BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
B. Kerangka Pikir
Masyarakat yang berbeda beda corak kehidupan dan bahasanya jelas memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan ide-idenya. Semua berkembang dalam setiap masyarakat. Ide-ide tersebut diluangkan dalam gaya bahasa tersendiri yang kadang-kadang sukar dimengerti orang lain.
Untuk itu, doangang perlu diperkenalkan pada masyarakat luas.
Dengan memahami simbol doangang, kita dapat mempergunakan dan mengembangkan serta mewariskannya kepada generasi yang akan datang sebagai hasil karya sastra lisan yang perlu terus dilestarikan.
Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kelompok masyarakat pemakainya dari generasi ke generasi serta kepada masyarakat umum yang tertarik terhadap makna yang terdapat dalam simbol doangang.
penetapan dari landasan teori yang digunakan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penafsiran atau perubahan makna-makna yang tersembunyi di balik simbol yang ada pada doangang atau mantra. Di dalam semantik, simbol bersifat konvensional tetapi ia dapat diorganisir, direkam, dan dapat dikomunikasikan. Simbol dapat mempengaruhi pikiran dan merujuk benda tertentu.Kerangka pikir yang dijadikan landasan dasar guna menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagian berikut ini :
Puisi Makassar Doangang (Mantera)
Keberanian Kecantikan Penangkal Penyakit
Simbol Makna
Analisis Temuan
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku. Dengan kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan yang ada.
B. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif kualitatif. Desain deskriptif kualitatif adalah rancangan penelitian yang menggambarkan variabel penelian tidak dalam bentuk angka-angka atau statistik. Maksudnya, dalam penelitian ini, peneliti hanya akan mendeskripsikan “Makna simbol doangang bagi masyarakat Makassar”. Dalam penerapan desain penelitian ini, peneliti mula-mula mengumpulkan data, mengolah, dan selanjutnya menganalisis data secara objektif atau apa adanya.
C. Definisi Istilah
Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran dalam penelitian ini, peneliti menganggap perlu dikemukakan definisi istilah. Adapun definisi yang dimaksudsebagai berikut :
a. Keberanian atau keperkasaan adalah tindakan yang membuat seseorang mampu menghadapi suatu bahaya.
b. Kecantikan atau kegagahan adalah sesuatu yang dimiliki oleh setiap manusia yakni dapat diukur dari bentuk fisik seseorang dan juga bersifat relatif, yakni bergantung mata yang memandang.
c. Penangkal penyakit adalah, segala sesuatu yang digunakan untuk menolak bala atau penyakit, roh jahat dan pencegah bencana.
D. Data dan Sumber Data
Adapun data dan sumber data pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Data
Data dalam penelitian ini adalah doangang tentang keberanian atau keperkasaan, kecantikan dan kegagahan, serta penangkal penyakit.
2. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah doangang yang berbahasa Makassar yang menyangkut doangang keberanian atau keperkasaan, kecantikan dan kegagahan, serta sebagai penangkal penyakit, dan buku lain yang membahas tentang doangang. Serta data lisan melalui informan. Informan yang dipilih sebanyak 2 (dua) orang yang berlokasi di Desa Salajo Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa, dengan persyaratan informan sebagai berikut :
a. Laki-laki atau perempuan b. Umur 40 sampai 70 tahun
c. Tahu atau hafal doangang (mantra) menyangkut keberanian atau keperkasaan, kecantikan atau kegagahan, dan penangkal penyakit.
d. Tidak mengalami gangguan pengucapan dalam menyampaikan isi doangang.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara. Teknik wawancara dengan informan untuk mengetahui pendapat, keterangan, dan pandangan yang berkaitan dengan doangang dan makna simbol yang terdapat di dalamnya. Teknik wawancara ini dibarengi dengan teknik catat yang bertujuan agar data-data yang didengar lebih sahih, dan manakala masih ada hal yang meragukan dapat diperbaiki dengan jalan menanyakan kembali kepada informan.
F. Teknik Analisis Data
Data akan dianalisis melalui pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengungkapkan gambaran hasil penelitian, setelah melalui proses analisis dan observasi menjadi kajian yang dapat menjelaskan objek atau masalah yang diteliti.
