2.5 Tinjauan Umum Tentang Subrogasi .1 Pengertian Subrogasi
2.6.1 Pengertian Pelayanan Hak Tanggungan Elektronik
Kementerian Agraria telah melahirkan Pelayanan Pendaftaran Hak Tanggungan Elektronik bisa disebut HT-el. Terkait dengan aturanya hak tanggungan elektronik diatur dalam Permen Agraria nomor 5/2020 Perubahan atas Permen Agraria No 9/2019 tentang Pelayanan Hak Tanggungan Elektronik.
Dalam Permen Agraria nomor 5/2020, terkait dengan Pengertian hak tanggungan elektronik telah dijelaskan pada Pasal 1 ayat 7 yaitu “Pelayanan hak tanggungan elektronik adalah sistem elektronik terkait dengan rangkaian pemeliharaan data berbasis elektronik yang dilaksanakan dengan sistem elektronik”. Dalam hal ini sistem elektronik dijelaskan dalam pasal 1 ayat 8 dijelaskan bahwa sistem yang dimaksud elektronik adalah sistem yang telah dikembangkan oleh teknisi yang bekerja pada data serta informasi dalam proses pelaksanaan hak tanggungan elektronik..
Permen Agraria no 5/2020 ini adalah pengembangan dalam hukum agrarian dan hukum perikatan yang berbasis digital dan mempunyai tujuan untuk memberikan kemudahan, ketepatan, kecepatan, dan keterjangkauan bagi pengguna Hak Tanggungan dan pihak yang melakukan perikatan, sehingga dalam prosesnya pembebanan Hak Tanggungan dapat dijalankan dengan efektif serta efisien. Sistem hak tanggungan elektronik sebagaimana yang dimaksud dalam Permen Agraria Nomor 5/2020 ini adalah proses dalam pelayanan Hak Tanggungan terkait dengan rangka pelaksanaan hak
49 tanggungan yang dilakukan lewat sistem yang tertata secara elektronik. Dalam sistem Hak tanggungan elektronik ini terdapat beberapa layanan antara lain :
a. pendaftaran;
b. subrogasi;
c. Cessie.
d. Roya.29
Dalam pelaksanaan pelayanan HT-el terdapat komponen yang menyelenggarakan pelayanan HT-el seperti yang dimaksud pada pasal 5 ayat 1 Permen Agraria No 5/2020 ini yaitu terdiri dari :
a. Penyelengara yaitu kementrian agraria;
b. Pelaksana yaitu Kantor Pertanahan; serta c. Pengguna yaitu PPAT.30
Ketentuan Permen Agraria No 5/2020 ini juga mengatur tentang pengguna pelayanan sistem hak tanggungan elektronik yang melingkupi Kreditor,PPAT, serta pihak yang telah ditentukan kementrian. Kreditor yang termasuk adalah badan hukum atau perorangan yang sudah diatur pada Permen Agraria No 5/2020.
29 IGA Gangga Santi Dewi, Mira Novana, Kebijakan Penjaminan Tanah Melalui Hak Tanggungan di Indonesia, Jurnal Law, Development & Justice Review, Volume 3, Nomor 1, 2020, hal. 5
30AZWARNI SINAGA,NELLY. (2021). JAMINAN KEPASTIAN HUKUM AKTA PEMBERIAN HAK TANGGUNGGAN TERHADAP PENDAFTARAN HAK TANGGUNGAN SECARA ELEKTRONIK YANG MELEBIHI KETENTUAN JANGKA WAKTU TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN KREDITUR. (Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, Medan,2021) Diakses dari
https://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/40889/207011067.pdf?sequence=1&isAllowed=y
50 2.6.2 Mekanisme Pelayanan Hak Tanggungan Elektronik
Pada mekanisme pelaksanaan hak tanggungan elektronik pada pasal 7 Permen Agraria No 5/2020 telah mengatur pengguna hak tanggungan elektronik terkait hal ini merupakan notaris sebagai pengguna hak tanggungan elektronik.
Langkah pertama sebelum adanya proses penjaminan HT-el dilakukan, penggunan sistem hak tanggungan elektronik terlebih dahulu harus terdaftar sistem hak tanggungan elektronik sesuai pada Permen Agraria No 5/2020, mekanisme dalam pelayanan pelaksanaan hak tanggungan elektronik adalah terkait berikut :
1. Pengguna dari layanan Hak Tanggungan Elektronik harus terdaftar dan mendaftarkan permohonan pelayanan hak tanggungan elektronik lewat sistem HT-el dimana sudah disiapkan oleh Kementrian ATR/BPN untuk melengkapi syarat pemohon.
