BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Penyesuaian Diri
1. Pengertian Penyesuaian Diri
Willis (1981:43) menerangkan bahwa yang dimaksud “penyesuaian diri” adalah “kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya, sehingga mereka merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya”. Sedangkan pengertian menurut Hurlock (1978:257) adalah “seberapa jauhnya kepribadian seorang individu berfungsi secara efisien dalam masyarakat”. Terdapat pola perilaku tertentu yang termasuk dalam katagori penyesuaian diri yang baik dikaitkan dengan anak yang berpenyesuaian diri yang baik dan pola yang dikaitkan dengan mereka yeng berpenyesuaian diri yang buruk.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu kebutuhan agar seseorang dapat berhasil untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan terhadap kelompok, sehingga mampu mengikuti tuntutan perubahan sosial di sekitarnya. Jadi penyesuaian diri siswa dilingkungan sekolahnya adalah kebutuhan siswa untuk bisa menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekolah, baik dengan teman, peraturan-peraturan sekolah, guru, karyawan, dan kegiatan belajarnya.
2. Penyesuan Diri yang Baik
Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik (well adjusted person) jika mampu melakukan respon-respon yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Yang di maksud efisien adalah mampu melakukan respon dengan menggunakan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Sehat adalah bahwa respon-respon yang dilakukannya sesuai dengan hakikat individu, lembaga, atau kelompok antar individu, dan hubungan antar individu dengan penciptanya. Bahkan dapat dikatakan bahwa sifat sehat ini merupakan karakteristik yang paling menonjol untuk melihat atau menentukan bahwa suatu penyesuaian diri dikatakan baik.
Ciri-ciri orang yang berpenyesuaian diri yang baik menurut Hurlock (1999: 258) adalah sebagai berikut:
a. Mampu dan bersedia menerima tanggung jawab yang sesuai dengan usia.
b. Berpartisipasi dengan gembira dalam kegiatan yang sesuai untuk tiap tingkat usia.
c. Bersedia menerima tanggung jawab yang berhubungan dengan peran mereka dalam hidup.
d. Segera menangani masalah yang menuntut penyesuaian. e. Senang memecahkan dan mengatasi berbagai hambatan
yang mengancam kebahagiaan.
f. Mengambil keputusan dengan senang, tanpa konflik dan tanpa banyak meminta nasihat.
g. Tetap pada pilihannya sampai diyakinkan bahwa pilihan itu salah.
h. Lebih banyak memperoleh kepuasan dari prestasi yang nyata ketimbang prestasi dari imajiner.
i. Dapat menggunakan pikiran sebagai alat untuk merencanakan cetak biru tindakan, bukan sebagai akal untuk menunda atau menghindari suatu tindakan.
j. Belajar dari kegagalan dan tidak mencari-cari alasan untuk menjelaskan kegagalan.
k. Tidak memperbesar-besarkan keberhasilan atau menerapkannya pada bidang yang tidak berkaitan.
l. Mengetahui bagaimana bekerja bila saatnya bekerja dan bermain bila saatnya bermain.
m. Dapat mengatakan “Tidak” dalam situasi yang membahayakan kepentingan sendiri.
n. Dapat mengatakan “Ya” dalam situasi yang pada akhirnya akan menguntungkan.
o. Dapat menunjukan amarah secara langsung bila tersinggung dan apabila haknya dilanggar.
p. Dapat menunjukan kasih sayang secara langsung dengan cara dan takaran yang sesuai.
q. Dapat menahan sakit dan frustasi emosional bila perlu. r. Dapat berkompromi bila mengahdapi kesulitan. s. Dapat memusatkan energi pada tujuan yang penting.
t. Menerima kenyataan bahwa hidup adalah perjuangan yang tak kunjung berakhir.
