• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

1. Pengertian Kurikulum KTSP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing - masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang - Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing - masing Nomor 22 Tahun 2006

dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat: kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan.

SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai

dengan standar nasional yang telah disepakati. Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Berikut pendapat beberapa ahli mengenai definisi dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP):

a. Menurut Muhammad Joko Susilo (2006: 11)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah. KTSP ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten yang cerdas dalam mengembangkan identitas budaya dan bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar - dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar, mengembangkan integritas sosial serta membudayakan karakter

nasional. Juga untuk memudahkan guru dalam menyajikan pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip - prinsip belajar sepanjang hayat yang mengacu pada empat pilar UNESCO.

b. Kemudian Menurut Hamid Darmadi (2010: 233)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing - masing satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

c. Menurut Muhaimin, Sutiah Dan Sugeng Listyo Prabowo

(2008:32)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing - masing satuan pendidikan atau sekolah.

d. Menurut Masnur Muslich, (2010: 10)

Masnur muslich mengatakan bahwa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang

disusun dan dilaksanakan oleh masing - masing satuan pendidikan.

Berdasarkan pengertian KTSP di atas maka dapat disimpulkan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh masing - masing satuan pendidikan atau sekolah sebagai posisi yang paling dekat dengan pembelajaran sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing - masing sehingga akan terwujud sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi. Seperti harapan sebelumnya, KTSP dinilai sebagai kurikulum yang menyempurnakan kurikulum yang lahir sebelumnya. Dua hal yang menjadi fokus dalam KTSP sebagai hasil perenungan para pakar pendidikan yang tergabung dalam BSNP serta masukan dari masyarakat. Kedua hal tersebut adalah: pengurangan beban belajar kurang lebih 10%, penyederhanaan kerangka dasar dan struktur kurikulum. Penyempurnaan tersebut mencakup sinkronisasi kompetensi untuk setiap mata pelajaran antar jenjang pendidikan, beban belajar dan jumlah mata pelajaran, serta validasi empirik terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar.

2. Acuan Operasional KTSP

Acuan operasional penyusunan KTSP sedikitnya mencakup 12 poin, yakni peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia; peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat

perkembangan dan kemampuan peserta didik; keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; agama; dinamika perkembangan global; persatuan nasional dan nilai - nilai kebangsaan; kondisi sosial budaya masyarakat setempat; kesetaraan jender; dan karakteristik satuan pendidikan.

a. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.

Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.

b. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan

tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.

Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkatan perkembangannya.

c. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan daerah.

Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah.

d. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.

Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan daerah dan nasional.

e. Tuntutan dunia kerja.

Kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik dalam memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

f. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan

berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu

g. Agama.

Kurikulum harus dikembangkan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang berlaku di lingkungan sekolah.

h. Dinamika perkembangan global.

Melalui KTSP diharapkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain.

i. Persatuan nasional dan nilai - nilai kebangsaan.

Kurikulum harus mendorong wawasan dan sikap kebangsaan dan persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

j. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya lokal.

k. Kesetaraan Jender.

Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan jender.

l. Karakteristik satuan pendidikan.

Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.

3. Hakikat KTSP

Hakikat Kurikulum Satuan Pendidikan dibagi atas beberapa bagian, yaitu:

a. Konsep Dasar

KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang - undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1 dan 2 sebagai berikut:

1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada

standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan

dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, dengan kewenangan otonomi yang luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan pendidikan masyarakat dalam

rangka mengefektifkan proses belajar - mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya siswa, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

KTSP dalam pengembangannya dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. Badan ini merupakan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD), pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah, tenaga pendidikan, perwakilan orang tua peserta didik, dan tokoh masyarakat. Lembaga inilah yang menetapkan kebijakan sekolah berdasarkan ketentuan - ketentuan tentang pendidikan yang berlaku. Selanjutnya komite sekolah perlu menetapkan visi, misi, dan tujuan sekolah dengan berbagai implikasinya terhadap program - program kegiatan operasional untuk mencapai tujuan sekolah.

b. Tujuan

1) Tujuan umum

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk mendirikan dan memberdayakan satuan pendidikan

melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan yang terkait.

