BAB VI : LAHAN POTENSIAL DAN LAHAN KRITIS
A. Pengertian Lahan Potensial dan Lahan Kritis
Lahan adalah tanah terbuka atau disebut juga tanah garapan. Apabila dilihat dari produktifitasnya, lahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu lahan potensial ( adalah lahan yang mempunyai daya kemampuan untuk menghasilkan/ berproduksi ) dan lahan kritis ( lahan yang tidak mempunyai daya dukung/ kemampuan untuk menghasilkan atau berproduksi )
Lahan secara umum dapat digunakan untuk kegiatan pertanian, seperti pertanian darat, perkebunan, perikanan, kehutanan dan peternakan, serta non pertanian seperti fasilitas umum, sekolah, kantor dan lain sebagainya
1. Lahan potensial
Menurut Soebagyo, lahan potensial adalah lahan yang mempunyai kesuburan alamiah atau mempunyai
kesanggupan untuk menyediakan unsur hara dalam tanah dalam jumlah yang seimbang. Potensial dan
kritisnya suatu lahan tergantung pada keadaan fisik, sifat kimiawi serta keadaan biologis tanah tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah antara lain adalah topografi, keadaan drainase, keadaan
iklim, vegetasi, dan aktifitas manusia yang ada disekitar tanah tersebut.
Tidak semua lahan yang ada dipermukaan bumi ini dapat dimanfaatkan secara langsung, karena tidak
semua lahan berada dalam kondisi siap dimanfaatkan. Lahan potensial dapat dimanfaatkan antara lain untuk
a. lokasi daerah pertanian
b. lokasi daerah pemukiman penduduk c. lokasi fasilitas-fasilitas umum
d. dan lahan untuk kelestrarian lingkungan hidup Ciri-ciri dari lahan yang dianggap potensial antara lain :
a. bentuk topografinya hampir datar, kecuali didaerah pegunungan b. mempunyai kedalaman lapisan top soil yang efektif
c. keasdaan drainasenya baik d. mudah diolah
e. kapasitas menahan iar setelah diairi cukup baik f. subur dan responsif terhadap pemupukan
g. tidak terancam banjir 2. Lahan Kritis
Adalah suatu lahan dengan kondisi yang rusak, karena lapisan top soil yang banyak mengandung humus sudah terkikis, sehingga berakibat tanah tersebut kehilangan kesuburan tanahnya. Hilangnya kesuburan tanah tersebut dapat menyebabkan tanah tidak dapat lagi menyediakan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman untuk
kelangsungan hidupnya. Apabila tanah sudah tidak subur, maka akhirnya akan gersang dan tandus. Untuk mengembalikan kondisi tanah tersebut agar dapat dimanfaatkan akan memerlukan waktu yang sangat lama dan biaya yang besar. Beberapa faktor yang menyevebabkan lahan ,menjadi kritis adalah :
a. peristiwa alam
Peristiwa alam seperti gempa bumi, letusan gunung api dan banjir menjadikan lahan mengalami kerusakan, sehingga kesuburan tanahnya terganggu
b. aktifitas manusia
Kegiatan yang dilakukan oleh manusia seperti penggundulan hutan, limbah industri, pembuangan sampah plastik dan lain-lainnya menyebabkan tanah menjadi rusak. Lahan kritis banyak terdapat didaerah-daerah dataran tinggi dan pegunungan karena mempunyai kemiringan yang sangat besar, sehingga proses erosi dapat berjalan dengan cepat. Apalagi keadaan tanahnya gundul. Ciri-ciri lahan kritis antara lain :
a. merupakan ancaman yang serius apabila berada pada lereng gunung, seperti banjir dan tanah longsor
b. keadaan tanahnya sudah tererosi berat, sehingga kurang subur c. kapasitas menahan air rendah
d. sering mengakibatkan terjadinya banjir dan tanah longsor B. Hubungan Kemiringan Lereng dengan Penggunaan Lahan
Hubungan antara kemiringan lereng dengan penggunaan lahan terletak pada besarnya kemiringan dan tipe penggunaan lahan tersebut. Menurut Kaslan A. Thohir, hubungan kemiringan lereng di Indonesia dengan pemanfaatan lahan secara umum dibagi menjadi empat kelompok, yaitu :
1. Kemiringan 0 – 3 %, lahan ini sesuai untuk kegiatan usaha pertanian tanaman pangan 2. Kemiringan 3 – 8 %, dapat dimanfaatkan sebagai daerah peternakan
3. Kemiringan 8 – 15 %, dapat dimanfaatkan sebagai daerah perkebunan 4. Kemiringan > 15 %, sebaiknya hanya dimanfaatkan sebagai daerah hutan.
