KABUPATEN SIMALUNGUN
B. Pengertian Perjanjian Bagi Hasil 1. Pengertian Perjanjian
Istilah perjanjian berasal dari bahasa Belanda "Overeenkomst". Menurut Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang dimaksud dengan perjanjian atau persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dalam perjanjian jual beli misalnya, maka penjual terikat untuk menyerahkan barang dan menjamin barang tersebut daricacat tersembunyi. Menurut pendapat Subekti adalah:”Suatu rangkaian peristiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Perjanjian untuk menerbitkan suatu perikatan antara dua orang, dari peristiwa ini timbullah suatu hubungan antara dua orang tersebut”.37
Menurut Abdul Kadir Muhammad dalam buku Djumadi menyatakan suatu perjanjian akan lebih luas juga ditegaskan bahwa Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang pihak atau lebih mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan.38 Dari uraian tentang pengertian perjanjian diatas, kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam suatu perjanjian sekurang-kurangnya terdapat dua pihak, dimana pihak-pihak tersebut saling bersepakat untuk melahirkan hubungan hukum diantara mereka.
37Subekti, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta, 2002, hal. 1
38Djumadi, Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Rajawali Pers, Jakarta, 1992, hal. 10
2. Unsur-Unsur perjanjian
Menurut Abdul Kadir Muhammad dalam buku yang berjudul Hukum Perikatan, antara lain disebutkan bahwa di dalam suatu perjanjian termuan beberapa unsur, yaitu:39
a. Ada pihak-pihak
Sedikitnya dua orang, pihak ini disebut subyek perjanjian, dapat manusia maupun badan hukum dan mempunyai wewenang melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti yang ditetapkan Undang-Undang.
b. Ada persetujuan antara pihak-pihak
Persetujuan antara pihak-pihak tersebut sifatnya tetap bukan merupakan suatu perundingan. Dalam perundingan umumnya dibicarakan mengenai syarat-syarat dan obyek perjanjian maka timbullah persetujuan.
c. Ada tujuan yang akan dicapai
Mengenai tujuan para pihak hendaknya tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan tidak dilarang Undang-Undang.
d. Ada prestasi yang dilaksanakan
Prestasi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak sesuai dengan syarat-syarat perjanjian, misalnya pembeli berkewajiban untuk membeli harga barang dan penjual berkewajiban menyerahkan barang.
39Ibid.
e. Ada bentuk tertentu lisan atau tulisan
Perlunya bentuk tertentu karena ada ketentuan undang-undang yang menyebutkan bahwa dengan bentuk tertentu suatu perjanjian mempunyai kekuatan mengikat dan bukti yang kuat.
3. Syarat-Syarat Perjanjian
Menurut Djumadi, perjanjian yang sah adalah perjanjian yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh Undang-undang. Perjanjian yang sah diakui dan diberi akibat hukum (legally concluded contract). Menurut ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, syarat-syarat sah perjanjian yaitu :40
a. Sepakat mereka yang mengikat diri.
Persetujuan kehendak adalah kesepakatan, seia sekata antara pihak-pihak mengenai pokok perjanjian, apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu juga dikehendaki oleh pihak yang lainnya.
b. Kecakapan untuk membuat perjanjian (capacity).
Kecakapan berbuat adalah kewenangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan hukum sendiri yang dilakukan oleh subjek hukum. Pada umumnya, seseorang dikatakan cakap melakukan perbuatan hukum apabila ia sudah dewasa, artinya sudah mencapai umur 21 tahun atau sudah kawin walaupun belum berumur 21 tahun.Akibat hukum ketidakcakapan membuat perjanjian ialah bahwa perjanjian yang telah dibuat itu dapat dimintakan pembatalannya kepada hakim. Jika pembatalan tidak dimintakan oleh pihak yang berkepentingan, sepanjang tidak
40Ibid.
di pungkiri oleh pihak yang berkepentingan, perjanjian itu tetap berlaku bagi pihak-pihak.
c. Ada suatu hal tertentu (objek)
Suatu hal tertentu merupakan pokok perjanjian, objek perjanjian, prestasi yang wajib dipenuhi.Prestasi itu harus tertentu atau sekurang- kurangnya dapat ditentukan. Jika pokok perjanjian, atau objek perjanjian, atau prestasi itu kabur, tidak jelas, sulit bahkan tidak mungkin dilaksanakan, maka perjanjian itu batal (nietig,void).
d. Ada suatu sebab yang halal (causa)
Kata causa berasal dari bahasa Latin yang artinya sebab.Sebab adalah suatu yang menyebabkan dan mendorong orang membuat perjanjian. Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengartikan causa yang halal bukanlah sebab dalam arti yang menyebabkan atau mendorong orang membuat perjanjian, melainkan sebab dalam arti “isi perjanjian itu sendiri” yang menggambarkan tujuan yang hendak dicapai oleh para pihak.
