BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
4. Pengertian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sangat penting dalam membentuk kepribadian masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai warga negara maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu misi pembelajaran PPKn diperguruan tinggi adalah melatih mahasiswa membiasakan diri menerapkan sikap-sikap demokratis sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam konstitusi yaitu dalam
pembukaan UUD 1945 yakni bahwa negara indonesia ialah negara yang berkedaulatan rakyat atau demokrasi.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, khususnya dalam mengembangkan sikap demokratis, dosen harus mampu membangun kepribadian mahasiswa secara komprehensif dalam arti proses mengubah perfomansi mahasiswa yang tidak terbatas hanya pada pengetahuan tetapi juga meliputi keterampilan, persepsi, emosi, dan proses berpikir. Dosen sebagai pengendali utama dalam proses belajar mengajar khususnya didalam kelas diharapkan dapat menciptakan kondisi belajar yang kondusif, melakukan usaha-usaha untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar mahasiswa melakukan aktivitas belajar dengan baik sehingga bprestasi belajarnya dapat meningkat. Untuk mencapai maksud tersebut, salah satu keterampilan yang perlu dimiliki dan dikembangkan oleh mahasiswa adalah keterampilan berdiskusi.
Diskusi adalah suatu cara menyampaikan materi pelajaran dengan jalan bertukar pikiran seiring dengan itu diskusi berfungsi untuk memotivasi peserta didik untuk berpikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persoalan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja tetapi memerlukan wawasan pengentahuan yang mampu mencari jawaban atau jalan terbaik. Melalui diskusi beberapa karakter yang dapat dikembangkan antara lain, mengemukakan dan menerima pendapat orang lain, keberanian mengemukakan ide dan gagasan, berpikir kritis, sistematis, pengendalian
diri, toleransi kerjasama, dan partisipasi. Namun sering kali usaha guru dalam mengemas setiap pembelajaran khusus dalam metode debat tidak berhasil diterapkan sesuai dengan target yang diharapkan.
Menyikapi permasalahan diatas diperlukan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu strategi pembelajaran yang sasuai dengan implikasi pembelajaran PPKn khususnya konsep dasar PPKn yang dapat mengatasi kurang aktifnya siswa dalam diskusi adalah dengan menggunakan metode debat. Penggunaan debat dapat memicu siswa untuk aktif dalam berkomunikasi antar siswa maupun komunikasi dengan guru. Kebiasaan siswa ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran akan mengarahkan siswa sebagai warga negara untuk terbiasa ikut berpartisipasi dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk diajarkan kepada warga negara, hal ini dikarenakan pendidikan kewarganegaraan merupakan program pendidikan yang membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan guna mendukung peran aktif mereka dalam masyarakat dan negara dimasa yang akan datang. Berkenaan dengan hal tersebut, pendidikan kewarganegaraan atau Civic education adalah “ Mata pelajaran dasar yang dirancang untuk mempersiapkan para warga negara mudah untuk mendorong peran aktif mereka di masyarakat setelah mereka dewasa “.
Pandangan lain tentang pengertian pendidikan kewarganegaraan disampaikan oleh Somantri (2001) sebagai berikut:
Program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh-pengaruh positif dari pendidikan sekolah, masyarakat, dan orang tua, yang kesemuanya itu diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan hidup demokratis yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah program pendidikan atau pembelajaran yang membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan sebagai upaya memanusiakan, membudayakan dan memberdayakan serta menjadi warga negara yang baik, yakni warga negara yang tahu akan hak hak kewajibannya, memiliki pola pikir yang cerdas, kritis, sikap yang demokratis serta memiliki karakter seperti yang diamanatkan oleh pancasila dan UUD 1945.
1. Tujuan mata pelajaran PPKn sebagaimana tercantum pada permendiknas No. 22 Tahun (2006) tentang standar isi:
a. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggungjawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti korupsi.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
d. Berinteraksi dengan bangsa lain dalam percaturan dunia baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi.
Berkaitan dengan hal tersebut proses pembelajaran PKn pada umumnya yang banyak kita temukan disekolah-sekolah, yaitu proses pembelajaran dilaksakan untuk mencapai tujuan pembelajaran pada tingkat rendah yakni mengingat, memahami dan menerapkan, belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis yakni suatu yang paling esensi dari dimensi belajar. Sebagian besar guru belum merancang pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir.
Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) diartikan sebagai mata kuliah yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara indonesia yang cerdas, terampil dan berkarater yang dimanatkan oleh pancasila oleh UUD 1945. Selanjutnya tujuan dari pembelajaran PPKn adalah agar peserta didik memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menaggapi isu kewarganegaraan, berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas, berkembang secara positif
dan demokratis serta berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia.
Pendidikan kewarganegaraan memiliki tiga fungsi pokok yaitu sebagai wahana pengembangan warga negara yang demokratis yakni mengembangkan kecerdasan warga negara, membina tanggung jawab warga negara dan mendorong patisipasi warga negara. Tiga kompetensi warga negara tersebut sejalan dengan tiga komponen pendidikan kewarganegaraan yang baik yaitu pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan dan karakter kewarganegaraan. Senada dengan pendapat diatas,
Udin, S. Winataputra (2001) menyatakan bahwa yang menjadi jantung dan benang emas yang mengikuti unsur –unsur dalam membangun tatanan yang koheren dari semua sub sistem dari pendidikan kewarganegaraan adalah Civic knowledge yakni pengentahuan dan wawasan, civic skill yakni perangkat keterampilan intelektual, sosial, dan personal dan civic disposition yakni nilai, komitmen dan sikap yang seyogyanya dikuasa oleh setiap individu warga negara.
Di era global seperti ini saat ini warga negara perlu memiliki kepribadian bangsa. Untuk mencapai hal tersebut bagi generasi muda, mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu sarannya. PPKn mempunyai tujuan antara lain untuk berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan dan mengandung tiga dimensi konseptual interaktif, yakni kajian ilmiah kewarganegaraan, dan aktivitas sosio kultural kewarganegaraan. Tujuan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan
yaitu, dalam standar kurikulum pendidikan kewarganegaraan tahun 2004, ditegaskan bahwa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan mempunyai tujuan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kearganegaraan, berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dengan tujuan yang demikian, sebenarnya akan dapat membantu mengasah kecerdasan emosional siswa. Namun dalam fenomenanya, ditemukan probelamatika pada saat proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, dimana guru jarang menggunakan model pembelajaran yang tepat, sehingga proses yang terjadi hanya transfer ilmu, tidak disertai dengan pendidikan untuk membentuk karakter, dan kecerdasan emosional. Oleh karena itu guru dituntut untuk menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional.