada

spesifikasinya seperti: tahan lamanya, kegunaannya, beratnya, mudah atau

tidaknya perawatan dan kepercayaannya.

2. Wujud Luar

Wujud luar suatu produk juga mempengaruhi pandangan konsumen atas

kualitasnya. Walaupun produk yang dihasilkan dengan teknologi tinggi tetapi

bila wujud luamya kuno, maka konsumen cenderung beranggapan produk

tersebut kurang berkualitas. Wujud luar ini tidak hanya dilihat dari bentuknya

saja tetapi dari komposisi warna, pengemasan dan lainnya.

3. Biaya produk

Umumnya biaya dan harga suatu produk ikut menentukan kualitasnya. Jika

bahwa kualitas produk tersebut baik dan demikian juga sebaliknya. Perlu

disadari bahwa biaya produk tidak selamanya dapat digunakan untuk

menentukan kualitas produk karena biaya yang diperkirakan tidak selalu biaya

yang sebenarnya. Biaya atau harga suatu produk lebih tinggi dari nilai yang

sebenarnya karena ketidakefisienan atau tingginya keuntungan yang diambil

2.6.Brand Image (Citra Merek)

2.6.1. Pengertian Brand Image (Citra Merek)

Sebelum menjelaskan pengertian brand image, maka terlebih dahulu akan

dijelaskan arti brand (merek). Setiap produk yang dijual di pasar tentu memiliki

merek, di mana merek tersebut sebagai pembeda antara satu produk dengan

produk yang lain. “Merek menjadi salah satu faktor yang penting dalam strategi

pemasaran. Bagi sementara produsen, pemilihan merek merupakan hal yang

sangat penting, dan produsen menaruh perhatian besar terhadap merek” (Maulana,

1999:6).

Menurut Kotler (1997: 443), ”A brand is a name, term, sign, symbol, or

design, or a combination of them, intended to identify the goods or services of one Seller or group of sellers and to differentiate them from those of competitor.

Maksudnya, merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau

kombinasi dari semuanya itu yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang

dan jasa darin seseorang atau sekelompok penjual untuk membedakannya dari

produk/barang pesaing. Setiap produk yang dijual di pasar memiliki merek, di

mana merek tersebut sebagai pembeda antara satu produk dengan produk yang

merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan tampilan, manfaat,

dan jasa tertentu pada pelanggan. Merek-merek terbaik memberikan jaminan atas

kualitas.

Brand image itu sendiri dapat diartikan “The set of beliefs consumers hold

about a particular brand“Kotler et al. (1999: 770). Maksudnya, brand image

adalah sejumlah kepercayaan yang dipegang konsumen berkaitan dengan merek.

Pelanggan mungkin mengembangkan serangkaian kepercayaan merek mengenai

di mana posisi setiap merek menurut masing-masing atribut. Kepercayaan merek

membentuk citra merek atau brand image. Setiap pelanggan memiliki kesan

tertentu terhadap suatu merek. Kesan dapat timbul setelah calon pelanggan

melihat, mendengar, membaca atau merasakan sendiri merek produk, baik melalui

TV, radio, maupun media cetak. Brand image adalah persepsi pelanggan terhadap

suatu merek yang digambarkan melalui asosiasi merek yang ada dalam ingatan

pelanggan, sebagai mana yang dikatakan Keller (1993 : 3), “Brand image is

perceptions about brand as reflected by the brand association held in consumen memory.”

Menurut Maulana (1999: 5),”Merek menjadi salah satu yang penting

dalam strategi pemasaran. Itulah sebabnya, merek harus dipilih secara hati-hati,

karena merek yang tepat dapat menambah peluang sukses produk.” Merek

menjadi sangat penting saat ini, karena beberapa faktor sebagaimana yang

dijelaskan oleh Durianto et al. (2001: 2) berikut ini:

1. Emosi konsumen terkadang naik-turun. Merek mampu membuat janji emosi

2. Merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. Merek yang kuat

mampu diterima di seluruh dunia dan budaya, contoh Coca Cola, cDonalds

dapat diterima di mana saja dan kapan saja di seluruh dunia.

3. Merek mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan pelanggan. Semakin

kuat suatu merek, makin kuat pula interaksi dengan pelanggan dan makin

banyak brand association yang terbentuk dalam merek tersebut. Jika brand

association yang terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas yang kuat potensi

ini akan meningkatkan brand image.

4. Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku pelanggan. Merek yang

kuat akan sanggup merubah perilaku pelanggan.

5. Merek memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian oleh

pelanggan. Dengan adanya merek, pelanggan dapat dengan mudah

membedakan produk yang akan dibeli dengan produk lain sehubungan dengan

kualitas, kepuasan, kebanggaan, ataupun atribut lain yang melekat pada merek

tersebut.

Berdasarkan sejumlah peranan penting suatu merek, maka dapat

disimpulkan bahwa merek mempunyai peranan yang penting dan merupakan ‘aset

prestisius’ bagi perusahaan. Dalam kondisi pasar yang kompetitif, preferensi dan

loyalitas pelanggan adalah kunci kesuksesan. Terlebih lagi pada kondisi sekarang,

nilai suatu merek yang mapan sebanding dengan realitas makin sulitnya

menciptakan suatu merek. Pemasaran dewasa ini bukan hanya merupakan

Pada saat ini pelanggan tidak hanya melihat sesuatu produk dari kualitas

dan harga, tetapi juga melihat brand image (citra merek) yang melekat pada

produk yang dikonsumsi. Banyak perusahaan menyadari akan hal terserbut,

sehingga mereka berlomba-lomba menciptakan brand image melalui promosi

secara besar-besaran. Menurut Assael (1992: 153), “Image is total perception of

the obyect that is formed by processing information from various sources over time.” Maksudnya, image adalah keseluruhan persepsi atas obyek yang

diformulasi oleh pengolahan informasi dari berbagai sumber dalam waktu yang

lama. Setiap perusahaan berlomba-lomba menciptakan image positif atas produk,

layanan, nama perusahaan, dan merek, agar produk, layanan, nama perusahaan,

dan merek dikenal dan diterima baik oleh pelanggan. Hal ini berarti pelanggan

dapat memiliki image produk, image layanan, image nama perusahaan, dan image

merek atau brand image

Adapun instrumen indikatornya dari citra merek adalah sebagai berikut:

Setyaningsih dan Darmawan (2004)

1. Citra korporat (corporate image),

Konsumen mempunyai pengalaman yang baik atas penggunaan berbagai

merek produk yang dihasilkan oleh perusahaan’makakonsumen akan memiliki

citra positif terhadap perusahaan itu.sebuah organisasi dalam perusahaan harus

melakukan survei ulang publiknya selang beberapa waktu untuk mengetahui

apakah kegiatan pemasaran yang mereka lakukan telah memperbaiki atau

membentuk citra yang diiginkan.Kotler (2000) menurut Setyaningsih dan

kampanye biasanya terbatas,citra publik cenderung tetap,bila tidak ada

kemajuan,mungkin progam pemasaran organisasi harus diubah.

2. Citra pemakai (Image of the user)

Dapat dibentuk langsung dari pengalaman dan kontak dengan pengguna merek

tersebut.Manfaat adalah nilai pribadi konsumen yang diletakkan terhadap

atribut dari produk atau layanan yaitu apa yang konsumen pikir akan mereka

dapatkan dari layanan tersebut .Blackston (1993) menurut Setyaningsih dan

Darmawan (2004) berkata bahwa organisasi melaui pemasar tidak hanya

memikirkan tentang bagaimana mendekati konsumen dan cara agar konsumen

tertarik kepada merek mereka,tetapi bagaimana mendekatkan merek mereka

ke konsumen dan bagaimana merek mereka menunjukkan reaksi kepada

konsumen.

3. Citra Produk (Image of the product)

Menggambarkan image (gambaran) dari produk tersebut.Hal ini bisa berupa

kemasannya, bentuk atau modelnya, dsb.Hal ini sangat berpengaruh di mata

konsumen, karena citra dari produk tersebut bisa mendreskripsikan segala hal

baik yang negative atau positif.

2.7. Pengaruh Celebrity Endorser Terhadap Brand Image

Penggunaan endorser dalam iklan, baik yang menggunakan selebriti

maupun non-selebriti (dalam kasus ini menggunakan selebriti endorser), harus

mampu untuk menciptakan persepsi konsumen terhadap iklan ini. Keberhasilan

upaya membangun brand image sangat ditentukan oleh persepsi konsumen

seorang selebriti endorser secara positif oleh masyarakat, diharapkan positif pula

brand image yang terbentuk di benak konsumen.

Brand Image atau citra merek merupakan hasil dari pandangan atau

penilaian pengonsumsi terhadap suatu merek apakah itu baik atau buruk.

Pengonsumsi mungkin mengembangkan serangkaian kepercayaan mengenai

merek dimana posisi setiap merek menurut masing-masing atribut. Komponen

Brand Image ini dapat dilihat dari 3 hal ; Corporate Image, User Image dan

Product Image. Pratiwi dan Wiryawan,(2009).

Dalam mempengaruhi brand image suatu produk dapat dilihat dari

karateristik selebriti endorser. R. Ohanian (1991), seorang advertising researcher,

dalam jurnalnya yang bertajuk “The Impact of Celebrity Spokeperson Perceive

Image on Intention to Purchase” membagi 4 faktor penyebab mengapa responden

tertarik untuk membeli dan secara signifikan dapat mempengaruhi brand image

produk

Dokumen terkait