Kriyanto (2012 : 196), berpendapat bahwa analisis data kualitatif dimulai dari analisis berbagai data yang berhasil dikumpulkan peneliti.
Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori tertentu.
Sugiyono (2013 : 334), berpendapat bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data didasarkan pada beberapa proses yang berlangsung secara interaktif, yaitu :
1. Melakukan editing atau mengecek data-data yang telah masuk
2. Data hasil wawancara dengan informan dikumpulkan dan diidentifikasi kembali.
3. Melakukan reduksi data dengan jalan membuat rangkuman inti dari data yang telah ada.
4. Menerjemahkan teks doangang dari bahasa daerah Makassar ke dalam bahasa Indonesia.
5. Mengkaji simbol-simbol yang ada dalam teks, berdasarkan aspek-aspek yang membangun untuk menemukan makna yang sebenarnya.
6. Data hasil kajian yang dianalisis selanjutnya diinterpretasikan untuk mencapai tujuan penelitian ini.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Doangang adalah sesuatu yang lahir dari masyarakat sebagai perwujudan dari keyakinan atau kepercayaan. Dalam masyarakat tradisional, Doangang bersatu dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari, Seorang pawang atau dukun yang ingin menyatukan seseorang yang diinginkan misalnya, dilakukan dengan membacakan Doangang.
Dan tanpa kepercayaan penuh doangang yang digunakan tidak akan bereaksi kepada orang yang dituju.
Masyarakat tentunya selalu disertakan dengan hal-hal berbau mistis, dan selalu dihadapkan pada Allah Swt pencipta alam semesta.
Berikut adalah makna yang terkandung dalam doangang Makassar.
1. Doangang Kabaraniang
Doa Keberanian Data (1.1) Baris 1
Jeknekji antu atinnu Air itu hatimu
Simbol jeknek “air” bermakna perasaan yang tidak dapat diukur, keinginan hati yang keras. Namun disisi lain, air sifatnya dingin bisa mendatangkan kesejukan. Api yang membara bisa
dipadamkan dengan menggunakan air. Api adalah amarah dan air adalah pendinginnya.
Jiwa yang dirasuki rasa amarah yang tinggi hanya bisa diatasi dengan jiwa yang dingin seperti sifatnya air. Di mana-mana air dapat berfungsikan sebagai penyegar badan dan pelegah dahaga, bahkan sangat vital dalam kehidupan. Air sangat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Pemakaian simbol ini, perasaan atau keinginan hati yang kuat yang dilandasi amarah bisa dikendalikan untuk diredam dari seseorang agar tidak bertindak brutal yang dapat mencelakakan orang lain dan dirinya sendiri.
Data (1.1) Baris 2
Angingji antu pakmaiknu Angin itu perasaanmu
Selanjutnya simbol anging “angin” bermakna kekuatan perasaan emosional yang tidak bisa diduga-duga kedatangannya yang kadang lembut kadang keras. Perasaan hati yang tiba-tiba emosional setelah mendengar pembicaraan atau melihat prilaku seseorang yang kurang berkenan di hatinya dapat ditumpahkan dengan perbuatan yang tidak terpuji. Tak seorangpun yang bisa menjamin apa yang telah kita perbuat diterima dan ditanggapai
baik pula pada orang lain. Terkadang kita telah berbuat dengan ikhlas tetapi orang lain berpikiran lain.
Perasaan orang lain tak dapat diduga apakah dia akan berbuat baik atau berlaku jahat pada diri kita. Untuk itu suku Makassar yang dikenal dari sejak dahulu berjiwa perantau senantiasa mempersiapkan diri dengan menggunakan media doangang untuk bisa meredam orang –orang yang akan berbuat jahat kepadanya baik secara fisik maupun psikis. Dengan pemakaian simbol tersebut, daya gaib yang dimiliki doangang ini, perasaan atau emosional seseorang dapat dihalau untuk tidak dikeluarkan, baik dalam bentuk ucapan, maupun dalam bentuk fisik.
Data (1.1)
Baris 3
Kukakkang
Kugenggam
Simbol Kukangkang “kugenggam“ bermakna kekuatan untuk menguasai sesuai keinginan batin seseorang.