Dengan demikian, individu dapat melakukan penyesuaian diri dengan baik adalah individu yang telah belajar memberi respon terhadap diri dan lingkungannya dengan cara-cara yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Selain itu individu tersebut mampu mengatasi konflik mental, frustasi, kesulitan pribadi dan sosial tanpa mengembangkan perilaku simptomatik dan gangguan psikosomatik yang menganggu tujuan-tujuan moral, sosial, agama, dan pekerjaan. Individu seperti ini mampu menciptakan dan mengisi hubungan antar pribadi dan kebahagiaan timbal balik yang mengandung realisasi dan perkembangan kepribadian secara terus-menerus.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Penyesuian Diri
Menurut Schneiders (1984:181), setidaknya ada lima faktor yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri siswa yaitu sebagai berikut:
a. Kondisi Fisik
Seringkali kondisi fisik berpengaruh kuat terhadap proses penyesuaian diri siswa. Aspek-aspek yang berkaitan dengan kondisi fisik yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri remaja adalah sebagai berikut:
1) Hereditas dan Konstitusi Fisik
Dalam mengidentifikasi pengaruh hereditas terhadap penyesuaian diri, lebih digunakan pendekatan fisik karena dipandang lebih dekat dan tak terpisahkan dari mekanisme fisik. Dari sini berkembang prinsip umum bahwa semakin dekat kapasitas pribadi, sifat, atau kecenderungan berkaitan dengan konsitusi fisik maka akan semakin besar pengaruhnya terhadap penyesuaian diri.
2) Sistem Utama Tubuh
Sistem utama tubuh yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri adalah sistem syaraf, kelenjar, dan otot. Sistem syaraf yang berkembang dengan normal secara sehat merupakan syarat mutlak bagi fungsi-fungsi psikologis agar
dapat berfungsi secara optimal sehingga memberi pengaruh positif terhadap penyesuaian diri.
3). Kesehatan fisik
Penyesuaian diri seseorang akan lebih mudah dilakukan dan dipelihara dalam kondisi fisik yang sehat dari pada yang tidak sehat. Kondisi fisik yang sehat dapat mempengaruhi penerimaan diri, kepercaya diri, harga diri, dan sejenisnya sehingga dapat menjadi kondisi yang sangat menguntungkan bagi proses penyesuaian diri.
b. Kepribadian
Unsur-unsur kepribadian yang penting pengaruhnya terhadap penyesuaian diri adalah:
1) Kemauan dan kemampuan untuk berubah (modifiability) Kemauan dan kemampuan untuk berubah merupakan karateristik kepribadian yang pengaruhnya agar menonjol terhadap proses penyesuaian diri.
2) Pengaturan Diri ( self-regulation)
Pengaturan diri sama pentingnya dengan proses penyesuaian diri dan pemeliharaan stabilitas mental, kemampuan untuk mengatur diri, dan mengarahkan diri.
3) Realisasi Diri (self-realization)
Kemampuan pengaturan diri mengimplikasikan potensi dan kemampuan ke arah realisasi diri. Proses penyesuaian diri dan
pencapaian hasilnya secara bertahap sangat erat kaitannya dengan perkembangan kepribadian.
4) Inteligensi
Kemampuan pengaturan diri yang sesungguhnya, tegantung pada kualitas dasar yang berperan penting dalam penyesuaian diri.
c. Edukasi/Pendidikan
Termasuk unsur-unsur penting dalam edukasi/pendidikan yang dapat memepengaruhi penyesuaian diri individu adalah:
1) Belajar
Kemampuan belajar merupakan unsur penting dalam penyesuaian diri individu karena pada umumnya respons-respons dan sifat-sifat kepribadian yang diperlukan bagi penyesuaian diri diperoleh dan diserap ke dalam diri individu melalui proses belajar.
2) Pengalaman
Ada dua jenis pengalaman yang memiliki nilai signifikan terhadap proses penyesuaian diri, yaitu pengalaman yang menyehatkan dan pengalaman traumatik. Pengalaman yang menyehatkan adalah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh individu dan dirasakan sebagai sesuatu yang mengenakkan, mengasyikkan, dan bahkan dirasa ingin mengulangnnya kembali. Pengalaman seperti ini akan dijadikan dasar untuk
ditransfer oleh indifidu ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Adapun pengalaman traumatik dirasakan sebagai sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, menyedihkan, atau bahkan sangat menyakitkan sehinggga individu tersebut sangat tidak ingin peristiwa itu terulang kembali. Individu yang mengalami pengalaman traumatik akan cenderung ragu-ragu, kurang percaya diri, gamang, rendah diri, atau bahkan merasa takut ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
3) Latihan
Latihan merupakan proses belajar yang diorientasikan kepada perolehan keterampilan atau kebiasaan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses yang kompleks yang mencakup di dalamnya proses psikologis dan sosiologis sehingga memerlukan latihan yang sunguh-sungguh agar mencapai hasil penyesuaian diri yang baik.