2. Pendaftaran Hak Tanggungan secara Elektronik harus membuat keabsahan dari surat pernyataan dari berkas elektronik yang telah diajukan. Syarat dengan surat pernyataan dibuat dengan softfile atau Dokumen Elektronik.
3. Tentang syarat berupa sertifikat hak terhadap tanah maupun hak milik terhadap sarusun harus dengan nama debitur;
4. Layanan hak tanggungan elektronik apabila sudah didapat dengan sistem elektronik akan mendapatkan bukti pelayanan akan terbit pada sistem elektronik;
51 5. Biaya Pelayanan HT-el yang sudah diterima dikenai biaya yang sudah
berlaku di kementrian yaitu penerimaan negara buka pajak;31
6. Pengajuan dilanjutkan apabila data lamaran dan pembayaran telah dikonfirmasi oleh sistem elektronik. Namun apabila sistem tidak merespon setelah dilakukan pembayaran maka pembayaran tidak mendapat konfirmasi oleh sistem HT-el, maka pengguna harus pergi untuk konfirmasi ke Kantor Pertanahan atau customer service HT-el.
Apabila dalam tenggang waktu tertentu apabila tidak kunjung membayar maka dapat batal dan harus memulai dari awal lagi;
7. Kantor Pertanahan mempunyai kewajiban mengecek dokumen serta persyaratan sertifikat hak tanggungan elektronik, sebelum hasil pelayanan terbit;
8. Jika hasil pengecekan terdapat berkas yang tidak lengkap maupun tidak sama, nantinya akan diberitahukan pada PPAT dan Kreditor agar segara melengkapi berkas yang tidak lengkap;
9. Jika berkas bermasalah dengan kelengkapan dan kesesuaian maka harus segera dilengkapai dengan tenggang waktu lima hari terhitung dari permohonan pelayanan diterima oleh sistem elektronik;32 Apabila
31 Pasal 11 Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik
32 Pasal 13 Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik
32
52 dalam tanggang tertentu PPAT atau kreditur belum melengkapinya maka dapat dinyatakan batal;
10. Catatan hasil dari pelayanan hak tanggungan dilakukan dengan cara dicetak kemudia ditempelkan pada hasil cetakan sertifikat hak milik dan buku tanah sertifikat
11. Hak tanggungan pada buku tanah dilakukan lewat buku tanah elektronik oleh pejabat Kepala Kantor Pertanahan mempunyai kewenanagan;
12. Catatan hak tanggungan akan dilakukan oleh kredituor dan catatatn yang dimaksud adalah kesatuan sertifikat hak terhadap tanah maupun hak milik, kemudian hasil pelayanan hak tanggungan elektronik diterbitkan dengan sistem hak tanggungan elektronik lewat domisili elektronik;33
13. Hasil Pelayanan dari HT-el selanjutnya disetujui dengan paraf elektronik Kepala Kantor Pertanahan yang mempunyai kewenangan, untuk mempertahankan keaslian dokumen elektronik.34
14. Pendaftaran Hak Tanggungan tingkat kedua dan selanjutnya, sertifikat Hak Tanggungan Elektronik akan diterbitkan dengan nomor seri baru.
Dalam hal :
a. Pengalihan KPR;
33 Pasal 15 Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik
34 Pasal 16 Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik
53 b. Perubahan nama (Cessie);
c. Hapusnya hak tanggunan (Roya) d. Koreksi data
Sedangkan sertifikat hak tanggungan elektronik diterbitkan dalam pelaksanaan Tingkat kedua tetapi memiliki nomor seri yang sama dengan perubahan data terkini. Sedangkan dalam pencabutan cicilan penuh, pada sertifikat Hak Tanggungan Elektronik sebelumnya akan dicap tanda khusus yang menandakan jika sertifikat yang dicap tidak berlaku lagi.
15. Apabila terdapat kesalahan dalam Sertifikat Hak Tanggungan Elektronik maka akan dilakukan koreksi data sertifikat Hak Tanggungan Elektronik dan dapat disampaikan pada saat penerapan sistem elektronik sudah diterbitkan. Koreksi bisa diajukan paling lama 30 hari terhitung setelah sertifikat hak tanggungan elektronik terbit.
Hasil dari pelayanan hak tanggungan elektronik ini akan diperoleh seperti sertifikat hak tanggungan yang berupa catatan yang ada pada buku tanah dan diterbitkan oleh sistem hak tanggungan elektronik.