Penguasaan jiwa terhadap orang lain tentu sangat diharapkan agar apa yang dikehendaki bisa terlaksana sesuai harapan yang diinginkan. Dengan menguasai jiwa seseorang tentu akan mempengaruhi juga gerak fisiknya. Pengaruh yang ditimbulkan
oleh jiwa akan dimanifestasikan oleh fisik. Jadi maksud dari kata Kukangkang “kugenggam“ adalah menguasai jiwa dan fisik orang lain.
Data (1.1)
Baris 4
Kujempang ri barangbangnu
Kututup di dadamu
Dada adalah tempat bersemayannya hati pada diri manusia . Kujempang ri barangbannu “Kututup di dadamu“ adalah menahan hawa nafsu seseorang untuk tidak dilampiaskan secara emosional. Kalaupun ada emosi yang berkecamuk dipikirannya hanya bisa berada dalam dadanya saja. Kujempang “Kututup”
berarti menutup jiwa seseorang dari segala penjuru agar tidak terpengaruh dengan keadaan di sekitarnya. Barambang “Dada”
bukanlah bentuk dada secara fisik yang terdiri dari dari daging dan tulang tetapi dada yang dimaksud adalah tempat dimana hawa nafsu itu berada. Yang melingkari atau yang menjaga jiwa.
Tempatnya jiwa yang tidak bisa dilihat secara kasat mata dan hanya bisa dirasa itulah hakekat Barambang “dada” yang sebenarnya.
Data (1.1)
Baris 5
Anggancuruki bone lalangnu
Menghancurkan isi perutmu
Anngangcuru bone lalangnu ” menghancurkan isi perutmu”
adalah manifestasi yang mengarah kepada kematian seseorang atau sakit yang tidak ada obatnya. Simbol tersebut merupakan efek yang akan terjadi kepada seseorang yang berani melawan kepada sipemakai doangang. Bone lalang “isi perut“ bukanlah usus, hati atau limpah seperti apa yang terdapat dalam tubuh manusia tetapi yang dimaksud adalah nafsu angkara murka. Perut identik dengan keserakahan dan hawa nafsu. Untuk mendapatkan jiwa yang tenang maka perbanyaklah untuk tidak makan ( puasa ).
Kesehatan juga akan terjaga dari segala penyakit yang disebabkan oleh makanan. Daya gaib kosa kata doangang Anngancuru bone lalangnu memberi pengaruh yang sangat kuat dan beresiko kepada orang yang dihadapi oleh sepengguna mantera ini.
Perasaan marah, jengkel dan emosi dari pihak lain akan redah karena bila tidak demikian maka bisa berdampak buruk kepada orang tersebut.
Data (1.1)
Baris 6
Punna inakke tanungai
Bila saya yang kau benci
Penutup dari mantra ini mempertegas daya gaib doangang tersebut yaitu Punna inakke tanungai “Bila saya yang kau benci” yang mengisyaratkan bahwa akan menerima semua dampak buruk dari efek doangang ini bila sipemakai doangang tidak disenangi atau diikuti perintah dan kemauannya. Rangkaian kata dari baris ke baris bermuara pada satu tujuan penggunaan doangang “mantera“ yaitu menguasai jiwa dan perasaan orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan tanpa ada perasaan marah. Orang yang kena efek gaib doangang ini dengan senang hati akan berperilaku yang sopan tanpa dipaksa dan menerima dengan tulus kehadiran sipemakai doangang atau mantera tersebut.
2. Doangang Kagaggang
Doa Kecantikan Data (2.1) Baris 1
Ajjappa-jappama anne mae Berjalan-jalan saya ke mari
Doangang ini digunakan saat bepergian ke tempat keramaian atau pesta supaya nampak cantik atau gagah dipandangan orang. Siapa pun yang melihatnya akan terkesima dan takjub melihat penampilannya.