4. Pengertian Bagi Hasil
Istilah bagi hasil sebenarnya bukan hal baru dalam kegiatan ekonomi di Indonesia. Sistem bagi hasil sudah di kenal sejak dahulu melalui bagi hasil pertanian yang dilakukan oleh penggarap dan pemilik lahan. Bagi hasil sendiri menurut terminology asing (Inggris) di kenal dengan profit sharing. Profit sharing menurut terminologi Indonesia adalah bagi keuntungan. Dalam kamus
ekonomi diartikan pembagian laba.41Profit secara istilah adalah perbedaan yang timbul ketika total pendapatan (totalrevenue) suatu perusahaan lebih besar dari biaya total (total cost).42
Di masa kemerdekaan di mana bangsa Indonesia dalam masa transisi hukum agraria kolonial menuju hukum agraria nasional yang baru, masalah bagi hasil pun mendapat perhatian dari pemerintah. Pegangan kita dalam membicarakan masalah ini ialah Pasal 1 huruf c Undang-Undang No. 2 Tahun 1960 yang menyatakan secara tegas pengertian perjanjian bagi hasil, sebagai berikut :
“Perjanjian bagi hasil adalah perjanjian dengan nama apapun juga yang diadakan antara pemilik pada suatu pihak yang dalam Undang-Undang ini disebut penggarap, berdasarkan perjanjian mana penggarap diperkenangkan oleh pemilik tersebut untuk menyelenggarakan usaha pertanian di atas tanah pemilik, dengan pembagiannya antara kedua belah pihak”.
Pengertian di atas ditempatkan sejajar dengan beberapa istilah yang lain, ini termasuk semuanya dalam suatu perangkat pengertian yang dalam bab ini diberi titel arti beberapa istilah. Istilah yang sejajar ditulis sebagai berikut :
a. Tanah, ialah tanah yang biasanya dipergunakan untuk penanaman bahan makanan.
41Muhammad, Manajemen Bank Syari’ah, UPP AMP YKPN, Yogyakarta, 2002, hal.101.
42Cristopher Pass dan Bryan Lowes, Kamus Lengkap Ekonomi, Erlangga, Jakarta, 1994, Edisi ke-2, hal .534.
b. Pemilik, adalah orang atau badan Hukum yang berdasarkan sesuatu hak menguasai tanah.
c. Perjanjian bagi hasil.
d. Hasil tanah, ialah hasil usaha pertanian yang diselenggarakan oleh penggarap termasuk dalam huruf c pasal ini setelah dikurangi biaya bibit, pupuk, ternak serta biaya untuk menanam dan biaya panen.
e. Petani, adalah orang baik yang mempunyai maupun yang tidak mempunyai tanah yang mata pencaharian pokoknya adalah mengusahakan tanah untuk pertanian.
Dalam bagi usaha ternak, perjanjian-perjanjian dengan pembagian keuntungan dapat dibagi menjadi perjanjian-perjanjian dengan penyerahan ternak kepada seseorang selama waktu tertentu untuk dipelihara dengan maksud untuk kemudian dijual dan dibagi keuntungannya, atau nilainya diperkirakan pada awal dan akhir perjanjian dan nilai tambah atau nilai kurangnya dibagi dan perjanjian - perjanjian di mana anak - anak ternak yang dilahirkan dijual dan keuntungannya dibagi.
