• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Subjective Well-Being

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Subjective Well-Being"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Subjective Well-Being

1. Pengertian Subjective Well-Being

Setiap individu dalam hidupnya akan mengalami berbagai macam peristiwa, ada peristiwa yang menyenangkan adapula peristiwa yang tidak menyenangkan. Apabila individu yang bersangkutan tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi, maka akan timbul emosi yang tidak menyenangkan dalam diri. Bahkan keadaan ini dapat menyebabkan individu yang bersangkutan merasa tidak puas dan tidak bahagia (Nisfiannor, Rostiana & Puspasari 2004). Pengalaman internal yang dialami oleh individu tersebut dapat digambarkan dengan istilah subjective well-being (Diener dkk dalam Nisfiannor dkk, 2004).

Diener (2002) mengungkapkan bahwa subjective well-being merupakan suatu bentuk evaluasi mengenai kehidupan individu yang bersangkutan baik terkait masa kini maupun masa lampau. Bentuk evaluasi ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu penilaian secara kognitif seperti kepuasan hidup dan respon emosional terhadap kejadian seperti merasakan emosi yang positif (Diener, 2002). Sedangkan menurut (Andrews dkk, Ozmete, 2011) kesejahteraan subjektif adalah evaluasi subjektif masyarakat terhadap kehidupan, dan termasuk konsep-konsep seperti kepuasan hidup, emosi menyenangkan, pemenuhan perasaan, kepuasan

(2)

dengan domain seperti perkawinan dan pekerjaan, serta tingkat emosi menyenangkan.

Diener dkk (dalam Nisfiannor dkk, 2004) menjelaskan bahwa subjective well-being diukur berdasarkan pada perspektif individu yang bersangkutan, melalui tiga komponen yang saling berhubungan yaitu;

kepuasan hidup yang kemudian dibagi menjadi dua subdevisi yaitu kepuasan hidup secara global dan kepuasan dalam domain yang penting dalam hidup, misalnya cinta, perkawinan, persahabatan dan lain-lain.

Komponen selanjutnya adalah afek positif, dan rendahnya afek negatif yang dirasakan. Jadi disimpulkan bahwa subjective well-being terdiri dari tiga komponen yaitu kepuasan hidup, afek positif dan afek negatif. Afek positif adalah frekuensi dan intensitas emosi yang menyenangkan sedangkan afek negatif adalah intensitas emosi yang tidak menyenangkan sedangkan kepuasan hidup adalah penilaian individu secara global mengenai kehidupannya atau penilaian kognitif terhadap keseluruhan hidup individu (Diener, 2003).

Diener & Scollon (2003) mengemukakan bahwa subjective well- being berhubungan dengan bagaimana seseorang merasakan dan berfikir mengenai kehidupannya. Diener (dalam Snyder & Lopez, 2006) mengungkapkan subjective well-being merupakan konstruk multi dimensional yang meliputi komponen kognitif dan afektif. Secara lebih spesifik, Diener mendefinisikan subjective well-being sebagai kombinasi dari afek positif yang tinggi, afek negatif yang rendah, dan kepuasan hidup

(3)

secara umum. Ketiga komponen ini saling berhubungan tetapi merupakan konstruk yang terpisah. Istilah subjective well-being di berbagai literatur psikologi juga sering digunakan sebagai sinonim dari happiness (kebahagiaan).

Lopez & Snyder (2002) menjelaskan bahwa psikologi positif menyajikan well-being (kesejahteraan) sebagai studi ilmiah tentang happiness atau kebahagiaan. Terdapat dua paradigma dalam studi mengenai kebahagiaan, yaitu paradigma subyektif yang dinyatakan dalam emotional well-being atau subjective well-being (kesejahteraan subjektif) dan secara obyektif dinyatakan dalam psychological well-being (Lopez &

Snyder, 2002).

Menurut Baumgardner & Crothers (2010) kesejahteraan psikologis tidak melihat bagaimana individu merasa bahagia namun makna kebahagiaan itu sendiri bagi individu. Subjective well-being dilandasi oleh persepsi yang sifatnya sangat subjektif terhadap eksistensi dan pengalaman hidupnya masing-masing (Baumgardner & Crothers, 2010). Remaja yang tinggal di panti asuhan memiliki latar belakang yang berbeda dengan anak yang tinggal dan diasuh oleh orangtuanya, hal ini turut memberikan efek subyetif bagaimana remaja memiliki persepsi terkait kehidupannya.

Dalam menjalani kehidupan, setiap orang memiliki kesempatan untuk menampilkan dirinya sebagai orang yang bahagia, untuk menampilkan diri sebagai orang bahagia tidak akan lepas dari kesejahteraan subjektif (Baumgardner & Crothers, 2010). Seorang remaja yang memiliki

(4)

subjective well-being tinggi ditandai dengan tingginya kepuasan hidup, rendahnya afek negatif dan tingginya afek positif. (Diener & Oishi, 2004).

Ryan & Daci (2001) juga menjelaskan bahwa konsep subjective well- being menilai bahwa individu sejahtera bila secara subjektif ia merasa bahagia, sedangkan kesejahteraan psikologis adalah apabila ia dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Dengan demikian subjective well- being mencerminkan penilaian masing-masing individu terhadap diri sendiri tentang kualitas hidupnya (Ryan & Daci, 2001).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa subjective well-being adalah penilaian yang mencakup aspek kognitif, dan afektif atas kehidupan yang dijalani seseorang. Subjective well-being yang tinggi ditandai atas adanya penilaian kognitif individu yang bahagia berupa kepuasan terhadap berbagai aspek kehidupan yang dijalani masing-masing individu, sedangkan penilaian afektif berupa banyaknya pengalaman perasaan positif yang dirasakan individu seperti (perasaan cinta, kasih sayang, ejoy), dan sedikitnya pengalaman perasaan negatif yang dirasakan individu seperti (adanya perasaan malu, cemas, kecewa, marah dst).

2. Subjective Well-Being pada Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan Remaja sebagai tahapan yang dipenuhi berbagai perubahan dalam segi fisik dan emosi sangat membutuhkan stabilitas, rasa aman dan nyaman yang dapat mendukungnya untuk dapat melewati tahapan tersebut.

Santrock (2013) mengklasifikasikan masa remaja akhir berada pada rentan

(5)

usia 19-22 tahun, masa ini adalah persiapan akhir untuk memasuki peran orang dewasa, keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok sebaya dan orang dewasa sudah terbentuk. Remaja akhir menurut Sarwono (dalam Nisfiannor dkk, 2004) merupakan masa konsolidasi menuju periode dewasa yang ditandai dengan 5 hal yaitu; (a) minat makin besar terhadap fungsi intelektual, (b) memiliki ego untuk mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru, (c) terbentuknya identitas yang tidak akan berubah lagi, (d) egosentrisme (memikirkan diri sendiri), (e) tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).

Sejalan dengan pendapat di atas, (Hall dalam Santrock, 2013) menganggap bahwa pada masa ini, remaja mulai berinteraksi dengan lingkungannya dan mulai menghadapi berbagai macam problematika hidup, oleh karena itu Hall memiliki konsep tentang ramaja yang disebut periode “strom and stress” sebagai masa goncangan yang ditandai dengan konflik dan perubahan suasana hati. Dalam periode ini, remaja diwarnai dengan ketidakstabilan emosi dan mudah marah. Ketidakstabilan ini mempengaruhi perilaku mereka yang terkadang menjadi tidak terkendali dan memunculkan perilaku menyimpang dalam kehidupan sosial para remaja (Batubara, 2010). Mengacu pada keadaan tersebut, wajar saja bila muncul pendapat yang mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa

(6)

yang sulit penuh konflik atau disebut dengan masa badai dan stress (Arnett dalam Nisfiannor dkk, 2004).

Rendahnya subjective well-being remaja akhir, juga telah dijelaskan oleh berbagai temuan para peneliti yang menyatakan adanya kecenderungan orang muda (remaja) memiliki tingkat kepuasan hidup yang rendah (Ehrlich & Isaacowitz dalam Nisfiannor dkk, 2004), lebih lanjut dijelaskan bahwa usia remaja memiliki level depresi yang lebih tinggi dari pada usia dewasa. Hal ini dikarenakan para remaja merasakan self-concious dan kebingungan dua atau tiga kali lebih sering daripada orang tua dan cenderung merasa lebih canggung, kesepian, cemas dan diabaikan (Arnett, dalam Nisfiannor dkk, 2004).

Menurut Park (dalam Nisfiannor dkk, 2004) remaja dikatakan memiliki subbjective well being-yang tinggi apabila memenuhi tiga aspek yaitu : (a) Memiliki kepuasan hidup yang ditandai : kegiatan yang positif seperti olahraga, tidak merokok, pola makan yang sehat, tidak menggunakan alkohol dan obat-obatan, ekstravert (terbuka), ada perasaan optimis, memiliki internal locus of control (sehingga tidak melakukan tindakan merugikan), memiliki self efficacy dan self reliance. (b) Jarang mengalami afek negatif seperti kecemasan, kemarahan, ketakutan, rasa malu, sedih, marah, kecewa dan depresi. (c). Sering mengalami emosi positif berupa: sering merasakan kesenangan, enjoy, bangga, aktif dalam kegiatan yang postif.

