• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka

2.1.3 Media Audio-visual

2.1.3.1 Pengertian Media Audio-viual

Sebelum kita mengetahui lebih dalam tentang jenis-jenis media audio visual maka terlebih dahulu penulis akan menjelaskan tentang media audio visual yang dimaksud dalam penelitian ini beserta media yang lain yaitu media audio dan media visual. Sehingga pembaca dapat membedakan antara media audio visual yang dimaksud oleh penulis dengan media audio saja atau media visual saja. Berikut ini adalah penjelasan mengenai media tersebut beserta contoh- contohnya:

1. Media Audio

Yang dimaksud dengan media audio adalah segala jenis media yang hanya bisa dinikmati oleh indera pendengar yaitu telinga, dan mampu

menggugah imajinasi bagi para pendengarnya. Terdapat beberapa jenis media yang dapat dikategorikan sebagai media audio yaitu: radio, alat perekam berupa pita magnetik, piringan hitam, Compact Disc (CD), dan laboratorium bahasa, ( Rinanto (1982: 43). Ciri utama yang dimiliki oleh media ini adalah pesan yang disalurkan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (bahasa lisan/kata-kata) maupun non verbal (bunyi-bunyian dan vokalisasi seperti gerutuan, gumam, musik, dll).

2. Media Visual

Media visual ialah semua media yang bisa dinikmati oleh indera penglihatan (mata) dan mampu menimbulkan rangsangan untuk berefleksi. Misalnya: gambar, lukisan, foto-foto, slide, poster, cergam, alat peraga dan sebagainya, (Rinanto, (1982: 22). Media ini mengandung unsur bentuk, garis, tekstur dan warna. Bentuk, bentuk yang aneh dan asing bagi siswadapat membangkitkan minat dan perhatian. Oleh karena itu, pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan, informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan. Garis, garis dugunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menentyikan perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus. Tekstur, tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna. Warna, warna merupakan unsur visual yang penting, tetapi harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dapak yang baik. Warna memberikan kesan pemisah atau penekanan, atau untuk membangun keterpaduan. Disamping itu warna dapat mempertinggi tingkat realisme objek atau situasi yang digambarkan, Arsyad (2013: 105-108).

Menurut Suleiman (1981:26) media visual ini dibagi menjadi dua, yaitu media visual dua dimensi dan media visual tiga dimensi. Pembagian tersebut adalah:

a) Media Visual Dua Dimensi

Media visual dua dimensi adalah media yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar yang berada pada satu bidang datar. Media dua dimensi memiliki ciri-ciri dimana media ini hanya bisa dilihat dari depan saja dan tidak mengandung unsur audio dan motion (gerakan). Media visual dua dimensi terbagi menjadi dua yaitu:

1) Media visual dua dimensi pada bidang yang tidak transparan

Contoh: Papan tulis, gambar di atas kertas atau karton, gambar yang diproyeksikan dengan proyektor, gambar sederhana dengan garis dan lingkaran, gambar sketsa, grafik, diagram, wayang, dan, sebagainya 2) Media visual dua dimensi pada bidang yang transparan. Contoh: Slide,

Filmstrip, dan lembar transparan untuk overhead projector (OHP).

b) Media Visual Tiga Dimensi

Disebut tiga dimensi karena mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi. Bedanya dangan media visual dua dimensi yaitu media ini tidak hanya dapat dilihat dari depan saja, akan tetapi dapat dilihat dari berbagai sisi, Contoh: Alat peraga dengan berbagai macam sisi, benda asli, model, contoh barang atau specimen, dan alat tiruan sederhana atau mock-up. Termasuk di dalamnya diorama, pameran dan bak pasir.

3. Media Audio Visual

Media audio visual adalah media yang audible artinya dapat didengar dan media yang visible artinya dapat dilihat. Dalam penggunaanya media audio visual ini dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama, adalah media audio visual yang memiliki fungsi suara dan gambar dalam satu unit yang diberi nama media audio- visual murni seperti film (movie) gerak bersuara, televisi dan video. Jenis kedua adalah media audio-visual tidak murni. Media audio visual tidak murni ini terjadi apabila slide, overhead projector (OHP) dan peralatan visual lainnya diberi unsur suara dari rekaman kaset atau CD yang dimanfaatkan secara bersamaan dalam satu waktu atau proses pembelajaran. Tetapi hal itu tidak mengubah hakikatnya sebagai tayangan media visual. Karena unsur gambar pada jenis yang kedua ini berupa gambar yang diproyeksikan, maka tayangan gambar tersebut tetap gambar diam (still pictures) tidak bergerak dan termasuk media visual, Yudhi

Munandi (2010: 113). Suleiman (1981: 190) mengatakan bahwa yang termasuk golongan media audio visual yang sebenarnya adalah media yang dapat menghasilkan suara dan rupa dalam satu unit. Jika slide diberi rekaman suara melalui rekaman pita kaset, slide yang ditambah dengan suara itu bukan media audio visual lengkap, sebab suara dan rupa terpisah sumbernya. Slide yang demikian merupakan media visual saja. Yang termasuk golongan media audio-visual yang sebenarnya adalah film bersuara dan televisi, karena kedua media tersebut mengkombinasikan fungsi suara dan rupa dalam satu unit. Kombinasi itu disebut sebagai media

audio visual murni. Pendapat di atas diperkuat oleh Rinanto (1982: 48) yang mengatakan bahwa akan lebih baik apabila media audio visual tidak terpisah satu sama lain, tetapi tergabung menjadi satu, dengan begitu kekuatan yang dimilikinya semakin bertambah maksimal. Sehingga semakin mampu merangsang anak untuk berpikir kreatif dan penuh penghayatan. Pemahaman tentang media audio visual di atas memunculkan dua definisi yang berbeda yaitu media audio visual murni dan media audio visual tidak murni. Namun dalam penelitian ini peneliti mengkhususkan pada penggunaan media audio visual murni. Media audio visual yang dapat menghasilkan suara dan rupa dalam satu unit seperti: film gerak bersuara, televisi, dan video.

Dokumen terkait