• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PRINSIP MENGENAL NASABAH ( KNOW YOUR CUSTOMER

A. Pengertian Prinsip Mengenal Nasabah ( Know Your Customer

Salah satu pelaksanaan prinsip kehati-hatian pada bank (prudential principle)

adalah penerapan prinsip mengenal nasabah atau yang lebih dikenal dengan Know Your Customer Principles pada setiap transaksi perbankan. Hal ini dijelaskan dalam peraturan Bank Indonesia Nomor 3/10/PBI/2001 tentang Prinsip Mengenal Nasabah.

Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) adalah suatu prinsip yang mewajibkan bank untuk terlebih dahulu mengenali nasabahnya sebelum melakukan transaksi dengan nasabah yang bersangkutan. Prinsip mengenal nasabah tidak hanya berlaku bagi lembaga perbankan saja, tetapi juga berlaku bagi lembaga keuangan non bank. Ketentuan prinsip mengenal nasabah untuk lembaga keuangan non bank dikeluarkan oleh instansi yang berwenang mengawasi kegiatan masing-masing perusahaan jasa keuangan di Indonesia.

Departemen Keuangan (Depkeu) mengeluarkan keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 45/KMK06/2003 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank, seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun. Untuk lembaga di bawah pasar modal, yang berlaku adalah keputusan ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prinsip Mengenal Nasabah.

Jadi, prinsip ini bermaksud agar setiap kegiatan di bidang keuangan dapat dilaksanakan dengan hati-hati untuk menghindari risiko-risiko yang mungkin akan muncul. Di dalam penulisan hukum ini, prinsip mengenal nasabah yang penulis maksud adalah pelaksanaan prinsip mengenal nasabah dalam setiap transaksi perbankan, yaitu, yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Dalam Peraturan Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut dengan FBI, Nomor 3/10/PBI/2001 tentang Prinsip Mengenal Nasabah, prinsip mengenal nasabah diartikan sebagai prinsip yang diterapkan bank untuk mengetahui identitas nasabah, memantau kegiatan transaksi nasabah termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan. Prinsip ini bertujuan supaya bank mengetahui segala kegiatan nasabahnya yang berkaitan dengan transaksi yang dilakukan pada bank tersebut. Hal ini lebih untuk menjaga hubungan bank dengan nasabah yaitu masyarakat, agar dapat berjalan lancar dalam setiap transaksi yang dilakukan sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak.

Pada prinsipnya, penerapan prinsip mengenal nasabah dalam setiap transaksi perbankan bertujuan demi terselenggaranya prinsip kehati-hatian pada bank

(prudential banking) untuk mengurangi risiko yang dihadapi bank, yaitu risiko operasional (operational risk), risiko hukum (legal risk), risiko konsentrasi

(concentration risk), dan risiko reputasi (reputational risk). Dengan prinsip ini bank dapat mengenali profil maupun karakteristik setiap transaksi nasabah, sehingga dapat mengidentifikasi transaksi-transaksi yang dapat menimbulkan kerugian pada bank.33

Di samping itu, rekomendasi dari Basel Committee on Banking Supervision yang pada paparan selanjutnya disebut dengan Basel Komite, dalam Core Principles for Effective Banking menyatakan bahwa penerapan prinsip mengenal nasabah dalam setiap transaksi perbankan merupakan faktor yang penting dalam melindungi kesehatan bank. Hal yang senada juga dijelaskan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor

33

“Tindak Pidana Pencucian Uang dan Prinsip Mengenal Nasabah”, Unit Khusus Pengenalan Nasabah (UKPN) PT. Bank Muamalat Indonesia, Kantor Pusat Operasional Jakarta, hal. 3

3/10/PBI/2001 tentang Prinsip Mengenal Nasabah yang dikeluarkan tanggal 18 Juni 2001.34

B. Pengaturan Tentang Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles).

Pada tanggal 18 Juni 2001, Bank Indonesia mengeluarkan peraturan mengenai pentingnya diterapkan oleh bank-bank di Indonesia tentang penerapan prinsip mengenal nasabah. Peraturan mengenai penerapan prinsip ini tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/10/PB1/2001 Lembaran Negara 2001 Nomor 78, tambahan Lembaran Negara Nomor 4107. Peraturan ini mengatur tentang penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles).