(7)

Myers & Diener (1995) juga menjelaskan bahwa individu yang memiliki subjective well being tinggi mampu mengontrol emosinya dan dapat menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup dengan lebih baik.

Sebaliknya, individu dengan tingkat kesejahteraan subjektif rendah menganggap peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya sebagai peristiwa yang tidak menyenangkan sehingga menimbulkan emosi negative, tidak puas akan hidupnya dan jarang merasakan afek positif (Diener, 2000) .

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja yang memiliki subjective well-being yang tinggi akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hal ini dibuktikan lewat beberapa penelitian yang telah dilakukan, seperti penelitian yang dilakukan oleh (Zullig & Frisch dalam Nisfiannor dkk, 2004) menyebutkan dalam suatu studi yang melibatkan lebih dari 5000 pelajar Sekolah Menengah Atas di U.S. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwasanya kepuasan hidup yang tinggi pada remaja berhubungan dengan penurunan kebiasaan merokok para remaja, penggunaan alkohol, marijuana dan obat-obatan juga berhubungan positif dengan kesehatan fisik, tingkah laku dan pola makan yang sehat.

Tidak semua remaja memiliki subjective well-being yang tinggi, menurut yatim (Teja, 2014) bagi anak remaja panti asuhan akan mengalami perubahan sumber pemenuhan kebutuhan, adanya adaptasi dengan lingkungan panti asuhan dan membangun relasi dengan orang yang baru dikenal ini akan mempengaruhi subjective well-being anak. Selain itu bagi remaja panti asuhan akan dihadapkan pada dinamika kehidupan yang

(8)

jauh lebih rumit dari remaja yang tinggal dengan keluarganya cenderung akan lebih rentan memiliki afek negatif, seperti depresi (Casares dkk, 2009). Tidak bahagia atau tidak puas dengan kehidupannya karena mengalami banyak tekanan psikis dan fisik (Hartini, 2000). Hal ini karena menurut (Dalimunte, 2009) remaja yang terpisah dari orangtuanya atau keluarganya akan memiliki banyak tekanan psikologis karena harus mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya, pemisahan anak dengan lingkungan awalnya dapat menimbulkan tekanan akibat perubahan situasi hidup yang berasal dari situasi baru yang tidak dikenali seperti panti asuhan, hal tersebut akan berpengaruh pada kehidupan sosial remaja.

Remaja yang tidak mampu beradaptasi akan lebih mudah mengalami tekanan psikologis.

Telah banyak penelitian yang memberikan gambaran subjective well- being remaja yang tinggal di panti asuhan, salah satunya penelitian yang dilakukan di Namibia Afrika Selatan oleh (Casares dkk, 2009) mengenai keadaan anak dan remaja yatim piatu, ditemukan bahwa lebih dari 19 anak dan remaja yatim piatu mengalami gangguan kesehatan mental dan mengalami tekanan psikologis. Satu dari 6 anak dan remaja juga rentan terhadap depresi.

Menurut (Dewi & Utami, 2008) pada masa perkembangan remaja, mereka akan mulai membandingkan kehidupannya dengan orang-orang di sekitarnya yang hidup dengan keluarganya secara harmonis, akan muncul perasan iri hati dan tidak puas terhadap dirinya. Ketidakpuasan tersebut

(9)

merupakan salah satu ciri rendahnya subjective well being (Diener, 2003).

Selain itu remaja panti usuhan cenderung memperlihatkan kekecewaan karena mereka tidak tumbuh dalam keluarga yang utuh, membayangkan hidupnya akan lebih baik jika mereka bisa hidup dalam keluarga yang utuh (Santrock, 2013).

Seseorang dikatakan mempunyai tingkat subjective well‐being yang tinggi jika orang tersebut merasakan kepuasan dalam hidup, sering merasakan emosi positif seperti kegembiraan dan kasih sayang serta jarang merasakan emosi negatif seperti kesedihan dan amarah (Diener, 2003).

Subjective well-being yang tinggi penting sekali dimiliki oleh para remaja, karena hal itu merupakan salah satu prediktor kualitas hidup bagi setiap remaja (Park (2004). Subjective well-being yang tinggi cenderung mempunyai emosi yang selalu positif, merasa bahagia, seorang remaja yang bahagia akan mengetahui bagimana mereka harus menikmati hidupnya dengan berkualitas, tidak mudah dipengaruhi oleh pemikiran negatif karena selalu fokus, ikhlas dan lebih bersyukur. Menurut Monks, Knoers, & Haditono, (2001), pada masa transisi ini, remaja diharapkan dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki sehingga remaja dapat melangkah dengan pasti menuju kedewasaan serta berani menghadapi tantangan dalam kehidupan masyarakat karena hal itu merupakan jalan menuju kedewasaan.

Dari uraian di atas, dapat dilihat gambaran kondisi subjective well- being pada remaja pantiasuhan, dimana dijelaskan bahwa remaja yang

(10)

terpisah dari orangtuanya atau keluarganya akan memiliki banyak tekanan psikologis karena harus mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pada beberapa penelitian juga menjelaskan bahwa usia remaja mengalami banyak merasaka ketidak bahagia atau tidak puas dengan kehidupannya karena mengalami banyak tekanan psikologis, seperti kecemasan dan depresi. Hal itu dikarenakan remaja panti asuhan mengalami perubahan sumber pemenuhan kebutuhan, adanya adaptasi dengan lingkungan panti asuhan dan membangun relasi dengan orang yang baru akan mempengaruhi subjective well-being anak (Teja, 2014).

3. Komponen-Komponen Subjective Well Being

Diener (dalam Snyder & Lopez, 2006) menyatakan bahwa subjective well-being memiliki tiga bagian penting, pertama merupakan penilaian subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman individu, kedua mencakup penilaian ketidakhadiran faktor-faktor negatif, dan ketiga penilaian kepuasan global. Berikut penjelasan ketiga komponen tersebut:

a. Life satisfaction (Kepuasan Hidup)

Menurut Diener (2000) life satisfaction diartikan sebagai penilaian individu secara global mengenai kehidupannya. Definisi lain dari life satisfaction yaitu penilaian kognitif terhadap keseluruhan hidup individu (Diener, 2003). life satisfaction dapat diungkap melalui kepuasan hidup secara global maupun kepuasan hidup dalam domain-domain yang lebih spesifik seperti kepuasan terhadap perkawinan, pendapatan, pekerjaan, kesehatan serta hubungan sosial (Argyle, 2001).

(11)

Lebih lanjut Diener (1999) mengemukakan bahwa kepuasan hidup merupakan bentuk kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman disertai dengan kegembiraan. Penilaian kepuasan tersebut didasarkan pada perbandingan antara kondisi diri tertentu dibandingkan dengan berbagai standar yang mencakup orang lain, kondisi masa lalu, tingkat aspirasi, ide dari kepuasan, kebutuhan ataupun tujuan.

b. Afek Positif

Menurut Diener (2003) yang dimaksud dengan afeksi adalah evaluasi individu mengenai kejadian-kejadian yang dialami dalam hidupnya.

Evaluasi terhadap afeksi ini terdiri atas emosi dan suasana hati. Adapun yang dimaksud dengan emosi yaitu reaksi sesaat yang berhubungan dengan suatu kejadian atau suatu rangsangan eksternal, sedangkan yang dimaksud dengan suasana hati (mood) yaitu suatu perasaan afeksi yang tidak jelas yang tidak berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu.

Afek positif atau menyenangkan merepresentasikan mood dan emosi menyenangkan, seperti kasih sayang, emosi positif atau menyenangkan adalah bagian dari subjective well being, karena emosi-emosi tersebut merefleksikan reaksi seseorang terhadap peristiwa yang menunjukkan bahwa hidup berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan (Diener, 2005).

Afeksi positif merupakan kombinasi dari dorongan dan hal-hal yang menyenangkan (Diener, 2003). Lebih lanjut dijelaskan bahwa afeksi positif ditandai dengan mengalami emosi-emosi dan suasana hati yang menyenangkan, afeksi yang menyenangkan dapat dibagi menjadi emosi

(12)

yang lebih spesifik seperti kesenangan (joy), kasih sayang (affection), dan rasa bangga (pride). Afek positif yang dominan dapat direfleksikan sebagai kesejahteraan subjektif yang tinggi.

c. Afek Negatif

Sama halnya dengan afek positif, afek negatif juga merupakan suatu bentuk penggambaran pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu.

Afek negatif merupakan kombinasi dari dorongan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut terdiri dari emosi-emosi negatif seperti kecemasan, kemarahan dan ketakutan (Diener, 2005). Afek negative atau afek tidak menyenangkan merepresentasikan mood yang dialami seseorang sebagai reaksinya terhadap kehidupan, kesehatan, keadaan dan peristiwa yang mereka alami (Diener, 2005).

