BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Pengertian Manual handling
Manual handling didefinisikan sebagai suatu pekerjaan yang berkaitan dengan mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik, menahan, membawa, atau memindahkan beban dengan satu tangan atau kedua tangan atau dengan pengerahan seluruh badan. Sering pula pekerjaan manual handling dilakukan dengan menggunakan alat bantu mekanik, seperti troli, forklift, crane, hoist, conveyor,dll. Dan selama tenaga manusia masih diperlukan untuk mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik, menahan, membawa, atau memindahkan beban maka hal tersebut masih dalam rentang definisi manual handling (Tarwaka, 2015).
Menurut Nurmianto (2004) pemindahan bahan secara manual apabila tidak dilakukan secara ergonomis akan menimbulkan kecelakaan dalam industri.
Kecelakaan industri (industry accident) yang disebut sebagai “over exertion-lifting and carrying” yaitu kerusakan jaringan tubuh yang diakibatkan oleh beban angkat berlebih. Selain masalah cara pengangkatan, jarak angkat salah satu faktor yang juga harus diperhatikan adalah beban yang diangkat.
Pekerjaan manual handling dapat menyebabkan stress pada kondisi fisik pekerja (seperti; pengerahan tenaga, sikap tubuh yang dipaksakan dan gerak yang berulang) yang dapat mengakibatkan terjadinya cedera, energi terbuang secara percuma dan waktu kerja tidak efisien. Untuk menghindarkan masalah – masalah seperti tersebut, maka organisasi perusahaan secara langsung dapat memperbaiki
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
atau menyusun antara tuntutan tugas dengan kemampuan pekerjaan (Tarwaka, 2015).
2.9 Klasifikasi Manual Handling
Occupational Safety and Health Administration (OSHA) mengklasifikasikan kegiatan manual material handling menjadi lima yaitu sebagai berikut (Suhadri, 2008).
2.9.1 Mengangkat / Menurunkan (Lifting/Lowering)
Mengangkat adalah kegiatan memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi yang masih dapat dijangkau oleh tangan. Kegiatan lainnya adalah menurunkan barang yaitu memindahkan barang ketempat yang lebih rendah.
Beberapa teknik/ cara yang benar dalam mengangkat/ menurunkan adalah :
Gambar 2.1 Cara Mengangkat
(Sumber : Suhadri, 2008).
a. Batasan Angkatan
Batasan Angkat menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No : 01/MEN/1978.
Tabel 2.1 Batasan angkat manual handling
Aktivitas Mengangkat Laki – Laki
Dewasa Wanita Dewasa
Hanya Mengangkat Sekali – kali
40 Kg 10 Kg
Terus – Menerus 15 – 18 Kg 10 Kg
b. Teknik Angkatan
1. Jongkok dengan posisi yang benar serta pijakan kaki kuat.
2. Letakan tangan pada posisi dibawah beban.
3. Luruskan lutut.
4. Punggung dalam posisi lurus dan tidak membungkuk saat mengangkat ketika pergerakan keatas.
5. Saat mengangkat benda menggunakan kekuatan kaki dan dibantu dengan otot perut dan lengan.
2.9.2 Mendorong/ Menarik (Push/Pull)
Kegiatan mendorong adalah kegiatan menekan berlawanan arah tubuh dengan usaha yang bertujuan untuk memindahkan obyek. Kegiatan menarik kebalikan dengan itu. Cara atau teknik yang benar dalam mendorong/ menarik adalah :
1. Pijakkan kaki dengan kuat.
2. Punggung tetap lurus dan tidak membungkuk.
3. Gunakan kekuatan tangan untuk mendorong atau menarik.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 2.2 Cara Mendorong
(Sumber : Suhadri, 2008).
2.9.3 Memutar (Twisting)
Kegiatan memutar merupakan kegiatan manual handling yang merupakan gerakan memutar tubuh bagian atas ke satu atau dua sisi, sementara tubuh bagian bawah berada dalam posisi tetap. Kegiatan memutar ini dapat dilakukan dalam keadaan tubuh yang diam. Teknik yang benar saat memutar adalah :
1. Memutar dilakukan dalam keadaan diam atau tidak sedang berjalan.
2. Bagian yang bergerak memutar adalah kaki.
3. Saat memutar, pinggang tidak ikut memutar.
4. Memutar dilakukan dengan perlahan.
5. Beban di tumpukkan pada badan.
Gambar 2.3 Cara Memutar
(Sumber : Suhadri, 2008).