Peraturan ini kemudian diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/23/PBI/2001 tertanggal 13 Desember 2001 (Lembaran Negara 2001 Nomor 151, tambahan Lembaran Negara Nomor 4160). Bersamaan dengan perubahan ini, dikeluarkan pula Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/29/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. Dan akhirnya peraturan Bank Indonesia tentang prinsip mengenal nasabah diubah untuk kedua kalinya dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/2 l/PBI/2003.35

Sebenarnya, ketentuan tentang prinsip mengenal nasabah ini muncul akibat adanya desakan dari dunia internasional sejak dijatuhkannya vonis ”black list” terhadap Indonesia sebagai negara yang tidak kooperatif dalam memberantas tindak pidana

34

“Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah”, www.memberstripod.com, diakses tanggal 30 Oktober 2008

35

Siahaan, 2005, Pencucian Uang dan Kejahatan Perbankan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hal 70.

pencucian uang. Di samping itu, pada bulan Desember 1988, Basel Komite mengeluarkan kode etik perbankan yang salah satu isinya mewajibkan bank-bank untuk mengenali nasabah mereka yaitu melalui prinsip mengenal nasabah. Basel Komite terdiri atas perwakilan-perwakilan bank-bank sentral dari negara-negara industri terkemuka. Basel Komite merekomendasikan prinsip mengenal nasabah sebagai salah satu bentuk

prudential regulation di lingkungan industri perbankan.36

Basel komite berpendapat bahwa prinsip mengenal nasabah memiliki relevansi yang khusus berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan bank. Prinsip mengenal nasabah dapat melindungi reputasi dan integritasi sistem perbankan karena dapat mengurangi risiko-risiko yang ditimbulkan dari transaksi perbankan yang dilakukan oleh bank itu sendiri. Walaupun rekomendasi dari Basel Komite bukan merupakan dokumen yang dapat dipaksakan berdasarkan hukum internasional, namun dengan kerjasama yang kuat antara organisasi internasional, penerapan prinsip mengenal nasabah ini dapat dipatuhi oleh dunia internasional, termasuk Indonesia.37

Adapun kewajiban pokok yang harus dilaksanakan oleh bank dalam Peraturan Prinsip Mengenal Nasabah, yaitu:

1. Menetapkan kebijakan penerimaan nasabah;

2. Menetapkan kebijakan dan prosedur dalam mengidentifikasi nasabah; 3. Menetapkan kebijakan dan prosedur pemantauan terhadap rekening dan

transaksi nasabah;

4. Menetapkan kebijakan dan prosedur manajemen risiko.

36

Menteri Keuangan RI, “Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank”, www.depkeu.go.id, 24 Juni 2003, diakses tanggal 20 Oktober 2008.

37

Sutan Remy Sjahdeini, 2004, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencuciasn Uang dan Pembiayaan Terorisme, Grafiti, Jakarta, hal. 227

Bagi bank yang telah menggunakan media elektronis (internet banking) dalam pelayanan jasa perbankan, wajib melakukan pertemuan dengan calon nasabah, sekurang-kurangnya pada saat pembukaan rekening, dan bila perlu bank harus melakukan

wawancara dengan calon nasabahnya. Ketentuan mengenal nasabah juga berlaku bagi nasabah-nasabah lama dengan melengkapi data-data sesuai dengan pedoman dari pemerintah.

Dari beberapa kewajiban ini, dapat kita lihat bahwa adanya prinsip ini ditujukan untuk melindungi kepentingan bank dari tindakan dan transaksi nasabah yang dapat menimbulkan kerugian pada bank. Walaupun tujuan prinsip ini untuk melindungi kepentingan bank, namun bank merasa adanya ketentuan prinsip mengenal nasabah ini dapat mengurangi volume nasabahnya. Hal ini dikarenakan banyak nasabah yang merasa kurang nyaman dengan adanya ketentuan ini.

Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia tentang sanksi terhadap bank yang tidak menerapkan prinsip mengenal nasabah dalam setiap transaksi bank yang dilakukan. Tentu saja hal ini membuat lembaga perbankan dalam keadaan yang sangat dilematis.

Lembaga perbankan yang kegiatan utamanya mendapatkan dan mengelola dana dari masyarakat, harus lebih mengutamakan kepentingan nasabahnya agar masyarakat percaya untuk menempatkan dananya pada bank. Apabila bank tidak menerapkan prinsip ini tentu saja bank yang bersangkutan akan mendapatkan sanksi yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Disisi lain, apabila bank menerapkan prinsip ini dalam setiap kegiatannya, kemungkinan besar bank akan kehilangan nasabahnya dikarenakan banyak nasabah yang kurang nyaman dengan adanya ketentuan prinsip mengenal nasabah ini.

