• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Minat Belajar

1. Definisi Minat

Banyak orang tidak mengerti arti sebenarnya istilah “minat” akibatnya mereka sering mengacaukannya dengan apa yang tepatnya dapat disebut suatu “kesenangan”. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Bila mereka melihat bahwa sesuatu akan menguntungkan, mereka merasa berminat. Ini kemudian mendatangkan kepuasan. Bila kepuasan berkurang minat pun berkurang (Elizabeth B. Hurlock, 1989).

Sardiman A. M. (1988: 76) berpendapat bahwa minat adalah “sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhan sendiri”. Sedangkan I. L. Pasaribu dan Simanjuntak mengartikan minat adalah “sebagai suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan sesuatu yang menariknya”.

Slameto (2003: 180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.

Jersild dan Tasch (Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sunartana, 1983: 224) minat atau intrest menyangkut aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Sedangkan Doyles Fryer (Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sunartana, 1983: 224) minat atau intrest adalah gejala psikis yang berkaitan

dengan obyek atau aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada

individu. Arden Frandsen dari Moentoyah (1993: 7) minat merupakan salah satu tanda kematangan dan kesiapan seseorang untuk giat dalam kegiatan belajar.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, peneliti dapat menyimpulkan minat adalah kehendak hati seseorang untuk terlibat pada suatu objek, perasaan senang atau tidak senang dan tertarik atau tidak tertarik terhadap mata pelajaran tertentu yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Perasaan tidak senang menghambat dalam belajar, karena tidak melahirkan sikap positif dan tidak menunjang minat belajar.

Jadi, minat adalah sangat penting dalam pendidikan. Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.

Hurlock (1995: 177) minat mempunyai dua aspek yakni: a. Aspek kognitif.

Aspek kognitif didasarkan atas konsep yang dikembangkan mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Misalnya, aspek kognitif dari minat anak terhadap sekolah. Bila mereka menganggap sekolah sebagai tempat mereka dapat belajar tentang hal-hal yang telah menimbulkan rasa ingin tahu sehingga mereka mendapat kesempatan untuk bergaul dengan teman sebaya yang tidak didapat pada masa prasekolah. Minat mereka terhadap sekolah sangat berbeda dibandingkan bila minat itu didasarkan atas konsep sekolah yang menekankan peraturan sekolah dan kerja keras untuk menghafal pelajaran.

b. Aspek afektif

Aspek afektif yang membangun aspek kognitif minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Seperti halnya aspek kognitif, aspek afektif berkembang dari pengalaman pribadi, dari sikap orang yang penting yaitu orang tua, guru, dan teman sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut, dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.

Dari kedua aspek di atas yang lebih penting perananya adalah aspek afektif daripada aspek kognitif dengan alasan:

1) Aspek afektif mempunyai peran yang besar dalam memotivasi

minat memperkuat minat itu dalam tindakan, suatu bobot emosional yang tidak menyenangkan mempunyai pengaruh sebaliknya. Bobot itu mengakibatkan kebosanan disertai pengaruh yang memperlemah motivasi.

2) Aspek afektif minat, sekali terbentuk, cenderung lebih tahan terhadap perubahan dibandingkan dengan aspek kognitif. Informasi yang tidak tepat tentang pekerjaan-aspek kognitif dari minat pada pekerjaan dapat diperbaiki secara relatif mudah tatkalah anak bertambah besar dan lebih mengenal berbagai pekerjaan, dan di sekolah mendapat bimbingan mengenai berbagai lapangan pekerjaan. Mengubah aspek afektif minat anak sangatlah sulit.

2. Ciri-ciri Minat

Untuk mengerti peran minat yang penting dalam kehidupan anak perlu diketahui ciri-ciri minat anak (Elizabeth B.Hurlock, 1989) antara lain:

a. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental.

Minat disemua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan

mental, pada waktu pertumbuhan terlambat dan kematangan dicapai. Anak yang berkembang lebih cepat atau lebih lambat daripada teman sebayanya. Mereka yang lambat matang, menghadapi masalah sosial karena minat mereka disamakan dengan minat yang lebih dewasa.

b. Minat bergantung pada kesiapan belajar.

Anak-anak tidak dapat mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan mental.

c. Minat bergantung pada kesempatan belajar.

Kesempatan untuk belajar bergantung pada lingkungan dan minat,

baik anak-anak maupun dewasa yang menjadi lingkungan anak. Karena lingkungan anak kecil terbatas pada lingkungan rumah, minat mereka tumbuh dari rumah. Dengan bertambah luasnya lingkup sosial, mereka menjadi tertarik pada minat orang di luar rumah yang mulai mereka kenal.

d. Perkembangan minat mungkin terbatas.

Ketidak mampuan fisik dan mental serta pengalaman sosial yang terbatas membatasi minat anak.

e. Minat dipengaruhi pengaruh budaya.

Anak-anak mendapat kesempatan dari orangtua, guru, dan orang dewasa lain untuk belajar mengenai apa saja yang oleh kelompok budaya mereka dianggap minat yang sesuai dan mereka tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang dianggap tidak sesuai bagi mereka oleh kelompok budaya mereka.

f. Minat berbobot emosional.

Bobot emosional aspek afektif dari minat menentukan kekuatannya. Bobot emosional yang tidak menyenangkan melemahkan minat, dan bobot emosional yang menyenangkan memperkuat minat tersebut.

g. Minat itu egosentris

Laki-laki pada mata pelajaran Matematika sering berlandaskan keyakinan bahwa kepandaian dibidang Matematika di sekolah akan merupakan langkah penting menuju kedudukan yang menguntungkan dan bergengsi di dunia usaha.

3. Cara Menumbuhkan Minat dan Motivasi

Sardiman A.M. (2010: 95) minat dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:

a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan.

b. Menghubungkan dengan persoalan pengajaran yang lampau.

c. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik.

d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

Syaiful Bahri Djamarah (1995: 149-157) ada beberapa bentuk motivasi yang dapat guru gunakan untuk mempertahankan minat anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Bentuk-bentuk motivasi dimaksud adalah:

a. Memberi angka.

Angka adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar siswa, serta sebagai alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada siswa untuk meningkatkan prestasi belajar mereka.

b. Hadiah

Hadiah adalah sesutu yang diberikan kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan.

c. Pujian

Pujian adalah alat motivasi yang positif melalui suatu kata

misalnya ”bagus”.

d. Gerakan tubuh

Gerakan tubuh merupakan penguatan yang dapat membangkitkan gairah belajar siswa.

e. Memberi tugas

Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan.

f. Memberi ulangan

Ulangan adalah salah satu strategi yang penting dalam pengajaran.

Ulangan mempunyai fungsi sebagai evaluasi proses dan evaluasi produk, kepentingan lainya adalah untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik.

g. Mengetahui hasil

Ingin mengetahui adalah suatu sifat yang sudah melekat di dalam diri setiap orang. Jadi, setiap orang selalu ingin mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya. Dorongan ingin mengetahui membuat seseorang berusaha dengan apa pun agar keinginannya itu menjadi kenyataan.

h. Hukuman

Hukuman dimaksud disini adalah hukuman yang bersifat mendidik.

Dari beberapa cara yang dipakai oleh para ahli di atas, peneliti dapat menyimpulkan untuk membangkitkan minat serta prestasi belajar siswa

dalam belajar adalah menggunakan metode yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik, menghubungkan dengan persoalan pengajaran yang lampau, memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, memberi angka, memberi pujian, memberi tugas, memberi ulangan serta memberi hukuman yang bersifat mendidik. 4. Definisi Belajar

Henry E. Garret (H. Syariful Sagala, 2005: 13) belajar merupakan “proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu”.

Gagne (H. Syaiful Sagala, 2005: 17) belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu setelah ia mengalami situasi tadi.

William Brownell (Muchtar A.Karim dkk, 1996: 18-19) teori belajar didasarkan atas keyakinan bahwa anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara terus-menerus. Salah satu contoh yang digunakan untuk anak-anak dalam mengembangkan pemahaman tentang Matematika adalah dengan menggunakan benda-benda konkrit.

Zoltan P. Dienes (Muchtar A. Karim dkk, 1996: 19) meyakini bahwa dengan menggunakan berbagai sajian tentang suatu konsep Matematika, anak-anak akan dapat memahami secara penuh konsep tersebut jika dibandingkan dengan hanya menggunakan satu macam sajian saja. Sebagai contoh pada saat guru akan mengenalkan konsep bilangan tiga kepada siswa, guru disarankan menggunakan tiga mangga, tiga kelereng, tiga balon, tiga pensil, dan tiga benda konkrit lain.

Jean Piaget (Muchtar A. Karim dkk, 1996: 19-22) ada empat tahap teori belajar yaitu:

a. Tahap Sensori Motor (0-2 tahun)

Pada tahap ini anak mengembangkan konsep dasar melalui interaksi dengan dunia fisik.

b. Tahap Praoperasional (2-7 tahun)

Pada tahap ini anak mulai menggunakan bahasa, untuk menyatakan suatu ide, tetapi ide tersebut masih tergantung pada persepsi. Selain itu, anak sudah mulai menggunakan simbol, dan belajar untuk membedakan antara kata atau istilah dengan obyek yang diwakili oleh kata atau obyek tersebut.

c. Tahap Operasi Konkrit (7-12 tahun)

Pada tahapan ini anak mengembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda konkrit untuk menyelidiki hubungan dan model-model ide abstrak, sudah berpikir logis sebagai akibat dari kegiatan anak memanipulasi benda-benda konkrit.

d. Tahap Operasi Formal (12 tahun-dewasa)

Pada tahap ini anak sudah mulai mampu berpikir secara abstrak, anak dapat menyusun hipotesis dari hal-hal yang abstrak menjadi dunia riel, dan tidak terlalu tergantung pada benda-benda konkrit.

Jerome S. Bruner (Muchtar A. Karim dkk, 1996: 24-26) dalam mempelajari Matematika seorang anak perlu secara langsung mengggunakan bahan-bahan manipulatif artinya benda-benda konkrit yang dirancang khusus dan dapat diotak-atik oleh siswa dalam berusaha untuk memahami konsep Matematika. Dalam kaitannya dengan pengalaman fisik ini, Jerome S. Bruner mengemukakan tiga tahap sajian benda yaitu:

a. Tahap Enactive

Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam hal memanipulasi benda-benda konkrit dalam belajar.

b. Tahap Iconic

Dalam tahap kegiatan ini siswa berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari benda-benda konkrit yang dimanipulasinya.

c. Tahap Simbolic

Dalam tahap ini siswa memanipulasi lambang-lambang atau simbol-simbol dari benda-benda konkrit tertentu.

Dari beberapa pendapat pada ahli di atas, peneliti dapat

menyimpulkan bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalaman individu itu dalam interaksi dengan guru, teman-teman, dan lingkungan, yang mempunyai beberapa tahap yaitu tahap sensori motor, tahap praoperasional, tahap operasi konkrit, tahap operasi formal dan mempunyai tiga sajian yaitu tahap enactive, tahap iconic, dan tahap symbolic.

5. Fungsi Minat dalam Belajar

Elisabet B. Hurlock menulis tentang fungsi minat bagi kehidupan anak sebagaimana yang dituliskan oleh Abdul Wahid (1998: 109-110) sebagai berikut:

a. Minat mempengaruhi bentuk intensitas cita-cita

Sebagai contoh anak yang berminat pada olah raga maka cita-citanya adalah menjadi olahragawan yang berprestasi, sedang anak yang berminat pada kesehatan fisiknya maka cita-citanya menjadi dokter.

b. Minat sebagai tenaga pendorong yang kuat

Minat anak untuk menguasai pelajaran bisa mendorongnya untuk belajar kelompok di tempat temannya meskipun suasana sedang hujan. c. Prestasi selalu dipengaruhi oleh jenis dan intensitas

Minat seseorang meskipun diajar oleh guru yang sama dan diberi pelajaran tapi antara satu anak dan yang lain mendapatkan jumlah pengetahuan yang berbeda. Hal ini terjadi karena berbedanya daya serap mereka dan daya serap ini dipengaruhi oleh intensitas minat mereka.

d. Minat yang terbentuk sejak kecil/masa kanak-kanak sering terbawa seumur hidup karena minat membawa kepuasan

Minat menjadi guru yang telah membentuk sejak kecil sebagai

misalkan terus terbawa sampai hal ini menjadi guru tidak akan dirasakan karena semua tugas dikerjakan dengan penuh sukarela.

Dokumen terkait