• Tidak ada hasil yang ditemukan

E.4. Teori Efek Moderate ( Moderate Effect Theory)\

E.5.1 Pengertian Persepsi

Pengertian persepsi sangat luas. Pada intinya persepsi merupakan hasil dari proses yang melibatkan indera manusia yang kemudian diorganisasikan kemudian diinterpretasikan. Terdapat beberapa definisi dari beberapa ahli komunikasi tentang persepsi. Desiderato (1976:129) dalam Rakhmat (2005) menjelaskan persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Menafsirkan makna infromasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori.

Menurut Deddy Mulyana, persepsi merupakan proses internal yang memungkinkan kita untuk memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita. Jadi persepsi masyarakat dipengaruhi dari bentuk pemahaman, pandangan, interpretasi masyarakat terhadap rangsangan yang dilihat,

18 dirasakan masyarakat melalui media. Sedangkan Lahry (1991) dalam Werner (2005) mendefinisikan persepsi sebagai proses yang kita gunakan untuk menginterpretasikan data-data sensoris. Persepsi juga dapat diartikan sebagai proses proses diterimanya rangsangan (baik yang berupa objek, kualitas, hubungan antar gejala, maupun peristiwa) sampai rangsangan itu mempengaruhi perilaku yang dituju. Untuk lebih memahami tentang pengertian persepsi, berikut definisi-definisi dari buku Ilmu Komunikasi oleh Deddy Mulyana (2005)

Brian Fellows, persepsi adalah proses yang memungkinkan suatu organisme

menerima dan menganalisis informasi,

Kenneth A. Sereno dan Edward M. Odaken. Persepsi adalah sarana yang

memungkinkan kita memperoleh kesadaran akan sekeliling dan lingkungan kita.

Philip Goodacre dan Jennifer Follers, persepsi adalah proses mental yang digunakan

untuk mengenali rangsangan.

Joseph A. De Vito, proses adalah proses dengan mana kita menjadi sadar akan

banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita.

E.5.2 Proses Terjadinya Persepsi

Proses persepsi pada seseorang tidak lepas dari penggunaan indra (sensasi) melalui indra penciuman yang merasakan bau-bauan, indra penglihatan merasakan gelombang cahaya, indra pengecap terhadap rasa, dan indra peraba yang merasakan temperatur dan tekanan, atensi dan interpretasi. Reseptor yang dirasakan indra ini kemudian dikirimkan ke otak manusia dan lingkungan sekitar. Proses yang terjadi di otak inilah yang disebut sebagai proses psikologis.

19 Suatu makna pesan yang diterima indra, kemudian dikirimkan menuju otak agar dipelajari. Seseorang tidak terlahir yang kemudian langsung mengetahui bahwa gula rasanya manis, dan garam rasanya asin, atau es itu dingin. Suatu objek yang terlihat oleh mata, menyampaikan pesan non verbal ke otak untuk diinterpretasikan. Otak menerima kira-kira dua pertiga pesan melalui rangsangan visual. Indra penglihatan mungkin merupakan indra yang paling penting. Pendengaran juga menyampaikan pesan verbal ke otak untuk ditafsirkan. Melalui pengindraan yang dimiliki manusia inilah seseorang dapat mengetahui dunia.

Kenneth K. Sereno, Edward M. Bodeken, dan Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson dalam Mulyana (2005) menyebutkan bahwa persepsi terdiri dari tiga aktivitas, yaitu: seleksi, organisasi, dan interpretasi. Yang dimaksud seleksi sebenarnya mencakup sensasi dan atensi. Sedangkan organisasi melekat pada interpretasi, yang dapat didefinisikan sebagai “meletakkan suatu rangsangan bersama rangsangan lainnya sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna”. Atensi tidak dapat dihindari karena sebelum kita merespons atau menafsirkan sesuatu atau rangsangan apapun, kita harus terlebih dulu memperhatikan kejadian atau rangsangan tersebut. Maksudnya adalah dalam persepsi harus ada kehadiran suatu objek untuk dipersepsi.