2.9.4 Membawa (Carrying)
Kegiatan membawa merupakan kegiatan memegang atau mengambil barang dan memindahkannya. Berat benda menjadi berat total pekerja. Teknik yang benar dalam membawa adalah :
1. Pijakkan kaki yang kuat.
2. Pegang objek sedekat mungkin dengan tubuh.
3. Posisi leher dan pinggang dalam keadaan lurus.
4. Beban di tumpukkan pada badan
Gambar 2.4 Cara Membawa
(Sumber : Suhadri, 2008).
2.9.5 Menahan (Holding)
Memegang obyek saat tubuh berada dalam posisi diam (statis). Teknik menahan yang benar adalah :
1. Pijakan kaki yang kuat.
2. Pegang objek sedekat mungkin dengan tubuh.
3. Posisi punggung dalam keadaan tegak/ lurus.
4. Posisi leher dalam keaadaan lurus.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 2.5 Cara Menahan
(Sumber : Suhadri, 2008).
Pemilihan manusia sebagai tenaga kerja dalam melakukan kegiatan penanganan material bukanlah tanpa sebab. Penanganan material secara manual memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
1. Fleksibel dalam gerakan sehingga memberikan kemudahan pemindahan beban pada ruang terbatas dalam pekerjaan yang tidak beraturan.
2. Untuk beban ringan akan lebih murah dibandingkan menggunakan mesin 3. Tidak semua material dapat dipindahkan dengan alat.
2.10 Risiko dan Bahaya Manual Handling
Cedera akibat manual handling bisa terjadi dimana pun manusia bekerja.
Di peternakan atau perkebunan dan lokasi pembangunan gedung, dalam pabrik, kantor, gudang, rumah sakit, bank, laboratorium, dan pada jasa pengiriman (Health and Safety Executive (HSE), 2012).
Melakukan salah satu atau lebih kegiatan manual handling secara berulang-ulang dan terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan dan ketidaknyamanan. Seiring berjalannya waktu, cedera punggung, bahu, tangan, pergelangan tangan, atau bagian tubuh lainnya dapat muncul. Dapat pula terjadi
kerusakan otot, tendon, ligamen, saraf, dan pembuluh darah. Cedera seperti ini dikenal sebagai musculoskeletal disorders atau MSDs (California Departement of Industrial Relations, 2007).
OSHA membagi dua kelompok cedera yang disebabkan oleh kegiatan manual handling yaitu sebagai berikut :
1. Luka, memar, patah tulang, dan sebagainya, akibat kejadian tiba-tiba dan tidak diharapkan seperti kecelakaan.
2. Kerusakan sistem musculoskeletal tubuh (otot, tendon, ligamen, tulang, sendi, bursa, pembuluh darah, dan saraf) sebagai konsekuensi selama melakukan aktivitas manual handling berulang. Cedera ini disebut penyakit musculoskeletal (MSDs) dan dibagi kedalam tiga grup :
a. Penyakit pada leher dan ekstremitas atas (Neck and upper limb disorders).
b. Penyakit ekstremitas bawah (Lower limbs disorders)
c. Nyeri punggung dan cedera punggung (Back pain and back injuries).
2.11 Risiko Kecelakaan Kerja Pada Manual Handling
Kegiatan manual handling yang meliputi pengangkatan, penurunan, mendorong, menarik memiliki potensi untuk menimbulkan kecelakaan kerja.
Kegiatan tersebut melibatkan koordinasi sistem kendali tubuh manusia seperti tangan, kaki, otak,otot dan tulang belakang. Bila koordinasi tubuh tidak terjalin dengan baik akan menimbulkan risiko kecelakaan kerja pada bidang manual handling. Faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan kerja manual handling yaitu :
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Faktor Fisik (Physical Factor)
Faktor ini dijabarkan terdiri dari suhu, kebisingan, bahan kimia, radiasi, gangguan penglihatan, postur kerja, gangguan sendi (gerakan dan perpindahan berulang), getaran mesin dari alat, alat angkut, dan permukaan lantai.
