BAB I PENDAHULUAN
A. Metode Dakwah bil hal
1. Pengertian Metode Dakwah bil Hal
Untuk memahami definisi metode dakwah bil hal, terlebih dahulu penulis jelaskan secara detail mengenai metode, dakwah, dan bil hal. Pembahasan definisi tersebut akan disajikan dalam segi bahasa maupun istilah. Hal ini dimaksudkan agar memberikan penjelasan yang sistematis (teratur) dalam memahami tema pokok bahasan.
Metode secara bahasa berasal dari bahasa Yunani yaitu metodos kata tersebut merupakan gabungan dari kata
meta yang berarti melalui, mengikuti dan sesudah, sementara
pada kata hodos mempunyai arti jalan, cara. Metode dalam bahasa Arab disebut sebagai thariq atau thariqah mempunyai makna jalan atau cara (Enjang dan Aliyudin, 2009: 83).
Definisi metode secara istilah menurut Gunawan (2014: 225), adalah cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai suatu tujuan sesuai dengan yang dikehendaki. Metode juga dapat diartikan sebagai cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Dakwah bil hal merupakan gabungan dari dua kata yaitu dakwah dan al-hal. Dakwah secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu da‟a-yad‟u-da‟watan artinya mengajak, menyeru, dan memanggil (Amin, 2009: 1). Menurut Pimay (2006: 2), kata dakwah memiliki bentuk masdar dari kata
yad‟u (fiil mudhari) dan kata da‟a (fiil madhi) yang artinya
adalah memanggil (to call), mengundang, mengajak (to
invite), mendorong (to urge) dan memohon (to pray) (Pimay,
2006: 2).
Menurut Baqi dalam Riyadi (2014: 113), arti dakwah secara bahasa sering dipahami sebagai ajakan, panggilan, permohonan, serta seruan yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Permohonan dalam konteks dakwah sering diartikan sebagai suatu hubungan vertikal yaitu memohon kepada Allah, sedangkan kata bil hal secara bahasa juga berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti keadaan. Kata
bil hal secara bahasa menurut El-Bantany (2014: 103), adalah
suatu ungkapan yang dilakukan oleh seorang da‟i kepada
mad‟u dengan keteladanan atau memberikan contoh secara
nyata. Menurut Suparta dan Hefni (2006: 2015), kata dakwah
bil hal jika digabungkan makan akan mengandung arti
memanggil, menyeru dan mengajak dengan perbuatan nyata. Dakwah secara istilah menurut Arifin (2011: 38), merupakan suatu bentuk ajakan atau seruan baik dalam bentuk
lisan, tulisan maupun tingkah laku yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individu atau kelompok agar timbul pada dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan, serta pengalaman terhadap ajaran agama sebagai pesan yang disampaikan kepadanya tanpa ada unsur-unsur paksaan.
Menurut Aziz (2004: 9-10), dakwah adalah suatu aktivitas yang berisi seruan, ajakan dan panggilan dalam rangka membangun masyarakat Islam berdasarkan Islam yang hakiki. Definisi dakwah tersebut mempunyai makna sebagai berikut: pertama, dakwah merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja, sehingga diperlukan organisasi, manajemen, sistem, metode dan media yang tepat.
Kedua, usaha yang diselenggarakan berupa: ajakan kepada
manusia untuk beriman dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah, amar ma‟ruf dalam arti pembangunan masyarakat, serta nahi munkar. Ketiga, proses usaha yang diselenggarakan tersebut berdasarkan tujuan yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah.
Dakwah bil hal secara istilah adalah suatu jalan atau cara yang dilakukan seorang da‟i dalam menyampaikan sebuah ajaran kebaikan kepada mad‟u. Penyampaian ajaran kebaikan tersebut dengan cara tindakan nyata atau perbuatan nyata. Metode dakwah bil hal lebih mengarah kepada
tindakan menggerakkan sehingga lebih berorientasi pada pengembangan masyarakat baik dalam bidang pendidikan, ekonomi maupun sosial (Suparta dan hefni, 2006: 216).
Menurut Amrullah (1983: 10), dakwah bil hal juga dapat didefinisikan sebagai dakwah pendampingan untuk perubahan sosial, maksudnya adalah mendampingi mad‟u agar bersama-sama menemukan persoalan hidup serta menggali potensi sehingga kehidupan mad‟u mengalami kemajuan dan perubahan nasib serta sejahtera. Lebih lanjut Amrullah (1983: 32), mengemukakan bahwa dakwah bil hal adalah sistem tindakan nyata bersama masyarakat yang menawarkan alternatif model pemecahan masalah dalam bidang sosial, ekonomi dan lingkungan hidup dalam perspektif Islam.
Menurut Amin (2009: 178), dakwah bil hal yaitu cara yang ditempuh seorang da‟i dalam menyebarkan nilai-nilai Islam. Cara tersebut dapat dilakukan dengan bentuk amal atau kerja nyata. Adapun bentuk dakwahnya bisa bersifat mengembangkan lembaga pendidikan Islam baik formal maupun non formal, kerja bakti serta penyantunan masyarakat secara ekonomis, dan berbentuk keteladanan. Metode dakwah dengan perbuatan nyata (bil hal) juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika pertama kali tiba di kota Madinah membangun masjid Quba serta mempersatukan kaum Ansor
dan Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah (Muruah, 2000: 75).
Menurut Ismail dan Hotman (2011: 226-227), dakwah bil hal ialah suatu aktifitas yang lebih mengutamakan aksi nyata dari pada wacana atau retorika (tabligh) dengan tujuan untuk mewujudkan kebaikan dan kemajuan hidup baik di dunia maupun akhirat. Dakwah bil hal menurut Sulton (2011: 80), adalah suatu aktivitas umat muslim baik secara individu maupun kelompok untuk membangun tatanan sosial yang lebih baik serta tidak bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.
Menurut Aziz (2005: 16), pada hakekatnya dakwah dengan bil hal adalah upaya melakukan rekayasa sosial untuk mendapatkan suatu perubahan kehidupan yang lebih baik dengan landasan nilai-nilai Islam. Rekayasa sosial dapat dipahami sebagai serangkaian tindakan sistematis untuk melakukan perubahan sosial. Tindakan perubahan tersebut dapat dimulai dari membaca dan memahami realitas sosial. Dakwah bil hal menurut Suhandang (2013: 98), adalah suatu ajakan dengan cara memberikan teladan atau perbuatan nyata. Dakwah dalam bentuk perbuatan nyata dilakukan sebagai upaya pemberantasan kemungkaran secara langsung serta menegakkan ma‟ruf (kebaikan) seperti mengembangkan sarana dan prasarana tempat ibadah, pendidikan,
mengembangkan lembaga dakwah sebagai wahana syiar Islam serta saling tolong menolong terhadap orang lain yang membutuhkan.
Metode dakwah bil hal pada hakekatnya merupakan proses perubahan sosial terencana dengan cara tindakan atau karya nyata yang bertujuan untuk merubah sasaran dakwah menjadi lebih dalam kehidupannya di dunia. Metode dakwah
bil hal sering diartikan sebagai dakwah dengan aksi sosial
(Miftahulhaq, 2017: 5). Menurut Enjang dan Aliyudin (2009: 51) aksi sosial dalam ajaran Islam dengan kemasan dakwah
bil hal merupakan aplikasi dimensi kerahmatan yang harus
dikembangkan melalui aktivitas dakwah dalam konteks
tathwir melalui pengembangan, pemberdayaan kehidupan dan
ekonomi masyarakat. Aksi sosial merupakan bentuk transformasi ajaran Islam melalui amal shaleh dan kegiatan sosial lainnya.
Menurut Arifudin (2011: 173), metode dakwah bil hal yang dilakukan oleh da‟i sebagai pelaku dakwah dan tokoh panutan dengan karya nyata menjadi salah satu cara yang efektif dalam melaksanakan dakwah. Hal ini dapat dibuktikan dengan aktivitasnya bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Keutamaan metode dakwah bil hal sebagai gerakan sosial masyarakat ialah untuk menyelenggarakan dan memberikan arah perubahan terhadap masyarakat. Merubah
struktur masyarakat dari perbuatan dhalim ke arah keadilan, kebodohan ke arah kemajuan. Perubahan tersebut dalam rangka meningkatkan derajat manusia sehingga dakwah Islam dengan metode bil hal akan berfungsi memberikan arahan serta tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera (Amrullah, 1989: 3).
Melihat beberapa pemaparan tentang metode dakwah
bil hal di atas, maka penulis berpendapat bahwa metode
dakwah bil hal adalah suatu jalan atau cara yang sistematis dalam menyampaikan sebuah ajaran untuk mengajak manusia kepada kebaikan dengan memberikan contoh dan perbuatan secara langsung dengan nilai-nilai Islam. Metode dakwah bil
hal menurut penulis adalah suatu cara yang dipakai oleh juru
dakwah (da‟i) untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada
mad‟u dengan tindakan atau amal nyata seperti memberi
contoh teladan yang baik secara langsung kepada mad‟u dan memberi pertolongan kepada orang yang sedang mengalami kesusahan hidup sehingga akan mencapai sebuah tujuan yang diinginkan yaitu meningkatkan kualitas hidup serta mensejahterakan masyarakat berdasarkan tuntunan nilai-nilai Islam yang luhur.