Joseph A. DeVito memberikan gambaran tentang proses persepsi dengan membagi kedalam tiga tahap, yaitu tahap rangsangan, tahap pengaturan, dan tahap penafsiran.

20 Gambar 1.4

Proses Persepsi oleh Joseph A. DeVito

1. Tahap pertama, alat-alat indra menerima stimulasi (rangsangan). Meskipun manusia memiliki kemampuan untuk merasakan stimulus, namun tidak selalu digunakan dengan kata lain manusia memiliki kemampuan menangkap pesan yang dianggap bermakna baginya dan menolak hal yang sekirannya dianggap tidak memaksa.

2. Tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip, salah satu prinsip yang sering digunakan adalah prinsip proksinitas

(proxinity) atau kemiripan. Dalam prionsip ini pesan yang mirip satu sama lain dipersepsikan bersama-sama atau sebagai satu kesatuan sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa terdapat pesan yang dianggap memiliki pola tertentu yang terkait.

3. Tahap ketiga, stimulasi alat indra ditafsirkan dan dievaluasi. Pada tahap ini proses subyektif sangat mempengaruhi evaluasi manusia sebagai penerima rangsangan. Penafsiran ini tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem, nilai, keyakinan dan sebagainya.

Proses dalam persepsi juga dapat bersifat kompleks dan rumit, seperti yang dipaparkan oleh New Comb, proses persepsi dengan sendirinya terjadi

Stimulasi indra dievaluasi-dtafsirkan Stimulasi alat indra diatur Terjadinya stimulasi alat indra

21 pada permukanan interaksi, tetapi proses tersebut tidak hanya berhenti sampai disitu, melainkan seseorang harus melalui beberapa tahap. Berikut adalah gambar proses persepsi:

Gambar 1.5

Proses Persepsi menurut New Comb

Keterangan :

a. Tahap I : individu menghadapi suatu onjek atau stimulus

b. Tahap II : individu menyadari bahwa dihadapannya terdapat stimulus sehingga individu dapat mengamati stimulus yang ada, kemudian melaksanakan dan menerima baik secara langsung maupun tidak

c. Tahap III : dengan melalui pengetahuan yang dimiliki, individu berusaha mengenal objek yang dihadapi, pada tahap ini persepsi tidak mengalami perubahan yang berarti terhadap individu secara psikologis. d. Tahap IV : individu menanggapi serta berusaha kembali untuk

menampilkan apa yang telah diperoleh dari pengamatan. Tahap I Stimulus Tahap II Tahap III Pengetahuan Tahap IV Tahap V Tahap VI

22 e. Tahap V : individu menentukan suatu keputusan, menerima, netral,

atau menolak objek tertentu

f. Tahap VI : Individu melaksanakan segala keputusan yang diambil dengan segala konsekuensinya.

E.5.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam menginterpretasikan suatu stimulus, termasuk apapun yang dilihat dan apa saja yang disimpulkan yang kemudian akan dipersepsikan. Jalaludin Rakhmat menjelaskan macam-macam faktor yang mempengaruhi seseorang dalam persepsi, yaitu

1. Perhatian (attention).

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Andersen menjelaskan dalam Rakhmat (2005), terdapat faktor internal dan eksternal dalam menarik perhatian.

a. Faktor Eksternal Penarik Perhatian

1. Gerakan. Seperti organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak.

2. Intensitas Stimuli. Kita memperhatikan stimuli yang lebih menonjol dari stimuli yang lain

3. Kebauran (Novelty). Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda akan menarik perhatian.

23 4. Perulangan. Hal-hal yang disajikan berkalo-kali, bila disertai

dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian. b. Faktor Internal Penarik Perhatian

1. Faktor Biologis. Yaitu dalam keadaan lapar, seluruh pikiran didominasi oleh makan, karena hal yang paling menarik oleh seseorang yang sedang kelaparan adalah makanan.

2. Faktor Sosiopsikologis. Motif sosiogenetis, sikap, kebiasaan, dan kemauan mempengaruhi apa yang kita perhatikan.

2. Faktor-Faktor Fungsional yang Mempengaruhi Persepsi.

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal yang masuk sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukanlah jenis ataupun bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan stimuli tersebut. Ini berarti bahwa objek-objek yang mendapatkan tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi laim disebut sebagai kerangka rujukan (frame of reference)

3. Faktor-Faktor Struktural yang Menentukan Persepsi

Faktor-Faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Menurut Kohler dalam Rakhmat (2005) jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta terpisah, kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang, kita harus

24 melihatnya dalam konteksnya, dalam lingkungannya, dalam masalah yang dihadapinya.

E.5.4 Persepsi Berdasarkan Pengalaman

Dalam buku Ilmu Komunikasi, Deddy Mulyana menjelaskan, persepsi sosial ini merupakan pola-pola perilaku manusia berdasarkan persepsi mengenai realitas (sosial) yang telah dipelajari. Persepsi manusia terhadap objek atau kejadian dan reaksi terhadap hal-hal tersebut berdasarkan pengalaman dan pelajaran masa lalu yang berkaitan dengan orang, objek atau kejadian serupa.

Contoh sederhana adalah membahas tentang cara menyantap makanan. Masyarakat barat terbiasa menyantap makanan dengan menggunakan sendok, garpu, atau pisau agar selalu terjaga kebersihan makanan. Namun disaat seseorang barat melihat orang timur yang terbiasa menggunakan tangan untuk menyantap makanan, pasti akan menganggap bahwa cara makan tersebut adalah jorok. Di wilayah barat, dan juga sebagian wilayah di Indonesia, umumnya bersendawa setelah makan dianggap jorok. Tetapi tidak dengan Jina, Jepang, Fiji, dan juga daerah Aceh dan di Sumatera Barat, bersendawa justru dianjurkan sebagai tanda kepuasan makan.

E.5.4 Jenis-Jenis Persepsi

Dalam buku Psikologi umum, Irwanto menjelaskan terdapat dua jenis persepsi, yaitu:

1. Persepsi Positif, yaitu persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan dan tanggapan dengan upaya pemanfaatannya.

25 2. Persepsi negatif, yaitu persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan dari tanggapan yang tidak sejalan dengan objek persepsi. Hal ini akan diteruskan dalam suatu sikap yang bermakna penolakan dan menentang terhadap segala objek.

E.6 Citra

E6.1 Pengertian Citra

Saat ini posisi citra dalam perkembangannya, menjadi hal yang sangat penting dalam sektor ekonomi, sosial, budaya, maupun sektor-sektor lainya, karena sebuah citra dapat mempengaruhi keputusan masyarakat dalam memandang sesuatu. Citra merupakan bangunan mental yang dikembangkan oleh individu pada fokus kesan yang sangat terseleksi diantara banyak kesan dan setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menciptakan kesan-kesan terkait pada objek tertentu.

Dalam buku dasar-dasar Public Relation, G. Sachs menjelaskan bahwa citra adalah pengetahuan mengenai individu maupun kelompok terhadap pihak lain memiliki kepentingan. Dengan kata lain citra merupakan persepsi yang terbentuk dalam masyarakat dalam masyarakat dan yang memberi keputusan adalah pihak lain yang berada diluar individu ataupun kelompok tertentu dengan tujuan menciptakan sebuah sikap.

Landasan dari citra adalah dari nilai “kepercayaan” yang konkrit yang diberikan oleh individu, atau merupakan pendapat persepsi serta terjadinya proses akumulasi dari amanah kepercayaan yang diberikan oleh individu-individu tersebut. Proses persepsi tersebut akan membentuk opini publik yang semakin luas dan abstrak yang disebut dengan citra (image). Kasali

26 menjelaskan citra merupakan kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan, dimana pemahaman yang berasal dari suatu informasi yang lengkap akan mengakibatkan citra yang tidak sempurna.

Bill Canton dalam Sukatendel (1990) dalam Soemirat (2004) mengatakan bahwa citra adalah ”image :the impression, the feeling, the conception which the public has of a company, a conciously created created impression of an object, person or organization”, ( citra adalah kesan, gambaran , diri publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang, atau organisasi). Menurut Sukatendel, citra itu dengan sengaja perlu diciptakan agar bernilai positif. Citra itu sendiri merupakan salah satu aset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi, atau dalam istilah lain adalah Favourable Opinion.