4) Determinasi Diri
Berkaitan erat dengan penyesuaian diri, detrminasi adalah kemempuan sendiri mampu menentukan dirinya sendiri untuk melakukan proses penyesuaian diri. Hal ini menjadi penting karena determinasi ini merupakan faktor yang sangat kuat yang dapat digunakan untuk kebaikan atau keburukan, untuk mencapai penyesuaian diri secara tuntas.
d. Lingkungan
Faktor lingkungan juga merupakan variabel yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri. Meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat.
1) Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan utama yang sangat penting atau dalam kaitannya dengan penyesuaian diri individu. Gangguan keluarga juga dapat mempengaruhi penyesuaian diri individu karena gangguan keluarga akan menciptakan iklim psikologis dalam kehidupan keluarga. Ada sejumlah karakteristik menonjol dalam interaksi orang tua dengan anak yang memiliki pengaruh terhadap penyesuaian diri, yaitu sebagai berikut:
a) Penerimaan: penerimaan orang tua terhadap anaknya diwujudkan dalam bentuk perhatian, kehangatan, kasih sayang, akan memberikan sumbangan yang berarti bagi berkembangnya penyesuaian diri yang baik pada anak.
b) Identifikasi: anak memiliki kecenderungan untuk mengidentifikasikan dirinya terhadap pola sikap dan perilaku orang tuanya. Orang tua yang dapat dijadikan model identifikasi yang baik, berpengaruh
positif pula terhadap perkembangan penyesuaian diri anak.
c) Idealisasi: idelisasi merupakan suatu bentuk proses identifikasi yang sifatnya lebih mendalam. Jika identifikasi mempengaruhi perkembangan penyesuaian diri, idealisasi sebagai suatu bentuk identifikasi yang bersifat mendalam juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyesuaian diri.
d) Identifikasi negatif: proses ini muncul jika anak justru mengidentifikasi sifat-sifat negatif dari orang tuanya. Satu cara yang amat efektif untuk mencegah timbulnya identifikasi negatif adalah orang tua harus berusaha semaksimal mungkin menghilangkan sifat-sifat negatifnya. Jika masih sulit menghilangkan sifat-sifat negatif, diusahakan tidak sampai memperlihatkan sifat-sifat itu di depan anakya.
e) Identifikasi menyilang: identifikasi menyilang adalah identifikasi yang dilakukan oleh anak kepada orang tuanya yang berlawanan jenis. Misalnya, anak laki-laki mengidentifikasikan dirinya kepada figur ibunya, sedangkan anak perempuan
mengidentifikasikan dirinya kepada figur ayahnya. Identifikasi menyilang seperti ini berpengaruh kurang menguntungkan terhadap perkembangan penyesuaian diri anak. akibat dari hal ini lebih jauh adalah bahwa perilaku homoseksual dan lesbi merupakan akibat fatal dari proses identifikasi menyilang pada anak yang tidak segera dicegah atau di luruskan.
f) Tindakan “hukuman dan disiplin yang terlalu keras”: pemberian hukuman dan disiplin yang terlalu keras berakibat kurang baik terhadap perkembangan penyesuaian diri anak karena dapat menimbulkan perasaan terancam, tidak aman, atau bahkan merasa turun herkat dan mertabat kemanusiaanya.
g) Kecemburuan dan kebencian: kecemburuan dan kebencian biasannya muncul karena pemberian hukuman dan peraturan kedisiplinan yang keras sehingga mengakibatkan dan peraturan kedisiplinan yang terlalu kerasa sehingga mengakibatkan anak memebenci orang tua dan orang tua memebenci anak.
h) Pemanjaan dan perlindungan yang berlebihan: pemanjaan dan perlindungan yang berlebihan secara sepintas seolah-olah memberikan perasaan aman terhadap anak, tetapi sesungguhnya secara psikologis yang sifatnya mendasar justru menimbulkan perasaan tidak aman, kecemburuan, gugup, kurang percaya diri, dan jenis-jenis kesulitan lainnya dalam penyesuaian diri.
i) Penolakan: penolakan orang tua terhadap anak merupakan pangalaman yang paling tidak mengenakkan, sangat tidak menguntungkan, dan bahkan dapat merusak anak.
2) Lingkungan Sekolah
Sebagaimana lingkungan keluarga, lingkungan sekolah juga dapat menjadi kondisi yang memungkinkan berkembangnya atau terhambatnya proses perkembangan penyesuaian diri. Pada umumnya, sekolah dipandang sebagai media yang sangat berguna untuk mempengaruhi kehidupan dan perkembangan intelektual, sosial, nilai-nilai, sikap, dan moral siswa.
3) Lingkungan Masyarakat
Karena lingkungan keluarga itu berada dilingkungan masyarakat, lingkungan masyarakat juga menjadi faktor yang
dapat berpengaruh terhadap perkembangan penyesuaian diri. Konsistensi nilai-nilai, sikap, aturan-aturan, norma, moral, dan perilaku masyarakat tersebut sehingga akan berpengaruh terhadap proses perkembangan penyesuaian dirinnya. Kenyataan menunjukan bahwa tidak sedikit kecenderungan ke arah penyimpangan perilaku dan kenakalan remaja, sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri yang tidak baik, berasal dari pengaruh lingkungan masyerakat.
e. Agama dan Budaya
Agama berkaitan erat dengan faktor budaya. Agama memberikan sumbangan nilai-nilai, keyakinan, praktik-praktik yang memberi makna sangat mendalam, tujuan, serta kestabilan dan keseimbangan hidup individu. Agama secara konsisten dan terus-menerus kontiyu mengingatkan manusia tentang nilai-nilai instrinsik dan kemuliaan manusia yang diciptakan oleh Tuhan.
B. Penyesuaian Diri Para Siswa di Sekolah
Menurut Willis (1981:46) penyesuaian diri siswa di sekolah meliputi penyesuaian dengan lingkungan sekolah, mata pelajaran, teman sebaya, dan guru. Kemampuan penyesuaian dengan lingkungan sekolah berarti dapat memanfaatkan dan menjaga fasilitas yang ada di sekolah dengan baik. Penyesuaian dengan mata pelajaran berarti siswa dapat memahami mata pelajaran yang disampaikan oleh guru yang bersangkutan. Penyesuaian dengan
teman sebaya berarti siswa dapat menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman sebaya yang ada di sekolah, baik itu teman yang berjenis kelamin sama maupun yang berjenis kelamin berbeda. Penyesuaian diri dengan guru berarti siswa dapat mengerti cara mengajar yang dilakukan oleh guru dan sikap guru terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang lain.
1. Aspek-aspek Penyesuaian diri siswa disekolah:
a. Setiap siswa yang berada didalam suatu lingkungan sekolah dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah tersebut. Penyesuaian diri yang baik dapat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar sekolah. Penyesuaian diri siswa terhadap tata tertib sekolah berarti siswa mampu memahami dan mentaati aturan-aturan sekolah seperti, aturan izin keluar kelas, siswa putra tidak boleh memakai anting, kalung dan gelang, siswa putri tidak diperbolehkan memakai make up dan perhiasan berlebihan. Aturan-aturan lain adalah pembayaran administrasi sekolah, menjaga nama baik sekolah, serta siswa harus bersedia menerima sanksi bila ternyata melakukan pelanggaran tata tertib di sekolah.
b. Penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah berarti siswa dapat mengenal dengan baik keadaan dan kondisi di sekolah, serta dapat menggunakan fasilitas yang tersedia di sekolah untuk mendukung semua kegiatan belajar siswa, dan merawat fasilitas
tersebut serta memelihara keindahan, keamanan dan ketenangan dilingkungan sekolah.
c. Penyesuaian diri siswa terhadap pelaksanaan kegiatan akademik sekolah yaitu siswa mengikuti kegiatan akademik di sekolah, baik itu kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan kurikuler yang mencangkup mata pelajaran menuntut agar siswa dapat menguasai dan memahami pelajaran tersebut. Kegiatan ekstrakurikuler mencakup pelatihan dan keterampilan di luar mata pelajaran, seperti olahraga, peramuka dan kesenian.
d. Penyesuaian diri terhadap teman-teman sebaya berarti siswa dapat menjalin relasi yang baik dengan teman-teman sebaya yang ada di lingkungan sekolah tersebut. Apabila siswa bisa menjalin relasi yang baik dengan teman-temannya, mereka akan merasa betah dan nyaman berada di lingkungan sekolah tersebut.
e. Penyesuaian diri dengan karyawan berarti siswa dapat menghargai apa yang telah dilakukan oleh para karyawan bagi siswa dan juga menjalin relasi yang baik dengan para karyawan yang ada di sekolah tersebut. Penyesuaian ini dapat terlaksana dengan baik apabila siswa dan karyawan saling menghormati. Penyesuaian diri dengan guru berarti siswa dapat memahami dan mengerti serta mengikuti teknik yang guru pergunakan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Selain itu siswa
juga dapat menyesuaikan diri dengan cara berkomunikasi
dengan guru. C. Kurikulum
1. Pengertian Kurikulum SMP
Menurut Soetopo (1986:14) ada beberapa definisi mengenai kurikulum yaitu definisi pertama, kurikulum dipandang sebagai suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang harus dilaksanakan dari tahun ketahun, definisi kedua kurikulum dilukiskan sebagai bahan tertulis yang dimaksudkan untuk digunakan oleh para guru didalam melaksanakan pelajaran untuk murid-muridnya, definisi ketiga kurikulum adalah suatu usaha untuk menyampaikan asas-asas dan ciri-ciri yang penting dari suatu rencana pendidikan dalam bentuk yang sedemikan rupa sehingga dapat dilaksanakan oleh guru di sekolah, definisi keempat kurikulum diartikan sebagai tujuan pengajaran, pengalaman-pengalaman belajar, alat-alat pelajaran dan cara-cara penilaian yang direncanakan dalam pendidikan, definisi kelima kurikulum dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Winkel, (2004:66) menerangkan bahwa dalam kurikulum, pedoman bimbingan, Dapartemen Pendidikan dan kebudayaan 1986, disajikan perumusan: ”Bimbingan dan penyuluhan di
sekolah adalah proses bantuan khusus yang di berikan kepada semua siswa dalam memahami, mengarahkan diri, bertindak serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam rangka mencapai perkembangan yang optimal”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kurikulum siswa merupakan (1) sejumlah pengalaman berupa mata pelajaran, mata pelajaran yang harus dilalui siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas III untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu dan (2) kegiatan pendidikan yang dilakukan tiap-tiap siswa bersama guru mata pelajaran untuk menghasilkan pengalaman pendidikan.
Salah satu prinsip pelaksanaan kurikulum dalam. Bahan sosialisasi KTSP (2006:5) adalah pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi perserta dididik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini perserta didik harus mendapatkan pelayanaan pendidikan bermutu, serta memeperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
2. Strutur Kurikulum SMP
Susunan program pengajaran pada kurikulum SMP menurut Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006.
KOMPONEN KELAS DAN ALOKASI WAKTU Kelas VII Kelas VIII Kel XI A. MATA PELAJARAN 1. Pendidikan Agama 2 2 2 2. Pendidkan Kewarganegaraan 2 2 2 3. Bahasa Indonesmereka 4 4 4 4. Bahasa Inggris 4 4 4 5. Matematika 4 4 4 6. Ilmu Pengetahuan Alam 4 4 4 7. Ilmu Pengetahuan Sosmerekal 4 4 4 8. Seni Budaya 2 2 2 9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2 10.Keterampilan/Tekn ologi Informasi dan Komunikasi
2 2 2
B. Muatan Lokal 2 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*)
D. Pelayanan Bimbingan
1. Pengertian Bimbingan
Menurut Winkel (2004:27), bimbingan mempunyai pengertian “memberikan informasi, yaitu menyajikan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengambil suatu keputusan, atau memberitahukan sesuatu sambil memberikan nasihat, mengarahkan, menuntun ke suatu tujuan. Tujuan itu mungkin hanya diketahui oleh pihak yang mengarahkan, mungkin diketahui oleh kedua belah pihak”. Tujuan pelayanan bimbingan itu sendiri ialah supaya sesama manusia mengatur kehidupannya sendiri, menjamin perkembangan dirinya sendiri seoptimal mungkin, memikul tanggung jawab sepenuhnya atas arah hidupnya sendiri, menggunakan kebebasannya sebagai manusia secara dewasa dengan berpedoman pada cita-cita yang mewujudkan semua potensi yang baik padanya, dan menyelesaikan semua tugas yang dihadapi dalam kehidupan ini secara memuaskan.
