• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Latihan Mindfulness

B. Latihan Mindfulness

1. Pengertian Latihan Mindfulness

Secara sederhana latihan dapat dirumuskan sebagai usaha dan segala upaya untuk meningkatkan kondisi fisik secara menyeluruh dengan proses yang sistematis dan berulang-ulang dengan kian hari kian bertambah jumlah beban latihan, waktu atau intensitasnya. Sedangkan menurut (Bompa dalam Hariono, 2006) menjelaskan latihan sebagai upaya seseorang dalam meningkatkan perbaikan organisme dan fungsinya untuk mengoptimalkan prestasi dan penampilan. Pada prinsipnya latihan merupakan proses ke arah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan kualitas fisik, kemampuan fungsional peralatan tubuh dan kualitas anak latih. Dapat disimpulkan bahwa latihan merupakan : sebuah proses yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang untuk meningkatkan kualitas fisik, prestasi dan penampilan.

Sedangkan mindfulness bukanlah hal baru dalam sejarah peradaban manusia, menurut Iskandar & Novianto (dalam Prasetyo, 2014) praktek mindfulness telah dikenal bahkan ribuan tahun yang lalu atau dikenal dengan tradisi yang telah ada sejak adanya manusia di muka bumi ini. Meditasi mindfulness merupakan tradisi yang telah dipraktekkan sejak pada peradaban tinggi di Mesir, China, peradaban Aztec di Amerika Selatan dan juga di India.

Seorang tokoh spiritual India yang dikenal dengan nama Pantajali (Prasetyo, 2014) telah memiliki pemahaman terhadap mindfulness sejak ribuan tahun yang lalu. Menurutnya, praktek mindfulness adalah proses aktualisasi diri (self realization) dimana pada waktu meditasi manusia mengalami kesadaran penuh sebagai bagian dari sang Maha Pencipta. Mindfulness sering disamakan dengan kesadaran (awarness), pengalaman kekinian (present experince) dan (acceptance) atau penerimaan diri (Segell, 2005). Secara tradisional meditasi mindfulness juga digunakan untuk mencapai transendensi diri.

Kabet-Zinn (dalam Stanley dkk, 2006) menyatakan bahwa mindfulness merupakan peningkatan kesadaran dengan berfokus pada pengalaman masa kini (present-moment awareness) tanpa memberikan penilaian. Goleman &

Schwartz (dalam Kabat-Zinn, 1982) menyatakan bahwa latihan mindfulness bukan berkaitan dengan “keberadaan di manapun untuk memperbaiki sesuatu” akan tetapi merupakan pengalaman terhadap peristiwa dari waktu ke waktu. Kabat-Zinn, (2003) mendefinisikan mindfulness sebagai usaha memberikan perhatian melalui beberapa cara yaitu dengan tujuan, kekinian

dan tidak ada penilian terhadapnya. Stanley dkk (2006) mendeskrepsikan mindfulness sebagai kombinsi perhatian terhadap kesadaran tentang pentingnya peristiwa kekinian baik kejadian internal maupun eksternal.

Aspek terpenting dalam mindfulness adalah kesadaran terhadap peristiwa yang terjadi tanpa suatu pertimbangan dan harapan terhadap hasil dan tujuan.

Artinya praktek mindfuless ini terjadi dalam kondisi yang bebas dari gangguan fikiran-fikiran dan emosi.

Menurut Salmon dkk (2004), mindfulness adalah pembelajaran untuk memfokuskan perhatian terhadap pengalaman kekinian dengan tidak melakukan kritik terhadapnya. Perhatian terhadap peristiwa kekinian merupakan alternative menurunkan atau mengatasi kekhawatiran terhadap peristiwa yang sudah terjadi dan peristiwa yang akan datang Salmon dkk (2004). Latihan mindfulness juga merupakan salah satu cara untuk menyadari perilaku, kebiasaan dan reaksi sendiri serta sangat bermanfaat bagi pemberian pelayanan kesehatan untuk lebih memahami pasien dan bermanfaat dalam memudahkan hubungan dan komunikasi dalam situasi medis yang komplek dan sulit (Connlely, 2005).

Bishop dkk (2004) menyatakan kesadaran penuh merupakan representasi dari meningkatnya atau dipertahankannya keadaan sadar terjaga dan perhatian akan peristiwa pengalaman di sini-saat ini. Kesadaran penuh memiliki dua komponen. Komponen pertama, keadaan sadar terjaga dan perhatian yaitu bahwa mindfulness dimulai ketika keadaan sadar terjaga dibawa kepada pengalaman di sini-saat ini, diobservasi dan diperhatikan perubahan

pemikiran, perasaan, dan sensasi sehingga mindfulness merupakan pengalaman langsung. peristiwa yang terjadi diantara tubuh dan pikiran.

Kedua, penerimaan terjadi ketika individu hanya memperhatikan setiap pemikiran, perasaan, dan sensasi sebagai pengalaman terbuka akan realitas saat ini-di sini yang muncul dalam arus kesadaran.

Brown & Ryan (2003) mempertegas bahwa latihan mindfulness didasari oleh meningkatnya keadaan sadar terjaga (awareness) yang terus-menerus memonitor keadaan diri dan lingkungan luar serta adanya perhatian (attention) yang memusat sehingga menghasilkan kesadaran penuh akan pengalamannya secara lebih terbuka. Lebih lanjut dijelaskan bahwa keadaan sadar terjaga adalah pengalaman subjektif dari phenomena internal dan eksternal yang merupakan apersepsi dan persepsi murni dari semua realitas peristiwa yang terjadi setiap saat. Perhatian merupakan pemusatan keadaan sadar terjaga untuk memperjelas aspek tertentu dari realitas (Brown & Ryan, 2003).

Mindfulness dimulai dengan membawa keadaan sadar terjaga pada pengalaman di sini-saat ini, dengan meningkatkan fokus perhatian pada perubaan yang terjadi dalam pikiran, perasaan dan sensasi diamati dari waktu ke waktu (Kabbat-Zinn dalam Davis dkk, 2007). Menurut Fringer (2002) kebahagiaan seseorang yang beragama akan didapatkan jika hal-hal yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bagian disiplin spiritual jika bertindak dengan hati yang sadar (mindfulness) dan terbuka maka mata hati juga akan terlihat menjadi terang dan saat itulah seluruh

tubuh dipenuhi cahaya (tercerahkan). Mindfulness melatih remaja untuk mendengar dengan telinga hati, melihat dengan mata hati (Fringer, 2002).

Artinya, remaja dilatih untuk selalu bekerja dengan hati, termasuk menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri, pikiran, rencana dan kekhawatiran, senantiasa berpasrah pada Tuhannya. Dengan demikian mindfulness memiliki cakupan yang sangat luas, bukan saja terkait dengan personal, sosial namun juga terkait dengan Tuhan (Ilahi).

Dalam latihan berbasis mindfulness klien dilatih untuk hanya melakukan pengamatan, menyadari, mengetahui, dan menerima aliran pengalaman dari waktu ke waktu, membiarkan pengalaman itu bergulir apa adanya, tidak masuk dan terlibat di dalam pengalaman itu, tidak melakukan pembatasan pada bentuk pikiran, perasaan dan perilaku tertentu (Hall, 1998). Sejalan dengan itu, (Germer, 2005) juga menjelaskan bahwa praktek mindfulness (kesadaran penuh) merupakan suatu bentuk intervensi yang melatih individu meningkatkan kesadaran dan mendapatkan insight tertinggi dengan mengenalkan keterbukaan terhadap seluruh pengalaman.

Sebagaimana dijelaskan oleh (Albeniz & Holmes, 2000) bahwa dalam proses ini mengunakan fokus perhatian sebagai jangkar yang membawa subjek kembali secara konstan pasa saat ini, menjauhi analisis kognitif atau fantasi yang berkaitan dengan isi kesadaran dan meningkatkan toleransi dan relaksasi proses berfikir tambahan. Latihan mindfulness berbasis kesadaran penuh merupakan serangkaian kegiatan berupa pengontrolan dan pengelolaan stres dengan cara meditasi pikiran yang bertujuan untuk melatih pemusatan

perhatian yang terdiri dari kombinasi dimensi afektif, kognitif, moral, intrapersonal dan interpersonal.

Keefektifan dan manfaat latihan mindfulness dalam konteks klinis terletak pada kemampuan kesadaran memutus response set yang mengendalikan diri individu (Brown dan Ryan, 2003). Response set sendiri dijelaskan sebagai pola asosiasi terkondisi yang memfasilitasi pola perilaku, pola pikir, dan respon individu terhadap stimulus atau situasi tertentu. Response set dapat diaktifkan baik oleh stimuli internal maupun eksternal, seperti sugesti dan beragam sinyal yang berasal dari lingkungan (Brown & Ryan, 2003).

Dinamika latihan mindfulness mempengaruhi subjective well-being dapat dilihat dari perspektif mindfulness dimana pikiran mempengaruhi emosi yang kuat terkait fenomena mental yang tidak benar-benar perlu ditanggapi, karena emosi-emosi tersebut hanya bersifat sementara, tidak memiliki hubungan yang jelas dengan realitas eksternal (Blackledge & Hayes, 2001). Mindfulness mengarahkan untuk sepenuhnya berhubungan dengan apa yang terjadi pada saat ini, baik secara internal (tubuh-pikiran-emosi) dan lingkungan eksternal (Shapiro, 2006). Ketika kesadaran fokus pada saat ini, di sini dan sekarang maka individu tidak akan mudah dipengaruhi oleh afek negatif dan emosi-emosi negatifnya karena menurut (Brown & Ryan, 2003) individu yang memiliki kesadaran penuh akan mampu memutus response set yang mengendalikan dirinya, response set dapat berupa stimuli internal maupun eksternal yang berarti berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan dari luar

yang memunculkan perasaan dan emosi negatif, hal itu dapat dikendalikan dengan kesadaran (Brown & Ryan, 2003).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa latihan

Dokumen terkait