Bagi hasil adalah suatu perkongsian antara dua pihak atau lebih dalam suatu kegiatan usaha atau proyek dimana masing-masing pihak berhak atas segala keuntungan dan bertanggung jawab atas segala kerugian yang terjadi.43 Bagi hasil mengandung arti “kerjasama dua pihak yang satu diantaranya menyerahkan uang
43Ketut Silvanita Mangani, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Erlangga, Jakarta, 2009, hal. 35
kepada pihak lain untuk diperdagangkan, sedangkan keuntungannya di bagi diantara keduanya menurut kesepakatan”.44
Sistem bagi hasil merupakan sistem dimana dilakukannya perjanjian atau ikatan usaha bersama dalam melakukan kegiatan usaha. Di dalam usaha tersebut dibuat perjanjian adanya pembagian hasil atas keuntungan yang akan di dapat antara kedua belah pihak atau lebih. Besarnya penentuan porsi bagi hasil antara kedua belah pihak ditentukan sesuai kesepakatan bersama, dan harus terjadi dengan adanya kerelaan masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan.
Bagi hasil adalah sistem kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih dimana pihak pertama (pemilik sapi) menyediakan seluruh (seratus persen) kebutuhan modal (sebagai penyuntik sejumlah dana sosial kebutuhan pembiayaan suatu proyek), sedangkan nasabah sebagai pengelola (peternak) mengajukan permohonan pembiayaan dan untuk ini nasabah sebagai pengelola (peternak) menyediakan keahliannya.
Mekanisme perhitungan bagi hasil yang biasa diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Profit sharing
Profit sharing menurut etimologi Indonesia adalah keuntungan. Dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba.45 Profit secara istilah adalah perbedaan yang timbul ketika total pendapatan(total revenue) suatu perusahaan
44AmirSyarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqih, Kencana, Bogor, 2003, hal. 244
45 Muhammad, Op. Cit, hal. 101
lebih besar dari biaya total (total cost). Dalam istilah lain profit adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada hasil bersih dari total pendapatan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.
2. Revenue sharing
Revenue sharing berasal dari bahasa inggris yang terdiri dari dua kata yaitu, revenue yang berarti hasil, penghasilan, pendapatan. Sharing adalah bentuk kata kerja dari share yang berarti bagi atau bagian. Revenue Sharing berarti pembagian hasil, penghasilan atau pendapatan. Jadi perhitungan bagi hasil menurut revenue sharing adalah perhitungan bagi hasil yang berdasarkan pada revenue (pendapatan) dari pengelola dana, yaitu pendapatan usaha sebelum dikurangi dengan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan usaha tersebut.
Aplikasi kedua dasar bagi hasil ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada profit sharing semua pihak yang terlibat dalam perjanjianakan mendapatkan bagi hasil sesuai dengan laba yang diperoleh atau bahkan tidak mendapatkan laba apabila pengelola dana mengalami kerugian yang normal. Disini unsur keadilan dalam berusaha betul-betul diterapkan.
Apabila pengelola dana mendapatkan laba besar maka pemilik dana juga mendapatkan bagian besar, sedangkan kalau labanya kecil maka pemilik dana juga mendapatkan bagi hasil dalam jumlah yang kecil pula, jadi keadilan dalam berusaha betul-betul terwujud. Meskipun dalam profit sharing keadilan dapat diwujudkan , mungkin pemilik dana(investor) tidak seratus persen setuju dengan
mekanisme tersebut, manakala pengelola dana menderita kerugian normal sehingga pemilik dana tidak akan mendapatkan bagi hasil, sedangkan dalam bank konvensional deposan/pemilik dana selalu mendapatkan bunga walaupun bank mengalami kerugian. Kalau hanya dilihat dari aspek ekonomi nya saja maka profit sharing memiliki kelemahan dibandingkan dengan prinsip bunga/konvensional yang notabene diharamkan utnuk mengurangi resiko ditolaknya calon investor yang akan menginvestasikan dananya maka pengelola dana dapat memberikan porsi bagi hasil lebih besar dibandingkan dengan porsi bagi hasil menurut revenue sharing. Untuk mengatasi ketidaksetujuan prinsip profit sharing karena adanya kerugian bagi pemilik dana maka prinsip revenue sharing dapat diterapkan, yaitu bagi hasil yang di distribusikan kepada pemilik dana didasarkan revenue pengelola dana tanpa dikurangi dengan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan.