Diener (2003) menyebutkan rendahnya afek negatif pada diri individu ditandai dengan jarangnya individu merasakan emosi-emosi dan suasana hati yang menyenangkan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa afeksi yang tidak menyenangkan terdiri dari berbagai emosi-emosi tertentu, seperti rasa malu, rasa bersalah, kesedihan, penyesalan dan kemarahan.

Beberapa emosi negative memang diharapkan terjadi dalam hidup dan dibutuhkan agar seseorang dapat hidup secara efektif. Namun emosi yang terjadi secara berkepanjangan mengindikasikan bahwa seseorang percaya bahwa hidupnya berjalan dengan buruk. Karena menurut (Diener, 2005) pengalaman seseorang yang merasakan emosi negative yang

(13)

berkepanjangan dapat menganggu seseorang dalam bertingkah laku secara efektif dalam kehidupan sehari-hari dan mengarahkan pada masalah psikologis seperti depresi bahkan bunuh diri.

Diener (1994) menyatakan ada dua komponen umum dalam subjective well-being, yaitu dimensi kognitif dan dimensi afektif. Dimensi kognitif diidentifikasikan sebagai kepuasan hidup dan dimensi afektif terdiri dari afek menyenangkan dan afek tidak menyenangkan yang dikenal dengan afek positif dan afek negatif.

a. Dimensi Kognitif

Diener (1994) menyatakan bahwa subjective well-being terdiri dari dua komponen yang terpisah, yaitu dimensi kognitif dan dimensi afektif.

Dimensi kognitif direpresentasikan dalam bentuk kepuasan hidup secara global/umum (lebih dikenal dengan kepuasan hidup) dan kepuasan terhadap hal yang lebih spesifik seperti pekerjaan (work satisfaction), keluarga dst. Dalam hal ini, peneliti hanya menjelaskan tentang kepuasan hidup secara global/umum. Kepuasan hidup (life satisfaction) merupakan bagian dari dimensi kognitif dari subjective well-being. Life satisfaction merupakan penilaian kognitif seseorang mengenai kehidupannya, apakah kehidupan yanng dijalaninya berjalan dengan baik. Ini merupakan perasaan cukup, damai, dan puas dari kesenjangan antara keinginan dan kebutuhan dengan pencapaian dan pemenuhan, Diener (1994).

Diener (1994) mengatakan bahwa komponen kognitif ini merupakan kesenjangan yang dipersepsikan antara keinginan dan pencapaiannya

(14)

apakah terpenuhi atau tidak. Dimensi kognitif subjective well-being ini juga mencakup area kepuasan/domain satisfaction individu di berbagai bidang kehidupannya, seperti bidang yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, kelompok teman sebaya, kesehatan, keuangan, pekerjaan, dan waktu luang, artinya dimensi ini memiliki gambaran yang multifacet.

(Andrews & Withey dalam Diener, 1994) juga menyatakan bahwa domain yang paling dekat dan mendesak dalam kehidupan individu merupakan domain yang paling mempengaruhi Subjective well being individu tersebut.

b. Dimensi Afektif

Dimensi afektif merupakan perubahan neuropsikologikal yang sering dialami sebagai perasaan, mood atau emosi dan dapat diorganisasikan ke dalam bentuk paling tidak menjadi dua dimensi yaitu valensi dan arousal (Tsai, 2007). Mood dan emosi yang biasa dikenal dengan afek, merepresentasikan evaluasi individu terhadap setiap peristiwa yang ada di dalam hidupnya (Diener dkk, 1999). Terkit afek menyenangkan dan afek tidak menyenangkan membentuk dua faktor yang independen dan harus diukur secara terpisah (Bradburn & Caplovitz dalam Diener dkk, 1999).

Selain itu, Watson & Tellegen (1988), juga menyatakan sebuah landasan model dua faktor yang biasa disebut dengan afek positif dan afek negatif.

a. Afek Positif

Afek positif merupakan refleksi dari perasaan antusias, aktif, dan siaga. Afek positif yang tinggi berupa energi yang tinggi, konsentrasi

(15)

penuh, dan pengalaman yang menyenangkan, sebaliknya afek positif yang rendah bercirikan kesedihan dan amarah (Snyder & Lopez, 2006). Selain itu, juga dijelaskan bahwa afek positif meliputi simptom-simptom antusiasme, keceriaan, dan kebahagiaan hidup.

b. Afek Negatif

Afek negatif merupakan dimensi umum dari keadaan yang menyedihkan dan tidak menyenangkan yang memunculkan berbagai macam mood yang tidak disukai seperti marah, merasa bersalah, takut, dan tegang, afek negatif yang rendah akan memunculkan rasa ketenangan dan ketentraman. Afek negatif merupakan kehadiran simptom yang menyatakan bahwa hidup tidak menyenangkan (Snyder

& Lopez, 2006). Dimensi afektif menekankan pada pengalaman emosi menyenangkan baik yang pada saat ini sering dialami oleh seseorang ataupun hanya berdasarkan penilaiannya.

Keseimbangan tingkat afek merujuk kepada banyaknya perasaan positif yang dialami dibandingkan dengan perasaan negatif (Diener, 2003).

Kepuasan hidup dan banyaknya afek positif dan negatif dapat saling berkaitan, hal ini disebabkan oleh penilaian seseorang terhadap kegiatan- kegiatan yang dilakukan, masalah, dan kejadian-kejadian dalam hidupnya.

Sekalipun kedua hal ini berkaitan, namun keduannya berbeda, kepuasan hidup merupakan penilaian mengenai hidup seseorang secara menyeluruh, sedangkan afek positif dan negatif terdiri dari reaksi-reaksi berkelanjutan terhadap kejadian-kejadian yang dialami (Diener, 2003).

(16)

Indikator tinggi rendahnya subjective well-being menurut Diener dkk (2003) dapat dilihat dari kombinasi afek positif dan kepuasan hidup secara umum serta tidak adanya afek negatif. Untuk mengukur tinggi rendahnya subjective well-being yang dimiliki, maka dapat menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Eryilmaz (2010), yaitu:

Subjective well being merupakan tolak ukur dari kepuasan hidup ditambah dengan afek positif dan dikurangi dengan afek negative.

Seseorang dikatakan mempunyai subjective well being yang tinggi jika orang tersebut merasakan kepuasan dalam hidup, sering merasakan afek positif dan jarang merasakan afek negative.

Positive affect adalah kombinasi dari dorongan dan hal-hal yang menyenangkan (pleasanness). Positive affect ditanda dengan : adanya energi yang tinggi, penuh konsentrasi dan kenyamanan, adanya emosi- emosi seperti kesenangan (enjoy), kasih sayang (affection) dan rasa bangga, Diener (2003). Memiliki life satisfaction atau kepuasan hidup ditandai dengan: adanya internal locus control, ekstrovert (terbuka pada lingungan sosial) memiliki motivasi internal yang tigggi, memiliki self efficacy, self reliance, (greenspoon & Saklofske dalam Nisfiannor dkk, 2004). Selain itu ditandai dengan: adanya perasaan mampu memahami sesuatu dan optimistik, (Ben-Zur dalam Nisfiannor dkk, 2004). Selain itu, ditandai dengan adanya kemampuan menghadapi situasi stressfull dengan positif kemudian mengarahkannya pada respon emosional yang positif dan

Subjective well-being = (positive affect + life satisfaction) - negative affect

(17)

kemampuan coping yang efektif, mampu menyelesaikan masalah dengan baik, menunjukkan prestasi kerja yang baik, memiliki hubungan kerja yang baik, memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan pemaaf, (Park dalam Nisfiannor dkk, 2004). Negative affect atau Afek negatif adalah kombinasi hal-hal yang tidak menyenangkan yang terdiri dari emosi seperti kecemasan, kemarahan dan ketakutan (Diener, 2003), selain itu juga ditandai dengan munculnya perasaan malu, rasa bersalah, kesedihan, keletihan, kemarahan dan kekecewaaan (Park dalam Nisfiannor dkk, 2004) Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa subjective well-being memiliki tiga bagian penting, pertama merupakan penilaian subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman individu, kedua mencakup penilaian ketidakhadiran faktor-faktor negatif, dan ketiga penilaian kepuasan global. Hal tersebut dapat dilihat dari dua dimensi yaitu dimensi kognitif dan dimensi afektif. Dimensi kognitif diidentifikasikan sebagai kepuasan hidup individu. Dimensi afektif terdiri dari afek positif dan afek negatif. Individu yang memiki subjective well- being tinggi ditandai dengan tingginya level afeksi positif, rendahnya level afeksi negatif yang dirasakan serta adanya kepuasan hidup (life satisfaction). Sebaliknya individu dengan subjective well-being yang rendah ditandai dengan rendahnya level afeksi positif, tingginya level afeksi negatif dan ketidakhadirnya kepuasan hidup pada diri individu.

(18)

4. Teori pendekatan subjective well-being

Subjective well-being merupakan persepsi individu terhadap pengalaman hidupnya yang terdiri dari evaluasi kognitif dan afeksi.