Aktivitas masyarakat Makassar dalam kesehariannya utamanya disaat bekerja di luar rumah tak pernah lepas meminta perlindungan kepada sang pencipta alam raya. Keberadaan doangang sebagai media pengaman diri agar terhindar dari bahaya dan disegani orang lain tak dapat dipungkiri selalu digunakan sebagai perisai di mana pun berada. Namun disisi lain doangang ini pula memberi pengaruh rasa simpati dan wibawa kepada pemakainya. Sebagaimana dalam konteks kalimat doangang yaitu “Ajjappa-jappama anne mae“ Berjalan-jalan saya ke mari. Konteks doangang tersebut mengandung makna disaat menginjakkan kaki di tanah semuanya harus disiapkan, tidak boleh berjalan begitu saja.
Harus sadar diri bahwa di jalan banyak orang ditemui, memandang dan memperhatikan. Disenangi dan disegani orang lain ketika bersua adalah efek aura positif dari doangang tersebut. Dengan menggunakan doangang ini orang lain yang melihat sipemakai mantra tersebut merasa terkesimak dan takjub karena nampak berwibawa di mata mereka.
Data (2.1) Baris 2
Jappa-jappana Ali kujappang Jalan-jalannya Ali kujalani
Doangang ini biasa dipakai oleh laki-laki tetapi bisa juga digunakan oleh perempuan karena simbol Ali dan Fatima ada di dalamnya yang menggambarkan laki-laki sejati dan perempuan yang sempurna. Simbol nama Ali dalam doangang ini adalah Ali r.a. Sayyidina Ali r.a adalah sosok pemuda yang gagah, pemberani, cerdas dan bijaksana.
Seorang khalifah yang sangat berwibawa dan memiliki sifat belas kasih yang tinggi. Sangat disayangi oleh rakyatnya karena keluruhan budi pekertinya. Kearifan, kewibawaan, budi pekerti dan kegagahan yang ada pada diri Sayyidina Ali r.a dijadikan simbol pada doangang tersebut dan dimaknai sebagai perwujudan dirinya agar terjelma dalam diri sipemakai doangang. Hal inilah yang mendasari digunakannya simbol Ali dalam doangang dengan harapan kegagahan dan kewibawaan Ali r.a dapat terpancar pada orang yang menggunakan atau membaca doangang tersebut.
Data (2.1) Baris 3
Soe-soena Fatimah kusoeang
Ayunan tangannya Fatimah kuayunkan
Sedangkan, simbol Fatimah dalam doangang ini adalah anak Rasulullah yang tingkah laku dan kepribadiannya dipuji oleh semua orang. Sayyidina Fatimah Az Zahra r.a adalah sosok perempuan yang cerdas dan sangat disayangi oleh Allah dan sangat dicintai oleh Rasulullah.
Memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.
Wajah yang cantik, berakhlak mulia, penyayang, sopan santun, penuh kesabaran, lembut hati, suka menolong dan patuh pada suami. Kesholehannya inilah yang membuat drinya disayangi oleh Allah Swt dan siapapun yang disenangi oleh-Nya maka semua orang juga akan bersikap seperti itu. Allah Swt adalah pemberi rasa kepada semua makhluk ciptaanya. Rasa suka, senang dan benci bisa terjelma, semua itu karena izin-Nya.
Dengan demikian, keberadaan Fatimah dijadikan simbol agar perwujudan pandangan orang terhadap Sayyidina Fatimah Az Zahra r.a bisa juga terpancar pada diri sipemakai doangang tersebut.
Data (2.1) Baris 4
Sikuntu accinika Semua yang melihatku
Pandangan orang lain pada diri seseorang tentu berbeda-beda, bisa terkesan berwibawa, cantik, jelek dan yang lainnya. Pandangan orang inilah yang disugesti agar tanggapan orang bisa sesuai dengan yang diinginkan. Untuk menyamakan keinginan tersebut dapat tercipta karena pengaruh doangang.
Konteks kalimat Sikuntu accinika “Semua yang melihatku”
adalah bentuk kalimat yang mempertegas bahwa siapapun yang melihatnya pasti akan terkesima. Sikap ego seperti ini bukan berarti ada sifat kesombongan di dalamnya tetapi hal ini merupakan kepercayaan yang tinggi bagi sipengguna doangang atau mantera tersebut.