Oleh karena itu, lembaga perbankan sebagai lembaga keuangan yang mengandalkan kepercayaan masyarakat haruslah memberikan pelayanan yang sangat baik untuk mengimbangi ketentuan prinsip mengenal nasabah ini. Selain itu diperlukan sosialisasi pada setiap nasabah, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang akan mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank akan berkurang.

Penerapan prinsip mengenal nasabah dalam industri jasa keuangan khususnya bank, memang merupakan hal yang relatif baru. Tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran bank, bahwa penerapan prinsip mengenal nasabah ini akan berdampak negatif kepada nasabah dan volume bisnis mereka. Oleh sebab itu diperlukan sosialisasi prinsip mengenal nasabah, tidak hanya kepada para pelaku industri jasa keuangan saja, tetapi juga kepada masyarakat umum. Sehingga masyarakat dapat mengerti betapa pentingnya penerapan prinsip ini dalam setiap transaksi perbankan yang dilakukan. Selain itu, penerapan prinsip mengenal nasabah dapat membuat industri perbankan lebih kompetitif dan memenuhi standar internasional.38

Kewajiban untuk menerapkan prinsip mengenal nasabah tidak hanya terdapat dalam Peraturan Bank Indonesia saja, tetapi juga ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003, selanjutnya disebut dengan UUTPU. Pasal 17 UUTPU menjelaskan bahwa setiap orang yang melakukan usaha dengan penyedia jasa keuangan harus menyerahkan identitas diri secara lengkap, disamping itu penyedia jasa keuangan juga harus memastikan orang yang melakukan hubungan usaha bertindak untuk diri sendiri atau orang lain. Jika bertindak untuk orang lain, maka penyedia jasa keuangan

38

Menteri Keuangan RI, “Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank”, www.depkeu.go.id, 24 Juni 2003, diakses tanggal 20 Oktober 2008.

harus meminta informasi mengenai identitas pihak lain tersebut. Penyedia jasa keuangan yang dimaksud dalam penulisan hukum ini hanya terbatas pada bank.

Namun kewajiban untuk menerapkan prinsip mengenal nasabah yang diatur dalam UUTPU ini tidak bersanksi, yang berarti, apabila dilanggar, maka tidak akan dikenakan sanksi apapun. Walaupun UUTPU tidak memuat sanksi apabila ketentuan Pasal 17 dilanggar, namun tidak berarti pelanggaran terhadap kewajiban yang ditentukan dalam pasal ini tidak dapat dikenai sanksi hukum. Pelanggaran terhadap kewajiban yang ditentukan dalam Pasal 17 UUTPU, dapat dikenai sanksi berdasarkan Pasal 49 ayat (2) huruf b Undang-Undang Perbankan, sepanjang pelanggaran tersebut dilakukan oleh bank.39

Pemberian sanki ini bertujuan agar penerapan prinsip mengenal nasabah dapat dilaksanakan secara benar dalam setiap transaksi perbankan yang dilakukan. Dengan terlaksananya prinsip mengenal nasabah, maka prudential banking juga dapat ditegakkan sehingga akan tercipta bank yang sehat.

C. Asas Kerahasiaan Bank (Bank Secrecy)

Asas kerahasiaan bank (bank secrecy) merupakan salah satu aspek penting yang membuat masyarakat (nasabah) merasa aman melakukan transaksi keuangan di bank. Asas ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi nasabah, baik perlindungan terhadap dirinya (nasabah) maupun terhadap dananya yang ada di bank.

Sebagai suatu badan usaha yang dipercaya oleh masyarakat untuk menghimpun dana masyarakat, sudah sewajarnya bank memberikan jaminan perlindungan kepada

39

Sutan Remy Sjahdeini, 2004, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencuciasn Uang dan Pembiayaan Terorisme, Grafiti, Jakarta, note 49, hal. 236

nasabah yang berkenaan dengan ”Keadaan Keuangan Nasabah” yang lazimnya dinamakan dengan ”Kerahasiaan Bank”. Kerahasiaan bank sangat penting karena bank memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di bank. Orang hanya mempercayakan uangnya pada bank atau memanfaatkan jasa bank apabila bank memberikan jaminan bahwa pengetahuan bank tentang simpanan dan keadaan keuangan nasabah tidak akan disalahgunakan.40