Kemiringan lereng ini merupakann hal yang penting untuk diperhatikan, karena akan berpengaruh terhadap pemanfaatan lahan yang bersangkutan, mulai dari penyiapan lahan, usaha penanaman, pengambilan hasil, sampai pada usaha pengawetan lahan tersebut. Lahan yang miring akan mempunyai kecenderungan lebih mudah terganggu
keseimbangannya daripada tanah yang relatif datar, sehingga semakin besar kemiringannya, akan semakin besar pula resiko kerusakan lahannya. Berikut ini adalah klasifikasi
kemiringan lereng di Indonesia, Amerika Serikat dan Eropa : No. Kelas Kemiringan Kemiringan
dalam % US Soil Survey Manual % Universal Soil Loss Equation % 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
Datar/ hampir datar Landai Miring Agak Curam Curam Sangat Curam Tegak 0 - 2 3 - 7 8 - 13 14 - 20 21 - 55 56 - 140 > 140 0 - 2 2 - 6 6 - 13 13 - 25 25 - 55 > 55 1 - 2 2 - 7 7 - 12 12 - 18 18 - 24 > 24
Tabel Kemiringan Lereng di Indonesia, Amerika Serikat dan Eropa C. Kemampuan dan Kesesuaian Lahan
1. Kemampuan Lahan
Adalah sifat lahan yang menyatakan sanggup untuk memberikan hasil pertanian pada tingkat produksi tertentu. Tingkat kecocokan pola penggunaan lahan dinamakan kesesuaian lahan, yaitu digunakan untuk kegiatan pertanian dan non pertanian seperti sudah dijelaskan diatas. Sedangkan kelas kemampuan lahan dapat dikelompokkan menjadi delapan kelas. Kelas I – IV merupakan lahan yang sesuai untuk kegiatan pertanian, sedangkan kelas V – VIII tidak sesuai lagi untuk kegiatan pertanian karena banyak sekali kendalanya. Kelas kemampuan lahan dapat diuraikan sebagai berikut : a. Kelas I
Lahan ini mempunyai hambatan paling sedikit yang membatasi kemampuannya. dapat ditanami dengan tanaman budidaya intensif , hutan maupun cagar alam
b. Kelas II
Lahan ini mempunyai beberapa hambatan yang mempersempit pilihan tanaman, atau Memerlukan tindakan pengawetan lahan sehingga kurang dapat menunjang sistem pertanian yang intensif
c. Kelas III
Lahan ini mempunyai hambatan yang cukup berat yang menurunkan pilihan tanaman atau memerlukan tindakan pengawetan yang khusus atau kedua-duanya.
Terbatasnya pemakaian ini disebabkan oleh keadaan lereng yang curam, bahaya erosi yang besar, permeabilitas air sangat lambat, kedalaman tanah yang dangkal, kapasitas menahan air rendah, kesuburan rendah,serta struktur tanahnya tidak tetap.
d. Kelas IV
Pemanfaatan lahan ini memerlukan pengolahan ynag intensif, tanaman yang rapat, digunakan sebagai pelindung, dengan tingkat kesulitan sama dengan kelas III
ditambah dengan keadaan drainasenya jelek dengan sifat alkali tanah serta salinitas tinggi
e. Kelas V – VII
Lahan pada kelas ini sudah tidak layak lagi untuk kegiatan pertanian secara
komersial, terutama tanaman pangan. Lahan pada kelas ini pemanfaatannya terbatas sebagai lahan padang rumput, tempat penggembalan, hutan dan cagar alam.
f. Kelas VIII
Lahan pada kelas ini hanya sesuai untuk kegiatan cagar alam atau hutan lindung saja, karena tingkat produksinya yang rendah dan kondisi lerengnya sangat curam sampai terjal.
Perhatikan tabel kelas kemampuan dan pemanfaatan lahan berikut ini : Pemanfaatan & Kelas Kemampuan Hutan Lindun g Caga r Alam HTI Peter nakan terbat as Peter nakan sedan g Peter nakan intens if Perta nian terbat as Perta nian sedan g Pert ania n inte n sif Kelas I X X X X X X X X X Kelas II X X X X X X X X Kelas III X X X X X X X Kelas IV X X X X X X Kelas V X X X X X Kelas VI X X X X Kelas VII X X X
Kelas VIII X X
Tabel Kelas kemampuan dan kesesuaian lahan D. Pemanfaatan Lahan Potensial dan Kendalanya
1. Daerah pantai
Dimanfaatkan sebagai daerah perikanan udang dan bandeng, dengan kendala utamanya adalah adanya air pasang yang tinggi. Cara penanggulangannya adalah dengan memasang pintu pengatur keluar masuknya air laut agar keasaman air sesuai dengan habitat udang dan bandeng
2. Daerah dataran rendah
Dimanfaatkan sebagai daerah pertanian, dengan kendala utama adalah adanya genangan air yang lama. Cara mengatasinya yaitu dengan pembuatan tanggul dan saluran drainase
3. Daerah pegunungan
Manfaat yang sesuai didaerah pegunungan adalah sebagai daerah perkebunan dengan kendala utama terjadinya erosi. Cara penanggulangannya adalah dengan menggunakan beberapa teknik pengolahan lahan dan penanaman pohon pelindung. E. Upaya Pelestarian dan Peningkatan manfaat lahan potensial
Upaya pelestarian lahan potensial dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, antara lain : 1. Dengan memakai sistem terasering
2. Dengan sistem pergiliran tanaman, yaitu menanam dengan jenis tanaman yang bervariasi. Agar unsur hara yang ada didalam tanah tidak habis
3. Dengan sistem tumpang sari, yaitu menanam berbagai jenis tanaman secara bersama-sama
4. Melaksanakan penanaman searah dengan garis kontur pada lahan yang miring 5. Melaksanakan pemupukan dengan jenis pupuk hijau, kandang dan pupuk buatan F. Upaya Penanggulangan dan Pemulihan Lahan Kritis
Untuk mencegah agar lahan kritis yang ada tidak bertambah luas, bahkan dapat dikurangi, maka perlu diadakan tindakan-tindakan untuk penanggulangan dan pemulihannya, yaitu :
1. Menghindari erosi, penebangan liar dan perusakan hutan 2. Menghindari perladangan berpindah dan pembakaran hutan 3. Memelihara hutan lindung sesuai dengan peruntukannya
Sedangkan upaya pemulihan lahan kritis dapat dilakukan tindakan-tindakan : 1. Reboisasi, yaitu penghijauan hutan kembali dan rehabiliotasi lahan
2. Penanaman pohon pelindung, agar terhindar dari erosi air hujan dan aliran air 3. Diadakan pemupukan agar tersedia unsur-unsur hara didalam tanah, sehingga
memulihkan tingkat kesuburannya.
BAB I : SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
A. Pengertian SIGSistem Informasi Geografi ( SIG ) adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan, memanipulasi, dan menganalisis data atau informasi geografi ( Petrus
Paryono ).
Pada sistem informasi geografi disajikan data permukaan bumi secara lengkap, misalnya Mencakup keadaan geologi, topografi, jenis tanah, hidrologi, iklim, dan budaya.
Sebenarnya informasi mengenai permukaan bumi ini sudah disajikan dalam bentuk peta berabad-abad yang lalu, namun hanya menyajikan sebagian kecil dari permukaan bumi . Pada SIG seluruh data yang ada pada suatu wilayah dapat disimpan, dimanipulasi dan dianalisis secara serentak melalui teknologi komputer, sehingga gambar yang tampak adalah dalam bentuk digital sehingga dapat digunakan oleh para ilmuwan, perencana dan pengambil kebijaksanaan untuk kegiatan yang lebih penting.
B. Perkembangan SIG
Pada awalnya SIG digunakan dibidang sumberdaya alam, tetapi seiring dengan perkembangan teknologi komputer, maka sekarang ini SIG dimanfaatkan untuk perencanaan pembangunan, dan bahkan sudah dapat digunakan sebagai sistem I informasi tata guna lahan agar dapat melindungi lingkungan alam dari kerusakan yang lebih parah.
C. Tahapan Kerja SIG
Tahapan kerja SIG meliputi tiga hal, yaitu masukan ( input ), proses, dan hasil ( output ) yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Masukan Proses Keluaran 1. Masukan
Secara garis besar ada dua macam data, yaitu data atribut dan data keruangan - data atribut, adalah data yang terdapat pada ruang yang menjelaskan suatu
informasi misalnya hutan, sawah ladang dan kota. Dalam data atribut ini dapat dilihat dari segi kualitasnya dan juga dari segi kuantitasnya.
bumi
Sumber data yang dapat dimasukkan kedalam SIG ada tiga macam, dimana data tersebut Saling berkaitan, melengkapi dan mendukung, sehingga tidak boleh ada yang diabaikan. Data tersebut adalah data lapangan, data peta, dan data
penginderaan jauh. 2. Proses data SIG
Dalam proses SIG meliputi memanggil, memanipulasi, dan menganalisis data yang telah tersimpan dalam komputer. Analisis data tersebut meliputi :
- analisis lebor, menghasilkan daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. - analisis penjumlahan aritmatika menghasilkan penjumlahan dengan mengklasifikasika peta lama, sehingga diperoleh data yang baru.
- analisis garis dan bidang, dapat digunakan untuk menentukan wilayah dalam radius tertentu misalnya daerah rawan banjir, gempa, dan rawan penyakit. 3. Keluaran
Data yang dihasilkan dan telah dianalisis oleh SIG dapat memberikan informasi kepada para pengguna data. Data yang berupa data foto dan digital dapat membantu para pengguna data untuk kebutuhan masing-masing bidang sesuai dengan disiplin ilmunya.
D. Manfaat SIG
SIG mempunyai banyak manfaat , terutama dalam rangka perencanaan pembangunan antara lain :
1. Pemetaan sumberdaya
gg a. pemetaan penggunaan lahan
hh b. pemetaan tanah hijau untuk kegiatan pembangunan
ii c. pemetaan daerah pasang surut yang digunakan sebagai pertanian pasang surut jj d. pemetan geologi untuk keperluan eksplorasi dan penanggulangan bencana alam. kk
ll 2. Pertanian dan kehutanan
mm a. inventarisasi tanaman pangan dan kondisi lahan yang baik, sedang dan rusak. nn b. pemantauan perubahan penggunaan lahan
oo c. inventarisasi pemanfaatan hutan dalam rangka reboisasi dan menanggulangi pp kerusakan hutan
qq d. inventarisasi lahan kritis rr e. inventarisasi tanaman sagi ss
3. Transmigrasi
tt a. pemilihan lokasi transmigrasi agar sesuai dengan daerah pemukiman
uu b. perencanaan waktu pemindahan penduduk yang tepat sesuai dengan kondisi vv daerah
ww
4. Lingkungan hidup
xx a. perencanaan kota yang berkaitan dengan tata ruang yy b. pantauan terhadap pencemaran lingkungan
zz
5. Pemantauan bencana alam
aaa a. memantau bencana alam yang sedang terjadi, misalnya gunung meletus, gempa,
bbb kebakaran, dan serangan hama ccc
6. Perencanaan dan pemantauan daerah pantai dan laut ddd a. pencarian lokasi ikan dilaut
eee b. pantauan perubahan garis pantai dan daerah abrasi dan intrusi air laut kedaratan
fff
7. Pemantauan program IDT
ggg a. informasi kondisi desa, sarana jalan dan angkutan, mata pencaharian, rumah hhh penduduk, fasilitas kesehatan, pendidikan dasar, pasar, sarana komunikasi,
jarak
iii dan perhubungan.
jjj b. informasi penduduk berkaitan dengan kepadatan, persebaran, pertambahan, kkk susunan dan komposisi penduduk
lll c. informasi lingkungan yang berkaitan dengan sumber air, penerangan, tempat mmm ibadah, tempat pembuangan sampah, jamban/ MCK dan lain sebagainya.