Sedangkan menurut Rosady Ruslan mengatakan bahwa citra berbentuk abstrak (infangible), tetapi memiliki wujud yang dapat dirasakan dari hasil penelitian, penerimaan, kesadaran dan pengertian baik berupa tanda respek maupun rasa hormat dari publik atau masyarakat luas terhadap personilnya dan dapat dihandalkan dalam pemberian pelayanan yang baik.

E.6.2 Jenis-Jenis Citra

Soemirat menjelaskan dalam buku Dasar-Dasar PR (2004) dan Linggar dalam Teori dan Kehumasan (2001) menyebutkan terdapat beberapa jenis citra yang ada, antara lain.

27 1. The mirror image (cerminan citra), adalah bagaimana dugaan (citra)

manajemen terhadap publik eksternal dalam melihat perusahaanya.

2. The current image (citra masih hangat/berlaku) yaitu citra atay pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar berkaitan organisasi maupun individu tertentu.

3. The wish image (citra yang diinginkan), yaitu manajemen menginginkan pencapaian prestasi tertentu. Citra ini diaplikasikan untuk sesuatu yang baru sebelum publik eksternal memperoleh informasi secara lengkap. 4. The multiple image (citra yang berlapis, yaitu citra yang dibawa oleh

individu verada dudakan sebuah kelompok atau organisasi yang harus disesuaikan dengan citra kelompoknya.

5. The corporate image (citra perusahaan), yaitu kesan atau gambaran dari publik terhadap perusahaan ataupun organisasi dimana kesan yang diciptakan sengaja dilakukan oleh pihak yang bersangkutan.

E6.3 Proses Pembentukan Citra

Citra merupakan kesan yang diperoleh seseorang berdasarkan fakta atau kenyataan yang didapatkan, dan juga berdasarkan pengetahuan seseorang tersebut. Agar dapat mengetahui citra seseorang pada suatu objek, dapat diketahui dari sikapnya terhadap obyek tersebut. Citra berasal dari suatu kognitif pada informasi dan pengetahuan yang berkaitan pada objek tertentu. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah gambar model proses pembentukan citra

28 Gambar 1.6

Model Pembentukan Citra

Model gambar pembentukan citra ini menjelaskan bahwa stimulus yang berasal dari luar organisasi mampu mempengaruhi respons. Stimulus yang diberikan kepada individu dapat diterima, namun juga dapat ditolak. Jika rangsangan yang diterima ditolak, maka proses selanjutnya tidak akan berjalan, hal ini menunnjukkan bahwa rangsang tersebut tidak efektif dalam mempengaruhi individu karena tidak ada perhatian dari individu tersebut. Oleh Walter Lipman menyebutkan, terdalat empat komponen dalam proses pembentukan citra yang juga disebut “picture in our head”. Yaitu

1. Persepsi, yaitu sebagai hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan. Dengan kata lain, individu akan memberikan makna terhadap rangsang berdasarkan pengalamannya mengenai rangsang.

2. Kognisi, yaitu suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus. Keyakinan ini akan timbul jika individu telah mengerti rangsangan tersebut, sehingga individu harus diberikan informasi yang cukup yang dapa mempengaruhi kognisinya. Stimulus Respon Kognisi Persepsi Sikap Motivasi Rangsangan Perilaku

29 3. Motivasi, yaitu keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

4. Sikap, merupakan kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi dan merasa dalam menghadapi ibjek, ide, sesuatau atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu.

Citra yang berkembang pada masyarakat, terbentuk karena terdapat persepsi yang berkembang terhadap sebuah realitas. Persepsi adalah sebuah proses dimana seseorang melakukan seleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasi segala informasi yang masuk kedalam poikirannya dan menjadi sebuah gambar besar yang memiliki arti dan makna. Rakhmat menjelaska, terdapat dua faktor penentu yang menentukan citra yang terbentuk dapat dipengaruhi oleh cara pandang individu, yaitu.

1. Efek Kognitif, yaitu sesuatu yang menambah pengetahuan dalam otak manusia yang akan mempengaruhi cara manusia mengorganisasikan citra tentang objek sehingga mempengaruhi perubahan perilaku yang timbul dari proses penamatan dan pengalaman.

2. Persepsi, yaitu pengalaman tentang objek, peristiwa atay hubungan yang diperoleh dengan menyumpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Tahapan sebelum terjadinya persepsi diawali dengan adanya perhatian yang mengarah pada kognisi, afeksi yang diaktualisasikan dalam perwujudan tingkah laku.

Dalam proses persepsi yang berkembang dalam masyarakat melalui seleksi yang terjadi ketika publik menerima informasi mengenai realitas yang

30 ada. Menurut Warner, terdapat tiga bentuk proses ketika seseorang melakukan persepsi terhadap sesuatu, yaitu:

a. Selective exposure, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengekspos diri sendiri pada suatu komunikasi yang sesuai dengan sikap-sikap mereka yang ada dan untuk menghindari komunikasi-komunikasi yang tidak sesuai.

b. Selective attention, yaitu kecenderungan seseorang untuk memperhatikan bagian-bagian dari sebuah pesan yang sama dengan sikap, kepercayaan atau tingkah laku yang dipegang dengan kuat dan untuk menghindari bagian-bagian dari sikap-sikap, kepercayaan atau tingkah laku dipegang dengan kuat.

c. Selective retention, yakni kecenderungan seseorang untuk mengingat kembali suatu informasi yang dipengaruhi oleh keinginan kebutuhan, sikap dan faktor-faktor psikologis lain.

E.7 E-PR (Electronic Public Relation)

Public Relation adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan untuk menciptakan niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya. PR dituntut agar fleksibel, dan mampu dengan cepat merespons berbagai peristiwa disekitarnya. Dalam hubungannya dengan pers, kekuatan terbesar yang dapat ditawarkan adalah menyangkut dengan kredibilitas.

E-PR merupakan hal yang baru dalam dunia public relation,

penerapan ini berkembang seiring dengan semakin gencarnya perkembangan teknologi internet, sehingga informasi dapat menyebar dan diterima secara cepat.

31 Oleh karena itu berbagai organisasi mulai mengembangkan penerapan ini. E adalah electronic sama halnya dengan sebelum kata mail ataupun commerce yang mengacu pada media elektronic internet. Terdapat banyak manfaat yang didapat dalam E-PR, yaitu:

1. Komunikasi konstan, karena E-PR menggunakan internet, maka internet bagaikan sekretaris yang tidak pernah tidur 24 jam dengan potensi target public secara luas.

2. Respons yang cepat, karena internet memungkinkan seseorang merespon dengan cepat.

3. Pasar global, internet telah menutup jurang pemisah geografis setelah kita terhubung ke dalam dunia online.

4. Interaktif, memperoleh feedback sehingga dengan cepat dapat mengetahui keinginan publik.

5. Hemat, tidak memerlukan biaya cetak tinggi seperti pada dunia offline.

Dengan berbagai macam manfaat yang akan didapat dalam E-PR, media internet juga menawarkan berbagai fasilitas yang dapat digunakan, yaitu: a. Email (electronic mail), atau juga surat elektronik yang dapat memungkinkan

seorang PR dapat mengirimkan pesan dengan cepat.

b. Kartu nama elektronik, E-Bussiness Card atau juga dapat disebut Signature File.

c. Milis, atau mail list yaitu daftar email dimana para anggota harus mendaftar terlebih dahulu.

d. Publikasi Online, mempublikasikan perusahaan melalui enzine (newsletter electronic). Menurut hasil survey online, pengguna internet suka membaca

32 enzine tertentu sesuai dengan minat mereka. Dengan demikian enzine dapat menaikkan reputasi suatu organisasi.

e. Media relation melalui internet release sangat mudah dilakukan karena wartawan dan penulis memiliki alamat email yang memudahkan mereka saling berkomunikasi.

