• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH STEVANY OCTAVIA NIM :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH STEVANY OCTAVIA NIM :"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH

STEVANY OCTAVIA NIM : 121000424

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017 SKRIPSI

OLEH

STEVANY OCTAVIA NIM : 121000424

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017 SKRIPSI

OLEH

STEVANY OCTAVIA NIM : 121000424

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Skripsi ini diajukan sebagai

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH

STEVANY OCTAVIA NIM : 121000424

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

Skripsi ini diajukan sebagai

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH

STEVANY OCTAVIA NIM : 121000424

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

Skripsi ini diajukan sebagai

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH

STEVANY OCTAVIA NIM : 121000424

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(3)

i

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ANALISIS RISIKO MANUAL HANDLING PADA PEKERJA CRUMB RUBBER PT.

BAKRIE SUMATERA PLANTATIONS, TBK TAHUN 2016” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Januari 2017

STEVANY OCTAVIA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)
(5)

iii

memindahkan sesuatu yang menggunakan tenaga seorang diri tanpa alat bantu.

Pekerjaan demikian dikenal dengan istilah Manual Material Handling (MMH).

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko dari kegiatan manual handling pada pekerja crumb rubber di PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk Kisaran. Penelitian ini bersifat analisis observasi dengan desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 pekerja dengan menggunakan teknik total sampling. Penilaian risiko menggunakan metode Leitmark Mal Methode (LMM) dengan melihat empat variabel yaitu Waktu, Beban, Postur Tubuh, dan Kondisi Lingkungan yang akan dijumlahkan untuk mendapatkan Nilai Akhir.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya risiko pada proses pekerjaan crumb rubber, hal ini ditunjukkan sesuai dengan hasil observasi terdapat 5 pekerja atau sekitar (16,67%) mengalami risiko ekstrim atau sangat tinggi yang terdapat pada proses pemindahan bales dengan pengangkatan beban melebihi batasan angkat yaitu ±40 Kg, dan 12 pekerja atau sekitar (40%) pada bagian Prebreaker II, III dan Penimbangan Bales, dalam kategori risiko tinggi dimana hasil tersebut menunjukkan bahwa pekerja mengalami stress fisik yang disebabkan oleh beban kerja, kondisi kerja dan postur tubuh yang tidak ergonomis.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pekerjaan pada pabrik crumb rubber memiliki risiko manual handling, yang ditunjukkan melalui jumlah skor akhir dan keluhan pada bagian leher, bahu, punggung tangan dan kaki yang dialami oleh pekerja sehingga dibutuhkan adanya perbaikan atau perubahan seperti pemberian waktu istirahat atau waktu pemulihan yang cukup, pengurangan massa atau beban dengan penggunaan alat bantu mekanik dan perbaikan postur tubuh saat bekerja.

Kata Kunci : Crumb Rubber, Manual Material Handling, Leitmark Mal Methode

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(6)

something that utilize energy of the worker without handling tools.That work is known as Manual Materials Handling (MMH).

This research is aimed to analyze the risk of manual handling to the crumb rubber workers in PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk Kisaran City . This research is an observational analysis with cross sectional study design. Total sample of 30 workers by sampling using total sampling method. Occupational risk assessment use the method of Leitmark Mal Methode (LMM) based on the four assessment categoriesie: Time, Mass, Posture, and environmental conditions .

The results showed the risk in crumb rubber work process, this is indicated correspond with the results of observations which are 5 workers or approximately (16.67%) experienced extreme or very high risk, and 12 workers, or about (40%) include in the high risk category where the workers of these results indicate that the workers experiencing physical stress caused by the work load, body posture or condition while working.

From the results of this research concluded that the work on the crumb rubber have a manual handling risk, which is indicated by the final score and the complaints by the worker so it is required for improvement or changes in work organization such as giving a break or sufficient recovery time, load reduction or by using mechanical equipment and improved body posture while working.

Keywords: Crumb Rubber,Manual Material Handling, Leitmark Mal Methode

(7)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan kemurahanNya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian skripsi dengan judul “ ANALISIS RISIKO MANUAL HANDLING PADA PEKERJA CRUMB RUBBER DI PT. BAKRIE SUMATERA PLANTATIONS, TBK

TAHUN 2016” ini tidak terlepas dari peran serta dan dukungan beberapa pihak.

Dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Ir. Kalsum, M.Kes selaku Dosen Pembimbing I sekaligus Ketua Penguji yang telah memberikan bimbingan, saran, dan masukan kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini.

5. Eka Lestari Mahyuni, SKM, M.Kes selaku Dosen Pembimbing II sekaligus Anggota Penguji yang telah memberikan bimbingan, saran, dan masukan kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini.

6. dr. Muhammad Makmur Sinaga, MS dan Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes selaku Anggota Penguji I dan Anggot Penguji II yang telah memberikan saran, arahan, dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(8)

7. Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

8. Seluruh Dosen dan Pegawai di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama perkuliahan.

9. Bapak Suwardi selaku Manager PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk, yang telah membantu dan memberikan perijinan kepada penulis untuk penyelesaian skripsi ini.

10. Seluruh Karyawan di PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk yang telah membantu penulis selama pnelitian.

11. Orangtua saya Bapak Jhonson Damanik dan Ibu Swandayani Manurung, SE yang telah memberikan doa dan dukungan mulai memasuki perkuliahan hingga saat ini dan sangat mengerti keadaan penulis terkhusus selama penulisan skripsi ini. Adik-adik saya Bripda Kelvin Nikolaus Damanik, dan Clara Natalia Damanik, serta kakak Agnes Desy Arisandi yang selalu memotivasi penulis agar tetap semangat, memberi penghiburan dalam tangis.

12. Ibu Timour Sidauruk, selaku pengganti orangtua penulis dikota medan yang senantiasa memberikan dukungan doa, dan semangat mulai awal perkuliahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

13. Keluarga besar Damanik, Manurung, dan Sidauruk yang selalu mendoakan dan mengingatkan penulis tetap ulet menyelesaikan skripsi.

14. Sahabat-sahabat SMA Apriya Herawati, Brian Jayanta Sinulingga, Brian Theowidavitya, Stania Ajeng Larasanti, Ni Luh Novi Purnama Dewi,

(9)

vii

Resty Magdalena Tuter senantiasa memberi dukungan agar penulis dapat menyelesaikan skripsi.

15. Aknesro Saulina Panjaitan, Christina Yuliana Samosir, Dewi Sartika Sianipar, Dian Kanesti Nadeak, Febrina Valentine Munthe, Iana Tresia A. Sibagariang, Maria Septi Aquanta Parangin-angin, Nopa Martogia Simaibang, Widya Yanti Sihotang SKM yang sudah setia dari awal perkuliahan sampai saat ini menjadi tempat cerita dan berbagi yang selalu mendukung penulis terkhusus dalam menyelesaikan skripsi ini.

16. Teman- teman Pondok Sakura Indah, Huzairul Akhyar Nasution, Yavid Hidayah, Ahmad Sofian, yang menyemangati dan membantu penulis selama menyelesaikan skripsi ini.

17. Elieser Jhon Pranata Tarigan, Citra Christin Saragih, Andri Despriadi Pasaribu, yang selalu bersedia membantu selama proses pengerjaan dan penelitian.

18. Teman-teman seperjuangan yang saling memberikan informasi mengenai semua hal yang terkait dengan skripsi yaitu Putri Nilam Sari, Franklin Siadari, Ridwan , Roy Simbolon, Ayu Ruthamala, Sheyla Riyani, Surya Budianto, Triska Hutabarat, dan semua teman K3 FKM USU Stambuk 2012.

19. Keluarga PBL Bunuraya Baru dan LKP PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk Kisaran yang selalu memberikan semangat dan dukungan kepada penulis.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(10)

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat terutama untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Medan, Januari 2017

STEVANY OCTAVIA

(11)

ix

HALAMAN PENGESAHAN ...ii

ABSTRAK ...iii

ABSTRACT ...iv

KATA PENGANTAR ...v

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR ISTILAH ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ...xv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.3.1 Tujuan Umum ... 7

1.3.2 Tujuan Khusus ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.4.1 Bagi Perusahaan PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk ... 7

1.4.2 Bagi PekerjaCrumb Rubber ... 8

1.4.3 Bagi Peneliti... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Pengertian Risiko ... 9

2.2 Penilaian Risiko ... 9

2.3 Pengertian Analisis Risiko ... 10

2.4 Tujuan Analisis Risiko ... 10

2.5 Evaluasi Risiko ... 11

2.6 Pengendalian Risiko ... 12

2.7 Penanganan Risiko ... 12

2.8 Pengertian Manual handling ... 13

2.9 Jenis – Jenis Manual Handling ... 14

2.9.1 Mengangkat/Menurunkan (Lifting/Lowering) ... 14

2.9.2 Mendorong/Menarik (Push/Pull) ... 16

2.9.3 Memutar (Twisting) ... 16

2.9.4 Membawa (Carrying)... 17

2.9.5 Menahan (Holding) ... 17

2.10 Risiko dan Bahaya Manual Handling ... 18

2.11 Risiko Kecelakaan Kerja Pada Manual Handling ... 20

2.12 Efek Pekerjaan Manual Handling ... 21

2.12.1 Tulang Belakang dan Disc ... 21

2.12.2 Penyebab Cedera dan Nyeri Pinggang ... 22

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(12)

2.17 Batasan Pengangkatan Manual Handling ... 37

2.18 Kerangka Konsep ... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 39

3.2.2 Waktu Penelitian ... 39

3.3 Populasi dan Sampel ... 40

3.3.1 Popoulasi ... 40

3.3.2 Sampel ... 40

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 40

3.4.1 Data Primer ... 40

3.4.2 Data Sekunder ... 41

3.4.3 Teknik Pengumpulan Data ... 42

3.5 Definisi Operasional ... 42

3.6 Analisis Data ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 47

4.1 Gambaran Umum PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk ... 47

4.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 52

4.2.1 Visi Perusahaan ... 52

4.2.2 Misi Perusahaan ... 52

4.3 Kebijakan Perusahaan (Company Policy) ... 52

4.4 Gambaran Proses Produksi di PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk ... 53

4.4.1 Pemanenan Karet ... 53

4.4.2 Proses Pengolahan Crumb Rubber ... 54

4.5 Karakteristik Pekerja Crumb Rubber di PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk ... 61

4.5.1 Umur Pekerja Crumb Rubber ... 61

4.5.2 Tingkat Pendidikan Crumb Rubber ... 61

4.5.2 Masa Kerja Pekerja Crumb Rubber ... 62

4.6 Penilaian Risiko Manual Handling Terhadap Pekerja Crumb Rubber ... 62

BAB V PEMBAHASAN ... 78

5.1 Ananlisis Risiko Manual Handling Terhadap Pekerja Crumb Rubber ... 79

(13)

xi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(14)

Tabel 2.2 Penilaian Waktu Didasarkan Jenis Manual Handling ... 30 Tabel 2.3 Penilaian Massa/ Beban terhadap Beban Efektif ... 30 Tabel 2.4 Penilaian Sikap Tubuh terhadap Jenis Sikap Tubuh dan Posisi Beban 31 Tabel 2.5 Penilaian Indikator Kondisi Kerja ... 32 Tabel 2.6 Penilaian Risiko Berkaitan dengan Beban Kerja Berdasarkan Final

Score ... 34 Tabel 4.1 Distribusi Pekerja berdasarkan umur pada Pekerja Crumb Rubber PT.

Bakrie Sumatera Plantations,Tbk Tahun 2016 ... 61 Tabel 4.2 Distribusi Pekerja berdasarkan Tingkat Pendidikan pada Pekerja Crumb Rubber PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk Tahun 2016... 62 Tabel 4.3 Distribusi Pekerja berdasarkan Masa Kerja pada Pekerja Crumb Rubber PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk Tahun 2016 ... 62 Tabel 4.4 Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Offgrades Pekerja Crumb Rubber

... 64 Tabel 4.5 Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Prebreaker I Pekerja Crumb

Rubber ... 66 Tabel 4.6 Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Maturasi Pekerja Crumb Rubber

... 68 Tabel 4.7 Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Prebreaker II Pekerja Crumb

Rubber ... 70 Tabel 4.8 Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Prebreaker III Pekerja Crumb

Rubber ... 72 Tabel 4.9 Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Pengeringan Pekerja Crumb

Rubber ... 74 Tabel 4.10 Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Pemindahan Bales Pekerja

Crumb Rubber ... 76 Tabel 4.11Tabel Hasil Pengamatan Pada Proses Penimbangan Bales Pekerja

Crumb Rubber ... 78

(15)

xiii

Gambar 1.2 Pekerja sedang Mengeluarkan Bandela Karet dari Pan. ... 6

Gambar 2.1 Cara Mengangkat ... 15

Gambar 2.2 Cara Mendorong ... 16

Gambar 2.3 Cara Memutar ... 16

Gambar 2.4 Cara Membawa ... 17

Gambar 2.5 Cara Menahan ... 18

Gambar 2.6 Kerangka Konsep ... 39

Gambar 4.1 Pekerja sedang membongkar Bahan Olah Karet ... 63

Gambar 4.2 Proses Pencucian dan Prebreaker I ... 65

Gambar 4.3 Proses Maturasi ... 67

Gambar 4.4 Proses Prebreaker II ... 69

Gambar 4.5 Proses Prebreaker III ... 71

Gambar 4.6 Proses Pemasukkan Crumb kedalam Pan... 73

Gambar 4.7 Pekerja sedang mengangkat Bales ... 75

Gambar 4.8 Proses Pemotongan dan Penimbangan Bales ... 77

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(16)

DAFTAR ISTILAH

APD : Alat Pelindung Diri

BSP : Bakrie Sumatera Plantations K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja LMM : Leitmark Mal Methode

MMH : Manual Material Handling NRI : Negara Republik Indonesia PMA : Penanaman Modal Asing

PMDN : Penanaman Modal Dalam Negeri PPN : Perkebunan Neraga Karet

PRD : Plantations Research Department RSIK : Rumah Sakit I Kartini

USRSP : United States Rubber Sumatera Plantations

(17)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Observasi Penilaian Indikator Kunci Leitmark Mal Methode (LMM)

Lampiran 2. Data Hasil Observasi Pada Pekerja Pabrik Crumb Rubber PT.

Bakrie Sumatera Plantations,Tbk Tahun2016

Lampiran 3. Surat Survei Pendahuluan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Lampiran 4. Surat Izin Survei Pendahuluan PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk

Lampiran 5. Surat Ijin Penelitian (Riset) Fakultas Kesehatan Masyarakat Lampiran 6. Surat Ijin Penelitian (Riset) PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(18)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Stevany Octavia Damanik

Tempat Lahir : Jakarta

Tanggal Lahir : 09 Oktober 1994 Suku Bangsa : Indonesia

Agama : Katholik

Nama Ayah : Jhonson Damanik

Suku Bangsa Ayah : Indonesia

Nama Ibu : Swandayani Manurung

Suku Bangsa Ibu : Indonesia

Pendidikan Formal :

1. SD/ Tamatan Tahun : SDSN Kalisari 02 Pagi Jakarta Timur (2000-2006) 2. SLTP/ Tamatan Tahun : SLTPN SSN 179 Jakarta Timur (2006-2009) 3. SLTA/ Tamatan Tahun : SMA N 88 Jakarta Timur (2009-2012) 4. Akademi/ Tamatan Tahun : Universitas Sumatera Utara (2012-2016)

(19)

1

Indonesia merupakan produsen karet alam terbesar kedua didunia setelah Thailand. Semenjak tahun 1980an, industri karet Indonesia telah mengalami pertumbuhan produksi lebih kurang 80% yang berasal dari provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. Total luas perkebunan karet Indonesia selama satu dekade meningkat stabil mencapai 3,65 juta hektar (Indonesia Investements, 2016).

Karet merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting bagi perekonomian nasional sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku industri, pendorong tumbuhnya sentra-sentra ekonomi diwilayah pengembangan perkebunan karet dan sebagai sumber lapangan pekerjaan. Sebagai sumber dari sebuah lapangan pekerjaan pastilah terdapat sebuah sistem kerja didalamnya. Sistem kerja terdiri dari empat komponen utama yaitu manusia, bahan, mesin/peralatan dan lingkungan kerja. Sistem kerja tidak bisa terlepas dari pengaruh manusia, karena manusia bertindak sebagai perencana, perancang, pelaksana dan pengendali terhadap sistem kerja (Prasetya, 2015)

Dalam proses kerja masih banyak aktivitas manual dimana pengerjaannya sebagian atau seluruhnya menggunakan kekuatan badan sebagai tumpuan, termasuk didalamnya kegiatan angkat-mengangkat, membawa, menarik, memindahkan sesuatu yang menggunakan tenaga seorang diri tanpa alat bantu.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(20)

Pekerjaan demikian dikenal dengan istilah Manual Material Handling (MMH) (Pramesti, 2010).

Aktivitas MMH masih dominan dilakukan dan menjadi pilihan utama di berbagai industri manufaktur. Kecenderungan melakukan pekerjaan yang masih mengandalkan tenaga manusia ini, dikarenakan adanya keterbatasan modal dan mahalnya pengadaan peralatan material handling. Sementara di sisi lain, tenaga manusia dengan bayaran yang lebih murah masih banyak tersedia dan mudah diperoleh. Alasan lainnya adalah kebanyakan dari industri berskala kecil memiliki areal tempat kerja yang sempit dan terbatas, sehingga lebih praktis dan mudah melakukan pekerjaan pemindahan material secara manual (Tarwaka, 2010).

Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung, dan sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera. Lebih dari seperempat total kecelakaan kerja terjadi berkaitan dengan pekerjaan manual handling (Tarwaka, 2010).

Pada kenyataannya manual handling tidak dapat dihindari dalam sebuah pekerjaan. Ada kalanya seseorang menganggap remeh pekerjaan yang memakai metode manual handling. Padahal bahaya/ risiko jangka panjangnya sangat fatal.

Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan akibat kesalahan dalam bekerja tanpa alat bantu seperti, cedera tangan dan kaki, otot terkilir atau keseleo. Selain itu penyakit yang ditimbulkan dari kegiatan manual handling dalam hal angkat- mengangkat secara manual dengan frekuensi yang tinggi (berulang-ulang) adalah cedera tulang belakang seperti nyeri pinggang (Low Back Pain). Penyakit ini bisa dikategorikan sebagai cedera tulang belakang kronis yang diakibatkan karena

(21)

teknik mengangkat yang tidak tepat, terlalu sering membungkuk, dan mengangkat secara berulang-ulang (Rochendi, 2010).

Berat ringannya beban kerja dapat dinilai baik secara objektif maupun subjektif. Penilaian secara objektif yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis sedangkan penilaian subjektif melalui perubahan reaksi psikologis dan perubahan perilaku. Pekerjaan manual handling juga dapat menyebabkan stres pada kondisi fisik pekerja yang dapat mengakibatkan terjadinya cedera karena aplikasi pekerjaan yang tidak benar atau pengerahan tenaga untuk periode yang lama (Simanjuntak, 2011).

Sikap tubuh yang dipaksakan, repetisi gerakan yang berlebihan, dan aktivitas fisik yang berat seperti mengangkat beban, menurunkan, mendorong, menarik, melempar, memindahkan atau memutar beban dengan menggunakan tangan atau bagian tubuh lainnya dalam pekerjaan manual handling menyebabkan low back pain, 50% diantaranya diakibatkan oleh aktivitas mengangkat beban, 9%

karena mendorong dan menarik beban, 6% karena menahan, melempar, memutar, dan membawa beban (Nurwahyuni, 2012).

Penelitian di Amerika pada tahun 2004 menyatakan bahwa ada sekitar 60% pekerja manual handling menderita nyeri dan cedera pada daerah punggung, dan hal itu disebabkan karena aktivitas manual handling saat bekerja seperti mengangkat, menarik serta memegang alat. Nyeri punggung bagian bawah adalah penyebab utama ketidakhadiran kerja diInggris. Diperkirakan sekitar 3,5 juta hari kerja hilang tahun 2008-2009 karena gangguan muskuloskeletal terutama masalah nyeri punggung bawah (Munir, 2012)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(22)

Di Australia Barat, L. M. Stracker menyatakan bahwa pada tahun 1995 ada 8939 kasus yang disebabkan karena manual handling atau sekitar 30% dari kasus, dari 8939 kasus 49 % berupa musculoskeletal disorder, 88,8% berupa keluhan pada otot dan tulang rangka. Adapun bagian tubuh yang terkena sekitar 3% mengenai pada daerah leher, 23,3% pada daerah bahu dan lengan, 65,4% pada daerah punggung dan 5% terjaadi didaerah anggota gerak bagian bawah (Munir, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan RI tahun 2006 terhadap pekerja industri kawasan Pulo Gadung Jakarta yaitu sebanyak 502 pekerja atau 52,8% mengalami keluhan nyeri pada bagian tubuh seperti : kaki (22,7%), pinggang (17,1%), dan bahu (9,5%).

Penelitian lain menyatakan proses kerja yang dilakukan tenaga kerja bongkar muat terdapat banyak risiko terhadap kesehatan. Salah satunya adalah sikap kerja yang dilakukan dengan menggunakan tubuh mereka untuk mengangkut beban. Tenaga kerja bongkar muat melakukan pekerjaan angkat angkut beban dengan cara manual yaitu hanya dengan menggunakan kekuatan tubuh yang ditaruh di punggung bagian bawah. Hal tersebut dapat menimbulkan keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja karena sikap tubuh mengangkat beban seperti itu dilakukan secara berulang (Tatilu, 2014).

PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk (PT. BSP) merupakan Perusahaan Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) yang bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan karet. Bunut Rubber Factory merupakan pabrik bagian dari PT. BSP yang mengolah karet dari bahan baku berupa lateks, getah

(23)

mangkok (cup lump), lateks yang dibekukan (coagulum) dan getah tarik (tree lace) menjadi barang setengah jadi sebagai bahan baku industri ban, sepatu, peralatan medis, jok, pakaian dan lain sebagainya yang kemudian di ekspor ke luar negeri. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1911 . Jenis Produk yang dihasilkan crumb rubber yaitu SIR-10 dan SIR-20 (Standard Indonesia Rubber).

Pengolahan karet mentah menjadi karet remah melalui beberapa proses, yaitu :

Gambar 1.1 Proses pengolahan SIR 10 dan SIR 20 (Sumber : Budianto, 2002).

Dalam Setiap proses kerja sikap tubuh yang sering dilakukan pekerja antara lain berdiri, duduk, berjalan, membungkuk, dan jongkok. Sikap kerja tersebut terjadi selama proses produksi ± 8 jam/ hari. Kondisi sistem kerja yang tidak sehat dapat menyebabkan kecelakaan kerja, karena melakukan pekerjaan yang tidak aman. Sikap kerja yang salah, canggung dan diluar kebiasaan akan menambah risiko cedera pada bagian musculoskeletal (Andy, 2008).

Pengemasan Pencucian III

Peremahan III Pencucian II

Peremahan II

Peremahan I Pencucian I

Pembersihan dan Pencampuran bahan

baku Sortasi Bahan

Baku Bahan Baku (offgrades)

Pengeringan Maturasi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(24)

Proses kerja manual handling banyak terjadi pada proses akhir bagian pengemasan yang dimulai dari pengambilan bandela karet dari pan, penimbangan, pembungkusan bendela karet, pengangkatan bendela karet yang telah dibungkus dari meja pembungkusan ke pallet. Berdasarkan pengamatan awal dari pekerja crumb rubber PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk (PT. BSP) peneliti menemukan keluhan-keluhan di bagian punggung, tangan dan kaki yang dirasakan oleh pekerja yang disebabkan oleh aktivitas manual handling, yaitu mengangkat beban secara manual dengan mengandalkan kemampuan manusia terutama pada bagian tangan, dan bahu. Perpindahan material secara manual menjadi faktor utama tingginya tingkat cedera yang disebabkan oleh pengerahan tenaga secara berlebihan dalam pemindahan atau penanganan material secara manual.

Gambar 1.2 Pekerja sedang mengeluarkan bandela karet dari pan.

Dalam gambar terlihat pekerja sedang mengeluarkan bandela dengan berat

±20kg yang telah dikeringkan dari dalam pan dryer yang selanjutnya akan ditimbang, jarak pan dengan timbangan ± 6m. Sikap/Postur pekerja menunjukkan sikap tidak alamiah dengan punggung terlalu membungkuk dan posisi berdiri

(25)

tidak benar karena pijakkan kaki yang tidak kuat. Tidak jarang ditemukan pekerja yang memindahkan bandela karet dengan menggunakan kemampuan bahu atau pundak sebagai tumpuan dengan beban 2x lipat, dengan alasan pekerjaan akan lebih singkat. Pekerjaan ini setiap hari tetap dilakukan karena tidak mengetahui bahwa jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan cedera otot.

PT. Bakrie Sumatera plantations, Tbk merupakan salah satu pabrik pengekspor karet terbesar di Indonesia. Sebagai pabrik yang memiliki pekerjaan cukup besar masih ditemukan pekerjaan dengan proses manual handling.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk menganalisis risiko dari kegiatan manual handling yang rutin dikerjakan oleh pekerja crumb rubber di PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk.

1.2 Rumusan Masalah

Crumb rubber merupakan salah satu industri karet terbesar, tetapi setiap proses kerja masih banyak ditemukan aktivitas-aktivitas manual. Seperti memotong, mengangkat, mengepress dan lain sebagainya yang sangat berisiko bagi para pekerja. Oleh karena itu perlu diketahui apa saja risiko yang dapat dialami dari pekerjaan manual handling pada pekerja crumb rubber di PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis risiko manual handling pada pekerja crumb rubber di PT.

Bakrie Sumatera Plantations,Tbk Kota Kisaran Tahun 2016.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(26)

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui karakteristik pekerjaan manual handling pada pekerja crumb rubber di PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk

2. Menganalisis risiko manual handling pada pekerja crumb rubber di PT.

Bakrie Sumatera Plantations,Tbk berdasarkan metode LeitmerkMalMethode (LMM).

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Perusahaan

Sebagai informasi dalam merencanakan upaya pengendalian risiko pada aktivitas manual handling pada proses kerja PT. Bakrie Sumatera Plantations,Tbk Bunut Kisaran.

1.4.2 Bagi Pekerja Crumb Rubber

Sebagai Infomasi bagi pekerja tentang bahaya manual handling yang tidak ergonomis.

1.4.3 Bagi Peneliti

Menjadi dasar yang dapat digunakan sebagai informasi untuk penelitian selanjutnya, khususnya tentang manual handling.

(27)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Risiko

Risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, bahkan ada orang yang mengatakan bahwa tidak ada hidup tanpa ada risiko, terlebih lagi di dunia industri yang setiap proses kegiatannya memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan begitu saja, melainkan harus diperhatikan secara cermat bila menginginkan kesuksesan (Darmawi, 2006).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia risiko adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.

Peristiwa yang dapat terjadi dari sebuah proses yang sedang berlangsung atau yang akan datang. Peristiwa tersebut dapat disebabkan karena faktor internal maupun eksternal perusahaan. Risiko dapat menimpa siapa saja dan apa saja, mulai dari direksi sampai office boy, dari logistik sampai pemasaran, dari asset berwujud sampai asset tak berwujud. Asset informasi, reputasi dan nama baik juga tidak terlepas dari risiko (Hery, 2015).

2.2 Penilaian Resiko 1. Identifikasi Risiko

a. Proses Identifikasi potensi risiko.

b. Identifikasi terhadap sumber risiko, kejadian yang mungkin terjadi, penyebab serta area yang terkena dampak dari risiko tersebut.

2. Analisis Risiko

a. Proses analisis terhadap potensi risiko.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(28)

b. Meliputi analisis terhadap penyebab risiko, likehood serta impact dari risiko.

c. Mempertimbangkan kontrol-kontrol yang sudah ada.

d. Dapat berupa analisis kualitatif, semi kuantitatif maupun kuantitatif.

3. Evaluasi Risiko

a. Proses evaluasi hasil analisis risiko.

b. Mencakup perbandingan hasil analisis risiko dengan kriteria yang telah ditetapkan.

c. Menjadi basis dalam penentuan risk treatment terhadap risiko (Hery, 2015).

2.3 Pengertian Analisis Risiko

Analisis Risiko merupakan salah satu usaha untuk memahami risiko lebih mendalam. Hasil analisis risiko akan menjadi masukan bagi evaluasi risiko dan proses pengambilan keputusan mengenai perlakuan terhadap risiko tersebut (Rimantho, 2010).

2.4 Tujuan Analisis Risiko

Tujuan dari analisis risiko adalah melakukan analisa dampak dan kemungkinan semua risiko yang dapat menghambat tercapainya sasaran organisasi, juga semua peluang yang mungkin dihadapi organisasi. Kondisi ini dicapai apabila beberapa hal berikut dipenuhi :

a. Proses analisis risiko dilaksanakan secara komprehensif dan mencakup semua risiko serta peluang yang ditemui dalam proses identifikasi risiko sebelumnya dan telah masuk kedalam daftar risiko.

(29)

b. Semua yang terkait dengan risiko tersebut telah terlibat dalam proses analisis dan melakukan analisa berdasarkan informasi, data serta pengetahuan yang mereka miliki dengan baik.

c. Proses analisis ini didampingi atau ditunjang dengan pengetahuan mengenai manajemen risiko yang memadai.

d. Waktu yang dialokasikan untuk proses ini cukup memadai.

e. Ukuran kemungkinan dan dampak yang digunakan harus konsisten dan sesuai dengan organisasi tersebut. Apabila digunakan tabel kemungkinan dan dampak, besaran dan pengelompokkan nilai yang digunakan hendaknya tidak terlalu lebar dan juga tidak terlalu sempit tetapi sesuai dengan organisasi tersebut (Rimanto, 2010).

2.5 Evaluasi Risiko

Menurut Australian Standard/ New Zealand Standard 4360 : 2004, evaluasi risiko merupakan suatu proses membandingkan estimasi nilai risiko dengan kriteria yang telah disusun terlebih dahulu dan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat potensial dan hasil yang tidak menguntungkan.

Selanjutnya akan dilakukan proses menilai dan menentukan prioritas pengendalian risiko berdasarkan kriteria yang ditetapkan mengenai batasan risiko mana yang bisa diterima, risiko mana yang harus dikurangi, atau risiko mana yang bisa dikendalikan dengan cara yang lain.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(30)

2.6 Pengendalian Risiko

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.05/MEN /1996, Pengendalian risiko kecelakan kerja dan penyakit akibat kerja dilakukan dengan berbagai macam metode, yaitu :

a. Pengendalian teknis atau rekayasa yang meliputi eliminasi, subtitusi, isolasi, ventilasi, higiene, dan sanitasi.

b. Pendidikan dan pelatihan

c. Pembangunan kesadaran dan motivasi yang meliputi sistem bonus, insentif, penghargaan dan motivasi diri

d. Evaluasi melalui internal audit, penyelidikan dan etiologi e. Penegak hukum

2.7 Penanganan Risiko

Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi risiko yang muncul disebut mitigasi atau penanganan risiko (risk mitigation). Sedangkan Risk Respone adalah tangggapan atau reaksi orang atau perusahaan dalam pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh pendekatan risiko (risk attitude) dari pengambilan keputusan.

Tindakan yang dapat dilakukan dalam menangani risiko yaitu :

1. Menahan Risiko (Risk Retention) Tindakan ini dilakukan karena dampak dari suatu kejadian yang merugikan masih dapat diterima (acceptable).

2. Mengurangi Risiko (Risk Reduction) Mengurangi risiko dilakukan dengan mempelajari secara mendalam risiko tersebut, dan melakukan usaha- usaha pencegahan pada sumber risiko atau mengkombinasikan usaha agar risiko yang diterima tidak terjadi secara stimulan.

(31)

3. Menghindari Risiko (Risk Avoidance) dilakukan dengan menghindari aktivitas yang tingkat kerugiannya tinggi.

2.8 Pengertian Manual Handling

Manual handling didefinisikan sebagai suatu pekerjaan yang berkaitan dengan mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik, menahan, membawa, atau memindahkan beban dengan satu tangan atau kedua tangan atau dengan pengerahan seluruh badan. Sering pula pekerjaan manual handling dilakukan dengan menggunakan alat bantu mekanik, seperti troli, forklift, crane, hoist, conveyor,dll. Dan selama tenaga manusia masih diperlukan untuk mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik, menahan, membawa, atau memindahkan beban maka hal tersebut masih dalam rentang definisi manual handling (Tarwaka, 2015).

Menurut Nurmianto (2004) pemindahan bahan secara manual apabila tidak dilakukan secara ergonomis akan menimbulkan kecelakaan dalam industri.

Kecelakaan industri (industry accident) yang disebut sebagai “over exertion- lifting and carrying” yaitu kerusakan jaringan tubuh yang diakibatkan oleh beban angkat berlebih. Selain masalah cara pengangkatan, jarak angkat salah satu faktor yang juga harus diperhatikan adalah beban yang diangkat.

Pekerjaan manual handling dapat menyebabkan stress pada kondisi fisik pekerja (seperti; pengerahan tenaga, sikap tubuh yang dipaksakan dan gerak yang berulang) yang dapat mengakibatkan terjadinya cedera, energi terbuang secara percuma dan waktu kerja tidak efisien. Untuk menghindarkan masalah – masalah seperti tersebut, maka organisasi perusahaan secara langsung dapat memperbaiki

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(32)

atau menyusun antara tuntutan tugas dengan kemampuan pekerjaan (Tarwaka, 2015).

2.9 Klasifikasi Manual Handling

Occupational Safety and Health Administration (OSHA) mengklasifikasikan kegiatan manual material handling menjadi lima yaitu sebagai berikut (Suhadri, 2008).

2.9.1 Mengangkat / Menurunkan (Lifting/Lowering)

Mengangkat adalah kegiatan memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi yang masih dapat dijangkau oleh tangan. Kegiatan lainnya adalah menurunkan barang yaitu memindahkan barang ketempat yang lebih rendah.

Beberapa teknik/ cara yang benar dalam mengangkat/ menurunkan adalah :

Gambar 2.1 Cara Mengangkat

(Sumber : Suhadri, 2008).

a. Batasan Angkatan

Batasan Angkat menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No : 01/MEN/1978.

(33)

Tabel 2.1 Batasan angkat manual handling

Aktivitas Mengangkat Laki – Laki

Dewasa Wanita Dewasa

Hanya Mengangkat Sekali – kali

40 Kg 10 Kg

Terus – Menerus 15 – 18 Kg 10 Kg

b. Teknik Angkatan

1. Jongkok dengan posisi yang benar serta pijakan kaki kuat.

2. Letakan tangan pada posisi dibawah beban.

3. Luruskan lutut.

4. Punggung dalam posisi lurus dan tidak membungkuk saat mengangkat ketika pergerakan keatas.

5. Saat mengangkat benda menggunakan kekuatan kaki dan dibantu dengan otot perut dan lengan.

2.9.2 Mendorong/ Menarik (Push/Pull)

Kegiatan mendorong adalah kegiatan menekan berlawanan arah tubuh dengan usaha yang bertujuan untuk memindahkan obyek. Kegiatan menarik kebalikan dengan itu. Cara atau teknik yang benar dalam mendorong/ menarik adalah :

1. Pijakkan kaki dengan kuat.

2. Punggung tetap lurus dan tidak membungkuk.

3. Gunakan kekuatan tangan untuk mendorong atau menarik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(34)

Gambar 2.2 Cara Mendorong

(Sumber : Suhadri, 2008).

2.9.3 Memutar (Twisting)

Kegiatan memutar merupakan kegiatan manual handling yang merupakan gerakan memutar tubuh bagian atas ke satu atau dua sisi, sementara tubuh bagian bawah berada dalam posisi tetap. Kegiatan memutar ini dapat dilakukan dalam keadaan tubuh yang diam. Teknik yang benar saat memutar adalah :

1. Memutar dilakukan dalam keadaan diam atau tidak sedang berjalan.

2. Bagian yang bergerak memutar adalah kaki.

3. Saat memutar, pinggang tidak ikut memutar.

4. Memutar dilakukan dengan perlahan.

5. Beban di tumpukkan pada badan.

Gambar 2.3 Cara Memutar

(Sumber : Suhadri, 2008).

(35)

2.9.4 Membawa (Carrying)

Kegiatan membawa merupakan kegiatan memegang atau mengambil barang dan memindahkannya. Berat benda menjadi berat total pekerja. Teknik yang benar dalam membawa adalah :

1. Pijakkan kaki yang kuat.

2. Pegang objek sedekat mungkin dengan tubuh.

3. Posisi leher dan pinggang dalam keadaan lurus.

4. Beban di tumpukkan pada badan

Gambar 2.4 Cara Membawa

(Sumber : Suhadri, 2008).

2.9.5 Menahan (Holding)

Memegang obyek saat tubuh berada dalam posisi diam (statis). Teknik menahan yang benar adalah :

1. Pijakan kaki yang kuat.

2. Pegang objek sedekat mungkin dengan tubuh.

3. Posisi punggung dalam keadaan tegak/ lurus.

4. Posisi leher dalam keaadaan lurus.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(36)

Gambar 2.5 Cara Menahan

(Sumber : Suhadri, 2008).

Pemilihan manusia sebagai tenaga kerja dalam melakukan kegiatan penanganan material bukanlah tanpa sebab. Penanganan material secara manual memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:

1. Fleksibel dalam gerakan sehingga memberikan kemudahan pemindahan beban pada ruang terbatas dalam pekerjaan yang tidak beraturan.

2. Untuk beban ringan akan lebih murah dibandingkan menggunakan mesin 3. Tidak semua material dapat dipindahkan dengan alat.

2.10 Risiko dan Bahaya Manual Handling

Cedera akibat manual handling bisa terjadi dimana pun manusia bekerja.

Di peternakan atau perkebunan dan lokasi pembangunan gedung, dalam pabrik, kantor, gudang, rumah sakit, bank, laboratorium, dan pada jasa pengiriman (Health and Safety Executive (HSE), 2012).

Melakukan salah satu atau lebih kegiatan manual handling secara berulang-ulang dan terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan dan ketidaknyamanan. Seiring berjalannya waktu, cedera punggung, bahu, tangan, pergelangan tangan, atau bagian tubuh lainnya dapat muncul. Dapat pula terjadi

(37)

kerusakan otot, tendon, ligamen, saraf, dan pembuluh darah. Cedera seperti ini dikenal sebagai musculoskeletal disorders atau MSDs (California Departement of Industrial Relations, 2007).

OSHA membagi dua kelompok cedera yang disebabkan oleh kegiatan manual handling yaitu sebagai berikut :

1. Luka, memar, patah tulang, dan sebagainya, akibat kejadian tiba-tiba dan tidak diharapkan seperti kecelakaan.

2. Kerusakan sistem musculoskeletal tubuh (otot, tendon, ligamen, tulang, sendi, bursa, pembuluh darah, dan saraf) sebagai konsekuensi selama melakukan aktivitas manual handling berulang. Cedera ini disebut penyakit musculoskeletal (MSDs) dan dibagi kedalam tiga grup :

a. Penyakit pada leher dan ekstremitas atas (Neck and upper limb disorders).

b. Penyakit ekstremitas bawah (Lower limbs disorders)

c. Nyeri punggung dan cedera punggung (Back pain and back injuries).

2.11 Risiko Kecelakaan Kerja Pada Manual Handling

Kegiatan manual handling yang meliputi pengangkatan, penurunan, mendorong, menarik memiliki potensi untuk menimbulkan kecelakaan kerja.

Kegiatan tersebut melibatkan koordinasi sistem kendali tubuh manusia seperti tangan, kaki, otak,otot dan tulang belakang. Bila koordinasi tubuh tidak terjalin dengan baik akan menimbulkan risiko kecelakaan kerja pada bidang manual handling. Faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan kerja manual handling yaitu :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(38)

1. Faktor Fisik (Physical Factor)

Faktor ini dijabarkan terdiri dari suhu, kebisingan, bahan kimia, radiasi, gangguan penglihatan, postur kerja, gangguan sendi (gerakan dan perpindahan berulang), getaran mesin dari alat, alat angkut, dan permukaan lantai.

2. Faktor Psikososial (Psychosocial Factor)

Faktor ini terdiri dari karakteristik waktu kerja seperti shift kerja, peraturan kerja, gaji yang tidak adil, rangkap kerja, stress kerja, konsekuensi kesalahan kerja, istirahat yang pendek, dan terganggu saat kerja.

Kedua faktor diatas berpengaruh pada kecelakaan kerja pada bagian musculoskeletal. Untuk faktor fisik yang menjadi faktor berisiko adalah postur/sikap kerja dan gangguan sendi akibat pekerjaan yang berulang. Sedangkan diantara faktor psikososial yang menjadi penyebab utama adalah rendahnya pengawasan dalam aktivitas produksi dan terbatasnya keleluasan para pekerja. Hal seperti dalam proses produksi, pengoperasian mesin, dan peraturan perusahaan masih longgar untuk dilanggar para pekerja, terutama dalam hal keselamatan kerja. Hak pekerja dalam memperoleh istirahat untuk mengendorkan saraf dan otot masih kurang (Triyono, 2006).

2.12 Efek Pekerjaan Manual Handling 2.12.1 Tulang Belakang dan “Disc”

Sebelum dilakukan suatu identifikasi proses kerja manual handling di lingkungan tempat kerja yang dapat menyebabkan cedera, terutama terjadinya kenyerian pada pinggang, maka hal yang sangat penting untuk diketahui adalah

(39)

bagaimana tulang belakang didesain dan apa saja bagian-bagian tulang belakang terbentuk. Struktur utama pada anggota tubuh bagian belakang memungkinkan dilakukannya gerakan pada spine (tulang belakang). Tulang belakang terdiri dari komposisi 33 buah tulang yang terpisah atau “vertebrae”, dan 24 diantaranya dapat digerakkan. Masing-masing dari ke-24 “vertebrae” yang dapat digerakkan tersebut bertumpukkan pada bagian atas satu dengan yang lainnya dan dipisahkan oleh satu tulang rawan berserabut (fibrous cartilage) yang disebut dengan “Disc”.

Masing- masing “disc” berisi jaringan serabut yang melindungi inti dalam jelaga (the inner core of gel – like substance). Pada bagian tersebut mengandung banyak air, dan bekerja seperti suatu hydrostatis shock absorber untuk melindungi tulang belakang dari tekanan yang besar. Bagian luar dinding dilindungi isi bagian dalam dan mencegah “gel” dari kebocoran. Bagian ini juga berfungsi sebagai pelindung akibat tekanan yang sering dari aktivitas yang dilakukan, seperti pekerjaan mengangkat yang berulang-ulang, sikap tubuh yang dipaksakan dan berdiri pada permukaan lantai yang tidak rata, dll. Pada saat dinding “disc” mulai melemah, maka akan mulai terjadi tonjolan. Tonjolan disk (disc bulge) akan memberikan tekanan pada syaraf bagian dalam dan sekitar disk yang dirasakan sebagai suatu kenyerian. Jika tekanan pada disk terus berlanjut, maka dinding bagian luar disk akan pecah atau terjadi „hernia‟.

Hal ini tidak hanya memberikan tekanan tambahan pada disk dan syaraf spinal saja, tetapi juga akan membuat vertebrae pada bagian atas dan bawah disk menjadi tidak stabil. Kondisi ketidak stabilan ini akan dapat memberikan tekanan lebih pada syaraf- syaraf sekitarnya dan juga menyebabkan stress pada ligamen

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(40)

pada masing – masing vertebrae. Sebagai tambahan untuk nyeri pinggang yang berkaitan dengan masalah disk, kenyerian secara umum dapat dihubungkan dengan gangguan atau ketegangan otot dan ligamen. Gangguan berupa kenyerian tersebut terjadi pada saat tulang belakang membungkuk satu arah terlalu jauh, membungkuk secara berulang, atau pada saat posisi membungkuk dengan membawa beban (Tarwaka, 2015).

2.12.2 Penyebab Cedera dan Nyeri Pinggang

Cedera atau nyeri pinggang jarang sekali disebabkan karena kejadian atau kecelakaan tunggal. Pada beberapa kasus, suatu kecelakaan mungkin menyebabkan tertariknya otot. Tetapi sebenarnya otot sendiri tidak mengalami kesakitan sampai beberapa minggu atau beberapa bulan setelah aktivitas repetitive atau sikap tubuh yang dipaksakan pada waktu bekerja. Pada kasus lain, aktivitas mengangkat, mendorong, menarik dan membawa beban secara repetitive yang berlangsung lama (beberapa bulan atau beberapa tahun) tidak menjadi penting sampai suatu aktivitas mengangkat secara tunggal menyebabkan kenyerian yang signifikan oleh karena penonjolan atau pecahnya disk (Tarwaka, 2015).

2.12.3 Gangguan Otot Rangka

Salah satu tujuan utama dari program ergonomi adalah mencegah terjadinya gangguan otot rangka. Gangguan otot rangka merupakan kerusakan pada otot, berupa ketegangan otot, inflamasi, degenerasi ataupun sobek.

Sedangkan kerusakan pada tulang dapat berupa memar, mikro faktur, patah atau terpelintir. Gangguan ini secara umum disebabkan karena melakukan aktivitas kerja fisik dalam kondisi yang berisiko, sehingga menyebabkan rusaknya jaringan

(41)

yang menyelimuti persendian. Aktivitas kerja fisik rutin dapat mengakibatkan cedera ringan pada jaringan otot dan tendon. Cedera ini terjadi akibat penurunan aliran darah atau adanya keteganggan pada jaringan. Hal ini dapat menyebakan ketegangan pada syaraf, kerusakan tendon, ketegangan otot dan kerusakan sendi.

Pada awalnya cedera otot tidak menganggu dan dapat sembuh saat beristirahat pada malam hari. Kerusakan terus menerus pada jaringan sering terjadi setiap hari, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan juga semakin lama, dan tidak cukup hanya beristirahat pada malam hari. Kerusakan ini akhirnya terakumulasi dan menyebabkan gangguan otot rangka. Penyakit ini termasuk sering dialami, namun sering diabaikan karena biasanya gejala yang ditimbulkan ringan sampai sedang yang akan hilang dengan sendirinya setelah istirahat. Namun penyakit ini dapat berkembang menjadi serius (Djira, 2012).

Gejala yang dirasakan setiap individu jika menderita gangguan otot rangka ini tidak sama, meskipun pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan hampir sama.

Gejala ini antara lain adalah :

a. Adanya rasa sakit, nyeri atau tidak nyaman b. Pegal-pegal, Mati rasa

c. Gerakan menjadi lemah dan kaku d. Adanya rasa terbakar

e. Pergerakan menjadi terbatas f. Kaku pada persendian

g. Kemerahan, bengkak, dan hangat pada daerah tersebut.

h. Kelelahan pada sebagian otot.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(42)

2.13 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Manual Handling

Analisis pekerjaan adalah metode yang digunakan dalam bidang ergonomi untuk mengidentifikasi dan memahami komponen-komponen dari pekerjaan, mengatur pekerjaan tertentu dari pekerjaan tersebut. Tujuan dari analisis pekerjaan adalah mengetahui risiko pekerjaan manual handling dari setiap tugas.

Faktor risiko adalah sifat atau karakteristik pekerja atau lingkungan kerja yang dapat meningkatkan kemungkinan pekerja tersebut menderita gangguan kesehatan. Faktor – faktor risiko dalam pekerjaan manual handling dapat diklasifikasikan menjadi faktor risiko yang terkait dengan karakteristik pekerjaan (task characteristic), karakteristik objek (material/object characteristic), lingkungan kerja (workplace characteristic) dan faktor individual (Djira, 2012).

1. Karakteristik Pekerja

Karakteristik pekerja masing-masing berbeda dan mempengaruhi jenis dan jumlah pekerjaan yang dapat dilakukan. Karakteristik pekerja terdiri dari : a. Fisik, yang meliputi ukuran pekerja secara umum seperti usia, jenis

kelamin, antropometri, dan postur tubuh.

b. Kemampuan sensorik, ukuran kemampuan sensorik pekerja yang meliputi penglihatan, pendengaran, kinestetik, sistem keseimbangan dan proprioceptive.

c. Motorik, ukuran kemampuan motorik/gerak pekerja yang meliputi kekuatan, ketahanan, jangkauan, dan karakter kinematis.

(43)

d. Psikomotorik, mengukur kemampuan pekerja menghadapi proses mental dan gerak seperti memproses informasi, waktu respon, dan koordinasi.

e. Personal, ukuran nilai dan kepuasan kerja dengan melihat tingkah laku, penerimaan risiko, persepsi kebutuhan ekonomi, dll

f. Training/pelatihan, ukuran kemampuan pendidikan pekerja dalam training formal atau keterampilan dalam menangani instruksi manual handling.

g. Status kesehatan.

h. Aktivitas dalam waktu luang.

2. Karakteristik Material

Karakteristik Material atau bahan meliputi :

a. Beban, ukuran berat benda, usaha yang dibutuhkan untuk mengangkat.

b. Dimensi, atau ukuran benda seperti lebar, panjang, tebal dan bentuk benda baik itu kotak, silinder, dll.

c. Distribusi beban, ukuran letak unit dengan reaksi pekerja untuk membawa dengan satu atau dua tangan.

d. Cara membawa beban oleh pekerja berkaitan dengan tekstur, permukaan, atau letak.

e. Stabilitas beban.

3. Karakteristik Tugas/ pekerjaan

Karakteristik tugas meliputi kondisi pekerjaan manual handling yang akan dilakukan. Terdiri dari :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(44)

a. Geometri tempat kerja, termasuk didalamnya jarak pergerakan, langkah yang harus ditempuh, dll

b. Frekuensi, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan termasuk frekuensi pekerjaan yang dilakukan.

c. Kompleksitas pekerjaan, termasuk didalamnya ketepatan penempatan, tujuan aktivitas, maupun komponen pendukungnya.

d. Lingkungan kerja seperti pencahayaan, kebisingan, getaran, bau-bauan, juga daya tarik kaki.

4. Sikap Kerja

Penanganan manual handling juga melibatkan metode kerja atau sikap dalam menyelesaikan pekerjaan/tugas/tugas. Pengamatan meliputi pada : a. Individu, merupakan ukuran metode operasional, seperti kecepatan,

ketetapan,cara/postur saat memindahkan.

b. Organisasi, berkaitan dengan organisasi kerja seperti luas bangunan pabrik, keberadaan tenaga medis, maupun utilitas kerjasama tim.

c. Administrasi, seperti sistem intensif untuk keselamatan kerja, kompensasi, rotasi kerja, pengendalian, dan pelatihan keselamatan.

2.14 Biomekanik Pada Pekerjaan Manual Handling

Biomekanik adalah studi tentang elemen tubuh manusia yang terstruktur tentang bagaimana fungsi-fungsi tubuh dan berapa banyak stress, akselerasi dan pengaruh yang terjadi. Secara sederhana dapat dijelaskan pada aplikasi prinsip mekanik untuk material biologis pada kehidupan manusia. Saat ini, kebutuhan energi dari seorang pekerja yang bekerja pada industri sering dapat dikurangi

(45)

secara drastis melalui penerapan teknologi dan rekayasa teknik yang lebih baik.

Untuk itu, seorang ergonomist sebaiknya menerapkan prinsip biomekanik untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan pekerjaan, khususnya yang berkaitan dengan manual handling dan untuk meningkatkan produktivitas itu sendiri (Tarwaka, 2015).

1) Jenis Pergerakan Anggota Tubuh

Pergerakkan tubuh selama terjadinya aktivitas tertentu diindustri dapat dijelaskan didalam istilah operasional sebagai berikut :

a) Pergerakkan Positioning pada tangan atau kaki dari satu posisi tertentu ketempat lainnya, seperti pada saat pekerja menjangkau tombol kendali mesin.

b) Pergerakan Continuous, memerlukan pengaturan kontrol otot pada beberapa jenis otot saat bergerak, seperti saat memutar roda mobil atau mengarahkan batangan atau lembaran kayu melalui mesin gergaji.

c) Pergerakkan Manipulative, melibatkan aktivitas handling pada peralatan kerja, mekanisasi alat kontrol, secara tipikal dengan menggunakan jari atau tangan.

d) Pergerakkan Repetitive, adalah merupakan suatu pergerakkan yang sama secara berulang – ulang, seperti pada pekerjan memukul dengan palu, penggunaan obeng, memutar baut, dll.

e) Pergerakkan Sequential, adalah merupakan pergerakan independen yang terpisah didalam suatu rangkaian proses kerja.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(46)

f) A Static Posture, terjadi pada saat mempertahankan segmen pada satu posisi tertentu untuk satu periode waktu tertentu (Tarwaka, 2015).

2) Otot-Otot

Pada saat bentuk aktivitas tubuh memerlukan satu pengerahan tenaga, maka kebutuhan pergerakkan tubuh harus diatur seperti halnya tenaga otot digunakan secara efektif dan seterampil mungkin. Sejak sebuah otot digerakkan dengan tenaga penuh diawal konstraksi, hal yang paling baik adalah harus dimulai dari suatu sikap tubuh yang mana kondisi otot telah memanjang secara penuh. Selanjutnya, salah satu hal yang harus diperhitungkan adalah efek pengungkitan dari tulang-tulang. Jika beberapa otot dikerahkan secara bersama-sama, maka pemanjangan otot mengalami konstraksi secara simultan.

2.15 Penilaian Risiko Manual Handling

Selama dilakukan pekerjaan manual handling untuk objek kerja yang berat (seperti, mengangkat, menahan, memindahkan, dan menurunkan objek), maka akan dapat menyebabkan risiko cedera atau menyebabkan gangguan sistem musculoskeletal, khususnya pada pinggang. Untuk menilai risiko seperti tersebut diatas, di jerman telah dikembangkan dan diimplementasikan metode indikator kunci LMM (LeitmerkMalMethode). Metode indikator kunci LMM digunakan didalam penilaian risiko selama dilakukan pekerjaan manual handling untuk objek kerja yang berat dengan memperhitungkan empat (4) faktor atau parameter stress fisik yang terjadi selama pekerjaan manual handling, yaitu : waktu (time),

(47)

beban (load), sikap tubuh (posture), dan kondisi selama kerja (Condition of performing work). Penilaian Indikator kunci tersebut yaitu :

1. Rating Indikator Waktu ( Time Indicator – T )

Indikator berat ringannya dari lama waktu (the length of time) ketika seseorang menangani beban/ obyek kerja dapat dinilai, yang didasarkan pada tabel 2.2, dengan memilih salah satu dari ketiga bentuk tentang bagaimana penanganan beban biasanya dilakukan oleh pekerja. Ketiga bentuk tersebut adalah sebagai berikut :

a. Untuk tugas-tugas yang melibatkan repetisi secara regular untuk aktivitas pendek dengan mengangkat, menurunkan, membawa, atau memindahkan objek, frekuensinya (jumlah aktivitas pendek selama satu shift kerja) adalah merupakan nilai/ parameter dasar;

b. Untuk tugas-tugas yang melibatkan aktivitas menahan atau menopang objek, total durasi menahan atau menopang objek adalah merupakan nilai/

parameter dasar. Durasi tersebut merupakan hasil dari penambahan periode menahan atau menopang objek pada setiap aktivitas individu selama satu hari kerja;

c. Untuk tugas-tugas yang melibatkan aktivitas membawa atau memindahkan beban / objek pada jarak jauh dan salah satu yang harus dipertimbangkan dari total jarak dari beban yang dibawa adalah untuk aktivitas satu hari kerja. Untuk perhitungan jarak angkut secara manual, maka rerata kecepatan jalan adalah 4 km/ jam atau sekitar 1m/detik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(48)

Tabel 2.2 Penilaian waktu didasarkan jenis manual handling

( S u m b e r :

T 9

(Sumber : Tarwaka, 2015).

2. Rating Indikator Massa (Mass Indicator – M)

Indikasi berat ringannya beban kerja oleh karena massa dari suatu objek yang dikerjakan dapat dinilai yang didasarkan pada tabel 2.3, secara terpisah untuk wanita dan laki-laki. Perlu diperhitungkan hanya untuk beban yang efektif, bahwa reaksi seseorang terhadap gravitas suatu objek pada tempat dimana objek ditopang mungkin dapat berpengaruh terhadap penilaian.

Tabel 2.3 Penilaian massa/ beban terhadap beban efektif

Beban Kerja untuk laki- laki (Kg)

Load Rating (Skor) Beban Kerja untuk wanita (Kg)

Load Rating (Skor)

<10 1 < 5 1

10 - < 20 2 5 - < 10 2

20 - < 30 4 10 - < 15 4

30 - < 40 7 15 - < 25 7

> 40 25 > 40 10

*Tidak dapat diterapkan untuk situasi dimana maksimum massa dari objek dikerjakan atau pengeluaran energi maksimum selama kerja dilampaui. Sebagai contoh; untuk wanita, massa dari objek yang dibawa tidak boleh melebihi 10 kg selama kerja tetap

atau kerja terus menerus.

(Sumber : Tarwaka, 2015).

3. Rating Indikator Sikap Tubuh (Body Posture Indicator - P)

Indikasi berat ringannya faktor sikap tubuh (Body Posture – P) dinilai atau dirating berdasarkan piktogram seperti diilustrasikan pada tabel 2.4 salah

Mengangkat atau Operasi pemindahan

(<5 detik)

Menahan atau menopang objek

( >5 detik)

Memindahkan objek pada jarak > 5 m Frekuensi

(Jumlah/ 1 hari kerja)

Time Rating (Skor)

Total Durasi Menahan / 1 hari kerja

(menit)

Time Rating (Skor)

Total jarak selama satu hari

kerja (Km)

Time Rating (Skor)

< 10 1 < 5 1 < 0,3 1

10 - < 40 2 5 - < 15 2 0,3 - < 1 2

40 - < 200 4 15 - < 60 4 1 - < 4 4

200 - < 500 6 60 - < 120 6 4 - < 8 6

500- <1000 8 120 - < 240 8 8 - < 16 8

> 1000 10 > 240 10 > 16 10

*tidak dapat diterapkan apabila membawa / mengangkut beban > 30kg dengan jarak > 25 m untuk sekali angkut.

(49)

satu yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu sikap tubuh pekerja selama melakukan aktivitas (mengangkat/membawa beban) dihubungkan dengan aktivitas manual handling pada objek dan mengklasifikasikannya ke dalam salah satu group yang disebutkan pada tabel 2.4 tersebut.

Tabel 2.4 Penilaian sikap tubuh (body posture) terhadap jenis sikap tubuh dan posisi beban

Tipe Postur Tubuh dan Posisi Beban

Penjelasan Postur Tubuh, Posisi Beban Hubungannya dengan

Tubuh

Posture Rating (Skor)

 Tubuh bagian atas tidak memutar.

 Beban berada dekat dengan badan.

1

 Sedikit membungkuk kedepan atau sedikit memuntirkan badan.

 Beban berada dekat dengan badan

atau diatas ketinggian bahu. 2

 Membungkuk sampai bawah atau membungkuk kedepan cukup jauh.

 Sedikit membungkuk kedepan dengan memuntirkan badan secara simultan.

 Beban berada jauh dari badan atau diatas bahu.

3

 Membungkuk jauh kedepan dengan memuntirkan badan secara simultan.

 Beban berada jauh dari badan.

 Stabilitas tubuh terbatas, pada saat berdiri.

 Jongkok dan atau berlutut.

4

(Sumber: Tarwaka, 2015).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(50)

4. Rating Indikator Kondisi Kerja (Working Condition Indicator-W)

Pada saat menilai indikasi berat ringannya kondisi kerja, salah satu yang harus dipertimbangkan adalah kondisi kerja yang dominan selama periode kerja secara keseluruhan. Kondisi kerja dijelaskan pada tabel 2.5. sebagai catatan; agar dapat menentukan skor rating indikator secara akurat didalam hubungan terhadap beban aktual manual handling, maka penilaian dilakukan dengan metode interpolasi, nilai rating didasarkan pada tabel 2.5 tersebut.

Tabel 2.5 Penilaian Indikator Kondisi Kerja

Penjelasan Kondisi pada saat melakukan pekerjaan Rating (Skor) Kondisi Kerja

Kondisi ergonomi yang baik, seperti; tersedia cukup ruang untuk bekerja; tidak ada benda/ material yang menghalangi proses kerja;

pencahayaan bagus; kondisi lantai bagus, dll. 0

Terbatasnya ruang untuk bergerak pada stasiun kerja; kondisi ergonomi yang kurang bagus (seperti; tinggi landasan kerja yang terlalu rendah atau area kerja <1,5 m2 ); stabilitas tubuh terganggu

karena keadaan lantai yang tidak rata,dll. 1

Ruang untuk kerja sangat terbatas pada stasiun kerja dan atau pusat

gravitas beban tidak stabil selama pemindahan beban/objek, dll. 2

(Sumber : Tarwaka, 2015).

5. Penilaian Akhir (Final Rating)

Hasil penilaian adalah berupa “Skor” (0). Selanjutnya, 0 dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :

Didasarkan pada hasil yang dihitung (0), dapat menilai secara kasar tingkat risiko kerja selama pelaksanaan pekerjaan manual handling. Tabel 2.6 menyajikan tingkat risiko dari hasil penilaian pekerjaan manual handling di tempat kerja. Selanjutnya, dasar penilaian ini adalah; pengaruh

O = T x ( M + P + W )

Gambar

Gambar 1.1 Proses pengolahan SIR 10 dan SIR 20   (Sumber : Budianto, 2002).
Gambar 1.2 Pekerja sedang mengeluarkan bandela karet dari pan.
Gambar 2.1 Cara Mengangkat
Gambar 2.2 Cara Mendorong
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pendistribusian dengan menggunakan algoritma Prim menghasilkan biaya pengiriman lebih rendah daripada pola pendistribusian

Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah “Bagaimana peningkatan hasil belajar mata pelajaran IPA pokok bahasan struktur dan fungsi bagian tumbuhan

Metode penelitian mencakup perhitungan instalasi listrik secara manual dan menggunakan ecostructure power design, simulasi perbandingan dan pengujian hasil perhitungan

Walaupun kecepatan pertumbuhan isolat SpR17 lebih tinggi dibandingkan dengan isolat SpR3 (Tabel 1), namun hasil perhitungan konsentrasi Cr yang direduksi dan potensi reduksi Cr(VI)

Dapat dilihat dari gambar 9 pada bagian grandtotal hasil perhitungan penentuan harga jual pada aplikasi menunjukkan hasil yang sama dengan pengujian manual

Sehingga setelah melalui semua proses perhitungan data yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian dan pengamatan terhadap cara berpikir kritis siswa melalui

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan dua metode perhitungan curah hujan terhadap hasil kalibrasi dan validasi model IHACRES yang diterapkan di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan dua metode perhitungan curah hujan terhadap hasil kalibrasi dan validasi model IHACRES yang diterapkan di