LANDASAN TEORI
A. Penjelasan Teori
1) Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif Jigsaw dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif Jigsaw mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu
siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Rusman (2014: 218) “model pembelajaran Jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil”. Menurut Lie (dalam Rusman, 2014: 218), „pembelajaran Jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerjasama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri‟.
Menurut Jhonson (dalam M. Hosnan, 2014: 249) menyatakan bahwa „pembelajaran Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok‟.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas, pengertian model pembelajaran kooperatif Jigsaw yang akan digunakan dalam penelitian adalah model pembelajaran kooperatif dimana siswa mendapat pengalaman belajar melalui kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen, dimana setiap siswa saling bergantung dan mempunyai tanggung jawab secara mandiri. Proses pembelajaran kooperatif Jigsaw membagi siswa dalam 2 kategori kelompok belajar, yakni expert group (kelompok
ahli) dan home group (kelompok asal). Skema pembagian kelompok pada model pembelajaran kooperatif Jigsaw disajikan berikut ini.
Gambar 2.2 Dinamika Pembagian Kelompok Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Sumber: Ridwan Abdullah Sani, 2013:136
Terdapat 3 jenis model pembelajaran kooperatif Jigsaw yaitu Jigsaw tipe I atau dikenal dengan sebutan Jigsaw, Jigsaw tipe II dan Jigsaw tipe III. Jigsaw tipe II dan Jigsaw tipe III merupakan bentuk adaptasi dari model pembelajaran Jigsaw tipe I. Jigsaw tipe II dikembangkan oleh Slavin (1989). Teknik pelaksanaan Jigsaw tipe II hampir sama dengan Jigsaw tipe I, hanya saja dalam model ini, setiap kelompok “berkompetisi” untuk memperoleh penghargaan kelompok (group reward). Jigsaw tipe II diawali dengan semua siswa mempelajari materi secara lengkap terlebih dahulu sebelum materi dibagi menjadi beberapa bagian. Modifikasi Jigsaw tipe III dikembangkan oleh Kagan (1990) dan dua “spesialis” yang sudah banyak mempublikasikan buku seputar pembelajaran kooperatif, David Johnson dan Robert Johnson.
B3 A3 C3 B1 A1 C1 A2 B2 C2 Kelompok asal (Home Group) C3 C1 C2 Kelompok ahli (Expert Group) A1 A2 A3 B1 B2 B3
Tidak ada perbedaan yang menonjol antara Jigsaw tipe I, Jigsaw tipe II, dan Jigsaw tipe III dalam tata laksana dan prosedurnya masing-masing. Jigsaw tipe III menurut Kagan lebih terfokus pada penerapannya di kelas-kelas bilingual sehingga pada umumnya menggunakan bahasa Inggris untuk materi, bahan, lembar kerja dan kuisnya. Jigsaw tipe I dan Jigsaw tipe II dapat diterapkan untuk semua materi pelajaran.
2) Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Tipe II
Model pembelajaran kooperatif Jigsaw tipe II adalah salah satu model pembelajaran kooperatif, dimana dalam proses pembelajarannya, siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok heterogen yang terdiri dari empat sampai enam orang dan setiap anggota kelompok harus membaca materi secara menyeluruh terlebih dahulu serta diberikan tanggungjawab secara mandiri untuk berperan aktif selama proses pembelajaran sehingga diharapkan mampu memahami materi dengan baik. Semua kelompok dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw tipe II berkompetisi untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa karena merasa usahanya mendapat perhatian dari guru.
Langkah-langkah Jigsaw tipe II menurut Robert E Slavin (2005: 237-238) adalah sebagai berikut:
a) Siswa bekerja dalam kelompok yang heterogen. b) Siswa diberi tugas membaca beberapa bab atau unit.
c) Siswa diberi “lembar ahli” yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian masing-masing anggota kelompok saat mereka membaca.
d) Siswa dari kelompok berbeda yang mempunyai fokus topik yang sama bertemu dalam “kelompok ahli” untuk mendiskusikan topik mereka.
e) Setelah selesai diskusi, para ahli kembali kepada kelompok asal dan secara bergantian mengajari teman satu kelompoknya mengenai topik mereka.
f) Siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topik (kuis). Skor kuis akan menjadi skor kelompok. Siswa yang kelompoknya meraih skor tertinggi akan menerima sertifikat atau bentuk-bentuk rekognisi kelompok lainnya.
Slavin (dalam M. Hosnan, 2014: 249) mengemukakan beberapa aktivitas Jigsaw tipe II seperti berikut:
a) Membaca. Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca sehingga mendapatkan informasi .
b) Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapat topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok (kelompok ahli) untuk mendiskusikan topik permasalahan tersebut.
c) Laporan kelompok. Ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan hasil diskusinya pada anggota kelompoknya masing-masing.
d) Kuis. Siswa memperoleh kuis individu/perorangan yang mencakup semua topik permasalahan.
e) Perhitungan skor kelompok dan penentuan penghargaan kelompok.
3) Manfaat Interaktif Kooperatif Dalam Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Jhonson and Jhonson (dalam Rusman, 2014: 219) melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang hasilnya menunjukkan bahwa interaksi kooperatif memiliki berbagai pengaruh positif terhadap perkembangan anak. Pengaruh positif tersebut adalah:
a) Meningkatkan hasil belajar; b) Meningkatkan daya ingat;
c) Dapat digunakan untuk mencapai taraf penalaran tingkat tinggi;
d) Mendorong tumbuhnya kesadaran individu;
e) Meningkatkan hubungan antarmanusia yang heterogen; f) Meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah; g) Meningkatkan sikap positif terhadap guru;
i) Meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif; j) Meningkatkan keterampilan hidup bergotong-royong.
Menurut Lei (dalam Rusman, 2014: 218) „Jigsaw merupakan salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang fleksibel. Banyak riset telah dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatif dengan dasar Jigsaw. Riset tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap yang lebih baik dan lebih positif terhadap pembelajaran, disamping saling menghargai perbedaan dan pendapat orang lain‟.
4) Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Tipe Jigsaw a) Kelebihan Model Pembelajaran Tipe Jigsaw
Kelebihan model pembelajaran tipe Jigsaw daripada model pembelajaran tipe STAD, GI dan model struktural, yaitu: (1) Setiap siswa memiliki tanggung jawab atau tugas yag sama
walaupun dengan kemampuan siswa yang heterogen. (2) Hasil diskusi digunakan sebagai penilaian kelompok. b) Kekurangan Model Pembelajaran Tipe Jigsaw
(1) Apabila anggota dalam kelompok tidak sesuai dengan harapan siswa, maka kegiatan diskusi kelompok tidak dapat berjalan dengan baik.