Data (2.1) Baris 5
Mappataungaseng ri nakke Menyapa semua padaku
Kewibawaan dan rasa simpati dari orang lain tentu tidak mudah untuk didapatkan. Rasa suka,dengki dan empati kepada seseorang adalah hal yang lumrah dan siapapun
orangnya bisa saja mendapatkan pandangan seperti ini. Oleh karena itu kepada mereka yang menyadari hal tersebut berupaya untuk mencari agar penampilannya selalu dihargai oleh orang lain. Bagi orang Makassar, doangang atau mantera adalah hal yang tidak terpisahkan dalam dirinya untuk bisa memposisikan diri pada harkat dan martabatnya. Hal ini seperti tertuang dalam konteks doangang yaitu Mappataungaseng ri nakke “menyapa semua padaku”.
Kalimat doangang atau mantera tersebut adalah konteks yang mengisyaratkan bahwa orang Makassar selalu diterima dimanapun berada. Dengan kepercayaan kepada daya mantera yang dimiliki maka kepercayaan dirinya semakin meningkat untuk disenangi, dikagumi dan dihargai oleh orang lain.
Data (2.1) Baris 6
Sabak Allah Taala Karena Allah
Keberkahan dari Allah Swt adalah hal mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap doangang atau mantera. Tentu tanpa izin Allah Swt semua daya gaib yang dimiliki oleh doangang atau mantra tak akan berfungsi sebagaimana mestinya.
Permintaan kepada sang khalik Allah Taala di setiap akhir doangang atau mantera adalah bentuk ketaatan dan sifat rendah diri di hadapan-Nya.
Simbol kata Sabak Allah Taala “Karena Allah“
menandakan bahwa doangang atau mantera merupakan wujud penyerahan mutlak atas segala kuasa yang dimilki-Nya. Dalam doangang tidak dapat dibarengi dengan kesombongan dan kecongkakan. Kesombongan dan kecokakan pada manusia dan pencipta-Nya sangat mempengaruhi daya gaib doangang atau mantera. Daya gaib doangang atau mantera bisa hilang seketika dan berubah menjadi malapetaka bila sipemakai bersikap sombong pada Allah Swt. Tetapi jika doangang atau mantera ini dilandasi dengan sifat berserah diri dan tawadduh kepada-Nya dan memohon izin-Nya maka daya gaib yang terdapat didalamnya akan berfungsi dengan baik sebagaimana yang diharapkan oleh sipemakai doangang atau mantera tersebut.
3. Doangang Pallawa Garring
Doa Penangkal Penyakit Data (3.1) Baris 1
Bassi kalli bassi
Besi pagar besi
Bassi kalli bassi “Besi pagar besi“ dalam konteks doangang atau mantera ini merupakan penyatuan dua benda yang memiliki kekuatan melebihi benda yang lainnya.
Bassi “besi“ adalah bagian kerak bumi yang sangat kuat yang tercipta dari unsur logam. Besi itu melambangkan kekuatan fisik seseorang seperti ungkapan manusia besi yang berarti manusia yang kuat. Kekuatan besi inilah yang dijadikan simbol dalam doangang atau mantera agar daya gaibnya kuat dan mengalahkan semua yang ingin merusaknya.
Kalli bassi “pagar besi“ adalah media perlindungan dari segala gangguan. Rasa aman yang dimaksud adalah bahwa tubuh akan terjaga selama daya gaib dari doangang atau mantera ini masih berfungsi. Oleh karena itu konteks doangang atau mantera ini supaya kekuatanya berlapis maka konsep kalimatnya adalah Bassi kalli bassi “Besi pagar besi”
yang bermakna kekuatan diatas kekuatan atau kekuatan yang dilindungi oleh kekuatan. Pertahanan diri yang kuat seperti kuatnya besi.
Data (3.1)
Baris 2
Bukkuleng bassi
Kulit besi
Bukkuleng bassi “Kulit besi“ bermakna kulit yang tidak akan ditembus oleh apapun juga. Dengan doangang atau mantera ini diharapkan kulit yang mengeluarkan darah akan berhenti dan kembali tertutup seperti kerasnya besi. Bukkuleng bassi “Kulit besi“ sebagai simbol sebagai pelindung yang sangat kuat.
Bukkuleng “Kulit“ adalah organ yang paling luar yang melapisi semua tubuh manusia sehingga perannya sangat vital dalam keberlangsungan hidup di dunia ini. Organ inilah yang diisi dengan kekuatan doangang atau mantera supaya bisa melindungi diri dan melindungi segala organ tubuh pada manusia baik yang bersifat nyata maupun yang tidak nyata.
Tubuh manusia yang terkena senjata tajam tidak akan mengalirkan darah dan rasa sakit yang diakibatkan sayatannya tidak terasa. Daya gaib konsep kalimat bukkuleng bassi “kulit besi“ juga berfungsi menguatkan jiwa sipemakai agar tidak takut melihat aliran darah yang menetes pada kulit.
Data (3.1)
Baris 3
Urak bassi
Urat besi
Urat adalah pelindung organ tubuh kedua pada diri manusia. di dalam kulit ada urat yang tidak bisa terpisahkan.
Bukkuleng “kulit“ dan Urak “urat“ adalah satu kesatuan organ tubuh sebelum menembus daging dan tulang manusia. Urak bassi “urat besi“ adalah simbol kekuatan pelindung pada diri manusia. Untuk melapis kekuatan Bukkuleng “kulit” maka tatanan konsep kalimat dalam doangang atau mantera tersebut diikuti dengan kalimat Urak bassi “urat besi“. Hal ini menandakan simbol kekuatan berlapis yang daya dan fungsinya sama. Darah yang mengalir yang diakibatkan goresan atau tebasan benda tajam yang mengenai urat dapat dihentikan pendarahannya dengan media doangang atau mantera ini. Urak bassi “urat besi“ juga mengandung simbol kekuatan penutup aliran darah.
Data (3.1)
Baris 4
Kupake jempang
Kupakai sebagai penutup
Pendarahan yang disebabkan oleh penyakit atau benda tajam pada diri manusia adalah hal yang kadang tidak
bisa dihindari. Waktu dan tempatnya pun tidak bisa diprediksi kapan penyakit atau musibah itu terjadi pada seseorang.
Kondisi yang darurat seperti ini tentu tak boleh dibiarkan begitu saja karena bisa membahayakan jiwa dan keselamatan bagi yang mengalaminya.
Di daerah pelosok yang belum tersentuh medis tentu bila terjadi hal seperti ini maka masyarakat yang masih percaya dengan keampuhan suatu doangang atau mantera secepatnya membawa ke orang yang dianggap mampu menyembuhkan dengan media doangang atau mantera.
Bahkan di desa-desa yang sudah memiliki balai pengobatan dan kesehatan masih banyak mengandalkan kekuatan doangang atau mantera dalam kehidupannya dalam menghadapi berbagai penyakit.
Penggunaan kata Kupake jempang “Kugunakan sebagai penutup” dalam doangang atau mantera ini adalah bentuk kata kerja yang mengarah kepada hasil yang ingin dicapai dari doangang atau mantera tersebut. Inti dari tujuan dugunakannya doangang tersebut ada pada untaian kata Kupake jempang “kugunakan sebagai penutup”. bermakna menutup semua aliran darah dalam diri seseorang agar tidak lagi keluar pada tubuhnya yang mengalami pendarahan.
Mengacu ke bait sebelumnya Kalli bassi “pagar
besi”, bukkuleng bassi “kulit besi“, urak bassi “urat besi“ yang semuanya mengandung makna kekuatan seperti besi yang dalam konsep kehidupan lahiriyah dianggap benda yang sangat kuat untuk digunakan melakukan apa saja. Kekutan besi inilah yang ingin ditransfer ke dalam doangang atau mantera tersebut. Untuk menghalau darah yang keluar pada tubuh manusia maka harus ditahan atau dihentikan yang dalam doangang atau mantera ini menggunakan kata Kupake jempang “kugunakan sebagai penutup“ .
Data (3.1)
Baris 5
Barakka Lailahillalah
Berkahnya Allah
Berkah atau restu dari sang penguasa jagad raya
Berkah atau restu dari sang penguasa jagad raya