• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Melayu sebagai Ras, Budaya, dan Orang yang Beragama Islam

Dalam dokumen S ITI ZULAIKHA S ITANGGANG (Halaman 34-39)

SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT MELAYU SUMATERA UTARA

2.2 Etnik Melayu di S umatera Utara

2.2.2 Pengertian Melayu Sebagai Kelompok Etnik

2.2.2.2 Pengertian Melayu sebagai Ras, Budaya, dan Orang yang Beragama Islam

Istilah M elayu biasanya dipergunakan untuk mengidentifikasi semua orang dalam rumpun Austronesia yang meliputi wilayah Semenanjung M alaya, kepulauan Nusantara, kepulauan Filipina, dan Pulau-pulau di Lautan Pasifik Selatan. Dalam pengertian umum, orang M elayu adalah mereka yang dapat dikelompokkan pada ras M elayu. Dengan demikian, istilah M elayu sebagai ras ini mencakup orang-orang yang merupakan campuran dari berbagai suku di kawasan Nusantara.

Ras M elayu yang sudah memeluk agama Islam pada abad ke-13, identitas budayanya selalu dipandang berbeda dengan masyarakat ras Proto-M elayu pedalaman, yaitu orang Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak-Dairi, yang masih menganut kepercayaan mereka sendiri; baik oleh mer eka sendiri maupun orang luar. Namun demikian, di sisi lain terjadi adaptasi/asimilasi orang Batak dengan orang M elayu jika masuk agama Islam.

Ada perbedaan mengenai pengertian M elayu ini di Indonesia, M alaysia, dan Singapura, seperti yang dikemukakan oleh Vivienne Wee :

respective governments. The Singapore government regards 'M alay' as a 'race', a genetically engendered category in the state- imposed system of ethnicity. ... In Singapore, a Christian Englishspeaking 'M alay' is still legally considered 'M alays'. Indeed there is apparently a sufficientnumber of Christian 'M alays', that they are considering setting up a M alay Christian Association. ...

In M alaysia, however, 'M alayness' is constitutionally tied to Islam, such that a 'M alay' convert to Christianity would no longer the legally considered 'M alay'. This was stated to me categorically by Anwar Ibrahim, a M inister in the M alaysian Cabinet. But not all M alaysian M uslims qualify as 'M alays': the constitutional category 'M alay' includes only M uslims who speak M alay, conform to M alay custom, and who were borm in M alaysia or born of M alaysia parents.

In contrast to the governments of Singapore and M alaysia, the Indonesian government evidently has no interest in giving a legal definition of 'M alayness'. In Indonesia, 'M alay' or M elayuis just one label in the loose array of regional identities that people may profess. In other words, from the Indonesian governement's point of view, anyone who wants to identify herself/himself as M elayu may do so; conversely, if she/he does not want to do so, then she/he may choose practically any other regional identity. The Indonesian government's laissez-faire attitude towards the ethnic labelling of the population is evident in the identity cards issued to all citizens. Whereas the identity cards issued by the Singapore and M alaysia governments stipulate the respective ethnic labels of their citizens, the Indonesian identity card does not include any ethnic labelling. So in Indonesia, 'M alayness' is a matter of subjective-identification, rather than objective category belonging to legally imposed set (Vivienne Wee 1985:7-8).

M enurut Wee, di Indonesia, arti M elayu berbeda dengan yang di Singapura dan M alaysia. Perbedaan ini secara langsung berkaitan erat dengan persepsi pemerintah masing-masing. Pemerintah Singapura memandang M elayu sebagai sebuah ras, sebuah kategori yang dihasilkan berdasar keturunan dalam sistem etnisitasnya. Di Singapura, seorang yang rasnya M elayu, beragama Kristen, dan berbahasa Inggris, secara sah dianggap sebagai M elayu. Dalam

kenyataannya terdapat sejumlah kecil orang M elayu Kristen, dan mereka dipandang sebagai suatu Asosiasi Kristen M elayu di Singapura.

Di M alaysia, M elayu secara konstitusional diikat identitasnya dengan agama Islam, dan jika seorang M elayu menjadi Kristen, dia tidak dipandang lagi sebagai M elayu. Namun demikian, tidak semua orang Islam M alaysia dipandang sebagai M elayu: konstitusi M alaysia menyatakan bahwa orang M elayu itu hanyalah orang Islam yang berbahasa M elayu, mengikuti adat-istiadat M elayu, lahir di M alaysia, atau lahir dari orang tuanya yang berkebangsaan M alaysia.

Berbeda dengan pemerintah Singapura dan M alaysia, pemerintah Indonesia, tidak begitu berminat memberikan definisi secara legal terhadap M elayu. Di Indonesia, M elayu adalah satu istilah yang mengandung makna identitas regional berdasarkan pengakuan penduduknya. Dengan kata lain, dalam pandangan pemerintah Indonesia, seseorang dapat saja menyatakan dirinya sendiri sebagai atau bukan sebagai orang M elayu, dan dia boleh saja memilih identitas regional. Pemerintah Indonesia tidak mencantumkan label etnik dalam kartu tanda penduduk bagi seluruh warga negaranya. Pemerintah Singapura dan M alaysia mencantumkan label etnik ini. M enurut Wee, pengertian M elayu di Indonesia bersifat subyektif.

Untuk menjangkau pengertian M elayu dalam wawasan yang lebih luas, perlu juga diperhatikan pendapat dari orang-orang dari luar M elayu. Dalam pandangan orang-orang Eropa pada umumnya, yang dimaksud M elayu itu selalu dikaitkan dengan istilah yang dipakai oleh I-Tsing.

M alayan; M alay; (occasionally) M oslem, e.g. masok M elayu (to turn M ohammedan). In early times the word did not cover the whole M alay word; and even Abdullah draws a distinction between anak M elaka M elaka native] and Orang M elayu (Hikayat Abdullah 183). It would seem from one passage (Hang Tuah 200) that the word limited geographically to one area, became associated with a standard of language and was extended to all who spoke 'M alay'. The M alay Annals speak as a sungai M elayu [M elayu River]; I-tsing speaks of Sri Vijaya conquering the 'M oloyu' country; M inangkabau has a 'M alayu' clan (suku); Rajendracola's conquests (A.D. 1012 to 1042) covered M elayu and Sri Vijaya as a separate countries; the Siamese records claim M alacca and M elayu as a separate entities. Rouffaer identifies M elayu with Jambi (Wilkinson 1959:755).

M enurut Wilkinson seperti dikutip di atas, seorang M elayu adalah beragama Islam. M isalnya masuk M elayu berarti masuk Islam. Pada zaman dahulu, kata M elayu tidak mencakup keseluruhan Dunia M elayu (Alam M elayu1)2 yang sekarang ini. M isalnya Abdullah bin Abdulkadir M unsyi, seorang pujangga M elayu ternama, membedakan antara anak M elaka dan Orang M elayu. Kata M elayu menunjukkan sebuah kawasan, yang dikaitkan dengan bahasa yang mereka pakai yaitu bahasa M elayu. Dalam Sejarah Melayu diceritakan tentang sebuah sungai yang bernama Sungai M elayu. I-Tsing menceritakan bahwa Sriwijaya menguasai negeri M oloyu. M asyarakat M inangkabau mempunyai sebuah suku yang disebut M elayu. Rajendra Coladewa (1012 sampai 1042) yang menaklukkan M elayu dan Sriwijaya sebagai dua negeri yang terpisah. Rekaman-

2

Istilah dunia dan alam dalam bahasa Melayu, dikutip dari bahasa Arab, yang artinya adalah dunia yang kita tempati sekarang ini. Istilah alam berkaitan pula artinya dengan konsep-konsep mistis dalam Islam, seperti alam kandungan, alam arwah, alam barzakh, alam samar, alam malakul, alam al -mithai, alam al-insan al- kamil. Dalam bahasa Arab, kata alam me mpunyai beberapa arti. Misalnya Allahu Alam berarti (Allah Yang Maha Tahu), al-ghuyub berarti mengetahui hal-hal yang bersifat rahasia. Lihat: (1) Wilkinson (1959:16); (2) Awang Sujai Hairul dan Yusoff Khan (ed.) (1986); (3) W. J. S. P oerwadarminta (ed.) (1965); (4) Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) (5) William Marsden (1984) dan (6) R. J. Wilkinson (1970).

rekaman sejarah di Thailand menyatakan bahwa M elaka dan M elayu adalah sebuah entitas (komunitas) yang terpisah. Rouffaer mengidentifikasikan M elayu dengan Jambi.

Ketika orang-orang Portugis dan orang-orang Barat lainnya (Inggris, Belanda) datang ke kawasan ini, maka mereka mengenal orang M elayu yang dikaitkan erat dengan agama Islam. Oleh karena bahasa M elayu sudah menjadi bahasa pengantar (lingua franca) di kawasan Nusantara dan sebagian besar mereka beragama Islam, maka orang-orang Barat ini memandang secara umum semua penghuni Nusantara in i sebagai orang M elayu, walaupun dalam kenyataannya masyarakat di Nusantara terdiri dari berbagai etnik dan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing pula.

Dalam kebudayaan M elayu, garis keturunan ditentukan berdasarkan pada garis keturunan bilateral, yaitu garis keturunan dari pihak ayah ataupun ibu, namun dengan masuknya agama Islam dalam kehidupan etnik M elayu yang dijadikan pandangan hidupnya, maka garis keturunan cenderung ke arah garis keturunan patriachart atau patrilineal, yaitu berdasarkan kepada pihak ayah.

M eskipun akar kebudayaan etnik M elayu itu satu rumpun, namun juga ada perbedaan-perbedaan kecil yang membedakan etnik M elayu di daerah yang satu dengan daerah lainnya. Sebagai contoh konkrit, misalnya dialek etnik M elayu di Deli Serdang dengan Asahan berbeda, misalnya menyebutkan kata kemana, etnik M elayu Deli Serdang akan menyebutnya kemane sedangkan etnik M elayu Asahan akan menyebutnya kemano.

M enurut Zein, yang dimaksud dengan M elayu adalah bangsa yang menduduki sebagian besar pulau Sumatera serta pulau-pulau Riau-Lingga, Bangka, Belitung, Semenanjung M elaka, dan Pantai Laut Kalimantan. Banyak orang menyangka bahwa nama M elayu itu artinya lari, yang berasal dari bahasa Jawa yaitu lari dari bangsa sendiri dan menganut agama Islam. Namun nyatanya nama M elayu sudah lama terpakai sebelum agama Islam datang ke Nusantara ini. Jadi menurut Zein pernyataan di atas adalah salah. M enurutnya, istilah M elayu itu adalah kependekan dari M alayapura, yang artinya adalah kota di atas bukit M elayu, kemudian dipendekkan menjadi M alaipur, kemudian menjadi M alaiur, dan akhirnya menjadi M elayu (Zein 1957:89).

2.2.2.3 Etnik Melayu Terbentuk dari Proses Campuran

Dalam dokumen S ITI ZULAIKHA S ITANGGANG (Halaman 34-39)