2. Faktor Psikososial (Psychosocial Factor)
Faktor ini terdiri dari karakteristik waktu kerja seperti shift kerja, peraturan kerja, gaji yang tidak adil, rangkap kerja, stress kerja, konsekuensi kesalahan kerja, istirahat yang pendek, dan terganggu saat kerja.
Kedua faktor diatas berpengaruh pada kecelakaan kerja pada bagian musculoskeletal. Untuk faktor fisik yang menjadi faktor berisiko adalah postur/sikap kerja dan gangguan sendi akibat pekerjaan yang berulang. Sedangkan diantara faktor psikososial yang menjadi penyebab utama adalah rendahnya pengawasan dalam aktivitas produksi dan terbatasnya keleluasan para pekerja. Hal seperti dalam proses produksi, pengoperasian mesin, dan peraturan perusahaan masih longgar untuk dilanggar para pekerja, terutama dalam hal keselamatan kerja. Hak pekerja dalam memperoleh istirahat untuk mengendorkan saraf dan otot masih kurang (Triyono, 2006).
2.12 Efek Pekerjaan Manual Handling 2.12.1 Tulang Belakang dan “Disc”
Sebelum dilakukan suatu identifikasi proses kerja manual handling di lingkungan tempat kerja yang dapat menyebabkan cedera, terutama terjadinya kenyerian pada pinggang, maka hal yang sangat penting untuk diketahui adalah
bagaimana tulang belakang didesain dan apa saja bagian-bagian tulang belakang terbentuk. Struktur utama pada anggota tubuh bagian belakang memungkinkan dilakukannya gerakan pada spine (tulang belakang). Tulang belakang terdiri dari komposisi 33 buah tulang yang terpisah atau “vertebrae”, dan 24 diantaranya dapat digerakkan. Masing-masing dari ke-24 “vertebrae” yang dapat digerakkan tersebut bertumpukkan pada bagian atas satu dengan yang lainnya dan dipisahkan oleh satu tulang rawan berserabut (fibrous cartilage) yang disebut dengan “Disc”.
Masing- masing “disc” berisi jaringan serabut yang melindungi inti dalam jelaga (the inner core of gel – like substance). Pada bagian tersebut mengandung banyak air, dan bekerja seperti suatu hydrostatis shock absorber untuk melindungi tulang belakang dari tekanan yang besar. Bagian luar dinding dilindungi isi bagian dalam dan mencegah “gel” dari kebocoran. Bagian ini juga berfungsi sebagai pelindung akibat tekanan yang sering dari aktivitas yang dilakukan, seperti pekerjaan mengangkat yang berulang-ulang, sikap tubuh yang dipaksakan dan berdiri pada permukaan lantai yang tidak rata, dll. Pada saat dinding “disc” mulai melemah, maka akan mulai terjadi tonjolan. Tonjolan disk (disc bulge) akan memberikan tekanan pada syaraf bagian dalam dan sekitar disk yang dirasakan sebagai suatu kenyerian. Jika tekanan pada disk terus berlanjut, maka dinding bagian luar disk akan pecah atau terjadi „hernia‟.
Hal ini tidak hanya memberikan tekanan tambahan pada disk dan syaraf spinal saja, tetapi juga akan membuat vertebrae pada bagian atas dan bawah disk menjadi tidak stabil. Kondisi ketidak stabilan ini akan dapat memberikan tekanan lebih pada syaraf- syaraf sekitarnya dan juga menyebabkan stress pada ligamen
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pada masing – masing vertebrae. Sebagai tambahan untuk nyeri pinggang yang berkaitan dengan masalah disk, kenyerian secara umum dapat dihubungkan dengan gangguan atau ketegangan otot dan ligamen. Gangguan berupa kenyerian tersebut terjadi pada saat tulang belakang membungkuk satu arah terlalu jauh, membungkuk secara berulang, atau pada saat posisi membungkuk dengan membawa beban (Tarwaka, 2015).
2.12.2 Penyebab Cedera dan Nyeri Pinggang
Cedera atau nyeri pinggang jarang sekali disebabkan karena kejadian atau kecelakaan tunggal. Pada beberapa kasus, suatu kecelakaan mungkin menyebabkan tertariknya otot. Tetapi sebenarnya otot sendiri tidak mengalami kesakitan sampai beberapa minggu atau beberapa bulan setelah aktivitas repetitive atau sikap tubuh yang dipaksakan pada waktu bekerja. Pada kasus lain, aktivitas mengangkat, mendorong, menarik dan membawa beban secara repetitive yang berlangsung lama (beberapa bulan atau beberapa tahun) tidak menjadi penting sampai suatu aktivitas mengangkat secara tunggal menyebabkan kenyerian yang signifikan oleh karena penonjolan atau pecahnya disk (Tarwaka, 2015).
2.12.3 Gangguan Otot Rangka
Salah satu tujuan utama dari program ergonomi adalah mencegah terjadinya gangguan otot rangka. Gangguan otot rangka merupakan kerusakan pada otot, berupa ketegangan otot, inflamasi, degenerasi ataupun sobek.
Sedangkan kerusakan pada tulang dapat berupa memar, mikro faktur, patah atau terpelintir. Gangguan ini secara umum disebabkan karena melakukan aktivitas kerja fisik dalam kondisi yang berisiko, sehingga menyebabkan rusaknya jaringan
yang menyelimuti persendian. Aktivitas kerja fisik rutin dapat mengakibatkan cedera ringan pada jaringan otot dan tendon. Cedera ini terjadi akibat penurunan aliran darah atau adanya keteganggan pada jaringan. Hal ini dapat menyebakan ketegangan pada syaraf, kerusakan tendon, ketegangan otot dan kerusakan sendi.
Pada awalnya cedera otot tidak menganggu dan dapat sembuh saat beristirahat pada malam hari. Kerusakan terus menerus pada jaringan sering terjadi setiap hari, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan juga semakin lama, dan tidak cukup hanya beristirahat pada malam hari. Kerusakan ini akhirnya terakumulasi dan menyebabkan gangguan otot rangka. Penyakit ini termasuk sering dialami, namun sering diabaikan karena biasanya gejala yang ditimbulkan ringan sampai sedang yang akan hilang dengan sendirinya setelah istirahat. Namun penyakit ini dapat berkembang menjadi serius (Djira, 2012).
Gejala yang dirasakan setiap individu jika menderita gangguan otot rangka ini tidak sama, meskipun pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan hampir sama.
Gejala ini antara lain adalah :
a. Adanya rasa sakit, nyeri atau tidak nyaman b. Pegal-pegal, Mati rasa
c. Gerakan menjadi lemah dan kaku d. Adanya rasa terbakar
e. Pergerakan menjadi terbatas f. Kaku pada persendian
g. Kemerahan, bengkak, dan hangat pada daerah tersebut.
h. Kelelahan pada sebagian otot.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.13 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Manual Handling
Analisis pekerjaan adalah metode yang digunakan dalam bidang ergonomi untuk mengidentifikasi dan memahami komponen-komponen dari pekerjaan, mengatur pekerjaan tertentu dari pekerjaan tersebut. Tujuan dari analisis pekerjaan adalah mengetahui risiko pekerjaan manual handling dari setiap tugas.
Faktor risiko adalah sifat atau karakteristik pekerja atau lingkungan kerja yang dapat meningkatkan kemungkinan pekerja tersebut menderita gangguan kesehatan. Faktor – faktor risiko dalam pekerjaan manual handling dapat diklasifikasikan menjadi faktor risiko yang terkait dengan karakteristik pekerjaan (task characteristic), karakteristik objek (material/object characteristic), lingkungan kerja (workplace characteristic) dan faktor individual (Djira, 2012).
1. Karakteristik Pekerja
Karakteristik pekerja masing-masing berbeda dan mempengaruhi jenis dan jumlah pekerjaan yang dapat dilakukan. Karakteristik pekerja terdiri dari : a. Fisik, yang meliputi ukuran pekerja secara umum seperti usia, jenis
kelamin, antropometri, dan postur tubuh.
b. Kemampuan sensorik, ukuran kemampuan sensorik pekerja yang meliputi penglihatan, pendengaran, kinestetik, sistem keseimbangan dan proprioceptive.
c. Motorik, ukuran kemampuan motorik/gerak pekerja yang meliputi kekuatan, ketahanan, jangkauan, dan karakter kinematis.
d. Psikomotorik, mengukur kemampuan pekerja menghadapi proses mental dan gerak seperti memproses informasi, waktu respon, dan koordinasi.
e. Personal, ukuran nilai dan kepuasan kerja dengan melihat tingkah laku, penerimaan risiko, persepsi kebutuhan ekonomi, dll
f. Training/pelatihan, ukuran kemampuan pendidikan pekerja dalam training formal atau keterampilan dalam menangani instruksi manual handling.
g. Status kesehatan.
h. Aktivitas dalam waktu luang.
2. Karakteristik Material
Karakteristik Material atau bahan meliputi :
a. Beban, ukuran berat benda, usaha yang dibutuhkan untuk mengangkat.
b. Dimensi, atau ukuran benda seperti lebar, panjang, tebal dan bentuk benda baik itu kotak, silinder, dll.
c. Distribusi beban, ukuran letak unit dengan reaksi pekerja untuk membawa dengan satu atau dua tangan.
d. Cara membawa beban oleh pekerja berkaitan dengan tekstur, permukaan, atau letak.
e. Stabilitas beban.
3. Karakteristik Tugas/ pekerjaan
Karakteristik tugas meliputi kondisi pekerjaan manual handling yang akan dilakukan. Terdiri dari :
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
a. Geometri tempat kerja, termasuk didalamnya jarak pergerakan, langkah yang harus ditempuh, dll
b. Frekuensi, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan termasuk frekuensi pekerjaan yang dilakukan.
c. Kompleksitas pekerjaan, termasuk didalamnya ketepatan penempatan, tujuan aktivitas, maupun komponen pendukungnya.
d. Lingkungan kerja seperti pencahayaan, kebisingan, getaran, bau-bauan, juga daya tarik kaki.
4. Sikap Kerja
Penanganan manual handling juga melibatkan metode kerja atau sikap dalam menyelesaikan pekerjaan/tugas/tugas. Pengamatan meliputi pada : a. Individu, merupakan ukuran metode operasional, seperti kecepatan,
ketetapan,cara/postur saat memindahkan.
b. Organisasi, berkaitan dengan organisasi kerja seperti luas bangunan pabrik, keberadaan tenaga medis, maupun utilitas kerjasama tim.
c. Administrasi, seperti sistem intensif untuk keselamatan kerja, kompensasi, rotasi kerja, pengendalian, dan pelatihan keselamatan.
2.14 Biomekanik Pada Pekerjaan Manual Handling
Biomekanik adalah studi tentang elemen tubuh manusia yang terstruktur tentang bagaimana fungsi-fungsi tubuh dan berapa banyak stress, akselerasi dan pengaruh yang terjadi. Secara sederhana dapat dijelaskan pada aplikasi prinsip mekanik untuk material biologis pada kehidupan manusia. Saat ini, kebutuhan energi dari seorang pekerja yang bekerja pada industri sering dapat dikurangi
secara drastis melalui penerapan teknologi dan rekayasa teknik yang lebih baik.
Untuk itu, seorang ergonomist sebaiknya menerapkan prinsip biomekanik untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan pekerjaan, khususnya yang berkaitan dengan manual handling dan untuk meningkatkan produktivitas itu sendiri (Tarwaka, 2015).
1) Jenis Pergerakan Anggota Tubuh
Pergerakkan tubuh selama terjadinya aktivitas tertentu diindustri dapat dijelaskan didalam istilah operasional sebagai berikut :
a) Pergerakkan Positioning pada tangan atau kaki dari satu posisi tertentu ketempat lainnya, seperti pada saat pekerja menjangkau tombol kendali mesin.
b) Pergerakan Continuous, memerlukan pengaturan kontrol otot pada beberapa jenis otot saat bergerak, seperti saat memutar roda mobil atau mengarahkan batangan atau lembaran kayu melalui mesin gergaji.
c) Pergerakkan Manipulative, melibatkan aktivitas handling pada peralatan kerja, mekanisasi alat kontrol, secara tipikal dengan menggunakan jari atau tangan.
d) Pergerakkan Repetitive, adalah merupakan suatu pergerakkan yang sama secara berulang – ulang, seperti pada pekerjan memukul dengan palu, penggunaan obeng, memutar baut, dll.
e) Pergerakkan Sequential, adalah merupakan pergerakan independen yang terpisah didalam suatu rangkaian proses kerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
f) A Static Posture, terjadi pada saat mempertahankan segmen pada satu posisi tertentu untuk satu periode waktu tertentu (Tarwaka, 2015).
2) Otot-Otot
Pada saat bentuk aktivitas tubuh memerlukan satu pengerahan tenaga, maka kebutuhan pergerakkan tubuh harus diatur seperti halnya tenaga otot digunakan secara efektif dan seterampil mungkin. Sejak sebuah otot digerakkan dengan tenaga penuh diawal konstraksi, hal yang paling baik adalah harus dimulai dari suatu sikap tubuh yang mana kondisi otot telah memanjang secara penuh. Selanjutnya, salah satu hal yang harus diperhitungkan adalah efek pengungkitan dari tulang-tulang. Jika beberapa otot dikerahkan secara bersama-sama, maka pemanjangan otot mengalami konstraksi secara simultan.
2.15 Penilaian Risiko Manual Handling
Selama dilakukan pekerjaan manual handling untuk objek kerja yang berat (seperti, mengangkat, menahan, memindahkan, dan menurunkan objek), maka akan dapat menyebabkan risiko cedera atau menyebabkan gangguan sistem musculoskeletal, khususnya pada pinggang. Untuk menilai risiko seperti tersebut diatas, di jerman telah dikembangkan dan diimplementasikan metode indikator kunci LMM (LeitmerkMalMethode). Metode indikator kunci LMM digunakan didalam penilaian risiko selama dilakukan pekerjaan manual handling untuk objek kerja yang berat dengan memperhitungkan empat (4) faktor atau parameter stress fisik yang terjadi selama pekerjaan manual handling, yaitu : waktu (time),
beban (load), sikap tubuh (posture), dan kondisi selama kerja (Condition of performing work). Penilaian Indikator kunci tersebut yaitu :
1. Rating Indikator Waktu ( Time Indicator – T )
Indikator berat ringannya dari lama waktu (the length of time) ketika seseorang menangani beban/ obyek kerja dapat dinilai, yang didasarkan pada tabel 2.2, dengan memilih salah satu dari ketiga bentuk tentang bagaimana penanganan beban biasanya dilakukan oleh pekerja. Ketiga bentuk tersebut adalah sebagai berikut :
a. Untuk tugas-tugas yang melibatkan repetisi secara regular untuk aktivitas pendek dengan mengangkat, menurunkan, membawa, atau memindahkan objek, frekuensinya (jumlah aktivitas pendek selama satu shift kerja) adalah merupakan nilai/ parameter dasar;
b. Untuk tugas-tugas yang melibatkan aktivitas menahan atau menopang objek, total durasi menahan atau menopang objek adalah merupakan nilai/
parameter dasar. Durasi tersebut merupakan hasil dari penambahan periode menahan atau menopang objek pada setiap aktivitas individu selama satu hari kerja;
c. Untuk tugas-tugas yang melibatkan aktivitas membawa atau memindahkan beban / objek pada jarak jauh dan salah satu yang harus dipertimbangkan dari total jarak dari beban yang dibawa adalah untuk aktivitas satu hari kerja. Untuk perhitungan jarak angkut secara manual, maka rerata kecepatan jalan adalah 4 km/ jam atau sekitar 1m/detik.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 2.2 Penilaian waktu didasarkan jenis manual handling
2. Rating Indikator Massa (Mass Indicator – M)
Indikasi berat ringannya beban kerja oleh karena massa dari suatu objek yang dikerjakan dapat dinilai yang didasarkan pada tabel 2.3, secara terpisah untuk wanita dan laki-laki. Perlu diperhitungkan hanya untuk beban yang efektif, bahwa reaksi seseorang terhadap gravitas suatu objek pada tempat dimana objek ditopang mungkin dapat berpengaruh terhadap penilaian.
Tabel 2.3 Penilaian massa/ beban terhadap beban efektif
Beban Kerja untuk laki-laki (Kg)
Load Rating (Skor) Beban Kerja untuk wanita (Kg)
*Tidak dapat diterapkan untuk situasi dimana maksimum massa dari objek dikerjakan atau pengeluaran energi maksimum selama kerja dilampaui. Sebagai contoh; untuk wanita, massa dari objek yang dibawa tidak boleh melebihi 10 kg selama kerja tetap
atau kerja terus menerus.
(Sumber : Tarwaka, 2015).
3. Rating Indikator Sikap Tubuh (Body Posture Indicator - P)
Indikasi berat ringannya faktor sikap tubuh (Body Posture – P) dinilai atau dirating berdasarkan piktogram seperti diilustrasikan pada tabel 2.4 salah
Mengangkat atau Operasi
*tidak dapat diterapkan apabila membawa / mengangkut beban > 30kg dengan jarak > 25 m untuk sekali angkut.
satu yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu sikap tubuh pekerja selama melakukan aktivitas (mengangkat/membawa beban) dihubungkan dengan aktivitas manual handling pada objek dan mengklasifikasikannya ke dalam salah satu group yang disebutkan pada tabel 2.4 tersebut.
Tabel 2.4 Penilaian sikap tubuh (body posture) terhadap jenis sikap
Tubuh bagian atas tidak memutar.
Beban berada dekat dengan badan.
1
Sedikit membungkuk kedepan atau sedikit memuntirkan badan.
Beban berada dekat dengan badan
atau diatas ketinggian bahu. 2
Membungkuk sampai bawah atau membungkuk kedepan cukup jauh.
Sedikit membungkuk kedepan dengan memuntirkan badan secara simultan.
Beban berada jauh dari badan atau diatas bahu.
3
Membungkuk jauh kedepan dengan memuntirkan badan secara simultan.
Beban berada jauh dari badan.
Stabilitas tubuh terbatas, pada saat berdiri.
Jongkok dan atau berlutut.
4
(Sumber: Tarwaka, 2015).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4. Rating Indikator Kondisi Kerja (Working Condition Indicator-W)
Pada saat menilai indikasi berat ringannya kondisi kerja, salah satu yang harus dipertimbangkan adalah kondisi kerja yang dominan selama periode kerja secara keseluruhan. Kondisi kerja dijelaskan pada tabel 2.5. sebagai catatan; agar dapat menentukan skor rating indikator secara akurat didalam hubungan terhadap beban aktual manual handling, maka penilaian dilakukan dengan metode interpolasi, nilai rating didasarkan pada tabel 2.5 tersebut.
Tabel 2.5 Penilaian Indikator Kondisi Kerja
Penjelasan Kondisi pada saat melakukan pekerjaan Rating (Skor) Kondisi Kerja
Kondisi ergonomi yang baik, seperti; tersedia cukup ruang untuk bekerja; tidak ada benda/ material yang menghalangi proses kerja;
pencahayaan bagus; kondisi lantai bagus, dll. 0
Terbatasnya ruang untuk bergerak pada stasiun kerja; kondisi ergonomi yang kurang bagus (seperti; tinggi landasan kerja yang terlalu rendah atau area kerja <1,5 m2 ); stabilitas tubuh terganggu
karena keadaan lantai yang tidak rata,dll. 1
Ruang untuk kerja sangat terbatas pada stasiun kerja dan atau pusat
gravitas beban tidak stabil selama pemindahan beban/objek, dll. 2
gravitas beban tidak stabil selama pemindahan beban/objek, dll. 2