Terdapat dua pendekatan teori yang dapat digunakan untuk mempersepsikan subjective well- being bagi diri individu (Ariati, 2010), yaitu:

a. Bottom Up Theories

Teori ini memandang bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup yang dirasakan dan dialami individu tergantung dari banyaknya kebahagiaan kecil serta kumpulan peristiwa-peristiwa bahagia. Secara khusus, subjective well-being merupakan penjumlahan dari pengalaman- pengalaman positif yang terjadi dalam kehidupan individu. Semakin banyak peristiwa menyenangkan yang terjadi, maka semakin bahagia dan puas pula individu tersebut.

b. Top Down Theories

Teori ini memandang bahwa subjective well-being yang dialami individu tergantung dari cara individu tersebut mengevaluasi dan menginterpretasi suatu peristiwa atau kejadian dalam sudut pandang yang positif. Perspektif teori ini menganggap bahwa individulah yang menentukan atau memegang peranan apakah peristiwa yang dialaminya akan menciptakan kesejahteraan baginya atau tidak.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua teori untuk mempersepsikan subjective well-being pada diri individu, yang

(19)

pertama yaitu berdasarkan kumpulan-kumpulan pengalaman positif yang menyenangkan dan yang kedua berdasarkan bagaimana cara individu itu sendiri mempersepsikan peristiwa yang dialaminya.

5. Upaya untuk Meningkatkan Subjective Well-Being

Ada beberapa tritment psikologi baik berupa terapi maupun bentuk latihan yang dapat digunakan untuk meningkatkan subjective well-being menurut Germer, Siegel, & Fulton, (2005), Miller (2007), Emmons &

McCullough (2003), dapat dilihat uraiannya di bawah ini:

a. Mindfulness Based Stress Therapy (MBST).

Pendekatan ini membantu individu agar memiliki kesadaran dan tidak bersikap reaktif akan apa yang terjadi saat ini. praktek mindfulness adalah sebuah cara untuk memaknai peristiwa baik positif, negatif, maupun netral sehingga mampu mengatasi perasaan tertekan dan menimbulkan kesejahteraan diri (Germer, Siegel, & Fulton, 2005). Perasaan tertekan tersebut merupakan afek negatif sebagai ciri rendahnya subjective well- being yang dimiliki, artinya dengan praktek mindfulness dapat membantu mengatasi perasaan tertekan menjadi perasaan yang lebih bahagia.

Selain itu, Kabat-Zinn (2003) juga menegaskan bahwa praktek mindfulness dapat meningkatkan regulasi emosi. Artinya dengan melakukan latihan mindfulness, remaja akan memiliki kesadaran yang benar terkait peristiwa yang dapat menimbulkan respon terhadap munculnya emosi negatif mereka. Kesadaran dan pemahaman yang benar terhadap peristiwa membantu mengurangi reaksi yang bersifat emosional dan spontan terhadap

(20)

peristiwa yang memungkinkan akan memunculkan emosi negatif (Kabat- Zinn, 2003).

Dengan latihan mindfulness setiap hari, akan dapat membantu individu menstabilkan fungsi-fungsi syarafnya. Efeknya akan mendatangkan perasaan tenang dan relaks sehingga individu dapat dengan stabil melihat realitas secara obyektif dan rasional, tidak mudah terputus dengan realitas dan terombang ambing dengan fantasi. Perasaan ini akan diperoleh ketika melakukan praktek mindfulness yaitu pada tahap melakukan pernafasan secara teratur sampai mencapai keadaan alpha. Gelombang otak alpha yaitu frekuensi gelombang otak yang rendah yang akan meningkatkan keadaan relaks dan terbebas dari tekanan. Pada kondisi ini, individu akan lebih menyadari keberadaannya, dapat menerima kondisinya, dapat mengendalikan dirinya, dan mampu untuk berfikir positif.

b. Forgiveness (Pemaafan)

Miller dkk (2007) menyatakan bahwa dengan pemaafan, seseorang belajar meningkatkan pemahaman diri terhadap orang lain dan dapat membebaskan diri dari dominasi pikiran sehingga perasaan negatif menjadi lebih baik dan perilaku negatif menjadi lebih positif. Artinya dengan terapi pemaafan dapat meningkatkan afek positif dan meminimalkan afek negatif serta membantu meningkatkan kepuasan hidup.

Enright (dalam Miller, 2007) mengembangkan empat fase pemaafan yaitu: tahap mengungkap dan menyadari kemarahan, tahap menyadari pemaafan sebagai salah satu pilihan untuk memperbaiki hubungan, tahap

(21)

mengambil perspektif lain untuk memahami kondisi orang lain, serta tahap penemuan makna dari penderitaan yang dialami. Sementara (Emmons &

McCullough, 2003) menyebutkan bahwa terapi pemaafan merupakan suatu motivasi prososial terhadap orang lain seperti hilangnya hasrat untuk menghindari, membahayakan atau membalas orang yang pernah melukai serta meningkatnya hasrat untuk berperilaku positif. Hal ini kemudian menjadi dasar pemaafan merupakan salah satu koping positif yang dapat digunakan seseorang untuk mengatasi kekecewaan dan rasa sakit yang difokuskan kepada pikiran, emosi dan tindakan (Miller, 2007). Seseorang yang telah memaafkan dapat terhindar dari emosi dan fikiran negatif (subjective well-being rendah)

c. Gratitude

Syukur dalam bahasa Inggris disebut gratitude. Kata gratitude diambil dari akar latin gratia yang berarti nikmat, kenikmatan, atau kebersyukuran.

Semua kata yang terbentuk dalam akar latin ini berhubungan dengan kebaikan, kedermawanan, pemberian, keindahan dari memberi dan menerima, atau mendapatkan sesuatu tanpa tujuan apapun (Pruyser dalam Emmons & McCullough, 2003).

Latihan kebersyukuran atau terapi syukur telah banyak digunakan sebagai pendekatan psikologis untuk membantu individu. Hal itu dikarenakan, bersyukur merupakan salah satu aspek penting dalam penyembuhan emosi pasca peristiwa menyakitkan (Emmons &

McCullough, 2003). Individu yang selalu merasa puas dan bahagia atas apa

(22)

yang diperolehnya merupakan individu yang bersyukur. Penelitian yang dilakukan oleh (Emmons & McCullough, 2003) menyebutkan bawa rasa syukur dapat memunculkan emosi positif atau perasaan bahagia. Dengan cara menghitung berkah yang didapat setiap hari dalam sebuah daily report artinya dapat digunakan untuk meningkatkan subjective well-being rendah.

Hal tersebut dilakukan untuk menyadarkan individu guna mensyukuri segala sesuatu termasuk hal yang terkecil maupun kondisi yang kurang menyenangkan.

Efek psikologis yang ditimbulkan dari rasa syukur adalah memberikan rasa optimis, percaya diri dan selalu berpikir positif. Rasa syukur menjadikan hidup manusia tenang, tanpa adanya kekhawatiran ataupun ketakutan dalam diri yang mencermikan tingginya subjective well-being yang dimiliki. Sedangkan individu yang lupa bersyukur, muncul rasa kesal, bersalah, tidak mampu, putus asa dan kehampaan batin tingginya subjective well-being yang dimiliki.

Ada berbagai macam teknik atau upaya yang dapat meningkatkan subjective well-being seperti yang telah dijelaskan di atas, yaitu terapi pemaafan, latihan kebersyukuran dan meditasi mindfulness. Namun dari beberapa bentuk pendekatan intervensi tersebut, menurut peneliti, latihan mindfulness lebih efektif diterapkan pada remaja panti asuhan yang memiliki subjective well-being rendah dari pada pendekatan yang lainnya karena mindfulness menurut (Haworth, 1997) telah mencakup aspek kebersyukuran, pemaafan dan control diri. Juga memiliki cakupan yang

(23)

sangat luas karena telah melibatkan konsep kognisi, afektif, dan intrapersonal (Davis, 2007), selain itu, penggunaannya juga lebih sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri oleh setiap remaja dari segala usia.

Pemilihan latihan mindfulness ini juga tidak lepas dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh (Demarzo dkk, 2015) telah menunjukkan bahwa ada korelasi negatif yang sangat kuat antara kesadaran dengan tingkat stress dan korelasi positif dengan subjective well- being pada perawatan di Brasil. Kelebihan tersebut yang membuat peneliti memilih latihan mindfulness dalam penelitian ini.

B. Latihan Mindfulness

1. Pengertian Latihan Mindfulness

Secara sederhana latihan dapat dirumuskan sebagai usaha dan segala upaya untuk meningkatkan kondisi fisik secara menyeluruh dengan proses yang sistematis dan berulang-ulang dengan kian hari kian bertambah jumlah beban latihan, waktu atau intensitasnya. Sedangkan menurut (Bompa dalam Hariono, 2006) menjelaskan latihan sebagai upaya seseorang dalam meningkatkan perbaikan organisme dan fungsinya untuk mengoptimalkan prestasi dan penampilan. Pada prinsipnya latihan merupakan proses ke arah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan kualitas fisik, kemampuan fungsional peralatan tubuh dan kualitas anak latih. Dapat disimpulkan bahwa latihan merupakan : sebuah proses yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang untuk meningkatkan kualitas fisik, prestasi dan penampilan.

(24)

Sedangkan mindfulness bukanlah hal baru dalam sejarah peradaban manusia, menurut Iskandar & Novianto (dalam Prasetyo, 2014) praktek mindfulness telah dikenal bahkan ribuan tahun yang lalu atau dikenal dengan tradisi yang telah ada sejak adanya manusia di muka bumi ini. Meditasi mindfulness merupakan tradisi yang telah dipraktekkan sejak pada peradaban tinggi di Mesir, China, peradaban Aztec di Amerika Selatan dan juga di India.

Seorang tokoh spiritual India yang dikenal dengan nama Pantajali (Prasetyo, 2014) telah memiliki pemahaman terhadap mindfulness sejak ribuan tahun yang lalu. Menurutnya, praktek mindfulness adalah proses aktualisasi diri (self realization) dimana pada waktu meditasi manusia mengalami kesadaran penuh sebagai bagian dari sang Maha Pencipta. Mindfulness sering disamakan dengan kesadaran (awarness), pengalaman kekinian (present experince) dan (acceptance) atau penerimaan diri (Segell, 2005). Secara tradisional meditasi mindfulness juga digunakan untuk mencapai transendensi diri.

Kabet-Zinn (dalam Stanley dkk, 2006) menyatakan bahwa mindfulness merupakan peningkatan kesadaran dengan berfokus pada pengalaman masa kini (present-moment awareness) tanpa memberikan penilaian. Goleman &

Schwartz (dalam Kabat-Zinn, 1982) menyatakan bahwa latihan mindfulness bukan berkaitan dengan “keberadaan di manapun untuk memperbaiki sesuatu” akan tetapi merupakan pengalaman terhadap peristiwa dari waktu ke waktu. Kabat-Zinn, (2003) mendefinisikan mindfulness sebagai usaha memberikan perhatian melalui beberapa cara yaitu dengan tujuan, kekinian

(25)

dan tidak ada penilian terhadapnya. Stanley dkk (2006) mendeskrepsikan mindfulness sebagai kombinsi perhatian terhadap kesadaran tentang pentingnya peristiwa kekinian baik kejadian internal maupun eksternal.

Aspek terpenting dalam mindfulness adalah kesadaran terhadap peristiwa yang terjadi tanpa suatu pertimbangan dan harapan terhadap hasil dan tujuan.

Artinya praktek mindfuless ini terjadi dalam kondisi yang bebas dari gangguan fikiran-fikiran dan emosi.

Menurut Salmon dkk (2004), mindfulness adalah pembelajaran untuk memfokuskan perhatian terhadap pengalaman kekinian dengan tidak melakukan kritik terhadapnya. Perhatian terhadap peristiwa kekinian merupakan alternative menurunkan atau mengatasi kekhawatiran terhadap peristiwa yang sudah terjadi dan peristiwa yang akan datang Salmon dkk (2004). Latihan mindfulness juga merupakan salah satu cara untuk menyadari perilaku, kebiasaan dan reaksi sendiri serta sangat bermanfaat bagi pemberian pelayanan kesehatan untuk lebih memahami pasien dan bermanfaat dalam memudahkan hubungan dan komunikasi dalam situasi medis yang komplek dan sulit (Connlely, 2005).

Bishop dkk (2004) menyatakan kesadaran penuh merupakan representasi dari meningkatnya atau dipertahankannya keadaan sadar terjaga dan perhatian akan peristiwa pengalaman di sini-saat ini. Kesadaran penuh memiliki dua komponen. Komponen pertama, keadaan sadar terjaga dan perhatian yaitu bahwa mindfulness dimulai ketika keadaan sadar terjaga dibawa kepada pengalaman di sini-saat ini, diobservasi dan diperhatikan perubahan

(26)

pemikiran, perasaan, dan sensasi sehingga mindfulness merupakan pengalaman langsung. peristiwa yang terjadi diantara tubuh dan pikiran.

Kedua, penerimaan terjadi ketika individu hanya memperhatikan setiap pemikiran, perasaan, dan sensasi sebagai pengalaman terbuka akan realitas saat ini-di sini yang muncul dalam arus kesadaran.

Brown & Ryan (2003) mempertegas bahwa latihan mindfulness didasari oleh meningkatnya keadaan sadar terjaga (awareness) yang terus-menerus memonitor keadaan diri dan lingkungan luar serta adanya perhatian (attention) yang memusat sehingga menghasilkan kesadaran penuh akan pengalamannya secara lebih terbuka. Lebih lanjut dijelaskan bahwa keadaan sadar terjaga adalah pengalaman subjektif dari phenomena internal dan eksternal yang merupakan apersepsi dan persepsi murni dari semua realitas peristiwa yang terjadi setiap saat. Perhatian merupakan pemusatan keadaan sadar terjaga untuk memperjelas aspek tertentu dari realitas (Brown & Ryan, 2003).

Mindfulness dimulai dengan membawa keadaan sadar terjaga pada pengalaman di sini-saat ini, dengan meningkatkan fokus perhatian pada perubaan yang terjadi dalam pikiran, perasaan dan sensasi diamati dari waktu ke waktu (Kabbat-Zinn dalam Davis dkk, 2007). Menurut Fringer (2002) kebahagiaan seseorang yang beragama akan didapatkan jika hal-hal yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bagian disiplin spiritual jika bertindak dengan hati yang sadar (mindfulness) dan terbuka maka mata hati juga akan terlihat menjadi terang dan saat itulah seluruh

(27)

tubuh dipenuhi cahaya (tercerahkan). Mindfulness melatih remaja untuk mendengar dengan telinga hati, melihat dengan mata hati (Fringer, 2002).

Artinya, remaja dilatih untuk selalu bekerja dengan hati, termasuk menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri, pikiran, rencana dan kekhawatiran, senantiasa berpasrah pada Tuhannya. Dengan demikian mindfulness memiliki cakupan yang sangat luas, bukan saja terkait dengan personal, sosial namun juga terkait dengan Tuhan (Ilahi).

Dalam latihan berbasis mindfulness klien dilatih untuk hanya melakukan pengamatan, menyadari, mengetahui, dan menerima aliran pengalaman dari waktu ke waktu, membiarkan pengalaman itu bergulir apa adanya, tidak masuk dan terlibat di dalam pengalaman itu, tidak melakukan pembatasan pada bentuk pikiran, perasaan dan perilaku tertentu (Hall, 1998). Sejalan dengan itu, (Germer, 2005) juga menjelaskan bahwa praktek mindfulness (kesadaran penuh) merupakan suatu bentuk intervensi yang melatih individu meningkatkan kesadaran dan mendapatkan insight tertinggi dengan mengenalkan keterbukaan terhadap seluruh pengalaman.

Sebagaimana dijelaskan oleh (Albeniz & Holmes, 2000) bahwa dalam proses ini mengunakan fokus perhatian sebagai jangkar yang membawa subjek kembali secara konstan pasa saat ini, menjauhi analisis kognitif atau fantasi yang berkaitan dengan isi kesadaran dan meningkatkan toleransi dan relaksasi proses berfikir tambahan. Latihan mindfulness berbasis kesadaran penuh merupakan serangkaian kegiatan berupa pengontrolan dan pengelolaan stres dengan cara meditasi pikiran yang bertujuan untuk melatih pemusatan

(28)

perhatian yang terdiri dari kombinasi dimensi afektif, kognitif, moral, intrapersonal dan interpersonal.

Keefektifan dan manfaat latihan mindfulness dalam konteks klinis terletak pada kemampuan kesadaran memutus response set yang mengendalikan diri individu (Brown dan Ryan, 2003). Response set sendiri dijelaskan sebagai pola asosiasi terkondisi yang memfasilitasi pola perilaku, pola pikir, dan respon individu terhadap stimulus atau situasi tertentu. Response set dapat diaktifkan baik oleh stimuli internal maupun eksternal, seperti sugesti dan beragam sinyal yang berasal dari lingkungan (Brown & Ryan, 2003).

Dinamika latihan mindfulness mempengaruhi subjective well-being dapat dilihat dari perspektif mindfulness dimana pikiran mempengaruhi emosi yang kuat terkait fenomena mental yang tidak benar-benar perlu ditanggapi, karena emosi-emosi tersebut hanya bersifat sementara, tidak memiliki hubungan yang jelas dengan realitas eksternal (Blackledge & Hayes, 2001). Mindfulness mengarahkan untuk sepenuhnya berhubungan dengan apa yang terjadi pada saat ini, baik secara internal (tubuh-pikiran-emosi) dan lingkungan eksternal (Shapiro, 2006). Ketika kesadaran fokus pada saat ini, di sini dan sekarang maka individu tidak akan mudah dipengaruhi oleh afek negatif dan emosi- emosi negatifnya karena menurut (Brown & Ryan, 2003) individu yang memiliki kesadaran penuh akan mampu memutus response set yang mengendalikan dirinya, response set dapat berupa stimuli internal maupun eksternal yang berarti berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan dari luar

(29)

yang memunculkan perasaan dan emosi negatif, hal itu dapat dikendalikan dengan kesadaran (Brown & Ryan, 2003).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa latihan mindfulness sebuah proses memfokuskan perhatian dengan penuh kesadaran (awarness), pengalaman kekinian (present experince) dan penerimaan diri (acceptance) tanpa penilian, kritik terhadap apapun yang muncul dalam pikiran dan perasaan namun hanya mengamatan, menyadari, mengetahui, dan menerima aliran pengalaman dari waktu ke waktu, membiarkan pengalaman itu bergulir apa adanya, dan tidak masuk dan terlibat di dalam pengalaman itu.

2. Komponen dan Kualitas yang harus Dipenuhi dalam Latihan Mindfulness.

Kabat-Zinn (Davis, 2007) mengungkapkan bahwa ada 3 aspek utama atau komponen dasar dalam praktek mindfulness yaitu: (a). Kesadaran tertinggi (conciouness), (b). Pengalaman saat ini (Present experience) dan (c).

Penerimaan (Acceptance). Menurut (Kabat-Zinn, dalam Davis, 2007) mindfulness merupakan latihan untuk fokus pada kesadaran terhadap pengalaman dari waktu ke waktu yang dilakukan dengan sengaja.

Mindfulness dapat berperan dalam mengatasi gejala-gejala fisik dan psikis yang didasari pada beberapa kualitas yang harus dipenuhi.

Selain yang dikemukakan oleh Kabbat-Zinn di atas, menurut Garmer, (2005); Davis dkk (2007) bahwa ada 8 kualitas yang harus dipenuhi dalam proses mindfulness, yaitu :

(30)

a. Nonconceptual yaitu membangun kesadaran tanpa proses pemikiran.

Dalam proses mindfulness mendalam melibatkan pemusatan pikiran pada setiap perisiwa dari seluruh pengalaman hidup, tanpa memperdulikan apakah pengalaman tersebut hebat atau biasa-biasa saja.

b. Present-centered (Fokus pada peristiwa sekarang)

Dalam proses ini, subjek dilatih memiliki sikap perhatian, penghargaan terbuka terhadap seluruh pengalaman hidup yang dialaminya saat ini (present-experience), serta dilatih untuk fokus dan memberikan perhatian sepenuhnya terhadap aktifitas yang dijalaninya saat ini tanpa sikap reaktif dan tidak terjebak pada masa lalu maupun masa yang akan datang.

c. Nonjudgement (Tanpa penilaian)

Dalam proses ini, klien dilatih untuk tidak memihak, mempertahankan diri atau menolak peristiwa yang dihadapi, subjek hanya menjadi pengamat.

d. Intentional (Dilakukan dengan sengaja)

Fokus pada kesengajaan atas pengalaman dari waktu ke waktu dengan kesadaran tertinggi (conciousness) untuk mencapai kebahagiaan dan menurunkan penderitaan seperti stress kecemasan dan depresi.

e. Participant observation (Observasi partisipan)

Proses mindfulness yang mengajarkan subjek untuk mengobservasi keadaan mentalnya secara positif namun tidak menghayati (Davis &

Brown, 2007).

(31)

f. Nonverbal

Praktek yang dilakukan tanpa ucapan, artinya praktek mindfulness tidak dapat ditangkap dengan ucapan atau perkataan karena kesadaran terjadi sebelum muncul perkataan dalam pikiran (Garmer, 2005). Dalam proses ini juga dikataan sebagai pengalaman batin untuk mencapai sebuah pencerahan (Fringer, 2002).

g. Exploratory (Eksporasi)

Merupakan proses pengamatan dan pemahaman persepsi tanpa penilaian apapun (Garmer, 2005).

h. Liberating (Membebaskan)

Keadaan sadar yang membebaskan dan melepaskan segala penderitaan dengan terkondisikan, individu dilatih mengolah kesadaran mengenai pengalaman yang dirasakan sekarang dengan sikap yang terbuka dan rasa keingintahuan yang besar, serta membiarkan pengalaman tersebut hadir sebagaimana adanya serta melepaskan segala keinginan atau kebutuhan untuk menilai atau mengubah pengalaman tersebut (Davis dkk, 2007).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan komponen atau aspek dalam latihan mindfulness melingkupi kesadaan tertinggi (conciousness), pengalaman saat ini (present experience) dan penerimaan (acceptance). Sedangkan kualitas yang harus dipenuhi dalam latihan mindfulness yaitu : Nonconceptual, Present-centered (fokus pada peristiwa sekarang), nonjudgement (tanpa penilaian), intentional (dilakukan dengan

(32)

sengaja), partiticant observation (observasi partisipan), nonverbal, exploratory (eksporasi), liberating (membebaskan).

3. Tahapan dan Prosedur Latihan Mindfulness.

Berdasarkan konstruk mindfulness yang disampaikan (Kabat-Zinn, 2003) di atas dalam Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) kemudian oleh Santorelli (2014) diimplementasikan dalam beberapa teknik latihan mindffulness, yaitu:

a. “Meditasi Pernapasan” (Breathing Meditation)

Teknik ini merupakan latihan dasar dari teknik mindfulness. Subjek dilatih untuk memusatkan perhatian terhadap pernapasan. Teknik menyadari pernapasan melatih subjek untuk fokus hadir di sini dan sekarang. Sehingga subjek dapat memulai fokus dan berkonsentrasi pada hanya pada nafas sebelum masuk pada tahap berikutnya. Proses bernafas merupakan pengalaman manusia paling alami serta terjadi di saat ini. Teknik pernapasan dapat melatih subjek untuk hadir di saat ini karena tidak terikat kenangan di masa lalu atau rencana-rencana di masa depan.

b. “Menyadari sensasi tubuh” (Body Sensation).

Teknik ini mengajarkan subjek untuk fokus atau memberi perhatian terhadap sensasi tubuh dari telapak kaki hingga kepala. Saat fokus terhadap sensasi tubuh, perhatikan sensasi tubuh yang halus seperti gatal atau kesemutan, suara, bau, rasa frustrasi sukacita, marah, membiarkannya hadir tanpa penghakiman (Hall, 1998). Dalam tahap ini, pikiran yang menjadi sumber cemas atau stres dapat dialihkan dengan menerima sensasi yang

(33)

dirasakan. Pada tahap ini subjek juga menjadi lebih peka terhadap situasi saat ini, yaitu menyadari sensasi tubuh yang muncul. Subjek dalam posisi berbaring atau duduk di dalam posisi yang nyaman sambil memperhatikan sensasi yang dirasakan dari tubuh.

c. “Pendeteksian Tubuh dengan Sikap Penghargaan” (Compassionate Body Scan).

Compassionate body scan bertujuan untuk menumbuhkan sikap menghargai terhadap diri sendiri dan orang lain, mengurangi perasaan menderita serta untuk mencapai perasaan nyaman dan sejahtera pada setiap situasi dan kondisi. Sebelum latihan, subjek diminta untuk melakukan pengenalan emosi dengan cara memikirkan emosi tersebut dan mengekspresikannya, setelah itu subjek akan beralih pada penerimaan atas sensasi apapun yang muncul tanpa penilaian, analisis dan berfikir. Pada tahap ini, peserta hanya fokus pada sensasi yang muncul, membiarkannya dan menerimanya.

d. “Membuka Kesadaran dan Menerima Pikiran dan Perasaan”

(Open Awareness & Accepting Minds and Thoughts).

Teknik ini bertujuan untuk menerima pikiran dan perasaan dan meningkatkan kemampuan empati, karena dalam latihan ini individu belajar untuk hadir di sini dan sekarang, tidak memberikan penilaian apapun terhadap setiap pengalaman yang dirasakan, menghadirkan dan mendengarkan apapun yang muncul, serta mempertahankan sikap fokus dan relaks.

(34)

Pada tahapan ini, subjek dilatih membuka kesadaran dan menerima fikiran dan perasaan apapun yang muncul, dimana sebelumnya subjek telah dilatih mengenal emosi dan pikiran dari pendeteksian tubuh, kemudian kesadaran sujek dibawah pada tahap membuka kesadaran dan menerima, serta berdamai dengan bentuk pikiran atau perasaan apapun secara sadar, relaks dan fokus pada saat ini dan di sini.

e. “Melepaskan Hasrat” (Wanting Release).

Melepaskan Hasrat berfungsi untuk melatih peserta lebih menyadari hasrat (wanting) yang mempengaruhi pikiran, perasaan dan perilaku. Hasrat adalah keinginan kuat untuk mencapai tujuan yang dapat mengakibatkan individu menjadi kecanduan (habit), bergairah dan bernafsu. Hasrat dapat terakumulasi menjadi tamak karena hasrat tidak pernah akan terpuaskan sehingga apabila seseorang telah dapat memenuhi suatu hasrat maka akan diganti oleh hasrat lain yang lebih besar.

Pada tahap ini, subjek berada pada kesadaran yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya, dimana subjek diminta melepas pesarasaan, emosi, fikiran apapun yang sebelumnya ada dan disadari. Subjek akan dilatih untuk tidak lekat pada perasaan apapun, baik emosi negatif ataupun emosi postif dengan landasan berfikir bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup akan berlalu dan tidak ada yang tetap. Dengan melepas hasrat, subjek tidak akan mudah dipengaruhi oleh pikiran dan peristiwa apapun yang muncul, pada tingkatan ini subjek berada pada tingkatan ihlas, memaafkan dan pasrah (Silarus, 2015).

(35)

f. “Mindfulness dalam Kehidupan Sehari-Hari” (Mindfulness is a Way of Life).

Dalam sesi ini juga peserta mampu menerima semua objek sensoris, sensasi tubuh, perasaan dan pikiran yang muncul pada dirinya saat melakukan meditasi sadar diri. Sesi ini diawali dengan pembelajaran terhadap lembar instruksi latihan meditasi mindfulness. Kemudian sesi dilakukan dengan praktek meditasi mindfulness dengan panduan dari fasilitator. Agar peserta lebih mahir dalam melakukan meditasi mindfulness, fasilitator meminta peserta membuat kelompok guna berlatih memberikan instruksi kepada teman yang lainnya.

Menurut Brahm (2007) tahapan dalam latihan mindfulness terbagi dalam:

a. Tahapan kesadaran saat ini

Kesadaran dimana individu tidak lagi terfokus pada masa lalu, pada emosi masa lalu yang dianggap sebagai „peti mati‟ oleh Ajahn Brahm. Hal ini dikarenakan atas dasar bahwa pikiran itu begitu mengagumkan dan aneh, dengan begitu fikiran dapat melakukan hal-hal yang mengagumkan saat ini tidak terkait dengan masa lampau ataupun masa depan.

b. Tahapan kesadaran hening saat ini

Keheningan yang dimaksud adalah keheningan tanpa komentar, menjernihkan perbedaan antara mengalami kesadaran hening akan momen saat ini dan memikirkan tentang hal itu. Salah satu metode megatasi

(36)

komentar dalam hati adalah mengembangkan kesadaran saat ini yang semakin murni. Dengan mengamati momen saat ini dan begitu dekat dengannya maka pikiran akan semakin sadar pada momen saat ini, tidak memiliki waktu untuk berkomentar terhadap apapun yang tidak berhubungan dengan saat ini.

c. Tahapan kesadaran hening saat ini dan pada nafas

Dalam tahapan ini, kesadaran hening saat ini memilih pada satu hal saja, satu hal itu bisa berupa pengalaman bernafas, gagasan tentang cinta kasih, lingkaran warna yang divisualisasikan dalam fikiran atau beberapa titik pusat kesadaran lainnya.

d. Tahapan perhatian sinambung penuh pada nafas

Tahap ini terdiri dari menyingkir dari jalan yaitu : mengalami setiap bagian dari masing-masing penarikan dan penghembusan nafas secara sinambung selama melakukan pernafasan berturut-turut. Lalu setelah itu dilakukan dengan permulaan nafas dengan indah, tahap ini bertujuan untuk menyelami sukacita.

e. Perhatian sinambung penuh pada nafas yang indah

Tahap ini biasanya akan mengalir secara murni dari tahap sebelumnya.

Ketika perhatian terkukuhkan terus menerus pada pengalaman bernafas tanpa suatu apapun yang mengusik arus kesadaran, nafas menjadi tenang, nafas biasa menjadi nafas indah. Dalam tahap ini, kita tidak perlu berbuat apa-apa atau jangan melakukan apa-apa, dan hanya keindahan yang tersisa dan teralami.

(37)

f. Mengalami nimitta yang indah

Tahap ini akan tercapai ketika melepaskan tubuh, pemikiran, dan kelima indra (termasuk kesadaran nafas) sedemikian penuhnya sehingga hanya tanda batin yang indah.

g. Jhana

Pada tahapan ini dikenal dengan tahapan tertinggi dalam meditasi, hal itu dikarenakan meskipun seseorang mencapai tahapan ini dengan kesadaran penuh/sepenuhnya sadar akan tetapi kendali berada di luar jangkauan.

Kemampuan telah dibekukan, mengalami kesadaran sukacita dalam tahap ini tidak untuk ditakuti atau dihidari namun hanya perlu dikembangkan dan dilatih dengan cara memasrahkan kepercayaan penuh pada sukacita yang dialami dan mempertahankannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada beberapa teknik mindfulness yaitu: breathing meditation, body sensation, compassionate body scan, open awareness & accepting minds and thoughts, wanting release, dan mindfulness is a way of life. Tahap lainnya yang sebenarnya memiliki aspek yang sama antara lain : Tahapan kesadaran saat ini, tahapan kesadaran hening saat ini, tahapan kesadaran hening saat ini dan pada nafas, tahapan perhatian sinambung penuh pada nafas, perhatian sinambung penuh pada nafas yang indah, mengalami nimitta yang indah, tahap jhana, mengalami nimitta yang indah. Penelitian ini akan memodifikasi teknik- teknik yang telah dijelaskan di atas dalam sebuah modul agar lebih mudah dipahami dan sesuai dengan subjek penelitian.

(38)

C. Pengaruh Latihan Mindfulness terhadap Peningkatan Subjective Well- Being pada Remaja Panti Asuhan

Sebagaimana dijelaskan oleh (Hurlock, dalam Supradewi & Mazaya, 2011 ) bahwa perawatan remaja di panti asuhan masih sangat kurang layak karena remaja dipandang sebagai mahluk biologis bukan sebagai mahluk sosial dan mahluk psikologis. Sementara masyarakat sering memberi cap negatif pada mereka, karena pandangan dan stigma tersebut tidak tertutup kemungkinan akan menimbulkan efek negatif seperti kemarahan dan kekecewaan, iri dan perasaan tidak puas atas kehidupannya. Hal ini menyebabkan mereka memiliki deskripsi atau gambaran kebutuhan psikologis seperti kepribadian yang inferior, pasif, apatis, menarik diri, mudah putus asa, ketakutan cemasan, (Hartini, dalam Supradewi & Mazaya, 2011).

Mengacu pada keadaan tersebut, menurut (Diener, 2003) Subjective well-being rendah akan mengalami berbagai macam afek negatif seperti inferior, pasif, apatis, menarik diri dst, serta tidak puas akan hidupnya dan jarang merasakan afek positif. Sementara remaja yang memiliki subjective well-being yang tinggi juga dapat melindungi para remaja dari efek negative dan situasi stress seperti kekerasan remaja, merokok dan minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, depresi, kecemasan, dan permasalahan psikologis lainnya (Joronen, 2005).

Subjective well being tinggi ditandai dengan tiga aspek yaitu meningkatnya kepuasan hidup, menurunnya afek negatif dan meningkatnya

(39)

afek positif. Kepuasan hidup ditandai dengan: sikap ekstrovert, memiliki motivasi internal, optimis, memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, memiliki hubungan kerja yang baik, berprestasi, pemaaf dst. Afek negatif ditandai, adanya perasaan cemas, depresi, stres, malu, rasa bersalah, sedih, marah, kecewa, tidak menerima (tidak ikhlas) dengan kehidupannya saat ini.

Afek positif ditandai dengan adanya kesenangan (enjoy) rasa bangga, kasih sayang, rasa syukur dst.

Dalam proses latihan mindfulness, individu dilatih untuk tidak terpengaruh dengan afek negatif yang muncul baik terkait masa kini ataupun masa lalu. Subjek hanya dilatih untuk meningkatkan kemampuan untuk tetap terlibat dalam peristiwa saat ini tanpa memberikan penilaian yang berlebihan terhadap peristiwa tersebut sebagaimana (Kabat-Zinn, 1998).

Sejalan dengan hal di atas, untuk terhindar dari afek negatif seperti kesedihan, depresi dan bunuh diri maka remaja juga memerlukan control diri terhadap emosinya (Shapiro, 1998). Lebih lanjut dijelaskan bahwa mindfulness dapat digunakan untuk meningkatkan kontrol terhadap rasa sakit atau untuk eksplorasi diri atau terapi diri dengan jalan relaksasi.

Relaksasi dengan menarik nafas secara berlahan akan meningkatkan fungsi syaraf untuk membantu individu menghindari reaksi yang berlebihan karena adanya stress (Utami, 2002). Menurut Weiss (2012) mindfulness merupakan awareness, attentiveness dan penerimaan peristiwa pada saat ini, dan dengan mindfulness seseorang akan belajar untuk menentukan strategi coping untuk menghadapi peristiwa yang sedang dihadapi, belajar untuk

(40)

melihat keadaan emosional tanpa melakukan apapun untuk mencoba mengubah emosi mereka.

Secara global pengaruh mindfulness terhadap subjective well-being remaja dapat dijelaskan berdasarkan konsep dasar dari latihan mindfulness dimana subjek dilatih untuk fokus pada keadaan sadar terjaga (awareness) yang terus-menerus memonitor keadaan diri dan lingkungan luar serta adanya (attention) atau perhatian (Brown & Ryan (2003). Dalam proses itu, mindfulness mendorong pergeseran perhatian secara global, mengganti perhatian yang sebelumnya melekat erat pada pengalaman, perasaan, bentuk pikiran tertentu (Silarus, 2015). Bentuk fikiran tertentu seperti perasaan cemas, depresi dan ketidakbahagiaan (subjective well-being rendah) dengan perspektif mindfulness yang diungkapkan oleh (Blackledge & Hayes, 2001) maka pikiran negatif yang muncul tidak benar-benar ditanggapi oleh individu namun menerimanya dan hanya fokus pada saat ini, karena emosi- emosi tersebut hanya bersifat sementara, tidak memiliki hubungan yang jelas dengan realitas eksternal (Blackledge & Hayes, 2001).

Mindfulness mengarahkan sepenuhnya pada apa yang terjadi saat ini, baik secara internal (tubuh-pikiran-emosi) dan lingkungan eksternal (Shapiro, 2006). Ketika kesadaran fokus pada saat ini, di sini dan sekarang maka individu tidak akan mudah dipengaruhi oleh afek negatif dan emosi- emosi negatifnya karena menurut (Brown dan Ryan, 2003) individu yang memiliki kesadaran penuh akan mampu memutus response set yang mengendalikan dirinya, response set dapat berupa stimuli internal maupun

(41)

eksternal yang berarti berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan dari luar yang memunculkan perasaan dan emosi negatif, hal itu dapat dikendalikan dengan kesadaran (Brown dan Ryan, 2003).

Perspektif ini memungkinkan para remaja dapat mengalihkan peristiwa yang menyakitkan seperti kehilangan orangtua, perasaan malu karena menganggap dirinya sebagai anak buangan (Teja, 2016). Remaja akan tumbuh dan melihat perasaan yang dialaminya sebagai hal yang lebih positif (Silarus 2016). Sejalan dengan pendapat (Robin dkk, 2012) yang menjelaskan bahwasanya dengan kesadaran penuh seseorang akan mampu melihat peristiwa yang dihadapi sebagai pengalaman emosional yang lebih besar kasih sayangnya dari pada sesuatu yang harus dirubah sesuai dengan emosi diri sendiri.

Latihan mindfulness dengan teknik MBSR (Mindfulness-Based Stress Reduction) merupakan pendekatan sistem terapi yang berhubungan dengan meditasi kesadaran penuh (mindfulness) dengan tujuan mengajarkan klien untuk memusatkan perhatian ke dalam diri sebagai regulasi emosi dan memberikan ketrampilan agar dapat menjaga diri dan sadar pada kondisi di luar yang bersifat negatif ataupun positif (Cayoun, 2011).

Mindfulness-Based Stress Reduction terdiri atas enam teknik yang terdiri dari: breating meditation (meditasi pernafasan), body sentation (menyadari sensasi tubuh), compasionate body scan (pendeteksian tubuh dengan sikap penghargaan), open awarness & acepting minds and thoughts (membuka kesadaran dan menerima pikiran dan perasaan), wanting relase

(42)

(melepas hasrat), serta mindfulness is a way of life atau mindfulness dalam keseharian (Santorelli, 2014).

Selain itu, pelaksanaan latihan mindfulness (mindfulness-based stress reduction) akan menambahkan elemen tradisional seperti psikoedukasi untuk membedakan pikiran dan fakta. Peserta latihan dilatih untuk tidak terlibat dengan emosi dan pemikiran negatif mereka serta perasaan dan sensasi tubuh yang muncul, dan hanya melihat pengalamannya tersebut sebagai sebuah peristiwa mental yang dapat dilewati (Segal dkk, 2002).

Latihan mindfulness juga tidak mengajarkan klien untuk mengubah pikiran, melainkan mengarahkan diri untuk terpisah dari pengalaman internal tersebut (Fielding, 2009). Adanya proses tersebut menghasilkan perubahan pada diri klien dan mencegah kekambuhan gangguan psikologis

Pengaruh latihan mindfulness terhadap SWB dapat dilihat secara terperinci pada setiap tahapan-tahapan dalam proses pelaksanaan mindfulness. Dalam hal ini, praktek mindfullness akan melibatkan pernafasan. Bernafas adalah kebutuhan paling utama manusia untuk bertahan hidup. Seseorang yang hidup dengan berbagai macam tekanan hidup dan membuatnya cemas, depresi, stress, takut (afek negatif) secara otomatis akan berpengaruh pada sistem kerja tubuh. Hall (1998) berpendapat bahwa seluruh sistem tubuh manusia dipengaruhi oleh stress dan reaksi emosional yang didapatkan dari berbagai macam kondisi yang tidak menyenangkan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa seseorang yang dipengaruhi tekanan emosi negatif seperti takut, stress, cemas jantung akan

(43)

bekerja secara tidak beraturan, berdegup lebih cepat, nafas tersenggal- senggal dan juga akan berpengaruh pada sistem pencernaan, jika pencernaan terganggu maka semua aktifitas manusia juga terganggu karena pencernaan merupakan sumber utama pemprosesan energi agar manusia bisa bertahan hidup. Hal ini dapat dicegah dengan latihan pernafasan dalam prakek mindfulness.

Tahap menyadari nafas adalah proses awal dalam latihan midnfulness.

Menurut Utami (2002) dengan teknik pernafasan dan menyadari nafas, akan berpengaruh pada optimalisasi fungsi-fungsi sistem syaraf seperti Syaraf otonom. Syaraf otonom berfungsi sebagai sistem simpatesis yang bekerja meningkatkan ransangan atau memacu organ-organ tubuh, memacu meningkatkan denyut jantung dan pernafasan, serta mencegah penyempitan pembuluh darah tepi dan mencegah pembesaran pembuluh darah pusat.

Dengan menyadari bahwa nafas telah berubah dari aliran alaminya dan telah menjadi tertekan, maka dapat mengubahnya kembali dan menguraikan ketegangan itu (Hall, 1998). Dengan menyadari nafas dalam proses relaksasi pernafasan saat memulai meditasi maka dapat membantu individu menjadi relaks dan mencegah individu memunculkan kesalahan dalam berfikir dan mengurangi reaksi impulsif terhadap suatu peristiwa sehingga diharapkan individu mampu mengendalikan kondisi internal ataupun eksternal yang sedang terjadi (Utami, 2002).

Selain itu, menyadari nafas erat kaitannya dengan reaksi emosi. Hal ini dijelaskan oleh (James & Lange dalam Sarlito 2000) dinyatakan bahwa

(44)

emosi dipengaruhi sistem limbik yang berkaitan dengan amigdala dan hipotalamus, prefrontal cortex, dan hormon. Bagian hipotalamus ini sendiri juga dapat mempengaruhi sistem hormonal. Markam & Markam (2003) menyatakan bahwa thalamus berfungsi menyampaikan sinyal sensoris dari bagian-bagian lain sistem saraf ke cerebral cortex. Prefrontal cortex berperan dalam menghambat respon emosional, prefrontal cortex terletak di bagian depan bawah belahan otak, berfungsi menerima masukan langsung dari thalamus dorsomedial, korteks temporal, daerah tegmental ventral, sistem penciuman, dan amygdala (Markam & Markam, 2003). Output menuju ke beberapa daerah otak, termasuk korteks cingulate, pembentukan hippocampus, korteks temporal, hipotalamus lateral, dan amigdala.

Akhirnya, berkomunikasi dengan daerah lain dari prefrontal cortex.

Prefrontal cortex mempengaruhi berbagai respon emosional yang diselenggarakan oleh amigdala. Respon yang baik dari sistem syaraf akan menghasilkan emosi yang positif yang ditandai meningkatnya perasaan senang (enjoy), kasih sayang terhadap dirinya dan orang lain, rasa bangga tanpa harus memiliki afek negatif seperti perasaan malu, kecewa (Markam

& Markam, 2003). .

Tahap selanjutnya adalah teknik body sensation (menyadari sensasi tubuh). Tahapan ini merupakan lanjutan dari menyadari nafas, artinya kesadaran remaja akan berpindah dari menyadari nafas ke kesadaran body sensation. Dalam tahapan ini, tidak ada penilian ataupun penolakan terhadap sensasi yang bergulir. Perhatikan sensasi tubuh yang halus seperti

Referensi

Dokumen terkait

Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.Individu dengan hipertensi sangat sensitif

Penerimaan diri merupakan faktor penting dalam meningkatkan subjective well-being karena tingkat penerimaan diri yang tinggi terkait dengan emosi positif, memuaskan hubungan

Penerimaan diri merupakan faktor penting dalam meningkatkan subjective well-being karena tingkat penerimaan diri yang tinggi terkait dengan emosi positif, memuaskan

Peneliti mengasumsikan bahwa terdapat perbedaan subjective well being pada ibu apabila ditinjau dari stuktur keluarga dimana ibu yang tinggal pada struktur

Secara keseluruhan 5 gen Z merasakan aspek positive affect (afek positif yang menyenangkan), pada aspek ini gen Z merasa dominan merasakan emosi yang positif

Berdasarkan beberapa pemaparan pengertian mengenai penyesuaian diri, maka peneliti lebih mengacu pada pengertian penyesuaian diri menurut Yuniarti (2009) penyesuaian

Berdasarkan teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi ujian kompetensi adalah emosi yang tidak menyenangkan karena takut akan

Kecemasan ibu yang sedang dilakukan kuret adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan ditandai dengan perasaan cemas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan