BAB II Kajian Teori
B. Manajemen dalam perspektif Islam
1. Pengertian Manajemen dalam Perspektif Islam
Pengertian m a n a j e m e n menurut para ahli ilmu pengetahuan berbeda pendapat, diantaranya adalah :
Menurut Sarwoto(1978: 44) secara singkat mengakatakan bahwa : Manajemen adalah persoalan mencapai sesuatu tujuan-tujuan tertentu dengan suatu kelompok orang-orang.
Menurut Winardi (1983: 4) :
“Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapakan melalui pemanfaatan sember-sumber lain.”
Menurut Sondang P. Siagian dalam ( Winardi : 1983: 5)
“Manajemen adalah: sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.”
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa: (1) manajemen merupakan usaha atau tindakan ke arah pencapaian tujuan; (2) menajemen merupakan sistem kerja sama; dan (3) manajemen melibatkan secara optimal kontribusi orang-orang, dana, fisik dan sumber- sumber lainnya.
13
2. Pengertian Pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang dan para ahli ilmu pengetahuan, diantaranya adalah :
Menurut UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengedalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi (1991: 64)
“Paedagogie berasal dari bahasa yunani, terdiri dari kata PAIS , artinya anak, dan AGAIN , diterjemahkan membimbing, jadi Paedagogie yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak.
Menurut Ngalim Purwanto (2000: 11)
“Pendidikan ialah segala usahaorang dewasa dalam pergaulan dengan anak - anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan.”
Menurut Ahmad D. Marimba (1989: 19)
“Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik te rhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.”
Menurut Suwarno mengutip pendapat Ki Hajar Dewantara (Kartini, Kartono: 1985: 2)
“ Adapun maksud pendidikan yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak – anak itu, agar mereka seba gai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan bahagia setinggi – tingginya.”
Dari beberapa pendapat ahli pendidikan di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan, bahwa pendidikan adalah suatu proses bimbingan secara sadar dari pendidik untuk mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar siswa agar membuahkan hasil yang baik, jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan, cerdas dan pandai, hatinya penuh iman kepada Allah SWT dan membentuk kepribadian utama.
3. Pengertian Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan menurut para ahli berbeda dalam memberikan definisi antara lain:
Menurut Syarif (1976 :7) :
“Segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber (personil maupun materiil) secara efektif dan efisien untuk menunjang tercapainya pendidikan.
Menurut Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4):
“Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.”
Menurut Soebagio Atmodiwirio. (2000:23):
“ Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.”
Menurut Sagala (2005:27) :
“Manajemen pendidikan adalah penerapan ilmu Manajemen dalam dunia pendidikan atau sebagai penerapan Manajemen dalam pembinaan, pengembangan, dan pengendalian usaha dan praktek-praktek pendidikan. Manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep dan teori manajemen dalam aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.”
Dari uraian di atas penulis mendefinisikan bahwa Manajemen Pendidikan adalah Suatu penataan dalam bidang pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas perencanaan, pengorganiasian, penyusunan staf, pembinaan, pengkoordinasian, pemotivasian, penganggaran, pengendalian, pengawasan, penilaian, dan pelaporan secara sistematis untuk mencapa tujuan pendidikan secara efektif, efesien dan berkualitas.
4. Tujuan Manajemen Pendidikan
Menurut Husaini Usman (2006), tujuan dan manfaat manajemen pendidikan antara lain:
1. Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenagkan, dan Bermakna (PAKEMB).
2. Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
3. Terpenuhnya salah satu dari 5 kompetensi tenaga kependidikan (tertunjangnya kompetensi manejerial tenaga kependidikan sebagai manajer)
4. Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efesien.
5. Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer atau konsultan manajemen pendidikan)
6. Teratasinya masalah mutu pendidikan karena 80% masalah mutu disebabkan oleh manajemennya.
7. Terciptanya perencanaan pendidikan yang merata, bermutu, relevan dan akuntabel.
8. Meningkatnya citra positif pendidikan.
Tujuan manajemen pendidikan, adalah menyediakan dasar konseptual dengan mendefinisikan manajemen dengan mengimplementasikannya dalam kegiatan pendidikan. Penyediaan dasar konseptual ini untuk membentuk pemahaman dan memiliki keterampilan dalam bidang administrasi pendidikan.
5. Fungsi Manajemen Pendidikan
Fungsi manajemen yang terdapat dalam pendidikan meliputi fungsi perencanaan atau planning, fungsi pengorganisasian atau organizing, fungsi penggerak atau actuating, dan fungsi pengendalian atau controlling.
Berikut penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut:
1. Perencanaan (Planning)
Fungsi paling awal dari semua fungsi manajemen, para ahli juga menyutujui hal tersebut. Perencanaan adalah proses kegiatan untuk menyajikan secara sistematis segala kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu.
Perencanaan dapat diartikan sebagai penetapan tujuan, budget, policy prosedur, dan program suatu organisasi. Dengan adanya perencanaan, fungsi manajamen berguna untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai, menetapkan biaya, menetapkan segala peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman yang harus dilaksanakan.
Perencanaan meliputi beberapa aspek, diantaranya apa yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukan, kapan dilakukan, di mana akan dilakukan, bagaimana cara melakukannya, apa saja yang dibutuhkan agar tercapai tujuan dengan maksimal. ( Hadari Nawawi ) menjelaskan arti perencanaan yaitu suatu langkah untuk menyelesaikan masalah ketika melaksanakan suatu kegiatan dengan tetap terarah terhadap pencapaian target (tujuan tertentu).
2. Pengorganisasian (Organizing)
Di dalam sistem manajemen, pengorganisasian adalah lanjutan dari fungsi perencanaan. Bagi suatu lembaga atau organisasi, pengorganisasian merupakan urat nadi organisasi. Oleh sebab itu keberlangsungan organisasi atau lembaga sangat dipengaruhi oleh pengorganisasian.
Pengorganisasian menurut ( Heidjarachman Ranupandojo ) adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu, pelaksanaannya dengan membagi tugas, tanggung jawab, serta wewenang di antara kelompoknya, ditentukan juga yang akan menjadi pemimpin dan saling berintegrasi dengan aktif.
3. Penggerakan (Actuating)
Penggerakan berfungsi untuk merealisasikan hasil perencanaan dan pengorganisasian. Actuating merupakan usaha untuk mengarahkan atau menggerakan tenaga kerja atau man power dan mendayagunakan fasilitas yang tersedia guna melakasanakan pekerjaan secara
bersamaan. Fungsi ini memotifasi bawahan atau pekerja untuk bekerja dengan sungguh-sungguh supaya tujuan dari organisasi dapat tercapai dengan efektif. Fungsi ini sangat penting untuk merealisasikan tujuan organisasi.
4. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan merupakan kegiatan untuk mengamati dan mengukur segala kegiatan operasi dan pencapaian hasil dengan membandingkan standar yang terlihat dalam rencana sebelumnya. Fungsi pengawasan menjamin segala kegiatan berjalan sesuai dengan kebijaksanaan, strategi, rencana, keputusan dalam program kerja yang telah dianalisis, dirumuskan serta ditetapkan sebelumnya.
B. Manajemen dalam Perspektif Islam
Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani:
ْْنَع
Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara Itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas).”(HR Thabrani)Arah pekerjaan yang jelas , landasan yang mantap dan cara-cara mendapatkannya yang transparan merupakan amal dalam arti mengatur segala sesuatu agar dilakukan dengan baik, tepat dan tuntas merupakan yang disyariatkan dalam ajaran Islam . Demikian pula dalam hadits riwayat Imam Muslim dan Abi Ya‟la, Rasulullah SAW bersabda:
ْْنَع
Dari Abu Ya‟la Syaddad bin Aus Radhiyallahuanhu, dari Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka berlakukan baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih perolokkaanlah sembelihan kamu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenagkan hewan sembelihannya.”(HR Muslim)
Kata Ihsan bermakna melakukan sesuatu secara maksimal dan optimal “Tidak boleh seorang muslim melakukan sesuatu tanpa perencanaaan tanpa adanya perkiraan dan tanpa adanya penelitian, kecuali sesuatu yang sifatnya darurat”. Akan tetapi, pada umumnya dari hal yang kecil hingga hal yang besar, harus dilakukan secara Ihsan, secara optimal, secara baik, benar dan tuntas.
Demikian pula ketika melakukan sesuatu itu dengan benar, baik terencana dan terorganisis dengsn rapi maka kita akan terhindar dari keraguan-keraguan . Sesuatu yng didasarkan pada keraguan-keraguan
20
biasanya akan melahirkan hasil yang tidak optimal dan mungkin akhirnya tidak bermanfaat. Oleh Krena itu, dalam hadits riwayat Imam Timidzi dan Nasa‟I Rasulullah SAW bersabda:
ْْنَع
ِْنَسَلحا ْ
ِْنْب ْ
ٍْيِلَع ْ
ِْنْب ْ
ِْْبَا ْ
ٍْبِلاَط ْ :لاقَْم لَسَوِْوْيَلَعُْللاْى لَصِْو للاْ ِلوُسَر، ْ
َْكُبيِرَيْاَمْْعَد
)يزيمرتْهاور(َْكُبيِرَيْ َلَْاَمْ َلَِإ
Artinya :
Dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkata, Rasulullah SAW bersabda
“Tinggalkan oleh engkau perbuatan yang meragukan, menuju perbuatan yang tidak meragukan.”(HR Tirmidzi )
Pembahasan pertama dalam manajemen perspektif Islam adalah perilaku yang terkait dengan nilai-nilai keimana dan ketauhidan. Jika setiap perilaku orang terlibat dalam sebuah kegiatan yang dilandasi dengan nilai tauhid, maka diharapkan perilakunya akan terkendali dan tidak terjadi perilaku KKN ( Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme ), karena menyadari adanya pengawasan dari yang Maha Tinggi yaitu Allah SWT yang akan mencatat setiap amal perbuatan yang baik maupun yang buruk. Setiap kegiatan dalam manajemen perspektif Islam , diupayakan menjadi alam sholeh yang bernilai abadi. Istilah amal sholeh tidak semata-mata diartikan perbuatan baik tetapi merupakan amal perbuata baik yang dilandasi dengan iman, dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Niat yang ikhlas karena Allah.
Suatu perbuatan, walaupun terkesan baik tetapi jika tidak dilandasi dengan keikhlasan karena Allah, maka perbuatan itu tidak diaktan sebagai amal sholeh. Niat yang ikhlas hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Perhatikan firman Allah SWT dalam surah al-Bayyinah: 5:
اوُدُبْعَ يِلْ لَِإْاوُرِمُأْاَمَو
ُْْمَْو للٱ ْ
َْةَوَك زلٱْاوُتْتُ يَوَْةَوَل يلٱْاوُميِقُيَوَْءاَفَ نُحَْنيِّدلٱُْوَلََْ ِيِل
َْكِلََذَو ْ
ِْةَمِّيَقْلٱُْنيِد
Terjemahnya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikanketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Kementerian agama RI 2012 : 598)
b. Tata cara pelaksanaannya sesuai dengan syariat.
Suatu perbuatan yang baik tetapi tidak sesuai dengan ketentuan syaria, maka tidak tidak dikatakan sebagai amal sholeh.
Sebagai contoh, seseorang yang melakukan sholat ba‟diyah ashar. Kelihatannya perbuatan itu baik, tetapi tidak sesuai dengan ketentuan syariat, maka ibadah itu bukan amal sholeh bahkan dikatan bid‟ah.
c. Dilakukan dengan penuh kesungguhan.
Perbuatan yang dilakukan asal-asalan tidak termasuk amal sholeh. Sudah menjadi anggapan umum bahwa karena ikhlas ( sering
disebut dengan istilah lillahi ta‟ala) maka suatu pekerjaan dilaksanakan dengan asal-asalan tanpa kesungguhan , Keikhlasan seseorang dapat dilihat dari kesungguhannya dalam melakukan perbuatannya. Jadi bukti keikhlasan itu adalah kesungguhan, dengan mujahadah. Keikhlasan juga sering diartikan sebagai suatu pekerjaan tanpa upah, akibatnya muncul pandangn bahwa orang yang menerima gaji dari pekerjaannya (misalnya mengajara), maka dikatakan tidak ikhlas dalm mengajar. Hal ini perlu diluruskan. Keikhlasan orang dalam beralam tidak bisa diukur dengan materi atau upah yang ia terima. Bisa saj seseorang bekerja dengan menerima gaji yang tinggi tetapi ia ikhlas dalam pekerjaannya.
Sebaliknya, ada pula orang bekerja dengan upah sedikit tapi tidak ikhlas, atau menjadi tidak ikhlas dalam pkerjaannya karena upah yang kecil.
Hal kedua yang dibahas dalam manajemen perspektif Islam adalah struktur organisasi. Struktur organisasi sangatlah perlu. Adanya struktur dan stratifikasi dalam islam dijelskan dalam surah Al- An‟am : 165 , sebagai berikut:
ْاَمْ ِفِْْمُكَوُلْ بَيِلْ ٍتاَجَرَدٍْضْعَ بَْقْوَ فْْمُكَضْعَ بَْعَفَرَوِْضْرلأاَْفِئلاَخْْمُكَلَعَجْيِذ لاَْوُىَو
ٌْميِحَرٌْروُفَغَلُْو نِإَوْ ِباَقِعْلاُْعيِرَسَْك بَرْ نِإْْمُكاَتآ
Terjemahnya:
“ Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggalkansebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yangdberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”.
Kementerian Agama RI 2012: 150
Dalam ayat di atas dikatakan “Allah meniggikan seseorang diatas orang lain beberapa derajat” . hal ini menjelaskan bahwa dalam mengatur kehidupan dunia, peran manusia tidak akan sama, kepintaran dan jabatan seseorang tidak akan sama pula.
Sesungguhnya struktur ini merupakan sunnatullah. Ayat ini mengatakan bahwa kelebihan yang diberikan itu (struktur yang berbeda) merupakan ujian dari Allah dan bukan digunakan untuk kepentingan sendiri. Hal ketiga yang dibahas dalam manajemen perspektif Islam adalah sistem. Sistem Islam yang disusun harus menjadikan perilaku-perilakunya berjalan dengan baik. Sistem adalah seluruh aturan kehidupan manusia yang bersumber dari Alquran dan As-sunnah aturan tersebut berbentuk keharusan dan larangan melakukan sesuatu. Aturan tersebut dikenal sebagai hukum lima, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, haram.
Aturan-aturan itu dimaksudkan untuk menjamin keselamatan manusia sepanjang hidup mereka, baik yang menyangkut keselamatan agama, diri (Jiwa dan raga), akal, harta benda, serta keselamatan nasab keturunan. Semua hal itu merupakan kebutuhan pokok atau primer . Pelaksanaan sistem kehidupan secara konsisten dalam semua
kegiatan akan melahirkan sebuah tatana kehidupan yang baik yang disebut dengan hayaatan thayyibah.
Dalam ilmu manajemen, pelaksanaan sistem yang konsisten akan melahirkan sebuah tatanan yang rapi, sebuah tatanan yang disebut sebagai manajemen yang rapi.
1. Pengertian manajamen dalam Perspektif Islam
Dalam konteks Islam manajemen disebut juga dengan ( – ةرادإ -ةسايس ريبدت) yang bersal dari lafadz (ربد – رادأ – ساس). Menurut S. Mahmud Al-Hawary manajemen Al-Idarah ( Al-idarah al-Asasul wal Ushulil Ilmiyah:
1976: 570 ialah;
.”Manajemen adalah mengetahui kemana yang dituju, kesukaran apa yang harus dihindari, kekuatan-kekuatan apa yang dijalankan, dan bagaimana mengemudikan kapal anda serta anggota dengan sebaik-baiknya tanpa pemborosan waktu dalam proses mengerjakannya.”
Istilah ةرادإ atau manajemen, Al-Quran telah memberikan stimulasi di dalam firmannya surah Al-Baqarah: 282:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[179]
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli;
dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.Kementerian Agama RI 2012: 48.
Di dalam ayat tersebut dilafadzkan مكنيب اهن وريدت ( yang kamu jalankan diantara kamu). Asal katanya adalah ةراد إ-رادٔا yang artinya manajemen atau administrasi. ةرادإ adalah isim masdhar dari رادٔا . Jadi ةرادإ atau
manajemen, suatu keadaan timbal balik, berusaha supaya menetapi peraturan yang ada.
Idarah dalam pengertian umum adalah segala usaha tindakan dan kegiatan manusia, yang berhubungan dengan perencanaan dan pengendalian segala sesuatu secara teratur dan tepat untuk mencapai sesuatu yang merujuk kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan manajemen sebagai bagian dari ilmu pengetahuan sosial merupakan hasil kupasan yang diilhami oleh kitab suci Alquran.
2. Fungsi-fungsi Manajemen dalam Islam
Berbicara tentang fungsi manajemen dalam islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang indstri yawan Prancis, mengatakan bahwa funsi – fungsi manajemn itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengordienasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus brlangsung hingga sekarang.
Sementara itu Robbin dan Coilter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemn yang paling penting adalah menrencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi Ibrahim (1997:67) menyatakan bahwa fungsi manajemmn atau tugas kepemimpinan dalam pelaksaannya meliputi berbagai hal, yaitu Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.
a) Perencanaan (planning)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap dirimemperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalahkepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” . (Kementerian Agama RI 2012: 548 ).
Dalam hadits rasulullah SAW bersabda:
ْْنَع
Abdul Uzza Ibn Riah Ibn Abdullah Ibn Qurth Ibn Razah Ibn „adi Ibn Ka‟ab Ibn Lu‟ai Ibn Ghalib al-Quraisyi al- Adwi ra, berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang
hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Bukhari)
Dari ayat dan hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu harus direncanakan (niatkan. Dalam upaya mengelola pembelajaran diperlukan sebuah niat (rencana), perencanaan yang baik.
b). Pengorganisasian (organizing)
Menurut Hick dan Gullet ( 1981: 321) pengorganisasian adalah kegiatan membagi tugas dan tanggung jawab dan wewenang sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam Alquran surah Al-Imran ayat 103 dapat diambil sebuah pemahama tentang adanya fungsi manajemen, yaitu organizing (pengorganisasian) sebagaimana firman Allah SWT QS. Al- Imran:
103
:
اوُمِيَتْعٱَو
ْ للٱْ ِلْبَِبَ ْ اوُرُكْذٱَوْْاوُق رَفَ تْ َلََوْاًعيَِجَِْو
ِْو للٱْ َتَمْعِن ْ اَدْعَأْْمُتنُكْْذِإْْمُكْيَلَع
َْف لَأَفًْء
َْمْعِنِبْمُتْحَبْصَأَفْْمُكِبوُلُ قََْْ َ ب
ِْوِتٓۦ ٱْ َنِّمٍْةَرْفُحْاَفَشْ َىَلَعْْمُتنُكَوْاًنََوْخِإ ْ
ْْاَهْ نِّمْمُكَذَقنَأَفِْرا نل
ِْوِتََياَءْْمُكَلُْو للٱَُِّْ َ بُ يَْكِلََذَك
ْ ۦ
َْنوُدَتْهَ تْْمُك لَعَل
Terjemahnya:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Kementerian Agama RI 2012: 93)
Dari ayat tersebut menunjukkan perlunya persatuan dalam setiap tindakan terpadu, utuh, kuat, dan karenanya Allah melarang bercerai-berai. Artinya bahwa megorganisasi sesuatu hal dengan baik agar supaya tidak terpecah-pecah antara satu dan lain menajdi prinsip dalam manajemen menurut Islam. Dan di ayat lain Allah SWT berfirman QS. Al An‟am:165 :
ْاَمْ ِفِْْمُكَوُلْ بَيِلْ ٍتاَجَرَدٍْضْعَ بَْقْوَ فْْمُكَضْعَ بَْعَفَرَوِْضْرلأاَْفِئلاَخْْمُكَلَعَجْيِذ لاَْوُىَو
َْرٌْروُفَغَلُْو نِإَوْ ِباَقِعْلاُْعيِرَسَْك بَرْ نِإْْمُكاَتآ
ٌْميِح
Terjemahnya:
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan- Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengamp un lagi Maha Penyayang.
(Kementerian Agama RI 2012: 150)
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa seseorang dalam menjalani hidup, pasti dihadapkan pada sesuatu yang berbeda, mereka ada pada tingkatan yang berbeda, yang dikenal dengan sebutan struktur organisasi. Dengan demikian, pengorganisasian sesungguhnya merupakan kegiatan untuk menyusun atau membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam upaya mencapai tujuan.
c). Pengarahan (directing)
Menurut Terry dalam Hasibun(2000: 183) mendefinisikan bahwa pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok agar mau bekerjasama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Didalam Islam, fungsi pengarahan dilakukan oleh seorang Nabi (guru) atau pemimpin untuk memberikan petunjuk tentang hal yang baik dan buruk. Didalam Alquran surah Al-Imran ayat 110 , Allah berfirman:
ُْمْلٱِْنَعَْنْوَهْ نَ تَوْ ِفوُرْعَمْلٱِبَْنوُرُمْأَتِْسا نلِلْْتَجِرْخُأٍْة مُأَْرْ يَخْْمُتنُك
ِْو للٱِبَْنوُنِمْتُ تَوِْرَكن
ْْ
ْْلٱُْلْىَأَْنَماَءْْوَلَو
ْمُ لذْاًرْ يَخَْناَكَلْ ِبََتِك
َْنوُقِسََفْلٱُْمُىُرَ ثْكَأَوَْنوُنِمْتُمْلٱُْمُهْ نِّم ْ
Terjemahnya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yangma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Kementerian Agama RI 2012: 94)
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa sebagai umat manusia (ummat Muhammad) yang terbaik diperintahkan untuk meberikan anjuran (pengarahan) kepada umat islam lainnya agar senantiansa melakukan pekerjaan yang baik dan menjauhkan diri dari melakukan pekerjaan yang melanggar perintah agama. Di dalam Surah Al-Baqarah ayat 213, Allah berfirman:
ِِّْب نلٱُْو للٱْ َثَعَ بَ فًْةَدِحََوًْة مُأْ ُسا نلٱَْناَك
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu