DI SD ISLAM BABUR-RIDHO CILINCING JAKARTA UTARA
TESIS
Diajukan kepada Program Studi Magister Pendidikan Islam sebagai salah
satu persyaratan menyelesaikan studi Strata Dua (S.2) untuk memperoleh gelar Magister bidang Pendidikan
Disusun oleh:
Baihaki NIM: 162520062
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM KONSENTRASI MANAJEMEN
PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PROGRAM PASCA SARJANA
INSTITUT PTIQ JAKARTA 2019 M. / 1440 H.
i
PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MATERI ZAKAT
DI SD ISLAM BABUR- RIDHO CILINCING JAKARTA UTARA
ii
iii ABSTRAK
Kesimpulan tesis ini adalah: Pengembangan Kurikulumdan dampaknya terhadap Pendidikan Agama Islam pada materi zakat di Sekolah Dasar Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara.
Pendidikan merupakan kebutuhan primer yang sangat penting bagi bangsa masyarakat Indonesia saat ini, untuk memenuhi hal tersebut maka diperlukan suatu lembaga sebagai penyangga, penyalur dalam mengembangkan ilmu untuk peserta didik. Dalam hal ini adalah sekolah.
Di dalam sekolah terdapat rencana, ide-ide yang akan diterapkan dan dilaksanakan dalam peroses pembelajaran yang disebut dengan kurikulum.
Kebijakan kurikulum di Indoenesia dianggap sebagai penentu keberhasilan suatu pendidikan.
Oleh karena itu, di Indonesia mengalami beberapa kali pergantian kurikulum. Kurikulum adalah bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman dilingkungan masyarakat. Salah satunya yaitu kurikulum yang dicanangkan di Sekolah Dasar Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara. Aspek-aspek yang menjadi menjadi fokus penelitian ini adalah pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam pada materi zakat di Sekolah Dasar Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara.
Penelitian ini, merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yakni pengumpulan data dilakuakan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif analitik melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan / verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, Sekolah Dasar Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara menggunakan dua kurikulum pendidikan agam Islam, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diterapkan di kelas II, III, V, dan VI, dan Kurikulum 2013 diterapkan di kelas I dan IV. Kedua, dalam dokumen Kurikulum pendidikan agama Islam yang memuat materi zakat terdapat di kelas VI semester II. Secara administratif, untuk perlengkapan pembelajaran Sekolah Dasar Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara mengikuti aturan yang dicanangkan oleh kementerian pendidikan nasional.
Dalam dokumen kurikulum pendidikan agama Islam yang diterapkan di Sekolah tersebut, khususnya pada materi zakat tidak terjadi pengembangannya. Namun, secara praktisi, memiliki pengembangan dan dampak pengetahuan yang lebih luas terhadap peserta didik. Sebab, peserta didik mampu memperaktekan materi zakat nelalui melafal dan menulis niat mengeluarkan dan menerima zakat fitrah serta memperaktekan menjadi panitia zakat dikelas.
Kata Kunci: Materi Zakat
iv
v ABSTRACT
This thesis is the Conclusion: Development of Kurikulumdan impact on Islamic education material on zakat the Islamic primary school Baburridho Cilincing in North Jakarta.
Education is a very important basic needs for the people Currently, Indonesia society to meet these then needed an institution as a buffer, a dealer in developing science for learners. In this case it is a school. In the school there are plans, ideas that will be applied and implemented in peroses learning with curriculum. Curriculum policy in determining the success of Indoenesia considered an education.
Therefore, Indonesia experienced several times in rapid succession the curriculum. The curriculum is flexible and adapts to the times community surroundings. One of them, namely the curriculum that proclaimed the Islamic primary school Baburridho in Cilincing, Jakarta Utara. Aspects that became the focus of the research is the development of Islamic religious education curriculum content in elementary school Islamic zakat Baburridho Cilincing, Jakarta North.
This research, qualitative research is descriptive, namely data collection dilakuakan through observation, interviews, and documentation.
Qualitative data were analyzed in a descriptive analytic through three stages, namely the reduction of data, data presentation, and conclusion/verification.
The results showed that: first, Islamic primary school Baburridho Cilincing Jakarta North using two educational curriculum for Islamic Curriculum, namely agam unit level education (KTSP) applied in class II, III, V, and VI, and curriculum 2013 applied in class I and IV. Second, in Islamic Studies Curriculum document that contains material zakat is in class VI semester II. Administratively, for Islamic primary school learning supplies Baburridho Cilincing Jakarta North follows the rules defined by the Ministry of national education.
In Islamic education curriculum documents are applied in the school, especially in material zakat is not the case. However, as a practitioner, have the development and impact of broader knowledge against students. So, learners are able to memperaktekan material melafal and writing nelalui zakat intent issued and receive zakat fitrah zakat Committee and memperaktekan be processed.
Key Words: Material Zakat
vi
vii
ةصلاخ
اذه :جاتنتسلاا ةيبترلا ةدام ىلع رثؤت نادمولوكيروك ريوطت
ردلدا ةاكزلا في ةيملاسلإا ديروباب ةيملاسلإا ةيئادتبلاا ةس
و في جنيسنيليس
.اتركاج لاشم عمتلمجا ايسينودنإ بعشل ًادج ةماه ةيساسأ تاجايتحا ميلعتلا
ريوطت في رجات ،لزاعك بولطم ةلاكو طورشب ءافولل ،تقولا اذه في مولعلا تيلا راكفلأا ،ططخ كانهو .ةسردم ةلالحا هذه فيو .ينملعتملل
في ةيساردلا جهانلدا عم ملعتلا سيسرب في اهذيفنتو اهقيبطت متيس ىلع ايسينودنإ حانج ديدتح في ةيساردلا جهانلدا ةسايس في رظنلا .ةسردلدا ميلعت . جهنلدا عيرس بقاعت في تارم ةدع ايسينودنإ تدهش ،كلذلو
ا .يساردلا ،مهنم دحاو .عمتلمجا طيمح رصعلا عم فيكتتو ةنرم جهانلد
في وديروباب ةيملاسلإا ةيئادتبلاا ةسردلدا تنلعأ تيلا ةيساردلا جهانلدا يه وه ثحبلا رومح تحبصأ تيلا بناولجا ."اراتوأ اتركاج" ،جنيسنيليس اكزلا ةيئادتبلاا سرادلدا في ةيملاسلإا ةينيدلا ةيبترلا جهنم ىوتمح ريوطت ة
اراتوأ اتركاج" ،وهديروباب جنيسنيليس ةيملاسلإا
".
عجم تانايبلا يأ ،ةيفصو يعونلا ثحبلا ،ثحبلا اذه
تانايبلا ليلتح تم .قئاثولاو تلاباقلداو ةظحلالدا قيرط نع ناكاوكلايد
viii
نم دلحا :يه ،لحارم ثلاث للاخ نم يليلحتلا يفصولا في ةيعونلا و جاتنتساو تانايبلا ضرعو تانايبلا ققحتلا
.
ةيئادتبلاا ةسردلدا :نأ جئاتنلا ترهظأو لىولأا
لاشم" ةيملاسلإاو ،
ةيميلعتلا جهانلدا نم يننثا مادختساب "وديروباب جنيسنيليس اتركاج ةقبطلدا )بستك( ميلعتلا ىوتسم ةدحو ماغأ اهم ،"ةيملاسلإا جهانلدا"
يساردلا جهنلداو ،سداسلاو ،سمالخاو ثلاثلاو ،نياثلا فصلا في ٣١٠٢
.عبارلاو لولأا فصلا في قبطت
،ايناث تاساردلا جهنم" ةقيثو في
لصفلا سداسلا فصلا في ةاكزلا نم داوم ىلع يوتتح تيلا "ةيملاسلإا مزاول ملعت ةيملاسلإا ةيئادتبلاا ةسردملل ،ايرادإ .نياثلا يساردلا لا ةرازو اتهددح تيلا دعاوقلا عبتي "اتركاج لاشم جنيسنيليس وديروباب"
ةيبتر
ةينطولا .
لا ،سرادلدا في اهقيبطت متي قئاثولا ةيملاسلإا ةيبترلا جهنم في
رثأو روطت دق ،بيبطك ،كلذ عمو .لالحا وه سيل ةاكزلا داولدا في اميس ىلع نورداق ينملعتلدا ،كلذب .بلاطلا دض اقاطن عسولأا ةفرعلدا دصق ةاكزلا يوللاين ةباتكو ناكيتكايربميم ةيدالدا لافلايم ىقلتو رادصإ
.ناكيتكايربميمو ةنجللا ةلجاعم ةرطفلا ةاكزلا ةاكزلا :ةيسيئرلا تاملكلا
ةاكزلا داوملا
ix
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Baihaki
Nomor induk mahasiswa : 162520062
Program studi : Manajemen Pendidikan Islam Konsentrasi : Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah
Judul tesis : Pengembangan Kurikulum dan Dampaknya
Terhadap Pendidikan Agama Islam Pada Materi Zakat di Sekolah Dasar Islam Babur-ridho Cilincing Jakarta Utara Menyatakan bahwa:
1. Tesis ini adalah murni hasil karya sendiri. Apabila saya mengutip dari karya orang lain, maka saya akan mencantumkan sumbernya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Tesis ini hasil jiplakan (plagiat), maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan sanksi yang berlaku di lingkungan Institut PTIQ dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Jakarta, 06 Juli 2019 Yang membuat pernyataan,
Baihaki
x
xi
TANDA PERSETUJUAN TESIS
PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MATERI ZAKAT
DI SD ISLAM BABUR- RIDHO CILINCING JAKARTA UTARA
Tesis
Diajukan kepada Pascasarjana Program Studi Pendidikan Islam untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar
Magister Pendidikan Islam Disusun oleh :
Baihaki NIM: 162520062
telah selesai dibimbing oleh kami, dan menyetujui untuk selanjutnya dapat diujikan.
Jakarta, 10 September 2019 Menyetujui
Pembimbing I Pmmbimbing II
Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I Dr. Mulawarman Hannase, MA. Hum Mengetahui
Ketua Program Studi/Konsentrasi
Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I
xii
xiii
TANDA TANGAN PENGESAHAN TESIS
PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MATERI ZAKAT
DI SD ISLAM BABUR- RIDHO CILINCING JAKARTA UTARA
Disusun oleh
Nama : Baihaki
Nomor Induk Mahasiswa : 162520062
Program Studi : Manajemen Pendidikan Islam Konsentrasi : Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Telah diajukan pada sidang munaqasah pada tanggal:
10 September 2019
No Nama Penguji Jabatan dalam TIM Tanda
Tangan 1 Prof. Dr. H.M. Darwis Hude,
M. Si
Ketua 2 Prof. Dr. H.M. Darwis Hude,
M. Si
Penguji 3 Dr. Abdul Muid N, M.A. Penguji 4 Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I Pembimbing I 5 Dr. Mulawarman Hannase,
MA. Hum
Pembimbing II 6 Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I Panitera/Sekretaris
Jakarta, 10 September 2019 Mengetahui,
Direktur Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta,
Prof. Dr. H.M. Darwis Hude, M. Si
xiv
xv
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN Arab Latin Arab Latin Arab Latin
ا ‘ ز Z ق Q
ب B س S ك K
ت T ش Sy ل L
ث Ts ص Sh م M
ج J ض dh ن N
ح H ط Th و W
خ kh ظ Zh ه H
د D ع ، ء A
ذ dz غ G ي Y
ر R ف F
xvi
xvii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah- Nya serta nikmat kekuatan lahir dan batin sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi penghulu alam, Rasulullah Muhammad SAW, begitu juga kepada keluarganya, para sahabatnya, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para umatnya yang senantiasa mengikuti ajaran-ajarannya. Amin.
Selanjutnya, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tesis ini tidak sedikit hambatan, rintangan serta kesulitan yang dihadapi. Namun berkat bantuan dan motivasi serta bimbingan yang tidak ternilai dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan Tesis ini.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan banyak terima kasih yang tidak terhingga kepada:
1. Rektor Institut PTIQ Jakarta, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA.
2. Direktur Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta, Prof. Dr. H.M.
Darwis Hude, M. Si
3. Ketua Program Studi, Dr. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I
4. Dosen Pembimbing Tesis Dr. Sunhaji dan Dr. Mulawarman yang telah menyediakan waktu, pikiran dan tenaganya untuk memberikan bimbingan, pengarahan dan petunjuknya kepada penulis dalam penyusunan Tesis ini.
5. Kepala Perpurtakaan beserta staf Institut PTIQ Jakarta
xviii
6. Segenap Civitas Institut PTIQ Jakarta, para dosen yang telah banyak memberikan fasilitas, kemudahan dalam penyelesaian penulisan Tesis ini
7. Pimpinan KODI Jakarta, KH. Sukanta, M.A.
8. Pimpinan PKM Jakarta, KH. Hariri, M.A.
9. Kordinatot PKM Jakarta, KH. Ansori, M.A.
10. Keluarga besar KH. Zuhdi Sulaiman, pengasuh ponpes al-Mubarok Bani Zuhud Cilegon Banten.
11. Kedua orang tua, Bp. (al) Sarbini dan Ibu (al) Artasiyah atas segala doa-doanya
12. Kepada istri, anak dan saudara (kakak dan adik) serta kawan-kawan 13. Kepada Jamaah Pengajian Majlis Ta’lim al-Mubarok Bekasi
14. Kepada Kepala Sekolah Ibu Sumiyati, S.pd dan dewan guru SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara,
15. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Tesis
Hanya harapan dan doa, semoga Allah SWT memberikan balasan berlipat ganda kepada semua pihak yang telah berjasa dalam membantu penulis menyelesaikan Tesis ini.
Akhirnya kepada Allah SWT jualah penulis serahkan segalanya dalam mengharapkan keridhaan, semoga Tesis ini bermanfaat bagi instansi penddidikan, masyarakat umumnya dan bagi penulis khususnya, serta anak keturunan penulis kelak. Amin.
Jakarta, 10 September 2019 Penulis
Baihaki
xix
DAFTAR ISI
Judul ... i
Abstrak ... iii
Pernyataan keaslian tesis ... vii
Tanda Persetujuan Tesis ... ix
Tanda Pengesahan Tesis ... xi
Pedoman Penggunaan tesis ... xiii
Pedoman Transliterasi ... xv
Kata Pengantar ... xvii
Daftar Isi ... xix
Daftar Singkatan ... xxiii
Daftar Gambar ... xxv
Daftar Tabel ... xxvii
Daftar Lampiran ... xxix
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 10
C. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah ... 11
D. Tujuan Masalah ... 12
E. Manfaat Masalah ... 12
F. Kerangka Teori ... 13
G. Tinjauan Pustaka/Penelitian Rerdahulu yang Relevan ... 13
H. Metode Penelitian ... 14
1. Pemilihan objek Penelitian ... 15
2. Data dan Sumber Data ... 15
3. Teknik Input dan Analisis Data ... 16
xx
4. Pengecekan Keabsahan Data ... 18
I. Sistematika Penelitian ... 19
BAB II. KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ... 21
A. Karakteristik Pengembangan Kurikulum ... 21
1. Pengertian pengembangan kurikulum ... 21
a. Pengertian secara etimologi ... 22
b. Pengertian secara terminologi ... 23
2. Landasan pengembangan kurikulum ... 27
3. Prinsip pengembangan kurikulum ... 36
4. Model kurikulum ... 39
5. Komponen pengembangan kurikulum ... 40
6. Tujuan pengembangan kurikulum ... 44
B. Karakteristik Pendidikan Agama Islam ... 45
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 45
2. Dasar Pendidikan Agama Islam ... 57
3. Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 59
C. Konsep Zakat ... 62
1. Pengertian Zakat ... 62
2. Landasan hukum wajib zakat ... 65
3. Macam-macam zakat ... 66
a. Zakat Fitrah ... 66
1. Pengertian Zakat Fitrah ... 66
2. Hukum Zakat fitrah ... 68
3. Jenis Zakat Fitrah ... 70
4. Waktu Menunaikan Zakat Fitrah ... 70
b. Zakat Mal ... 72
1. Pengertian Zakat Mal ... 72
2. Syarat-syarat Zakat Mal ... 73
3. Jenis Zakat Mal ... 74
4. Mustahik Zakat ... 82
5. Niat dan Doa Zakat ... 84
6. Hikmah Zakat ... 85
7. Sanksi Bagi Pengingkat Zakat ... 88
BAB III. PERKEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SEKOLAH DASAR (SD) PADA MATERI ZAKAT. ... 97
A. Karakteristik Tujuan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Dasar (SD) Tahun 1994-2013 ... 97
xxi
1. Karakteristik Tujuan Perkembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah
Dasar Tahun 1994. ... 97 2. Karakteristik Tujuan Perkembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah
Dasar Tahun 2004 ... 100 3. Karakteristik Tujuan Perkembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah
Dasar Tahun 2006 ... 103 4. Karakteristik Tujuan Perkembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah
Dasar Tahun 1994 ... 106 5. Analisis Tujuan Perkembangan Kurikulum
Pendidikan Agama Islam Tahun 1994-2013 ... 107 B. Karakteristik Materi Ajar Kurikulum Pendidikan Agama
slam Sekolah dasar 1994-2013 ... 112 1. Materi Ajar ditinjau dari aspek Al-Qur’an ... 112 2. Materi Ajar ditinjau dari aspek Keimanan ... 115 3. Materi Ajar ditinjau dari aspek Tarikh ... 118 4. \Materi Ajar ditinjau dari aspek Akhlak ... 120 5. Materi Ajar ditinjau dari aspek Ibadah ... 122 C. Karakteristik perkembangan kurikulum pendidikan agama
Islam pada materi zakat tahun 1994-20013 ... 124 1. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Sekolah Dasar 1994 Pada Materi Zakat ... 124 2. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Sekolah Dasar 2004 Pada Materi Zakat ... 126 3. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Sekolah Dasar 2006 Pada Materi Zakat ... 127 4. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Sekolah Dasar 1994 Pada Materi Zakat ... 129 5. Analisis Materi Ajar Pendidikan Agama Islam
Sekolah Dasar Dalam Kurikulum Tahun 1994-2013
Pada Materi Zakat ... 131 6.
BAB IV. PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MATERI ZAKAT DI SD ISLAM BABURRIDHO CILINCING JAKARTA
UTARA ... 133 A. Seputar SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta
Utara ... 134
xxii
B. Pengembangan Kurikulum pendidikan Agama
Islam pada Materi Zakat ... 137 C. Paktor-faktor Pendukung dan Penghambat
Terhadap Pengelolaan Pembelaajaran pada Materi
Zakat ... 158 D. Dampak Sosial dari Pengembangan Kurikulum
Pendidikan Agama Islam pada Materi Zakat ... 161 BAB V. PENUTUP ... 165 A. Kesimpulan ... 165 B. Saran... 166 DAFTAR PUSTAKA ... 169 LAMPIRAN ... 181 RIWAYAT HIDUP... 183
xxiii
DAFTAR SINGKATAN
5 S : Salam Sapa Senyum Sopan Dan Santun APBN : Anggaran Pendapatan Belanja Negara BSNP : Badan Standar Nasional Pendidikan Cultural Organization
GEM : Global Education Monitoring
HR : Hadits Riwayat
K 13 : Kurikulum 2013
KBK : Kurikulum Berbasis Komputer KBM : Kegiatan Belajar Mengajar
KD : Kompetensi Dasar
KKM : Kriteria Ketuntasan Minimal
KTSP : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan LCD : Liquid Crystal Display
LKS : Lembar Kerja Siswa
MI : Madrasah Ibtidaiyah
PAI : Pendidikan Agama Islam PHBI : Peringatan Hari Besar Islam
PLBJ : Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta
PR : Pekerjaan Rumah
Q.S : Qur’an Surat
RI : Republik Indonesia
SAW : Shalallahu Alaihi Wasallam
SD : Sekolah Dasar
SDI : Sekolah Dasar Islam
xxiv
SISDIKNAS : Sistim Pendidikan Nasional
SK : Standar Kompetensi
SMA : Sekolah Menengah Atas
SWT : Subhanallahu Wataala
TP : Tanpa Penerbit
TT : Tanpa Tempat
TTh : Tanpa Tahun
TV : Tele Visi
UIN : Universitas Islam Negeri
UNESCO : United Nations Educational Scientific and
UU : Undang-Undang
UUD : Undang-Undang Dasar
xxv
DAFTAR GAMBAR
Gambar I. Tujuan Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah
Dasar (SD) ... 111
xxvi
xxvii
DAFTAR TABEL
Tabel I. Perkembangan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Dalam Kurikulum 1994 Sampai Kurikulum 2013 ... 107 Tabel II. Materi Ajar PAI Kelas 1-6 berdasarkan Aspek
Ibadah dalam Kurikulum 1994 ... 125 Tabel III. Materi Ajar PAI Kelas 1-6 berdasarkan Aspek
Ibadah dalam Kurikulum 2004 ... 126 Tabel IV. Materi Ajar PAI Kelas 1-6 berdasarkan Aspek
Ibadah dalam Kurikulum 2006 ... 128 Tabel V. Materi Ajar PAI Kelas 1-6 berdasarkan Aspek
Ibadah dalam Kurikulum 2013 ... 129
xxviii
xxix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A. Surat Keterangan ... 181 Lampiran B. Riwayat hidup ... 183
xxx
xxxi
xxxii
Mutmainnah siswi kelas VI B SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara sedang memperaktekan menulis niat mengeluarkan zakat fitrah
xxxiii
xxxiv
Hanif Wafa dan Wilian Rehan siswa kelas VI B SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara sedang memperaktekan menerima dan
mengeluarkan zakat fitrah (panitia zakat fitrah/Amil)
xxxv
xxxvi
xxxvii
Andi Astrid dan Juwita siswi kelas VI B SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara sedang memperaktekan menerima dan mengeluarkan zakat
fitrah (panitia zakat fitrah/ Amil)
xxxviii
xxxix
Reva Cinta lestari siswi kelas VI A SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara sedang memperaktekan menulis niat mengeluarkan zakat fitrah
xl
xli
Rahmat siswa kelas VI A SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara sedang memperaktekan menulis niat mengeluarkan zakat fitrah
xlii
xliii
Sapta Aji siswa kelas VI A SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara sedang melafalkan niat mengeluarkan zakat fitrah
xliv
xlv
Saskiyah Maliha dan Deby Sofi Yanti siswi kelas VI A SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara sedang memperaktekan menerimah
dan mengeluarkan zakat fitrah (menjadi panitia zakat fitra/ Amil)
xlvi
xlvii
SURAT KETERANGAN
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Sumiyati, S.Pd.
Jabatan : Kepala Sekolah SD Islam Baburridho Jl. Baru No 52 RT. 015/07 Cilincing Jakarta Utara
Alamat :
Menerangkan dengan sesungguhnya bahwa:
Nama : Baihaki
NIM : 162520062 Mahasiswa Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al- Qur’an (PTIQ) Jakarta
Telah melakukan penelitian di SD Islam Baburridho Jl. Baru No 52 RT. 015/07 Cilincing Jakarta Utara, sejak Tanggal 28 Januari 2019 sampai tanggal 22 April 2019.
Demikian keterangan yang saya buat dengan sebenar-benarnya, semoga keterangan ini dapat digunakan sebagai mestinya.
Jakarta, 30 April 2019
Kepala Sekolah SD Islam Baburridho
Sumiyati, S. Pd.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum merupakan ruh jati diri dalam sebuah pendidikan.
Untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan maka yang pertama harus dilakukan adalah mengembangkan dan menyempurnakan kurikulum disesuaikan dengan potensi daerah, komunitas lingkungan serta tuntutan perkembangan zaman.
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu, jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap kualitas belajar.
Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik bergantung pada unsur yang saling mempengaruhi, yakni bakat yang dimiliki oleh peserta didik sejak lahir, dn lingkungan yang mempengaruhi hingga bakat itu tumbuh dan berkembang.
Kendatipun dua unsur tersebut sama pentingnya, namun ada kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan itu disebabkan oleh bakat saja atau pengaruh lingkungan saja.1
Di era reformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan kegiatan belajar dan mengajar harus diupayakan secara maksimal
1 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013, cet. 13, hal. 3
agar mutu pendidikan meningkat, hal ini dilakukan karena majunya pendidikan membawa implikasi meluas terhadap pemikiran manusia dalam berbagai bidang sehingga setiap generasi muda harus belajar banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan tuntunan zaman. Untuk mewujudkan pendidikan yang baik dan maju, maka sangat penting menggunakan metode pengajaran yang kreatif dan inofatif, sehingga cara ajar seorang guru kepada peserta didik berfariasi dan tidak monoton. Menurut Slameto,
“Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Akibatnya siswa malas atau kurang semangat dalam proses belajar.”2
Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang study tertentu. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan hidup sebagai manusia.
Dengan penghasilan yang diterimanya setiap bulan ia dituntut berkemampuan hidup layak sebagai seorang pribadi guru.
Tuntutan hidup layak tersebut sesuai dengan wilayah tempat tinggal dan tugasnya. Guru juga menumbuhkan diri secara profesional. Ia bekerja dan bertugas mempelajari profesi guru sepanjang hayat. Mengatasi masalah-masalah keutuhan secara pribadi, dan pertumbuhan profesi sebagai guru merupakan pekerjaan sepanjang hayat. Kemampuan mengatasi kedua masalah tersebut merupakan keberhasilan guru membelajarkan seorang siswa.3
Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa seorang guru dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum.
Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan
2 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2003, cet. 4, hal. 65
3 Hilda Karli, et. al., Implementasi KTSP dalam Model-Model Pembelajaran, Jakarta: Generasi Info Media, 2007, hal.15
mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator. Oleh karena itu, pengajaran minimal harus dipandang sebagai suatu proses sistematis dalam merencanakan, mendesain, mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan- kegiatan pembelajaran secara efektif dalam jangka waktu yang layak.4
Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran selaras dengan perkembangan kurikulum yang berlaku, sehingga dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting. Selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa. Karena pengembangan kurikulum berarti, melaksanakan kegiatan berdasarkan pola pikir lembaga sekolah dan regulasi pemerintah melalui departemen pendidikan nasional, atau berdasarkan proses pembelajaran yaitu terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan atau implementasi dan pengendalian. Hal ini, dijelaskan oleh Hamalik menyatakan bahwa pengembangan kurikulum yang dilakukan hendaknya mencakup: (1) tujuan kurikulum; (2) materi kurikulum; (3) metode kurikulum; (4) organisasi kurikulum; dan (5) evaluasi kurikulum.5
Pengembangan kurikulum adalah hal yang harus dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan. Karena pendidikan akan mampu menciptakan anak-anak bangsa yang cerdas, kredibelitas dan berkualitas serta terampil ketika kurikulum dikembangkan dan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dasar peserta didik.
Dari beberapa cara, metode sudah banyak dilakukan disebuah lembaga pendidikan, mulai dari perubahan kurikulum hingga metode mengajar bertujuan supaya dapat meningkatkan kinerja pendidik (guru) dan peserta didik (siawa) agar mampu menyerap, menerima dan memahami serta merealisasikan materi ajar yang disampaikan disekolah sesuai dengan tujuan, baik kurikulum internal sekolah maupun kurikulum nasional. Namun, realitanya pada dewasa ini banyak masalah-masalah sangat kompleks selalu menjadi hambatan dalam proses belajar mengajar
4 Hilda Karli, et. al., Implementasi KTSP dalam Model-Model Pembelajaran, Jakarta: Generasi Info Media, 2007, hal.15
5 Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, ... hal. 23
didunia pendidikan, sehingga aktivitas pembelajaran kurang evektif, kreatif, dan maksimal.
Disebabkan karena, banyak problema yang dihadapi oleh baik pendidik (guru) maupun peserta didik (siswa) dalam melaksanakan proses pembelajaran berlangsung, diantaranya:
1. Sebagian guru telalu padat agenda dalam jadwal mengajar dari satu sekolah ke sekolah lain, sehingga terjadi kelelahan pada jasmani dan rohaninya, sehingga dapat menghambat efektivitas proses pembelajaran. Menurut Slameto, “Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing- pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah itak kehabisan daya untuk bekerja.”6
2. Sebagian guru masih belum memenuhi syarat kualifikasi akademik. Hal ini, dijelaskan oleh Syarifudin Yunus bahwa, dari 3,9 juta guru yang ada saat ini, masih terdapat 25% guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik, dan 52%
guru belum memiliki sertifikat profesi.7
3. Sebagian peserta didik moralitas dan akhlaknya sangat rendah, hormat kepada guru dan menghargai sesama teman mengalami degradasi dikalangan pendidikan. Moralitas di kalangan pelajar dewasa ini merupakan salah satu masalah pendidikan yang harus mendapatkan perhatian semua pihak.
Arus globalisasi informasi lintas geografi dan budaya yang semakin deras terjadi saat ini, mau tidak mau menimbulkan dampak tersendiri yang tidak selalu positif bagi kehidupan remaja dan pelajar padahal pada sisi elementer, mereka diharapkan mampu memelihara dan melestarikan tradisi, cara pandang dan aspek-aspek moralitas bangsa Indonesia yang luhur serta keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.
Ki Hajar Dewantara menyatakan: “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan
6 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor, Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003, cet. 4, hal. 59
7Syarifudin Yunus, dosen Universitas Indraprasta PGRI “Mengkritisi Kompetensi Guru,“ dalam https://news.detik.com/kolom/3741162/mengkritisi- kompetensi-guru. Diakses pada 30 Nofember 2018, jam 5.17
bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”8
4. Sebagian besar peserta didik kurang minat untuk membaca baik diruangan kelas maupun dilingkungan sekolah. Sesungguhnya membaca merupakan salah satu fungsi paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca, oleh sebab itu kemampuan membaca suatu masyarakat akan membawa masyarakat tersebut kepada kondisi masyarakat belajar.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena apabila bahan pelajaran tidak diminati siswa, maka siswa yang bersangkutan tidak akan belajar sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.9
5. Sebagian besar peserta didik kurang memahami materi pendidikan agama Islam pada materi zakat, karena kurikulum tidak dikembangkan dan kurang disosialisasikan secara maksimal oleh pendidik kepada peserta didik dan masyarakat.
Akibat dari kurangnya budaya minat baca dan kesungguhan mempelajari pendidikan agama tersebut, maka yang terjadi terhadap sebagian besar peserta didik tidak memahami materi kurikulum pendidikan agama Islam. Terutama tentang materi zakat pada kurikulum pelajaran agama Islam.
Oleh sebab itu, harus ada sebuah penelitian baru mengenai pengembangan kurikulum dan dampak terhadap pendidikan agama Islam, guna untuk merubah mainset moralitas peserta didik serta menjadi solusi dan kontribusi yang akurasi, supaya mampu mengurai suatu permasalahan yang sesungguhnya terjadi terhadap barbagai kasus disebuah lembaga pendidikan, terutama pendidikan agama Islam pada materi zakat.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah yang telah dipaparkan diatas, maka masalah-masalah yang muncul terkait dengan pembelajaran, antara lain:
1. Sebagian guru telalu padat agenda dalam jadwal mengajar dari satu sekolah ke sekolah lain, sehingga terjadi kelelahan pada jasmani dan rohani guru.
8 Ki Hajar Dewantara, Masalah Kebudayaan : Kenang-kenangan Promosi Doctor Honoris Causa, Yogyakarta, 1967, hal. 42
9 Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005, hal.119-120
2. Sebagian guru masih belum memenuhi syarat kualifikasi akademik, bahkan penerapan Kurikulum 2013 yang "terpaksa"
dibatalkan akibat guru yang belum paham betul.
3. Sebagian peserta didik moralitas dan akhlaknya sangat rendah, hormat kepada guru dan menghargai sesama teman mengalami degradasi dikalangan pendidikan. Moralitas di kalangan pelajar dewasa ini merupakan salah satu masalah pendidikan yang harus mendapatkan perhatian semua pihak.
4. Sebagian besar peserta didik kurang minat untuk membaca baik diruangan kelas maupun dilingkungan sekolah.
Sesungguhnya membaca merupakan salah satu fungsi paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca, oleh sebab itu kemampuan membaca suatu masyarakat akan membawa masyarakat tersebut kepada kondisi masyarakat belajar (learning society).
5. Sebagian besar peserta didik kurang memahami materi pendidikan agama Islam pada materi zakat, karena kurikulum tidak dikembangkan dan kurang disosialisasikan secara maksimal oleh pendidik kepada peserta didik di sekolah.
Oleh karena itu, dari berbagai masalah tersebut, maka penulis sangat tertarik untuk meneliti dan menganalisis pada pengembangan kurikulum pendidikan agama islam dengan judul
“Pengembangan Kurikulum dan Dampaknya Terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Materi Zakat di SD Islam Baburridho Kecamatan Cilincing Jakarta Utara”.
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih fokus dan mendalam, maka masalah yang akan diteliti dibatasi pada pengembangan kurikulum dan dampaknya terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam pada materi zakat di SD Islam Baburidho Kecamatan Cilincing Jakarta Utara.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengembangan kurikulum dan dampaknya terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam pada materi zakat di SD Islam baburridho Cilincing jakarta Utara.
Untuk menjabarkan rumusan masalah tersebut, peneliti membagi dalam beberapa pertanyaan penelitian:
a. Apakah terdapat pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam pada materi zakat di SD Islam baburridho Cilincing Jakarta Utara.
b. Bagaimana dampak yang terjadi sebagai akibat dari pengembangan kurikulum tersebut?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam pada materi zakat di SD Islam Baburridho Cilincing Jakarta Utara.
2. Untuk mengetahui dampak yang terjadi sebagai akibat dari pengembangan kurikulum tersebut.
21 BAB II
KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Karakteristik Pengembangan Kurikulum
Sebagai makhluk yang berakal dan mampu berfikir, kita harus mempunyai wawasan dan pandangan jauh kedepan. Wujud dari pandangan tersebut adalah disusunnya desain perencanaan untuk segala bidang kegiatan. Salah satunya adalah desain kurikulum yang dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pendidikan.1
Pada bab ini akan dibahas beberapa hal yang meliputi pengertian pengembangan kurikulum dan pendidikan agama Islam, landasan pengembangan kurikulum, prinsip perkembangan kurikulum, model pengembangan kurikulum, komponen pengembangan kurikulum, dan tujuan pengembangan kurikulum.
1. Pengertian Pengembangan Kurikulum
Istilah pengembangan kurikulum merupakan terjemah dari curriculum development yaitu kegiatan penyusunan kurikulum, pelaksanaanya di sekolah-sekolah disertai penilaian yang intensif, diikuti penyempurnaan terhadap komponen-komponen tertentu atas dasar hasil penilaian yang telah dilakukan.2 Kata pengembangan mempunyai banyak arti, pengembangan bisa
1 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006, hal. 17
2LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Suarabaya, Pengembangan Kurikulum dan BahanAjar, Surabaya: PT. Revka Petra Media, 2009, hal. 58.
diartikan sebagai perubahan, pembaharuan, perluasan, dan sebagainya. Dalam pengertian yang lazim, pengembangan berarti menunjuk pada suatu kegiatan yang menghasilkan cara baru setelah diadakan penilaian serta penyempurnaan- penyempurnaan seperlunya. Surakhmad menjelaskan bahwa pengembangan adalah penyusunan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan3.
Istilah kurikulum dapat diartikan dalam dua macam pengertian, diantaranya:
a. Pengertian Secara Etimologi
Secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir dan curere yang merupakan istilah bagi tempat berpacu, berlari dalam sebuah perlombaan yang telah dibentuk seperti rute yang harus dilalui para kompotitor perlombaan.4 Istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga terutama dalam bidang atletik pada zaman Romawi Kuno di Yunani yang mempunyai arti jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis star sampai garis finish. Sedangkan kurikulum dalam bahasa Perancis berasal dari kata courier yang berarti berlari.5
Kurikulum dalam bahasa Arab disebut dengan istilah manhaj yang berarti jalan terang dan dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan.6 Kurikulum juga dapat diartikan sebagai suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang anak didik untuk mencapai tingkat tertentu.7
Sedangkan menurut pandangan lama, atau sering disebut pandangan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus
3 Winarno Surakhmad, Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta:
Proyek Pengadaan Buku Sekolah Pendidikan Guru, 1977, hal. 15
4 Ali Mudhofir, Aplikasi pengembangan KTSP dan Materi ajar dalam Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. Rajagrafindo, 2011, hal. 1
5 Zainal Arifin, Konsep dan Model pengembangan Kurikulum, Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya, 2013, hal. 2.
6 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi pendidikan, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1986, hal. 176
7 A. Halim, dkk, Menejemen Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005, hal. 16
ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah.8 Tetapi menurut S. Nasution, tafsiran kurikulum dapat kita golongkan sebagai berikut:
1. Kurikulum sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Biasanya hasilnya dibentuk dalam sebuah buku yang berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan.
2. Kurikulum sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya.
Misalnya, perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah dan lain-lain.
3. Kurikulum sebagai hal yang akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu.
4. Kurikulum sebagai pengalaman siswa, yakni apa yang secara aktual menjadi kenyataan pada setiap peserta didik.9
b. Pengertian Secara Terminologi
Menurut Harold B. Alberty, pada Rusman menyatakan bahwa “all of the activities that are provided for the students by the school.” 10 Implikasi dari pengertian tradisional tersebut adalah (a) kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, (b) peserta didik harus mempelajari dan menguasai seluruh mata pelajaran, (c) mata pelajaran dipelajari di sekolah secara terpisah (d) tujuan akhir kurikulum untuk memperoleh ijazah.11
Sedangkan S. Nasution menyatakan bahwa kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.12
Menurut Nana Saodih, kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang diharapkan, yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, diberikan kepada peserta didik
8 Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2013, hal..3
9 S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, hal., 3.
10 Rusman, Manajemen Kurikulum, Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada, 2009, hal. 3.
11 Zainal Arifin, Konsep dan Model pengembangan Kurikulum, Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya, 2013, hal. 3.
12 S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hal. 94.
di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi serta kompetensi sosial peserta didik.13Definisi lain tentang kurikulum adalah seperangkat rencana, pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.14
Nampaknya pengertian di atas masih terlalu sederhana dan menitikberatkan pada materi mata pelajaran semata.
Sementara itu Zakiah Darajat memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan tertentu.15 Pandangan ini mempunyai kesamaan dengan definisi yang dikemukakan oleh Addamardasy Sarhan dan Munir Kamil dalam al- Syaibany bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.16
Secara terminologi, definisi-definisi kurikulum juga telah banyak dirumuskan oleh para ahli pendidikan.
Diantaranya definisi yang dikemukakan oleh Knezevic dalam Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang yang memandang kurikulum sebagai seluruh pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah.17 Dalam konteks pendidik nasional, kurikulum merupakan perangkat minimal bahan pelajaran yang disediakan oleh negara untuk diajarkan kepada peserta didik oleh penyelenggara pendidikan. Kurikulum ini disebut sebagai kurikulum nasional. Karena kurikulum nasional ini
13 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah , Bandung: Sinar Baru, 1991, hal. 3
14 Wahit Iqbal Mubarok dkk, Promosi Kesehatan; Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar dalam Pendidikan, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007, hal. 285
15 Zakiah Drajat, et. al., Ilmu Pendidkan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 122
16 Oemar Muhammad al-Taumy al-Syaibany, Falsafat Pendidikan Islam, diterjemahkan Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hal. 485
17 TIM Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, Administrasi Pendidikan,Malang: IKIP Malang,1989, hal. 65
bahannya minimal, maka setiap penyelenggara pendidikaan diperkenankaan menambah bahan-bahan ajar lain yang dianggap relevan dan penting.18
Oleh sebab itu, penulis memandang bahwa, kurikulum adalah salah satu manhaj bagian yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini, telah dijelas oleh Akhmad Sunhaji dalam karangannya bahwa
“Kurikulum merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik”.19 Pengembangan kurikulum di dalamnya terdapat kegiatan seleksi tujuan pendidikan, seleksi organisasi mata pelajaran, seleksi metode intruksional dan pnegalaman belajar, serta seleksi prosedur evaluasi. Semuanya harus dilandasi oleh prosedur yang kuat, yang menjadi kompas, titik sentral, dasar acuan dan pengatur konteks dalam proses pendidikan20
Dari sudut pandang organisasi, perencanaan pengembangan kurikulum berperan menentukan tujuan dan maksud pengembangan kurikulum, perkiraan lingkungan, dan penetapan pendekatan di mana maksud dan tujuan pengembangan kurikulum hendak dicapai.
Berdasarkan pemikiran diatas, maka yang dimaksud dengan perencanaan pengembangan kurikulum adalah keputusan yang diambil untuk melakukan tindakan dalam waktu tertentu agar pelaksanaan kegiatan pengembangan kurikulum menjadi lebih efektif dan efisien serta menghasilkan kurikulum yang sesuai dengan harapan serta relevan dengan kebutuhan stakeholders.21
Menurut Abdurrahman Wahtudi dalam Mokhamad Fatoni menjelaskan, bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa peserta didik kearah
18 A. Ariobimo Nusantara dan R. Masri Sareb Putra, Keadilan Dalam Masyarakat, Yogyakarta: Kanisius, 2007, hal. 64
19 Akhmad Sunhaji, Implementasi Pendidikan Agama di Sekolah Katolik Kota Blitar dan dampaknya terhadap interaksi Sosial, Yogyakarta: AYNAT PUBLISHING, 2017, hal. 159
20 Esri Ismawati, Telaah Kurikulum Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015, hal.11.
21 Erma Fatmawati, Profil pesantren Mahasiswa karakteristik kurikulum desain pengembangan kurikulum, peran Pemimpin Pesantren, Yogyakarta: LikiS Pelangi Aksara, hal. 97
perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu terjadi pada peserta didik.
Untuk itu perkembangan kurikulum harus memperhatikan perubahan-perubahan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta berorientasi pada masa kini dan akan datang. Selain itu pengembangan kurikulum juga harus berangkat dari kejelasan apa yang dimaksud dengan kurikulum itu sendiri, dan kejelasan bagaimana fungsi dari kuriklum.
Dengan lain kata, bahwa pengembangan dan pembaruan kurikulum harus menjawab apa, mengapa dan bagaimana kurikulum dikembangkan dan diperbarui.
Pengembangan kurikulum sendiri tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang memengaruhinya, seperti cara berfikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan.
Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum.22
Jadi, menurut Oemar Hamalik bahwa, Pengembangan kurikulum merupakan proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik.
Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum.23 Hamalik menyatakan bahwa pengembangan kurikulum yang dilakukan hendaknya mencakup: (1) tujuan kurikulum; (2) materi kurikulum; (3) metode kurikulum; (4) organisasi kurikulum; dan (5) evaluasi kurikulum.24
Sedangkan menurut Muhaimin pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai: (1) kegiatan menghasilkan kurikulum, (2) Proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan
22 Trianto Ibnu Badar at-Taubany hadi Suseno, Desain Pengembangan Kurikulum 2013 di Madrasah, Depok: kencana, 2017, cet ke 1, hal. 74
23 0emar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2013, cet. 5, hal., 24.
24 Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 1999, hal. 23
kurikulum yang lebih baik dan, (3) kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan kurikulum.25
Selanjutnya Jonh F. Kerr yang dikutip oleh Soetopo dan Soemanto menyebutkan bahwasannya pengembangan kurikulum harus (1) Objektif, yakni tujuan yang bersumber dari murid, masyarakat, dan ilmu pengetahuan yang meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor;(2) Knowledges, yakni sejumlah pengetahuan yang diintegrasikan dalam pembelajaran; (3) Schoollearning experiences, yakni sejumlah pengelaman belajar di sekolah yang meliputi isi pelajaran, metode, kesiapan, perbedaan individu, hubungan antara guru dan murid serta hubungan antara masyarakat dan sekolah; dan (4) Evaluation, yakni penilaian berdasarkan sejumlah informasi yang dapat dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai perubahan, pengembangan, dan penyempurnaan kurikulum.26
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis berpendapat bahwa, pengembangan kurikulum adalah perencanaan, penyempurnaan, perluasan, penambahan, pengurangan dan pembaharuan dari sebuah manhaj kurikulum yang direncanakan melalui tahapan-tahapan asas secara matang untuk mengarahkan potensi dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik guna menghasilkan sebuah tujuan sesuai dengan harapan dan perkembangan zaman.
Pengembangan kurikulum menunju pada suatu kegiatan yang dapat menghasilkan sebuah konsep kurikulum baru yang lebih baik dan terarah serta sesuai dengan perkembangan zaman melalui perencanaan yang baik dan matang, supaya tercapai hasil secara optimal dan maksimal terhadap pendidikan yang dampak manfaatnya dapat diaplikasikan oleh peserta didik menuju kearah yang lebih baik dan modern.
2. Landasan Pengembangan Kurikulum
Menurut Nana Sudjana, asas kurikulum dibagi menjadi tiga, yaitu asas filosofis, asas sosial-budaya dan asas
25 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikn Agama Islam: di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Rajawali Pers: Jakarta, 2005, hal. 10
26 Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan, Jakarta: Bina Askara, 1993, hal. 24
psikologis.27 Nana Syaodih Sukmadinata menyebutkan ada empat, yakni asas filosofis, asas psikologis, asas sosial budaya, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.28 Rahmad Raharjo menyatakan bahwa asas kurikulum ada lima, yaitu asas filosofis, asas psikologis, asas sosiologis, dan asas empirik.29
Dengan demikian, dapat difahami bahwa asas-asas kurikulum mempunyai delapan asas, diantaranya: asas agama, asas filosofis, asas yuridis, asas psikologis, asas sosiologis dan sosial budaya, asas ilmu pengetahuan dan teknologi, asas organisatoris, dan asas empirik.
Adapun penjabaran masing-masing asas kurikulum sebagai berikut:
a. Landasan agama
Dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan Islam, haruslah kurikulum dalam pendidikan Islam dan menyeluruh kandungan-kandungannya, melebihi ilmu-ilmu agama dan alat-alatnya termasuk tafsir, hadits, fiqhi, dasar- dasar aqidah, ilmu hadits, usul fiqh, nahu, saraf, balaghah, adab, dan lain-lain.30 Abidin Nata menjelaskan (landasan agama) the foundation of religion menjadi bagian yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dengan cermat dalam menyusun kurikulum pendidikan Islam, karena dalam berbagai disiplin ilmu tersebut tidak selamanya sejalan dengan ajaran Islam mengingat dasar ontologis, epistemologis dan aksiologisberbeda.31
Berbagai ilmu pengetahuan berkembang di barat pada umumnya berdasarkan pada pandangan rasional, empiris dan objektif belaka. Adapun dalam pendidikan Islam selain berdasarkan pada pandangan tersebut juga harus berdasarkan pada pandangan tauhid, akhlak mulia, bahwa semua ilmu tersebut diyakini sebagai pemberian dan tanda
27 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah , Bandung: Sinar Baru, 1991, hal. 9.
28 Nana Syaodih Sukmadinata, Perkembangan Kurikulum;Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hal. 38-58.
29 Rahmat Raharjo, Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam;
Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Yogyakarta, Magnum Pustaka, 2010, hal. 31-34.
30 Umar, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Transpormatif, Yogyakarta Depublish, 2016, hal. 25
31 Adidin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010, hal. 132
kekuasan Tuhan, dan harus digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.32
Kurikulum yang berlandaskan ajaran agama Islam harus berusaha supaya mampu menolong peserta didik untuk membina iman.33 Dengan iman yang kuat mereka mampu mengamalkan aspek- aspek nilai didapatkan di sekolah, sebagai kerangka dalam mengantarkan peserta didik yang bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya.
Kurikulum juga harus mampu menanamkan nilai-nilai yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan akhlak mulia, menambahkan kesadaran agama serta melengkapi dengan ilmu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus bersifat mendalam dan menyeluruh.34
Dari uraian tersebut landasan agama sebagai landasan yang menentukan arah, tujuan dan pengembangan pendidikan Islam haruslah tercakup landasan tersebut sebagai poin yang paling utama. Tanpa landasan agama sebagai landasan pokok dalam pengembangan suatu kurikulum maka arah dan tujuan pendidikan yang diharapkan hanya menjauhkan pseserta didik dari nilai-nilai tauhid, spiritual yang pada gilirannya kehidupan yang dihadapi terasa hampa. Dengan landasan agama dalam kurikulumpendidikan dapat menentukan arah dan tujuan suatu pendidikan tersebut. Landasan agama ini jelas keterkaitannya dengan landasan dalam pengembangan kurikulum sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.35 b. Landasan Filosofis
Pengertian secara harfiah filosofis (filsafat) berarti
“cinta akan kebijaksanaan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tau atau berpengetahuan. Pengetahuan
32 Umar, et.al., Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Transpormatif, Yogyakarta Depublish, 2016, hal. 25
33 Oemar Muhammad al- Toumy al- Syaibany, Falsafat Pendidikan Islam, diterjemahkan Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hal. 523-530.
34 Nana Syaodih Sukmadinata, Perkembangan Kurikulum;Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hal..39.
35 Umar, et. al., Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Transpormatif, Yogyakarta Depublish, 2016, hal. 26
tersebut diperoleh melalaui proses berpikir, yaitu berfikir secara sistematis, logis dan mendalam.36
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu philosophia (philore = cinta, senang, suka, dan Sophia
=kebaikan atau kebenaran).37 Setiap Negara mempunyai landasan filsafat yang berbeda, artinya landasan filosofis dan tujuan pendidikan juga berbeda. Landasan filosofis dimaksudkan, pentingnya filsafat dalam mengembangkan kurikulum lembaga pendidikan.38
Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan peseta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, seseorang harus tahu atau berpengetahuan.
Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistematis, logis, dan mendalam.
Sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik”. Pada hakekatnya, “baik” ditentukan oleh nilai- nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut oleh negara, guru, orang tua, masyarakat, bahkan dunia.39
Landasan filosofis kurikulum 2013 hanyalah seperti filsafat kurikulum 2013 palsu yang sekedar tersirat pada kurikulum 2013. Maka kurikulum ini masih mentah yang harus diolah sedemikian rupa untuk mampu disajikan dengan baik dan diimplementasikan secar optimal, akibatnya terjadi multitafsir dikalangan stakeholder pada satuan pendidikan seperti munculnya permasalahan yang tersebut diatas. Juga lebih pada ketidak mapanan dalam menterjemahkan konsep kurikulum 2013, sehingga dalam pengimplementasiannya pun menjadi persial.
Menurut penulis, di sinilah pokok permasalahannya, padahal landasan filosofis pada sebuah kurikulum menempati tempat yang sangat vital yaitu sebagai ruh/
36 Nana Syaodih Sukmadinata, Perkembangan Kurikulum;Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hal..39.
37 Zainal Arifin, Konsep dan Model pengembangan Kurikulum, Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya, 2013, hal. 4.
38 Sukiman, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik Pada Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga,2013, hal. 33.
39 S. Nasution, Asas-Asas Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, hal. 11