2. Bentuk-bentuk Bimbingan
Istilah “bentuk bimbingan” tergantung pada jumlah orang yang diberi pelayanan bimbingan. Bentuk bimbingan ada dua macam Winkel, (2004: 111).
a. Bimbingan individual atau bimbingan perseorangan, yaitu apabila siswa yang dilayani hanya satu orang.
b. Bimbingan kelompok, yaitu bilamana siswa yang dilayani lebih dari satu orang.
3. Ragam Bimbingan
Winkel (2004:113-118) mengatakan ada tiga macam ragam bimbingan, yaitu:
a. Bimbingan karier
Bimbingan karier adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan atau profesi tertentu serta dalam membekali diri supaya siap memangku jabatan dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.
b. Bimbingan Akademik
Bimbingan akademik adalah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar di sekolah. c. Bimbingan Pribadi-Sosial
Bimbingan pribadi sosial adalah bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatsi berbagai pergumalan dalam batinnya, dalam mengatur dirinya di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, serta bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan
4. Sifat Bimbingan
Sifat bimbingan menunjuk pada tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan bimbingan. Winkel (2004: 112) menetapkan tiga tujuan bimbingan yaitu:
a. Bimbingan Perseveratif
Bimbingan pereseveratif adalah bimbingan yang bertujuan mendampingi siswa supaya perkembangannya berlangsung seoptimal mungkin. Misalnya, membantu siswa dalam mengambil sikap yang tepat terhadap orang tua.
b. Bimbingan Preventif
Bimbingan preventif adalah bimbingan yang bertujuan membekali siswa agar lebih siap menghadapi tantangan-tantangan di masa datang dan mencegah timbulnya masalah kelak. Misalnya, memberikan informasi kepada siswa SMA kelas 1 tentang isi program studi IPA, IPS, dan bahasa.
c. Bimbingan Korektif
Bimbingan korektif adalah bimbingan yang bertujuan membantu siswa dalam mengoreksi perkembangannya yang mengalami salah jalur. Misalnya, membantu siswa kelas III yang tidak naik kelas karena salah memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuannya.
5. Kaitan Bimbingan dengan Penyesuaian Diri
Bimbingan mempunyai pengertian memberikan informasi kepada individu, yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan atau menentukan suatu pilihan yang sesuai dengan dirinya. Salah satu fungsi pokok dari pelayanan bimbingan konseling adalah fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa menentukan cara menempatkan diri secara tepat dalam berbagai keadaan dan situasi yang dihadapi. Misalnya, siswa harus dibantu untuk bergaul secara memuaskan dengan menetapkan sikap di tengah-tengah kehidupan keluarganya (adjustment) (Winkel, 2004, 67).
Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai kegiatan-kegiatan yang ada disekolah dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku serta menyesuaikan diri sesuai dengan kegiatan yang ada disekolah.
Salah satu asas pelayanan bimbingan disekolah menurut Winkel (2004: 74-75) adalah bahwa bimbingan pertama-tama dan terutama menaruh perhatian pada keseluruhan perkembangan siswa dan mahasiswa sebagai individu yang mandiri dan mempunyai potensi untuk berkembang dalam semua aspek kepribadiannya. Perbedaan dalam arah perkembangan dalam semua aspek kepribadiannya. Perbedaan dalam arah perkembangan antara individu yang satu dengan yang lain diakui sepenuhnya sebagai suatu yang diharapkan. Dengan demikian, pelayanan bimbingan memiliki ruang lingkup yang sangat
luas dan berusaha untuk membantu siswa mengintregasikan semua pengalaman kehidupannya demi pembulatan perkembangnnya, yang pada dasarnya menjadi tangggung jawabnya sendiri
28 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini memuat jenis penelitian, populasi penelitian dan sampel penelian, alat pengumpulan data, validitas dan reliabilitas alat penelitan, prosedur pengumpulan data, teknik analisis data,
A. Jenis Penelitian