F. Hipotesis

Gambaran hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

Berdasarkan model hipotesis di atas, maka rumusan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hi : kuatnya hubungan antara fan grup kedutaan AS dengan persepsi Facebooker.

Ho : lemahnya hubungan antara fan grup kedutaan AS dengan persepsi Facebooker.

G. Definisi Konseptual a. Terpaan

Menurut Rosengren dalam Rakhmat (2001), terpaan dapat diartikan sebagai penggunaan media oleh khalayak yang meliputi jumlah waktu yang digunakan, jenis isi media serta hubungan antara khalayak dengan isi media yang dikonsumsi atau media secara keseluruhan.

Terpaan Fan Grup Kedutaan AS (X)

Persepsi Facebooker tentang AS (Y)

33 b. Persepsi

Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli yang diterima secara indrawi terhadap objek tertentu. Jika dihubungkan dengan citra Amerika Serikat, maka persepsi facebooker tentang citra Amerika Serikat adalah proses pemberian makna pada rangsangan (stimuli) yang diterima secara indrawi terhadap citra Amerika Serikat.

c. Fan Grup

Fan Group atau komunitas adalah kelompok atau wadah komunitas dengan kategori atau tujuan tertentu merupakan satu bentuk sosial yang unik yang terdapat pada facebook.

Secara konseptual pada penelitian ini peneliti ingin meneliti tentang terpaan pesan dari fan grup Kedutaan Besar Amerika serikat terhadap persepsi facebooker muslim tentang Amerika Serikat. Dengan begitu peneliti dapat mengetahui lebih dalam persepsi masyarakat muslim di Indonesia yang merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

H. Definisi Operasional a. Terpaan

Dalam penelitian ini, akan meneliti dan mengamati anggota Fan Grup Kedutaan Amerika Serikat (AS), yang selalu mengeluarkan berita, info, kabar, atau release dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh kantor kedutaan yang terletak di Jakarta. Kedutaan besar merupakan representasi

34 dari negara asal yaitu Amerika Serikat. Setiap kabar, info atau release yang dikeluarkan fan grup tersebut dapat disimak dan dikomentari oleh pengguna facebook yang telah menjadi anggota. Adapun indikator-indikator dalam variabel ini adalah:

1. Frekuensi facebooker membuka grup kedutaan AS, adalah keseringan atau kekerapan jumlah dalam rentang waktu tertentu. Indikator dari frekuensi dilihat dari seberapa banyak facebooker membaca atau menyimak status atau tautan yang diterbitkan oleh fan grup Kedutaan Besar Amerika Serikat.

2. Durasi facebooker membuka grup kedutaan AS, adalah lamanya waktu seorang anggota fan grup membaca atau menyimak status maupun tautan yang diterbitkan oleh fan grup Kedutaan Besar Amerika Serikat. 3. Attensi facebooker, adalah konsentrasi atau perhatian dalam membaca

atau menyimak sesuatu. Indikator dari atensi dilihat dari bagaimana perhatian facebooker dalam membaca atau menyimak status maupun tautan yang dikeluarkan oleh fan grup Kedutaan Besar Amerika Serikat. b. Persepsi Facebooker tentang AS

Persepsi masyarakat yang dimaksud pada penelitian ini adalah para pengguna facebook yang tergabung dalam anggota fan grup Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam pemberian kesan, pendapat dan penilaian masyarakat terhadap Amerika Serikat. Adapun indikator yang digunakan dalam pengukuran persepsi masyarakat tentang Amerika Serikat adalah: 1. Amerika Serikat adalah negara besar / super power. Indikator-indikator

35  Kekuatan pertahanan dan keamanan negara.

 Stabilitas perekonomian dan kesejahteraan negara.

2. Sikap Amerika Serikat terhadap fenomena yang terjadi, adalah sikap yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap kejadian kejadian yang ada di dunia ini. Indikator sikap AS terhadap fenomena yang terjadi dilihat dari:

 Kemampuan dan ketanggapan AS dalam merespon

Dokumen terkait