• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT KETERANGAN

A. Karakteristik Pengembangan Kurikulum

1. Pengertian Pengembangan Kurikulum

Istilah pengembangan kurikulum merupakan terjemah dari curriculum development yaitu kegiatan penyusunan kurikulum, pelaksanaanya di sekolah-sekolah disertai penilaian yang intensif, diikuti penyempurnaan terhadap komponen-komponen tertentu atas dasar hasil penilaian yang telah dilakukan.2 Kata pengembangan mempunyai banyak arti, pengembangan bisa

1 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006, hal. 17

2LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Suarabaya, Pengembangan Kurikulum dan BahanAjar, Surabaya: PT. Revka Petra Media, 2009, hal. 58.

diartikan sebagai perubahan, pembaharuan, perluasan, dan sebagainya. Dalam pengertian yang lazim, pengembangan berarti menunjuk pada suatu kegiatan yang menghasilkan cara baru setelah diadakan penilaian serta penyempurnaan-penyempurnaan seperlunya. Surakhmad menjelaskan bahwa pengembangan adalah penyusunan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan3.

Istilah kurikulum dapat diartikan dalam dua macam pengertian, diantaranya:

a. Pengertian Secara Etimologi

Secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir dan curere yang merupakan istilah bagi tempat berpacu, berlari dalam sebuah perlombaan yang telah dibentuk seperti rute yang harus dilalui para kompotitor perlombaan.4 Istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga terutama dalam bidang atletik pada zaman Romawi Kuno di Yunani yang mempunyai arti jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis star sampai garis finish. Sedangkan kurikulum dalam bahasa Perancis berasal dari kata courier yang berarti berlari.5

Kurikulum dalam bahasa Arab disebut dengan istilah manhaj yang berarti jalan terang dan dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan.6 Kurikulum juga dapat diartikan sebagai suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang anak didik untuk mencapai tingkat tertentu.7

Sedangkan menurut pandangan lama, atau sering disebut pandangan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus

3 Winarno Surakhmad, Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta:

Proyek Pengadaan Buku Sekolah Pendidikan Guru, 1977, hal. 15

4 Ali Mudhofir, Aplikasi pengembangan KTSP dan Materi ajar dalam Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. Rajagrafindo, 2011, hal. 1

5 Zainal Arifin, Konsep dan Model pengembangan Kurikulum, Bandung: PT.

Remaja Rosda Karya, 2013, hal. 2.

6 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi pendidikan, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1986, hal. 176

7 A. Halim, dkk, Menejemen Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005, hal. 16

ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah.8 Tetapi menurut S. Nasution, tafsiran kurikulum dapat kita golongkan sebagai berikut:

1. Kurikulum sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Biasanya hasilnya dibentuk dalam sebuah buku yang berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan.

2. Kurikulum sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya.

Misalnya, perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah dan lain-lain.

3. Kurikulum sebagai hal yang akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu.

4. Kurikulum sebagai pengalaman siswa, yakni apa yang secara aktual menjadi kenyataan pada setiap peserta didik.9

b. Pengertian Secara Terminologi

Menurut Harold B. Alberty, pada Rusman menyatakan bahwa “all of the activities that are provided for the students by the school.” 10 Implikasi dari pengertian tradisional tersebut adalah (a) kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, (b) peserta didik harus mempelajari dan menguasai seluruh mata pelajaran, (c) mata pelajaran dipelajari di sekolah secara terpisah (d) tujuan akhir kurikulum untuk memperoleh ijazah.11

Sedangkan S. Nasution menyatakan bahwa kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.12

Menurut Nana Saodih, kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang diharapkan, yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, diberikan kepada peserta didik

8 Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2013, hal..3

9 S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, hal., 3.

10 Rusman, Manajemen Kurikulum, Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada, 2009, hal. 3.

11 Zainal Arifin, Konsep dan Model pengembangan Kurikulum, Bandung:

PT. Remaja Rosda Karya, 2013, hal. 3.

12 S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hal. 94.

di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi serta kompetensi sosial peserta didik.13Definisi lain tentang kurikulum adalah seperangkat rencana, pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.14

Nampaknya pengertian di atas masih terlalu sederhana dan menitikberatkan pada materi mata pelajaran semata.

Sementara itu Zakiah Darajat memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan tertentu.15 Pandangan ini mempunyai kesamaan dengan definisi yang dikemukakan oleh Addamardasy Sarhan dan Munir Kamil dalam al- Syaibany bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.16

Secara terminologi, definisi-definisi kurikulum juga telah banyak dirumuskan oleh para ahli pendidikan.

Diantaranya definisi yang dikemukakan oleh Knezevic dalam Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang yang memandang kurikulum sebagai seluruh pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah.17 Dalam konteks pendidik nasional, kurikulum merupakan perangkat minimal bahan pelajaran yang disediakan oleh negara untuk diajarkan kepada peserta didik oleh penyelenggara pendidikan. Kurikulum ini disebut sebagai kurikulum nasional. Karena kurikulum nasional ini

13 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah , Bandung: Sinar Baru, 1991, hal. 3

14 Wahit Iqbal Mubarok dkk, Promosi Kesehatan; Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar dalam Pendidikan, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007, hal. 285

15 Zakiah Drajat, et. al., Ilmu Pendidkan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 122

16 Oemar Muhammad al-Taumy al-Syaibany, Falsafat Pendidikan Islam, diterjemahkan Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hal. 485

17 TIM Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, Administrasi Pendidikan,Malang: IKIP Malang,1989, hal. 65

bahannya minimal, maka setiap penyelenggara pendidikaan diperkenankaan menambah bahan-bahan ajar lain yang dianggap relevan dan penting.18

Oleh sebab itu, penulis memandang bahwa, kurikulum adalah salah satu manhaj bagian yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini, telah dijelas oleh Akhmad Sunhaji dalam karangannya bahwa

“Kurikulum merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik”.19 Pengembangan kurikulum di dalamnya terdapat kegiatan seleksi tujuan pendidikan, seleksi organisasi mata pelajaran, seleksi metode intruksional dan pnegalaman belajar, serta seleksi prosedur evaluasi. Semuanya harus dilandasi oleh prosedur yang kuat, yang menjadi kompas, titik sentral, dasar acuan dan pengatur konteks dalam proses pendidikan20

Dari sudut pandang organisasi, perencanaan pengembangan kurikulum berperan menentukan tujuan dan maksud pengembangan kurikulum, perkiraan lingkungan, dan penetapan pendekatan di mana maksud dan tujuan pengembangan kurikulum hendak dicapai.

Berdasarkan pemikiran diatas, maka yang dimaksud dengan perencanaan pengembangan kurikulum adalah keputusan yang diambil untuk melakukan tindakan dalam waktu tertentu agar pelaksanaan kegiatan pengembangan kurikulum menjadi lebih efektif dan efisien serta menghasilkan kurikulum yang sesuai dengan harapan serta relevan dengan kebutuhan stakeholders.21

Menurut Abdurrahman Wahtudi dalam Mokhamad Fatoni menjelaskan, bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa peserta didik kearah

18 A. Ariobimo Nusantara dan R. Masri Sareb Putra, Keadilan Dalam Masyarakat, Yogyakarta: Kanisius, 2007, hal. 64

19 Akhmad Sunhaji, Implementasi Pendidikan Agama di Sekolah Katolik Kota Blitar dan dampaknya terhadap interaksi Sosial, Yogyakarta: AYNAT PUBLISHING, 2017, hal. 159

20 Esri Ismawati, Telaah Kurikulum Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015, hal.11.

21 Erma Fatmawati, Profil pesantren Mahasiswa karakteristik kurikulum desain pengembangan kurikulum, peran Pemimpin Pesantren, Yogyakarta: LikiS Pelangi Aksara, hal. 97

perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu terjadi pada peserta didik.

Untuk itu perkembangan kurikulum harus memperhatikan perubahan-perubahan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta berorientasi pada masa kini dan akan datang. Selain itu pengembangan kurikulum juga harus berangkat dari kejelasan apa yang dimaksud dengan kurikulum itu sendiri, dan kejelasan bagaimana fungsi dari kuriklum.

Dengan lain kata, bahwa pengembangan dan pembaruan kurikulum harus menjawab apa, mengapa dan bagaimana kurikulum dikembangkan dan diperbarui.

Pengembangan kurikulum sendiri tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang memengaruhinya, seperti cara berfikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan.

Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum.22

Jadi, menurut Oemar Hamalik bahwa, Pengembangan kurikulum merupakan proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik.

Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum.23 Hamalik menyatakan bahwa pengembangan kurikulum yang dilakukan hendaknya mencakup: (1) tujuan kurikulum; (2) materi kurikulum; (3) metode kurikulum; (4) organisasi kurikulum; dan (5) evaluasi kurikulum.24

Sedangkan menurut Muhaimin pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai: (1) kegiatan menghasilkan kurikulum, (2) Proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan

22 Trianto Ibnu Badar at-Taubany hadi Suseno, Desain Pengembangan Kurikulum 2013 di Madrasah, Depok: kencana, 2017, cet ke 1, hal. 74

23 0emar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2013, cet. 5, hal., 24.

24 Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 1999, hal. 23

kurikulum yang lebih baik dan, (3) kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan kurikulum.25

Selanjutnya Jonh F. Kerr yang dikutip oleh Soetopo dan Soemanto menyebutkan bahwasannya pengembangan kurikulum harus (1) Objektif, yakni tujuan yang bersumber dari murid, masyarakat, dan ilmu pengetahuan yang meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor;(2) Knowledges, yakni sejumlah pengetahuan yang diintegrasikan dalam pembelajaran; (3) Schoollearning experiences, yakni sejumlah pengelaman belajar di sekolah yang meliputi isi pelajaran, metode, kesiapan, perbedaan individu, hubungan antara guru dan murid serta hubungan antara masyarakat dan sekolah; dan (4) Evaluation, yakni penilaian berdasarkan sejumlah informasi yang dapat dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai perubahan, pengembangan, dan penyempurnaan kurikulum.26

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis berpendapat bahwa, pengembangan kurikulum adalah perencanaan, penyempurnaan, perluasan, penambahan, pengurangan dan pembaharuan dari sebuah manhaj kurikulum yang direncanakan melalui tahapan-tahapan asas secara matang untuk mengarahkan potensi dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik guna menghasilkan sebuah tujuan sesuai dengan harapan dan perkembangan zaman.

Pengembangan kurikulum menunju pada suatu kegiatan yang dapat menghasilkan sebuah konsep kurikulum baru yang lebih baik dan terarah serta sesuai dengan perkembangan zaman melalui perencanaan yang baik dan matang, supaya tercapai hasil secara optimal dan maksimal terhadap pendidikan yang dampak manfaatnya dapat diaplikasikan oleh peserta didik menuju kearah yang lebih baik dan modern.

2. Landasan Pengembangan Kurikulum

Menurut Nana Sudjana, asas kurikulum dibagi menjadi tiga, yaitu asas filosofis, asas sosial-budaya dan asas

25 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikn Agama Islam: di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Rajawali Pers: Jakarta, 2005, hal. 10

26 Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan, Jakarta: Bina Askara, 1993, hal. 24

psikologis.27 Nana Syaodih Sukmadinata menyebutkan ada empat, yakni asas filosofis, asas psikologis, asas sosial budaya, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.28 Rahmad Raharjo menyatakan bahwa asas kurikulum ada lima, yaitu asas filosofis, asas psikologis, asas sosiologis, dan asas empirik.29

Dengan demikian, dapat difahami bahwa asas-asas kurikulum mempunyai delapan asas, diantaranya: asas agama, asas filosofis, asas yuridis, asas psikologis, asas sosiologis dan sosial budaya, asas ilmu pengetahuan dan teknologi, asas organisatoris, dan asas empirik.

Adapun penjabaran masing-masing asas kurikulum sebagai berikut:

a. Landasan agama

Dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan Islam, haruslah kurikulum dalam pendidikan Islam dan menyeluruh kandungan-kandungannya, melebihi ilmu-ilmu agama dan alat-alatnya termasuk tafsir, hadits, fiqhi, dasar-dasar aqidah, ilmu hadits, usul fiqh, nahu, saraf, balaghah, adab, dan lain-lain.30 Abidin Nata menjelaskan (landasan agama) the foundation of religion menjadi bagian yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dengan cermat dalam menyusun kurikulum pendidikan Islam, karena dalam berbagai disiplin ilmu tersebut tidak selamanya sejalan dengan ajaran Islam mengingat dasar ontologis, epistemologis dan aksiologisberbeda.31

Berbagai ilmu pengetahuan berkembang di barat pada umumnya berdasarkan pada pandangan rasional, empiris dan objektif belaka. Adapun dalam pendidikan Islam selain berdasarkan pada pandangan tersebut juga harus berdasarkan pada pandangan tauhid, akhlak mulia, bahwa semua ilmu tersebut diyakini sebagai pemberian dan tanda

27 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah , Bandung: Sinar Baru, 1991, hal. 9.

28 Nana Syaodih Sukmadinata, Perkembangan Kurikulum;Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hal. 38-58.

29 Rahmat Raharjo, Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam;

Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Yogyakarta, Magnum Pustaka, 2010, hal. 31-34.

30 Umar, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Transpormatif, Yogyakarta Depublish, 2016, hal. 25

31 Adidin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010, hal. 132

kekuasan Tuhan, dan harus digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.32

Kurikulum yang berlandaskan ajaran agama Islam harus berusaha supaya mampu menolong peserta didik untuk membina iman.33 Dengan iman yang kuat mereka mampu mengamalkan aspek- aspek nilai didapatkan di sekolah, sebagai kerangka dalam mengantarkan peserta didik yang bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya.

Kurikulum juga harus mampu menanamkan nilai-nilai yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan akhlak mulia, menambahkan kesadaran agama serta melengkapi dengan ilmu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus bersifat mendalam dan menyeluruh.34

Dari uraian tersebut landasan agama sebagai landasan yang menentukan arah, tujuan dan pengembangan pendidikan Islam haruslah tercakup landasan tersebut sebagai poin yang paling utama. Tanpa landasan agama sebagai landasan pokok dalam pengembangan suatu kurikulum maka arah dan tujuan pendidikan yang diharapkan hanya menjauhkan pseserta didik dari nilai-nilai tauhid, spiritual yang pada gilirannya kehidupan yang dihadapi terasa hampa. Dengan landasan agama dalam kurikulumpendidikan dapat menentukan arah dan tujuan suatu pendidikan tersebut. Landasan agama ini jelas keterkaitannya dengan landasan dalam pengembangan kurikulum sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.35 b. Landasan Filosofis

Pengertian secara harfiah filosofis (filsafat) berarti

“cinta akan kebijaksanaan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tau atau berpengetahuan. Pengetahuan

32 Umar, et.al., Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Transpormatif, Yogyakarta Depublish, 2016, hal. 25

33 Oemar Muhammad al- Toumy al- Syaibany, Falsafat Pendidikan Islam, diterjemahkan Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hal. 523-530.

34 Nana Syaodih Sukmadinata, Perkembangan Kurikulum;Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hal..39.

35 Umar, et. al., Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Transpormatif, Yogyakarta Depublish, 2016, hal. 26

tersebut diperoleh melalaui proses berpikir, yaitu berfikir secara sistematis, logis dan mendalam.36

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu philosophia (philore = cinta, senang, suka, dan Sophia

=kebaikan atau kebenaran).37 Setiap Negara mempunyai landasan filsafat yang berbeda, artinya landasan filosofis dan tujuan pendidikan juga berbeda. Landasan filosofis dimaksudkan, pentingnya filsafat dalam mengembangkan kurikulum lembaga pendidikan.38

Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan peseta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, seseorang harus tahu atau berpengetahuan.

Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistematis, logis, dan mendalam.

Sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik”. Pada hakekatnya, “baik” ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut oleh negara, guru, orang tua, masyarakat, bahkan dunia.39

Landasan filosofis kurikulum 2013 hanyalah seperti filsafat kurikulum 2013 palsu yang sekedar tersirat pada kurikulum 2013. Maka kurikulum ini masih mentah yang harus diolah sedemikian rupa untuk mampu disajikan dengan baik dan diimplementasikan secar optimal, akibatnya terjadi multitafsir dikalangan stakeholder pada satuan pendidikan seperti munculnya permasalahan yang tersebut diatas. Juga lebih pada ketidak mapanan dalam menterjemahkan konsep kurikulum 2013, sehingga dalam pengimplementasiannya pun menjadi persial.

Menurut penulis, di sinilah pokok permasalahannya, padahal landasan filosofis pada sebuah kurikulum menempati tempat yang sangat vital yaitu sebagai ruh/

36 Nana Syaodih Sukmadinata, Perkembangan Kurikulum;Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hal..39.

37 Zainal Arifin, Konsep dan Model pengembangan Kurikulum, Bandung:

PT. Remaja Rosda Karya, 2013, hal. 4.

38 Sukiman, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik Pada Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga,2013, hal. 33.

39 S. Nasution, Asas-Asas Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, hal. 11

nyawa kurikulum itu sendiri.40 Dan enurut Kneller, pada Lalu Muhammad Nurul Wathoni bahwa fondasi kurikulum adalah filsafat yaitu landasan filosofis kurikulum, sedangkan Beauchamp pada Lalu Muhammad Nurul Wathoni menempatkan filsafat sebagai syarat pertama dalam pengembangan kurikulum, sebagaimana Rupert C.

Lodge, pada Lalu Muhammad Nurul Wathoni menjelaskan bahwa filsafat dan kurikulum satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan.41

Noor Syam memisalkannya seperti tubuh dengan ruh menjadi mati bila tidak menyatu.42 Bahkan Muhmidayeli menegaskan bahwa tidak bisa disangkal keberadaan filsafat merupakan material dasar membengun kurikulum yang sempurna.43

Pendapat para ahli tersebut diatas, menunjukan bahwa begitu sangat pentingnya kurikulum dibangun berdasarkan kajian-kajian filosofis. Karena dengan landasan filsafat yang jelas, maka arah dan tujuan Kurikulumpun akan menjadi jelas.

c. Landasan yuridis

Adapun landasan kurikulum dari Tahun 2005 sampai kurikulum 2013 yaitu:

Pertama, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional.

Kedua, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah

Ketiga Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mulai tahun ajaran 2006/2007.44.

40 Lalu Muhammad Nurul Wathoni, Filsafat Pendidikan Islam Analisis Pemikiran Filosofis Kurikuum 2013, Ponorogo: CV wais inspirasi Indonesia 2018, hal. 15

41 Lalu Muhammad Nurul Wathoni, Filsafat Pendidikan Islam Analisis Pemikiran Filosofis Kurikuum 2013, ... , 2018, hal. 16

42 Mohammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan dan Filsafat Kependidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1998, hal. 329-333.

43 Muhmidayeli, Filsafat pendidikan, Bandung: PT. Rafika Aditama, 2011, hal. 149-177

44 Subdis SMA Dinas dikmenti Propinsi DKI Jakarta, Peraturan Meneteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Nomor 24 Tahun 2006, Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Untuk Satuan Pendidikan

Keempat, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.22 tentang pelaksanaan Standar Isi jenjang SD/MI.45

Kelima Peraturan Pemerintah Pendidikan Nasional No.41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan tingkat Sekolah Dasar.

Keenam, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan.

Ketuju, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi.

Kedelapan, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 67 Tahun 2013 tentang Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum SD/MI.

Standar isi sebagaimana dimaksud oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, yang secara keseluruhan mencakup:

1. Kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan

2. Beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah,

3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusaunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi, dan

4. Kalender pendidikan untuk menyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Standar isi dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005.46

Namun realitasnya, pengembangan kurikulum ternyata masih mengalami kelemahan-kelemahan, menurut Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan untuk satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2006, hal. 4

45 Rahmat Raharjo, Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam;

Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Yogyakarta, Magnum Pustaka, 2010, hal. 31-32.

46 Subdis SMA Dinas dikmenti Propinsi DKI Jakarta, Peraturan Meneteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Nomor 22 Tahun 2006, Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2006, hal. 4

Muhaimin bahwasannya kelemahan pengembangan kurikulum PAI bisa jadi disebabkan karena ada kekeliruan dalam mentransfer sistem pengembangan kurikulum atau pembelajaran yang berkembang selama ini, yang mana eksperimennya bukan dari kurikulum PAI itu sendiri melainkan dari kurikulum (bidang studi) yang lain, yang kemudian diadopsi begitu saja tanpa adanya kritik yang konstruktif sehingga bisa sinkron.47

d. Landasan psikologis

Landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum meliputi faktor-faktor psikologis yang harus dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan kurikulum.48 Landasan psikologis diperlukan terutama dalam seleksi dan organisasi bahan pelajaran, menentukan kegiatan belajar yang paling serasi, dan merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai.49 Dalam hubungannya dengan

Landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum meliputi faktor-faktor psikologis yang harus dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan kurikulum.48 Landasan psikologis diperlukan terutama dalam seleksi dan organisasi bahan pelajaran, menentukan kegiatan belajar yang paling serasi, dan merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai.49 Dalam hubungannya dengan