2.8. Pengertian, Karakteristik dan Tipologi Desa 1. Pengertian dan Karakteristik Desa
2.8.2. Pengertian Masyarakat Desa dan Karakteristiknya
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berfikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan desa menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan cultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Pendapat lainnya yaitu menurut Paul H. Landis, desa adalah masyarakat yang penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan karakteristiknya sebagai berikut: a. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa b. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan c. Cara berusaha (perekonomian) umumnya adalah agraris yang sangat
dipengaruhi alam seperti; iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
d. Diantara masyarakatnya mempunyai hubungan yang lebih mendalan bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lain yang di luar batas-batas wilayahnya.
e. Masyarakat tersebut sifatnya homogeny, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
f. Penduduk desa merupakan unit sosial dan unit kerja.
Pada masyarakat pedesaan mata pencaharian bersifat homogeny yang berada di sector ekonomi primer, yaitu bertumpu pada bidang pertanian. Kehidupan ekonomi terutama tergantung pada usaha pengelolaan tanah untuk keperluan pertanian, peternakan dan termasuk juga perikanan darat. Jadi kegiatan di desa
adalah mengolah alam untuk memperoleh bahan-bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia.
Pada umumnya masyarakat pedesaan menganut sistem ekonomi tradisional atau sistem ekonomi tertutup, cukup memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi masyarakat terbatas untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan bersama. 2.8.3. Tipologi Desa
Tipologi dari masyarakat desa dilihat dari kegiatan pokok yang ditekuni masyarakatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, selain itu tipologi desa bias dilihat dari segi pemukiman maupun dari tingkat perkembangan masyarakat desa itu sendiri, dilihat dari segi mata pencaharian pokok yang dikerjakan. Tipologi masyarakat desa terbagi dua yaitu desa pertanian dan desa industri (Mosher, 1966).
a. Desa pertanian
Menurut Landis ada 4 tipe desa pertanian, yaitu Farm Village Type, Nebulous Farm Village Type, Arranged Isolated Farm Type, Pure Isolated Farm Type, Everett, M.Rogers dan Rabelj. Burge dalam bukunya “Social change in Rural societies menambahkan tipe desa yaitu The scaffered farmstead community and The Cluster Village.
b. Desa Industri
Selain dilihat dari aspek mata pencaharian, tipologi desa juga dapat dilihat dari perkembangan masyarakatnya, yaitu;
1. Desa Tradisional (Swadaya), yaitu desa yang masih terikat oleh tradisi karena taraf pendidikannya relatif rendah, produksi diarahkan untuk kebutuhan primer keluarga, dan komunikasi ke luar sangat terbatas. Atau,
desa swadaya adalah suatu wilayah pedesaan yang hampir seluruh masyarakatnya mampu memenuhi kebutuhannya dengan cara mengadakan sendiri. Ciri-ciri desa swadaya : a) Daerahnya terisolir dengan daerah lainnya. b) Penduduknya jarang. c) Mata pencaharian homogen yang bersifat agraris. d) Bersifat tertutup. e) Masyarakat memegang teguh adat. f) Teknologi masih rendah. g) Sarana dan prasarana sangat kurang. h) Hubungan antarmanusia sangat erat. i) Pengawasan sosial dilakukan oleh keluarga.
2. Desa Swakarya, yaitu desa yang sudah agak longgar adat istiadatnya karena pengaruh luar, mengenal teknologi pertanian, dan taraf pendidikan warganya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan desa lainnya. Atau, desa yang sudah bias memenuhi kebutuhannya sendiri, kelebihan produksi sudah mulai dijual ke daerah-daerah lainnya. Ciri-ciri desa swakarya : a) Adanya pengaruh dari luar sehingga mengakibatkan perubahan pola pikir. b) Masyarakat sudah mulai terlepas dari adat. c) Produktivitas mulai meningkat. d) Sarana prasarana mulai meningkat. e) Adanya pengaruh dari luar yang mengakibatkan perubahan cara berpikir.
3. Desa Swasembada, yaitu desa yang lebih maju daripada desa swakarya dan tidak terikat lagi oleh adat-istiadat yang ketat. Atau, desa yang lebih maju dan mampu mengembangkan semua potensi yang ada secara optimal,dengan ciri-ciri berikut : a) Hubungan antarmanusia bersifat rasional. b) Mata pencaharian homogen. c) Teknologi dan pendidikan tinggi. d) Produktifitas tinggi. e) Terlepas dari adat. f) Sarana dan prasarana lengkap dan modern.
Tipologi desa adalah teknik untuk mengenal desa-desa yang banyak jumlahnya, sehingga konkrit permasalahannya. Tingkat perkembangan desa ditentukan oleh :
a. Imbangan daya unsur-unsur dari dalam desa itu sendiri. b. Pengaruh unsur-unsur dari dalan desa itu sendiri
c. Intensitas pengaruh unsure luar ditentukan oleh posisi desa tersebut terhadap pusat-pusat unit wilayah yang lebih besar dan pusat-pusat fasilitas.
Disamping dapat dilihat dari faktor-faktor diatas, maka tingkat pertumbuhan desa dapat dilihat dari komposisi jenis jalan dan karakteristik kegiatan ekonomi yaitu primer, sekunder, dan tersier. Komponen potensi desa berdasarkan perumusan diskusi penelitian desa di Cibogo 1971 digolongkan sebagai berikut : 1. Alami: Lokasi, Luas Desa, Keadaan Tanah, Keadaan Air, keadaan alam nabati
dan hewani.
2. Manusia: Jumlah pendudk, Penyebarannya (Density), karakteristiknya meliputi :(susunan umur, susunan kelamin (seks), adat istiadat dan agama, organisasi masyarakatdan gotong royong).
3. Kegiatan Ekonomi: Agraris (Primer) yang meliputi : (pertanian, perikanan, peternakan, pengumpulan hasil hutan), industri/kerajinan (sekunder), perdagangan dan jasa-jasa.
4. Prasarana : Prasarana perhubungan dan komunikasi, prasarana pengairan / produksi , prasarana pemasaran/pasar-pasar, kios-kios dan lain-lain, prasarana
Berdasarkan analisis Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah bekerja sama dengan Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan dan Center for Urban and Regional Development Curds Medan (April 2009), Di Indonesia, sistem klasifikasi dan tipologi desa didasarkan atas pendekatan ekosistem. Pendekatan ini, dapat diidentifikasikan adanya sepuluh faktor yang menentukan tingkat perkembangan sebuah desa, yaitu sebagai berikut.
a. Faktor penduduk (D–Density). b. Faktor alam (N–Nature).
c. Faktor orbitrasi desa (U–Urban centre). d. Faktor mata pencarian (E–Earning). e. Faktor pendapatan desa (Y–Yield/Output). f. Faktor adat istiadat (C–Custom).
g. Faktor kelembagaan (L).
h. Faktor pendidikan (E–Education). i. Fakor gotong royong (Gr).
j. Faktor prasarana desa (P).
2.9. Hubungan Modal Kerja, Bank, Jumlah Tenaga Kerja, Infrstruktur