2) Tujuan Khusus

a) Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk

meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola, dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

b) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan

masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama. Sebagai kurikulum operasional, KTSP menuntut keterlibatan masyarakat secara penuh, sebab tanggung jawab pengembangan kurikulum tidak lagi berada di pemerintah, akan tetapi disekolah, sedangkan sekolah akan berkembang manakala adanya keterlibatan masyarakat.

c) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan

pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. Melalui KTSP diharapkan setiap sekolah atau satuan pendidikan akan berlomba dalam menyusun program kurikulum sekaligus berlomba dalam mengimplementasikannya.

KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah yang sedang digulirkan dewasa ini. Oleh Karena itu, KTSP perlu diterapkan oleh setiap satuan pendidikan, terutama berkaitan dengan tujuh hal sebagai berikut:

1) Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang,

dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekolah untuk memajukan lembaganya.

2) Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya,

khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didiknya.

3) Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih

cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.

4) Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam

pengembangan kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efesien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat sekitar.

5) Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan

didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin unutk melaksanakan dan mencapai sasaran KTSP.

6) Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan

sekolah - sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya - upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.

7) Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat

dan lingkungan yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasikannya dalam KTSP.

4. Pengembangan KTSP

Pada tingkat ini dibahas pengembangan kurikulum untuk setiap satuan pendidikan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain:

a. Menganalisis dan mengembangkan Standar Kompetensi Lulusan

(SKL), dan Standar Isi (SI).

b. Merumuskan visi dan misi, serta merumuskan tujuan pendidikan

pada tingkat satuan pendidikan.

c. Berdasarkan SKL, visi dan misi serta tujuan pendidikan pada

tingkat satuan pendidikan diatas selanjutnya dikembangkan.

d. bidang studi - bidang studi yang akan diberikan untuk

e. Mengembangkan dan mengidentifikasikan tenaga - tenaga kependidikan (guru dan non guru) sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan, dengan yang berpedoman pada standar tenaga kependidikan yang ditetapkan BSNP.

f. Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk

memberi kemudahan belajar, sesuai dengan standar sarana dan prasarana pendidikan yang ditetapkan BSNP.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan dilandasi undang - undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut:

a. Undang - Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas,

mengemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) terdiri atas Standar Isi (SI), proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Dalam undang - undang Sisdiknas juga dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Keterampilan dan Kejuruan, dan Muatan Lokal.

b. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar

Nasional Pendidikan (SNP), mengemukakan bahwa KTSP

standar kompetensi lulusan (SKL) dan standar isi (SI). SKL adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sedang SI adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

c. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 yang mengatur tentang standar

isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi, mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

d. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi

Lulusan yang mengatur standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar kompetensi lulusan meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan kelompok mata pelajaran dan standar kompetensi minimal mata pelajaran, yang akan bermuara pada kompetensi dasar.

e. Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan permendiknas no. 22 dan 23 mengatur tentang pelaksanaan SKL dan Standar Isi. Dalam peraturan ini dikemukakan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan.

5. Prinsip Pengembangan KTSP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP, dengan memperhatikan prinsip - prinsip sebagai berikut (Permendiknas, No.22 Tahun 2006):

a. Berpusat Pada Potensi, Perkembangan, Serta Kebutuhan Peserta

Didik Dan Lingkungannya.

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembalikan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung

pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.

b. Beragam Dan Terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender.

Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib

kurikulum, muatan lokal dan pengembangan diri secara terpadu,

serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang

bermakna dan tepat antar substansi.

c. Tanggap Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi,

dan Seni

Kurikulum dikembangkangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

d. Relevan Dengan Kebutuhan

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan dan memperhatikan pengembangan integritis pribadi, kecerdasan spritual, keterampilan berpikir (thinking skill), kreatifitas sosial, kemampuan akademik dan keterampilan vokasional.

e. Menyeluruh Dan Berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara kesinambungan antar semua jenjang pendidikan.

f. Belajar Sepanjang Hayat

Kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur - unsur pendidikan formal, informal dan non formal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

g. Seimbang Antara Kepentingan Global, Nasional Dan Lokal

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan global, nasional dan lokal untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan global, nasional dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan perkembangan era globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhinneka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6. Karakteristik KTSP

Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial, sehingga salah satu perhatian sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Di sisi lain, sekolah juga harus meningkatkan efisiensi, partisipasi, dan mutu, serta tanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Di sinilah pentingnya KTSP sebagai kurikulum yang dapat membantu sekolah mewujudkan beberapa tuntutan di atas karena KTSP mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a. Pemberian Otonomi Luas Kepada Sekolah dan Satuan

Pendidikan

Sekolah dan satuan pendidikan diberi otonomi yang luas untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi

setempat. Sekolah juga memiliki kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat. Selain itu, sekolah dan satuan pendidikan juga diberikan kewenangan untuk menggali dan mengelola sumber dana sesuai dengan prioritas kebutuhan.

b. Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua Yang Tinggi

Orang tua dan peserta didik tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan keuangan, tetapi juga merumuskan serta mengembangkan program - program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran melalui komite sekolah dan dewan pendidikan .

c. Kepemimpinan Yang Demokratis dan Profesional

Guru - guru yang direkrut oleh sekolah adalah pendidik profesional dalam bidangnya masing - masing. Dalam pengambilan keputusan, kepala sekolah mengimplementasikan

proses “bottom up” secara demokratis, sehingga semua pihak

memiliki tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil beserta pelaksanaanya.

d. Tim - Kerja yang Kompak dan Transparan

Keberhasilan KTSP merupakan hasil sinergi (synergetic effect) dari kolaborasi tim yang kompak dan transparan.

7. Komponen Kurikulum KTSP

a. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar

dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum

pendidikan.

b. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan

dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima

kelompok mata pelajaran sebagai berikut:

1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.

2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan

kepribadian.

3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

4) Kelompok mata pelajaran estetika.

5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.

c. Kalender Pendidikan

Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun

karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan

masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan

sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi.

d. Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pengajaran

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Berdasarkan silabus inilah guru bisa mengembangkannya menjadi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswanya.

Materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.

a. Mata Pelajaran

Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing - masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi.

b. Muatan Lokal

Materi pelajaran muatan lokal disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. Muatan lokal merupakan suatu mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal untuk setiap semester.

c. Kegiatan Pengembangan Diri

Bentuk dari pengembangan diri ini ialah kegiatan ekstrakurikuler. Khusus untuk SMK, pengembangan diri lebih diutamakan ke arah pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran. Untuk penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.

d. Pengaturan Beban Belajar

Mengenai ketentuan beban belajar yang dianjurkan dalam jenjang pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, dan SMA/MA/SMALB/SMK/MK. Selain beban belajar, juga terdapat pedoman terhadap jam pembelajaran setiap mata pelajaran, alokasi waktu untuk penugasan, alokasi waktu untuk praktik, alokasi waktu untuk tatap muka.

e. Ketuntasan Belajar

Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0 -

100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing - masing indikator 75%. Setiap satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat

kemampuan rata - rata peserta didik, kompleksitas

kompetensi, serta kemampuan sumber daya pendukung

dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan

diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.

Pelaporan hasil belajar (raport) peserta didik diserahkan

pada satuan pendidikan dengan memperhatikan rambu- rambu yang disusun oleh direktorat teknis terkait.

f. Kenaikan Kelas dan Kelulusan

Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing - masing direktorat teknis terkait. Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan

Dokumen terkait