Ada dua pendapat yang dikemukakan mengenai teori tentang rahasia bank, yaitu teori rahasia bank yang bersifat mutlak dan teori rahasia bank yang bersifat nisbi. Teori rahasia bank yang bersifat mutlak maksudnya bank berkewajiban untuk rncnyimpan rahasia nasabah yang diketahui oleh bank karena kegiatan usahanya dalam keaadan apapun, biasa maupun luar biasa. Sedangkan teori rahasia bank yang bersifat nisbi, yaitu bahwa bank dapat diperbolehkan membuka rahasia nasabahnya untuk kepentingan yang mendesak, seperti kepentingan negara.41

Dalam Undang-Undang Perbankan, pengertian rahasia bank dijelaskan pada Pasal 1 angka 28, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dari simpananya. kewajiban untuk melaksanakan asas rahasia bank ini ditegaskan dalam Pasal 40 Undang-Undang Perbankan yang menjelaskan bahwa bank wajib merahasiakan keterangan nasabah penyimpan dan simpanannya, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, 41 A, 42, 43, 44, dan 44 A. Pengecualian terhadap kerahasiaan bank yang terdapat dalam pasal tersebut adalah berkenaan dengan kepentingan perpajakan, piutang bank, perkara pidana, perdata, tukar menukar informasi

40

Rachmadi Djumhana, note 3, hal. 153

  41  Muhammad Djumhana, 2000, Hukum Perbankan Di Indonesia, PT Citra Aditya Bandung, hal. 164 

antar bank, dan untuk memenuhi permintaan kuasa dari nasabah beserta ahli waris apabila nasabah yang bersangkutan meninggal dunia.

Sebenarnya ketentuan tentang rahasia bank di dalam Undang-Undang Perbankan sudah mengalami perubahan sejak diberlakukan Undang-Undang Perbankan yang baru yaitu Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Dalam Undang-Undang Perbankan yang lama, yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992, dijelaskan bahwa ketentuan rahasia bank mencakup semua nasabah, dengan kata lain tidak membedakan nasabah, baik itu nasabah deposan (penyimpan) atau nasabah debitur (peminjam). Sedangkan di dalam Undang-Undang Perbankan yang baru, yaitu Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, ketentuan rahasia bank hanya berlaku bagi nasabah deposan saja. Perubahan ini dilakukan dengan pertimbangan, bahwa dengan berlakunya ketentuan rahasia bank bagi nasabah debitur, menyebabkan banyaknya kredit bermasalah yang dialami oleh bank. Oleh karena itu dalam Undang-Undang Perbankan yang baru, ketentuan rahasia bank hanya berlaku bagi nasabah deposan saja.42

Selain yang ditentukan dalam Undang-Undang Perbankan, ketentuan rahasia bank juga dapat diterobos oleh Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UUTPU) yang berkaitan dengan penerapan prinsip mengenal nasabah. Pada Pasal 33 ayat (2) UUTPU dijelaskan bahwa dalain meminta keterangan adanya transaksi keuangan yang mencurigakan, ketentuan rahasia bank tidak berlaku terhadap penyidik, penuntut umum, atau hakim. Pasal 14 UUTPU juga menjelaskan bahwa rahasia bank dikecualikan dalam hal pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh penyedia jasa keuangan. Kewajiban pelaporan yang dimaksud dalam pasal ini adalah kewajiban yang sebagaimana ditentukan dalam

42

Siahaan, 2005, Pencucian Uang dan Kejahatan Perbankan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hal. 24

PBI tentang Prinsip mengenal Nasabah, yaitu pada Pasal 14 yang menjelaskan bahwa bank wajib melaporkan apabila terjadi transaksi keuangan yang mencurigakan pada bank yang bersangkutan.

Di dalam pelaksanaan asas kerahasiaan bank (bank secrecy) ini, sering mengalami tubrukan dengan kepentingan lain yang harus dilaksanakan oleh lembaga perbankan, yaitu adanya ketentuan prudential principle atau prinsip kehati-hatian yang salah satunya adalah penerapan prinsip mengenal nasabah, Di samping bank harus memberikan perlindungan terhadap nasabahnya, bank juga harus melindungi dirinya sendiri, yaitu dengan menerapkan prinsip mengenal nasabah demi terwujudnya prudential banking

dalam setiap transaksi perbankan.

Masalah inilah yang membuat lembaga perbankan masuk ke dalam situasi yang dapat disebut dengan ”maju kena, mundur kena”. Hal ini dikarenakan, apabila lembaga perbankan menjalankan asas kerahasiaan bank (bank secrecy), berarti bank mengurangi intensitas pelaksanaan prinsip kehati-hatian (prudential banking). Dan sebaliknya, apabila bank menerapkan prinsip kehati-hatian, dengan sendirinya perlindungan terhadap nasabah akan berkurang, dengan kata lain asas rahasia bank tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, bank harus dapat melaksanakan asas kerahasiaan bank

(bank secrecy) dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) secara seimbang tanpa menimbulkan kerugian, baik bagi nasabah maupun bagi bank sendiri.

Sebagai suatu asas yang harus dipegang teguh oleh lembaga perbankan di dalam menjalankan kegiatannya, tentu saja pelaksanaan asas kerahasiaan bank (bank secrecy)

memberikan kepastian hukum dan kekuatan berlakunya asas kerahasiaan bank ini dalam segala transaksi perbankan yang ada.

Sesuai dengan Undang-Undang Perbankan, pelanggaran terhadap ketentuan rahasia bank dikategorikan sebagai ”tindak pidana kejahatan”. Oleh karena itu, pelanggar ketentuan rahasia bank, apabila dibandingkan dengan hanya sekedar pelanggaran, perlu diberi sanksi hukum pidana yang lebih berat lagi. Adapun sanksi terhadap pelanggaran asas rahasia bank adalah berupa hukuman penjara dan sanksi adminstratif, yaitu denda.

D. Transaksi Keuangan Yang Mencurigakan (Suspicious Transactions)

Salah satu tujuan dari ketentuan prinsip mengenal nasabah adalah untuk melindungi bank dari transaksi nasabah yang dapat menimbulkan kerugian pada bank yang bersangkutan. Transaksi yang dimaksud adalah transaksi yang disebut dengan transaksi keuangan yang mencurigakan atau dalam istilah asingnya disebut dengan

suspicious transactions.

Istilah transaksi keuangan mencurigakan (suspicious transactions), muncul seiring dikeluarkannya FBI mengenai pentingnya penerapan prinsip mengenal nasabah pada lembaga perbankan. Sebelum dikeluarkannya peraturan tentang prinsip mengenal nasabah, istilah transaksi keuangan yang mencurigakan hanya dikenal di luar Indonesia seiring maraknya tindak pidana tentang pencucian uang atau yang dikenal dengan money laundering. Sedangkan di Indonesia, hal ini baru mendapat perhatian yang besar sejak dikeluarkannya PBI tentang Prinsip Mengenal Nasabah sebagai salah satu bentuk tindak lanjut dari rekomendasi FATF (Financial Action Task Force on Money Laundering)

internasional dalam memerangi dan memberantas kejahatan pencucian uang, yang didirikan di Francis oleh negara industri maju (G-7).

Sebelum adanya ketentuan prinsip mengenal nasabah, bank-bank di Indonesia pada umumnya hanya memperhatikan besarnya transaksi keuangan yang dilakukan oleh para nasabah mereka tanpa mencurigai tujuan maupun asal usul uang yang ditransaksikan. Keadaan inilah yang menyebabkan lembaga perbankan dijadikan sebagai lahan yang empuk untuk melakukan transaksi-transaksi yang tidak benar oleh nasabah yang tidak bertanggungjawab. Sehingga menimbulkan kerugian yang besar terhadap bank ilu sendiri, bahkan tingkat kesehatan bank yang bersangkutan juga mengalami penurunan. Dalam Peraturan Bank Indonesia tentang Prinsip Mengenal Nasabah, transaksi keuangan mencurigakan (suspicious transactions) diartikan sebagai berikut:

a. Transaksi keuangan yang menyimpang dari profit, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan;

b. Transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh bank sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003; atau

c. Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana.

Bank mungkin akan sulit membedakan antara transaksi yang benar dengan transaksi yang tidak benar atau mencurigakan, karena pada dasarnya bank hanya bertujuan untuk melayani para nasabahnya tanpa mencurigai kegiatan transaksi para

nasabahnya. Dengan adanya ketentuan tentang transaksi keuangan mencurigakan, tentu saja membuat lembaga perbankan menjadi serba salah. Dikarenakan ketentuan ini mengharuskan bank untuk menyelidiki setiap transaksi yang dilakukan oleh nasabahnya, disamping itu bank juga harus menjaga hubungan baik dengan nasabahnya, Hal ini merupakan dua hal yang sangat bertolak belakang, dimana keduanya harus dilakukan secara berbarengan.