Dalam revenue sharing, kedua belah pihak akan selalu mendapatkan bagi hasil, karena bagi hasil dihitung dari pendapatan pengelola dana. Sepanjang pengelola dana memperoleh revenue maka pemilik dana akan mendapatkan bagi hasilnya. Tetapi bagi pengelola dana hal ini dapat memberikan resiko bahwa suatu periode tertentu pengelola dana mengalami kerugian, karena bagi hasil yang diterimanya lebih kecildari beban usaha untuk mendapatkan revenue tersebut. Disinilah ketidakadilan dapat dirasakan oleh pengelola dana karena terdapat resiko kerugian, sedangkan pemilik dana terbebas dari resiko kerugian.
Jalan keluar yang dapat dijalankan adalah pengelola dana harus menjalankan usaha dengan prinsip prudent atau usaha penuh kehati-hatian, sehingga dengan
revenue sharing resiko kerugian dapat ditekan sekecil mungkin agar pemilik dana (investor) tertarik menginvestasikan dananya pada usaha yang dikelola Bank Syariah.46
Dari uraian diatas dapat terlihat perbedaan mendasar yang membedakan antara kedua prinsip tersebut terletak pada hal-hal berikut. Pertama, dalam prinsip profit sharing pendapatan yang akan di distribusikan adalah pendapatan bersih setelah pengurangan total cost terhadap total revenue. Sedang dalam prinsip revenue sharing pendapatan yang akan didistribusikan adalah pendapatan kotor dari penyaluran dana, tanpa harus dikalkulasikan terlebih dahulu dengan biaya- biaya pengeluaran operasional usaha. Kedua , pada prinsip profit sharing , biaya- biaya operasional akan dibebankan kedalam modal usaha atau pendapatan usaha, artinya biaya-biaya akan ditanggung oleh pemilik modal. Sedangkan dalam prinsip revenue sharing, biaya-biaya akan ditanggung pengelola modal.
Ciri utama pola bagi hasil adalah bahwa keuntungan dan kerugian ditanggung bersama baik oleh pemilik dana maupun pengelola. Beberapa prinsip dasar bagi hasil yang dikemukakan oleh Usmani adalah sebagi berikut:47
a. Bagi hasil tidak berarti meminjamkan uang,tetapi merupakan partisipasi dalam usaha.
b. Investor atau pemilik dana harus ikut menanggung resiko kerugian usaha sebatas proporsi pembiayaannya.
46 Slamet Wiyono, Akuntansi Perbankan Syariah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hal.
56.
47Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hal. 49
c. Para mitra usaha bebas menentukan dengan persetujuan bersama, rasio keuntungan untuk masing-masing pihak.
d. Kerugian yang ditanggung oleh masing-masing pihak harus sama dengan proporsi investasi mereka.
Sutan Remi Sjahdeni, mengemukakan bahwa bagi hasil adalah suatu transaksi pembiayaan yang melibatkan sekurang-kurangnya dua pihak yaitu:
a. Pihak yang memiliki dan menyediakan modal guna membiayai proyek atau usaha yang memerlukan pembiayaan, pihak tersebut disebut pemilik modal.
b. Pihak pengusaha yang memerlukan modal dan menjalankan modal dan menjalankan proyek atau usaha yang dibiayai dengan modal dari pemilik modal, pihak tersebut disebut pengelola.48
Sehingga bukan hanya dengan pembagian saja, hak masing- masing dari kedua belah pihak terjaga. Ciri utama pola bagi hasil adalah bahwa keuntungan dan kerugian ditanggung bersama baik oleh pemilik dana maupun pengusaha.
Beberapa prinsip dasar bagi hasil yang dikemukakan oleh Usmani adalah sebagai berikut:49
a. Bagi hasil tidak berarti meminjamkan uang, tetapi merupakan partisipasi dalam usaha.
b. Investor atau pemilik dana harus ikut menanggung resiko kerugian usaha sebatas proporsi pembiayaannya.
48Helmi Karim, Fiqh Muamalah, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 1993, hal. 12
49Ascarya, Op. cit. hal. 49.
c. Para mitra usaha bebas menentukan dengan persetujuan bersama, rasio keuntungan untuk masing-masing pihak.
d. Kerugian yang ditanggung oleh masing-masing pihak harus sama dengan proporsi investasi mereka.
Syarat-Syarat kerjasama bagi hasil (belah sapi) di Nagori Tinjowan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun adalah sebagai berikut:
1. Modal
a. Modal harus dinyatakan dengan jelas jumlahnya, seandainya modal berbentuk hewan yaitu sapi maka sapi dihargakan semasa uang yang beredar.
b. Modal harus dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
c. Modal diserahkan kepada peternak, untuk memungkinkan melakukan usaha.
2. Keuntungan
a. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam persentase dari keuntungan yang mungkin dihasilkan nantinya.
b. Kesepakatan rasio persentase harus dicapai melalui negosiasi dan dituangkan dalam sistem kontrak.
c. Pembagian keuntungan baru dapat dilakukan setelah peternak menjual seluruh (atau sebagian) sapi kepada toke jika sapi ingin di jual.
Adapun Berakhirnya Kontrak antara pemilik sapi dan peternak di Nagori Tinjowan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun:
a. Kontrak bisa berakhir atas persetujuan kedua belah pihak.
b. Kontrak berakhir apabila salah satu pihak meninggal dunia. Kontrak dapat diteruskan oleh ahli waris dengan kontrak yang baru.50
Hendi Suhendi menjelaskan bahwa, perjanjian bagi hasil menjadi batal apabila ada perkara-perkara sebagai berikut:
a. Syarat yang ditentukan sudah tidak terpenuhi. Jika salah satu syarat perjanjian tidak terpenuhi, sedangkan modal sudah dipegang oleh pengeloladan sudah diperdagangkan maka pengelola mendapatkan sebagian keuntungansebagai upah, karena tindakannya atas izin pemilik modal dan ia melakukan tugas berhak menerima upah. Jika terdapat keuntungan, maka keuntungan tersebut untuk pemilik modal. Jika ada kerugian, kerugian tersebut menjadi tanggung jawab pemilik modal karena pengelola adalah sebagai buruh yang hanya berhak menerima upah dan tidak bertanggung jawab sesuatu apapun kecuali atas kelalaiannya.
b. Pengelola dengan sengaja meninggalkan tugasnya sebagai pengelola modal atau pengelola modal tersebut melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan perjanjian. Dalam keadaan ini pengelola modal bertanggung jawab jika terjadi kerugian.
c. Apabila pelaksana atau pemilik modal meninggal dunia, atau salah satu pemilik modal meningal dunia, perjanjian menjadi batal.51
50 M. Ali Hasan, Masail Fiqliyah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, Ed. Revisi, cet.4, hal. 119-120.
51 Rahmat Syafe‟I, Fiqih Muamalah, Pustaka Setia, Bandung, 2001, hal. 237.
Modal yang diberikan oleh pemilik sapi yakni berupa :
a. Pemberian uang untuk dibelikan sapi. Hal ini sudah sesuai dengan syarat karena dapat dinilai dan diukur serta terdapat kejelasan besarnya modal yang diberikan.
b. Nominal uang berupa sapi yang dipastikan harganya. Pemberian hewan yang diberikan oleh pemilik sapi kepada pengelola meski berbentuk sapi namun sudah disebutkan berapa harga atau nilai dari sapi tersebut.
c. Menanggung biaya kesehatan sapi berupa obat dan suntik jika sapi tersebut terkena penyakit atau suntik kawin jika sapi betina.
5. Karakteristik Bagi Hasil
Pembagian bagi hasil merupakan persentase keuntungan yang akan diperoleh pemilik sapi dan peternak yang ditentukan berdasarkan kesepakatan diantara keduanya. Karakteristik pembagian bagi hasil adalah sebagai berikut:
a. Persentase yaitu pembagian bagi hasil harus dinyatakan dalam persentase% (persen),bukan dalam nominal uang tertentu.
b. BagiUntung danBagi Rugi yaitu pembagian
keuntunganberdasarkanpembagian yang telah disepakati, sedangkan pembagian kerugian berdasarkan porsi modal masing-masingpihak.
c. Jaminan yaitu jaminan yang akan diminta terkait dengan resiko yang dimiliki oleh peternak karena jika kerugian diakibatkan oleh keburukan karakter peternak, maka yang menanggung adalah peternak. Akan tetapi jika kerugian diakibatkan oleh pemilik sapi, maka pemilik modal tidak diperbolehkan untuk meminta jaminan pada peternak.
d. Cara Menyelesaikan Kerugian yaitu kerugian akan ditanggung dari keuntungan terlebih dahulu karena keuntungan adalah pelindung modal.
Jika kerugian melebihi keuntungan, maka diambil dari pemilik sapi.
C. Perjanjian Bagi Hasil Menurut Hukum Adat