Di dalam bab V Peraturan Bank Indonesia tentang Prinsip Mengenal Nasabah, dijelaskan bahwa setiap bank berkewajiban untuk melapor apabila bank yang bersangkutan mendeteksi adanya transaksi keuangan yang mencurigakan (suspicious transactions) yang terjadi pada bank tersebut. Adanya kewajiban pelaporan ini tentunya melanggar prinsip kerahasiaan bank (bank secrecy) yang telah penulis jelaskan sebelumnya. Kewajiban pelaporan ini ditujukan pada suatu badan yang disebut dengan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan atau yang disingkat dengan PPATK.

PPATK adalah sebuah lembaga khusus yang menerima informasi keuangan, menganalisis atau memproses informasi tentang transaksi keuangan yang mencurigakan. PPATK merupakan Financial Intelligence Unit atau FIU yang dimiliki Indonesia, untuk menunjang upaya-upaya memberantas kegiatan pencucian uang di Indonesia. PPATK dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bebas dari intervensi dan pengaruh dari pihak manapun, atau bersifat independen. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 18 UUTPU.43

Untuk memudahkan bank dalam mengidentifikasi adanya transaksi keuangan mencurigakan, maka Bank Indonesia membagi transaksi keuangan mencurigakan dalam 6 (enam) kelompok yaitu:

43

Sutan Remy Sjahdeini, 2004, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencuciasn Uang dan Pembiayaan Terorisme, Grafiti, Jakarta, note 49, hal. 249

1. Transaksi mencurigakan dengan menggunakan pola transaksi tunai; 2. Transaksi mencurigakan dengan menggunakan rekening bank;

3. Transaksi mencurigakan melalui transaksi yang berkaitan dengan investasi;

4. Transaksi mencurigakan melalui aktivitas bank di luar negeri;

5. Transaksi mencurigakan yang melibatkan karyawan bank dan atau agen', 6. Transaksi mencurigakan melalui transaksi pinjam meminjam.

Selain kategori di atas, PPATK juga telah mengeluarkan pedoman bagi penyedia jasa keuangan, yaitu bank, untuk memantau serta mengidentifikasi berbagai transaksi keuangan yang mencurigakan, Pedoman tersebut adalah dengan dikeluarkannya empat pedoman, yaitu Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan bagi Penyedia Jasa Keuangan (Keputusan Kepala PPATK No:2/4/KEP.PPATK/2003). Kemudian, Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan bagi Pedagang Valuta Asing dan Usaha Jasa Pengiriman Uang (Keputusan Kepala PPATK No;2/5/KEP. PPATK/2003). Selanjutnya, PPATK juga menerbitkan Pedoman Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan bagi Penyedia Jasa Keuangan (Keputusan Kepala PPATK No:2/6/KEP. PPATK/2003). Terakhir, Pedoman Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan bagi Pedagang Valuta Asing dan Usaha Jasa Pengiriman Uang (Keputusan Kepala PPATK No:2/7/KEP. PPATK/2003 ).44

Jika dilihat dari pedoman yang dikeluarkan oleh PPATK, ada tiga ciri umum yang bisa dijadikan acuan oleh bank dalam mengidentifikasi transaksi keuangan mencurigakan. Pertama, transaksi keuangan yang dilakukan tidak memiliki tujuan

44

“PPATK Keluarkan Empat Pedoman Baru Untuk Mencegah Pencucian Uang” www.hukumonline.com, diakses tanggal 27 Oktober 2008

ekonomi yang jelas. Kedua, transaksi tersebut menggunakan uang dalam jumlah yang sangat besar secara berulang-ulang di luar kewajaran, Dan ketiga, transaksi keuangan tersebut di luar kebiasaan dan kewajaran aktivitas nasabah.

Ketentuan yang mewajibkan bank untuk melaporkan adanya transaksi keuangan yang mencurigakan, bertujuan untuk mencegah bank digunakan sebagai sarana tindak pencucian uang atau yang dikenal dengan istilah money laundering. Kemudahan yang dijanjikan oleh bank dalam melakukan transaksi keuangan untuk menarik minat masyarakat, dimanfaatkan oleh orang-orang atau nasabah yang tidak bertanggungjawab

Dokumen terkait